1. Pendahuluan
Ada satu ironi yang sering tidak terlihat dalam kehidupan kampus: semakin tinggi kualitas akademik sebuah institusi, semakin besar ilusi bahwa pengembangan manusia cukup dilakukan lewat otak. Padahal manusia tidak hidup hanya dari kemampuan berpikir. Ia hidup dari tubuh yang bergerak, paru-paru yang mampu memasok oksigen, jantung yang sanggup menahan tekanan, dan kebiasaan fisik yang dibangun bertahun-tahun.
Orasi ilmiah Prof. Tommy Apriantono menempatkan olahraga dan kebugaran bukan sebagai “aktivitas tambahan”, tetapi sebagai isu strategis yang menyentuh dua hal sekaligus: kesehatan masyarakat dan prestasi olahraga. Bahkan sebelum masuk ke riset bulutangkis dan sepak bola, orasi ini menyiapkan konteks besar yang terasa sangat relevan bagi Indonesia hari ini: penyakit degeneratif.
Prof. Tommy mengaitkan olahraga dengan realitas beban penyakit global. Penyakit kardiovaskular disebut sebagai penyebab kematian tertinggi di dunia, diikuti kanker, penyakit pernapasan, dan diabetes. Narasi ini lalu ditarik ke konteks Indonesia lewat data beban klaim BPJS tahun 2021, yang menunjukkan bahwa penyakit jantung menjadi klaim tertinggi, diikuti diabetes, kanker, dan stroke.
Dari sini, olahraga tidak lagi terdengar seperti urusan gaya hidup, melainkan bagian dari strategi pencegahan beban negara. Dalam bahasa yang lebih keras: kebugaran bukan hanya urusan individu, tapi urusan sistem kesehatan.
Di ITB, pesan ini punya konteks yang lebih spesifik. Prof. Tommy menyebut bahwa ITB melihat pentingnya olahraga untuk kesehatan karena banyak alumni mengalami sakit di masa produktif. Karena itu mata kuliah olahraga diresmikan pada 1990, dengan pandangan bahwa olahraga adalah simulasi kehidupan, membentuk mahasiswa lebih terampil dan cekatan dalam pengambilan keputusan serta menghadapi tantangan harian.
Namun bagian yang paling menarik justru bukan sejarah mata kuliahnya, melainkan jarak antara tujuan dan realitasnya.
Prof. Tommy menyampaikan bahwa ketika kebugaran mahasiswa TPB diuji di awal dan di akhir, memang terjadi perubahan. Tetapi lebih dari 60% mahasiswa masih masuk kategori “jelek” dan “jelek sekali”.
Di saat yang sama, ada paradoks evaluasi: kelulusan mata kuliah olahraga mahasiswa TPB rata-rata lulus 96–98%, dan sebagian besar mendapatkan nilai A. Artinya, indikator akademik menyatakan “berhasil”, tetapi indikator fisiologis menyatakan “belum”.
Di titik ini, orasi Prof. Tommy terasa seperti kritik yang tenang namun tajam: sistem penilaian yang terlalu mudah menciptakan rasa aman palsu, sementara risiko kebugaran rendah tetap menumpuk.
Perubahan kurikulum 2024 menjadi respons yang cukup konkret: sistem penilaian berubah menjadi pass and fail, dengan standar tes lari 2,4 km (Cooper test). Mahasiswa putra harus di bawah 14 menit dan putri di bawah 18 menit untuk mencapai kategori cukup agar lulus. Jika belum lulus, mahasiswa diberi waktu 2 bulan untuk latihan mandiri dan kemudian diuji ulang.
Kebijakan ini bukan sekadar “memperketat syarat”. Ini adalah upaya menghubungkan penilaian dengan kebugaran nyata, bukan dengan kepatuhan formal. Bagian pendahuluan ini sudah menunjukkan satu pesan analitis utama: olahraga di kampus bukan soal fasilitas dan nilai, tetapi soal membangun ketahanan tubuh jangka panjang agar generasi produktif tidak menjadi generasi dengan risiko penyakit degeneratif yang meningkat.
2. Olahraga Kesehatan sebagai Prioritas: Kebugaran Rendah Hari Ini, Biaya Penyakit Besok
Orasi Prof. Tommy memposisikan olahraga kesehatan sebagai prioritas pertama, dengan alasan yang sangat pragmatis: semakin rendah tingkat kebugaran kardiorespirasi, semakin tinggi risiko terkena penyakit degeneratif di masa depan.
Pesan ini terasa kuat karena kebugaran kardiorespirasi sering dianggap sesuatu yang bisa “diperbaiki nanti”. Banyak orang berpikir bahwa olahraga bisa dikejar ketika sudah kerja, ketika sudah mapan, ketika sudah punya waktu. Tetapi orasi ini menekankan bahwa kebugaran adalah investasi yang paling murah jika dimulai sejak dini, dan paling mahal jika ditunda.
Prof. Tommy bahkan menyampaikan perbandingan yang cukup tegas: VO2 max mahasiswa TPB ITB dibandingkan rekan seusia di Jepang, Cina, dan Amerika Serikat berada jauh di bawah. Dampaknya diperkirakan bahwa penyakit degeneratif akan menjadi permasalahan karena rendahnya cardiorespiratory fitness meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Ini bukan hanya isu individu, tetapi isu sistem pendidikan dan kebijakan nasional.
Orasi ini menyoroti bahwa beberapa negara seperti Jepang, Australia, dan Amerika Serikat meningkatkan partisipasi olahraga generasi muda dengan menambah jam olahraga dan mewajibkan satu kegiatan ekstrakurikuler. Sebaliknya, di Indonesia mata pelajaran olahraga dihapus pada semester 6 SMP dan SMA, yang berpotensi menurunkan tingkat kebugaran dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif.
Di titik ini, orasi Prof. Tommy tidak sekadar membahas olahraga sebagai disiplin, tetapi olahraga sebagai kebijakan sosial. Ketika jam olahraga berkurang, dampaknya bukan hanya “anak kurang bergerak”, tetapi “negara menabung risiko” dalam bentuk beban kesehatan. Ada juga logika ekonomi kesehatan yang sangat jelas: semakin seseorang mencapai kebugaran yang baik, risiko terkena penyakit degeneratif semakin rendah, sehingga beban negara untuk membayar asuransi kesehatan berkurang.
Ini membuat olahraga terasa seperti intervensi yang paling rasional. Dibanding membayar mahal ketika penyakit sudah muncul, lebih masuk akal membangun kebiasaan olahraga sejak usia dini. Namun orasi ini tidak berhenti pada narasi pencegahan. Prof. Tommy juga menempatkan ilmu olahraga sebagai disiplin ilmu yang berkembang pesat pada akhir abad ke-20. Ia mendefinisikan ilmu olahraga sebagai disiplin yang mempelajari penerapan prinsip ilmiah dan teknologi untuk meningkatkan prestasi olahraga.
Perluasan ilmu olahraga di negara-negara berprestasi membuatnya menjadi bagian dari sistem pembinaan atlet elit. Artinya, olahraga prestasi dan olahraga kesehatan bukan dua jalur yang saling bertabrakan, tetapi saling menguatkan. Ketika masyarakat bugar, basis calon atlet menjadi lebih besar. Ketika ilmu olahraga berkembang, prestasi meningkat tanpa mengorbankan kesehatan atlet.
Di sini, olahraga kesehatan dan olahraga prestasi bertemu pada satu titik: keduanya membutuhkan data tubuh, pemahaman fisiologi, dan desain latihan yang tepat. Dan dari sinilah orasi Prof. Tommy bergerak ke ranah yang lebih teknis tetapi sangat aplikatif: bagaimana mengukur beban internal dan eksternal atlet di bulutangkis dan sepak bola, serta bagaimana ilmu keolahragaan bisa menekan cedera dan meningkatkan performa.
3. Bulutangkis: Membaca Tubuh Atlet lewat VO2 Max, Laktat, dan Pola Rally–Istirahat
Kalau olahraga kesehatan berbicara tentang “mencegah penyakit masa depan”, maka olahraga prestasi berbicara tentang “menang hari ini”. Tapi dua tujuan ini ternyata memakai bahasa yang sama: bahasa fisiologi.
Di orasi Prof. Tommy Apriantono, bulutangkis dijadikan contoh utama bagaimana ilmu keolahragaan bekerja sebagai alat ukur dan alat kendali. Bukan hanya melihat siapa yang kuat, tapi menjelaskan kuatnya dari mana, runtuhnya kapan, dan apa yang perlu dilatih agar performa tidak putus di tengah pertandingan.
Penelitian bulutangkis yang dipaparkan punya tujuan yang jelas: mengukur variabel internal fisiologi dan aktivitas eksternal selama pertandingan, pada kategori tunggal putra dan putri. Studi dilakukan pada atlet PB Jaya Raya, melibatkan tujuh atlet putra dan tujuh atlet putri, dengan tes laboratorium dan simulasi pertandingan.
Hasil awalnya menunjukkan sesuatu yang sering kita anggap “wajar”, tapi tetap penting ketika dijadikan angka: VO2 max putra lebih tinggi dibanding putri. Rata-rata VO2 max putra sekitar 50,23 ml/menit/kg, sementara putri sekitar 40,3 ml/menit/kg.
Angka ini penting karena VO2 max adalah indikator kapasitas aerobik, dan dalam pertandingan yang panjang, kapasitas aerobik menentukan seberapa lama atlet bisa mempertahankan kualitas gerak tanpa kehilangan kontrol. Namun yang menarik, Prof. Tommy menunjukkan bahwa tidak semua indikator menunjukkan perbedaan yang sama.
Kadar laktat maksimal sebelum dan sesudah tes tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara putra dan putri. Ini memberi sinyal bahwa walaupun kapasitas aerobik berbeda, respon metabolik tertentu bisa saja berada di level yang relatif sebanding tergantung pola pertandingan dan intensitas kerja.
Bagian berikutnya masuk ke sesuatu yang lebih spesifik dan “berasa bulutangkis”: pola rally dan istirahat.
Waktu rally selama pertandingan antara putra dan putri tidak menunjukkan perbedaan signifikan. Tetapi periode istirahat rata-rata berbeda signifikan, dengan putra cenderung lebih singkat sekitar 24,4 detik dibanding putri sekitar 28,1 detik.
Ini detail kecil yang sebenarnya besar. Karena selisih beberapa detik dalam pertandingan bulutangkis bukan sekadar jeda, tetapi menentukan cara tubuh mengatur napas, mengatur pemulihan, dan mempersiapkan rally berikutnya. Atlet yang mampu memotong waktu istirahat biasanya punya dua keuntungan: tekanan psikologis ke lawan dan ritme pertandingan yang lebih “mereka kuasai”. Tetapi itu hanya mungkin jika sistem energi dan kapasitas pemulihan mereka cukup kuat.
Lalu, dari uji lapangan, perbedaan fisiologis semakin terlihat.
Volume oksigen yang dikonsumsi saat pertandingan (VO2 selama game) pada putra lebih tinggi sekitar 40,33 ml dibanding putri sekitar 33,08 ml. Ada juga perbedaan signifikan pada ventilasi paru: putra sekitar 54,9 dan putri sekitar 40,53. Dan yang paling “terasa nyata” bagi atlet dan pelatih adalah energi expenditure, energi yang dipakai per menit. Putra lebih tinggi sekitar 12,81 kkal/menit, sedangkan putri sekitar 5,71 kkal/menit.
Di sini kita melihat fungsi ilmu olahraga bukan sekadar mendeskripsikan perbedaan gender, tetapi membentuk program latihan yang relevan. Karena kalau kebutuhan energi dan ventilasi berbeda, maka desain latihan, desain intensitas interval, hingga strategi pemulihan harus disesuaikan. Orasi juga memaparkan riset lain yang fokus pada karakteristik fisiologi atlet junior bulutangkis Indonesia kategori ganda putra, dengan uji laboratorium dan uji lapangan.
Hasilnya menunjukkan bahwa laktat setelah tes laboratorium lebih tinggi sekitar 12,3 mmol dibanding tes lapangan sekitar 4,6 mmol. Denyut jantung pada tes laboratorium juga lebih tinggi sekitar 186 dibanding 152 saat pertandingan.
Ini menjelaskan satu hal penting: tes laboratorium bisa mendorong tubuh ke intensitas yang lebih ekstrem dibanding kondisi pertandingan nyata, sehingga hasilnya harus dibaca sebagai kapasitas puncak, bukan gambaran identik kondisi pertandingan.
Dari analisis karakteristik pertandingan, pola rally yang paling sering terjadi ternyata berlangsung di bawah 15 detik, sekitar 96,5% dari rally, sedangkan rally lebih panjang (lebih dari 15 detik hingga kurang dari 1 menit) hanya sekitar 3,5%. Rata-rata rally sekitar 11,3 detik dan istirahat sekitar 12,6 detik.
Temuan ini memberikan dasar desain latihan yang sangat konkret: latihan harus meniru struktur pertandingan.
Bulutangkis ganda putra, dalam data ini, bukan olahraga dengan rally panjang yang dominan. Ia adalah olahraga ledakan pendek yang berulang-ulang. Dan itu mengarah pada kesimpulan sistem energi dominan: anaerobic system, khususnya sistem ATP-PC sekitar 96,5%, dengan kontribusi kecil dari glikolisis asam laktat sekitar 3,5%.
Ini menjelaskan mengapa banyak atlet terlihat “cepat habis” jika kekuatan eksplosifnya turun, atau mengapa mereka bisa tampak segar tetapi tiba-tiba runtuh ketika repetisi eksplosif tidak lagi stabil. Karena energi dominannya ada pada ledakan, bukan daya tahan panjang.
Bagi pelatih, angka-angka ini bukan hiasan. Ini adalah peta latihan: berapa durasi kerja, berapa durasi istirahat, sistem energi apa yang harus diprioritaskan.
Dan bagi mahasiswa, ini pelajaran yang lebih besar: olahraga prestasi modern bukan hanya “skill”. Ia adalah sistem pengukuran tubuh.
4. Sepak Bola: Beban Internal vs Eksternal, dan Kenapa Gelandang Tidak Bisa Dilatih Seperti Bek
Jika bulutangkis memperlihatkan ledakan pendek berulang, sepak bola memperlihatkan sesuatu yang lebih kompleks: pertandingan panjang dengan perubahan intensitas yang tidak selalu bisa diprediksi.
Karena itu, Prof. Tommy memaparkan analisis sepak bola dengan dua lensa sekaligus:
-
beban internal
-
beban eksternal
Beban internal menggambarkan apa yang terjadi di dalam tubuh: denyut jantung, persepsi kelelahan, respon fisiologis. Beban eksternal menggambarkan output fisik yang terlihat: total jarak, sprint, kecepatan, dan pola gerak yang bisa ditangkap melalui teknologi seperti GPS.
Dalam penelitian yang dipaparkan, beban internal diukur menggunakan heart rate monitor, sedangkan beban eksternal diukur dengan sistem GPS. Yang menarik, data tidak hanya dibaca “sepanjang satu pertandingan”, tetapi dibandingkan antar fase kompetisi: fase grup, semifinal, final, hingga perebutan juara 3.
Hasilnya menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan pada beberapa variabel beban internal (misalnya heart rate rata-rata) pada pertandingan tertentu, dan pada skala persepsi kelelahan juga muncul perbedaan signifikan di beberapa pasangan pertandingan. Sementara denyut nadi maksimal tidak menunjukkan perbedaan signifikan.
Secara analitis, ini logis. Denyut jantung maksimal adalah kapasitas puncak tubuh yang relatif stabil dalam jangka pendek. Tetapi denyut rata-rata dan persepsi kelelahan lebih sensitif terhadap konteks pertandingan: tekanan, tempo, strategi, dan beban psikologis.
Di sisi beban eksternal, total jarak lari menunjukkan perbedaan signifikan pada beberapa perbandingan pertandingan, begitu juga jarak sprint. Sedangkan kecepatan lari tidak selalu berbeda signifikan.
Ini menunjukkan bahwa performa sepak bola bukan hanya soal “seberapa cepat”, tetapi seberapa sering dan seberapa jauh atlet harus bergerak dalam situasi nyata pertandingan. Dua pemain bisa punya top speed yang mirip, tetapi satu pemain dipaksa sprint lebih sering, atau berlari total lebih jauh, sehingga beban totalnya berbeda.
Lalu bagian yang paling aplikatif muncul ketika analisis dilakukan berdasarkan posisi.
Orasi ini membandingkan pemain bertahan, gelandang, dan penyerang. Hasilnya menunjukkan:
-
denyut jantung rata-rata paling rendah ada pada pemain bertahan
-
penyerang cenderung lebih lelah dibanding bertahan dan gelandang
-
total jarak paling tinggi ada pada gelandang
-
jarak sprint dan perbedaan kecepatan juga bervariasi antar posisi
Kalau dibaca seperti cerita, ini sebenarnya menggambarkan logika sepak bola yang kita rasakan dari mata: gelandang adalah mesin mobilitas, penyerang adalah mesin ledakan dan tekanan, bek adalah penjaga struktur yang lebih terikat posisi.
Namun ketika logika itu diubah menjadi data, manfaatnya menjadi sangat jelas: pelatih tidak boleh menyamaratakan program latihan.
Gelandang tidak bisa dilatih seperti bek. Penyerang tidak bisa dilatih seperti gelandang. Karena beban fisiologis dan tuntutan geraknya berbeda.
Dengan kata lain, ilmu keolahragaan mengubah “perasaan pelatih” menjadi angka yang bisa dipakai untuk:
-
merancang program latihan spesifik posisi
-
mengatur rotasi pemain dan pemulihan
-
menekan risiko cedera akibat beban berlebih
-
memantau konsistensi performa antar pertandingan
Dan ini membawa kita kembali ke inti orasi: peran ilmu keolahragaan bukan hanya meningkatkan prestasi, tetapi juga injuri preventif, mencegah cedera agar performa bisa stabil dan karier atlet tidak rusak sebelum waktunya.
5. Injuri Preventif: Kenapa Pemantauan Beban Itu “Asuransi” bagi Atlet dan Sistem Pembinaan
Dalam olahraga prestasi, cedera sering diperlakukan seperti “risiko normal”. Atlet cedera, lalu rehabilitasi, lalu kembali bermain. Tapi pola itu sebenarnya mahal, bukan hanya secara medis, tetapi secara karier, psikologis, dan kualitas performa tim.
Orasi Prof. Tommy Apriantono membawa kita ke satu sudut pandang yang lebih modern: cedera bukan sekadar kejadian acak. Cedera sering muncul sebagai akumulasi beban yang tidak terkelola dengan baik. Dan jika beban bisa diukur, maka sebagian risiko cedera bisa dikendalikan.
Di sinilah konsep beban internal dan eksternal yang dipaparkan pada bagian sepak bola sebelumnya menjadi sangat penting. Pemantauan heart rate, persepsi kelelahan, serta data GPS bukanlah “alat tambahan”, tetapi cara untuk melihat risiko yang tidak terlihat dari mata.
Pelatih mungkin bisa melihat atlet tampak segar, tapi data bisa menunjukkan bahwa beban internalnya sudah tinggi. Atlet mungkin tampak biasa saja di sesi latihan, tetapi jarak sprint totalnya bisa menunjukkan bahwa ia sudah menumpuk beban eksplosif lebih besar dibanding rekan setimnya.
Dan akumulasi beban semacam ini adalah pintu masuk cedera.
Pendekatan injuri preventif dalam orasi ini bisa dibaca sebagai perubahan paradigma:
-
dari memperbaiki cedera → menuju mencegah cedera
-
dari menunggu atlet “drop” → menuju memonitor tanda-tanda awal
-
dari latihan seragam → menuju latihan berbasis kebutuhan dan posisi
Bagian bulutangkis memberi contoh betapa spesifiknya kebutuhan sistem energi. Jika mayoritas rally berada di bawah 15 detik, maka repetisi eksplosif menjadi tuntutan utama. Tetapi repetisi eksplosif juga punya risiko tinggi pada otot, tendon, dan sendi. Jika latihan eksplosif dikejar tanpa kontrol pemulihan, maka cedera overuse sangat mungkin muncul.
Bagian sepak bola juga memperlihatkan bahwa beban berbeda antar posisi. Gelandang memiliki total jarak tertinggi, penyerang cenderung lebih lelah, dan pemain bertahan memiliki beban internal rata-rata lebih rendah. Maka cedera yang dominan pun bisa berbeda: gelandang rentan pada akumulasi volume, penyerang rentan pada sprint berulang, sementara bek rentan pada perubahan arah dan duel fisik.
Di sinilah ilmu olahraga bekerja sebagai “asuransi” bagi atlet.
Karena biaya terbesar dalam pembinaan atlet bukan hanya dana latihan, tetapi waktu. Jika atlet kehilangan dua bulan karena cedera, mereka bukan hanya kehilangan pertandingan, tetapi kehilangan fase adaptasi latihan yang sulit dikembalikan.
Dari perspektif organisasi olahraga, injuri preventif juga berarti efisiensi pembinaan. Atlet yang sehat lebih mudah dikembangkan, lebih mudah dipantau progresnya, dan lebih konsisten performanya.
Dan di level kampus, pesan ini terasa lebih luas lagi. Jika mahasiswa muda sudah masuk kategori kebugaran “jelek” dan “jelek sekali” dalam proporsi besar, itu bukan hanya masalah kemampuan lari 2,4 km. Itu berarti tubuh generasi produktif sedang membangun risiko, dan risiko itu akan “dibayar” nanti dalam bentuk sakit dan penurunan produktivitas.
Pada titik ini, injuri preventif bukan hanya isu atlet elit. Ia adalah isu masyarakat: bagaimana kita mencegah tubuh menjadi rapuh sebelum usia produktif berakhir.
6. Kesimpulan: Ilmu Keolahragaan adalah Jembatan antara Kesehatan Populasi dan Prestasi Atletik
Orasi Prof. Tommy Apriantono memperlihatkan bahwa olahraga tidak bisa lagi dipahami sebagai aktivitas tambahan yang dilakukan ketika sempat. Olahraga harus diposisikan sebagai fondasi kesehatan dan sebagai instrumen prestasi yang berbasis sains.
Di level kesehatan, orasi ini menegaskan bahwa kebugaran kardiorespirasi berhubungan langsung dengan risiko penyakit degeneratif. Data global dan konteks Indonesia memperlihatkan bahwa penyakit seperti jantung, diabetes, kanker, dan stroke menjadi beban yang besar. Jika kebugaran generasi muda rendah, negara pada dasarnya sedang menabung beban kesehatan yang mahal di masa depan.
Di level institusi pendidikan, orasi ini menyoroti paradoks yang kuat: nilai mata kuliah olahraga mahasiswa bisa tinggi, tetapi kebugaran fisiknya masih rendah. Perubahan sistem penilaian menjadi pass and fail dengan standar Cooper test adalah bentuk upaya untuk menghubungkan nilai dengan kebugaran nyata.
Di level prestasi olahraga, orasi ini menunjukkan bagaimana ilmu olahraga membedah performa dengan cara yang konkret. Dalam bulutangkis, variabel seperti VO2 max, ventilasi, energi expenditure, serta pola rally dan istirahat menjadi dasar memahami sistem energi dominan. Dalam sepak bola, pemantauan beban internal dan eksternal menunjukkan bagaimana tuntutan pertandingan berbeda antar fase kompetisi dan antar posisi pemain, sehingga latihan tidak bisa disamaratakan.
Arah besarnya jelas: ilmu keolahragaan bukan sekadar teori di kelas, tetapi alat untuk menyusun latihan yang lebih presisi, mencegah cedera, dan menjaga performa tetap stabil.
Bagi mahasiswa, orasi ini memberi peringatan yang halus tetapi serius: kebugaran rendah bukan masalah kecil. Ia adalah indikator risiko jangka panjang. Bagi pekerja, terutama di sektor olahraga, pendidikan, dan kesehatan, orasi ini memperlihatkan bahwa intervensi olahraga yang benar bukan sekadar meningkatkan aktivitas, tetapi membangun sistem pengukuran, pemantauan, dan kebijakan yang membuat olahraga menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, pesan orasi ini terasa sederhana: tubuh yang sehat bukan bonus, tetapi prasyarat hidup produktif. Dan prestasi olahraga yang konsisten bukan hasil bakat semata, tetapi hasil sains yang dipakai dengan disiplin.
Daftar Pustaka
Institut Teknologi Bandung. Orasi Ilmiah Guru Besar ITB Prof. Tommy Apriantono: Ilmu Keolahragaan untuk Kesehatan dan Prestasi. 2024.
World Health Organization. Physical Activity Guidelines and Recommendations. (diakses 2026).
American College of Sports Medicine. ACSM Guidelines for Exercise Testing and Prescription. Edisi terbaru. (diakses 2026).
FIFA Medical Network. Injury prevention and load monitoring in football. (diakses 2026).
Gabbett, T. J. The training–injury prevention paradox: should athletes be training smarter and harder? (diakses 2026).