Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026
1. Pendahuluan
Di dunia farmasi, kesalahan kecil bukan sekadar “kekeliruan teknis”. Ia bisa berubah menjadi keputusan terapi yang salah. Dan ketika keputusan terapi salah, dampaknya bisa lebih luas dari sekadar satu pasien—ia bisa merusak kepercayaan publik terhadap obat itu sendiri.
Orasi ilmiah Prof. Sophi Damayanti dibangun dari perspektif yang sangat praktis: mutu obat bukan hanya urusan produksi, tetapi urusan analisis yang memastikan apa yang tertulis pada kemasan benar-benar sesuai dengan isi obat.
Prof. Sophi membawa pembaca masuk lewat prinsip klasik yang ternyata sangat relevan hingga hari ini: tidak ada aktivitas tanpa keterikatan. Prinsip ini biasa digunakan untuk menjelaskan bagaimana obat bekerja, karena obat harus berinteraksi dengan target di dalam tubuh agar bisa menimbulkan efek terapeutik.
Tetapi Prof. Sophi memperluasnya secara elegan: prinsip “keterikatan” ini juga berlaku dalam proses penjaminan dan pengawasan mutu obat. Tanpa keterikatan yang tepat antara molekul target dan sistem analisis, hasil pengukuran bisa bias, bahkan bisa salah.
Dan di titik itu, analisis farmasi menjadi garis pertahanan penting.
Prof. Sophi menjelaskan bahwa analisis farmasi membahas dua hal utama:
analisis kualitatif: memastikan obat apa yang terkandung di dalam sampel
analisis kuantitatif: memastikan berapa kadarnya (misalnya 600 mg)
Kelihatannya sederhana, tapi dalam praktiknya tidak.
Masalahnya adalah sampel farmasi jarang “bersih”. Tablet mengandung banyak eksipien. Sirup punya pelarut, perisa, dan bahan tambahan. Bahkan matriks biologi seperti darah jauh lebih kompleks lagi karena komponen di dalamnya sangat banyak dan bisa mengganggu pengukuran.
Di sinilah muncul ancaman yang sering tidak disadari di luar laboratorium: matriks dapat menyebabkan kesalahan analisis. Dan jika kesalahan analisis terjadi, hasilnya bisa dua ekstrem yang sama-sama berbahaya:
negatif palsu: senyawa target ada, tetapi tidak terdeteksi
positif palsu: sistem membaca seolah target ada, padahal tidak
Prof. Sophi bahkan menyampaikan analogi yang tajam: obat palsu lebih berbahaya daripada status palsu. Kalimat ini sebenarnya menegaskan satu hal: mutu obat adalah urusan hidup, bukan urusan administratif.
Karena itu, orasi ini menempatkan metode pemisahan sebagai kunci untuk menghindari kesalahan analisis. Dan inovasi yang ditawarkan Prof. Sophi berpusat pada satu ide besar: selektivitas. Selektivitas inilah yang kemudian dijawab lewat teknologi polimer tercetak molekul atau Molecularly Imprinted Polymer (MIP).
2. MIP dan Selektivitas: Membuat “Rongga Cetakan” yang Hanya Mau Menangkap Target yang Benar
Bagian paling kuat dari orasi Prof. Sophi Damayanti adalah ketika ia menjelaskan MIP dengan cara yang terasa mudah dibayangkan.
MIP adalah polimer yang dibuat seperti memiliki “cetakan molekul”. Artinya, polimer ini disintesis agar punya rongga atau situs ikatan yang bentuk dan karakteristiknya sesuai dengan molekul target. Ketika sampel kompleks masuk, MIP akan cenderung menangkap target yang sesuai, dan mengabaikan molekul lain yang mirip tapi tidak tepat.
Secara konsep, proses pembuatannya dimulai dari komponen utama:
molekul cetakan (template), yaitu obat yang akan dianalisis
monomer fungsional
pengikat silang (crosslinker)
pelarut (porogen)
Prof. Sophi menjelaskan logika prosesnya dengan urutan yang jelas:
template (obat target) dicampurkan dengan monomer fungsional dan crosslinker
proses polimerisasi membentuk struktur polimer dengan “cetakan” yang mengikuti template
template dilepaskan sehingga terbentuk rongga yang sesuai
ketika digunakan untuk analisis, molekul target akan “terperangkap” pada rongga tersebut
Dalam orasi, analoginya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari: seperti cetakan kue. Kalau kita punya cetakan bandros berbentuk tertentu, maka adonan yang masuk akan cenderung mengikuti bentuk itu dan tidak akan berubah menjadi bentuk lain.
Analogi ini penting karena memperjelas esensi MIP: sistem ini bekerja karena bentuk dan interaksi kimia yang spesifik, bukan karena kebetulan.
Di level analisis, MIP menjadi alat untuk meningkatkan selektivitas pemisahan. Ini berarti dua keuntungan besar:
mengurangi gangguan matriks
menurunkan risiko hasil pengukuran yang menyesatkan
Namun Prof. Sophi juga menekankan bahwa inovasi MIP tidak hanya soal sintesis polimer. Proses memilih monomer fungsional terbaik juga menjadi pekerjaan besar, karena jika monomernya salah, rongga yang terbentuk tidak optimal dan selektivitas turun.
Di sinilah komputasi masuk.
Prof. Sophi menjelaskan bahwa penggunaan in silico (komputasi/AI) dilakukan untuk screening dan penapisan, agar jumlah eksperimen laboratorium bisa dikurangi, walaupun komputasi tidak menggantikan eksperimen basah.
Gagasan ini sangat penting dalam riset modern. Karena biaya dan waktu penelitian bisa ditekan jika kita tidak mencoba semua opsi secara manual. Komputasi membantu memilih kandidat terbaik dulu, baru diuji di lab.
Orasi juga menyebut bahwa pengakuan terhadap komputasi semakin kuat secara global, salah satunya ditunjukkan lewat Nobel Kimia untuk komputasi pada 2013 dan Nobel 2024 terkait desain komputasi serta prediksi struktur protein.
Bagi pembaca mahasiswa dan pekerja, ini memberi pesan yang jelas: analisis farmasi modern bukan lagi hanya urusan alat, tetapi urusan strategi berbasis data, selektivitas, dan efisiensi.
3. Studi Kasus MIP pada Sampel Kompleks: Dari Plasma Darah sampai Analisis Simultan yang Lebih Realistis
Kalau MIP hanya dibahas sebagai konsep “polimer yang punya rongga cetakan”, orang bisa menganggapnya sekadar ide menarik. Tetapi orasi Prof. Sophi Damayanti justru menunjukkan bahwa kekuatan MIP ada pada konteks paling sulit: sampel nyata yang kompleks, terutama matriks biologis seperti plasma darah.
Plasma darah bukan medium yang sederhana. Ia mengandung protein, lipid, metabolit, dan berbagai molekul kecil lain yang bisa “mengganggu” proses analisis. Dalam kondisi seperti ini, metode analisis yang tidak selektif akan mudah menghasilkan data menyesatkan.
Orasi ini menekankan bahwa matriks bisa menyebabkan negatif palsu atau positif palsu. Maka, kebutuhan akan selektivitas bukan lagi opsional, tetapi kebutuhan dasar agar hasil analisis layak dipakai.
Di sinilah MIP menjadi solusi karena mampu bekerja seperti “penjaga pintu” yang menahan target dan menolak pengganggu.
Prof. Sophi memaparkan beberapa studi kasus yang memperlihatkan bagaimana MIP digunakan untuk kebutuhan yang berbeda-beda:
3.1 Sofosbuvir: MIP untuk memperkuat akurasi analisis obat di matriks biologis
Sofosbuvir adalah salah satu obat antivirus yang relevan untuk terapi hepatitis C. Dalam konteks analisis farmasi, sofosbuvir perlu dideteksi dengan akurat karena berhubungan dengan dosis, kepatuhan terapi, dan kualitas obat.
Ketika sampel berada dalam matriks plasma darah, tantangannya bertambah. Karena itu, orasi menunjukkan bagaimana MIP digunakan sebagai bagian dari tahap pemisahan agar analisis menjadi lebih selektif.
Di sini pesan pentingnya adalah: MIP bukan menggantikan instrumen analitik utama, tetapi menguatkan tahap pemisahan sehingga instrumen tidak “dibanjiri gangguan”.
3.2 Triazol analisis simultan: ketika dunia nyata menuntut efisiensi, bukan satu target per satu eksperimen
Dalam praktik analisis mutu dan monitoring, sering kali kita tidak hanya perlu mendeteksi satu senyawa. Kita perlu analisis simultan.
Orasi Prof. Sophi menyinggung penggunaan MIP untuk analisis simultan pada kelompok triazol.
Analisis simultan ini penting karena laboratorium tidak selalu punya kemewahan waktu dan biaya untuk melakukan pengujian terpisah untuk tiap senyawa.
Kalau dibaca secara analitis, ini menunjukkan arah masa depan analisis farmasi:
bukan hanya akurat
tetapi juga cepat
dan mampu menangani multi-target dalam satu sistem uji
MIP dalam konteks ini menjadi alat selektivitas yang membantu menyaring target dari matriks, sehingga analisis multi-senyawa tetap stabil.
3.3 Enoksaparin: ketika target bukan molekul kecil sederhana, tapi struktur yang lebih kompleks
Orasi juga menyebut enoksaparin sebagai salah satu contoh yang relevan.
Enoksaparin bukan molekul kecil sederhana, tetapi obat dengan karakteristik struktur yang lebih kompleks.
Di titik ini, MIP diuji secara konseptual: apakah rongga cetakan bisa tetap selektif pada target yang tidak sesederhana “molekul kecil ideal”?
Studi seperti ini memperlihatkan bahwa inovasi MIP bukan hanya bermain di satu jenis obat, tetapi bisa diperluas sesuai kebutuhan.
Dan semua studi ini mengarah ke satu kesimpulan kecil yang terasa penting: MIP adalah strategi desain selektivitas, bukan sekadar bahan.
Karena yang dicari bukan “polimer yang unik”, tetapi pemisahan yang tidak salah baca.
4. Dari Docking sampai Zebrafish: Ketika Penemuan Obat Menjadi Kombinasi Komputasi dan Uji Biologis
Bagian yang membuat orasi Prof. Sophi Damayanti terasa modern adalah cara ia menyatukan dua dunia yang sering dipisahkan dalam pendidikan: dunia komputasi dan dunia biologi eksperimental.
Selama ini, banyak mahasiswa melihat komputasi sebagai “alat bantu”, sementara eksperimen sebagai “kebenaran utama”. Orasi ini tidak menempatkan keduanya secara hierarkis, tetapi menempatkan keduanya sebagai pasangan kerja.
Prof. Sophi menekankan bahwa penggunaan in silico dilakukan untuk screening dan penapisan sehingga eksperimen laboratorium bisa berkurang, tetapi tidak menggantikan eksperimen basah.
Logikanya sangat relevan dalam riset obat modern:
opsi kandidat terlalu banyak untuk diuji semuanya
biaya dan waktu eksperimen terlalu mahal
maka komputasi dipakai untuk menyaring kandidat terbaik
setelah itu, kandidat paling menjanjikan diuji secara biologis
Orasi juga menegaskan bahwa validasi global terhadap komputasi semakin kuat, salah satunya lewat penghargaan Nobel yang berkaitan dengan komputasi (2013) dan pendekatan desain komputasi serta prediksi struktur protein (2024).
Bagi pembaca, ini bukan sekadar trivia Nobel. Ini sinyal bahwa metode komputasi bukan lagi “metode tambahan”, tetapi menjadi tulang punggung banyak pengembangan obat modern.
4.1 Docking dan seleksi kandidat: mengurangi eksperimen yang tidak perlu
Dalam konteks MIP, komputasi membantu memilih monomer fungsional yang paling cocok untuk template tertentu. Tetapi di konteks pengembangan obat, komputasi bergerak lebih jauh: ia membantu memperkirakan interaksi kandidat senyawa dengan target biologis.
Docking, misalnya, dipakai untuk memprediksi apakah senyawa punya kemungkinan berikatan dengan target tertentu dan seberapa stabil ikatannya. Artinya, sebelum senyawa diuji di organisme hidup, kita sudah punya petunjuk awal tentang potensinya.
Ini membuat proses riset menjadi lebih hemat dan lebih logis. Bukan karena peneliti ingin “mengurangi kerja lab”, tetapi karena peneliti ingin mengurangi percobaan yang peluang gagal sejak awal.
4.2 Uji biologis: membuktikan bahwa interaksi komputasi punya efek nyata
Komputasi memberi prediksi. Tetapi obat tidak bekerja di ruang hampa. Obat bekerja dalam sistem biologis yang rumit.
Karena itu orasi ini menekankan perlunya uji biologis. Salah satu pendekatan yang dipaparkan adalah penggunaan model zebrafish.
Pemilihan zebrafish memiliki nilai strategis dalam riset biomedis karena ia memungkinkan pengamatan efek biologis secara lebih terstruktur dan relatif efisien dibanding uji pada mamalia dalam tahap tertentu.
Bagian ini memberi pesan bahwa dalam penemuan obat, “efek” lebih penting daripada “struktur”. Senyawa yang tampak bagus di docking bisa saja gagal karena toksisitas, bioavailabilitas rendah, atau efek samping yang tidak terduga.
Maka, pola kerja komputasi + uji biologis bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan metodologi.
4.3 Antivirus hepatitis C: contoh bagaimana riset obat bergerak lintas metode
Orasi Prof. Sophi juga mengaitkan ini dengan riset pengembangan senyawa antivirus yang relevan dengan hepatitis C, sejalan dengan contoh sofosbuvir yang disebut pada bagian studi kasus.
Jika dibaca secara utuh, orasi ini sebenarnya sedang menunjukkan “pola baru” inovasi farmasi:
masalahnya nyata: mutu obat harus benar dan terukur
analisis butuh selektivitas: MIP membantu pemisahan target
pengembangan metode butuh efisiensi: komputasi membantu menyaring opsi
validasi tetap wajib: uji biologis membuktikan efek nyata
Bagi mahasiswa, ini menggambarkan bahwa farmasi masa depan bukan hanya formulasi obat, tetapi juga sistem yang memastikan obat itu terukur, selektif, dan dapat diprediksi secara lebih cepat.
Bagi pekerja, khususnya di industri farmasi dan laboratorium QC, orasi ini menunjukkan bahwa analisis mutu tidak bisa hanya bergantung pada SOP lama. Kompleksitas matriks dan risiko kesalahan analisis menuntut pendekatan pemisahan yang lebih selektif dan strategi pengembangan metode yang lebih cerdas.
5. Dampak Praktis MIP bagi Industri Farmasi: Mengurangi Risiko Salah Ukur, Menghemat Waktu, dan Menjaga Kepercayaan pada Obat
Kalau bagian sebelumnya menunjukkan bahwa MIP dapat dipakai pada sampel kompleks seperti plasma darah, maka implikasi besarnya adalah ini: MIP bukan sekadar inovasi akademik, tetapi punya peran nyata dalam kerja harian industri farmasi, terutama di quality control (QC) dan pengawasan mutu.
Di luar laboratorium, mutu obat punya satu tuntutan yang tidak bisa ditawar: konsistensi.
Obat yang sama harus menghasilkan kandungan yang sama, stabilitas yang sama, dan profil kualitas yang sama, tidak peduli diproduksi batch pagi atau batch malam. Dan ketika mutu tidak konsisten, dampaknya tidak berhenti pada angka, tetapi bisa menyentuh aspek terapi dan keselamatan pasien.
Orasi Prof. Sophi Damayanti menegaskan bahwa analisis farmasi terdiri dari analisis kualitatif dan kuantitatif. Ini berarti QC tidak hanya memeriksa “ada atau tidak ada”, tetapi juga memeriksa “berapa jumlahnya”.
Masalahnya, analisis tidak dilakukan pada sampel ideal, tetapi pada sampel yang penuh “gangguan”. Tablet punya eksipien. Sediaan cair punya banyak bahan tambahan. Sampel biologis seperti darah punya matriks yang lebih kompleks lagi.
Di titik ini, risiko salah ukur menjadi sangat relevan. Orasi ini menekankan konsekuensi matriks yang dapat menyebabkan negatif palsu atau positif palsu.
Jika dikaitkan dengan dunia QC, kesalahan ini bisa punya dua dampak yang sama-sama berbahaya:
obat sebenarnya memenuhi standar, tetapi dianggap gagal → terjadi pemborosan batch, rugi ekonomi, dan gangguan distribusi
obat sebenarnya tidak memenuhi standar, tetapi lolos QC → risiko terapi salah, risiko efek samping, bahkan krisis kepercayaan publik
MIP hadir untuk mengurangi risiko ini lewat selektivitas.
5.1 MIP sebagai “pemisah yang cerdas”: selektivitas mengurangi gangguan matriks
MIP bekerja dengan konsep rongga cetakan yang meniru template target, sehingga lebih selektif terhadap senyawa yang ingin ditangkap.
Dalam bahasa QC, ini berarti tahap pemisahan menjadi lebih tajam: target lebih mudah diperkaya, sementara pengganggu lebih mudah dieliminasi.
Di sinilah MIP memberikan nilai tambah pada sistem analisis, karena ia meningkatkan reliabilitas tanpa harus selalu menambah kompleksitas instrumen.
MIP tidak selalu menggantikan metode analitik utama seperti kromatografi atau spektroskopi. Tetapi ia menguatkan tahap pemisahan yang menentukan kualitas data.
5.2 Efisiensi biaya dan waktu: komputasi sebagai strategi riset yang lebih rasional
Orasi Prof. Sophi juga menekankan peran komputasi untuk screening dan penapisan agar eksperimen laboratorium dapat dikurangi, meskipun tidak menggantikan eksperimen basah.
Dalam pengembangan metode analisis dan pengembangan MIP, komputasi memberi keuntungan yang jelas:
mengurangi trial and error yang terlalu banyak
menurunkan biaya bahan kimia dan waktu kerja
membuat eksperimen lebih terarah
Bagi industri, ini berarti inovasi tidak harus “mahal dan lama” untuk menjadi layak. Komputasi membantu mempercepat tahap awal, sehingga pengembangan metode bisa lebih cepat masuk ke fase validasi.
5.3 Menjaga integritas sistem kesehatan: mutu obat adalah fondasi kepercayaan
Salah satu kalimat paling kuat dalam orasi ini adalah peringatan bahwa obat palsu lebih berbahaya daripada status palsu.
Maknanya luas. Mutu obat bukan hanya urusan pabrik. Ia urusan sistem kesehatan.
Ketika mutu obat tidak bisa dipercaya, pasien cenderung kehilangan kepercayaan pada terapi. Tenaga kesehatan kehilangan pegangan. Dan masyarakat bisa terjebak dalam pola konsumsi yang berbahaya, seperti berpindah ke “alternatif” tanpa bukti.
Di titik ini, MIP bukan hanya alat selektivitas, tetapi bagian dari sistem penjaga kepercayaan publik.
6. Kesimpulan: MIP Mengubah Analisis Mutu Obat dari Sekadar Pengukuran Menjadi Pengendalian Selektivitas
Orasi ilmiah Prof. Sophi Damayanti menunjukkan bahwa tantangan terbesar dalam analisis mutu obat bukan hanya memilih instrumen yang tepat, tetapi memastikan hasil analisis tidak tertipu oleh kompleksitas sampel.
Analisis farmasi mencakup identifikasi kandungan obat secara kualitatif dan penentuan kadarnya secara kuantitatif. Namun sampel farmasi dan biologis umumnya memiliki matriks yang kompleks sehingga dapat menimbulkan kesalahan analisis berupa negatif palsu maupun positif palsu.
Dalam konteks inilah Molecularly Imprinted Polymer (MIP) menjadi strategi penting karena memberikan selektivitas. MIP disintesis menggunakan template target, monomer fungsional, crosslinker, dan porogen, sehingga terbentuk rongga cetakan yang dapat menangkap molekul target secara spesifik. Pendekatan ini meningkatkan pemisahan dan mengurangi gangguan matriks, sehingga hasil analisis lebih reliabel.
Orasi ini juga memperlihatkan bahwa selektivitas bukan hanya persoalan sintesis, tetapi juga persoalan desain yang makin terbantu oleh komputasi. In silico digunakan untuk screening dan penapisan sehingga eksperimen laboratorium dapat dikurangi tanpa menghilangkan kebutuhan validasi basah. Pengakuan global terhadap pendekatan komputasi juga menunjukkan bahwa strategi prediktif semakin relevan dalam riset obat modern.
Berbagai contoh aplikasi MIP pada sampel kompleks memperlihatkan bahwa teknologi ini dapat digunakan untuk kebutuhan nyata, dari analisis obat pada plasma darah hingga pendekatan analisis simultan. Di sisi lain, integrasi komputasi dan uji biologis memperlihatkan pola baru riset farmasi: prediksi yang terarah, lalu pembuktian biologis yang kuat.
Bagi mahasiswa, orasi ini menegaskan bahwa farmasi modern tidak hanya tentang membuat obat, tetapi tentang menjaga mutu dan kebenaran pengukuran. Bagi pekerja industri farmasi dan laboratorium QC, orasi ini menunjukkan bahwa peningkatan mutu analisis tidak selalu harus berarti membeli alat yang lebih mahal, tetapi bisa dilakukan dengan meningkatkan selektivitas pemisahan dan strategi desain metode.
Pada akhirnya, MIP mengubah analisis mutu obat dari sekadar “mengukur kadar” menjadi upaya sistematis untuk memastikan keterikatan yang benar antara target dan alat analisis, sehingga keputusan yang diambil benar-benar berdasar pada data yang dapat dipercaya.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Sophi Damayanti: Polimer Tercetak Molekul dan Inovasi Analisis Mutu Obat. 2024.
Sellergren, B. Molecularly Imprinted Polymers: Man-Made Mimics of Antibodies and Their Applications in Analytical Chemistry. Elsevier.
Wulff, G. Molecular Imprinting in Cross-Linked Materials with the Aid of Molecular Templates. Angewandte Chemie International Edition.
International Council for Harmonisation (ICH). Q2(R2): Validation of Analytical Procedures. (diakses 2026).
National Institute for Pharmaceutical Technology and Education (NIPTE). Advances in Pharmaceutical Analysis and Quality Control. (diakses 2026).
Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 21 Januari 2026
1. Pendahuluan
Kita sering membayangkan kanker sebagai satu penyakit tunggal. Seolah kanker adalah “benda” yang tiba-tiba muncul dan harus dibuang. Padahal dalam orasi ilmiah Prof. Marselina Irasonia Tan, kanker diposisikan sebagai peristiwa biologis yang jauh lebih kompleks: sebuah sistem yang muncul ketika kendali seluler runtuh, lalu sel yang abnormal belajar bertahan hidup dengan cara yang tidak normal.
Orasi ini dibangun dengan pendekatan yang terasa seperti membuka lapisan-lapisan misteri. Dimulai dari unit terkecil tubuh manusia, yaitu sel, lalu bergerak ke bagaimana kelainan pada sistem di dalam sel bisa mengarah pada pembelahan yang tidak terkontrol dan akhirnya menjadi kanker. Dalam tubuh manusia sendiri, jumlah sel diperkirakan mencapai 3 hingga 4 miliar sel. Sel-sel itu ada yang diam seperti sel punca quiescent, ada yang aktif membelah, dan ada yang sudah terdiferensiasi. Semua kondisi ini seharusnya berada dalam kontrol yang ketat.
Kanker muncul ketika kontrol itu dilanggar.
Yang menarik, Prof. Marselina tidak menggambarkan sel kanker sebagai sekadar “sel rusak”. Ia menggambarkannya sebagai sel yang cerdas dalam arti biologis, tetapi licik. Sel kanker memanfaatkan kondisi di sekitarnya, melanggar aturan normal, memaksa diri untuk terus membelah, menumpuk mutasi, dan membuat genomnya semakin tidak stabil. Bahkan sel yang menua dan normalnya tidak membelah lagi, dalam konteks kanker bisa kembali membelah.
Orasi ini juga menegaskan bahwa kanker bukan hanya tentang sel tunggal yang membelah. Kanker adalah sistem yang membangun dukungan untuk dirinya sendiri. Misalnya, kanker dapat mengubah metabolisme agar lebih menguntungkan pertumbuhannya, membentuk pembuluh darah baru (angiogenesis) agar nutrisi terus tersedia, dan memanfaatkan sistem imun—bahkan sampai bisa “kabur” dari sistem imun.
Di titik ini, kanker terasa seperti entitas yang tidak hanya bertumbuh, tetapi juga beradaptasi.
Namun inti dari orasi Prof. Marselina bukan membuat kita takut pada kanker. Intinya adalah menunjukkan bahwa sains memiliki cara untuk menelusuri penyebab dan mekanisme kanker secara lebih tajam, melalui biologi sel, imunologi, dan pendekatan molekuler.
Prof. Marselina membagi orasinya menjadi dua fokus utama riset yang saling menguatkan:
riset pencegahan kanker dan faktor penyebabnya
riset pengembangan terapi melalui vaksin (termasuk pengembangan kandidat vaksin COVID-19 sebagai contoh kekuatan platform imunologi)
Cara pembagian ini penting karena menunjukkan bahwa perlawanan terhadap kanker bukan hanya satu lini. Ia adalah kombinasi antara memahami akar masalah, mengenali faktor risiko, menemukan biomarker, dan mengembangkan intervensi imunologis.
Dan dari sini, narasi bergerak ke pertanyaan yang lebih spesifik: apa saja faktor yang membuat kanker bisa berkembang?
2. Penyebab Kanker: Faktor Eksternal, Faktor Internal, dan Jalur yang Membentuk “Kesempatan” Sel Kanker
Salah satu bagian paling jelas dalam orasi ini adalah pemetaan penyebab kanker menjadi dua kategori besar: faktor eksternal dan faktor internal.
Faktor eksternal meliputi patogen, pola hidup, dan lingkungan. Faktor-faktor ini pada akhirnya memengaruhi kondisi genetik dan epigenetik sel. Poin pentingnya adalah: kanker jarang muncul karena satu sebab tunggal. Kanker tumbuh di persimpangan banyak sebab, dan sebab itu membentuk “kesempatan biologis” bagi sel untuk mulai melanggar aturan.
Untuk memperjelas, Prof. Marselina memaparkan beberapa contoh yang terasa dekat dengan kehidupan modern.
2.1 Pola hidup: makanan tinggi lemak dan jalur estrogen pada kanker payudara
Orasi ini menyoroti bahwa konsumsi makanan tinggi lemak yang berlebihan dan terus-menerus dapat memengaruhi kadar estrogen. Estrogen disebut sebagai salah satu pemicu (mitogenik) karena mampu menginduksi pembelahan sel. Dalam konteks kanker payudara, estrogen bisa menjadi pendorong perkembangan sel abnormal menuju keganasan.
Tetapi narasi tidak berhenti di situ. Yang menarik adalah bagaimana lingkungan mikro di sekitar sel ikut menentukan apakah estrogen “leluasa” bekerja atau tidak.
Prof. Marselina menjelaskan bahwa kolagen tipe 4 merupakan komponen yang membentuk membran basal, dan seiring bertambahnya usia, kolagen ini menipis. Kondisi ini ikut menjelaskan mengapa risiko kanker meningkat seiring usia.
Dalam eksperimen yang dipaparkan, kolagen sebagai komponen utama ternyata dapat menghambat peran estrogen dalam menginduksi perkembangan kanker, salah satunya melalui penekanan ekspresi gen CRB2.
Secara analitis, ini membuat kita melihat kanker sebagai interaksi ganda: bukan hanya hormon dan reseptor, tetapi juga matriks ekstraseluler yang membentuk “pagar” atau “jalan bebas” bagi sinyal proliferasi.
2.2 Patogen: HPV16, hipoksia, dan cara kanker serviks menghindari imunitas
Faktor eksternal berikutnya adalah patogen. Prof. Marselina menyoroti HPV (Human Papillomavirus), terutama HPV16, yang dikenal berperan dalam kanker serviks.
Dalam penelitian yang dipaparkan, sel keratinosit ditransfeksi dengan salah satu komponen HPV16, lalu diamati dampaknya pada sistem imun epitel. Hasilnya menunjukkan bahwa HPV16 dapat menurunkan ekspresi interleukin-1 beta (IL-1β), sebuah komponen imun yang penting untuk menghadapi patogen.
Orasi ini juga membawa kita pada konsep yang penting dalam kanker: kondisi oksigen jaringan.
Di daerah serviks terdapat area normoksia (cukup oksigen) dan hipoksia (kekurangan oksigen). Virus dapat memanfaatkan kondisi hipoksia karena sel-sel di daerah hipoksia lebih mampu bertahan, dan situasi ini membantu virus menekan ekspresi IL-1β sehingga sel kanker bisa menghindari sistem imun.
Bagian ini memperlihatkan cara kerja kanker dan virus sebagai “partner biologis” yang memanfaatkan kelemahan lingkungan tubuh.
2.3 Faktor internal: gen, epigenetik, dan jalur sinyal yang mempercepat proliferasi dan metastasis
Selain faktor eksternal, orasi ini juga menampilkan faktor internal yang lebih “molekuler”: gen dan epigenetik.
Prof. Marselina memaparkan beberapa penelitian terkait gen yang terlibat dalam perkembangan kanker, termasuk kanker ovarium. Salah satu temuan yang dibahas adalah GPCR55, reseptor membran yang teraktivasi oleh LPI (lysophosphatidylinositol). Aktivasi ini dapat memicu jalur sinyal yang berujung pada proliferasi, migrasi, invasi, dan metastasis.
Orasi menyebut bahwa ekspresi gen GPCR55 meningkat seiring bertambahnya stadium kanker ovarium. Ini membuka kemungkinan penggunaan LPI sebagai marker untuk melihat tingkat keparahan kanker ovarium.
Selain itu, orasi juga menyoroti BRD4 (bromodomain-containing protein) sebagai pengatur ekspresi gen yang berkaitan dengan struktur kromatin. Berdasarkan data dan konfirmasi pada jaringan serta lini sel kanker ovarium, BRD4 diekspresikan berlebih pada kanker ovarium dibandingkan jaringan normal.
BRD4 kemudian dihubungkan dengan ekspresi gen lain yang mendorong proliferasi, seperti MYC dan CDK6. Ini memperlihatkan bahwa kanker bukan hanya “mutasi acak”, tetapi perubahan sistemik dalam kontrol ekspresi gen.
3. Kandidat Anti-Kanker Berbasis Senyawa Alami: Mangostin, Propolis, dan Logika Kombinasi Terapi
Pada tahap tertentu, penelitian kanker selalu berhadapan dengan satu kenyataan: kanker bukan target tunggal yang bisa dijatuhkan dengan satu pukulan. Sel kanker punya banyak jalur bertahan hidup. Ia bisa mengubah metabolisme, membangun angiogenesis, menghindari sistem imun, sampai memodifikasi sinyal pembelahan. Ketika satu jalur ditutup, jalur lain bisa mengambil alih.
Di sinilah pendekatan terapi tidak cukup hanya “menghancurkan sel kanker”, tetapi harus memikirkan bagaimana menekan kemampuan adaptasinya.
Dalam orasi Prof. Marselina Irasonia Tan, salah satu strategi yang ditonjolkan adalah eksplorasi senyawa alami sebagai kandidat anti-kanker. Ia menyebut bahwa eksplorasi ekstrak alami sudah dilakukan dengan berbagai kandidat, tetapi pada kesempatan ini Prof. Marselina fokus memaparkan dua yang paling jelas hasilnya: mangostin dan propolis.
3.1 Mangostin: menekan reseptor estrogen, memutus jalur “bahan bakar” proliferasi
Mangostin adalah molekul yang diisolasi dari kulit manggis. Di bagian sebelumnya, orasi sudah menjelaskan bahwa estrogen bersifat mitogenik dan dapat menginduksi pembelahan sel, terutama dalam konteks kanker payudara. Masalahnya, estrogen tidak bekerja sendirian. Ia bekerja lewat reseptor estrogen. Begitu reseptor itu aktif, sinyal proliferasi bisa berjalan.
Prof. Marselina memaparkan bahwa mangostin memiliki efek untuk menekan ekspresi reseptor estrogen. Secara naratif, ini seperti menurunkan “antena” yang dipakai sel untuk menerima perintah membelah.
Yang penting, penelitian ini tidak berhenti di level konsep. Eksperimen mangostin dilanjutkan ke level in vivo (hewan uji), sehingga efeknya tidak hanya dilihat di level sel, tetapi juga pada sistem biologis yang jauh lebih kompleks.
3.2 Propolis dan kombinasi: ketika terapi tidak mencari yang paling kuat, tetapi yang paling masuk akal
Orasi kemudian memperlihatkan pendekatan yang lebih realistis: kombinasi mangostin dan propolis.
Di dunia klinis, kombinasi terapi bukan hal asing. Banyak kanker membutuhkan kombinasi karena kanker bisa mengaktifkan jalur alternatif untuk bertahan. Tetapi kombinasi juga tidak boleh asal gabung, karena kombinasi bisa memberi efek antagonistik, bisa meningkatkan toksisitas, atau tidak menambah manfaat yang berarti. Dalam data in vivo yang dipaparkan, kombinasi mangostin dan propolis menunjukkan penurunan perkembangan kanker yang lebih baik dibanding hewan kontrol.
Prof. Marselina juga memberi catatan penting: efek kombinasi ini memang masih jauh dari doxorubicin, obat yang saat ini digunakan untuk terapi kanker. Kalimat ini membuat pendekatan risetnya terasa dewasa dan tidak berlebihan. Ia tidak menjual narasi “senyawa alami menggantikan kemoterapi”, tetapi memperlihatkan potensi sebagai kandidat yang bisa dikembangkan.
Dalam konteks mahasiswa dan pekerja, bagian ini mengajarkan sesuatu yang sering hilang di diskusi populer: ilmu tidak selalu mencari pengganti langsung dari terapi utama. Kadang ilmu mencari pelengkap, penguat, atau alternatif untuk kasus tertentu.
Senyawa alami yang “lebih lemah” daripada kemoterapi tetap bisa penting jika ia:
punya efek samping lebih ringan
bisa dipakai sebagai adjuvant
memperluas opsi terapi bagi pasien tertentu
membantu menekan salah satu jalur penting (misalnya reseptor estrogen)
Dan yang paling penting, riset seperti ini memberi pijakan bahwa sains bisa menguji klaim bahan alam dengan standar yang sama: ada target biologis, ada uji in vivo, ada perbandingan dengan kontrol.
4. Dari MikroRNA sampai Vaksin Merah Putih: Imunologi sebagai Senjata Pencegahan dan Terapi
Jika bagian senyawa alami memperlihatkan pendekatan “menekan jalur pertumbuhan kanker”, maka bagian berikutnya menggeser fokus ke sesuatu yang lebih strategis: bagaimana memanfaatkan sistem tubuh sendiri untuk melawan penyakit.
Di sinilah imunologi menjadi sangat penting. Karena sistem imun pada dasarnya adalah sistem pertahanan yang dirancang untuk mengenali ancaman, menandai, lalu menghancurkan.
Kanker bisa muncul ketika sistem imun gagal mendeteksi, atau ketika kanker mampu “escape” dan bersembunyi dari pengawasan imun. Orasi ini sejak awal menegaskan bahwa kanker tidak hanya memanfaatkan sistem imun, tetapi juga bisa lolos dari sistem imun.
Maka logika terapinya masuk akal: jika kanker bisa menghindari imun, maka sains perlu membantu imun untuk mengenali dan menyerang lebih efektif.
Prof. Marselina memaparkan dua jalur riset yang berhubungan dengan tema ini: mikroRNA sebagai terapi molekuler, dan pengembangan vaksin sebagai strategi pencegahan maupun penguatan imunitas.
4.1 MikroRNA: intervensi kecil pada level genetik yang bisa menggeser nasib sel kanker
MikroRNA adalah komponen dari mRNA yang tidak mengkode protein. Dalam orasi, Prof. Marselina menyebut bahwa mikroRNA yang dipilih dalam penelitian ini berperan sebagai tumor suppressor mimic, dengan harapan dapat menekan perkembangan kanker.
Hasilnya, setelah sel kanker diberi mikroRNA tersebut, terjadi penurunan viabilitas sel.
Bagian ini terasa penting karena menunjukkan bahwa terapi kanker bukan hanya “obat yang membunuh sel”, tetapi bisa berupa intervensi sinyal yang mengubah kelangsungan hidup sel kanker. Secara analitis, mikroRNA adalah contoh bagaimana riset modern bekerja pada level yang sangat presisi: bukan hanya mengobati, tetapi memodulasi ekspresi dan perilaku sel.
4.2 Vaksin Merah Putih ITB: dua platform, dua jalur imunitas, dan bukti bahwa imunologi bisa digerakkan
Bagian vaksin dalam orasi Prof. Marselina memberi lapisan makna yang lebih luas. Ia tidak hanya membahas kanker, tetapi menunjukkan bahwa pengembangan imunologi bisa menghasilkan solusi nyata dalam krisis kesehatan seperti COVID-19.
Prof. Marselina terlibat dalam pengembangan kandidat Vaksin Merah Putih ITB. Tim ini mengembangkan dua kandidat:
vaksin berbasis RBD
vaksin dengan platform adenovirus
Pada uji hewan, platform adenovirus menunjukkan performa yang sangat baik dalam menginduksi:
imunitas humoral (antibodi tinggi)
imunitas seluler, ditandai dengan pembentukan interferon-gamma
Menariknya, orasi menyebut bahwa adenovirus ini bahkan cukup diberikan sekali suntik, tanpa vaksinasi berulang.
Di sini terlihat transformasi besar: imunologi bukan sekadar teori tentang sel imun, tetapi sistem yang bisa direkayasa untuk menghasilkan respons perlindungan.
Dan bagian ini tidak dilepaskan dari narasi kanker. Prof. Marselina menutup dengan pesan bahwa imunitas tubuh yang kuat dapat dipelihara lewat pola hidup sehat dan diet seimbang, serta ditunjang dengan vaksinasi yang tepat. Vaksinasi memainkan peran penting dalam melawan dan mencegah penyakit, termasuk kanker.
Ia juga menguatkan pesan penting tentang vaksinasi kanker serviks yang terbukti menurunkan kasus kanker serviks secara efektif di beberapa negara.
Jika ditarik sebagai kesimpulan sementara untuk bagian ini, maka intinya seperti ini:
terapi kanker bukan hanya membunuh sel, tetapi menghentikan strategi sel kanker
terapi modern bergerak ke intervensi molekuler (mikroRNA)
imunologi memberi dua jalan sekaligus: pencegahan melalui vaksin dan terapi melalui aktivasi imun
keberhasilan pengembangan vaksin COVID-19 memberi dasar platform untuk pengembangan vaksin lain ke depan
5. Pelajaran Besar dari Biologi Sel untuk Pencegahan Kanker: Risiko Itu Dibangun Pelan-Pelan, Bukan Datang Seketika
Kalau kita membaca orasi Prof. Marselina Irasonia Tan sebagai satu narasi utuh, benang merahnya adalah ini: kanker bukan “serangan tiba-tiba”. Kanker adalah hasil dari rangkaian proses biologis yang lama, yang terbentuk dari akumulasi risiko, perubahan seluler, dan kesempatan yang diciptakan oleh lingkungan tubuh.
Dan di sinilah biologi sel menjadi lebih dari sekadar ilmu dasar. Ia menjadi peta yang menunjukkan kapan tubuh mulai kehilangan kendali.
Prof. Marselina menegaskan bahwa sel-sel dalam tubuh manusia berada dalam beragam kondisi: ada yang diam, ada yang aktif membelah, ada yang terdiferensiasi. Semua kondisi itu seharusnya dijaga dalam kontrol yang ketat. Ketika ada kelainan pada sistem di dalam sel, pembelahan bisa menjadi tidak terkontrol dan memicu kanker.
Pencegahan kanker, dalam konteks ini, bukan hanya pesan moral seperti “hidup sehat”, tetapi upaya mengurangi peluang biologis agar sel melanggar aturan.
Ada beberapa pelajaran praktis yang bisa ditarik dari orasi ini, terutama untuk pembaca mahasiswa dan pekerja.
5.1 Pola hidup tidak bekerja sebagai dosa sekali makan, tapi sebagai tekanan yang konsisten
Orasi menyoroti konsumsi makanan tinggi lemak yang dilakukan berlebihan dan terus-menerus dapat memengaruhi kadar estrogen, dan estrogen dapat menstimulasi perkembangan kanker, khususnya kanker payudara.
Yang harus digarisbawahi adalah kata “terus-menerus”. Pola hidup sering bekerja sebagai akumulasi. Ia tidak langsung menjadi kanker, tetapi perlahan membangun kondisi yang memudahkan kanker berkembang.
Pola pikir ini penting untuk mahasiswa dan pekerja, karena gaya hidup modern sering membentuk rutinitas: makan cepat, stres tinggi, tidur kurang, aktivitas fisik rendah. Banyak orang merasa masih aman karena “masih muda”. Padahal orasi ini memberi pesan bahwa risiko kanker justru bertambah seiring usia, salah satunya karena perubahan pada lingkungan mikro sel.
5.2 Lingkungan mikro sel itu nyata: kolagen bukan sekadar struktur, tapi pelindung
Salah satu detail ilmiah yang paling menarik dari orasi ini adalah peran kolagen tipe 4 sebagai komponen pembentuk membran basal.
Prof. Marselina menjelaskan bahwa kolagen tipe 4 akan menipis seiring bertambahnya usia, dan ini membantu menjelaskan mengapa potensi seseorang terkena kanker meningkat ketika menua.
Dalam eksperimen yang dijelaskan, kolagen sebagai komponen utama dapat menghambat peranan estrogen dalam menginduksi perkembangan kanker, melalui penekanan ekspresi gen CRB2.
Makna praktisnya cukup besar: pencegahan kanker bukan hanya tentang “apa yang kita masukkan ke tubuh”, tetapi juga tentang bagaimana tubuh mempertahankan struktur pelindung di sekitar sel. Banyak kebijakan kesehatan terlalu fokus pada faktor permukaan, tetapi lupa bahwa jaringan punya mekanisme pertahanan internal yang ikut menentukan.
5.3 Patogen bukan sekadar pemicu, tetapi bisa menjadi pembuka jalan sel kanker untuk kabur dari imun
Orasi membahas HPV16 sebagai faktor eksternal yang dapat menurunkan ekspresi IL-1β, komponen penting sistem imun epitel.
Yang lebih kompleks adalah keterlibatan kondisi hipoksia. Di jaringan serviks, ada area normoksia dan hipoksia. Virus dapat memanfaatkan kondisi hipoksia karena sel di daerah itu lebih mampu bertahan, dan situasi ini membantu penekanan ekspresi IL-1β sehingga sel kanker bisa menghindari sistem imun.
Ini menunjukkan bahwa pencegahan kanker serviks tidak boleh hanya dipahami sebagai “mencegah infeksi”. Pencegahan harus dilihat sebagai kontrol terhadap seluruh ekosistem: infeksi, respon imun, dan kondisi lingkungan jaringan yang memungkinkan virus memperpanjang pengaruhnya.
Di sinilah vaksinasi menjadi semakin logis dan tidak bisa dianggap opsional. Kalau patogen bisa memulai jalur kanker, pencegahan berbasis imun menjadi intervensi yang sangat masuk akal secara biologis.
5.4 Biomarker dan pemahaman gen: pencegahan masa depan akan semakin presisi
Bagian lain dari orasi menunjukkan bagaimana gen dan regulasi ekspresi gen dapat menjadi pintu untuk memahami tingkat keganasan.
Contohnya, GPCR55 yang teraktivasi oleh LPI dapat memicu jalur sinyal yang terkait proliferasi, migrasi, invasi, dan metastasis pada kanker ovarium, dan ekspresinya meningkat seiring bertambahnya stadium kanker.
Orasi juga menyoroti BRD4 yang diekspresikan berlebih pada kanker ovarium, serta keterkaitannya dengan gen proliferasi seperti MYC dan CDK6.
Pada tahap ini, pencegahan dan terapi tidak lagi hanya soal “mengurangi risiko”, tetapi juga soal mendeteksi lebih cepat dan lebih tepat. Biomarker seperti LPI berpotensi menjadi alat untuk membaca “seberapa parah” kanker berkembang.
Dan ini membawa kita pada arah masa depan layanan kesehatan: pencegahan yang lebih berbasis data biologis, bukan hanya berbasis gejala.
6. Kesimpulan: Kanker Bukan Hanya Musuh Sel, Tapi Musuh Sistem—dan Imunitas adalah Garis Pertahanan Terakhir
Orasi Prof. Marselina Irasonia Tan menempatkan kanker sebagai fenomena biologis yang kompleks, bukan sekadar sel abnormal yang membelah tanpa henti. Sel kanker digambarkan sebagai “smart tetapi licik” karena ia melanggar aturan normal, menumpuk mutasi, membuat genomnya semakin instabil, memodifikasi metabolisme, membentuk angiogenesis, bahkan memanfaatkan sistem imun sebelum akhirnya lolos dari pengawasan imun.
Dengan cara pandang ini, perlawanan terhadap kanker tidak mungkin hanya satu dimensi. Ia membutuhkan pemahaman biologi sel yang kuat, pemetaan faktor eksternal dan internal, serta strategi imunologis yang mampu menghadapi kemampuan adaptasi sel kanker.
Orasi ini memperlihatkan bagaimana faktor eksternal seperti pola hidup dan patogen dapat membentuk peluang kanker. Estrogen dapat menstimulasi perkembangan kanker, tetapi lingkungan mikro seperti kolagen tipe 4 dapat menjadi penghambat alami. HPV16 dapat menekan sistem imun epitel lewat penurunan IL-1β, terutama ketika lingkungan hipoksia memberi ruang bagi sel untuk lebih bertahan.
Di sisi internal, jalur genetik dan epigenetik seperti GPCR55–LPI dan BRD4 memperlihatkan bahwa kanker dapat dipahami melalui perubahan ekspresi gen yang mendorong proliferasi, invasi, hingga metastasis.
Namun orasi ini tidak berhenti pada peta masalah. Ia juga menunjukkan peta harapan.
Senyawa alami seperti mangostin yang menurunkan ekspresi reseptor estrogen, serta kombinasi mangostin–propolis, menunjukkan adanya peluang pengembangan kandidat terapi berbasis bahan alam, meskipun masih jauh dibanding doxorubicin.
Pendekatan mikroRNA memperlihatkan bahwa intervensi molekuler dapat menurunkan viabilitas sel kanker melalui mekanisme yang lebih presisi.
Dan puncak dari narasi imunologi muncul lewat pengembangan Vaksin Merah Putih ITB. Kandidat berbasis adenovirus mampu menginduksi imunitas humoral (antibodi tinggi) sekaligus imunitas seluler melalui interferon-gamma, bahkan dengan satu kali penyuntikan. Keberhasilan ini memberi sinyal bahwa platform imunologi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk kebutuhan penyakit lain, termasuk strategi pencegahan kanker.
Bagi mahasiswa, orasi ini adalah pelajaran tentang cara sains bekerja: bukan mencari jawaban tunggal, tetapi membangun pemahaman sistemik. Bagi pekerja, terutama yang bergerak di kesehatan, riset, dan industri bioteknologi, orasi ini memberi arah yang jelas: masa depan perlawanan terhadap kanker akan semakin terhubung dengan biomarker, terapi molekuler, dan penguatan imunologi.
Pada akhirnya, kanker bukan hanya musuh sel, tetapi musuh sistem. Dan sistem yang paling menentukan menang atau kalah sering kali adalah sistem imun, karena di sanalah garis pertahanan terakhir berada.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Marselina Irasonia Tan: Menyingkap Rahasia Penyakit melalui Biologi Sel, Imunitas, dan Pertempuran Melawan Kanker. 2024.
Hanahan, D., & Weinberg, R. A. Hallmarks of Cancer: The Next Generation. Cell. 2011.
World Health Organization. Human papillomavirus (HPV) and cervical cancer: factsheet dan pencegahan. (diakses 2026).
National Cancer Institute. Cancer Immunotherapy: Overview and Mechanisms. (diakses 2026).
Sharma, P., & Allison, J. P. The Future of Immune Checkpoint Therapy. Science. 2015.
Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 20 Januari 2026
1. Pendahuluan
Penyakit asam urat sering dianggap sepele. Banyak orang menganggapnya hanya “nyeri sendi yang datang sesekali” dan akan hilang kalau minum obat. Tetapi orasi ilmiah Prof. Muhamad Insanu memposisikan hiperurisemia secara lebih serius: ia bukan sekadar rasa sakit, melainkan pintu masuk menuju rangkaian masalah metabolik yang lebih besar.
Hiperurisemia adalah kondisi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat karena produksi berlebih dan/atau ekskresi yang tidak mencukupi, bahkan pada pola makan yang dianggap normal. Dalam orasi ini disebutkan batas praktisnya: kadar asam urat maksimal sekitar 7 mg/dL pada laki-laki dan 5,7 mg/dL pada perempuan.
Yang menarik, Prof. Insanu tidak hanya menjelaskan definisi klinis. Ia menempatkan asam urat dalam “peta besar” penyakit kronis. Disebutkan bahwa asam urat termasuk penyakit kronis terbesar keempat setelah hipertensi, hiperglikemia, dan hiperlipidemia. Artinya, asam urat tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan pola hidup modern: konsumsi tinggi, aktivitas rendah, dan metabolisme yang semakin terganggu.
Tetapi bagian yang paling penting justru bukan angka uratnya. Bagian yang paling membahayakan adalah komorbiditasnya: penyakit penyerta yang membentuk semacam lingkaran setan. Dalam orasi ini disebutkan beberapa komorbiditas yang sering terkait, termasuk penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, obesitas, diabetes, hipertensi, serta sindrom metabolik.
Jika dilihat dari sudut pandang orang awam, asam urat baru dianggap “serius” ketika sudah menyerang kaki dan membuat sendi membengkak, memerah, dan sakit luar biasa. Prof. Insanu menjelaskan bahwa kondisi ini bisa meningkat menjadi gout, dan meskipun tidak selalu mematikan, rasa sakitnya dapat mengganggu kualitas hidup secara ekstrem. Bahkan jika dibiarkan, gout bisa memicu terbentuknya benjolan yang disebut tofi.
Di sinilah riset menjadi relevan. Karena banyak orang bisa hidup bertahun-tahun dengan asam urat tinggi, tetapi tanpa sadar mereka sedang berjalan menuju komplikasi. Dan ketika komplikasi muncul, biaya kesehatan meningkat, produktivitas turun, dan hidup jadi lebih rapuh.
Namun muncul pertanyaan yang mungkin juga akan muncul di kepala pembaca pekerja: kalau obat asam urat sudah ada dan murah, mengapa masih perlu riset?
Prof. Insanu menjawabnya dengan cara yang praktis dan jujur: masalah utamanya bukan ketersediaan obat, tetapi efek samping dan keterbatasan terapi pada sebagian pasien.
Artinya, penelitian obat alternatif dari tumbuhan bukan proyek romantik. Ia adalah upaya mencari opsi terapi yang lebih aman, lebih cocok untuk variasi kondisi pasien, sekaligus membuka peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang masih jauh dari maksimal. Dan ketika riset ini dilakukan oleh peneliti farmasi, tujuan akhirnya bukan sekadar membuktikan “tanaman ini punya aktivitas”, tetapi membangun jalur pembuktian ilmiah dari pengetahuan tradisional menuju kandidat produk kesehatan yang kredibel.
2. Mengapa Tanaman Obat Masuk Akal untuk Asam Urat: Celah antara Terapi Standar dan Kebutuhan Pasien
Bagian menarik dari orasi Prof. Insanu adalah cara ia menjelaskan manajemen terapi hiperurisemia. Ia membaginya menjadi dua jalur besar: nonfarmakologi dan farmakologi.
Nonfarmakologi adalah terapi tanpa obat, yang secara praktik berarti memperbaiki pola makan, menurunkan berat badan, menghindari makanan tinggi purin, serta meningkatkan aktivitas fisik. Jalur ini terdengar ideal, tetapi realitasnya sulit. Banyak pasien memahami anjurannya, tetapi tidak bisa konsisten. Dan di sinilah hiperurisemia sering bertahan lama: bukan karena pasien tidak tahu, tetapi karena perilaku makan dan gaya hidup lebih sulit diubah daripada mengganti obat.
Farmakologi adalah terapi dengan obat, dan dalam orasi ini dijelaskan beberapa kategori utama:
anti nyeri, seperti naproksen, natrium diklofenak, kolkisin, dan prednison
penghambat pembentukan asam urat, yaitu inhibitor xanthine oxidase seperti allopurinol
urikosurik, yang membantu pengeluaran asam urat melalui urin seperti probenesid
konversi asam urat menjadi zat lain yang lebih larut seperti peglotikase yang mengubah asam urat menjadi allantoin
Ini peta terapi yang sangat masuk akal secara klinis. Tetapi lagi-lagi, masalah nyata muncul pada pengalaman pasien.
Prof. Insanu menjelaskan alasan mengapa riset tumbuhan obat menjadi penting: efek samping dari obat-obat tersebut. Salah satu contoh efek samping yang ia sebutkan adalah munculnya kemerahan di bibir, yang semakin meningkat ketika konsumsi obat juga meningkat.
Di titik ini, kita melihat celah kebutuhan. Obat yang murah belum tentu cocok untuk semua orang. Obat yang efektif belum tentu nyaman untuk penggunaan jangka panjang. Dan penyakit metabolik seperti hiperurisemia sering membutuhkan pengelolaan yang konsisten, bukan penanganan sesaat. Karena itu, riset tanaman obat diarahkan ke tiga tujuan besar:
mencari alternatif obat penurun asam urat
memberikan pembuktian ilmiah untuk tumbuhan obat tradisional penurun asam urat
meningkatkan aktivitas ekstrak atau senyawa aktif dari tanaman
Metode eksplorasi yang dipakai juga memperlihatkan bahwa riset ini tidak berjalan asal coba. Prof. Insanu menyebut pendekatan seperti telaah pustaka, studi etnofarmakologi, dan mini survei untuk pencarian tanaman.
Sementara pengujiannya dilakukan lewat dua jalur:
pengujian in vitro, misalnya lewat tabung reaksi untuk melihat penghambatan enzim tertentu
pengujian in vivo, menggunakan hewan uji untuk melihat efek biologisnya
Ini penting karena banyak klaim tanaman obat berhenti di level “katanya ampuh”. Tetapi riset farmasi menuntut pembuktian berlapis: mekanisme, aktivitas, keamanan, dan konsistensi.
Selain itu, orasi ini menyebut fakta besar yang sering jadi kebanggaan sekaligus tantangan: Indonesia memiliki sekitar 19.000 tanaman obat, 16.000 di antaranya sudah diidentifikasi, dan 9.600 diketahui memiliki khasiat obat. Tetapi hanya sekitar 200 tanaman yang benar-benar digunakan dalam industri obat tradisional. Angka ini seperti alarm halus: Indonesia kaya bahan, tetapi miskin hilirisasi.
Dari sisi pekerja industri, data ini adalah peluang ekonomi. Dari sisi akademisi, data ini adalah daftar panjang pekerjaan rumah. Dari sisi pemerintah, ini mengarah pada agenda kemandirian bahan baku obat.
Dan di sinilah riset anti-hiperurisemia menjadi contoh yang konkret: satu penyakit, satu target enzim, lalu eksplorasi tanaman dari berbagai daerah dan tradisi pengobatan untuk menemukan kandidat terbaik.
3. Studi Kasus Tanaman Indonesia: Dari Papua sampai Makassar, Dari Halaman Rumah sampai Tradisi Lokal
Salah satu kekuatan orasi Prof. Muhamad Insanu adalah cara ia menyusun riset anti-hiperurisemia sebagai kerja eksplorasi yang nyata dan sangat “Indonesia”. Bukan sekadar mencari kandidat obat dari literatur luar negeri, tetapi menggali tanaman yang sudah digunakan masyarakat, lalu diuji dengan pendekatan farmasi modern.
Pola kerjanya konsisten: ada pengetahuan tradisional, ada pengujian aktivitas, lalu ada tahap isolasi senyawa untuk memastikan komponen apa yang benar-benar berperan.
Berikut enam contoh kasus yang dipaparkan dalam orasi.
3.1 Sarang Semut Papua: Tradisi Lokal yang Dibuktikan Lewat Penghambatan Xanthine Oxidase
Sarang semut dari Papua adalah contoh yang menarik karena ia bukan “tanaman populer” seperti jahe atau kunyit. Sarang semut dikenal dan digunakan secara tradisional di Papua, tetapi secara ilmiah perlu dipastikan mana spesies yang memang paling aktif.
Prof. Insanu menjelaskan bahwa “sarang semut” ternyata tidak hanya satu jenis, melainkan terdiri dari beberapa spesies. Karena itu, timnya menguji satu per satu untuk melihat mana yang paling baik dalam menghambat enzim xanthine oxidase, enzim kunci dalam pembentukan asam urat.
Hasilnya, salah satu spesies menunjukkan aktivitas terbaik, yaitu sarang semut dengan spesies Myrmecodia tuberosa. Setelah itu, tim melakukan isolasi senyawa dan berhasil memperoleh tiga senyawa yang aktif dalam penghambatan asam urat.
Di sini terlihat pentingnya proses ilmiah: masyarakat sudah punya praktik penggunaan, tetapi riset memberi validasi sekaligus memisahkan bagian yang “benar-benar bekerja” dari yang hanya kebetulan dipercaya.
3.2 Idat dari Riau: Dari Tradisi Sumatera ke Satu Senyawa Aktif
Studi kasus berikutnya datang dari Riau, Sumatera. Prof. Insanu menyebut tanaman idat sebagai kandidat yang dibawa dari daerah tersebut, kemudian diteliti lebih lanjut.
Hasilnya, dari tanaman ini tim berhasil mengisolasi satu senyawa yang menunjukkan aktivitas penghambatan asam urat.
Kasus idat ini menarik karena menunjukkan bahwa riset tanaman obat tidak selalu harus dimulai dari tanaman yang sudah dikenal secara nasional. Justru banyak tanaman lokal yang potensinya besar, tetapi baru terlihat ketika ada jembatan antara pengetahuan tradisional dan metode riset farmasi.
3.3 Jambu Air: Tanaman “Dekat Sekali” yang Ternyata Punya Aktivitas
Jika sarang semut Papua dan idat terasa eksotis karena konteks wilayahnya, jambu air justru kebalikannya. Prof. Insanu mengingatkan bahwa jambu air sering ada di halaman rumah. Namun kedekatan ini tidak otomatis membuatnya dipahami secara ilmiah.
Dalam risetnya, tim menggunakan daun jambu air, lalu berhasil mengisolasi satu senyawa yang aktif sebagai anti asam urat.
Ini memberi pesan sederhana tetapi kuat: tanaman yang selama ini kita lihat sebagai buah konsumsi harian bisa mengandung komponen bioaktif yang relevan untuk penyakit metabolik.
3.4 Buah Malaka (Phyllanthus emblica): Kandidat Tradisional dengan Aktivitas In Vivo
Buah malaka, atau Phyllanthus emblica, disebut digunakan secara tradisional di Sumatera. Dari riset yang dipaparkan, tim berhasil mengisolasi satu senyawa, lalu dilakukan upaya untuk meningkatkan aktivitasnya dalam penanganan asam urat.
Yang penting, buah malaka juga ditunjukkan aktif secara in vivo dalam penanganan asam urat, dengan dukungan kolaborasi bidang farmakologi.
Ini poin penting, karena banyak kandidat tanaman “bagus” di tahap in vitro tetapi melemah ketika masuk sistem biologis yang lebih kompleks. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa efeknya lebih realistis untuk pengembangan lanjutan.
3.5 Sidaguri: Dua Senyawa Flavonoid Glikosida dan Variasi Kandungan Berdasarkan Lokasi
Sidaguri menjadi studi kasus yang sangat kaya karena memperlihatkan dua hal sekaligus: isolasi senyawa aktif dan variasi kandungan akibat lingkungan tumbuh.
Prof. Insanu menyebut riset ini sebagai kolaborasi beberapa kampus di Indonesia, dan dari sidaguri berhasil diisolasi dua senyawa flavonoid glikosida.
Lalu bagian menariknya: sidaguri yang tampak “sama” ternyata kandungannya bisa berbeda tergantung lokasi dan ketinggian. Dalam orasi disebutkan perbandingan sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat seperti Lembang, Subang, Banjaran, dan Sukabumi, dan disimpulkan bahwa kandungannya berbeda pada ketinggian yang berbeda.
Dari perspektif industri herbal, ini bukan detail kecil. Ini menyentuh isu standarisasi bahan baku, salah satu masalah terbesar dalam hilirisasi obat tradisional. Tanpa standar kualitas, produk berbasis tanaman bisa berubah-ubah efeknya antar batch.
3.6 Parang Romang: Dari Makassar ke Kajian In Silico Menuju Publikasi Lanjut
Studi kasus terakhir yang disebut Prof. Insanu adalah Parang Romang, yang datang dari Makassar. Tim melakukan isolasi, dan juga melakukan kajian in silico untuk memahami aktivitasnya. Hasilnya sedang diupayakan untuk dipublikasikan di jurnal yang lebih baik.
Di bagian ini, terlihat bahwa riset anti-hiperurisemia tidak berhenti pada “tanaman A bekerja”, tetapi bergerak menuju pemahaman mekanistik dan peluang publikasi yang lebih kuat.
Dan kalau semua studi kasus ini dirangkum, pola besarnya terasa jelas: Indonesia punya banyak kandidat, dan riset ilmiah bertugas memilah mana yang paling menjanjikan, mengisolasi senyawa aktif, lalu menyiapkan jalan menuju hilirisasi.
4. Mengapa Flavonoid Jadi Kunci Aktivitas: Struktur Kimia, Gugus Hidroksil, dan Efek Gula pada Penurunan Aktivitas
Setelah memaparkan berbagai studi kasus, Prof. Insanu menyimpingkan satu benang merah yang mengikat sebagian besar kandidat tanaman tersebut: banyak aktivitas anti-hiperurisemia berkaitan dengan golongan flavonoid.
Ini bukan klaim lepas, tetapi observasi yang masuk akal dalam kimia farmasi. Karena flavonoid merupakan kelompok senyawa yang luas dan sering terlibat dalam aktivitas biologis berbagai tanaman.
Dalam orasi, Prof. Insanu menjelaskan bahwa flavonoid yang aktif sebagai anti asam urat terutama berasal dari golongan flavon dan flavonol.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “flavonoid itu apa”, tapi “mengapa golongan ini bisa efektif?”
Jawabannya muncul dari struktur kimia.
4.1 Struktur dasar flavonoid menentukan interaksi dengan target enzim
Flavonoid memiliki kerangka struktur yang memungkinkan interaksi dengan enzim-enzim tertentu, termasuk xanthine oxidase. Dalam konteks hiperurisemia, menghambat enzim ini berarti menekan proses pembentukan asam urat.
Walaupun orasi tidak masuk ke detail mekanisme docking satu per satu, arah pesannya jelas: struktur menentukan aktivitas, dan aktivitas ini bisa diprediksi serta diuji.
4.2 Gugus hidroksil (–OH) meningkatkan aktivitas
Prof. Insanu menegaskan bahwa keberadaan gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas flavonoid sebagai anti asam urat.
Secara analitis, ini masuk akal karena gugus hidroksil sering memengaruhi:
kemampuan senyawa membentuk ikatan hidrogen
kelarutan dalam medium biologis tertentu
afinitas interaksi dengan situs aktif enzim
Maka bukan hanya “nama senyawanya” yang penting, tetapi posisi dan jumlah gugus –OH di struktur tersebut.
4.3 Penambahan gula (glikosida) justru menurunkan aktivitas
Bagian ini menarik karena sering bertentangan dengan persepsi awam. Banyak orang mengira semakin “kompleks” senyawa, semakin kuat efeknya. Padahal Prof. Insanu menyebut bahwa penambahan gula pada gugus flavonoid justru menurunkan aktivitasnya.
Dalam bahasa yang sederhana: flavonoid aglikon (tanpa gula) cenderung lebih aktif, sedangkan flavonoid glikosida (dengan gula) aktivitasnya bisa turun.
Bagi riset tanaman, poin ini penting karena dua hal:
ekstrak tanaman bisa kaya glikosida, tetapi efeknya tidak selalu sekuat yang diperkirakan
jika ingin meningkatkan aktivitas, riset bisa diarahkan ke pemurnian aglikon atau modifikasi struktur
Dan ini nyambung dengan arah riset lanjutan yang disebut Prof. Insanu: mengarah ke metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.
Artinya, riset tidak berhenti pada eksplorasi bahan, tetapi bergerak ke optimasi: bagaimana membuat kandidat terbaik menjadi lebih efektif, lebih konsisten, dan lebih siap diproduksi.
5. Tantangan Hilirisasi Tanaman Anti-Asam Urat: Standarisasi, Reproducibility, dan Realitas Industri
Kalau bagian studi kasus memberi kesan bahwa Indonesia punya banyak kandidat tanaman anti-hiperurisemia, bagian berikutnya membuat kita berpikir lebih realistis: mengapa kekayaan kandidat itu belum otomatis berubah menjadi produk yang kuat di pasar, atau bahkan menjadi bahan baku farmasi yang benar-benar mapan.
Jawabannya ada pada hilirisasi.
Hilirisasi bukan sekadar “membuat produk herbal” dan menjualnya. Hilirisasi adalah proses panjang yang memastikan bahwa sebuah kandidat bahan alam bisa:
konsisten kandungannya
konsisten efek biologisnya
aman dikonsumsi dalam jangka panjang
punya bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan
dapat diproduksi dalam skala industri
Dan orasi Prof. Muhamad Insanu memberi beberapa petunjuk yang sangat nyata tentang tantangan itu.
5.1 Variasi kandungan antar lokasi: tanaman yang sama belum tentu kualitasnya sama
Kasus sidaguri yang dipaparkan sebelumnya adalah contoh yang sangat jelas. Sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat menunjukkan kandungan yang berbeda pada ketinggian yang berbeda. Ini berarti bahan baku tanaman bersifat sensitif terhadap lingkungan tumbuh.
Di dunia industri, variasi seperti ini adalah masalah besar. Karena konsumen, dokter, atau sistem kesehatan tidak bisa menerima produk yang efeknya “kadang terasa, kadang tidak”.
Maka hilirisasi selalu bertemu dengan pertanyaan standar:
bagian mana dari tanaman yang dipakai? daun, akar, batang, atau buah?
kapan tanaman dipanen?
ditanam di mana, dengan kondisi tanah seperti apa?
bagaimana proses pengeringan dan penyimpanannya?
bagaimana metode ekstraksi agar konsisten?
Jawaban atas pertanyaan ini yang menentukan apakah kandidat tanaman bisa bergerak dari “hasil penelitian” menjadi “produk yang bisa diandalkan”.
5.2 Reproducibility: riset harus bisa diulang dengan hasil yang mirip
Di tahap penelitian, penemuan satu senyawa aktif adalah pencapaian besar. Tetapi industri akan bertanya hal lain: bisa tidak hasil ini diulang?
Konsistensi bukan hanya soal kadar senyawa, tetapi soal performa biologis. Misalnya, jika ekstrak sarang semut Papua menunjukkan penghambatan xanthine oxidase yang baik, industri akan membutuhkan standar produksi agar efektivitas itu stabil, bukan hanya muncul pada batch tertentu.
Inilah alasan mengapa studi yang mengisolasi senyawa aktif punya nilai strategis. Ketika senyawa aktif sudah diketahui, proses standarisasi menjadi lebih mungkin dilakukan, karena pengukuran bisa dipusatkan pada marker compound.
5.3 Dari in vitro ke in vivo: banyak kandidat “bagus” gugur di tahap tubuh nyata
Prof. Insanu membedakan pengujian tanaman menjadi in vitro dan in vivo. Ini menegaskan bahwa keberhasilan di tabung reaksi belum tentu bertahan dalam sistem biologis yang kompleks.
Di tubuh, senyawa menghadapi masalah seperti:
penyerapan di saluran cerna
metabolisme hati
ikatan dengan protein plasma
distribusi ke jaringan
eliminasi lewat ginjal atau empedu
interaksi dengan senyawa lain dalam ekstrak
Itulah sebabnya kasus buah malaka menjadi penting karena menunjukkan aktivitas in vivo. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa kandidat tersebut tidak hanya “kuat di teori”, tetapi punya peluang lebih tinggi untuk menjadi terapi yang relevan.
5.4 Optimasi aktivitas: senyawa aktif belum tentu langsung optimal untuk terapi
Bagian tentang flavonoid menunjukkan bahwa aktivitas ditentukan oleh struktur. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sedangkan penambahan gula dapat menurunkan aktivitas.
Ini memberi arah strategis untuk pengembangan lanjutan. Jika flavonoid glikosida kurang aktif, maka riset bisa mencari:
bentuk aglikonnya
cara meningkatkan proporsi senyawa aktif tertentu
metode ekstraksi yang lebih selektif
modifikasi struktur dan modifikasi sediaan
Orasi Prof. Insanu juga menyebut arah riset lanjutan menuju metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan. Ini menegaskan bahwa perjalanan obat herbal modern bukan berhenti di “tanaman mana yang manjur”, tetapi berlanjut ke “bagaimana membuatnya stabil dan kuat”.
5.5 Realitas kebutuhan masyarakat: terapi alternatif harus aman dan bisa dipakai jangka panjang
Hiperurisemia adalah kondisi yang sering butuh pengelolaan panjang. Di banyak pasien, masalahnya bukan serangan gout sekali dua kali, tetapi kadar asam urat yang bertahan tinggi bertahun-tahun. Terapi yang dibutuhkan bukan sekadar cepat, tetapi bisa dipakai konsisten.
Di sinilah tanaman obat punya peluang, tetapi juga punya tuntutan yang sama: keamanan jangka panjang, konsistensi, dan interaksi obat memastikan ia tidak menambah risiko.
Maka, penelitian Prof. Insanu bisa dibaca sebagai upaya memperluas “ruang aman” terapi: menyediakan alternatif bagi pasien yang tidak cocok dengan terapi tertentu, atau membutuhkan pendekatan yang lebih toleran.
6. Kesimpulan: Riset Tanaman Anti-Hiperurisemia adalah Jalan Ilmiah untuk Memperluas Pilihan Terapi, Bukan Sekadar Tren Herbal
Orasi Prof. Muhamad Insanu memperlihatkan bahwa riset tanaman anti-hiperurisemia bukan proyek yang berdiri di pinggir farmasi modern. Ia justru bergerak di pusat kebutuhan masyarakat, karena hiperurisemia adalah penyakit metabolik yang luas dampaknya dan sering berkaitan dengan berbagai komorbiditas seperti gangguan kardiovaskular dan ginjal.
Terapi standar untuk hiperurisemia sudah tersedia, tetapi tidak semua pasien cocok dengan obat yang sama, terutama karena faktor efek samping dan kebutuhan penggunaan jangka panjang. Di sinilah eksplorasi tanaman menjadi relevan sebagai jalur ilmiah untuk memperluas pilihan terapi.
Melalui studi kasus seperti sarang semut Papua, idat dari Riau, jambu air, buah malaka, sidaguri, dan Parang Romang, orasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kandidat yang sangat beragam, dari tradisi lokal sampai tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Riset tidak berhenti pada klaim, tetapi bergerak melalui pengujian in vitro dan in vivo, serta isolasi senyawa aktif untuk memastikan komponen mana yang benar-benar berperan.
Benang merah pentingnya terletak pada flavonoid, khususnya flavon dan flavonol, di mana struktur kimia menentukan aktivitas. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sementara penambahan gula dapat menurunkan aktivitas. Ini membuka ruang untuk optimasi melalui pendekatan modern seperti metabolomik, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.
Namun, orasi ini juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering muncul pada tahap hilirisasi: standarisasi bahan baku, variasi kandungan berdasarkan lokasi tumbuh, reproducibility hasil, serta kebutuhan bukti keamanan jangka panjang. Tanaman yang aktif tidak otomatis menjadi produk yang siap dipakai, kecuali dibangun melalui sistem riset dan produksi yang matang.
Bagi mahasiswa, orasi ini memberi pelajaran bahwa farmasi bahan alam bukan sekadar “mencari tanaman manjur”, tetapi membangun bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi pekerja, terutama yang bergerak di industri obat tradisional atau kesehatan, orasi ini menunjukkan peluang besar Indonesia: kekayaan hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga aset kesehatan dan ekonomi, jika hilirisasi dilakukan dengan disiplin.
Pada akhirnya, penelitian tanaman anti-hiperurisemia adalah salah satu contoh penting bahwa keunggulan Indonesia bisa dibangun bukan dengan meniru, tetapi dengan memaksimalkan apa yang kita miliki melalui proses ilmiah yang kuat.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Muhamad Insanu: Eksplorasi Tanaman Berpotensi Anti-Hiperurisemia. 2024.
Dalbeth, N., Merriman, T. R., & Stamp, L. K. Gout. Lancet. 2016.
Richette, P., & Bardin, T. Gout. The Lancet. 2010.
World Health Organization. Traditional Medicine Strategy. Edisi terbaru. (diakses 2026).
European League Against Rheumatism (EULAR). Evidence-based recommendations for the diagnosis and management of gout. (diakses 2026).
Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 14 Januari 2026
1. Pendahuluan
Perkembangan teknologi kesehatan modern tidak dapat dilepaskan dari kemajuan instrumentasi medis. Di balik setiap keputusan klinis yang akurat, terdapat sistem pengukuran dan pencitraan yang mampu menerjemahkan fenomena biologis menjadi informasi yang dapat diinterpretasikan secara objektif. Dalam konteks ini, instrumentasi pencitraan medis berperan sebagai jembatan antara tubuh manusia dan sistem pengetahuan kedokteran.
Seiring meningkatnya kompleksitas tantangan kesehatan, kebutuhan terhadap sistem pencitraan yang lebih informatif dan fungsional menjadi semakin mendesak. Diagnosis tidak lagi cukup bertumpu pada gambaran struktural semata, tetapi memerlukan pemahaman fungsional tentang aktivitas organ dan sistem tubuh. Pergeseran ini menuntut pendekatan baru dalam perancangan instrumentasi medis, yang mampu mengintegrasikan berbagai fenomena fisis secara simultan.
Artikel ini menganalisis pendekatan multivisis dalam pengembangan instrumentasi pencitraan medis. Pembahasan diarahkan untuk menunjukkan bahwa integrasi berbagai besaran fisis—seperti bioelektrik, bioakustik, biomekanik, dan biooptik—memberikan dimensi baru dalam peningkatan fungsionalitas sistem pencitraan. Pendekatan multivisis diposisikan sebagai fondasi konseptual bagi inovasi instrumentasi medis yang lebih komprehensif dan adaptif.
2. Instrumentasi Medis sebagai Sistem Multivisis
Tubuh manusia merupakan sistem biologis yang menghasilkan beragam fenomena fisis secara bersamaan. Aktivitas listrik jantung dan otak, getaran akustik dari organ dalam, perubahan mekanik saat bernapas atau bergerak, serta interaksi optik pada jaringan merupakan contoh sinyal multivisis yang menyimpan informasi klinis penting. Instrumentasi medis bertugas menangkap, mengolah, dan menyajikan sinyal-sinyal ini dalam bentuk yang dapat dimanfaatkan untuk diagnosis dan pemantauan kesehatan.
Pendekatan multivisis memandang instrumentasi medis bukan sebagai alat tunggal, melainkan sebagai sistem yang mengintegrasikan berbagai sensor dan metode akuisisi. Setiap modalitas pengukuran memiliki keunggulan dan keterbatasan. Sinyal bioelektrik, misalnya, unggul dalam resolusi temporal tetapi lemah dalam resolusi spasial. Sebaliknya, pencitraan berbasis gelombang elektromagnetik atau akustik mampu memberikan gambaran spasial yang lebih jelas, tetapi dengan keterbatasan tertentu pada aspek temporal atau biaya operasional.
Dengan menggabungkan berbagai modalitas tersebut, pendekatan multivisis berupaya memaksimalkan informasi yang diperoleh dari tubuh manusia. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan kualitas pencitraan, tetapi juga memperkaya interpretasi klinis. Informasi struktural dan fungsional dapat disajikan secara komplementer, sehingga memberikan gambaran yang lebih utuh tentang kondisi pasien.
Pendekatan ini menuntut rekayasa sistem yang kompleks, mulai dari desain sensor, pengkondisian sinyal, hingga pemrosesan data dan visualisasi. Namun, kompleksitas tersebut sejalan dengan kebutuhan akan sistem diagnostik yang lebih presisi dan personal. Instrumentasi medis berbasis multivisis mencerminkan evolusi dari alat ukur sederhana menuju sistem cerdas yang mampu mendukung pengambilan keputusan klinis secara lebih akurat.
3. Evolusi Teknologi Pencitraan Medis dan Integrasi Modalitas
Teknologi pencitraan medis mengalami evolusi yang signifikan seiring meningkatnya kebutuhan klinis terhadap informasi yang lebih kaya dan akurat. Pada tahap awal, pencitraan difokuskan pada representasi struktur anatomi, yang memberikan gambaran statis mengenai organ dan jaringan. Pendekatan ini sangat berguna untuk mendeteksi kelainan morfologis, tetapi memiliki keterbatasan dalam menjelaskan fungsi dan dinamika biologis.
Seiring berkembangnya ilmu dan teknologi, muncul kebutuhan untuk melampaui pencitraan struktural menuju pencitraan yang mampu merekam proses fisiologis. Evolusi ini mendorong integrasi berbagai modalitas pencitraan, di mana setiap modalitas menyumbang perspektif yang berbeda. Integrasi tersebut memungkinkan pemetaan hubungan antara struktur dan fungsi secara lebih komprehensif, sehingga diagnosis tidak hanya didasarkan pada bentuk, tetapi juga pada aktivitas biologis yang mendasarinya.
Integrasi modalitas menuntut pendekatan rekayasa yang matang. Sinkronisasi waktu, penyelarasan spasial, dan penggabungan data dari berbagai sensor menjadi tantangan teknis yang harus diatasi. Namun, keberhasilan integrasi ini memberikan nilai tambah yang signifikan. Informasi yang diperoleh menjadi lebih robust karena saling memvalidasi, mengurangi ketidakpastian dalam interpretasi klinis.
Dalam kerangka multivisis, evolusi pencitraan medis mencerminkan pergeseran paradigma dari sistem tunggal menuju sistem terpadu. Pendekatan ini membuka peluang pengembangan alat diagnostik yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap berbagai kebutuhan klinis. Dengan demikian, integrasi modalitas bukan sekadar tren teknologi, melainkan respons terhadap kompleksitas tubuh manusia yang tidak dapat direpresentasikan oleh satu jenis pengukuran saja.
4. Pencitraan Fungsional dan Tantangan Rekayasa Multivisis
Pencitraan fungsional menandai langkah penting dalam pengembangan instrumentasi medis modern. Berbeda dengan pencitraan struktural yang relatif statis, pencitraan fungsional berupaya menangkap dinamika proses biologis secara real time atau mendekati real time. Informasi ini sangat berharga untuk memahami mekanisme penyakit, memantau respons terapi, dan mendukung pengambilan keputusan klinis yang lebih tepat.
Pendekatan multivisis sangat relevan dalam pencitraan fungsional karena proses biologis jarang terwujud dalam satu jenis sinyal. Aktivitas fisiologis sering kali melibatkan perubahan simultan pada sinyal listrik, mekanik, kimia, dan optik. Mengandalkan satu modalitas berisiko menghasilkan gambaran yang parsial atau menyesatkan. Integrasi multivisis memungkinkan representasi proses biologis yang lebih utuh dan kontekstual.
Namun, pencitraan fungsional berbasis multivisis menghadapi tantangan rekayasa yang tidak sederhana. Perbedaan karakteristik sinyal, seperti rentang frekuensi, resolusi, dan tingkat kebisingan, menuntut strategi akuisisi dan pemrosesan data yang cermat. Selain itu, peningkatan jumlah sensor dan kompleksitas sistem berimplikasi pada kebutuhan komputasi yang lebih besar serta desain antarmuka yang intuitif bagi pengguna klinis.
Tantangan lain terletak pada validasi klinis. Sistem pencitraan multivisis harus mampu menghasilkan informasi yang tidak hanya menarik secara teknis, tetapi juga relevan dan dapat diandalkan dalam konteks medis. Oleh karena itu, kolaborasi antara insinyur, ilmuwan, dan klinisi menjadi kunci untuk memastikan bahwa inovasi rekayasa benar-benar menjawab kebutuhan diagnosis dan perawatan pasien.
5. Instrumentasi Multivisis untuk Diagnosis Presisi dan Layanan Kesehatan Masa Depan
Pendekatan multivisis dalam instrumentasi pencitraan medis membuka jalan menuju diagnosis yang lebih presisi dan personal. Dengan menggabungkan berbagai sumber informasi fisis, sistem pencitraan tidak lagi sekadar menampilkan citra, tetapi menyajikan representasi kondisi biologis pasien secara lebih menyeluruh. Informasi struktural, fungsional, dan dinamis dapat dianalisis secara simultan untuk mendukung pengambilan keputusan klinis yang berbasis bukti.
Diagnosis presisi menuntut pemahaman yang mendalam terhadap variasi individu. Penyakit yang tampak serupa secara morfologis dapat memiliki mekanisme fisiologis yang berbeda antar pasien. Instrumentasi multivisis memungkinkan deteksi perbedaan tersebut melalui pengamatan berbagai parameter secara bersamaan. Dengan demikian, pendekatan ini berkontribusi pada pergeseran layanan kesehatan dari model reaktif menuju model prediktif dan preventif.
Dalam konteks layanan kesehatan masa depan, instrumentasi multivisis juga berpotensi mendukung sistem pemantauan berkelanjutan. Integrasi sensor yang semakin ringkas dan teknologi pemrosesan data memungkinkan pemantauan kondisi pasien di luar fasilitas kesehatan konvensional. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kualitas perawatan, tetapi juga efisiensi sistem kesehatan secara keseluruhan.
Namun, implementasi instrumentasi multivisis dalam skala luas memerlukan kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia. Sistem yang kompleks harus dirancang agar mudah digunakan dan dapat diinterpretasikan oleh tenaga medis. Oleh karena itu, pengembangan teknologi perlu diimbangi dengan pelatihan dan adaptasi sistem layanan agar manfaat diagnosis presisi dapat dirasakan secara optimal.
6. Refleksi Kritis dan Arah Pengembangan Pencitraan Medis Berbasis Multivisis
Refleksi terhadap perkembangan pencitraan medis berbasis multivisis menunjukkan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi dengan kejelasan tujuan klinis. Integrasi berbagai modalitas tidak otomatis menghasilkan manfaat jika tidak diarahkan untuk menjawab pertanyaan medis yang spesifik. Oleh karena itu, perancangan sistem multivisis perlu berangkat dari kebutuhan klinis yang nyata, bukan sekadar kemampuan teknis.
Arah pengembangan ke depan menuntut pendekatan yang lebih kolaboratif dan transdisipliner. Pencitraan medis berbasis multivisis berada di persimpangan sains, rekayasa, dan kedokteran. Keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan berbagai disiplin untuk bekerja bersama dalam merumuskan masalah, mengembangkan solusi, dan melakukan validasi klinis yang ketat.
Tantangan lain yang perlu diperhatikan adalah pengelolaan data. Sistem multivisis menghasilkan volume data yang besar dan kompleks, sehingga menuntut strategi pengolahan, penyimpanan, dan keamanan data yang andal. Dalam konteks ini, integrasi dengan teknologi analitik dan kecerdasan buatan menjadi peluang sekaligus tantangan yang harus dikelola secara bijak.
Sebagai penutup, pencitraan medis berbasis multivisis merepresentasikan arah masa depan instrumentasi kesehatan yang lebih holistik dan presisi. Dengan pengembangan yang terarah dan bertanggung jawab, pendekatan ini berpotensi meningkatkan kualitas diagnosis, memperkuat layanan kesehatan, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup pasien. Tantangan yang ada bukan penghalang, melainkan landasan untuk inovasi yang lebih matang dan berdampak nyata.
Daftar Pustaka
Suprijanto. (2022). Pendekatan multivisis dalam instrumentasi pencitraan medis untuk peningkatan diagnosis dan layanan kesehatan. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.
Webb, A. (2017). Introduction to biomedical imaging. John Wiley & Sons.
Prince, J. L., & Links, J. M. (2015). Medical imaging signals and systems. Pearson.
Bushberg, J. T., Seibert, J. A., Leidholdt, E. M., & Boone, J. M. (2012). The essential physics of medical imaging. Lippincott Williams & Wilkins.
Hendee, W. R., & Ritenour, E. R. (2002). Medical imaging physics. Wiley-Liss.
Petersen, S. E., & Frangi, A. F. (2017). Computational cardiac imaging: Modeling, segmentation, and clinical applications. Springer.
Cherry, S. R., Sorenson, J. A., & Phelps, M. E. (2012). Physics in nuclear medicine. Elsevier.
Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 12 Januari 2026
1. Pendahuluan
Peradangan merupakan respons biologis yang hampir selalu menyertai berbagai kondisi patologis, mulai dari infeksi hingga penyakit degeneratif kronis. Meskipun bukan penyebab utama penyakit, proses inflamasi sering menjadi faktor yang menurunkan kualitas hidup pasien melalui rasa nyeri, demam, pembengkakan, dan gangguan fungsi jaringan. Karena itu, obat antiradang memegang peran sentral dalam praktik medis sehari-hari.
Sejak ditemukannya asam asetilsalisilat pada akhir abad ke-19, obat antiradang nonsteroid atau NSAID menjadi salah satu kelompok obat yang paling luas digunakan di dunia. Obat-obat ini efektif meredakan nyeri dan inflamasi, relatif murah, dan mudah diakses. Namun, keberhasilan klinis tersebut diiringi persoalan klasik berupa efek samping, terutama pada saluran cerna dan sistem kardiovaskular, khususnya pada penggunaan jangka panjang.
Artikel ini menganalisis upaya penemuan dan pengembangan obat antiradang yang lebih aman melalui pendekatan senyawa hibrid NO-NSAID. Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan NSAID sepenuhnya, melainkan untuk mengatasi keterbatasan mendasar dari obat-obat yang sudah ada. Dengan menempatkan inovasi farmasi dalam kerangka naratif penemuan obat, pembahasan ini menyoroti bagaimana ilmu kimia medisinal, farmakologi, dan pemahaman fisiologi saling berinteraksi dalam pencarian obat generasi baru
2. NSAID, Inflamasi, dan Batasan Keamanan Klinis
Secara farmakologis, NSAID bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase yang berperan dalam biosintesis prostaglandin. Prostaglandin dikenal sebagai mediator utama inflamasi, nyeri, dan demam. Dengan menurunkan produksi senyawa ini, NSAID mampu meredakan gejala peradangan secara efektif. Mekanisme inilah yang menjadikan NSAID sebagai standar terapi untuk berbagai kondisi inflamasi.
Namun, prostaglandin tidak hanya terlibat dalam proses patologis. Dalam kondisi fisiologis normal, prostaglandin berperan penting dalam menjaga integritas mukosa saluran cerna, aliran darah ginjal, dan fungsi kardiovaskular. Penghambatan produksi prostaglandin secara sistemik menjelaskan mengapa penggunaan NSAID sering dikaitkan dengan tukak lambung, perdarahan saluran cerna, dan gangguan organ lain.
Upaya mengatasi masalah ini pernah diarahkan pada pengembangan inhibitor selektif siklooksigenase-2. Pendekatan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa isoenzim tertentu lebih dominan dalam kondisi inflamasi, sementara isoenzim lainnya berperan dalam fungsi protektif tubuh. Meskipun pendekatan ini sempat dianggap menjanjikan, pengalaman klinis menunjukkan bahwa selektivitas enzim bukanlah solusi final, karena muncul risiko kardiovaskular yang tidak dapat diabaikan.
Kondisi ini memperlihatkan batasan pendekatan konvensional dalam penemuan obat antiradang. Masalah keamanan tidak dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan potensi atau selektivitas target molekuler. Diperlukan pendekatan yang lebih integratif, yang mempertimbangkan keseimbangan antara efek terapeutik dan mekanisme protektif fisiologis tubuh. Di sinilah gagasan penggabungan fungsi antiradang dengan pelepasan molekul protektif mulai memperoleh relevansinya dalam riset obat modern.
3. Nitric Oxide sebagai Molekul Protektif dan Dasar Pendekatan Hibrid
Nitric oxide merupakan molekul kecil dengan peran biologis yang sangat luas. Dalam sistem fisiologis, nitric oxide berfungsi sebagai mediator sinyal yang mengatur berbagai proses penting, termasuk vasodilatasi, aliran darah lokal, dan perlindungan mukosa saluran cerna. Keberadaan molekul ini membantu menjaga keseimbangan antara respons inflamasi dan mekanisme protektif jaringan.
Dalam konteks penggunaan NSAID, penurunan kadar prostaglandin akibat penghambatan enzim siklooksigenase berdampak pada berkurangnya perlindungan mukosa lambung. Di sinilah peran nitric oxide menjadi relevan. Nitric oxide mampu meningkatkan aliran darah mukosa, merangsang sekresi mukus, dan menghambat adhesi leukosit, sehingga membantu mempertahankan integritas jaringan meskipun terjadi stres inflamasi.
Pendekatan farmasi modern kemudian memanfaatkan sifat protektif ini dengan mengaitkan gugus pelepas nitric oxide pada struktur molekul NSAID. Gagasan dasarnya bukan meniadakan efek penghambatan siklooksigenase, melainkan menyeimbangkannya dengan pelepasan nitric oxide secara terkontrol. Dengan demikian, efek terapeutik antiradang tetap dipertahankan, sementara risiko kerusakan jaringan dapat dikurangi.
Pendekatan hibrid ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam penemuan obat. Alih-alih mengejar satu target molekuler dengan selektivitas tinggi, strategi ini menggabungkan dua mekanisme farmakologis yang saling melengkapi dalam satu entitas kimia. Dalam kerangka ini, keamanan tidak lagi diperlakukan sebagai konsekuensi samping, tetapi sebagai tujuan desain sejak tahap awal pengembangan molekul.
4. Senyawa Hibrid NO-NSAID dan Bukti Farmakologi Eksperimental
Pengembangan senyawa hibrid NO-NSAID melibatkan modifikasi struktur kimia NSAID dengan penambahan gugus donor nitric oxide melalui penghubung molekuler tertentu. Desain ini memungkinkan pelepasan nitric oxide secara bertahap di dalam tubuh, sehingga efek protektif dapat berlangsung bersamaan dengan aktivitas antiradang. Tantangan utama dalam tahap ini adalah memastikan stabilitas senyawa serta profil pelepasan yang sesuai dengan kebutuhan terapeutik.
Berbagai studi eksperimental menunjukkan bahwa senyawa hibrid NO-NSAID mempertahankan potensi antiradang yang sebanding dengan NSAID konvensional. Pada saat yang sama, model hewan percobaan memperlihatkan penurunan signifikan kejadian lesi lambung dan gangguan mukosa. Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa pelepasan nitric oxide berkontribusi langsung pada peningkatan profil keamanan obat.
Selain aspek saluran cerna, beberapa penelitian juga mengindikasikan potensi manfaat kardiovaskular dari pendekatan hibrid ini. Efek vasodilatasi nitric oxide dapat membantu menyeimbangkan perubahan hemodinamik yang terkait dengan penghambatan prostaglandin tertentu. Meskipun temuan ini masih memerlukan validasi lebih lanjut dalam studi klinis, hasil awal menunjukkan arah yang menjanjikan.
Namun demikian, pengembangan NO-NSAID tidak lepas dari tantangan. Kompleksitas struktur kimia dan variasi respons biologis antarindividu menuntut evaluasi menyeluruh terhadap farmakokinetika dan farmakodinamik senyawa. Selain itu, translasi dari hasil pra-klinik ke aplikasi klinis memerlukan kehati-hatian agar manfaat keamanan benar-benar terwujud dalam praktik medis. Dengan demikian, NO-NSAID dapat dipandang sebagai bukti konsep yang kuat, tetapi masih berada dalam jalur panjang menuju penerapan klinis luas.
5. Implikasi Penemuan NO-NSAID bagi Pengembangan Obat Modern
Pengembangan senyawa hibrid NO-NSAID membawa implikasi penting bagi arah penemuan obat modern, khususnya dalam mengatasi dilema klasik antara efektivitas dan keamanan. Selama beberapa dekade, pendekatan dominan dalam riset farmasi berfokus pada peningkatan potensi dan selektivitas target molekuler. Pengalaman dengan NSAID menunjukkan bahwa strategi tersebut tidak selalu menghasilkan profil keamanan yang lebih baik ketika target biologis memiliki peran ganda dalam fisiologi dan patologi.
NO-NSAID memperkenalkan cara pandang yang lebih holistik, di mana satu molekul dirancang untuk menjalankan fungsi terapeutik sekaligus fungsi protektif. Pendekatan ini sejalan dengan pemahaman yang semakin matang bahwa sistem biologis bekerja melalui jaringan interaksi yang kompleks. Dengan menggabungkan dua mekanisme yang saling melengkapi, desain obat dapat diarahkan untuk meniru keseimbangan alami tubuh, bukan sekadar memblokir satu jalur biokimia.
Implikasi lain terletak pada metodologi riset dan pengembangan. Penemuan NO-NSAID mendorong kolaborasi lintas disiplin antara kimia medisinal, farmakologi, toksikologi, dan ilmu klinis sejak tahap awal. Keamanan tidak lagi menjadi parameter evaluasi di tahap akhir, tetapi menjadi bagian integral dari proses desain molekul. Perubahan ini berpotensi mengurangi kegagalan pada fase pengembangan lanjut yang selama ini menyerap biaya dan waktu besar.
Di luar konteks NSAID, pendekatan hibrid membuka peluang untuk diterapkan pada kelas obat lain yang memiliki masalah keamanan serupa. Prinsip penggabungan efek terapeutik dan protektif dapat diadaptasi untuk berbagai indikasi, sehingga NO-NSAID dapat dipandang sebagai model konseptual yang lebih luas dalam inovasi farmasi, bukan sekadar solusi spesifik untuk obat antiradang.
6. Refleksi Kritis dan Arah Riset Farmasi ke Depan
Refleksi terhadap pengembangan NO-NSAID menunjukkan bahwa inovasi obat tidak selalu menuntut penemuan target biologis baru. Dalam banyak kasus, kemajuan justru diperoleh melalui pemahaman yang lebih dalam terhadap mekanisme kerja obat yang sudah ada dan cara memodifikasinya agar lebih selaras dengan fisiologi tubuh. Pendekatan ini relevan bagi negara berkembang, di mana kebutuhan akan obat yang efektif, aman, dan terjangkau sangat mendesak.
Namun, optimisme terhadap NO-NSAID perlu diimbangi dengan kehati-hatian ilmiah. Bukti pra-klinik yang menjanjikan tidak secara otomatis menjamin keberhasilan klinis. Variabilitas respons manusia, interaksi obat, dan aspek jangka panjang penggunaan tetap memerlukan evaluasi menyeluruh. Oleh karena itu, riset lanjutan harus dirancang dengan metodologi yang ketat dan berorientasi pada kebutuhan klinis nyata.
Arah riset farmasi ke depan semakin menuntut pendekatan integratif dan berkelanjutan. Pengembangan obat perlu mempertimbangkan aspek keamanan, efektivitas, biaya, dan akses secara bersamaan. Dalam kerangka ini, NO-NSAID merepresentasikan contoh bagaimana ilmu dasar dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang berpotensi berdampak langsung pada praktik klinis dan kualitas hidup pasien.
Sebagai penutup, pengembangan senyawa hibrid NO-NSAID mencerminkan evolusi cara berpikir dalam penemuan obat. Dengan menempatkan keseimbangan biologis sebagai prinsip desain, inovasi farmasi dapat bergerak menuju obat-obatan yang tidak hanya ampuh, tetapi juga lebih aman dan manusiawi. Pendekatan ini membuka ruang bagi masa depan riset obat yang lebih bertanggung jawab dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Daftar Pustaka
Kartasasmita, R. E. (2022). Inovasi senyawa hibrid nitric oxide–NSAID dalam penemuan obat antiradang yang lebih aman. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.
Wallace, J. L., & Del Soldato, P. (2003). The therapeutic potential of NO-NSAIDs. Trends in Pharmacological Sciences, 24(9), 459–464.
Fiorucci, S., Santucci, L., Cirino, G., & Del Soldato, P. (2003). NO-releasing NSAIDs: A review of their pharmacology and therapeutic potential. Drugs, 63(12), 1279–1306.
Wallace, J. L. (2008). Prostaglandins, NSAIDs, and gastric mucosal protection: Why doesn’t the stomach digest itself? Physiological Reviews, 88(4), 1547–1565.
Vane, J. R., Bakhle, Y. S., & Botting, R. M. (1998). Cyclooxygenases 1 and 2. Annual Review of Pharmacology and Toxicology, 38, 97–120.
Ignarro, L. J. (2002). Nitric oxide as a unique signaling molecule in the vascular system: A historical overview. Journal of Physiology and Pharmacology, 53(4), 503–514.
Kesehatan Digital & Inovasi Medis
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 25 November 2025
Transformasi Layanan Kesehatan Indonesia: Menjawab Tantangan Stunting dan Akses Teknologi Medis Modern
Indonesia berada pada fase penting transformasi kesehatan. Pemerintah menargetkan peningkatan mutu layanan, pemerataan akses, dan pergeseran paradigma dari kuratif menuju preventif. Dua isu besar menjadi pusat perhatian: upaya menurunkan stunting yang masih tinggi, serta ketersediaan alat kesehatan modern yang berperan penting dalam deteksi dini dan pencegahan penyakit. Kedua agenda ini saling terkait—status gizi menentukan kualitas kesehatan jangka panjang, sedangkan teknologi medis menentukan kemampuan fasilitas layanan mendeteksi, mengatasi, dan mencegah penyakit secara lebih efisien.
Stunting sebagai Tantangan Pembangunan Jangka Panjang
Stunting di Indonesia telah menurun dari 37,6% pada 2013 menjadi 21,5% pada 2023, namun tren ini masih jauh dari target RPJMN yang menargetkan 14% pada 2024. Data survei kesehatan terbaru menunjukkan penurunan hanya 0,1% dalam satu tahun terakhir, menandakan perlambatan yang mengkhawatirkan.
Stunting sendiri bukan sekadar persoalan tinggi badan, melainkan gangguan pertumbuhan linier pada 1.000 hari pertama kehidupan—fase yang menurut para ahli menentukan perkembangan otak hingga 92% sebelum anak berusia lima tahun. Konsekuensinya bersifat jangka panjang: rendahnya kapasitas belajar, meningkatnya risiko penyakit kronis, dan menurunnya produktivitas ekonomi ketika anak dewasa.
Di Indonesia, faktor penyebab stunting sangat beragam, mulai dari rendahnya praktik pemberian ASI eksklusif, kondisi ekonomi keluarga, kelemahan asupan protein hewani, hingga faktor ibu seperti tinggi badan dan pendidikan. Ketimpangan antarwilayah juga besar; wilayah seperti Papua dan NTT mencatat prevalensi tertinggi, mengindikasikan tantangan struktural dalam akses gizi dan layanan kesehatan. Arah kebijakan nasional melalui National Strategy for Stunting Reduction menekankan kombinasi intervensi spesifik (gizi dan kesehatan langsung) dan intervensi sensitif (air bersih, sanitasi, bantuan sosial, ketahanan pangan). Namun sejumlah indikator belum optimal, termasuk cakupan ASI eksklusif yang masih di bawah target.
Efektivitas Program dan Perdebatan Mengenai Makan Gratis
Pemerintah baru mengusulkan program makan gratis berskala nasional untuk anak sekolah, ibu hamil, dan anak balita. Program semacam ini telah diterapkan di India dan Brasil dengan jangkauan puluhan juta anak. Hasil riset internasional menunjukkan bahwa program makan sekolah dapat meningkatkan partisipasi, capaian akademik, dan kualitas diet. Namun efektivitasnya terhadap stunting tidak selalu langsung, karena sebagian besar peserta sudah melewati jendela emas 1.000 hari.
Pakar nutrisi dalam laporan menekankan bahwa makan gratis dapat bermanfaat jika dirancang dengan pendekatan berbasis bukti, misalnya: asupan protein hewani setiap hari (yang dapat menurunkan risiko stunting hingga 3,7%), suplementasi tinggi protein khusus untuk anak yang sudah stunting, serta pemantauan kualitas menu secara ketat. Belajar dari negara lain, kualitas pengolahan dan standar gizi sering menjadi titik lemah yang harus diawasi.
Isu biaya juga penting. Program makan gratis merupakan program berbiaya tinggi—Indonesia mengalokasikan hingga Rp71 triliun pada 2025. Tanpa mekanisme pemantauan yang kuat, efektivitas dan efisiensi anggaran berisiko rendah. Karena itu, laporan merekomendasikan agar fokus awal tetap diarahkan pada ibu hamil dan anak balita, bukan siswa sekolah semata.
Peran Protein Hewani, PKMK, dan Pelibatan Sektor Swasta
Penelitian menunjukkan bahwa defisit asupan asam amino esensial dari sumber hewani merupakan faktor penting dalam stunting. Intervensi berbasis susu, telur, ayam, atau ikan terbukti meningkatkan keberhasilan program pencegahan. Dari sisi medis, Processed Food for Special Medical Purposes (PKMK/FSMP) menjadi elemen penting bagi anak yang sudah mengalami stunting, karena menyediakan formula tinggi protein yang dirancang khusus untuk kebutuhan medis.
Sektor swasta berpotensi besar mendukung upaya pemerintah melalui penyediaan produk nutrisi medis yang terbukti secara klinis meningkatkan berat dan tinggi badan anak dalam dua minggu konsumsi. Namun mekanisme partisipasinya belum jelas—berbeda dari obat-obatan yang sudah memiliki ekosistem FORNAS atau e-Catalog. Ketiadaan regulasi khusus membuat kolaborasi berjalan sporadis. Karena itu, laporan menyarankan adanya pedoman ilmiah, format kolaborasi, dan skema pembiayaan yang memungkinkan pemerintah menggandeng perusahaan penyedia nutrisi medis untuk memperkuat intervensi gizi nasional.
Kebutuhan Teknologi Medis Modern dalam Strategi Preventif
Transformasi kesehatan Indonesia menempatkan pencegahan sebagai pilar utama. Fokus ini menuntut ketersediaan alat kesehatan diagnostik modern—seperti CT-scan, PET-scan, dan MRI—di seluruh fasilitas layanan. Namun kapasitas produksi dalam negeri masih rendah, sehingga Indonesia bergantung pada impor untuk teknologi berteknologi tinggi.
Pasar alat kesehatan Indonesia mencapai USD 1,43 miliar pada 2023, tetapi pembatasan impor melalui kebijakan Local Content Requirement (LCR) justru menghambat akses terhadap teknologi medis modern. Banyak alat kesehatan canggih tidak bisa diproduksi di dalam negeri karena membutuhkan mesin, teknologi, dan sumber daya manusia yang belum tersedia. Ketika impor diperketat, rumah sakit kesulitan memperoleh peralatan diagnostik yang diperlukan untuk deteksi dini penyakit kronis seperti kanker, jantung, dan diabetes. Hasilnya, kualitas layanan preventif menurun dan ketidaksetaraan akses semakin besar.
Kritik atas Kebijakan LCR dan Dampaknya terhadap Sistem Kesehatan
LCR diberlakukan dengan tujuan mulia—menguatkan produksi dalam negeri. Namun pendekatannya yang seragam pada semua jenis perangkat, dari masker hingga MRI, menciptakan hambatan struktural. Klasifikasi alat sebagai produk lokal (AKD) atau impor (AKL) membuat alat berteknologi tinggi sulit masuk pasar karena tidak dapat memenuhi syarat sertifikasi LCR.
Akibatnya, biaya alat meningkat karena produsen lokal memproduksi dengan teknologi terbatas, sementara alat impor dibatasi. Kenaikan harga akhirnya dibebankan kepada rumah sakit dan pasien. Studi terkini bahkan menunjukkan bahwa LCR dapat meningkatkan biaya input domestik dan menurunkan efisiensi industri. Ketika teknologi medis tertinggal, risiko misdiagnosis dan keterlambatan penanganan meningkat—situasi yang bertentangan dengan arah transformasi kesehatan yang ingin memperluas deteksi dini.
Belajar dari Negara Lain dalam Pengembangan Industri Alat Kesehatan
Negara seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan Uni Eropa menunjukkan bahwa keberhasilan industri alat kesehatan bergantung pada kebijakan yang mendukung inovasi dan investasi, bukan pembatasan impor. Tiongkok memulai pembangunan industrinya melalui kebijakan open door yang membuka akses investasi asing dan transfer teknologi. AS menguatkan industri melalui pendanaan riset besar-besaran dan proteksi hak paten, sementara Uni Eropa menekankan harmonisasi regulasi, keamanan produk, dan jejaring riset lintas negara.
Pelajaran utamanya jelas: negara-negara tersebut tidak bertumpu pada LCR sebagai instrumen utama. Mereka membangun ekosistem yang memungkinkan industri tumbuh, mulai dari insentif riset, spesialisasi produksi, hingga standardisasi mutu yang ketat. Indonesia masih berada pada tahap awal—memproduksi perangkat sederhana dan membangun kapasitas dasar. Karena itu, laporan menyarankan agar kebijakan jangka pendek difokuskan pada transfer teknologi, liberalisasi input produksi, dan penciptaan ekosistem riset, bukan memaksakan produksi lokal perangkat kompleks.
Kesimpulan: Jalan Panjang Menuju Sistem Kesehatan yang Kokoh
Indonesia menghadapi dua tantangan kesehatan utama: meningkatkan gizi anak melalui intervensi yang efektif, dan memastikan ketersediaan alat kesehatan modern untuk memperkuat pendekatan preventif. Untuk meraih kemajuan signifikan, pemerintah perlu memperbaiki alokasi anggaran gizi, menata ulang program makan gratis agar lebih tepat sasaran, melibatkan sektor swasta secara terstruktur, dan membuka akses terhadap teknologi medis mutakhir dengan merevisi kebijakan LCR.
Kemajuan tidak akan datang dari satu kebijakan tunggal, tetapi dari ekosistem kebijakan yang terkoordinasi dan berbasis bukti. Jika langkah-langkah tersebut dilakukan, Indonesia berpeluang besar membangun sistem kesehatan yang lebih modern, inklusif, dan resilient.
Daftar Pustaka
ABC Sector Overview Report – Healthcare Sector (pp. 82–103).