Ilmu Olahraga
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 20 Januari 2026
1. Pendahuluan
Ada satu ironi yang sering tidak terlihat dalam kehidupan kampus: semakin tinggi kualitas akademik sebuah institusi, semakin besar ilusi bahwa pengembangan manusia cukup dilakukan lewat otak. Padahal manusia tidak hidup hanya dari kemampuan berpikir. Ia hidup dari tubuh yang bergerak, paru-paru yang mampu memasok oksigen, jantung yang sanggup menahan tekanan, dan kebiasaan fisik yang dibangun bertahun-tahun.
Orasi ilmiah Prof. Tommy Apriantono menempatkan olahraga dan kebugaran bukan sebagai “aktivitas tambahan”, tetapi sebagai isu strategis yang menyentuh dua hal sekaligus: kesehatan masyarakat dan prestasi olahraga. Bahkan sebelum masuk ke riset bulutangkis dan sepak bola, orasi ini menyiapkan konteks besar yang terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini: penyakit degeneratif.
Prof. Tommy mengaitkan olahraga dengan realitas beban penyakit global. Penyakit kardiovaskular disebut sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, diikuti kanker, penyakit pernapasan, dan diabetes. Narasi ini lalu ditarik ke konteks Indonesia lewat data beban klaim BPJS tahun 2021, yang menunjukkan bahwa penyakit jantung menjadi klaim tertinggi, diikuti diabetes, kanker, dan stroke.
Dari sini, olahraga tidak lagi terdengar seperti urusan gaya hidup, melainkan bagian dari strategi pencegahan beban negara. Dalam bahasa yang lebih keras: kebugaran bukan hanya urusan individu, tapi urusan sistem kesehatan.
Di ITB, pesan ini punya konteks yang lebih spesifik. Prof. Tommy menyebut bahwa ITB melihat pentingnya olahraga untuk kesehatan karena banyak alumni mengalami sakit di masa produktif. Karena itu mata kuliah olahraga diresmikan pada 1990, dengan pandangan bahwa olahraga adalah simulasi kehidupan, membentuk mahasiswa lebih terampil dan cekatan dalam pengambilan keputusan serta menghadapi tantangan harian.
Namun bagian yang paling menarik justru bukan sejarah mata kuliahnya, melainkan jarak antara tujuan dan realitasnya.
Prof. Tommy menyampaikan bahwa ketika kebugaran mahasiswa TPB diuji di awal dan di akhir, memang terjadi perubahan. Tetapi lebih dari 60% mahasiswa masih masuk kategori “jelek” dan “jelek sekali”.
Di saat yang sama, ada paradoks evaluasi: kelulusan mata kuliah olahraga mahasiswa TPB rata-rata lulus 96–98%, dan sebagian besar mendapatkan nilai A. Artinya, indikator akademik menyatakan “berhasil”, tetapi indikator fisiologis menyatakan “belum”.
Di titik ini, orasi Prof. Tommy terasa seperti kritik yang tenang namun tajam: sistem penilaian yang terlalu mudah menciptakan rasa aman palsu, sementara risiko kebugaran rendah tetap menumpuk.
Perubahan kurikulum 2024 menjadi respons yang cukup konkret: sistem penilaian berubah menjadi pass and fail, dengan standar tes lari 2,4 km (Cooper test). Mahasiswa putra harus di bawah 14 menit dan putri di bawah 18 menit untuk mencapai kategori cukup agar lulus. Jika belum lulus, mahasiswa diberi waktu 2 bulan untuk latihan mandiri dan kemudian diuji ulang.
Kebijakan ini bukan sekadar “memperketat syarat”. Ini adalah upaya menghubungkan penilaian dengan kebugaran nyata, bukan dengan kepatuhan formal. Bagian pendahuluan ini sudah menunjukkan satu pesan analitis utama: olahraga di kampus bukan soal fasilitas dan nilai, tetapi soal membangun ketahanan tubuh jangka panjang agar generasi produktif tidak menjadi generasi dengan risiko penyakit degeneratif yang meningkat.
2. Olahraga Kesehatan sebagai Prioritas: Kebugaran Rendah Hari Ini, Biaya Penyakit Besok
Orasi Prof. Tommy memposisikan olahraga kesehatan sebagai prioritas pertama, dengan alasan yang sangat pragmatis: semakin rendah tingkat kebugaran kardiorespirasi, semakin tinggi risiko terkena penyakit degeneratif di masa depan.
Pesan ini terasa kuat karena kebugaran kardiorespirasi sering dianggap sesuatu yang bisa “diperbaiki nanti”. Banyak orang berpikir bahwa olahraga bisa dikejar ketika sudah kerja, ketika sudah mapan, ketika sudah punya waktu. Tetapi orasi ini menekankan bahwa kebugaran adalah investasi yang paling murah jika dimulai sejak dini, dan paling mahal jika ditunda.
Prof. Tommy bahkan menyampaikan perbandingan yang cukup tegas: VO2 max mahasiswa TPB ITB dibandingkan rekan seusia di Jepang, Cina, dan Amerika Serikat berada jauh di bawah. Dampaknya diperkirakan bahwa penyakit degeneratif akan menjadi permasalahan karena rendahnya cardiorespiratory fitness meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Ini bukan hanya isu individu, tetapi isu sistem pendidikan dan kebijakan nasional.
Orasi ini menyoroti bahwa beberapa negara seperti Jepang, Australia, dan Amerika Serikat meningkatkan partisipasi olahraga generasi muda dengan menambah jam olahraga dan mewajibkan satu kegiatan ekstrakurikuler. Sebaliknya, di Indonesia mata pelajaran olahraga dihapus pada semester 6 SMP dan SMA, yang berpotensi menurunkan tingkat kebugaran dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Di titik ini, orasi Prof. Tommy tidak sekadar membahas olahraga sebagai disiplin, tetapi olahraga sebagai kebijakan sosial. Ketika jam olahraga berkurang, dampaknya bukan hanya “anak kurang bergerak”, tetapi “negara menabung risiko” dalam bentuk beban kesehatan. Ada juga logika ekonomi kesehatan yang sangat jelas: semakin seseorang mencapai kebugaran yang baik, risiko terkena penyakit degeneratif semakin rendah, sehingga beban negara untuk membayar asuransi kesehatan berkurang.
Ini membuat olahraga terasa seperti intervensi yang paling rasional. Dibanding membayar mahal ketika penyakit sudah muncul, lebih masuk akal membangun kebiasaan olahraga sejak usia dini. Namun orasi ini tidak berhenti pada narasi pencegahan. Prof. Tommy juga menempatkan ilmu olahraga sebagai disiplin ilmu yang berkembang pesat pada akhir abad ke-20. Ia mendefinisikan ilmu olahraga sebagai disiplin yang mempelajari penerapan prinsip ilmiah dan teknologi untuk meningkatkan prestasi olahraga.
Perluasan ilmu olahraga di negara-negara berprestasi membuatnya menjadi bagian dari sistem pembinaan atlet elit. Artinya, olahraga prestasi dan olahraga kesehatan bukan dua jalur yang saling bertabrakan, tetapi saling menguatkan. Ketika masyarakat bugar, basis calon atlet menjadi lebih besar. Ketika ilmu olahraga berkembang, prestasi meningkat tanpa mengorbankan kesehatan atlet.
Di sini, olahraga kesehatan dan olahraga prestasi bertemu pada satu titik: keduanya membutuhkan data tubuh, pemahaman fisiologi, dan desain latihan yang tepat. Dan dari sinilah orasi Prof. Tommy bergerak ke ranah yang lebih teknis tetapi sangat aplikatif: bagaimana mengukur beban internal dan eksternal atlet di bulutangkis dan sepak bola, serta bagaimana ilmu keolahragaan bisa menekan cedera dan meningkatkan performa.
3. Bulutangkis: Membaca Tubuh Atlet lewat VO2 Max, Laktat, dan Pola Rally–Istirahat
Kalau olahraga kesehatan berbicara tentang “mencegah penyakit masa depan”, maka olahraga prestasi berbicara tentang “menang hari ini”. Tapi dua tujuan ini ternyata memakai bahasa yang sama: bahasa fisiologi.
Di orasi Prof. Tommy Apriantono, bulutangkis dijadikan contoh utama bagaimana ilmu keolahragaan bekerja sebagai alat ukur dan alat kendali. Bukan hanya melihat siapa yang kuat, tapi menjelaskan kuatnya dari mana, runtuhnya kapan, dan apa yang perlu dilatih agar performa tidak putus di tengah pertandingan.
Penelitian bulutangkis yang dipaparkan punya tujuan yang jelas: mengukur variabel internal fisiologi dan aktivitas eksternal selama pertandingan, pada kategori tunggal putra dan putri. Studi dilakukan pada atlet PB Jaya Raya, melibatkan tujuh atlet putra dan tujuh atlet putri, dengan tes laboratorium dan simulasi pertandingan.
Hasil awalnya menunjukkan sesuatu yang sering kita anggap “wajar”, tapi tetap penting ketika dijadikan angka: VO2 max putra lebih tinggi dibanding putri. Rata-rata VO2 max putra sekitar 50,23 ml/menit/kg, sementara putri sekitar 40,3 ml/menit/kg.
Angka ini penting karena VO2 max adalah indikator kapasitas aerobik, dan dalam pertandingan yang panjang, kapasitas aerobik menentukan seberapa lama atlet bisa mempertahankan kualitas gerak tanpa kehilangan kontrol. Namun yang menarik, Prof. Tommy menunjukkan bahwa tidak semua indikator menunjukkan perbedaan yang sama.
Kadar laktat maksimal sebelum dan sesudah tes tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara putra dan putri. Ini memberi sinyal bahwa walaupun kapasitas aerobik berbeda, respon metabolik tertentu bisa saja berada di level yang relatif sebanding tergantung pola pertandingan dan intensitas kerja.
Bagian berikutnya masuk ke sesuatu yang lebih spesifik dan “berasa bulutangkis”: pola rally dan istirahat.
Waktu rally selama pertandingan antara putra dan putri tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Tetapi periode istirahat rata-rata berbeda signifikan, dengan putra cenderung lebih singkat sekitar 24,4 detik dibanding putri sekitar 28,1 detik.
Ini detail kecil yang sebenarnya besar. Karena selisih beberapa detik dalam pertandingan bulutangkis bukan sekadar jeda, tetapi menentukan cara tubuh mengatur napas, mengatur pemulihan, dan mempersiapkan rally berikutnya. Atlet yang mampu memotong waktu istirahat biasanya punya dua keuntungan: tekanan psikologis ke lawan dan ritme pertandingan yang lebih “mereka kuasai”. Tetapi itu hanya mungkin jika sistem energi dan kapasitas pemulihan mereka cukup kuat.
Lalu, dari uji lapangan, perbedaan fisiologis semakin terlihat.
Volume oksigen yang dikonsumsi saat pertandingan (VO2 selama game) pada putra lebih tinggi sekitar 40,33 ml dibanding putri sekitar 33,08 ml. Ada juga perbedaan signifikan pada ventilasi paru: putra sekitar 54,9 dan putri sekitar 40,53. Dan yang paling “terasa nyata” bagi atlet dan pelatih adalah energi expenditure, energi yang dipakai per menit. Putra lebih tinggi sekitar 12,81 kkal/menit, sedangkan putri sekitar 5,71 kkal/menit.
Di sini kita melihat fungsi ilmu olahraga bukan sekadar mendeskripsikan perbedaan gender, tetapi membentuk program latihan yang relevan. Karena kalau kebutuhan energi dan ventilasi berbeda, maka desain latihan, desain intensitas interval, hingga strategi pemulihan harus disesuaikan. Orasi juga memaparkan riset lain yang fokus pada karakteristik fisiologi atlet junior bulutangkis Indonesia kategori ganda putra, dengan uji laboratorium dan uji lapangan.
Hasilnya menunjukkan bahwa laktat setelah tes laboratorium lebih tinggi sekitar 12,3 mmol dibanding tes lapangan sekitar 4,6 mmol. Denyut jantung pada tes laboratorium juga lebih tinggi sekitar 186 dibanding 152 saat pertandingan.
Ini menjelaskan satu hal penting: tes laboratorium bisa mendorong tubuh ke intensitas yang lebih ekstrem dibanding kondisi pertandingan nyata, sehingga hasilnya harus dibaca sebagai kapasitas puncak, bukan gambaran identik kondisi pertandingan.
Dari analisis karakteristik pertandingan, pola rally yang paling sering terjadi ternyata berlangsung di bawah 15 detik, sekitar 96,5% dari rally, sedangkan rally lebih panjang (lebih dari 15 detik hingga kurang dari 1 menit) hanya sekitar 3,5%. Rata-rata rally sekitar 11,3 detik dan istirahat sekitar 12,6 detik.
Temuan ini memberikan dasar desain latihan yang sangat konkret: latihan harus meniru struktur pertandingan.
Bulutangkis ganda putra, dalam data ini, bukan olahraga dengan rally panjang yang dominan. Ia adalah olahraga ledakan pendek yang berulang-ulang. Dan itu mengarah pada kesimpulan sistem energi dominan: anaerobic system, khususnya sistem ATP-PC sekitar 96,5%, dengan kontribusi kecil dari glikolisis asam laktat sekitar 3,5%.
Ini menjelaskan mengapa banyak atlet terlihat “cepat habis” jika kekuatan eksplosifnya turun, atau mengapa mereka bisa tampak segar tetapi tiba-tiba runtuh ketika repetisi eksplosif tidak lagi stabil. Karena energi dominannya ada pada ledakan, bukan daya tahan panjang.
Bagi pelatih, angka-angka ini bukan hiasan. Ini adalah peta latihan: berapa durasi kerja, berapa durasi istirahat, sistem energi apa yang harus diprioritaskan.
Dan bagi mahasiswa, ini pelajaran yang lebih besar: olahraga prestasi modern bukan hanya “skill”. Ia adalah sistem pengukuran tubuh.
4. Sepak Bola: Beban Internal vs Eksternal, dan Kenapa Gelandang Tidak Bisa Dilatih Seperti Bek
Jika bulutangkis memperlihatkan ledakan pendek berulang, sepak bola memperlihatkan sesuatu yang lebih kompleks: pertandingan panjang dengan perubahan intensitas yang tidak selalu bisa diprediksi.
Karena itu, Prof. Tommy memaparkan analisis sepak bola dengan dua lensa sekaligus:
beban internal
beban eksternal
Beban internal menggambarkan apa yang terjadi di dalam tubuh: denyut jantung, persepsi kelelahan, respon fisiologis. Beban eksternal menggambarkan output fisik yang terlihat: total jarak, sprint, kecepatan, dan pola gerak yang bisa ditangkap melalui teknologi seperti GPS.
Dalam penelitian yang dipaparkan, beban internal diukur menggunakan heart rate monitor, sedangkan beban eksternal diukur dengan sistem GPS. Yang menarik, data tidak hanya dibaca “sepanjang satu pertandingan”, tetapi dibandingkan antar fase kompetisi: fase grup, semifinal, final, hingga perebutan juara 3.
Hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan pada beberapa variabel beban internal (misalnya heart rate rata-rata) pada pertandingan tertentu, dan pada skala persepsi kelelahan juga muncul perbedaan signifikan di beberapa pasangan pertandingan. Sementara denyut nadi maksimal tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Secara analitis, ini logis. Denyut jantung maksimal adalah kapasitas puncak tubuh yang relatif stabil dalam jangka pendek. Tetapi denyut rata-rata dan persepsi kelelahan lebih sensitif terhadap konteks pertandingan: tekanan, tempo, strategi, dan beban psikologis.
Di sisi beban eksternal, total jarak lari menunjukkan perbedaan signifikan pada beberapa perbandingan pertandingan, begitu juga jarak sprint. Sedangkan kecepatan lari tidak selalu berbeda signifikan.
Ini menunjukkan bahwa performa sepak bola bukan hanya soal “seberapa cepat”, tetapi seberapa sering dan seberapa jauh atlet harus bergerak dalam situasi nyata pertandingan. Dua pemain bisa punya top speed yang mirip, tetapi satu pemain dipaksa sprint lebih sering, atau berlari total lebih jauh, sehingga beban totalnya berbeda.
Lalu bagian yang paling aplikatif muncul ketika analisis dilakukan berdasarkan posisi.
Orasi ini membandingkan pemain bertahan, gelandang, dan penyerang. Hasilnya menunjukkan:
denyut jantung rata-rata paling rendah ada pada pemain bertahan
penyerang cenderung lebih lelah dibanding bertahan dan gelandang
total jarak paling tinggi ada pada gelandang
jarak sprint dan perbedaan kecepatan juga bervariasi antar posisi
Kalau dibaca seperti cerita, ini sebenarnya menggambarkan logika sepak bola yang kita rasakan dari mata: gelandang adalah mesin mobilitas, penyerang adalah mesin ledakan dan tekanan, bek adalah penjaga struktur yang lebih terikat posisi.
Namun ketika logika itu diubah menjadi data, manfaatnya menjadi sangat jelas: pelatih tidak boleh menyamaratakan program latihan.
Gelandang tidak bisa dilatih seperti bek. Penyerang tidak bisa dilatih seperti gelandang. Karena beban fisiologis dan tuntutan geraknya berbeda.
Dengan kata lain, ilmu keolahragaan mengubah “perasaan pelatih” menjadi angka yang bisa dipakai untuk:
merancang program latihan spesifik posisi
mengatur rotasi pemain dan pemulihan
menekan risiko cedera akibat beban berlebih
memantau konsistensi performa antar pertandingan
Dan ini membawa kita kembali ke inti orasi: peran ilmu keolahragaan bukan hanya meningkatkan prestasi, tetapi juga injuri preventif, mencegah cedera agar performa bisa stabil dan karier atlet tidak rusak sebelum waktunya.
5. Injuri Preventif: Kenapa Pemantauan Beban Itu “Asuransi” bagi Atlet dan Sistem Pembinaan
Dalam olahraga prestasi, cedera sering diperlakukan seperti “risiko normal”. Atlet cedera, lalu rehabilitasi, lalu kembali bermain. Tapi pola itu sebenarnya mahal, bukan hanya secara medis, tetapi secara karier, psikologis, dan kualitas performa tim.
Orasi Prof. Tommy Apriantono membawa kita ke satu sudut pandang yang lebih modern: cedera bukan sekadar kejadian acak. Cedera sering muncul sebagai akumulasi beban yang tidak terkelola dengan baik. Dan jika beban bisa diukur, maka sebagian risiko cedera bisa dikendalikan.
Di sinilah konsep beban internal dan eksternal yang dipaparkan pada bagian sepak bola sebelumnya menjadi sangat penting. Pemantauan heart rate, persepsi kelelahan, serta data GPS bukanlah “alat tambahan”, tetapi cara untuk melihat risiko yang tidak terlihat dari mata.
Pelatih mungkin bisa melihat atlet tampak segar, tapi data bisa menunjukkan bahwa beban internalnya sudah tinggi. Atlet mungkin tampak biasa saja di sesi latihan, tetapi jarak sprint totalnya bisa menunjukkan bahwa ia sudah menumpuk beban eksplosif lebih besar dibanding rekan setimnya.
Dan akumulasi beban semacam ini adalah pintu masuk cedera.
Pendekatan injuri preventif dalam orasi ini bisa dibaca sebagai perubahan paradigma:
dari memperbaiki cedera → menuju mencegah cedera
dari menunggu atlet “drop” → menuju memonitor tanda-tanda awal
dari latihan seragam → menuju latihan berbasis kebutuhan dan posisi
Bagian bulutangkis memberi contoh betapa spesifiknya kebutuhan sistem energi. Jika mayoritas rally berada di bawah 15 detik, maka repetisi eksplosif menjadi tuntutan utama. Tetapi repetisi eksplosif juga punya risiko tinggi pada otot, tendon, dan sendi. Jika latihan eksplosif dikejar tanpa kontrol pemulihan, maka cedera overuse sangat mungkin muncul.
Bagian sepak bola juga memperlihatkan bahwa beban berbeda antar posisi. Gelandang memiliki total jarak tertinggi, penyerang cenderung lebih lelah, dan pemain bertahan memiliki beban internal rata-rata lebih rendah. Maka cedera yang dominan pun bisa berbeda: gelandang rentan pada akumulasi volume, penyerang rentan pada sprint berulang, sementara bek rentan pada perubahan arah dan duel fisik.
Di sinilah ilmu olahraga bekerja sebagai “asuransi” bagi atlet.
Karena biaya terbesar dalam pembinaan atlet bukan hanya dana latihan, tetapi waktu. Jika atlet kehilangan dua bulan karena cedera, mereka bukan hanya kehilangan pertandingan, tetapi kehilangan fase adaptasi latihan yang sulit dikembalikan.
Dari perspektif organisasi olahraga, injuri preventif juga berarti efisiensi pembinaan. Atlet yang sehat lebih mudah dikembangkan, lebih mudah dipantau progresnya, dan lebih konsisten performanya.
Dan di level kampus, pesan ini terasa lebih luas lagi. Jika mahasiswa muda sudah masuk kategori kebugaran “jelek” dan “jelek sekali” dalam proporsi besar, itu bukan hanya masalah kemampuan lari 2,4 km. Itu berarti tubuh generasi produktif sedang membangun risiko, dan risiko itu akan “dibayar” nanti dalam bentuk sakit dan penurunan produktivitas.
Pada titik ini, injuri preventif bukan hanya isu atlet elit. Ia adalah isu masyarakat: bagaimana kita mencegah tubuh menjadi rapuh sebelum usia produktif berakhir.
6. Kesimpulan: Ilmu Keolahragaan adalah Jembatan antara Kesehatan Populasi dan Prestasi Atletik
Orasi Prof. Tommy Apriantono memperlihatkan bahwa olahraga tidak bisa lagi dipahami sebagai aktivitas tambahan yang dilakukan ketika sempat. Olahraga harus diposisikan sebagai fondasi kesehatan dan sebagai instrumen prestasi yang berbasis sains.
Di level kesehatan, orasi ini menegaskan bahwa kebugaran kardiorespirasi berhubungan langsung dengan risiko penyakit degeneratif. Data global dan konteks Indonesia memperlihatkan bahwa penyakit seperti jantung, diabetes, kanker, dan stroke menjadi beban yang besar. Jika kebugaran generasi muda rendah, negara pada dasarnya sedang menabung beban kesehatan yang mahal di masa depan.
Di level institusi pendidikan, orasi ini menyoroti paradoks yang kuat: nilai mata kuliah olahraga mahasiswa bisa tinggi, tetapi kebugaran fisiknya masih rendah. Perubahan sistem penilaian menjadi pass and fail dengan standar Cooper test adalah bentuk upaya untuk menghubungkan nilai dengan kebugaran nyata.
Di level prestasi olahraga, orasi ini menunjukkan bagaimana ilmu olahraga membedah performa dengan cara yang konkret. Dalam bulutangkis, variabel seperti VO2 max, ventilasi, energi expenditure, serta pola rally dan istirahat menjadi dasar memahami sistem energi dominan. Dalam sepak bola, pemantauan beban internal dan eksternal menunjukkan bagaimana tuntutan pertandingan berbeda antar fase kompetisi dan antar posisi pemain, sehingga latihan tidak bisa disamaratakan.
Arah besarnya jelas: ilmu keolahragaan bukan sekadar teori di kelas, tetapi alat untuk menyusun latihan yang lebih presisi, mencegah cedera, dan menjaga performa tetap stabil.
Bagi mahasiswa, orasi ini memberi peringatan yang halus tetapi serius: kebugaran rendah bukan masalah kecil. Ia adalah indikator risiko jangka panjang. Bagi pekerja, terutama di sektor olahraga, pendidikan, dan kesehatan, orasi ini memperlihatkan bahwa intervensi olahraga yang benar bukan sekadar meningkatkan aktivitas, tetapi membangun sistem pengukuran, pemantauan, dan kebijakan yang membuat olahraga menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, pesan orasi ini terasa sederhana: tubuh yang sehat bukan bonus, tetapi prasyarat hidup produktif. Dan prestasi olahraga yang konsisten bukan hasil bakat semata, tetapi hasil sains yang dipakai dengan disiplin.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Tommy Apriantono: Ilmu Keolahragaan untuk Kesehatan dan Prestasi. 2024.
World Health Organization. Physical Activity Guidelines and Recommendations. (diakses 2026).
American College of Sports Medicine. ACSM Guidelines for Exercise Testing and Prescription. Edisi terbaru. (diakses 2026).
FIFA Medical Network. Injury prevention and load monitoring in football. (diakses 2026).
Gabbett, T. J. The training–injury prevention paradox: should athletes be training smarter and harder? (diakses 2026).
Ilmu Olahraga
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 18 Februari 2025
Ilmu olahraga adalah disiplin yang mempelajari bagaimana tubuh manusia yang sehat bekerja selama latihan, dan bagaimana olahraga dan aktivitas fisik meningkatkan kesehatan dan kinerja dari perspektif seluler ke seluruh tubuh. Studi ilmu olahraga secara tradisional menggabungkan bidang fisiologi (fisiologi olahraga), psikologi (psikologi olahraga), anatomi, biomekanik, biokimia, dan biokinetik. Ilmuwan olahraga dan konsultan kinerja tumbuh dalam jumlah permintaan dan pekerjaan, dengan fokus yang terus meningkat dalam dunia olahraga untuk mencapai hasil terbaik. Melalui studi ilmiah tentang olahraga, para peneliti telah mengembangkan pemahaman yang lebih besar tentang bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap olahraga, pelatihan, lingkungan yang berbeda, dan banyak rangsangan lainnya.
Asal usul fisiologi olahraga
Ilmu olahraga dapat melacak asal-usulnya ke Yunani kuno. Tabib Yunani kuno terkenal Galen (131-201) menulis 87 esai terperinci tentang peningkatan kesehatan (nutrisi yang tepat), kebugaran aerobik, dan penguatan otot.
Ide-ide baru tentang kerja dan fungsi tubuh manusia muncul selama Renaisans sebagai ahli anatomi dan dokter menantang teori yang dikenal sebelumnya. Ini menyebar dengan penerapan kata tercetak, hasil dari mesin cetak Gutenberg pada abad ke-15. Bersekutu dengan ini adalah peningkatan besar dalam dunia akademis pada umumnya, universitas-universitas terbentuk di seluruh dunia. Yang penting para sarjana baru ini melampaui gagasan sederhana dari para dokter Yunani awal, dan menjelaskan kompleksitas sistem peredaran darah, dan pencernaan. Selanjutnya, pada pertengahan abad ke-19, sekolah kedokteran awal (seperti Harvard Medical School, dibentuk tahun 1782) mulai muncul di Amerika Serikat, yang lulusannya kemudian mengambil posisi penting dalam akademisi dan penelitian medis terkait.
Publikasi jurnal medis meningkat secara signifikan dalam jumlah selama periode ini. Pada tahun 1898, tiga artikel tentang aktivitas fisik muncul di volume pertama American Journal of Physiology. Artikel dan ulasan lain kemudian muncul di jurnal bergengsi. Publikasi fisiologi terapan Jerman, Internationale Zeitschrift fur Physiologie einschliesslich Arbeitphysiologie (1929–1940; sekarang dikenal sebagai European Journal of Applied Physiology and Occupational Physiology), menjadi jurnal penting dalam bidang penelitian.
Sejumlah tokoh kunci telah memberikan kontribusi yang signifikan untuk studi ilmu olahraga:
Studi ilmu olahraga
Sejumlah besar penelitian di bidang ilmu olahraga diselesaikan di universitas atau pusat penelitian khusus. Gelar pendidikan tinggi dalam Ilmu Olah Raga atau Fisiologi Manusia juga menjadi semakin populer dengan banyak universitas yang sekarang menawarkan gelar sarjana, pascasarjana dan pembelajaran jarak jauh dalam disiplin tersebut. Peluang lulusan di bidang ini termasuk pekerjaan sebagai guru Pendidikan Jasmani, Ahli Gizi atau Ahli Gizi, Analis Kinerja, Pelatih Olahraga, Terapis Olahraga, Manajer Pusat Kebugaran, Administrator Olahraga, Spesialis Kekuatan dan Pengkondisian atau Manajer Ritel Toko Olahraga. Lulusan juga memiliki posisi yang baik untuk mengikuti pelatihan lebih lanjut untuk menjadi Fisioterapis, Fisiolog Latihan, Ilmuwan Riset, dan Dokter Medis Olahraga yang terakreditasi.
Ilmu olahraga mungkin juga berguna untuk memberikan informasi tentang tubuh yang menua. Orang dewasa yang lebih tua menyadari manfaat olahraga, tetapi banyak yang tidak melakukan olahraga yang diperlukan untuk mempertahankan manfaat ini. Ilmu olahraga menyediakan sarana yang memungkinkan orang tua untuk mendapatkan kembali kompetensi fisik yang lebih tanpa berfokus pada melakukannya untuk tujuan anti-penuaan. Ilmu olahraga juga dapat menyediakan sarana untuk membantu orang tua menghindari jatuh dan memiliki kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari lebih mandiri.
Di Australia sebagian besar penelitian ilmu olahraga dari tahun 1983 hingga 2003 dilakukan di laboratorium dan hampir setengah dari penelitian dilakukan dengan atlet sub-elit atau elit. Lebih dari dua pertiga penelitian dilakukan mengenai empat olahraga: dayung, bersepeda, atletik, dan renang. Di Amerika, olahraga memainkan bagian besar dari identitas Amerika, namun, ilmu olahraga perlahan-lahan digantikan dengan ilmu olahraga. Ilmu olahraga dapat memungkinkan atlet untuk berlatih dan bersaing secara lebih efektif di dalam dan luar negeri.
José Mourinho, seorang manajer sepak bola yang memenangkan Liga Champions UEFA dua kali, mencerminkan studinya tentang ilmu olahraga sebagai "kadang-kadang sulit untuk memahami apakah itu olahraga atau apakah itu sains".
Jurnal akademik dalam ilmu olahraga
Reproduksibilitas
Sebuah studi tahun 2018 mengkritik bidang olahraga dan ilmu olahraga karena studi replikasi yang tidak memadai, pelaporan yang terbatas dari hasil yang nol dan sepele, dan transparansi penelitian yang tidak memadai. Ahli statistik telah mengkritik ilmu olahraga untuk penggunaan umum inferensi berbasis besaran, metode statistik kontroversial yang memungkinkan ilmuwan olahraga untuk mengekstrak hasil yang tampaknya signifikan dari data bising di mana pengujian hipotesis biasa tidak akan menemukannya.
Sumber Artikel: id.wikipedia.org
Ilmu Olahraga
Dipublikasikan oleh Admin pada 22 November 2022
Aji Santoso Pelatih Persebaya berkesempatan mengisi kuliah tamu di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) dengan tema “Membaca Masa Depan Sepak Bola di Indonesia: Dari Sekolah Sepak Bola hingga Kaderisasi Pemain Muda” di Gedung At-Tauhid Tower pada Selasa (9/8/22)
Di depan ratusan peserta kuliah tamu Aji menyampaikan pandangannya selama menjadi pemain dan pelatih sepak bola Indonesia.
“Setidaknya ada 3 potensi besar sepak bola di Indonesia. Pertama antusias masyarakat yang luar biasa, kedua banyaknya pemain yang berbakat dan supporter yang sangat fanatik,”tutur Aji.
Menurut Aji, problem pembinaan yang terjadi pada sepak bola saat ini adalah kurangnya koneksi antara Ssb akademi dan klub, kurangnya kompetisi yang ideal dan eksploitasi pemain demi tim.
Dalam paparannya pelatih kelahiran Malang tersebut menjelaskan model pembinaan yang seharusnya dilakukan. Salah satunya dengan memperbanyak sarana latihan yang berkualitas, memperbanyak dan mencetak pelatih. Menurutnya pula setiap klub harus memiliki pemain KU 12, 14, 16, 18, 20 dan memperbanyak kompetisi dan tournament.
Di akhir paparannya Aji mengucapakan terimakasih kepada UM Surabaya karena menjadi satu-satunya kampus yang mendukung penuh dan mensupport penuh kemajuan sepak bola di Indonesia. Ia mengajak UM Surabaya bersinergi agar bisa menjadi laboratorium sport science.
“Kerjasama ini harus bisa menjadikan UM Surabaya sebagai laboratorium sport science. Tempat untuk menemukan metode atau tempat uji praktik yang berguna bagi perkembangan sepak bola,”jelasnya lagi.
Menurutnya dengan kerjasama dengan klub sport science atau sport managemen akan menguntungkan kedua belah pihak.
Sumber: um-surabaya.ac.id
Ilmu Olahraga
Dipublikasikan oleh Admin pada 22 November 2022
SOLO – Tingginya animo pendaftaran peserta didik baru (PPDB) kelas khusus olahraga (KKO) menjadikan seleksi masuk semakin diperketat, yaitu menggunakan metode sport science, sehingga penjaringan semakin akurat dan objektif.
Wakil Dekan Bidang Akademik Riset, dan Kemahasiswaan Fakultas Keolahragaan (FKOR) UNS Rony Syaifullah menuturkan, program KKO dimaksudkan sebagai investasi jangka panjang dalam membina bibit atlet muda.
“Dengan pemilihan talenta ketika masuk SMP menggunakan sport science, dapat diketahui secara pasti bakatnya di cabang olahraga apa, sehingga dalam proses pembinaan jauh lebih efektif dan efisien,” bebernya.
Melihat potensi awal calon peserta didik (CPD) KKO, Rony menilai, kemampuan gerak dasar dan halus mereka cukup kompeten. Beberapa di antaranya menunjukkan semangat kompetensi tinggi.
Terpisah, Sub Koordinator Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Surakarta Sugeng Hariadi mengatakan, seleksi tahap kedua calon siswa baru KKO, yaitu tes fisik umum. Meliputi kecepatan, daya tahan, dan kelincahan yang diikuti 95 siswa.
“Hasil tes dimasukkan ke sistem agar diketahui berbakat atau tidak. Dari pengamatan awal tadi, ada yang dari postur tubuhnya sudah menjanjikan menjadi atlet cabor (cabang olahraga) tertentu,” ungkapnya.
Sugeng menyebutkan, ada dua CPD cabor bola voli yang tinggi badannya mencapai 170 sentimeter. Postur tubuh tersebut sangat memengaruhi kompetensi atlet dan modal awal pembinaan secara optimal. (ian/wa/dam)
Sumber: radarsolo.jawapos.com
Ilmu Olahraga
Dipublikasikan oleh Admin pada 22 November 2022
Surabaya: Pentingnya sport science untuk meningkatkan prestasi olahraga di Indonesia terus mendapatkan perhatian dari Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI), Zainudin Amali.
Hari Jumat (2/9) pagi, Menpora Amali menghadiri pengambilan data riset keolahragaan oleh FIK Universitas Negeri Semarang (Unnes) dengan menggunakan fasilitas dan dilakukan di tempat Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laboratorium Hidrodinamika, Institute Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya.
Menpora Amali didampingi Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Semarang, Prof Tandiyo Rahayu dan Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRiN, Hazman Abimanyu menyaksikan langsung proses uji hidrodinamika kepada beberapa atlet renang dan selam dari Jawa Tengah.
Menurut Menpora Amali, peran sport science sangat penting dalam pengembangan olahraga di Indonesia. "Hari ini saya datang untuk melihat riset bagaimana membentuk performa atlet renang kebetulan di BRIN yang terletak di ITS ada laborotarium hidrodinamika. Saya sendiri juga sebagai Dosen di Unnes, oleh karenanya kita sinergi bersama untuk meningkatkan prestasi atlet olahraga di Indonesia," kata Menpora Amali.
"Ke depan memang kita harus terus beekerja sama dengan BRIN, karena kedepan dalam Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), sport science adalah pemandu utama bagi atlet dalam berprestasi, dan itu juga ada di BRIN," tambahnya.
Menpora Amali berharap hasil riset ini bisa menghasilkan sesuatu untuk menunjang prestasi atlet di Indonesia. "Tadi kita juga sudah diskusikan bagaimana kedepan kita bisa bekerja sama termasuk dengan perguruan tinggi, sehingga bisa menghasilkan sesuatu untuk peningkatan prestasi atlet kita, ujar Menpora Amali.
Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRiN, Hazman Abimanyu mengatakan cukup senang dan terbuka untuk bekerja sama dengan perguruan tingggi dan kementerian/lembaga untuk mendukung peningkatan prestasi atlet Indonesia.
"Kami dari BRIN sangat terbuka untuk bekerjasama dengan perguruan tinggi di Indonesia dan Kementerian lainnya dalam meningkatkan olahraga di Indonesia. Semua fasilitas yang ada di BRIN bisa dimanfaatkan bersama untuk peningkatan prestasi atlet Indonesia," katanya.
Sementara Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan Unnes Prof Tandiyo menyampaikan apa yang dilakukan olrh Menpora Amali untuk meningkatkan sport science bagi olahraga di Indonesia sangat tepat. "Saya mewakili akademisi keolahragaan di Indonesia merasa senang, karena baru pertama Menteri Pemuda dan Olahraga puanya konsentrasi terhadap pengembangan sport science," kata Tandiyo R.(amr)
Sumber: kemenpora.go.id