Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mengoperasikan proyek pabrik tanur tiup atau blast furnace pada Kuartal III-2022. Perusahaan telah mendapatkan solusi agar fasilitas atau pabrik yang tadinya mangkrak dapat kembali produktif. Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengungkapkan, sejatinya proyek blast furnace ini telah dirintis pada tahun 2008, namun baru memasuki masa konstruksi empat tahun setelahnya atau 2012.
"Jadi jauh sebelum saya bergabung di Krakatau Steel pada akhir tahun 2018," kata Silmy dalam keterangannya, Rabu (29/09/2021). Silmy mengaku Krakatau Steel sudah memiliki dua calon mitra strategis. Bahkan satu calon sudah menandatangani Memorandum of Agreement (MoA).
Silmy memastikan Krakatau Steel terus melakukan pembenahan di seluruh lini dan aktivitas usaha, terutama akumulasi utang perusahaan yang mencapai sebesar Rp 31 triliun. Tren meningkatnya utang perusahaan dimulai pada tahun 2011 sampai dengan 2018 yang disebabkan beberapa hal. Salah satunya adalah pengeluaran investasi yang meleset dari rencana. Meski demikian, Silmy menyebutkan, manajemen baru Krakatau Steel telah berhasil melakukan restrukturisasi utang pada Januari 2020 sehingga beban cicilan dan bunga menjadi lebih ringan guna memperbaiki kinerja keuangan.
Semua upaya yang dilakukan juga telah didukung dengan manajemen yang bebas korupsi di mana Krakatau Steel sudah menerapkan ISO 37001:2016 sejak bulan Agustus 2020. Hal itu sebagai upaya pencegahan dan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) karena merupakan standar internasional yang dapat digunakan semua yurisdiksi serta dapat diintegrasikan dengan sistem manajemen yang sudah dimiliki Krakatau Steel saat ini. “Kaitan adanya indikasi penyimpangan atau korupsi di masa lalu tentu menjadi perhatian manajemen. Fokus saya ketika bergabung adalah mencarikan solusi dan melihat ke depan agar Krakatau Steel bisa selamat terlebih dahulu,” tegasnya.
Untuk diketahui, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir sempat menyinggung proyek mangkrak blast furnace yang menyebabkan kerugian PT Krakatau Steel (Persero) Tbk mencapai 850 juta dolar AS atau sekitar Rp 13,17 triliun. Erick menegaskan bahwa dirinya akan terus mengejar pihak-pihak yang telah merugikan perusahaan negara tersebut. "Ini tidak bagus, ini akan kita kejar siapa pun yang merugikan, ini bukannya kita ingin menyalahkan siapa-siapa, tapi penegakan hukum, bisnis proses yang salah harus diperbaiki," kata Erick dalam diskusi virtual, Selasa (28/9/2021).
Sumber: www.kompas.com
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com – Bagaimana prospek industri baja nasional dan apa saja upaya Pemerintah untuk mewujudkan kemandirian industri baja nasional di masa depan? Pertanyaan tersebut penting direnungi, apalagi dengan adanya perspektif bahwa industri baja nasional yang mandiri diharapkan mampu mendukung tumbuhnya ekonomi nasional. Dengan menggunakan metode Three Circular Economy sebagai pisau analisa, sejumlah pihak optimis tujuan itu dapat segera terwujud.
Three Circular Economy adalah sebuah analisa umum antara peningkatan produksi dalam negeri, konsumsi produk dalam negeri, penurunan impor serta adanya investasi, yang pada akhirnya akan meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi nasional. Direktur Logam Ditjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Budi Susanto menyampaikan penjelasan terkait hal ini. Budi Susanto mengungkapkan, Kemenperin sudah memiliki rencana induk pengembangan industri besi dan baja nasional. Rencana itu dibuat dari tahun 2015 sampai tahun 2035. Khusus untuk rencana tahun 2020-2024, target kapasitas produksi baja nasional di akhir tahun 2024 adalah sebesar 17 juta ton.
“Di bulan ke 4 tahun 2021 ini sudah mencapai 11,7 ton. Ini juga kalau dilihat dari targetnya (2021) ini 11,9 juta ton. Jadi kita sekarang masih kekurangan 0,2 juta ton,” ujarnya dikutip dalam keterangan resmi pada Sabtu (9/10/2021).
Ia berharap, beroperasinya fasilitas Light Section Mill (LSM) dari Gunung Rajapaksi bisa menopang pemenuhan target kapasitas produksi baja nasional. “Kemudian Cilegon karena kita sudah sebut sebagai kota baja kita juga canangkan ada cluster 10 juta ton. Ini merupakan bagian dari yang 17 juta ton. Nah ini di tahun 2019 sampai 2022 ini juga sudah ditetapkan sebesar 6,9 juta ton. Dan ini mudah-mudahan juga bisa terpenuhi,” terang Budi. Menurut data dari Badan Pusat Statistik pada 5 Agustus lalu, sektor konstruksi yang membutuhkan banyak baja dan besi sebagai material konstruksi kini tumbuh 4,42 persen. Pertumbuhan ini terjadi karena adanya realisasi belanja pemerintah untuk konstruksi yang mengalami kenaikan sebesar 50,52 persen.
Kemudian kebijakan diskon PPnBM untuk otomotif juga mendorong pemakaian baja yang pada akhirnya meningkatkan impor besi dan baja. Sementara itu, pelaku usaha sektor industri baja khususnya baja ringan Stephanus Koeswandi mengatakan, ekonomi nasional bisa meningkat jika ada beberapa faktor pendukung seperti investasi, konsumsi, ekspor/impor dan kemajuan teknologi. “Yang kami pelajari, dari sini ekonomi nasional bisa meningkat kalau ada investasi, adanya konsumsi, dan juga ekspor-impor. Kemudian yang terakhir percaya teknologi,” terang Vice Presiden Tatalogam Group itu.
Ia menambahkan, ada 5 strategi yang bisa dilakukan guna mencapai kemandirian industri baja nasional. Yang pertama adalah dengan menegakkan standar yang tegas dan wajib, khususnya untuk SNI dan meningkatkan TKDN.
Sumber: money.kompas.com
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 27 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan program hilirisasi baja dengan meluncurkan produk hilir baja ringan terbaru yaitu floordeck (bondek). Pengembangan produk baja hilir ini bekerja sama dengan mitra strategis yaitu PT Tumbakmas Inti Mulia dalam memproduksi floordeck. “Floordeck Krakatau Steel adalah salah satu produk hilirisasi yang bertujuan untuk meningkatkan penyerapan produk CRC Krakatau Steel sehingga akan membatu peningkatan volume penjualan, serta meningkatkan utilitisasi pabrikan dalam negeri,” jelas Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim dalama keterangan resmi, Kamis (27/5/2021).
Material floordeck ini menggunakan Hot Dip Galvanized Steel, sesuai dengan standar SNI 07-2053-2006 Baja Lembaran Lapis Seng (BjLS), dimana bahan baku pembuatan produk ini menggunakan produk baja Cold Rolled Coil/CRC dari Krakatau Steel. Fungsi dari produk baja hilir Floordeck ini adalah sebagai bahan penyangga pada lantai cor dan juga memperkuat lapisan cor.
Adapun segmen pasar yang dituju oleh PTKS adalah segmen proyek, khususnya untuk infrastruktur dan bangunan serta juga segmen retail. Keunggulan dari produk ini di antaranya pemasangan mudah dan cepat, mudah dipindahkan dan ringan, biaya yang relatif lebih ekonomis, serta berat dak yang lebih ringan karena mengurangi penggunaan beton. Saat ini Krakatau Steel telah meluncurkan delapan Produk hilirisasi yang terdiri dari welded beam, kanal C, reng asimetris, plat talang, customized plate, tower, electric pole, baja hollow, atap baja ringan, dan rangka atap baja ringan.
“Kebutuhan produk baja hilir yang cukup tinggi di pasaran membuat Krakatau Steel ingin meningkatkan peluang memenuhi kebutuhan produk baja hilir di Indonesia. Produk hilir ini akan menjadi sarana baru bagi Krakatau Steel dengan mitranya dengan konsep sharing economy dan prinsip saling menguntungkan untuk melakukan penetrasi pasar dalam negeri. Ke depan akan ada dua produk baja hilir lainnya yang ditargetkan akan diluncurkan pada 2021 ini,” tutup Silmy.
Sumber: money.kompas.com
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 26 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menargetkan pertumbuhan volume ekspor sekitar 15 persen di tahun 2021. Optimisme tersebut hadir seiring dengan pencapaian positif yang diraih KRAS pada kuartal I-2021. Asal tahu saja, permintaan ekspor KRAS sejak awal 2021 sudah meningkat signifikan. Saat ini, KRAS diketahui telah mendapatkan order ekspor sampai dengan kuartal ketiga mendatang. Direktur Utama KRAS Silmy Karim mengungkapkan, sejak tahun lalu sebenarnya tren ekspor perusahaan telah menunjukkan respon yang cukup positif.
Hal ini kemudian berlanjut hingga awal tahun 2021, di mana realisasi ekspor di kuartal pertama ini jauh lebih tinggi dari target yang telah ditetapkan oleh manajemen sebelumnya. "Untuk ekspor 2020 kinerja nya baik, kemudian tumbuh signifikan di tahun 2021. Realisasi di kuartal I-2021 sekitar 77.000 ton, lebih tinggi 198 persen dari target kami yang sebesar 38,700 ton untuk kuartal pertama," jelas dia saat dihubungi Kontan.co.id, Senin (26/4/2021) lalu. Silmy menambahkan, target volume ekspor yang ingin dicapai KRAS di tahun ini sebanyak 157.000 ton atau sekitar 6,65 persen dari total pendapatan.
Dengan rinciain, 155.000 ton berasal dari baja lembaran panas dan 2.000 ton sisanya dari pipa baja. "Ini lebih tinggi 15 persen dari realisasi tahun 2020 sekitar 135.000 ton," ujarnya. Dengan target yang telah ditetapkannya, Silmy optimistis proyeksi ekspor KRAS di tahun 2021 akan lebih baik dari realisasi di tahun lalu. Lantaran, masih banyak negara-negara pengekspor lain yang kondisinya belum kembali normal dari dampak pandemi korona beberapa waktu lalu. Di sisi lain, KRAS juga memiliki rencana untuk memperluas tujuan ekspor mereka di tahun ini. Pabrik Hot Strip Mill (HSM) No. 2 yang tengah dalam tahap penyelesaian. Pabrik tersebut diproyeksikan akan meningkatkan produksi perusahaan sekitar 1,5 juta ton per tahun. Ini bakal semakin membuka lebar kesempatan KRAS untuk menggaet target pasar baru. "Rencana dalam waktu dekat adalah pasar India," sebut Silmy.
Hingga saat ini, KRAS telah memasarkan produknya ke berbagai negara tujuan ekspor, seperti Malaysia, Australia, Portugal, Italia, Spanyol, Belgia, Swiss dan negara Eropa barat lain. Namun demikian, Malaysia masih menjadi penopang ekspor KRAS dengan kontribusi sekitar 74 persen dari total volume ekspor. "Tradisional market kami saat ini untuk ekspor masih ke negara Malaysia, sekitar 57.000 ton pada kuartal pertama atau sekitar 74 persen dari volume ekspor di periode tersebut. Targetnya 70 persen Malaysia, 28 persen Eropa dan 2 persen ke Australia," pungkas Silmy.
Sumber: money.kompas.com
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 26 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - Industri manufaktur yang menopang pembangunan atau konstruksi rumah atau hunian salah satunya adalah produksi baja lapis aluminium. Industri produk tersebut diharapkan terus menerapkan konsep industri hijau. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) pun terus mendorong sektor industri manufaktur melakukan transformasi ke arah pembangunan berkelanjutan. Salah satu langkahnya melalui pelaksanaan konsep industri hijau, dengan prinsip menggunakan sumber daya yang efisien, dapat diguna ulang, ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta memanfaatkan sampah sebagai energi alternatif.
"Sejak 2010, Kemenperin telah memberikan penghargaan industri hijau kepada para pelaku industri di Tanah Air,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangan tertulis, Senin (26/4/2021). Menanggapi hal itu, pelaku industri di sektor baja, Lian Hoa, General Manager PT Tata Metal Lestari mengatakan, upaya pemerintah ke arah pembangunan berkelanjutan merupakan langkah yang patut didukung semua pihak. Menurut Lian, industri hijau adalah industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan sehingga mampu menyelaraskan pembangunan industri dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup serta dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Dia berujar, lingkup pembangunan industri hijau ini meliputi standarisasi industri hijau dan pemberian fasilitas untuk industri hijau.
"Penerapan industri hijau ini dilaksanakan dengan pemenuhan terhadap Standar Industri Hijau (SIH) yang secara bertahap dapat diberlakukan secara wajib. Pemenuhan terhadap Standar Industri Hijau oleh perusahaan industri dibuktikan dengan diterbitkannya sertifikat industri hijau atau Green Label (GL) yang sertifikasinya dilakukan melalui suatu rangkaian proses pemeriksaan dan pengujian oleh Lembaga Sertifikasi Industri Hijau (LSIH) yang terakreditasi," terang Lian.
Adapun salah satu produk Tata Metal Lestari, yakni Nexalume, sudah mendapatkan Green Label. Lian mengatakan, sebelum Nexalume mendapat sertifikat Green Label level Gold, perseroan juga menjalani proses pemeriksaan dan pengujian yang dilaksanakan oleh auditor industri hijau dari Green Label Indonesia yang telah mengantongi sertifikasi kompetensi auditor industri hijau.
"Jadi semuanya diaudit, mulai dari teknologi, pekerja, bahan baku, sampai limbahnya. Untuk bahan baku, kita juga bekerja sama dengan perusahaan Rio Tinto yang mensupply material Aluminium yang juga sustainable tentunya. Jadi dicek semua sesuai baku standar dalam parameter penerapan kriteria ramah lingkungan yang ada di cek list auditing di Green Label Indonesia," ujar Lian.
Ia menerangkan, Rio Tinto juga telah memilih PT Tata Metal Lestari sebagai salah satu konsumen yang diberikan Label Responsible Aluminium sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap industri yang berkesinambungan. Lian melanjutkan, dengan sertifikat Green Label ini, maka tercipta produk lokal yang berkelanjutan menurut lingkungan kondisi Indonesia (Go environment). Pun demikian, produk yang sudah memiliki green label sertifikat di Indonesia juga diakui di luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan telah diekspornya Nexalume ke berbagai belahan dunia. "Ada Green label Indonesia, Singapura, Hong Kong, Australia dan China, kita (Indonesia) sudah bergabung dalam Global Ecolabelling Network (GEN). Jadi Apabila produk tersebut sudah ada label GL di salah satu negara maka ada istilah yang namanya Mutual Recognition Agreement. Artinya antar negara lain mengakui label yang ditempelkan di produk tersebut," sebutannya
Tata Metal Lestari merupakan produsen baja lapis Zinc Aluminium dengan merek dagang Nexalume. Corporate Colour pun terinspirasi dari warna biru yang mewakili Langit dan warna hijau yang melambangkan bumi. Perseroan menyatakan juga terus berkomitmen untuk mendukung industri baja yang berkelanjutan dalam rangka pemulihan ekonomi yang mengusung industri ramah lingkungan.
Sumber: www.kompas.com
Perindustrian
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 26 Februari 2025
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengklaim kehadiran 3 perusahaan di industri smelter bijih nikel mampu mengurangi angka kemiskinan. Ketiga perusahaan tersebut yakni PT Gunbuster Nickel Industry (GNI), PT Obsidian Stainless Steel, dan PT Virtue Dragon Nickel Industry.
Hal itu ia sampaikan saat mendampingi Presiden Joko Widodo dalam rangka peresmian pabrik smelter bijih nikel PT GNI di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, pada Senin (27/12/2021). "Hal ini membuktikan adanya kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan masyarakat guna membawa kemajuan bersama, termasuk tumbuhnya wirausaha di lingkungan pabrik serta dapat meningkatkan infrastruktur sosial yang dibutuhkan masyarakat," kata dia melalui siaran persnya, Rabu (29/12/2021).
Agus menyebut, total investasi dari ketiga industri smelter tersebut mencapai 8 miliar dollar AS. Adapun target penyerapan tenaga kerja sebanyak 27.000 orang. Menperin mengatakan perusahaan yang beroperasi sudah mampu menyumbang penerimaan negara berupa pajak sebesar Rp 1,03 triliun sejak tahun 2019 hingga 2021. "PT GNI, PT Obsidian Stainless Steel, PT Virtue Dragon Nickel Industry, merupakan satu grup yang telah dan akan menjadi bagian dari rencana besar pemerintah Indonesia untuk mendorong hilirisasi industri dalam peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri," kata dia.
Secara keseluruhan, nilai realisasi investasi pabrik smelter nikel yang ada di Indonesia sampai saat ini sudah menembus 15,7 miliar dollar AS. Selanjutnya, ekspor produk feronikel setiap tahunnya mengalami peningkatan. Hal ini dinilai memberikan dampak positif terhadap penambahan devisa. "Pada tahun 2020, ekspor feronikel mencapai 4,7 miliar dollar AS, dan pada periode Januari hingga Oktober 2021 tercatat sebesar 5,6 miliar dollar AS," ucap Menperin.
Merujuk data World Top Export, Indonesia menempati peringkat ke-1 di dunia sebagai negara pengekspor produk berbasis nikel (stainless steel slab, stainless billet dan stainless steel coil), dengan total ekspor senilai 1,63 miliar dollar AS pada tahun 2020. Lebih lanjut Agus mengatakan keberhasilan dari kebijakan hilirisasi industri berkontribusi pada peningkatan serapan jumlah tenaga kerja. Selain itu, berkembangnya industri smelter di dalam negeri dinilai memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional dan wilayah setempat yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. "Sebagai ilustrasi, kalau biasanya Kabupaten Konawe ini pertumbuhan ekonominya sekitar 5 persen sampai 6 persen sebelum ada investasi datang, selama dua tahun terakhir ini pertumbuhannya sudah di angka belasan persen," ucapnya.
Sumber: money.kompas.com