1. Pendahuluan
Penyakit asam urat sering dianggap sepele. Banyak orang menganggapnya hanya “nyeri sendi yang datang sesekali” dan akan hilang kalau minum obat. Tetapi orasi ilmiah Prof. Muhamad Insanu memposisikan hiperurisemia secara lebih serius: ia bukan sekadar rasa sakit, melainkan pintu masuk menuju rangkaian masalah metabolik yang lebih besar.
Hiperurisemia adalah kondisi ketika kadar asam urat dalam darah meningkat karena produksi berlebih dan/atau ekskresi yang tidak mencukupi, bahkan pada pola makan yang dianggap normal. Dalam orasi ini disebutkan batas praktisnya: kadar asam urat maksimal sekitar 7 mg/dL pada laki-laki dan 5,7 mg/dL pada perempuan.
Yang menarik, Prof. Insanu tidak hanya menjelaskan definisi klinis. Ia menempatkan asam urat dalam “peta besar” penyakit kronis. Disebutkan bahwa asam urat termasuk penyakit kronis terbesar keempat setelah hipertensi, hiperglikemia, dan hiperlipidemia. Artinya, asam urat tidak berdiri sendiri. Ia berjalan beriringan dengan pola hidup modern: konsumsi tinggi, aktivitas rendah, dan metabolisme yang semakin terganggu.
Tetapi bagian yang paling penting justru bukan angka uratnya. Bagian yang paling membahayakan adalah komorbiditasnya: penyakit penyerta yang membentuk semacam lingkaran setan. Dalam orasi ini disebutkan beberapa komorbiditas yang sering terkait, termasuk penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, obesitas, diabetes, hipertensi, serta sindrom metabolik.
Jika dilihat dari sudut pandang orang awam, asam urat baru dianggap “serius” ketika sudah menyerang kaki dan membuat sendi membengkak, memerah, dan sakit luar biasa. Prof. Insanu menjelaskan bahwa kondisi ini bisa meningkat menjadi gout, dan meskipun tidak selalu mematikan, rasa sakitnya dapat mengganggu kualitas hidup secara ekstrem. Bahkan jika dibiarkan, gout bisa memicu terbentuknya benjolan yang disebut tofi.
Di sinilah riset menjadi relevan. Karena banyak orang bisa hidup bertahun-tahun dengan asam urat tinggi, tetapi tanpa sadar mereka sedang berjalan menuju komplikasi. Dan ketika komplikasi muncul, biaya kesehatan meningkat, produktivitas turun, dan hidup jadi lebih rapuh.
Namun muncul pertanyaan yang mungkin juga akan muncul di kepala pembaca pekerja: kalau obat asam urat sudah ada dan murah, mengapa masih perlu riset?
Prof. Insanu menjawabnya dengan cara yang praktis dan jujur: masalah utamanya bukan ketersediaan obat, tetapi efek samping dan keterbatasan terapi pada sebagian pasien.
Artinya, penelitian obat alternatif dari tumbuhan bukan proyek romantik. Ia adalah upaya mencari opsi terapi yang lebih aman, lebih cocok untuk variasi kondisi pasien, sekaligus membuka peluang pemanfaatan kekayaan hayati Indonesia yang masih jauh dari maksimal. Dan ketika riset ini dilakukan oleh peneliti farmasi, tujuan akhirnya bukan sekadar membuktikan “tanaman ini punya aktivitas”, tetapi membangun jalur pembuktian ilmiah dari pengetahuan tradisional menuju kandidat produk kesehatan yang kredibel.
2. Mengapa Tanaman Obat Masuk Akal untuk Asam Urat: Celah antara Terapi Standar dan Kebutuhan Pasien
Bagian menarik dari orasi Prof. Insanu adalah cara ia menjelaskan manajemen terapi hiperurisemia. Ia membaginya menjadi dua jalur besar: nonfarmakologi dan farmakologi.
Nonfarmakologi adalah terapi tanpa obat, yang secara praktik berarti memperbaiki pola makan, menurunkan berat badan, menghindari makanan tinggi purin, serta meningkatkan aktivitas fisik. Jalur ini terdengar ideal, tetapi realitasnya sulit. Banyak pasien memahami anjurannya, tetapi tidak bisa konsisten. Dan di sinilah hiperurisemia sering bertahan lama: bukan karena pasien tidak tahu, tetapi karena perilaku makan dan gaya hidup lebih sulit diubah daripada mengganti obat.
Farmakologi adalah terapi dengan obat, dan dalam orasi ini dijelaskan beberapa kategori utama:
-
anti nyeri, seperti naproksen, natrium diklofenak, kolkisin, dan prednison
-
penghambat pembentukan asam urat, yaitu inhibitor xanthine oxidase seperti allopurinol
-
urikosurik, yang membantu pengeluaran asam urat melalui urin seperti probenesid
-
konversi asam urat menjadi zat lain yang lebih larut seperti peglotikase yang mengubah asam urat menjadi allantoin
Ini peta terapi yang sangat masuk akal secara klinis. Tetapi lagi-lagi, masalah nyata muncul pada pengalaman pasien.
Prof. Insanu menjelaskan alasan mengapa riset tumbuhan obat menjadi penting: efek samping dari obat-obat tersebut. Salah satu contoh efek samping yang ia sebutkan adalah munculnya kemerahan di bibir, yang semakin meningkat ketika konsumsi obat juga meningkat.
Di titik ini, kita melihat celah kebutuhan. Obat yang murah belum tentu cocok untuk semua orang. Obat yang efektif belum tentu nyaman untuk penggunaan jangka panjang. Dan penyakit metabolik seperti hiperurisemia sering membutuhkan pengelolaan yang konsisten, bukan penanganan sesaat. Karena itu, riset tanaman obat diarahkan ke tiga tujuan besar:
-
mencari alternatif obat penurun asam urat
-
memberikan pembuktian ilmiah untuk tumbuhan obat tradisional penurun asam urat
-
meningkatkan aktivitas ekstrak atau senyawa aktif dari tanaman
Metode eksplorasi yang dipakai juga memperlihatkan bahwa riset ini tidak berjalan asal coba. Prof. Insanu menyebut pendekatan seperti telaah pustaka, studi etnofarmakologi, dan mini survei untuk pencarian tanaman.
Sementara pengujiannya dilakukan lewat dua jalur:
-
pengujian in vitro, misalnya lewat tabung reaksi untuk melihat penghambatan enzim tertentu
-
pengujian in vivo, menggunakan hewan uji untuk melihat efek biologisnya
Ini penting karena banyak klaim tanaman obat berhenti di level “katanya ampuh”. Tetapi riset farmasi menuntut pembuktian berlapis: mekanisme, aktivitas, keamanan, dan konsistensi.
Selain itu, orasi ini menyebut fakta besar yang sering jadi kebanggaan sekaligus tantangan: Indonesia memiliki sekitar 19.000 tanaman obat, 16.000 di antaranya sudah diidentifikasi, dan 9.600 diketahui memiliki khasiat obat. Tetapi hanya sekitar 200 tanaman yang benar-benar digunakan dalam industri obat tradisional. Angka ini seperti alarm halus: Indonesia kaya bahan, tetapi miskin hilirisasi.
Dari sisi pekerja industri, data ini adalah peluang ekonomi. Dari sisi akademisi, data ini adalah daftar panjang pekerjaan rumah. Dari sisi pemerintah, ini mengarah pada agenda kemandirian bahan baku obat.
Dan di sinilah riset anti-hiperurisemia menjadi contoh yang konkret: satu penyakit, satu target enzim, lalu eksplorasi tanaman dari berbagai daerah dan tradisi pengobatan untuk menemukan kandidat terbaik.
3. Studi Kasus Tanaman Indonesia: Dari Papua sampai Makassar, Dari Halaman Rumah sampai Tradisi Lokal
Salah satu kekuatan orasi Prof. Muhamad Insanu adalah cara ia menyusun riset anti-hiperurisemia sebagai kerja eksplorasi yang nyata dan sangat “Indonesia”. Bukan sekadar mencari kandidat obat dari literatur luar negeri, tetapi menggali tanaman yang sudah digunakan masyarakat, lalu diuji dengan pendekatan farmasi modern.
Pola kerjanya konsisten: ada pengetahuan tradisional, ada pengujian aktivitas, lalu ada tahap isolasi senyawa untuk memastikan komponen apa yang benar-benar berperan.
Berikut enam contoh kasus yang dipaparkan dalam orasi.
3.1 Sarang Semut Papua: Tradisi Lokal yang Dibuktikan Lewat Penghambatan Xanthine Oxidase
Sarang semut dari Papua adalah contoh yang menarik karena ia bukan “tanaman populer” seperti jahe atau kunyit. Sarang semut dikenal dan digunakan secara tradisional di Papua, tetapi secara ilmiah perlu dipastikan mana spesies yang memang paling aktif.
Prof. Insanu menjelaskan bahwa “sarang semut” ternyata tidak hanya satu jenis, melainkan terdiri dari beberapa spesies. Karena itu, timnya menguji satu per satu untuk melihat mana yang paling baik dalam menghambat enzim xanthine oxidase, enzim kunci dalam pembentukan asam urat.
Hasilnya, salah satu spesies menunjukkan aktivitas terbaik, yaitu sarang semut dengan spesies Myrmecodia tuberosa. Setelah itu, tim melakukan isolasi senyawa dan berhasil memperoleh tiga senyawa yang aktif dalam penghambatan asam urat.
Di sini terlihat pentingnya proses ilmiah: masyarakat sudah punya praktik penggunaan, tetapi riset memberi validasi sekaligus memisahkan bagian yang “benar-benar bekerja” dari yang hanya kebetulan dipercaya.
3.2 Idat dari Riau: Dari Tradisi Sumatera ke Satu Senyawa Aktif
Studi kasus berikutnya datang dari Riau, Sumatera. Prof. Insanu menyebut tanaman idat sebagai kandidat yang dibawa dari daerah tersebut, kemudian diteliti lebih lanjut.
Hasilnya, dari tanaman ini tim berhasil mengisolasi satu senyawa yang menunjukkan aktivitas penghambatan asam urat.
Kasus idat ini menarik karena menunjukkan bahwa riset tanaman obat tidak selalu harus dimulai dari tanaman yang sudah dikenal secara nasional. Justru banyak tanaman lokal yang potensinya besar, tetapi baru terlihat ketika ada jembatan antara pengetahuan tradisional dan metode riset farmasi.
3.3 Jambu Air: Tanaman “Dekat Sekali” yang Ternyata Punya Aktivitas
Jika sarang semut Papua dan idat terasa eksotis karena konteks wilayahnya, jambu air justru kebalikannya. Prof. Insanu mengingatkan bahwa jambu air sering ada di halaman rumah. Namun kedekatan ini tidak otomatis membuatnya dipahami secara ilmiah.
Dalam risetnya, tim menggunakan daun jambu air, lalu berhasil mengisolasi satu senyawa yang aktif sebagai anti asam urat.
Ini memberi pesan sederhana tetapi kuat: tanaman yang selama ini kita lihat sebagai buah konsumsi harian bisa mengandung komponen bioaktif yang relevan untuk penyakit metabolik.
3.4 Buah Malaka (Phyllanthus emblica): Kandidat Tradisional dengan Aktivitas In Vivo
Buah malaka, atau Phyllanthus emblica, disebut digunakan secara tradisional di Sumatera. Dari riset yang dipaparkan, tim berhasil mengisolasi satu senyawa, lalu dilakukan upaya untuk meningkatkan aktivitasnya dalam penanganan asam urat.
Yang penting, buah malaka juga ditunjukkan aktif secara in vivo dalam penanganan asam urat, dengan dukungan kolaborasi bidang farmakologi.
Ini poin penting, karena banyak kandidat tanaman “bagus” di tahap in vitro tetapi melemah ketika masuk sistem biologis yang lebih kompleks. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa efeknya lebih realistis untuk pengembangan lanjutan.
3.5 Sidaguri: Dua Senyawa Flavonoid Glikosida dan Variasi Kandungan Berdasarkan Lokasi
Sidaguri menjadi studi kasus yang sangat kaya karena memperlihatkan dua hal sekaligus: isolasi senyawa aktif dan variasi kandungan akibat lingkungan tumbuh.
Prof. Insanu menyebut riset ini sebagai kolaborasi beberapa kampus di Indonesia, dan dari sidaguri berhasil diisolasi dua senyawa flavonoid glikosida.
Lalu bagian menariknya: sidaguri yang tampak “sama” ternyata kandungannya bisa berbeda tergantung lokasi dan ketinggian. Dalam orasi disebutkan perbandingan sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat seperti Lembang, Subang, Banjaran, dan Sukabumi, dan disimpulkan bahwa kandungannya berbeda pada ketinggian yang berbeda.
Dari perspektif industri herbal, ini bukan detail kecil. Ini menyentuh isu standarisasi bahan baku, salah satu masalah terbesar dalam hilirisasi obat tradisional. Tanpa standar kualitas, produk berbasis tanaman bisa berubah-ubah efeknya antar batch.
3.6 Parang Romang: Dari Makassar ke Kajian In Silico Menuju Publikasi Lanjut
Studi kasus terakhir yang disebut Prof. Insanu adalah Parang Romang, yang datang dari Makassar. Tim melakukan isolasi, dan juga melakukan kajian in silico untuk memahami aktivitasnya. Hasilnya sedang diupayakan untuk dipublikasikan di jurnal yang lebih baik.
Di bagian ini, terlihat bahwa riset anti-hiperurisemia tidak berhenti pada “tanaman A bekerja”, tetapi bergerak menuju pemahaman mekanistik dan peluang publikasi yang lebih kuat.
Dan kalau semua studi kasus ini dirangkum, pola besarnya terasa jelas: Indonesia punya banyak kandidat, dan riset ilmiah bertugas memilah mana yang paling menjanjikan, mengisolasi senyawa aktif, lalu menyiapkan jalan menuju hilirisasi.
4. Mengapa Flavonoid Jadi Kunci Aktivitas: Struktur Kimia, Gugus Hidroksil, dan Efek Gula pada Penurunan Aktivitas
Setelah memaparkan berbagai studi kasus, Prof. Insanu menyimpingkan satu benang merah yang mengikat sebagian besar kandidat tanaman tersebut: banyak aktivitas anti-hiperurisemia berkaitan dengan golongan flavonoid.
Ini bukan klaim lepas, tetapi observasi yang masuk akal dalam kimia farmasi. Karena flavonoid merupakan kelompok senyawa yang luas dan sering terlibat dalam aktivitas biologis berbagai tanaman.
Dalam orasi, Prof. Insanu menjelaskan bahwa flavonoid yang aktif sebagai anti asam urat terutama berasal dari golongan flavon dan flavonol.
Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi “flavonoid itu apa”, tapi “mengapa golongan ini bisa efektif?”
Jawabannya muncul dari struktur kimia.
4.1 Struktur dasar flavonoid menentukan interaksi dengan target enzim
Flavonoid memiliki kerangka struktur yang memungkinkan interaksi dengan enzim-enzim tertentu, termasuk xanthine oxidase. Dalam konteks hiperurisemia, menghambat enzim ini berarti menekan proses pembentukan asam urat.
Walaupun orasi tidak masuk ke detail mekanisme docking satu per satu, arah pesannya jelas: struktur menentukan aktivitas, dan aktivitas ini bisa diprediksi serta diuji.
4.2 Gugus hidroksil (–OH) meningkatkan aktivitas
Prof. Insanu menegaskan bahwa keberadaan gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas flavonoid sebagai anti asam urat.
Secara analitis, ini masuk akal karena gugus hidroksil sering memengaruhi:
-
kemampuan senyawa membentuk ikatan hidrogen
-
kelarutan dalam medium biologis tertentu
-
afinitas interaksi dengan situs aktif enzim
Maka bukan hanya “nama senyawanya” yang penting, tetapi posisi dan jumlah gugus –OH di struktur tersebut.
4.3 Penambahan gula (glikosida) justru menurunkan aktivitas
Bagian ini menarik karena sering bertentangan dengan persepsi awam. Banyak orang mengira semakin “kompleks” senyawa, semakin kuat efeknya. Padahal Prof. Insanu menyebut bahwa penambahan gula pada gugus flavonoid justru menurunkan aktivitasnya.
Dalam bahasa yang sederhana: flavonoid aglikon (tanpa gula) cenderung lebih aktif, sedangkan flavonoid glikosida (dengan gula) aktivitasnya bisa turun.
Bagi riset tanaman, poin ini penting karena dua hal:
-
ekstrak tanaman bisa kaya glikosida, tetapi efeknya tidak selalu sekuat yang diperkirakan
-
jika ingin meningkatkan aktivitas, riset bisa diarahkan ke pemurnian aglikon atau modifikasi struktur
Dan ini nyambung dengan arah riset lanjutan yang disebut Prof. Insanu: mengarah ke metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.
Artinya, riset tidak berhenti pada eksplorasi bahan, tetapi bergerak ke optimasi: bagaimana membuat kandidat terbaik menjadi lebih efektif, lebih konsisten, dan lebih siap diproduksi.
5. Tantangan Hilirisasi Tanaman Anti-Asam Urat: Standarisasi, Reproducibility, dan Realitas Industri
Kalau bagian studi kasus memberi kesan bahwa Indonesia punya banyak kandidat tanaman anti-hiperurisemia, bagian berikutnya membuat kita berpikir lebih realistis: mengapa kekayaan kandidat itu belum otomatis berubah menjadi produk yang kuat di pasar, atau bahkan menjadi bahan baku farmasi yang benar-benar mapan.
Jawabannya ada pada hilirisasi.
Hilirisasi bukan sekadar “membuat produk herbal” dan menjualnya. Hilirisasi adalah proses panjang yang memastikan bahwa sebuah kandidat bahan alam bisa:
-
konsisten kandungannya
-
konsisten efek biologisnya
-
aman dikonsumsi dalam jangka panjang
-
punya bukti ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan
-
dapat diproduksi dalam skala industri
Dan orasi Prof. Muhamad Insanu memberi beberapa petunjuk yang sangat nyata tentang tantangan itu.
5.1 Variasi kandungan antar lokasi: tanaman yang sama belum tentu kualitasnya sama
Kasus sidaguri yang dipaparkan sebelumnya adalah contoh yang sangat jelas. Sidaguri dari beberapa wilayah Jawa Barat menunjukkan kandungan yang berbeda pada ketinggian yang berbeda. Ini berarti bahan baku tanaman bersifat sensitif terhadap lingkungan tumbuh.
Di dunia industri, variasi seperti ini adalah masalah besar. Karena konsumen, dokter, atau sistem kesehatan tidak bisa menerima produk yang efeknya “kadang terasa, kadang tidak”.
Maka hilirisasi selalu bertemu dengan pertanyaan standar:
-
bagian mana dari tanaman yang dipakai? daun, akar, batang, atau buah?
-
kapan tanaman dipanen?
-
ditanam di mana, dengan kondisi tanah seperti apa?
-
bagaimana proses pengeringan dan penyimpanannya?
-
bagaimana metode ekstraksi agar konsisten?
Jawaban atas pertanyaan ini yang menentukan apakah kandidat tanaman bisa bergerak dari “hasil penelitian” menjadi “produk yang bisa diandalkan”.
5.2 Reproducibility: riset harus bisa diulang dengan hasil yang mirip
Di tahap penelitian, penemuan satu senyawa aktif adalah pencapaian besar. Tetapi industri akan bertanya hal lain: bisa tidak hasil ini diulang?
Konsistensi bukan hanya soal kadar senyawa, tetapi soal performa biologis. Misalnya, jika ekstrak sarang semut Papua menunjukkan penghambatan xanthine oxidase yang baik, industri akan membutuhkan standar produksi agar efektivitas itu stabil, bukan hanya muncul pada batch tertentu.
Inilah alasan mengapa studi yang mengisolasi senyawa aktif punya nilai strategis. Ketika senyawa aktif sudah diketahui, proses standarisasi menjadi lebih mungkin dilakukan, karena pengukuran bisa dipusatkan pada marker compound.
5.3 Dari in vitro ke in vivo: banyak kandidat “bagus” gugur di tahap tubuh nyata
Prof. Insanu membedakan pengujian tanaman menjadi in vitro dan in vivo. Ini menegaskan bahwa keberhasilan di tabung reaksi belum tentu bertahan dalam sistem biologis yang kompleks.
Di tubuh, senyawa menghadapi masalah seperti:
-
penyerapan di saluran cerna
-
metabolisme hati
-
ikatan dengan protein plasma
-
distribusi ke jaringan
-
eliminasi lewat ginjal atau empedu
-
interaksi dengan senyawa lain dalam ekstrak
Itulah sebabnya kasus buah malaka menjadi penting karena menunjukkan aktivitas in vivo. Aktivitas in vivo memberi sinyal bahwa kandidat tersebut tidak hanya “kuat di teori”, tetapi punya peluang lebih tinggi untuk menjadi terapi yang relevan.
5.4 Optimasi aktivitas: senyawa aktif belum tentu langsung optimal untuk terapi
Bagian tentang flavonoid menunjukkan bahwa aktivitas ditentukan oleh struktur. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sedangkan penambahan gula dapat menurunkan aktivitas.
Ini memberi arah strategis untuk pengembangan lanjutan. Jika flavonoid glikosida kurang aktif, maka riset bisa mencari:
-
bentuk aglikonnya
-
cara meningkatkan proporsi senyawa aktif tertentu
-
metode ekstraksi yang lebih selektif
-
modifikasi struktur dan modifikasi sediaan
Orasi Prof. Insanu juga menyebut arah riset lanjutan menuju metabolomik, hilirisasi, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan. Ini menegaskan bahwa perjalanan obat herbal modern bukan berhenti di “tanaman mana yang manjur”, tetapi berlanjut ke “bagaimana membuatnya stabil dan kuat”.
5.5 Realitas kebutuhan masyarakat: terapi alternatif harus aman dan bisa dipakai jangka panjang
Hiperurisemia adalah kondisi yang sering butuh pengelolaan panjang. Di banyak pasien, masalahnya bukan serangan gout sekali dua kali, tetapi kadar asam urat yang bertahan tinggi bertahun-tahun. Terapi yang dibutuhkan bukan sekadar cepat, tetapi bisa dipakai konsisten.
Di sinilah tanaman obat punya peluang, tetapi juga punya tuntutan yang sama: keamanan jangka panjang, konsistensi, dan interaksi obat memastikan ia tidak menambah risiko.
Maka, penelitian Prof. Insanu bisa dibaca sebagai upaya memperluas “ruang aman” terapi: menyediakan alternatif bagi pasien yang tidak cocok dengan terapi tertentu, atau membutuhkan pendekatan yang lebih toleran.
6. Kesimpulan: Riset Tanaman Anti-Hiperurisemia adalah Jalan Ilmiah untuk Memperluas Pilihan Terapi, Bukan Sekadar Tren Herbal
Orasi Prof. Muhamad Insanu memperlihatkan bahwa riset tanaman anti-hiperurisemia bukan proyek yang berdiri di pinggir farmasi modern. Ia justru bergerak di pusat kebutuhan masyarakat, karena hiperurisemia adalah penyakit metabolik yang luas dampaknya dan sering berkaitan dengan berbagai komorbiditas seperti gangguan kardiovaskular dan ginjal.
Terapi standar untuk hiperurisemia sudah tersedia, tetapi tidak semua pasien cocok dengan obat yang sama, terutama karena faktor efek samping dan kebutuhan penggunaan jangka panjang. Di sinilah eksplorasi tanaman menjadi relevan sebagai jalur ilmiah untuk memperluas pilihan terapi.
Melalui studi kasus seperti sarang semut Papua, idat dari Riau, jambu air, buah malaka, sidaguri, dan Parang Romang, orasi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kandidat yang sangat beragam, dari tradisi lokal sampai tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Riset tidak berhenti pada klaim, tetapi bergerak melalui pengujian in vitro dan in vivo, serta isolasi senyawa aktif untuk memastikan komponen mana yang benar-benar berperan.
Benang merah pentingnya terletak pada flavonoid, khususnya flavon dan flavonol, di mana struktur kimia menentukan aktivitas. Gugus hidroksil dapat meningkatkan aktivitas, sementara penambahan gula dapat menurunkan aktivitas. Ini membuka ruang untuk optimasi melalui pendekatan modern seperti metabolomik, modifikasi struktur, dan modifikasi sediaan.
Namun, orasi ini juga mengingatkan bahwa tantangan terbesar sering muncul pada tahap hilirisasi: standarisasi bahan baku, variasi kandungan berdasarkan lokasi tumbuh, reproducibility hasil, serta kebutuhan bukti keamanan jangka panjang. Tanaman yang aktif tidak otomatis menjadi produk yang siap dipakai, kecuali dibangun melalui sistem riset dan produksi yang matang.
Bagi mahasiswa, orasi ini memberi pelajaran bahwa farmasi bahan alam bukan sekadar “mencari tanaman manjur”, tetapi membangun bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Bagi pekerja, terutama yang bergerak di industri obat tradisional atau kesehatan, orasi ini menunjukkan peluang besar Indonesia: kekayaan hayati bukan hanya aset ekologis, tetapi juga aset kesehatan dan ekonomi, jika hilirisasi dilakukan dengan disiplin.
Pada akhirnya, penelitian tanaman anti-hiperurisemia adalah salah satu contoh penting bahwa keunggulan Indonesia bisa dibangun bukan dengan meniru, tetapi dengan memaksimalkan apa yang kita miliki melalui proses ilmiah yang kuat.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Muhamad Insanu: Eksplorasi Tanaman Berpotensi Anti-Hiperurisemia. 2024.
Dalbeth, N., Merriman, T. R., & Stamp, L. K. Gout. Lancet. 2016.
Richette, P., & Bardin, T. Gout. The Lancet. 2010.
World Health Organization. Traditional Medicine Strategy. Edisi terbaru. (diakses 2026).
European League Against Rheumatism (EULAR). Evidence-based recommendations for the diagnosis and management of gout. (diakses 2026).