Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
Liputan6.com, Jakarta PT Pupuk Indonesia (Persero) siap mengembangkan industri pupuk ramah lingkungan. Hal ini sejalan dengan salah satu agenda prioritas G20 yaitu transisi energi untuk mengurangi emisi karbon atau dekarbonisasi.
Direktur Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan bahwa perusahaan telah membuat roadmap atau peta jalan pengembangan kawasan industri ramah lingkungan yang mendukung dekarbonisasi.
"Pupuk Indonesia mendukung pengurangan emisi karbon dalam rangka menciptakan industri yang lebih sustainable atau berkelanjutan dan ramah lingkungan," demikian ucap Bakir.
Adapun peta jalan dekarbonisasi Pupuk Indonesia, dikatakan Bakir bahwa dibagi ke dalam beberapa tahap yaitu fase awal atau jangka pendek adalah peningkatan efisiensi pabrik sehingga menjadi lebih hemat energi dan ramah lingkungan.
Untuk jangka menengah, dikatakan Bakir bawa Pupuk Indonesia menargetkan melakukan utilisasi CO2 sebagai bahan baku produk, yaitu dengan membangun Pabrik Soda Ash di Petrokimia Gresik dan Pupuk Kaltim.
Untuk tahap berikutnya, Bakir menjelaskan bahwa Pupuk Indonesia Grup akan memulai pengembangan blue ammonia dengan menggunakan teknologi Carbon Capture Storage (CCS), yaitu menangkap dan menginjeksikan Kembali CO2 untuk dapat diolah dan dimanfaatkan sebagai energi bersih.
Sementara jangka panjang, dijelaskan Bakir, Pupuk Indonesia akan memproduksi Green Ammonia yang berasal dari sumber energi terbarukan (EBT), seperti pembangkit tenaga air, solar cell, angin, dan geothermal.
Kerja Sama dengan PLN dan Pertamina
Untuk mewujudkan hal ini, Pupuk Indonesia menjalin kerjasama dengan PT PLN (Persero) dan PT Pertamina (Persero) tentang pengembangan industri ramah lingkungan.
Ketiga perusahaan pelat merah ini menandatangani MoU MoU tentang Green Industry Cluster yang disaksikan langsung oleh Wakil Menteri BUMN I, Pahala Mansury.
Bakir mengatakan bahwa upaya kerjasama yang dilakukan Pupuk Indonesia bersama PLN dan Pertamina ini merupakan langkah yang tepat menuju industri pupuk yang akan memproduksi green ammonia yang ramah lingkungan.
Sementara itu, Wamen BUMN I Pahala Mansury berharap kerjasama yang dilakukan Pupuk Indonesia, PLN, dan Pertamina dapat direalisasikan dengan baik.
"Ini semua saya harapkan betul-betul bisa kita fokuskan, outcome-nya atau ujung-ujungnya bagaimana kita bisa mengembangkan kawasan industri yang betul-betul bisa memanfaatkan energi hijau di kawasan-kawasan tersebut," kata Pahala.
Dalam MoU tentang Green Industry Cluster, ketiga perusahaan BUMN ini akan memanfaatkan dan mendorong penggunaan EBT pada kawasan industri eksisting, dalam hal ini di beberapa kawasan industri anak usaha Pupuk Indonesia yaitu PT Pupuk Iskandar Muda (PIM), PT Pupuk Sriwidjaja Palembang (PSP), PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC), PT Petrokimia Gresik (PKG), dan Pupuk Kalimantan Timur (PKT).
Kerja sama ketiga BUMN ini akan dibagi menjadi tiga tahap. Sebagai tahap awal, beberapa kawasan industri pupuk didorong untuk memanfaatkan listrik yg bersumber dari energi baru dan terbarukan. Untuk selanjutnya ketiga BUMN ini akan terlibat aktif dalam pengembangan green hidrogen dan green amonia, mulai dari pilot plant hingga pendirian pabrik tersebut.
Sumber: www.liputan6.com
Industri Kimia Hulu
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
Jakarta, Beritasatu.com – Industri kimia, termasuk di dalamnya industri metanol, merupakan salah satu sektor prioritas dalam peta jalan Making Indonesia 4.0, sehingga Kemenperin secara serius terus berupaya memperkokoh struktur industri ini.
"Industri metanol menempati posisi penting di industri hilir karena merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood dan industri lainnya," kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Agus mengatakan itu saat penandatanganan "Perjanjian Kerja Sama Pembuatan Feasibility Study Proyek Coal to Methanol antara PT Powerindo Cipta Energi dan Tiongkok National Chemical Engineering Corporation" di Jakarta, Senin (18/10/2021).
Ia mengatakan, metanol juga digunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan biodiesel. Selain itu, metanol bisa diolah lebih lanjut menjadi DME yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Dengan berkembangnya industri hilir pengguna metanol, kata dia, nilai substitusi impor dari metanol akan semakin besar. Sebagai contoh, pada industri resin sintetik yang merupakan bahan baku/bahan penolong pada industri seperti cat, tekstil, adhesive, maupun thinner.
Sebagian kebutuhan resin sintetik di dalam negeri diperoleh dari impor. Impor resin sintetik pada tahun 2020 mencapai 700.000 ton dengan nilai sebesar US$ 1,5 miliar.
Kemudian, pemerintah juga tengah mendorong substitusi penggunaan bahan bakar LPG dengan DME, mengingat produksi LPG setiap tahun semakin menurun.
Lebih dari 75% kebutuhan LPG dalam negeri dipenuhi dari impor dengan nilai mencapai US$ 2,5 miliar di tahun 2020. "Dengan gambaran tersebut, keberadaan proyek gasifikasi batubara setidaknya memberikan potensi subtitusi impor minimum sekitar Rp 40 triliun per tahun," papar Menperin.
Selain itu, kata Agus, dirinya melakukan kunjungan kerja ke Jepang Maret 2021 lalu dan bertemu dengan Menteri Industri Jepang, disampaikan bahwa negara tersebut akan melakukan investasi di industri metanol dalam skala besar demi mengejar target carbon neutrality. "Ini menunjukkan industri metanol sangat prospektif dalam pengembangan pasar, baik pasar domestik maupun ekspor," ujarnya.
Agus mengatakan, keberadaan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja serta UU Nomor 3 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara mendukung kemudahan berusaha dan meningkatkan kelayakan investasi di sektor pertambangan dan hilirisasi batubara.
"Dengan regulasi ini, proyek gasifikasi batubara dapat memanfaatkan insentif berupa pengurangan tarif royalti batubara hingga 0%, skema harga batubara khusus untuk gasifikasi batubara di mulut tambang, dan pemberian jangka waktu khusus izin usaha pertambangan (IUP) untuk kegiatan gasifikasi batubara yang terintegrasi," papar Menperin.
Ia mengatakan, pemerintah juga terus berupaya menciptakan iklim usaha industri yang baik, menguntungkan, dan berkesinambungan melalui berbagai kebijakan sehingga investasi dapat terus bertumbuh dan meningkatkan kekuatan ekonomi.
"Kemenperin akan senantiasa mendampingi pelaksanaan proyek ini dan membantu mengatasi permasalahan teknis yang muncul," ujarnya.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Muhammad Khayam menyampaikan, metanol yang dihasilkan dari proyek ini diharapkan dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang selama ini diperoleh dari impor.
"Saat ini Indonesia hanya memiliki satu produsen metanol dengan kapasitas sebesar 660.000 ton/tahun, sementara impor produk metanol setiap tahunnya menunjukkan peningkatan akibat dari pertumbuhan industri pengguna metanol dan untuk mendukung program biofuel," ujar Khayam.
Selain di lokasi tersebut, pemerintah juga mendorong realisasi proyek-proyek gasifikasi batubara yang sedang berlangsung, yaitu pabrik coal to chemical di Tanjung Enim dan Kutai Timur.
Proyek coal to methanol juga didukung oleh ketersediaan sumber daya batubara yang melimpah. Cadangan batubara nasional mencapai 38,84 miliar ton dan dapat bertahan hingga 2091 dengan laju produksi tahunan sebesar 600 juta ton.
Sumber: www.beritasatu.com
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 06 Maret 2025
Kesehatan dan keselamatan memiliki definisi yang luas dalam konteks Uni Eropa, lebih dari sekadar menghindari kecelakaan dan pencegahan penyakit, tetapi juga mencakup semua aspek kesejahteraan pekerja. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki definisi yang sama tentang kesehatan dan
Kamus hubungan industrial eropa
Kesehatan dan keselamatan diberikan definisi yang luas dalam konteks Uni Eropa, lebih dari sekadar menghindari kecelakaan dan pencegahan penyakit, tetapi juga mencakup semua aspek kesejahteraan pekerja. Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki definisi yang sama tentang kesehatan dan keselamatan di tempat kerja.
Menurut definisi ini, peraturan kesehatan dan keselamatan ditujukan untuk mempromosikan dan memelihara:
Singkatnya, kesehatan dan keselamatan mendorong 'adaptasi pekerjaan terhadap orang dan setiap orang terhadap pekerjaannya'.
Kompetensi dan undang-undang Uni Eropa
Kompetensi Uni Eropa untuk melakukan intervensi di bidang kesehatan dan keselamatan di tempat kerja ditentukan oleh ketentuan dalam Pasal 153 (1 dan 2) TFEU, yang memberi wewenang kepada Dewan untuk mengadopsi, melalui arahan, persyaratan minimum sehubungan dengan 'peningkatan khususnya lingkungan kerja untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja' (ketentuan yang berasal dari Undang-Undang Eropa Tunggal 1986). Signifikansi dari cakupan kesehatan dan keselamatan yang luas ini sangat besar, karena hal ini mendasari potensi kebijakan kesehatan dan keselamatan Uni Eropa untuk menetapkan standar minimum untuk melindungi semua aspek kesejahteraan pekerja.
Pengadopsian Undang-Undang Eropa Tunggal pada tahun 1986 memberikan dorongan baru terhadap langkah-langkah kesehatan dan keselamatan kerja yang diambil oleh Komunitas. Ini merupakan pertama kalinya kesehatan dan keselamatan di tempat kerja ditangani dalam ketentuan operasional dalam Perjanjian EEC, di bawah Pasal 118A EEC yang baru (sekarang Pasal 153 (2) TFEU). Pasal ini memungkinkan Dewan Menteri untuk mengadopsi arahan yang dimaksudkan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan pekerja di tempat kerja dengan suara mayoritas yang memenuhi syarat, sehingga mempercepat proses adopsi di Dewan.
Pasal 100A EEC (sekarang Pasal 114 TFEU) - yang tujuannya adalah untuk menghilangkan semua hambatan perdagangan di pasar tunggal dan untuk memungkinkan pergerakan barang secara bebas melintasi perbatasan - juga relevan untuk kesehatan dan keselamatan di tempat kerja. Arahan dalam Pasal 100A EEC dimaksudkan untuk memastikan penempatan produk yang aman di pasar, termasuk mesin dan alat pelindung diri.
Bidang kesehatan dan keselamatan di tempat kerja telah menjadi salah satu kegiatan yang intens di pihak Uni Eropa dan diperkirakan sekitar dua pertiga dari semua arahan kebijakan sosial berada di bidang ini. Namun, pola aktivitasnya ditandai dengan ketidakseimbangan, dengan periode aktivitas yang lebih banyak atau lebih sedikit dan perubahan strategi UE di bidang ini. Periode setelah adopsi Undang-Undang Eropa Tunggal sangat bermanfaat, menghasilkan - yang paling penting - Arahan Kerangka Kerja umum tentang kesehatan dan keselamatan (Arahan Dewan 89/391 / EEC) pada 12 Juni 1989 tentang pengenalan langkah-langkah untuk mendorong peningkatan keselamatan dan kesehatan pekerja di tempat kerja. Hal ini kemudian diikuti oleh enam arahan 'anak' lebih lanjut, yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1993. Sejak saat itu, undang-undang Serikat Pekerja telah menghasilkan sejumlah arahan lebih lanjut yang mencakup kondisi di tempat kerja dan persyaratan terkait peralatan kerja dan paparan zat berbahaya (bahan kimia, fisik, dan biologis).
Langkah utama dan umum yang berkaitan dengan kesehatan dan keselamatan di tempat kerja adalah Arahan Dewan 89/654/EEC tentang persyaratan kesehatan dan keselamatan minimum untuk tempat kerja. Ini adalah arahan individu pertama dalam arti Pasal 16 (1) Arahan 89/391/EEC. Selain itu, ada arahan lebih lanjut yang berkaitan dengan tempat kerja atau industri tertentu.
Namun, perubahan prioritas sosial pada tahun 1990-an, yang tercermin dalam penekanan pada daya saing dan lapangan kerja, mengubah konteks agenda Uni Eropa tentang kesehatan dan keselamatan, yang mengarah pada berkurangnya hasil legislatif dan beralih ke langkah-langkah yang lebih 'hukum lunak'. Dalam beberapa tahun terakhir, penekanannya adalah pada pendekatan inovatif, seperti kemitraan dan pembandingan.
Penegakan dan kepatuhan
Meskipun hukum Uni Eropa tentang kesehatan dan keselamatan berlaku sama untuk semua Negara Anggota dan dijamin supremasi di atas hukum nasional, implementasi dan penegakan hukum tersebut tidak dapat dihindari mencerminkan tradisi penegakan hukum nasional yang berbeda, dengan konsekuensi untuk konsistensi penerapannya di seluruh Uni Eropa. Sejak awal tahun 1990-an, dokumen-dokumen Uni Eropa yang menjelaskan fitur-fitur kebijakan kesehatan dan keselamatan kerja Uni Eropa menyatakan bahwa implementasi dan penegakan hukum Uni Eropa yang buruk tentang kesehatan dan keselamatan telah menjadi perhatian utama kebijakan di bidang ini. Argumen ini telah digunakan untuk memprioritaskan beberapa upaya (yang tidak selalu berhasil) untuk mengimplementasikan acquis communautaire yang ada di lapangan daripada mengadopsi peraturan baru.
Dalam konteks ini, Badan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Eropa (EU-OSHA) didirikan pada tahun 1994, dan Komisi telah meningkatkan penggunaan wewenang kontrolnya untuk memastikan implementasi yang lebih baik di antara Negara-negara Anggota. Komite Pengawas Ketenagakerjaan Senior (SLIC) didirikan pada tahun 1995 untuk 'memberikan pendapatnya kepada Komisi, baik atas permintaan Komisi atau atas inisiatifnya sendiri, mengenai semua masalah yang berkaitan dengan penegakan hukum Komunitas oleh Negara-negara Anggota tentang kesehatan dan keselamatan di tempat kerja'.
Namun, ada batasan penting pada inisiatif Komisi dan Badan untuk memastikan implementasi yang lebih baik, dan pada akhirnya adalah tanggung jawab Negara-negara Anggota, masing-masing dengan mekanisme administrasi dan hubungan industrialnya sendiri, untuk memastikan penegakan hukum Uni Eropa tentang kesehatan dan keselamatan kerja. Dalam insiden kegagalan oleh Negara-negara Anggota untuk mematuhi hukum Uni Eropa tentang kesehatan dan keselamatan, Komisi dapat mengadukan pelanggaran tersebut ke Pengadilan Eropa (ECJ) berdasarkan Pasal 258 TFEU.
Strategi K3 Uni Eropa
Uni Eropa telah menerapkan serangkaian kerangka kerja strategis tentang kesehatan dan keselamatan untuk melindungi pekerja dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lebih baik. Yang terbaru adalah Kerangka Kerja Strategis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Uni Eropa 2014-2020, yang mengidentifikasi tantangan utama dan tujuan strategis untuk kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, menyajikan tindakan-tindakan utama dan mengidentifikasi instrumen untuk mengatasinya. Tiga tantangan utama K3 saat ini adalah:
Menurut Kerangka Kerja K3 Uni Eropa, tujuh tujuan strategi untuk menghadapi tantangan-tantangan ini adalah:
Untuk mencapai tujuan-tujuan ini, Kerangka Kerja menyatakan bahwa dana Uni Eropa, seperti Dana Sosial Eropa (ESF) dan program Ketenagakerjaan dan Inovasi Sosial (EaSI), akan tersedia.
Disadur dari: eurofound.europa.eu
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 06 Maret 2025
Seperti halnya bahan kimia komoditas, petrokimia dibuat dalam skala yang sangat besar. Unit manufaktur petrokimia berbeda dengan pabrik kimia komoditas karena sering kali menghasilkan sejumlah produk terkait. Bandingkan dengan pabrik kimia khusus dan kimia halus di mana produk dibuat dalam proses batch terpisah.
Petrokimia sebagian besar dibuat di beberapa lokasi manufaktur di seluruh dunia, misalnya di Kota Industri Jubail dan Yanbu di Arab Saudi, Texas dan Louisiana di Amerika Serikat, di Teesside di Timur Laut Inggris di Inggris Raya, di Tarragona di Catalonia, di Rotterdam di Belanda, di Antwerpen di Belgia, di Jamnagar, Dahej di Gujarat, India, dan di Singapura. Tidak semua bahan kimia petrokimia atau komoditas yang diproduksi oleh industri kimia dibuat di satu lokasi, tetapi kelompok bahan terkait sering kali dibuat di pabrik-pabrik yang berdekatan untuk mendorong simbiosis industri serta efisiensi bahan dan utilitas dan skala ekonomi lainnya. Hal ini dikenal dalam terminologi teknik kimia sebagai manufaktur terintegrasi. Perusahaan kimia khusus dan kimia halus kadang-kadang ditemukan di lokasi manufaktur yang sama dengan petrokimia, tetapi, dalam banyak kasus, mereka tidak memerlukan tingkat infrastruktur skala besar yang sama (misalnya, jaringan pipa, penyimpanan, pelabuhan, dan listrik, dll.) dan oleh karena itu dapat ditemukan di kawasan bisnis multisektor.
Lokasi manufaktur petrokimia berskala besar memiliki kelompok unit manufaktur yang berbagi utilitas dan infrastruktur skala besar seperti pembangkit listrik, tangki penyimpanan, fasilitas pelabuhan, terminal jalan dan kereta api. Di Inggris, misalnya, ada empat lokasi utama untuk manufaktur semacam itu: di dekat Sungai Mersey di Inggris Barat Laut, di Humber di pantai Timur Yorkshire, di Grangemouth dekat Firth of Forth di Skotlandia, dan di Teesside sebagai bagian dari Northeast of England Process Industry Cluster (NEPIC). Untuk menunjukkan pengelompokan dan integrasi, sekitar 50% bahan kimia petrokimia dan komoditas di Inggris diproduksi oleh perusahaan-perusahaan klaster industri NEPIC di Teesside.
Sejarah
Pada tahun 1835, Henri Victor Regnault, seorang ahli kimia Prancis menjemur vinil klorida di bawah sinar matahari dan menemukan padatan putih di bagian bawah labu yang merupakan polivinil klorida. Pada tahun 1839, Eduard Simon menemukan polistiren secara tidak sengaja dengan menyuling storaks. Pada tahun 1856, William Henry Perkin menemukan pewarna sintetis pertama, Mauveine. Pada tahun 1888, Friedrich Reinitzer, seorang ilmuwan tanaman Austria mengamati kolesteril benzoat memiliki dua titik leleh yang berbeda. Pada tahun 1909, Leo Hendrik Baekeland menemukan bakelite yang terbuat dari fenol dan formaldehida. Pada tahun 1928, bahan bakar sintetis ditemukan dengan menggunakan proses Fischer-Tropsch. Pada tahun 1929, Walter Bock menemukan karet sintetis Buna-S yang terbuat dari stirena dan butadiena dan digunakan untuk membuat ban mobil. Pada tahun 1933, Otto Röhm mempolimerisasi metil metakrilat kaca akrilik pertama. Pada tahun 1935, Michael Perrin menemukan polietilena. Pada tahun 1937, Wallace Hume Carothers menemukan nilon. Pada tahun 1938, Otto Bayer menemukan poliuretan. Pada tahun 1941, Roy Plunkett menemukan Teflon. Pada tahun 1946, ia menemukan Polyester. Botol polietilena tereftalat (PET) dibuat dari etilena dan paraxilena. Pada tahun 1949, Fritz Stastny mengubah polistiren menjadi busa. Setelah Perang Dunia II, polipropilena ditemukan pada awal tahun 1950-an. Pada tahun 1965, Stephanie Kwolek menemukan Kevlar.
Kimia
Material semen dapat diklasifikasikan ke dalam dua kategori yang berbeda: semen hidrolik dan semen non-hidrolik sesuai dengan mekanisme pengaturan dan pengerasan masing-masing. Pengaturan dan pengerasan semen hidraulik melibatkan reaksi hidrasi dan oleh karena itu membutuhkan air, sedangkan semen non-hidraulik hanya bereaksi dengan gas dan dapat langsung mengeras di bawah udara.
Semen hidrolik
Sejauh ini, jenis semen yang paling umum adalah semen hidrolik, yang mengeras melalui hidrasi mineral klinker ketika air ditambahkan. Semen hidrolik (seperti semen Portland) terbuat dari campuran silikat dan oksida, empat fase mineral utama klinker, yang disingkat dalam notasi ahli kimia semen, yaitu:
C3S: alite (3CaO-SiO2);
C2S: belite (2CaO-SiO2);
C3A: trikalsium aluminat (3CaO-Al2O3) (secara historis, dan kadang-kadang masih disebut celite);
C4AF: brownmillerite (4CaO-Al2O3-Fe2O3).
Silikat bertanggung jawab atas sifat mekanik semen - trikalsium aluminat dan brownmillerite sangat penting untuk pembentukan fase cair selama proses sintering(pembakaran) klinker pada suhu tinggi di dalam tanur. Kimiawi dari reaksi-reaksi ini belum sepenuhnya jelas dan masih menjadi objek penelitian.
Semen non-hidrolik
Bentuk semen yang kurang umum adalah semen non-hidrolik, seperti kapur mati(kalsium oksida yang dicampur dengan air), yang mengeras melalui karbonasi yang bersentuhan dengan karbon dioksida, yang ada di udara (~ 412 vol. ppm ≃ 0,04 vol.%). Kalsium oksida (kapur) pertama diproduksi dari kalsium karbonat( batu kapur atau kapur) melalui kalsinasi pada suhu di atas 825 ° C (1.517 ° F) selama sekitar 10 jam pada tekanan atmosfer
Reaksi ini berlangsung lambat, karena tekanan parsial karbon dioksida di udara rendah (~ 0,4 milibar). Reaksi karbonasi mengharuskan semen kering terpapar udara, sehingga kapur mati adalah semen non-hidrolik dan tidak dapat digunakan di bawah air. Proses ini disebut siklus kapur.
Sejarah
Mungkin kejadian semen yang paling awal yang diketahui berasal dari dua belas juta tahun yang lalu. Endapan semen terbentuk setelah terjadinya serpih minyak yang terletak berdekatan dengan lapisan batu kapur yang terbakar karena sebab-sebab alami. Endapan kuno ini diselidiki pada tahun 1960-an dan 1970-an.
Alternatif semen yang digunakan pada zaman dahulu
Semen, secara kimiawi, adalah produk yang mengandung kapur sebagai bahan pengikat utama, tetapi jauh dari bahan pertama yang digunakan untuk penyemenan. Bangsa Babilonia dan Asyur menggunakan aspal untuk mengikat batu bata atau lempengan pualam yang terbakar. Di Mesir Kuno, balok-balok batu disemen dengan mortar yang terbuat dari pasir dan gipsum yang dibakar secara kasar (CaSO4 - 2H2O), yang merupakan Plester Paris, yang sering mengandung kalsium karbonat (CaCO3),
Yunani Kuno dan Romawi
Kapur (kalsium oksida) digunakan di Kreta dan oleh orang Yunani Kuno. Terdapat bukti bahwa orang Minoa di Kreta menggunakan batu kapur yang dihancurkan sebagai pozzolan buatan untuk semen hidrolik. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali menemukan bahwa kombinasi kapur non-hidrolik terhidrasi dan pozzolan menghasilkan campuran hidrolis (lihat juga: Reaksi pozzolanik), tetapi beton semacam itu digunakan oleh orang Yunani, khususnya Makedonia Kuno, dan tiga abad kemudian dalam skala besar oleh para insinyur Romawi.
Ada... sejenis bubuk yang karena sebab-sebab alamiah menghasilkan hasil yang menakjubkan. Ditemukan di lingkungan Baiae dan di pedesaan yang termasuk dalam kota-kota di sekitar Gunung Vesuvius. Zat ini ketika dicampur dengan kapur dan reruntuhan tidak hanya memberikan kekuatan pada bangunan jenis lain tetapi bahkan ketika dermaga dibangun di laut, mereka mengeras di bawah air.
-Marcus Vitruvius Pollio, Liber II, De Architectura, Bab VI "Pozzolana" Bagian 1
Orang Yunani menggunakan tufa vulkanik dari pulau Thera sebagai pozzolan dan orang Romawi menggunakan abu vulkanik yang dihancurkan ( silikat aluminium aktif) dengan kapur. Campuran ini dapat mengeras di bawah air, meningkatkan ketahanannya terhadap korosi seperti karat. Bahan ini disebut pozzolana dari kota Pozzuoli, sebelah barat Napoli di mana abu vulkanik diekstraksi. Dengan tidak adanya abu pozzolana, orang Romawi menggunakan bubuk bata atau tembikar sebagai penggantinya dan mereka mungkin telah menggunakan ubin yang dihancurkan untuk tujuan ini sebelum menemukan sumber-sumber alami di dekat Roma. Kubah besar Pantheon di Roma dan Pemandian Caracalla yang masif adalah contoh bangunan kuno yang terbuat dari beton ini, yang sebagian besar masih berdiri. Sistem saluran air Romawi yang luas juga banyak menggunakan semen hidrolik. Beton Romawi jarang digunakan di bagian luar bangunan. Teknik normalnya adalah menggunakan material batu bata sebagai bekisting untuk mengisi mortar yang dicampur dengan agregat pecahan batu, batu bata, pecahan tembikar, bongkahan beton daur ulang, atau reruntuhan bangunan lainnya.
Mesoamerika
Beton ringan dirancang dan digunakan untuk konstruksi elemen struktur oleh para pembangun pra-Columbus yang tinggal di peradaban yang sangat maju di El Tajin dekat Mexico City, di Meksiko. Sebuah studi terperinci tentang komposisi agregat dan pengikat menunjukkan bahwa agregat adalah batu apung dan pengikatnya adalah semen pozzolan yang dibuat dengan abu vulkanik dan kapur.
Abad Pertengahan
Tidak diketahui adanya pelestarian pengetahuan ini dalam literatur dari Abad Pertengahan, tetapi para tukang batu dan beberapa insinyur militer pada abad pertengahan secara aktif menggunakan semen hidraulik pada struktur seperti kanal, benteng, pelabuhan, dan fasilitas pembuatan kapal. Campuran mortar kapur dan agregat dengan material batu bata atau batu digunakan di Kekaisaran Romawi Timur dan juga di Barat hingga periode Gotik. Rhineland Jerman terus menggunakan mortar hidrolik selama Abad Pertengahan, memiliki deposit pozzolana lokal yang disebut trass.
Abad ke-16
Tabby adalah bahan bangunan yang terbuat dari kapur cangkang tiram, pasir, dan cangkang tiram utuh untuk membentuk beton. Orang Spanyol memperkenalkannya ke Amerika pada abad keenam belas.
Abad ke-18
Pengetahuan teknis untuk membuat semen hidrolik diformalkan oleh para insinyur Prancis dan Inggris pada abad ke-18.
John Smeaton memberikan kontribusi penting dalam pengembangan semen ketika merencanakan pembangunan Mercusuar Eddystone ketiga (1755-59) di Selat Inggris yang sekarang dikenal sebagai Menara Smeaton. Dia membutuhkan mortar hidraulik yang dapat mengeras dan mengembangkan kekuatan dalam periode dua belas jam di antara gelombang pasang yang berurutan. Dia melakukan eksperimen dengan kombinasi batu kapur yang berbeda dan bahan tambahan termasuk trass dan pozzolana dan melakukan riset pasar yang mendalam tentang kapur hidrolik yang tersedia, mengunjungi tempat produksi mereka, dan mencatat bahwa "hidrolisitas" kapur secara langsung berkaitan dengan kandungan tanah liat dari batu kapur yang digunakan untuk membuatnya. Smeaton berprofesi sebagai insinyur sipil, dan membawa ide tersebut lebih jauh.
Di pesisir Atlantik Selatan Amerika Serikat, tabby yang mengandalkan cangkang tiram dari penduduk asli Amerika sebelumnya digunakan dalam konstruksi rumah dari tahun 1730-an hingga 1860-an.
Khususnya di Inggris, batu bangunan berkualitas baik menjadi semakin mahal selama periode pertumbuhan yang cepat, dan menjadi praktik umum untuk membangun gedung-gedung prestisius dari batu bata industri baru, dan menyelesaikannya dengan plesteran untuk meniru batu. Kapur hidrolik disukai untuk hal ini, tetapi kebutuhan akan waktu yang cepat mendorong pengembangan semen baru.
Yang paling terkenal adalah "semen Romawi" Parker. Ini dikembangkan oleh James Parker pada tahun 1780-an, dan akhirnya dipatenkan pada tahun 1796. Faktanya, semen ini tidak seperti bahan yang digunakan oleh bangsa Romawi, tetapi merupakan "semen alami" yang dibuat dengan membakar septaria - bintil-bintil yang ditemukan di endapan tanah liat tertentu, dan mengandung mineral tanah liat dan kalsium karbonat. Bintil-bintil yang dibakar digiling menjadi bubuk halus. Produk ini, dibuat menjadi adukan semen dengan pasir, mengeras dalam waktu 5-15 menit. Keberhasilan "semen Romawi" membuat produsen lain mengembangkan produk saingan dengan membakar semen kapur hidrolik buatan dari tanah liat dan kapur. Semen Romawi dengan cepat menjadi populer tetapi sebagian besar digantikan oleh semen Portland pada tahun 1850-an.
Abad ke-19
Tampaknya tidak menyadari karya Smeaton, prinsip yang sama diidentifikasi oleh Louis Vicat dari Prancis pada dekade pertama abad kesembilan belas. Vicat kemudian menemukan metode untuk menggabungkan kapur dan tanah liat ke dalam campuran yang intim, dan dengan membakarnya, menghasilkan "semen buatan" pada tahun 1817 yang dianggap sebagai "cikal bakal" semen Portland dan "... Edgar Dobbs dari Southwark mematenkan semen semacam ini pada tahun 1811."
Di Rusia, Egor Cheliev menciptakan bahan pengikat baru dengan mencampurkan kapur dan tanah liat. Hasilnya dipublikasikan pada tahun 1822 dalam bukunya A Treatise on the Art to Prepare a Good Mortar yang diterbitkan di St. Beberapa tahun kemudian pada tahun 1825, ia menerbitkan buku lainnya, yang menjelaskan berbagai metode pembuatan semen dan beton, serta manfaat semen dalam konstruksi bangunan dan tanggul.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 06 Maret 2025
Ketika prinsip-prinsip Revolusi Industri Keempat, atau Industri 4.0, menjadi lazim, organisasi industri terkemuka mengadopsi generasi baru solusi Lingkungan, Kesehatan, dan Keselamatan (EHS) dan keselamatan pabrik untuk mendorong inisiatif kesehatan dan keselamatan karyawan serta membantu memastikan operasi yang aman dan berkelanjutan.
Transformasi digital tenaga kerja industri juga mendorong efisiensi yang lebih besar dan pada akhirnya akan mengarah pada pendekatan yang lebih preskriptif terhadap keselamatan pabrik dan pekerja. Hal ini melibatkan peningkatan keselamatan dari berbagai aspek, mulai dari meningkatkan proses dan alur kerja hingga memperkuat budaya keselamatan.
Pertumbuhan digitalisasi
Dalam lingkungan operasi industri saat ini, terdapat peningkatan fokus pada teknologi mutakhir seperti perangkat yang terhubung, alat augmented reality dan virtual reality, analitik data, pembelajaran mesin dan aplikasi seluler yang merupakan bagian dari perangkat transformasi digital yang semuanya merupakan bagian dari perangkat transformasi digital.
Ada banyak alasan yang mendorong percepatan digitalisasi. Operator pabrik berurusan dengan berkurangnya tenaga kerja karena karyawan yang pensiun, dan lingkungan industri saat ini telah menciptakan tantangan seputar manajemen masuk dan jarak sosial di hampir semua fasilitas manufaktur. Ketika perusahaan beralih dari pendekatan berbasis kertas ke pendekatan keselamatan pekerja, yang membutuhkan waktu untuk menyelesaikannya, kurang akurat, dan prosedur pelaporan yang rumit, ada transisi ke pendaftaran pra-masuk secara online. Pendekatan ini memungkinkan masuknya pekerja ke fasilitas secara terjadwal dan mengintegrasikan pelacakan lokasi secara real-time untuk membantu menjaga jarak dan melacak kontak ketika pekerja berada di lokasi.
Digitalisasi juga membantu tenaga kerja industri untuk tetap patuh dalam hal sertifikasi, manajemen kelelahan, dan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang valid. Langkah-langkah ini lebih lanjut memungkinkan kompetensi pekerja melalui pelatihan yang memanfaatkan realitas virtual sehingga operator konsol, teknisi, dan personel lainnya dapat mengalami tugas tertentu sebelum memasuki lokasi.
Selain itu, telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam penerapan solusi EHS di seluruh perusahaan. Tujuannya adalah untuk melindungi kesejahteraan pekerja dan lingkungan, memastikan kepatuhan global dalam menghadapi persyaratan yang berkembang pesat, serta memajukan keberlanjutan dan keunggulan operasional.
Dukungan untuk Industri 4.0
Industri 4.0 sangat relevan dan semakin penting bagi fasilitas industri modern. Ini merupakan gelombang teknologi berikutnya yang mendorong efisiensi di seluruh pabrik atau lantai pabrik. Namun, bisnis yang ingin meluncurkan alur kerja yang siap untuk Industri 4.0 juga harus meningkatkan praktik keselamatan pabrik dan tenaga kerja mereka.
Di era Industrial Internet of Things (IIoT), terdapat hubungan yang erat antara lingkungan, kesehatan dan keselamatan serta perangkat lapangan, perangkat keselamatan portabel, dan perangkat yang dapat dikenakan secara cerdas - yang pada dasarnya merupakan keseluruhan data biometrik yang dimasukkan ke dalam perangkat lunak EHS. Namun, terlepas dari kemajuan teknologi yang sedang berlangsung, proses yang mendasari di balik pelaporan dan pendokumentasian insiden dan risiko keselamatan masih didasarkan pada pendekatan historis yang bersifat top-down, di mana spreadsheet manual dan formulir kertas lainnya masih lazim digunakan.
Tingkat integrasi, skalabilitas, dan kolaborasi baru yang digerakkan oleh Industri 4.0 akan memungkinkan operator pabrik untuk mengotomatiskan sejumlah proses keselamatan manual, menghilangkan kesalahan manusia, dan secara otomatis memasok data penting untuk alur kerja guna menghasilkan respons yang tepat terhadap peristiwa secara instan.
Menerapkan teknologi untuk bekerja
Penyedia teknologi terkemuka telah mengembangkan solusi keselamatan pabrik dan tenaga kerja yang dirancang untuk dipasangkan dengan inisiatif Industri 4.0, termasuk perangkat yang dapat dikenakan cerdas yang memungkinkan pekerja industri menyelesaikan tugas mereka dengan lebih aman, andal, dan efisien. Demikian juga, solusi alur kerja insiden otomatis memungkinkan operator pabrik membuat keputusan keselamatan dengan cara yang dapat diprediksi dan dilacak.
Misalnya, perangkat gas portabel dapat mendeteksi pelepasan gas di awal shift pekerja. Jika pelepasannya cukup kecil, kemungkinan pekerja tersebut akan melanjutkan tugas normal untuk sisa hari itu. Dengan menggunakan proses manual, pekerja harus meluangkan waktu untuk menuliskan catatan dan pengamatan tentang pelepasan gas di akhir shift. Informasi ini mungkin tidak selengkap dan seakurat yang dibutuhkan. Dengan solusi keselamatan yang terintegrasi dan otomatis, informasi tentang pelepasan gas akan langsung dikirimkan ke operator ruang kontrol untuk dibandingkan dengan pembacaan dari detektor gas tetap. Informasi ini juga akan diberikan ke perangkat lunak EHS untuk mencatat jenis gas yang terlibat dalam pelepasan, tingkat paparan pekerja, dan waktu kejadian. Proses ini, pada gilirannya, secara otomatis memicu alur kerja higiene industri yang melaporkan insiden tersebut dan memberikan rekomendasi apakah pekerja tersebut harus mendapatkan evaluasi medis.
Secara paralel, prosedur seputar EHS akan mengharuskan pelepasan gas didokumentasikan sebagai bagian dari pelaporan peraturan. Proses ini melibatkan perbandingan informasi yang serupa dari perangkat keselamatan tetap dan portabel, termasuk rincian tentang asal mula kejadian, volume gas yang dilepaskan dan waktu kejadian. Dengan perangkat keselamatan yang otomatis dan kolaboratif, alur kerja lingkungan secara otomatis dipicu dengan semua informasi terkait yang disertakan dalam laporan ke EHS dan manajemen pabrik dan perusahaan.
Dengan memasukkan berbagai sumber data ke dalam mesin analitik data, operator pabrik dapat mengidentifikasi tren dari aset IIoT proses untuk menerapkan pendekatan yang lebih prediktif yang mengurangi kemungkinan kejadian yang sama terjadi di masa depan.
Kemajuan serupa dalam otomatisasi dan integrasi juga terjadi di bidang kepatuhan dan manajemen kompetensi. Teknologi canggih membantu organisasi industri memastikan pekerja mereka memiliki pelatihan dan kepatuhan yang tepat untuk mendapatkan izin elektronik untuk bekerja dan menjalankan fungsinya di lantai pabrik.
Misalnya, karyawan dengan izin kerja panas mungkin berada di unit tertentu ketika terjadi kebocoran gas. Teknologi keselamatan terintegrasi akan memungkinkan deteksi dini kebocoran sekaligus secara otomatis memulai alarm umum alamat publik (PAGA) dan mengirimkan pemberitahuan ke sistem izin elektronik untuk bekerja-memastikan penangguhan semua izin kerja panas hingga pelepasan dibersihkan. Kemampuan ini membantu manajemen pabrik membuat keputusan yang tepat tentang kemungkinan evakuasi unit, dan dengan demikian meminimalkan konsekuensi dari ledakan atau peristiwa bencana lainnya.
Dalam hal kompetensi tenaga kerja, alat digital baru mendukung solusi seperti bantuan pekerja atau pakar yang siap dipanggil di mana panduan jarak jauh dapat diberikan secara real-time melalui headset dan umpan video, oleh pekerja yang berpengalaman di lokasi di luar lokasi atau diisolasi di rumah, kepada karyawan yang kurang berpengalaman di lapangan.
Kesimpulan
Saat ini terdapat bukti yang jelas bahwa integrasi solusi pabrik dan lingkungan, kesehatan, dan keselamatan merupakan aspek yang berharga dari Industri 4.0 dan inisiatif yang terkait dengan kebersihan industri. Tujuannya adalah untuk mendorong efisiensi tenaga kerja dan bukannya pengurangan. Perkembangan teknologi baru menciptakan tenaga kerja yang cerdas dan terhubung sekaligus mendorong produktivitas dan meningkatkan keselamatan di seluruh lantai pabrik.
Digitalisasi juga membangun tingkat kepercayaan yang lebih besar di dalam organisasi industri dan prosesnya, dan di antara karyawan di lokasi. Hal ini juga mencakup untuk memenuhi tujuan kepatuhan dan kompetensi di semua tingkat tenaga kerja pabrik.
Disadur dari: ishn.com
Properti dan Arsitektur
Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 06 Maret 2025
Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) meminta pemerintah melibatkan arsitek dalam perancangan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur. Ketua Umum IAI Georgius Budi Yulianto mengatakan hingga saat ini, belum ada pembahasan lebih lanjut terkait keterlibatan IAI di IKN baru. "Hingga kini belum ada pembicaraan lagi terkait keterlibatan IAI dalam perancangan pembangunan IKN baru di Kalimantan Timur," kata Georgius di Jakarta, Selasa (14/12/2021).
Georgius atau akrab disapa Boegar ini menjelaskan bahwa dalam merancang atau mendesain IKN baru harusnya dilakukan sesuai dengan aturan dan undang-undang yang berlaku. Kata dia, desain bangunan apa pun idealnya mesti melalui tahap sayembara dan melibatkan arsitek sebagai pesertanya.
Kata dia, desain bangunan apa pun idealnya mesti melalui tahap sayembara dan melibatkan arsitek sebagai pesertanya. "Jadi arsitek yang terlibat dalam sayembara itu harus arsitek yang teregistrasi. Nggak bisa mengaku-ngaku arsitek kalau tidak teregister," ujarnya. Dia menegaskan bahwa profesi arsitek dilindungi oleh undang-undang. Dengan demikian apa yang dikerjakan arsitek juga memiliki konsekuensi hukum. Misalnya, jika terdapat bangunan yang runtuh akibat rancangannya yang tidak benar, berarti arsitek menjadi salah satu orang yang bertanggung jawab. Boegar menegaskan, semua orang, baik arsitek atau pun non-arsitek mungkin bisa merancang bangunan yang super bagus.
Tetapi tidak semua orang memiliki kemampaun perhitungan yang matang dalam merancang bangunan. "Misal rancangan bangunanya luar iasa, tetapi apakah itu bisa dibangun dan memenuhi keandalan bangunan? nah arsitek yang faham soal itu," kata Boegar. Untuk diketahui, berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 15 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksana Undang-undang (UU) Nomor 6 Tahun 2017 tentang Arsitek dijelaskan siapa saja yang boleh merancang bangunan gedung.
Pasal 1 ayat 2 PP 15 Tahun 2021 menyebutkan bahwa praktik arsitek adalah penyelenggaraan kegiatan untuk menghasilkan karya arsitektur yang meliputi perencanaan, perancangan, pengawasan dan/atau pengkajian untuk bangunan gedung dan lingkungannya serta yang terkait dengan kawasan dan kota. Pasal ini juga menjelaskan bahwa perancangan bangunan gedung dan lingkungannya merupakan tugas dari arsitek.
Sumber: www.kompas.com