Teknologi Infrastruktur

Aplikasi Metode Numerik dan Komputasi untuk Pengembangan Infrastruktur Indonesia

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026


Pendahuluan: Orasi Ilmiah dan Latar Belakang Akademik

Orasi ilmiah ini diawali dengan pembacaan riwayat hidup Prof. Ir. Made Suarjana, M.Si., PhD oleh Prof. Dr. Ir. Rudi Hermawan Karsaman, M.Si. Prof. Made Suarjana lahir di Tabanan, Bali, pada 23 November 1961 dan merupakan anak keenam dari tujuh bersaudara. Beliau menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Singaraja, menyelesaikan pendidikan sarjana Teknik Sipil pada tahun 1986, pendidikan magister di Stanford University pada tahun 1989, serta pendidikan doktor di universitas yang sama pada tahun 1994. Pada tahun 2020, beliau juga mengikuti Program Insinyur di Institut Teknologi Bandung.

Karier akademik Prof. Made Suarjana di ITB dimulai sejak 1 Maret 1987 sebagai pegawai negeri sipil dan mencapai jabatan Guru Besar pada 1 Desember 2024. Bidang keahlian beliau adalah pemodelan numerik dan komputasi untuk infrastruktur. Selain aktif dalam pendidikan dan penelitian, beliau juga mengemban berbagai jabatan struktural, menghasilkan publikasi ilmiah nasional dan internasional, serta berkontribusi dalam pengabdian masyarakat dan konsultasi teknik di bidang struktur.

Kebutuhan Infrastruktur dan Tantangan Geografis Indonesia

Dalam orasinya, Prof. Made Suarjana mengawali pembahasan dengan menyoroti kebutuhan infrastruktur yang semakin besar dan kompleks. Infrastruktur modern mencakup jembatan dengan bentang hingga beberapa kilometer, gedung bertingkat sangat tinggi, serta eksplorasi dan pembangunan infrastruktur di laut hingga kedalaman mencapai satu kilometer.

Tantangan tersebut semakin diperberat oleh kondisi geografis Indonesia yang terletak di pertemuan tiga lempeng tektonik. Kondisi ini menghasilkan bentang alam yang kompleks, dengan gunung, lembah, dan jurang yang dalam, serta kondisi tanah yang sering kali tidak stabil. Selain itu, risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan gempa bumi menjadi faktor dominan yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan dan pengendalian infrastruktur.

Peran Metode Numerik dalam Rekayasa Infrastruktur

Untuk menjawab kompleksitas tersebut, metode numerik dan komputasi menjadi alat utama dalam rekayasa infrastruktur modern. Metode ini digunakan untuk memahami respons struktur terhadap beban, seperti reaksi, gaya dalam, dan deformasi. Berdasarkan hasil analisis numerik inilah keputusan rekayasa diambil dengan tujuan menghasilkan infrastruktur yang aman, efisien, dan berkelanjutan.

Perkembangan metode numerik berjalan seiring dengan kemajuan teknologi komputer. Dari analisis statik dua dimensi, berkembang ke analisis dinamik dan tiga dimensi, hingga saat ini mencakup analisis nonlinear dan analisis riwayat waktu dinamik yang kompleks. Metode numerik tidak hanya digunakan pada tahap perancangan, tetapi juga pada seluruh siklus hidup infrastruktur, termasuk rekonstruksi, pengembangan, dan investigasi kegagalan.

Aplikasi Metode Numerik pada Infrastruktur Lepas Pantai

Salah satu karya yang dipaparkan dalam orasi ini adalah pengembangan metode perkuatan untuk anjungan lepas pantai. Struktur ini umumnya terendam di dalam air dan digunakan untuk eksplorasi minyak dan gas. Seiring waktu, anjungan lepas pantai dapat mengalami penurunan kapasitas akibat korosi atau kerusakan mekanis, seperti benturan kapal.

Karena keterbatasan metode perbaikan di lingkungan laut, Prof. Made Suarjana dan tim mengusulkan metode perkuatan menggunakan grout. Analisis numerik menunjukkan bahwa metode ini mampu mengembalikan kekuatan sambungan tubular yang mengalami penipisan akibat korosi, serta memperbaiki elemen yang mengalami deformasi lokal. Hasil analisis tersebut menjadi dasar persetujuan untuk implementasi di lapangan.

Pengendalian Kerusakan pada Struktur Tahan Gempa

Dalam konteks struktur tahan gempa, Prof. Made Suarjana menegaskan bahwa kerusakan pada struktur diperbolehkan selama dapat dikendalikan. Prinsip ini diwujudkan melalui pengembangan elemen struktural yang berfungsi sebagai sekering, yaitu elemen yang dirancang untuk menerima kerusakan terlebih dahulu saat gempa besar terjadi.

Elemen sekering ini dirancang agar mudah diganti setelah gempa, sehingga kerusakan tidak menyebar ke elemen utama struktur. Pendekatan ini telah dikaji secara numerik dan diuji melalui pembuatan prototipe struktur baja. Pengujian eksperimental dilakukan untuk memahami perilaku elemen tersebut, sementara pengembangan lanjutan masih terus berlangsung.

Inovasi Sistem Jembatan Bentang Tinggi

Pengembangan metode numerik juga diterapkan pada perancangan jembatan yang menyeberangi lembah dalam. Sistem girder pracetak yang umum digunakan sering menghasilkan pilar dengan perilaku kantilever yang sangat fleksibel dan membutuhkan kekuatan besar di bagian dasar.

Melalui pengembangan sistem struktural yang memodifikasi perilaku girder pracetak, struktur jembatan dapat berperilaku sebagai portal dengan kinerja yang lebih baik. Sistem ini telah diterapkan pada beberapa jembatan tinggi di jalan tol Cipularang dan Manado–Bitung, menunjukkan solusi yang sederhana namun efektif.

Obsesi Akademik: Rumah Tahan Gempa untuk Indonesia

Bagian penting dari orasi ini adalah pembahasan mengenai pengembangan rumah tahan gempa. Meskipun rumah tinggal umumnya hanya satu hingga tiga lantai, justru bangunan inilah yang paling banyak menimbulkan korban saat gempa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian terhadap kualitas perencanaan dan pelaksanaan struktur rumah sederhana.

Prof. Made Suarjana menyoroti bahwa hingga saat ini Indonesia belum memiliki standar nasional khusus untuk rumah tahan gempa. Sistem yang umum digunakan adalah dinding bata terkekang, yang memiliki karakteristik berbeda dengan sistem portal beton atau baja yang lebih banyak diatur dalam standar nasional.

Pendekatan Eksperimental dan Pemodelan Numerik Rumah Tahan Gempa

Untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik, dilakukan investigasi lapangan pascagempa, studi eksperimental skala penuh, dan pengembangan model numerik. Pengujian dilakukan terhadap berbagai konfigurasi rumah, termasuk pengaruh detail penulangan, bukaan, dan metode pengakuran.

Hasil pengujian tersebut dikompilasi dalam bentuk basis data yang mencakup kurva histeresis, mode kerusakan, dan mekanisme keruntuhan. Dari basis data ini dikembangkan model numerik, baik model sederhana berbasis batang maupun model elemen hingga mikro yang sangat detail. Model-model tersebut telah dikalibrasi dan diverifikasi terhadap hasil eksperimen, menunjukkan tingkat kesesuaian yang semakin baik.

Kontribusi terhadap Mitigasi Bencana dan Ketangguhan Infrastruktur

Data dan model yang dikembangkan digunakan untuk menyusun model kerentanan bangunan dan model fatalitas empiris yang relevan dengan kondisi Indonesia. Model ini memiliki peran strategis dalam perencanaan mitigasi bencana dan respons cepat pascabencana, sehingga penanganan dapat dilakukan secara terencana dan tepat sasaran.

Metode numerik dan komputasi, sebagaimana ditegaskan dalam orasi ini, menjadi tonggak penting dalam kemajuan rekayasa infrastruktur modern. Metode ini memungkinkan pemodelan fenomena kompleks secara realistis, simulasi kondisi ekstrem, serta integrasi hasil eksperimen dan analisis untuk menghasilkan solusi rekayasa yang lebih andal.

Penutup dan Refleksi Akademik

Pada bagian akhir orasi, Prof. Made Suarjana menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada pimpinan ITB, para pembimbing, kolega, mahasiswa, mitra kolaborasi, serta keluarga yang telah mendukung perjalanan akademik dan penelitian beliau. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Made Suarjana menegaskan bahwa metode numerik dan komputasi memiliki peran fundamental dalam pengembangan infrastruktur Indonesia yang aman, efisien, dan tangguh terhadap bencana. Melalui integrasi analisis numerik, eksperimen, dan investigasi lapangan, rekayasa infrastruktur dapat menjawab tantangan geografis dan kegempaan yang khas di Indonesia.

Pengembangan rumah tahan gempa dan infrastruktur berkelanjutan menjadi fokus strategis yang relevan secara sosial dan teknis, sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan rekayasa tidak hanya diukur dari skala bangunan, tetapi dari kemampuannya melindungi kehidupan manusia.

Sumber

Suarjana, Made.
Aplikasi Metode Numerik dan Komputasi untuk Pengembangan Infrastruktur di Indonesia.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.

Selengkapnya
Aplikasi Metode Numerik dan Komputasi untuk Pengembangan Infrastruktur Indonesia

Teknologi Infrastruktur

Dinamika Struktur Lepas Pantai: Dari Infrastruktur Energi Konvensional hingga Energi Terbarukan

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026


Pendahuluan: Infrastruktur Energi dan Tantangan Dinamika Struktur Lepas Pantai

Dalam orasi ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung yang disampaikan di Aula Barat ITB, Prof. Ir. Rildova, M.T., PhD membahas dinamika struktur lepas pantai dalam konteks infrastruktur energi, mulai dari energi konvensional hingga energi terbarukan. Hampir seluruh bangunan lepas pantai pada dasarnya merupakan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan pengangkatan, pengolahan, atau pembangkitan energi di laut.

Struktur lepas pantai secara historis didominasi oleh anjungan minyak dan gas bumi. Namun, seiring berkembangnya tuntutan global terhadap energi terbarukan, pengembangan infrastruktur energi di laut kini mencakup turbin angin lepas pantai, panel surya terapung, hingga potensi energi gelombang. Perubahan spektrum ini menuntut pendekatan dinamika struktur yang semakin komprehensif dan adaptif.

Kegagalan Struktur sebagai Pemicu Perkembangan Keilmuan

Salah satu pendorong utama perkembangan penelitian dalam dinamika struktur adalah kegagalan, kecelakaan, atau kerusakan struktur. Prof. Rildova menegaskan bahwa banyak kemajuan keilmuan justru lahir dari upaya memahami penyebab kegagalan struktur yang sebelumnya tidak terantisipasi.

Dalam konteks dinamika struktur, kegagalan Jembatan Tacoma Narrows tahun 1940 sering dijadikan contoh klasik, di mana beban angin yang relatif tidak besar memicu respons dinamik yang sangat signifikan hingga menyebabkan keruntuhan. Pada struktur lepas pantai, contoh serupa ditunjukkan melalui kasus anjungan Alexander Kielland di Laut Utara pada tahun 1980 yang terbalik akibat beban gelombang. Investigasi menunjukkan bahwa kegagalan tersebut berawal dari satu sambungan las yang kurang baik, yang kemudian berkembang menjadi keruntuhan akibat beban siklik jangka panjang.

Kasus-kasus ini menegaskan bahwa dinamika struktur sering kali menjadi persoalan serius justru pada kondisi beban yang tampak “biasa”, ketika frekuensi beban mendekati frekuensi alami struktur dan memicu resonansi.

Beban Dinamik pada Struktur Lepas Pantai

Struktur lepas pantai menghadapi berbagai jenis beban dinamik yang kompleks. Untuk konteks Indonesia, gempa bumi menjadi salah satu beban dominan, disusul oleh beban gelombang dan angin. Pada struktur dengan ketinggian signifikan seperti turbin angin lepas pantai, pengaruh beban angin menjadi sangat penting.

Selain itu, komponen bergerak seperti bilah turbin menghasilkan gaya dorong dan gaya inersia yang berubah terhadap waktu. Seluruh beban ini berinteraksi dan membentuk respons dinamik struktur yang harus dipahami secara menyeluruh dalam proses perancangan.

Konsep Dasar Dinamika Struktur dan Resonansi

Dalam pendidikan dinamika struktur, Prof. Rildova menekankan pentingnya pemahaman konsep faktor amplifikasi dinamik. Respons struktur terhadap beban harmonik sangat bergantung pada perbandingan antara frekuensi beban dan frekuensi alami struktur. Ketika kedua frekuensi tersebut saling mendekati, respons struktur dapat meningkat secara signifikan akibat resonansi.

Konsep ini kemudian dimanfaatkan dalam praktik rekayasa melalui pendekatan analisis statik ekuivalen, di mana efek dinamik telah “diwakili” oleh faktor-faktor tertentu. Dalam perencanaan bangunan tahan gempa, pendekatan ini dikenal melalui konsep respons spektrum yang telah dirumuskan dalam berbagai standar dan kode desain.

Optimalisasi dan Efisiensi Struktur Lepas Pantai

Pada masa awal pengembangan anjungan lepas pantai, struktur sering dirancang sangat kuat tanpa mempertimbangkan efisiensi material secara ketat. Hal ini dipengaruhi oleh nilai cadangan energi yang jauh lebih besar dibandingkan biaya struktur. Namun, pada kondisi ladang minyak marginal dan proyek energi terbarukan, efisiensi menjadi faktor kunci.

Optimalisasi struktur bertujuan untuk menghasilkan desain yang lebih ringan, lebih ekonomis, namun tetap aman. Pendekatan ini sejalan dengan perkembangan di struktur darat, di mana pembelajaran dari kerusakan gempa mendorong inovasi seperti isolasi dasar dan sistem peredam energi.

Strategi Pengurangan Respons Dinamik

Dalam struktur lepas pantai, berbagai strategi telah dikaji untuk mengurangi respons dinamik. Salah satunya adalah penggunaan alat peredam seperti tuned mass damper, baik berbasis massa padat maupun cairan, yang dirancang untuk menyerap energi getaran pada frekuensi tertentu.

Pendekatan lain adalah penerapan konsep elemen “sekering” struktural, di mana bagian tertentu dari struktur dirancang untuk mengalami kerusakan terlebih dahulu demi melindungi elemen utama. Studi numerik menunjukkan bahwa penggunaan peredam dapat mengurangi perpindahan struktur hingga sekitar 20% serta meningkatkan umur kelelahan struktur secara signifikan, meskipun penerapannya di lapangan masih menghadapi tantangan teknis dan lingkungan.

Tantangan Implementasi di Lingkungan Laut

Implementasi sistem peredam pada struktur lepas pantai menghadapi kendala ruang yang terbatas, karena anjungan umumnya telah dipenuhi peralatan operasional. Selain itu, peredam membutuhkan ruang gerak yang memadai dan harus tahan terhadap lingkungan laut yang keras, termasuk korosi dan paparan langsung terhadap cuaca ekstrem.

Karena itu, hingga saat ini sebagian besar penelitian masih berada pada tahap numerik dan eksperimen laboratorium, dengan penerapan lapangan yang masih sangat terbatas.

Dinamika pada Sistem Non-Struktural dan Proses Instalasi

Selain struktur utama, komponen non-struktural seperti pipa riser juga mengalami beban dinamik yang signifikan. Gerakan struktur terapung akibat gelombang dapat menyebabkan tegangan tinggi pada titik-titik tertentu, terutama di dekat dasar laut. Modifikasi geometri, seperti penggunaan pengapung tambahan untuk membentuk konfigurasi menyerupai huruf “S”, dapat membantu mereduksi respons dinamik pada bagian kritis.

Dinamika struktur juga menjadi isu penting pada tahap transportasi, instalasi, dan dekomisioning. Selama proses pengangkatan dan pemindahan, struktur dapat mengalami resonansi pada periode gelombang tertentu. Studi numerik menunjukkan bahwa modifikasi sistem pengangkatan, seperti penambahan rigging lines, dapat menurunkan amplifikasi respons hingga berada dalam batas yang dapat diterima.

Menuju Infrastruktur Energi Terbarukan

Sebagai bagian dari pengembangan energi terbarukan, Prof. Rildova juga menyoroti penelitian mengenai panel surya terapung di laut. Struktur ini terdiri atas modul pengapung yang dihubungkan dengan konektor dan ditambatkan ke dasar perairan. Tantangan utama terletak pada desain sambungan, apakah dibuat kaku atau fleksibel, karena masing-masing pilihan menghasilkan respons gaya dan perpindahan yang berbeda.

Selain itu, pengembangan pembangkit energi gelombang menghadirkan tantangan dinamika yang berlawanan dengan struktur konvensional. Pada sistem ini, struktur justru diharapkan memiliki respons besar terhadap gelombang kecil agar energi yang dapat diekstraksi menjadi optimal.

Refleksi Akademik dan Penutup

Pada bagian akhir orasi, Prof. Rildova menyampaikan apresiasi kepada pimpinan ITB, senat akademik, Forum Guru Besar, kolega, mentor, serta keluarga yang telah mendukung perjalanan akademiknya hingga mencapai jabatan guru besar. Orasi ditutup dengan pembacaan kode kehormatan Guru Besar ITB sebagai komitmen terhadap integritas, keilmuan, dan pengabdian bagi institusi dan masyarakat.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Rildova menegaskan bahwa dinamika struktur merupakan aspek krusial dalam perancangan dan pengembangan infrastruktur lepas pantai, baik untuk energi konvensional maupun energi terbarukan. Kegagalan struktur, resonansi, dan respons dinamik menjadi pelajaran penting dalam membangun sistem yang lebih aman, efisien, dan berkelanjutan.

Ke depan, tantangan terbesar terletak pada penerapan hasil penelitian numerik dan laboratorium ke skala lapangan, khususnya dalam lingkungan laut yang keras dan kompleks. Namun, dengan pendekatan ilmiah yang berkelanjutan, dinamika struktur lepas pantai memiliki peran strategis dalam mendukung transisi energi global.

Sumber

Rildova.
Dinamika Struktur Lepas Pantai dari Infrastruktur Energi Konvensional hingga Energi Terbarukan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung.
url: https://www.youtube.com/watch?v=kdI0YpcbLic

Selengkapnya
Dinamika Struktur Lepas Pantai: Dari Infrastruktur Energi Konvensional hingga Energi Terbarukan

Teknologi Infrastruktur

Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026


Pendahuluan: Revitalisasi Pesisir Jakarta sebagai Tantangan Strategis

Pesisir Jakarta merupakan wilayah dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang tinggi. Sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional, Jakarta menghadapi tekanan besar berupa banjir, penurunan muka tanah, kepadatan permukiman, serta keterbatasan sumber daya air baku. Permasalahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan dan diperparah oleh kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah pesisir utara Pulau Jawa.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Andoyo Wurianto, M.Si., PhD mengangkat tema Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta. Orasi ini disampaikan pada saat isu pembangunan Giant Seawall tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Prof. Andoyo menegaskan sejak awal bahwa konsep yang dipaparkannya merupakan salah satu usulan, mengingat hingga saat ini belum terdapat satu desain definitif dari pemerintah.

Banjir, Penurunan Muka Tanah, dan Ketergantungan Air Baku

Salah satu permasalahan utama Jakarta adalah banjir yang datang dari berbagai arah. Ketika hujan terjadi di wilayah Bogor, Jakarta menerima banjir kiriman dari hulu. Ketika hujan turun di Jakarta sendiri, sistem drainase yang terbatas menyebabkan genangan meluas. Pada saat bersamaan, pasang laut yang tinggi juga memicu banjir rob di kawasan pesisir.

Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa wilayah pesisir Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang signifikan. Penurunan ini ditengarai terutama disebabkan oleh pengambilan air tanah secara masif, baik oleh individu maupun industri. Ketergantungan masyarakat terhadap air tanah terjadi karena pasokan air baku dari sistem penyediaan air bersih belum mampu memenuhi kebutuhan secara penuh. Dalam orasinya, Prof. Andoyo mengutip berbagai referensi yang menunjukkan bahwa di beberapa lokasi, penurunan muka tanah Jakarta dapat mencapai sekitar sepuluh sentimeter per tahun.

Keterbatasan Tanggul Pantai Konvensional

Berbagai upaya perlindungan pantai sebenarnya telah dilakukan, salah satunya melalui pembangunan tanggul pantai. Namun, tanggul pantai konvensional yang dibangun tepat di garis pantai memiliki keterbatasan serius. Di kawasan dengan kepadatan permukiman tinggi seperti Muara Angke, pembangunan tanggul pantai kerap terhambat karena keterbatasan ruang dan potensi penggusuran.

Akibatnya, masyarakat di kawasan pesisir harus hidup berdampingan dengan banjir rob yang terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini memunculkan narasi “hidup selaras dengan alam”, yang pada praktiknya sering dimaknai sebagai penerimaan terhadap risiko yang terus berulang tanpa solusi struktural yang memadai.

Konsep Tanggul Lepas Pantai dan Waduk Pantai

Sebagai alternatif, Prof. Andoyo mengusulkan konsep tanggul lepas pantai. Istilah ini sengaja digunakan untuk membedakannya dari tanggul pantai dan untuk menghindari resistensi sosial yang sering melekat pada istilah Giant Seawall. Tanggul lepas pantai dirancang dibangun di laut, sehingga tidak langsung bersinggungan dengan kawasan permukiman padat di daratan.

Konsep ini dipadukan dengan pembangunan waduk pantai yang berfungsi sebagai sumber air baku baru bagi Jakarta. Waduk pantai diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap pasokan air dari wilayah lain seperti Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian, sekaligus menurunkan tekanan terhadap pengambilan air tanah.

Menjaga Fungsi Strategis Pelabuhan Tanjung Priok

Dalam pengembangan konsep tersebut, Prof. Andoyo menekankan pentingnya menjaga fungsi Pelabuhan Tanjung Priok sebagai mesin ekonomi nasional. Oleh karena itu, area Tanjung Priok tidak disentuh oleh bangunan tanggul lepas pantai maupun jembatan yang berpotensi menghambat pergerakan kapal.

Menurut Prof. Andoyo, ruang laut di sekitar pelabuhan memiliki kebutuhan yang bahkan lebih besar dibandingkan ruang darat. Dengan tidak mengganggu Tanjung Priok, konsep tanggul lepas pantai justru diarahkan untuk mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi pelabuhan tersebut.

Pendekatan Investasi dan Pembiayaan Berbasis Bisnis

Prof. Andoyo menegaskan bahwa proyek perlindungan pesisir berskala besar tidak seharusnya sepenuhnya membebani anggaran negara. Oleh karena itu, konsep tanggul lepas pantai dirancang sebagai investasi yang mampu membiayai dirinya sendiri.

Pada sisi barat pesisir Jakarta, diusulkan pembangunan pulau-pulau baru dengan skala yang sebanding dengan pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk. Pulau-pulau ini berpotensi dikembangkan sebagai kawasan properti yang mampu menghasilkan pendapatan. Selain itu, waduk pantai dapat dimanfaatkan untuk penjualan air baku, sementara jaringan jalan tol baru dirancang dengan skema pembiayaan bersama antara infrastruktur dan pengembangan kawasan.

Energi Terbarukan dan Optimalisasi Ruang Laut

Selain fungsi perlindungan pantai dan penyediaan air, tanggul lepas pantai juga membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan. Permukaan waduk pantai dan struktur tanggul dapat dimanfaatkan untuk pemasangan panel surya, sementara contoh dari negara lain seperti Belanda menunjukkan potensi integrasi dengan infrastruktur energi angin, meskipun karakteristik angin di Indonesia memiliki keterbatasan tersendiri.

Revitalisasi Kawasan Timur: Pertamina, Marunda, dan Nelayan

Di kawasan timur pesisir Jakarta, Prof. Andoyo mengusulkan pengembangan yang lebih kompleks. Salah satu elemen penting adalah pembangunan terminal terpadu Pertamina di pulau lepas pantai. Terminal ini dirancang untuk memisahkan fasilitas energi strategis dari kawasan permukiman padat, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik energi nasional.

Selain itu, kawasan Marunda diusulkan untuk direvitalisasi melalui penyediaan lahan baru bagi relokasi dan pengembangan pelabuhan. Prof. Andoyo juga menekankan pentingnya kehadiran pelabuhan perikanan yang memadai bagi nelayan Jakarta. Dalam konsep yang diajukan, nelayan tidak dipinggirkan, melainkan ditempatkan berdekatan dengan fasilitas sandar dan kawasan aktivitasnya, sehingga kehidupan sosial dan ekonomi mereka dapat ditingkatkan secara bermartabat.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Andoyo Wurianto menegaskan bahwa revitalisasi pesisir Jakarta membutuhkan pendekatan terpadu yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan fisik dari banjir dan rob, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Konsep tanggul lepas pantai dan waduk pantai yang diusulkan menawarkan solusi alternatif yang berupaya menjawab permasalahan banjir, penurunan muka tanah, serta keterbatasan air baku secara simultan.

Dengan menjaga fungsi strategis pelabuhan, membuka peluang investasi, dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat pesisir, konsep ini menunjukkan bahwa perlindungan pantai dapat dirancang sebagai bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek infrastruktur semata.

Sumber

Andoyo Wurianto. Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), 24 Mei 2025.
url: https://www.youtube.com/watch?v=IUPzM1jqq-E

Selengkapnya
Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta

Teknologi Infrastruktur

Kerusakan untuk Mencapai Ketangguhan: Strategi Perancangan Struktur Baja Tahan Gempa

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 23 Januari 2026


Pendahuluan: Gempa sebagai Keniscayaan dan Tantangan Rekayasa

Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Posisi geografis yang berada pada pertemuan lempeng tektonik menyebabkan gempa bumi menjadi fenomena yang tidak dapat dihindari. Dalam konteks ini, tantangan utama bukanlah bagaimana mencegah gempa, melainkan bagaimana meminimalkan dampak kerusakan dan korban yang ditimbulkannya.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. R. Muslinang Mustopo, M.Si., PhD mengangkat tema yang provokatif sekaligus penuh harapan, yaitu “Kerusakan untuk Mencapai Ketangguhan”. Judul ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam rekayasa struktur tahan gempa, dari sekadar mengejar kekuatan menuju upaya mengelola kerusakan secara terencana agar bangunan tetap berdiri dan melindungi penggunanya.

Bahaya Gempa dan Ketidakpastian yang Menyertainya

Gempa bumi memiliki karakteristik yang sangat tidak pasti. Besarnya kekuatan gempa, waktu terjadinya, frekuensi, lokasi, serta tingkat kerusakan yang ditimbulkan tidak pernah dapat diprediksi secara pasti. Meskipun ilmu kegempaan telah berkembang pesat dan mampu memetakan potensi bahaya gempa secara relatif berdasarkan lokasi geografis dan kondisi tanah, tetap terdapat ketidakpastian terkait kemungkinan terjadinya gempa yang lebih besar dari perkiraan.

Catatan sejarah kegempaan di Indonesia menunjukkan ribuan kejadian gempa signifikan yang menyebabkan kerugian besar, baik dari sisi korban jiwa, kerusakan infrastruktur, maupun dampak sosial dan ekonomi. Kondisi inilah yang mendorong perlunya pendekatan perancangan struktur yang tidak hanya kuat, tetapi juga tangguh dalam menghadapi ketidakpastian.

Faktor Eksternal dan Internal dalam Respons Struktur

Dalam menjelaskan bagaimana struktur merespons gempa, Prof. Muslinang menguraikan dua kelompok faktor utama. Faktor eksternal mencakup letak geografis bangunan terhadap sumber gempa, karakteristik perambatan gelombang gempa, serta kondisi tanah di lokasi bangunan. Perbedaan kondisi tanah, misalnya antara tanah keras dan tanah lunak, dapat menghasilkan respons struktur yang sangat berbeda meskipun bangunan berada pada lokasi yang sama.

Selain faktor eksternal, terdapat pula faktor internal yang berkaitan dengan karakteristik struktur itu sendiri. Tinggi bangunan, periode getar alami, sistem struktur, serta tingkat redaman yang dimiliki akan sangat memengaruhi besarnya gaya gempa yang masuk ke dalam struktur. Struktur yang lebih tinggi, misalnya, cenderung memiliki periode getar yang lebih panjang sehingga respons percepatan gempa yang dialami bisa lebih kecil.

Konsep Keamanan dan Faktor Keutamaan Bangunan

Tidak semua bangunan dirancang dengan tingkat keamanan yang sama. Dalam perancangan struktur tahan gempa, dikenal konsep faktor keutamaan bangunan yang membedakan tingkat perlindungan berdasarkan fungsi bangunan tersebut. Bangunan yang berfungsi sebagai fasilitas vital, seperti rumah sakit atau sekolah, harus dirancang dengan tingkat keamanan yang lebih tinggi dibandingkan bangunan dengan fungsi risiko rendah seperti gudang.

Konsep ini diwujudkan melalui pengalihan faktor pembebanan gempa yang lebih besar pada bangunan dengan tingkat risiko tinggi. Dengan demikian, perancangan struktur tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mempertimbangkan aspek sosial dan kemanusiaan.

Filosofi Perancangan: Mengendalikan Energi, Bukan Menahan Gaya

Salah satu gagasan kunci dalam orasi ini adalah perubahan fokus dari menahan gaya gempa sebesar-besarnya menjadi mengendalikan energi gempa yang masuk ke dalam struktur. Gempa menghasilkan energi yang sangat besar, dan upaya menahan energi tersebut sepenuhnya justru akan menghasilkan struktur yang sangat kaku dan boros material.

Pendekatan modern dalam perancangan tahan gempa adalah membiarkan struktur mengalami deformasi terkontrol agar energi gempa dapat diserap dan didisipasikan. Dengan kata lain, struktur dirancang untuk “mengalah” secara terencana, bukan runtuh secara tiba-tiba.

Daktalitas sebagai Kunci Ketangguhan Struktur

Konsep daktalitas menjadi fondasi utama dalam strategi perancangan struktur baja tahan gempa. Daktalitas adalah kemampuan material atau elemen struktur untuk mengalami deformasi inelastik yang besar tanpa kehilangan kekuatan secara signifikan. Material yang daktail mampu menyerap energi gempa melalui deformasi berulang tanpa mengalami kegagalan mendadak.

Dalam orasi ini, Prof. Muslinang menekankan bahwa material getas, meskipun memiliki kekuatan awal yang tinggi, sangat tidak diinginkan dalam perancangan tahan gempa karena kegagalannya bersifat tiba-tiba dan berbahaya. Sebaliknya, material dan sistem struktur yang daktail mampu memberikan peringatan melalui deformasi sebelum mengalami keruntuhan.

Reduksi Gaya Gempa dan Faktor Respons

Dalam perancangan struktur tahan gempa, gaya gempa rencana yang digunakan dalam perhitungan tidak merepresentasikan gaya gempa maksimum yang mungkin terjadi. Gaya tersebut direduksi dengan suatu faktor respons, yang mencerminkan kemampuan struktur untuk menyerap energi melalui perilaku daktail.

Reduksi ini bukan berarti meremehkan bahaya gempa, melainkan merupakan strategi sadar untuk memanfaatkan kapasitas deformasi struktur. Dengan demikian, struktur dirancang agar elemen tertentu mengalami leleh terlebih dahulu dan berfungsi sebagai “sekering” yang menyerap energi, sementara elemen lainnya tetap elastis dan menjaga stabilitas keseluruhan bangunan.

Perancangan Kerusakan yang Terencana

Inti dari konsep “kerusakan untuk mencapai ketangguhan” terletak pada perancangan kerusakan yang disengaja dan terkendali. Tidak semua elemen struktur diizinkan untuk rusak. Hanya elemen-elemen tertentu yang telah direncanakan sebagai elemen sekering yang boleh mengalami leleh dan deformasi besar.

Elemen non-sekering, seperti kolom utama, harus dirancang dengan kapasitas yang lebih besar agar tetap aman meskipun elemen sekering mengalami kerusakan. Pendekatan ini menuntut perencanaan yang cermat, termasuk detail sambungan yang sangat menentukan keberhasilan sistem struktur secara keseluruhan.

Detailing dan Sambungan sebagai Faktor Penentu

Dalam struktur baja tahan gempa, sambungan memegang peranan yang sangat krusial. Kegagalan sambungan dapat menyebabkan keruntuhan struktur meskipun elemen utama dirancang dengan baik. Oleh karena itu, detailing sambungan harus dirancang untuk mendukung terbentuknya perilaku daktail yang stabil.

Hanya jenis sambungan tertentu yang diperbolehkan dalam sistem struktur tahan gempa, dan validitasnya harus dibuktikan melalui penelitian atau pengujian eksperimental. Pendekatan ini memastikan bahwa perilaku struktur sesuai dengan asumsi desain ketika gempa besar terjadi.

Menuju Struktur Tangguh dan Mudah Dipulihkan

Perkembangan terbaru dalam perancangan tahan gempa tidak lagi berhenti pada konsep “tidak runtuh”, tetapi bergerak menuju konsep ketangguhan (resilience). Struktur tangguh dirancang agar elemen sekering yang rusak dapat dengan mudah diganti setelah gempa, sehingga bangunan dapat segera berfungsi kembali tanpa perlu pembongkaran total.

Pendekatan ini dinilai sangat relevan untuk Indonesia, mengingat frekuensi gempa yang tinggi dan keterbatasan sumber daya. Dengan biaya yang relatif lebih terjangkau, struktur tangguh berbasis kerusakan terkontrol menjadi solusi yang realistis dan berkelanjutan.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Muslinang Mustopo menegaskan bahwa kerusakan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari strategi perancangan struktur tahan gempa yang modern dan rasional. Dengan mengendalikan lokasi, mekanisme, dan tingkat kerusakan, struktur baja dapat dirancang untuk menyerap energi gempa secara efektif, melindungi jiwa manusia, dan tetap berdiri meskipun mengalami deformasi besar.

Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari sekadar kekuatan menuju ketangguhan, sebuah arah yang sangat penting bagi masa depan rekayasa struktur di wilayah rawan gempa seperti Indonesia.

Sumber

  1. Mustopo, R. Muslinang. Kerusakan untuk Mencapai Ketangguhan: Strategi Perancangan Struktur Baja Tahan Gempa.
    Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).
    url: https://www.youtube.com/watch?v=mdiv2IuPZtY

Selengkapnya
Kerusakan untuk Mencapai Ketangguhan: Strategi Perancangan Struktur Baja Tahan Gempa

Teknologi Infrastruktur

Transformasi Digital untuk Konstruksi Berkelanjutan: Kebijakan Menuju Smart Supply Chain Nasional

Dipublikasikan oleh Marioe Tri Wardhana pada 24 Oktober 2025


Mengapa Temuan Ini Penting untuk Kebijakan?

Studi dalam jurnal Sustainable Computing: Informatics and Systems (2025) menyoroti bahwa digitalisasi—terutama melalui Digital Twin, Artificial Intelligence (AI), dan Internet of Things (IoT)—telah menjadi kunci utama dalam mendorong efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan di sektor konstruksi.

Teknologi digital memungkinkan pemantauan siklus hidup proyek secara real-time, mulai dari perencanaan, pengadaan material, hingga perawatan infrastruktur. Pendekatan ini mengurangi pemborosan hingga 25% dan menekan emisi karbon konstruksi hingga 15%, menurut hasil riset yang tercantum dalam dokumen tersebut.

Bagi Indonesia, temuan ini penting karena sejalan dengan Rencana Induk Transformasi Digital Nasional dan target pengurangan emisi karbon sebesar 31,89% pada 2030. Integrasi smart supply chain juga relevan bagi lembaga seperti Kementerian PUPR dan BRIN dalam mendukung pengelolaan infrastruktur berbasis data.

Implementasi di Lapangan: Dampak, Hambatan, dan Peluang

Digitalisasi rantai pasok konstruksi di berbagai negara telah memberikan dampak signifikan:

  • Meningkatkan efisiensi distribusi material hingga 30%.

  • Mengurangi keterlambatan proyek melalui pemantauan data real-time.

  • Meningkatkan kolaborasi lintas sektor antara desainer, kontraktor, dan pemasok.

Namun, terdapat tiga hambatan utama dalam implementasinya di Indonesia:

  1. Kesenjangan infrastruktur digital. Masih banyak proyek konstruksi di daerah yang belum terkoneksi dengan sistem data terpusat.

  2. Keterbatasan SDM digital. Tenaga kerja konstruksi sebagian besar belum terlatih dalam penggunaan AI atau IoT.

  3. Kurangnya kebijakan data governance. Belum ada regulasi yang mengatur integrasi dan keamanan data proyek konstruksi antar instansi.

Meski demikian, peluang digitalisasi semakin terbuka berkat inisiatif pemerintah dalam smart city dan sistem e-procurement nasional. Program seperti Kursus Building Information Modeling (BIM) untuk Infrastruktur dapat menjadi pintu masuk untuk implementasi konstruksi cerdas di berbagai proyek strategis.

5 Rekomendasi Kebijakan Praktis

  1. Bentuk Kerangka Nasional Smart Construction dan Digital Supply Chain
    Pemerintah perlu menetapkan National Digital Construction Framework untuk mengintegrasikan data proyek, manajemen rantai pasok, dan pemantauan emisi dalam satu sistem.

  2. Perkuat Kapasitas SDM Konstruksi Digital
    Kolaborasi antara pemerintah, universitas, dan platform pelatihan perlu diperluas agar tenaga kerja memahami pengelolaan proyek berbasis data.

  3. Dorong Penggunaan Teknologi AI dan Digital Twin
    Implementasi AI untuk perencanaan prediktif dan simulasi Digital Twin wajib menjadi syarat dalam tender proyek besar, terutama di sektor publik.

  4. Bangun Pusat Data Nasional Konstruksi (Construction Data Hub)
    Fasilitas ini harus menampung seluruh data rantai pasok dan status infrastruktur untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy).

  5. Berikan Insentif Pajak untuk Adopsi Teknologi Hijau
    Kontraktor dan konsultan yang mengimplementasikan sistem digitalisasi efisien energi dan manajemen limbah cerdas dapat diberikan keringanan pajak atau prioritas tender proyek pemerintah.

Kritik terhadap Potensi Kegagalan Kebijakan

Kebijakan digitalisasi konstruksi berpotensi gagal bila tidak dibarengi dengan integrasi lintas sektor dan tata kelola data yang kuat.
Beberapa risiko yang mungkin muncul antara lain:

  • Ketimpangan digital antara kota besar dan daerah terpencil.

  • Implementasi sistem yang mahal tanpa pelatihan teknis berkelanjutan.

  • Data proyek yang terfragmentasi karena kurangnya standar interoperabilitas.

Selain itu, fokus kebijakan yang terlalu menekankan teknologi tanpa memperhatikan aspek sosial—seperti perlindungan tenaga kerja manual—dapat memperlebar kesenjangan ekonomi di sektor konstruksi. Oleh karena itu, pendekatan inklusif berbasis pelatihan dan kolaborasi menjadi kunci keberhasilan.

Penutup

Transformasi digital dalam industri konstruksi adalah kunci menuju efisiensi, transparansi, dan keberlanjutan. Dengan memanfaatkan AI, IoT, dan Digital Twin, Indonesia dapat mengubah sistem rantai pasok konvensional menjadi ekosistem smart supply chain yang adaptif dan ramah lingkungan.

Melalui kolaborasi kebijakan lintas lembaga dan penguatan kapasitas SDM, Indonesia berpeluang menjadi pelopor smart construction ecosystem di Asia Tenggara.

Sumber

Sustainable Computing: Informatics and Systems, 2025.

Selengkapnya
Transformasi Digital untuk Konstruksi Berkelanjutan: Kebijakan Menuju Smart Supply Chain Nasional

Teknologi Infrastruktur

Membaca Defisit Infrastruktur Indonesia dari Perspektif Developmentalist

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 23 Oktober 2025


Pendahuluan

Indonesia, sebagai negara berkembang dengan populasi yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang dinamis, kerap dihadapkan pada tantangan infrastruktur yang kompleks. Dalam artikel ilmiah berjudul "Analysing Indonesia’s Infrastructure Deficits from a Developmentalist Perspective" karya Kyunghoon Kim (2021), penulis mengupas kegagalan reformasi institusional pasca-krisis Asia 1997 dan menawarkan pendekatan alternatif melalui kacamata developmentalist.

Penelitian ini memberikan narasi baru bahwa kegagalan pembangunan infrastruktur di Indonesia bukan hanya akibat kelemahan tata kelola (good governance), melainkan juga akibat absennya kebijakan pembangunan yang proaktif.

 

Latar Belakang Historis: Dari Krisis ke Reformasi

Pasca-krisis moneter 1997–1998, Indonesia mengadopsi berbagai kebijakan reformasi institusional yang dikenal sebagai agenda good governance. Tujuannya adalah memperbaiki efisiensi investasi publik dan menarik investasi swasta. Namun, sebagaimana Kim tunjukkan, reformasi ini tidak berhasil sepenuhnya karena justru membuka ruang bagi para elit bisnis untuk menangkap institusi baru demi kepentingan pribadi. Korupsi masih merajalela, meskipun dalam bentuk dan jaringan yang lebih terdesentralisasi dibandingkan era Orde Baru.

 

Kelemahan Reformasi Institusional di Sektor Konstruksi

Reformasi di sektor konstruksi difokuskan pada tiga aspek utama: pendaftaran perusahaan, pengadaan publik, dan reformasi BUMN. Dalam implementasinya, ketiga aspek ini mengalami tantangan besar, terutama akibat lemahnya kapasitas institusi dan tingginya pengaruh kelompok kepentingan. Organisasi sektor seperti Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) sering disusupi kepentingan asosiasi bisnis yang menciptakan hambatan masuk baru dan praktik rente terselubung.

 

Paradoks Pertumbuhan Konstruksi vs. Defisit Infrastruktur

Menariknya, meski pertumbuhan sektor konstruksi meningkat dari 5% menjadi 10,1% dari PDB antara 2000 hingga 2014, investasi infrastruktur justru menurun dari 7,8% menjadi hanya 2,7% dari PDB. Hal ini menunjukkan bahwa lonjakan aktivitas konstruksi lebih banyak diarahkan ke sektor properti komersial dan residensial, bukan proyek infrastruktur publik seperti jalan tol, pelabuhan, atau jalur kereta api.

 

Kebangkitan Strategi Developmentalist di Era Jokowi

Dari pertengahan 2010-an, strategi pembangunan negara mulai bergeser dari pendekatan liberal ke pendekatan negara-intervensionis. Presiden Joko Widodo secara eksplisit mendorong peran aktif BUMN dalam proyek infrastruktur besar. Data menunjukkan, pada 2015 untuk pertama kalinya belanja modal pemerintah melampaui subsidi BBM, dan pada 2019, anggaran infrastruktur empat kali lipat dari subsidi energi. Contohnya, proyek-proyek besar seperti jalan tol Trans-Jawa, kereta cepat Jakarta–Bandung, dan pembangunan pelabuhan menjadi bukti konkret dari strategi ini.

 

Peran SOEs: Antara Agen Pembangunan dan Instrumen Pasar

Salah satu aspek menarik dalam artikel ini adalah sorotan terhadap peran BUMN. Di satu sisi, mereka digunakan sebagai alat negara untuk mendorong pembangunan infrastruktur, tapi di sisi lain juga diarahkan untuk mengejar profitabilitas melalui privatisasi parsial. Perusahaan seperti Waskita Karya dan Wijaya Karya mengalami lonjakan posisi di bursa saham Waskita naik dari peringkat 94 menjadi 16 antara 2014–2019. Namun, tekanan untuk menghasilkan laba membuat banyak BUMN enggan mengambil proyek berisiko tinggi, terutama di wilayah terluar.

 

Kritik terhadap Narasi ‘Good Governance’

Kim secara tajam mengkritik dominasi narasi good governance yang dianut lembaga keuangan internasional (IFIs). Menurutnya, narasi ini terlalu fokus pada institusi formal dan mengabaikan kenyataan bahwa reformasi sering kali ditunggangi oleh elite oligarki. Reformasi yang mestinya mendemokratisasi proses investasi publik justru melahirkan bentuk baru dari patronase dan rente. Kim juga menyoroti bahwa agenda reformasi ini terlalu berfokus pada liberalisasi pasar dan perluasan peran swasta, tanpa mempertimbangkan konteks Indonesia, di mana investasi swasta pada dasarnya masih memerlukan dukungan awal dari negara.

 

Studi Perbandingan: Asia Timur vs. Indonesia

Dalam membandingkan pengalaman Indonesia dengan negara-negara Asia Timur seperti China dan Korea Selatan, terlihat perbedaan mencolok. Di negara-negara tersebut, pemerintah memainkan peran langsung dalam mobilisasi sumber daya dan penguatan sektor konstruksi. Di China, misalnya, 7,6% kontraktor SOE menghasilkan 40% output konstruksi nasional pada 1994. Sementara itu, Indonesia justru menarik diri dari pembangunan dan menyerahkan peran tersebut pada pasar yang belum siap.

 

Opini dan Nilai Tambah

Resensi ini mendukung argumen Kim bahwa pendekatan developmentalist lebih cocok untuk negara seperti Indonesia. Dengan kebutuhan besar akan infrastruktur dasar dan lemahnya pasar domestik, ketergantungan pada investasi swasta akan selalu timpang tanpa dukungan negara. Namun, strategi negara-intervensionis juga bukan tanpa risiko. Lonjakan utang BUMN, inefisiensi proyek, dan potensi korupsi tetap menjadi perhatian. Di sinilah pentingnya membangun keseimbangan antara penguatan peran negara dan tata kelola yang transparan.

 

Kaitannya dengan Tren Industri Saat Ini

Dalam konteks global, tren menuju state capitalism mulai terlihat kembali, terutama pasca pandemi COVID-19. Negara-negara semakin menyadari pentingnya peran negara dalam pembangunan infrastruktur untuk pemulihan ekonomi. Strategi Indonesia yang mengedepankan peran BUMN dalam pembangunan dapat dianggap selaras dengan tren ini. Namun, untuk menjamin keberlanjutan, dibutuhkan reformasi kebijakan fiskal, pengawasan proyek, serta transparansi dalam pengadaan.

 

Kesimpulan

Artikel ini memberikan kontribusi penting dalam wacana pembangunan Indonesia. Alih-alih menyalahkan kegagalan pada reformasi institusional yang belum matang, Kim mengajak pembaca untuk mempertimbangkan kembali pentingnya kebijakan pembangunan yang aktif dan terencana. Melalui pendekatan developmentalist, pemerintah diharapkan tidak hanya menjadi wasit, tetapi juga pemain utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui pembangunan infrastruktur yang merata dan strategis.

 

Sumber
Kim, K. (2021). Analysing Indonesia’s Infrastructure Deficits from a Developmentalist Perspective. Competition & Change, Vol. 27(1), 115–142. DOI: 10.1177/10245294211043355

Selengkapnya
Membaca Defisit Infrastruktur Indonesia dari Perspektif Developmentalist
page 1 of 2 Next Last »