Geologi

Perjalanan Panjang Sang Penjelajah Waktu: Sejarah Bumi, Evolusi Kehidupan, dan Pelajaran Kebumian bagi Manusia Modern

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 14 Januari 2026


1. Pendahuluan

Sejarah bumi merupakan kisah tentang perubahan yang berlangsung dalam skala waktu yang jauh melampaui pengalaman manusia. Proses geologi, iklim, dan evolusi kehidupan berjalan dalam rentang jutaan hingga miliaran tahun, membentuk planet yang kita huni saat ini. Dalam perspektif ini, manusia hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang bumi, namun keberadaannya sangat dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa kebumian yang terjadi jauh sebelum manusia muncul.

Geologi sejarah memungkinkan manusia menelusuri masa lalu bumi melalui rekaman batuan dan fosil. Pendekatan ini tidak sekadar menyusun kronologi kejadian, tetapi juga memahami keterkaitan antara dinamika internal bumi, perubahan lingkungan, dan perkembangan kehidupan. Dengan menempatkan waktu sebagai dimensi utama, geologi sejarah membantu menjelaskan mengapa bumi mengalami fase-fase ekstrem, mulai dari dunia api, dunia air, hingga periode pendinginan global dan pemanasan intensif.

Artikel ini menganalisis sejarah bumi sebagai perjalanan panjang “penjelajah waktu”, sebuah metafora bagi organisme yang mampu bertahan melintasi perubahan lingkungan ekstrem. Analisis diarahkan untuk menunjukkan bahwa pemahaman terhadap sejarah bumi tidak hanya relevan bagi ilmu kebumian, tetapi juga memberikan pelajaran penting bagi manusia modern dalam menghadapi tantangan lingkungan dan kebencanaan masa kini.

 

2. Bumi Awal, Transformasi Lingkungan, dan Fondasi Kehidupan

Pada tahap awal pembentukannya, bumi berada dalam kondisi yang sangat ekstrem. Energi panas yang tersisa dari proses akresi menjadikan permukaan bumi sebagai lingkungan yang tidak ramah bagi kehidupan. Aktivitas vulkanik yang intens dan hantaman benda langit membentuk dinamika awal planet, sekaligus menjadi mekanisme distribusi material dan energi yang menentukan evolusi selanjutnya.

Seiring berjalannya waktu, pendinginan permukaan bumi memungkinkan terbentuknya atmosfer dan hidrosfer. Transformasi dari kondisi panas menuju dominasi air menjadi tonggak penting dalam sejarah bumi. Kehadiran air tidak hanya mengubah wajah planet secara fisik, tetapi juga menyediakan medium bagi reaksi kimia yang mendasari munculnya kehidupan. Proses-proses geokimia dan interaksi antara air, batuan, dan energi matahari menciptakan lingkungan yang semakin kompleks.

Pembentukan daratan melalui aktivitas tektonik membuka babak baru dalam dinamika bumi. Daratan yang stabil memungkinkan terbentuknya ekosistem laut dangkal yang kaya energi, tempat kehidupan awal berkembang dan beradaptasi. Dalam skala waktu geologi, perubahan ini berlangsung sangat lambat, tetapi dampaknya bersifat fundamental dan menentukan arah evolusi kehidupan selanjutnya.

Dengan memahami fase-fase awal ini, sejarah bumi dapat dipandang sebagai rangkaian transisi lingkungan yang saling berkaitan. Setiap perubahan besar menciptakan peluang baru bagi kehidupan, sekaligus mengandung risiko kepunahan. Pola inilah yang terus berulang sepanjang sejarah bumi dan menjadi kunci untuk memahami dinamika planet secara menyeluruh.

 

3. Evolusi Kehidupan, Oksigenasi, dan Kepunahan Massal dalam Skala Waktu Geologi

Evolusi kehidupan di bumi tidak berlangsung secara linear dan stabil. Ia bergerak melalui fase-fase akselerasi, stagnasi, hingga kehancuran besar yang kemudian diikuti oleh kebangkitan bentuk kehidupan baru. Salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah ini adalah meningkatnya kandungan oksigen di atmosfer akibat aktivitas organisme fotosintetik awal. Peristiwa oksigenasi global mengubah komposisi kimia bumi secara drastis dan membuka jalan bagi munculnya organisme yang lebih kompleks.

Namun, oksigenasi juga membawa konsekuensi destruktif. Banyak organisme anaerob yang mendominasi bumi awal tidak mampu bertahan dalam lingkungan kaya oksigen. Peristiwa ini dapat dipandang sebagai salah satu kepunahan besar pertama dalam sejarah bumi, yang terjadi bukan karena tumbukan atau vulkanisme, tetapi akibat perubahan lingkungan yang dipicu oleh kehidupan itu sendiri. Pola ini menunjukkan bahwa evolusi kehidupan dan perubahan lingkungan saling memengaruhi secara timbal balik.

Sepanjang sejarah geologi, bumi mengalami beberapa kepunahan massal yang menghapus sebagian besar spesies dalam waktu relatif singkat. Kepunahan-kepunahan ini sering kali berkaitan dengan kombinasi faktor, seperti aktivitas vulkanik berskala besar, perubahan iklim ekstrem, dan gangguan kimia pada lautan dan atmosfer. Meskipun bersifat destruktif, kepunahan massal juga menciptakan ruang ekologis bagi inovasi evolusioner dan diversifikasi kehidupan.

Dari perspektif kebumian, kepunahan massal bukan anomali, melainkan bagian dari dinamika jangka panjang bumi. Kehidupan berulang kali diuji oleh perubahan lingkungan ekstrem, dan hanya organisme yang mampu beradaptasi yang bertahan. Pemahaman ini memberikan kerangka penting untuk menilai posisi manusia modern dalam sejarah panjang kehidupan di planet ini.

 

4. Superkontinen, Perubahan Iklim Global, dan Dampaknya terhadap Kehidupan

Pergerakan lempeng tektonik secara perlahan tetapi konsisten membentuk dan memecah superkontinen sepanjang sejarah bumi. Siklus pembentukan dan perpecahan superkontinen memiliki dampak besar terhadap sirkulasi laut, pola iklim global, dan distribusi habitat kehidupan. Ketika daratan menyatu, iklim cenderung menjadi lebih ekstrem dengan wilayah interior yang kering dan panas, sementara pemisahan benua meningkatkan pertukaran panas dan kelembapan global.

Perubahan konfigurasi benua juga memengaruhi evolusi kehidupan melalui isolasi dan konektivitas geografis. Pemisahan daratan memungkinkan spesiasi melalui isolasi, sedangkan penyatuan kembali menciptakan kompetisi dan seleksi yang ketat. Dengan demikian, tektonik lempeng tidak hanya membentuk lanskap fisik bumi, tetapi juga mengarahkan jalur evolusi biologis.

Dalam konteks iklim global, sejarah bumi mencatat periode pendinginan ekstrem dan pemanasan intensif yang berlangsung jauh sebelum campur tangan manusia. Zaman es global dan periode rumah kaca memberikan bukti bahwa sistem iklim bumi sangat sensitif terhadap perubahan komposisi atmosfer, posisi benua, dan aktivitas geologi. Kehidupan beradaptasi terhadap perubahan-perubahan ini dengan berbagai strategi, mulai dari migrasi hingga inovasi fisiologis.

Namun, laju perubahan iklim dalam sejarah geologi umumnya berlangsung dalam skala waktu yang panjang, memberi kesempatan bagi kehidupan untuk beradaptasi. Perbandingan ini menjadi relevan ketika menilai perubahan iklim modern yang berlangsung jauh lebih cepat. Sejarah bumi menyediakan konteks penting untuk memahami batas-batas adaptasi kehidupan dan risiko yang muncul ketika perubahan lingkungan melampaui kapasitas adaptif organisme.

 

5. Manusia sebagai Agen Geologi Baru dan Tantangan Antroposen

Dalam rentang waktu geologi yang sangat panjang, pengaruh organisme terhadap sistem bumi umumnya bersifat gradual. Namun, kemunculan manusia modern membawa perubahan dengan laju dan skala yang berbeda. Aktivitas manusia, mulai dari pertambangan, urbanisasi, pertanian intensif, hingga pembakaran bahan bakar fosil, telah mengubah permukaan bumi, siklus biogeokimia, dan komposisi atmosfer secara signifikan. Perubahan ini mendorong munculnya gagasan tentang Antroposen, sebuah periode di mana manusia dipandang sebagai agen geologi baru.

Sebagai agen geologi, manusia mempercepat proses-proses yang dalam kondisi alami berlangsung sangat lambat. Erosi dipercepat oleh pembukaan lahan, sedimentasi meningkat akibat perubahan tata guna tanah, dan emisi gas rumah kaca menggeser keseimbangan energi bumi. Dalam skala waktu manusia, perubahan ini tampak sebagai kemajuan ekonomi dan teknologi. Namun, dalam perspektif sejarah bumi, perubahan tersebut merupakan gangguan cepat terhadap sistem yang terbentuk melalui keseimbangan jangka panjang.

Tantangan Antroposen terletak pada ketidakseimbangan antara kemampuan manusia mengubah lingkungan dan kemampuannya memahami konsekuensi jangka panjang dari perubahan tersebut. Sejarah bumi menunjukkan bahwa sistem planet memiliki mekanisme umpan balik yang kompleks. Ketika ambang tertentu terlampaui, perubahan dapat menjadi sulit atau bahkan mustahil untuk dibalik. Dalam konteks ini, manusia tidak hanya menjadi pengamat sejarah bumi, tetapi aktor aktif yang menentukan arah evolusi lingkungan di masa depan.

Pemahaman kebumian yang mendalam menjadi krusial untuk menghadapi tantangan ini. Dengan menempatkan aktivitas manusia dalam kerangka waktu geologi, risiko dan dampak jangka panjang dapat dinilai secara lebih proporsional. Perspektif ini membantu menggeser cara pandang dari eksploitasi jangka pendek menuju pengelolaan bumi sebagai sistem yang rapuh namun adaptif.

 

6. Refleksi Kebumian dan Pelajaran Sejarah Bumi bagi Masa Depan Manusia

Refleksi terhadap sejarah bumi mengungkap satu pelajaran mendasar: perubahan adalah keniscayaan, tetapi laju perubahan menentukan nasib kehidupan. Kehidupan di bumi telah bertahan melalui berbagai krisis global, namun selalu dengan biaya kepunahan yang besar. Dari sudut pandang kebumian, tidak ada jaminan bahwa spesies manusia kebal terhadap dinamika tersebut.

Sejarah bumi mengajarkan pentingnya adaptasi, keseimbangan, dan batas. Adaptasi memungkinkan kehidupan bertahan dalam lingkungan yang berubah, tetapi adaptasi membutuhkan waktu. Ketika perubahan berlangsung terlalu cepat, kapasitas adaptif organisme dapat terlampaui. Dalam konteks modern, tantangan terbesar manusia adalah memastikan bahwa laju perubahan lingkungan tidak melampaui kemampuan adaptasi sistem alam dan sosial.

Pelajaran lain yang tak kalah penting adalah keterhubungan sistem bumi. Atmosfer, hidrosfer, biosfer, dan litosfer tidak bekerja secara terpisah. Intervensi pada satu komponen akan memengaruhi komponen lain melalui rangkaian umpan balik yang kompleks. Oleh karena itu, solusi terhadap tantangan lingkungan tidak dapat bersifat parsial, melainkan harus berbasis pemahaman sistemik.

Sebagai penutup, sejarah bumi bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi cermin bagi masa depan manusia. Dengan memahami perjalanan panjang planet ini, manusia dapat belajar bersikap lebih rendah hati dan bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya bumi. Geologi sejarah mengingatkan bahwa bumi akan terus berevolusi, dengan atau tanpa manusia. Pertanyaannya bukan apakah bumi akan bertahan, tetapi apakah manusia mampu menyesuaikan diri dan hidup selaras dengan dinamika planet yang telah membentuknya selama miliaran tahun.

 

 

Daftar Pustaka

Aswan. (2022). Sejarah bumi dan evolusi kehidupan dalam perspektif waktu geologi. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Stanley, S. M. (2010). Earth system history. W.H. Freeman and Company.

Prothero, D. R. (2016). The evolution of the earth system. Oxford University Press.

Knoll, A. H. (2015). Life on a young planet: The first three billion years of evolution on Earth. Princeton University Press.

Gradstein, F. M., Ogg, J. G., Schmitz, M. D., & Ogg, G. M. (2012). The geologic time scale 2012. Elsevier.

Steffen, W., Crutzen, P. J., & McNeill, J. R. (2007). The anthropocene: Are humans now overwhelming the great forces of nature? Ambio, 36(8), 614–621.

Alvarez, L. W., Alvarez, W., Asaro, F., & Michel, H. V. (1980). Extraterrestrial cause for the Cretaceous–Tertiary extinction. Science, 208(4448), 1095–1108.

Selengkapnya
Perjalanan Panjang Sang Penjelajah Waktu: Sejarah Bumi, Evolusi Kehidupan, dan Pelajaran Kebumian bagi Manusia Modern

Geologi

Mikrofosil sebagai Kunci Rekonstruksi Sejarah Bumi dan Dinamika Lingkungan Purba

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 12 Januari 2026


1. Pendahuluan

Dalam ilmu kebumian, memahami masa lalu bukan sekadar upaya akademik, melainkan fondasi bagi pengambilan keputusan di masa kini dan masa depan. Sejarah pembentukan bumi, perubahan lingkungan, serta dinamika kehidupan purba menyimpan informasi penting yang membantu manusia membaca potensi sumber daya alam, risiko kebencanaan, hingga perubahan iklim. Di antara berbagai pendekatan yang digunakan untuk merekonstruksi masa lalu tersebut, kajian mikrofosil menempati posisi yang semakin strategis.

Mikrofosil sering kali luput dari perhatian karena ukurannya yang sangat kecil dan tidak kasat mata. Namun justru karena kelimpahannya dan sebarannya yang luas, mikrofosil menyimpan rekaman lingkungan yang sangat rinci. Setiap perubahan kondisi laut, iklim, atau ekosistem akan tercermin pada jenis, jumlah, dan karakter mikrofosil yang terawetkan dalam sedimen. Dengan demikian, mikrofosil dapat dipandang sebagai arsip alami yang merekam dinamika bumi dalam skala waktu geologis.

Artikel ini mengkaji peran mikropaleontologi sebagai alat analisis utama dalam memahami sejarah stratigrafi, lingkungan pengendapan, dan perubahan iklim purba. Analisis ini menempatkan mikrofosil bukan sekadar objek laboratorium, tetapi sebagai instrumen konseptual yang menghubungkan data lapangan, pengamatan mikroskopis, dan interpretasi geologi terpadu, sebagaimana dikembangkan dalam tradisi keilmuan paleontologi dan geologi kuarter di Indonesia

 

2. Mikrofosil dalam Kerangka Biostratigrafi dan Paleontologi

Dalam pemetaan geologi, pengurutan lapisan batuan merupakan langkah fundamental untuk memahami evolusi suatu wilayah. Prinsip-prinsip stratigrafi klasik memungkinkan pengurutan berdasarkan posisi dan litologi, tetapi pendekatan ini memiliki keterbatasan ketika dihadapkan pada batuan yang seragam secara fisik. Di sinilah biostratigrafi berbasis fosil, khususnya mikrofosil, memainkan peran penting.

Mikrofosil seperti nannofosil gampingan, foraminifera, dan polen memiliki rentang hidup geologis yang relatif singkat dan responsif terhadap perubahan lingkungan. Setiap spesies muncul, berkembang, dan punah pada interval waktu tertentu. Pola ini membentuk kerangka biozonasi yang memungkinkan penentuan umur relatif lapisan batuan dengan ketelitian tinggi. Dibandingkan fosil berukuran besar, mikrofosil jauh lebih efektif karena jumlahnya melimpah dan dapat ditemukan hanya dari sampel sedimen berukuran kecil.

Keunggulan lain mikrofosil terletak pada kemampuannya merekam kondisi lingkungan pengendapan. Perbandingan antara mikrofosil planktonik dan bentonik, misalnya, dapat digunakan untuk menafsirkan kedalaman laut, energi lingkungan, dan perubahan muka air laut. Variasi bentuk dan struktur mikrofosil juga mencerminkan adaptasi biologis terhadap kondisi fisik dan kimia perairan pada masanya.

Dengan demikian, biostratigrafi berbasis mikrofosil tidak hanya berfungsi sebagai alat penentu umur, tetapi juga sebagai jembatan interpretatif antara data biologis dan proses geologi. Pendekatan ini memungkinkan penyusunan sejarah cekungan sedimen secara lebih komprehensif, menghubungkan peristiwa lokal dengan dinamika regional bahkan global.

 

3. Nannofosil Gampingan dan Informasi Lingkungan Laut Purba

Nannofosil gampingan merupakan salah satu kelompok mikrofosil yang memiliki nilai interpretatif tinggi dalam kajian lingkungan laut purba. Organisme mikroskopis penghasil kalsium karbonat ini hidup melayang di kolom air dan sangat sensitif terhadap perubahan kondisi oseanografi. Karena itu, keberadaan dan variasinya dalam sedimen laut mencerminkan dinamika lingkungan pada saat pengendapan berlangsung.

Dalam rekaman sedimen, perubahan komposisi nannofosil sering berkorelasi dengan fluktuasi suhu permukaan laut, produktivitas primer, dan ketersediaan nutrien. Ketika kondisi lingkungan relatif stabil, asosiasi nannofosil cenderung homogen dan menunjukkan dominasi spesies tertentu. Sebaliknya, periode perubahan lingkungan yang cepat biasanya ditandai oleh pergantian spesies yang signifikan atau bahkan penurunan kelimpahan nannofosil secara drastis.

Keunggulan nannofosil gampingan terletak pada penyebarannya yang luas dan kemunculannya yang hampir kontinu dalam sedimen laut sejak Mesozoikum hingga kini. Hal ini memungkinkan korelasi stratigrafi lintas wilayah yang sangat efektif, bahkan antarcekungan yang terpisah secara geografis. Dalam konteks Indonesia yang memiliki sejarah tektonik kompleks, kemampuan korelatif ini menjadi sangat penting untuk memahami keterkaitan antara peristiwa lokal dan dinamika laut global.

Melalui analisis nannofosil, rekonstruksi lingkungan laut purba tidak lagi hanya bersifat deskriptif, tetapi juga kuantitatif. Perubahan kecil dalam ukuran, morfologi, dan kelimpahan nannofosil dapat diinterpretasikan sebagai respon biologis terhadap tekanan lingkungan, menjadikan mikrofosil ini sebagai indikator sensitif perubahan sistem bumi.

 

4. Mikrofosil sebagai Alat Rekonstruksi Paleoklimat dan Evolusi Cekungan

Selain berperan dalam biostratigrafi, mikrofosil juga menjadi alat utama dalam rekonstruksi paleoklimat. Hubungan erat antara organisme mikroskopis dan kondisi lingkungannya membuat mikrofosil mampu merekam variasi iklim masa lalu dengan resolusi yang tinggi. Informasi ini menjadi semakin relevan dalam upaya memahami dinamika iklim jangka panjang dan implikasinya terhadap sistem bumi saat ini.

Foraminifera planktonik, misalnya, mencatat perubahan suhu dan salinitas laut melalui variasi isotop oksigen dan karbon pada cangkangnya. Data tersebut memungkinkan penelusuran siklus glasial dan interglasial serta fluktuasi muka laut. Ketika dikombinasikan dengan data nannofosil dan palinologi, rekonstruksi iklim menjadi lebih komprehensif dan saling menguatkan.

Dalam konteks evolusi cekungan sedimen, mikrofosil membantu mengungkap hubungan antara perubahan iklim, tektonik, dan sedimentasi. Pergeseran asosiasi mikrofosil sering kali mencerminkan perubahan kedalaman cekungan, suplai sedimen, atau konektivitas dengan laut terbuka. Dengan demikian, mikropaleontologi berperan sebagai penghubung antara proses internal bumi dan respon lingkungan permukaan.

Pendekatan ini memberikan perspektif dinamis terhadap evolusi cekungan, di mana setiap lapisan sedimen dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor iklim, biologis, dan geologi. Rekonstruksi semacam ini sangat penting tidak hanya untuk kepentingan akademik, tetapi juga untuk aplikasi praktis seperti eksplorasi sumber daya alam dan penilaian risiko geologi.

 

5. Kontribusi Mikropaleontologi bagi Ilmu Kebumian dan Aplikasi Terapan

Perkembangan mikropaleontologi telah memperluas perannya dari disiplin akademik menjadi alat analisis yang memiliki implikasi praktis luas. Dalam ilmu kebumian, data mikrofosil menjadi fondasi bagi pemahaman stratigrafi, lingkungan pengendapan, dan dinamika cekungan sedimen. Informasi ini sangat penting untuk merekonstruksi sejarah geologi suatu wilayah secara menyeluruh.

Dalam aplikasi terapan, mikropaleontologi memainkan peran strategis dalam eksplorasi sumber daya alam. Industri migas, misalnya, memanfaatkan analisis mikrofosil untuk menentukan umur dan lingkungan pengendapan batuan reservoir maupun batuan induk. Ketelitian penentuan umur dan korelasi stratigrafi berbasis mikrofosil membantu mengurangi ketidakpastian dalam pemodelan geologi bawah permukaan.

Selain itu, mikrofosil juga berkontribusi dalam studi perubahan lingkungan dan iklim. Rekaman paleoklimat yang dihasilkan dari mikrofosil memungkinkan penelusuran pola perubahan iklim jangka panjang dan peristiwa ekstrem di masa lalu. Pengetahuan ini menjadi referensi penting dalam memahami dinamika iklim modern dan potensi dampaknya terhadap sistem bumi dan kehidupan manusia.

Kontribusi lain yang semakin relevan adalah peran mikropaleontologi dalam kajian kebencanaan. Informasi tentang perubahan muka laut purba, aktivitas tektonik, dan dinamika sedimen pantai dapat digunakan untuk menilai kerentanan wilayah pesisir terhadap bencana alam. Dengan demikian, mikropaleontologi tidak hanya merekam masa lalu, tetapi juga membantu memitigasi risiko di masa depan.

 

6. Refleksi Ilmiah dan Arah Pengembangan Mikropaleontologi di Indonesia

Perjalanan mikropaleontologi di Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, baik dari sisi kapasitas keilmuan maupun penerapannya. Namun, tantangan ke depan menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan adaptif. Kompleksitas geologi Indonesia sebagai wilayah tektonik aktif memerlukan kajian mikrofosil yang dikombinasikan dengan data geokimia, geofisika, dan pemodelan numerik.

Arah pengembangan mikropaleontologi ke depan juga perlu memperhatikan penguatan sumber daya manusia dan infrastruktur penelitian. Investasi pada fasilitas laboratorium, basis data mikrofosil nasional, dan kolaborasi internasional menjadi kunci untuk meningkatkan kualitas dan daya saing penelitian. Tanpa dukungan tersebut, potensi mikropaleontologi sebagai alat strategis ilmu kebumian belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Selain itu, penting untuk memperluas pemanfaatan hasil kajian mikrofosil di luar komunitas akademik. Integrasi pengetahuan mikropaleontologi ke dalam perencanaan tata ruang, eksplorasi sumber daya, dan kebijakan lingkungan akan meningkatkan relevansi sosial ilmu ini. Dengan demikian, mikropaleontologi tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu, tetapi juga pada pengambilan keputusan yang lebih berbasis bukti.

Sebagai penutup, mikrofosil merupakan saksi bisu perjalanan panjang bumi yang menyimpan informasi berharga tentang dinamika lingkungan dan kehidupan purba. Melalui pengembangan mikropaleontologi yang berkelanjutan dan terintegrasi, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya dalam kajian ilmu kebumian sekaligus memanfaatkan pengetahuan masa lalu untuk menghadapi tantangan masa depan.

 

 

Daftar Pustaka

Kapid, R. (2023). Mikrofosil sebagai kunci rekonstruksi sejarah bumi dan dinamika lingkungan purba. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Bown, P. R. (2005). Calcareous nannoplankton evolution: A tale of two oceans. Micropaleontology, 51(4), 299–322.

Gradstein, F. M., Ogg, J. G., Schmitz, M. D., & Ogg, G. M. (2020). Geologic time scale 2020. Elsevier.

Kennett, J. P. (1982). Marine geology. Prentice-Hall.

Murray, J. W. (2006). Ecology and applications of benthic foraminifera. Cambridge University Press.

Zachos, J. C., Dickens, G. R., & Zeebe, R. E. (2008). An early Cenozoic perspective on greenhouse warming and carbon-cycle dynamics. Nature, 451(7176), 279–283.

Selengkapnya
Mikrofosil sebagai Kunci Rekonstruksi Sejarah Bumi dan Dinamika Lingkungan Purba

Geologi

Pemetaan Geologi pada Zaman Digital

Dipublikasikan oleh Anisa pada 11 Maret 2025


Pemetaan geologi digital adalah proses dimana fitur geologi diamati, dianalisis, dan dicatat di lapangan dan ditampilkan secara real-time di komputer atau personal digital Assistant (PDA). Fungsi utama dari teknologi baru ini adalah untuk menghasilkan peta geologi dengan referensi spasial yang dapat dimanfaatkan dan diperbarui saat melakukan kerja lapangan.

Secara tradisional. pemetaan geologi adalah proses interpretasi yang melibatkan berbagai jenis informasi, mulai dari data analitis hingga observasi pribadi, semuanya disintesis dan dicatat oleh ahli geologi. Pengamatan geologi secara tradisional dicatat di atas kertas, baik pada kartu catatan standar, di buku catatan, atau di peta.

Pada abad ke-21, teknologi komputer dan perangkat lunak menjadi portabel dan cukup kuat untuk melakukan beberapa tugas sehari-hari yang harus dilakukan seorang ahli geologi di lapangan, seperti menemukan lokasi dirinya secara tepat menggunakan unit GPS, menampilkan banyak gambar (peta, gambar satelit). , foto udara, dll.), merencanakan simbol strike dan dip, dan memberi kode warna pada karakteristik fisik yang berbeda dari suatu litologi atau jenis kontak (misalnya, ketidakselarasan) antar strata batuan. Selain itu, komputer kini dapat melakukan beberapa tugas yang sulit dilakukan di lapangan, misalnya menulis tangan atau pengenalan suara dan membuat anotasi pada foto saat itu juga. Pemetaan digital mempunyai dampak positif dan negatif terhadap proses pemetaan; hanya penilaian terhadap dampaknya terhadap proyek pemetaan geologi secara keseluruhan yang dapat menunjukkan apakah proyek tersebut memberikan manfaat bersih. Dengan penggunaan komputer di lapangan, pencatatan observasi dan pengelolaan data dasar berubah drastis. Penggunaan pemetaan digital juga mempengaruhi kapan terjadinya analisis data pada proses pemetaan, namun tidak terlalu mempengaruhi proses itu sendiri.

Keuntungan

  • Data yang dimasukkan oleh ahli geologi mungkin memiliki lebih sedikit kesalahan dibandingkan data yang ditranskripsi oleh petugas entri data.
  • Entri data oleh ahli geologi di lapangan mungkin memerlukan waktu total lebih sedikit dibandingkan entri data berikutnya di kantor, sehingga berpotensi mengurangi keseluruhan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu proyek.
  • Luas spasial objek dunia nyata dan atributnya dapat dimasukkan langsung ke dalam database dengan kemampuan sistem informasi geografis (GIS). Fitur dapat secara otomatis diberi kode warna dan disimbolkan berdasarkan kriteria yang ditetapkan.
  • Berbagai peta dan citra (peta geofisika, citra satelit, ortofoto, dll.) dapat dengan mudah dibawa dan ditampilkan di layar.
  • Para ahli geologi boleh saling mengunggah file data untuk kerja lapangan keesokan harinya sebagai referensi.
  • Analisis data dapat dimulai segera setelah kembali dari lapangan, karena database sudah terisi.
  • Data dapat dibatasi oleh kamus dan menu dropdown untuk memastikan bahwa data dicatat secara sistematis dan data wajib tidak dilupakan.
  • Alat dan fungsionalitas yang menghemat tenaga kerja dapat disediakan di lapangan, misalnya. kontur struktur dengan cepat, dan visualisasi 3D
  • Sistem dapat dihubungkan secara nirkabel ke peralatan lapangan digital lainnya (seperti kamera digital dan jaringan sensor)

Kerugian

  • Komputer dan barang-barang terkait (baterai tambahan, stylus, kamera, dll.) harus dibawa ke lapangan.
  • Memasukkan data lapangan ke dalam komputer mungkin memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan menulis secara fisik di atas kertas, sehingga mungkin mengakibatkan program lapangan menjadi lebih lama.
  • Data yang dimasukkan oleh beberapa ahli geologi mungkin mengandung lebih banyak inkonsistensi dibandingkan data yang dimasukkan oleh satu orang, sehingga membuat database lebih sulit untuk dibuat kuerinya.
  • Deskripsi tertulis menyampaikan informasi rinci kepada pembaca melalui gambaran yang mungkin tidak dikomunikasikan oleh data yang sama dalam format yang diurai.
  • Ahli geologi mungkin cenderung mempersingkat deskripsi teks karena sulit untuk dimasukkan (baik dengan tulisan tangan atau pengenalan suara), sehingga mengakibatkan hilangnya data.
  • Tidak ada peta lapangan asli dalam bentuk hardcopy atau catatan untuk diarsipkan. Kertas adalah media yang lebih stabil dibandingkan format digital.

Penggunaan

Universitas dan guru sekolah menengah telah memasukkan pemetaan geologi digital ke dalam tugas kelas mereka. Misalnya, program seperti kamp geologi lapangan Bowling Green State University menggabungkan teknologi, pengajaran geologi lapangan, dan pemetaan geologi melalui proyek GeoPad. Sejak tahun 2006, Teknik Pemetaan Digital Lapangan telah dimasukkan ke dalam kelas Ilmu Bumi dan Lingkungan di Universitas Urbino (Italia). Program MapTeach dimaksudkan untuk membantu siswa sekolah menengah dan atas belajar pemetaan digital langsung. Sebagai bagian dari program pendidikan mereka, proyek SPLINT di Inggris menggunakan sistem pemetaan lapangan BGS.

Pemetaan geologi tradisional, pemetaan pengintaian, dan survei fitur geologi semuanya dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi pemetaan digital. Survei geologi utama, seperti Survei Geologi Inggris dan Survei Geologi Kanada, berbicara tentang penggunaan dan kemajuan teknologi selama pertemuan pengambilan data lapangan digital internasional (DFDC). Pemetaan geologi ilmiah dan terapan, seperti mata air panas bumi dan lokasi pertambangan, dirancang oleh banyak survei geologi lain dan perusahaan swasta.

Disadur dari:

https://en.wikipedia.org

Selengkapnya
Pemetaan Geologi pada Zaman Digital

Geologi

Penerapan Ilmu Geologi

Dipublikasikan oleh Anisa pada 07 Maret 2025


Geologi adalah disiplin ilmu alam yang mempelajari bumi dan benda-benda langit lainnya, batuan penyusunnya, dan proses yang menyebabkannya berubah seiring berjalannya waktu. Kata "geologi" berasal dari kata Yunani Kuno "gê" (bumi) dan "λoγία" (-logía), yang berarti "studi tentang wacana". Semua disiplin ilmu kebumian lainnya, termasuk hidrologi, memiliki banyak kesamaan dengan geologi modern. Hal ini dikombinasikan dengan ilmu planet dan sistem bumi.

Geologi menjelaskan proses-proses yang membentuk struktur bumi serta struktur di atas dan di bawah permukaannya. Ahli geologi memeriksa susunan mineralogi batuan untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana batuan tersebut terbentuk. Geokimia, salah satu cabang ilmu geologi, menentukan umur absolut suatu batuan, sedangkan geologi menentukan umur relatif batuan yang ditemukan di suatu tempat tertentu. Melalui integrasi beragam instrumen petrologi, kristalografi, dan paleontologi, ahli geologi dapat mendokumentasikan seluruh masa lalu geologi bumi. Salah satunya adalah untuk menggambarkan berapa umur Bumi. Sejarah evolusi kehidupan, lempeng tektonik, dan suhu bumi sebelumnya semuanya didukung oleh data geologi.

Ciri-ciri dan cara kerja Bumi dan planet kebumian lainnya dipelajari oleh para ahli geologi pada umumnya. Untuk memahami komposisi dan sejarah Bumi, ahli geologi menggunakan berbagai metodologi, seperti kerja lapangan, deskripsi batuan, pendekatan geofisika, analisis kimia, eksperimen fisik, dan pemodelan numerik. Geologi sangat penting untuk penemuan praktis dan eksploitasi mineral dan hidrokarbon, penilaian sumber daya air, pemahaman tentang bahaya alam, penyelesaian masalah lingkungan, dan penyediaan wawasan sejarah perubahan iklim. Selain menjadi mata pelajaran akademis yang menonjol, geologi juga penting untuk teknik geoteknik dan geologi.

Struktur bumi

Seismologi, pemodelan komputer, mineralogi suhu tinggi dan tekanan tinggi, serta kemajuan kristalografi memberikan perspektif baru tentang struktur dan susunan internal Bumi.

Struktur bumi yang berlapis. (1) inti dalam; (2) inti luar; (3) mantel bawah; (4) mantel atas; (5) litosfer; (6) kerak (bagian paling atas litosfer)

Waktu tibanya gelombang seismik dapat dimanfaatkan oleh para seismolog untuk membuat gambaran isi perut bumi. Penemuan awal di bidang ini mengungkapkan adanya inti dalam yang tebal dan padat serta inti luar yang cair, dimana gelombang geser tidak dapat merambat. Model Bumi berlapis tercipta sebagai hasil dari perkembangan ini, dengan litosfer (yang berisi kerak bumi) di atas, mantel (yang dipisahkan oleh diskontinuitas seismik pada 410 dan 660 kilometer) di bawah, serta inti luar dan dalam di bawah. itu. Baru-baru ini, ahli seismologi telah mampu menghasilkan foto detail kecepatan gelombang bumi dengan cara yang mirip dengan bagaimana CT scan menggambarkan tubuh pasien. Model dasar berlapis telah digantikan dengan model yang lebih dinamis berkat foto-foto ini, yang memungkinkan pandangan sekilas lebih detail mengenai bagian dalam bumi.

Dengan pemahaman tentang susunan penyusun bumi serta data tekanan dan suhu dari investigasi seismik dan pemodelan, ahli mineralogi telah mampu mereplikasi keadaan ini dalam lingkungan eksperimental dan mendeteksi perubahan dalam struktur kristal. Temuan ini menunjukkan struktur kristalografi yang diantisipasi di inti bumi dan menjelaskan perubahan kimia yang terkait dengan diskontinuitas seismik besar di mantel.

Disadur dari:

https://en.wikipedia.org

Selengkapnya
Penerapan Ilmu Geologi

Geologi

Asal Mula Peta Geologi

Dipublikasikan oleh Anisa pada 05 Maret 2025


Peta geologi adalah peta yang dirancang dengan tujuan khusus untuk menunjukkan berbagai ciri geologi. Untuk menunjukkan satuan batuan atau strata geologi, warna atau simbol dapat digunakan. Bidang lapisan dan fitur struktur, seperti sesar, lipatan, dapat ditunjukkan dengan simbol strike and dip, atau tren dan terjun, yang memberikan orientasi tiga dimensi.

Peta Isopach menunjukkan variasi ketebalan satuan stratigrafi. Garis kontur stratigrafi dapat digunakan untuk menggambarkan permukaan strata tertentu yang menggambarkan tren topografi di bawah permukaan strata tersebut. Ketika lapisan terganggu, sangat retak, tercampur, atau dalam beberapa diskontinuitas, hal ini tidak selalu dapat ditunjukkan dengan tepat.

Peta geologi tertua yang masih ada adalah papirus Turin (1150 SM), yang menunjukkan lokasi simpanan batu dan emas bangunan di Mesir. Peta geologi paling awal dari era modern adalah "Peta Bagian Auvergne, atau gambar, Arus Lava tahun 1771 yang di dalamnya Prisma, Bola, Dll. Terbuat dari Basalt. Untuk digunakan dengan teori Mr. Demarest tentang kesulitan ini basal. Diukir oleh Tuan Pasumot dan Harian, Insinyur Geologi Raja." Peta ini didasarkan pada studi terperinci Nicolas Desmarest pada tahun 1768 tentang geologi dan sejarah letusan gunung berapi Auvergne dan perbandingan dengan kolom Giant's Causeway of Ireland. Dia mengidentifikasi kedua landmark tersebut sebagai ciri gunung berapi yang sudah punah. Laporan tahun 1768 dimasukkan dalam ringkasan Royal Academy of Science tahun 1771 (Prancis). Peta geologi AS pertama dibuat pada tahun 1809 oleh William Maclure. Pada tahun 1807, Maclure melakukan tugas yang dibebankan sendiri untuk melakukan survei geologi di Amerika Serikat. Dia melintasi dan memetakan hampir setiap negara bagian di Persatuan. Selama periode survei dua tahun yang ketat, dia melintasi dan melintasi kembali Pegunungan Allegheny sekitar 50 kali. Peta Maclure menunjukkan distribusi lima kelas batuan di wilayah yang sekarang hanya menjadi negara bagian timur Amerika Serikat.

Pemetaan berdasarkan negara

  • Singapura

Peta geologi Singapura yang pertama dibuat pada tahun 1974 oleh Departemen Pekerjaan Umum. Sebuah peta lokasi, delapan lembar peta yang menunjukkan topografi dan satuan geologi, serta satu lembar penampang pulau semuanya disertakan dalam buku ini. Selama tiga puluh tahun, mulai tahun 1974, sejumlah penemuan geologi baru telah dipresentasikan di berbagai konferensi teknis di seluruh pulau, namun tidak ada publikasi baru yang dibuat. Dengan kemajuan mereka di ruang bawah tanah, Badan Ilmu Pengetahuan & Teknologi Pertahanan dengan cepat mulai menerbitkan ulang Geology of Singapore, edisi kedua, pada tahun 2006. Peta geologi pulau tersebut berukuran 1:75.000, enam peta dengan topografi, direktori jalan, dan geologi berukuran 1:25.000 , lembar penampang, dan peta lokasi semuanya disertakan dalam edisi 2009. Banyaknya formasi yang ditemukan dalam literatur antara tahun 1976 dan 2009 merupakan salah satu perbedaan antara studi Geologi Singapura tahun 1976 dan versi tahun 2009. Ini terdiri dari bentangan batu kapur dan Boulder Beds of Fort Canning.

  • Inggris

Ungkapan "peta geologi" digunakan di Inggris. Sejak tahun 1835, British Geological Survey (BGS) telah memetakan sebagian besar wilayah Britania Raya dan Pulau Man. Sejak tahun 1947, Survei Geologi Irlandia Utara yang terpisah telah beroperasi, menggunakan personel BGS. Geologi dasar Inggris tercakup dalam dua peta dengan skala 1:625.000. Ada lembaran yang lebih teliti tersedia dalam skala 1:250.000, 1:50.000, dan 1:10.000. Meskipun skala lain sering kali hanya mencakup paparan di darat, skala 1:625.000 dan 1:250.000 menampilkan geologi darat dan lepas pantai (seri 1:250.000 mencakup seluruh landas kontinen Inggris).

  • Amerika

Di Amerika Serikat, topeng warna dengan simbol huruf untuk menunjukkan jenis unit geologi biasanya ditambahkan ke peta geologi yang ditumpangkan di atas peta topografi (dan terkadang di atas peta dasar lainnya). Batuan dasar terdekat ditunjukkan oleh topeng warna, meskipun tersembunyi oleh tanah atau penutup lainnya. Formasi batuan atau unit geologi tertentu ditunjukkan oleh setiap area warna (unit geologi tambahan dapat ditentukan seiring bertambahnya informasi yang diperoleh). Hal ini ditampilkan sebagai pengganti batuan dasar di wilayah yang ditutupi oleh lapisan tanah yang sangat tebal dan tidak terkonsolidasi, sedimen teras, endapan loess, atau fitur penting lainnya. Kunci peta menunjuk beberapa simbol untuk garis kontur stratigrafi, garis patahan, simbol strike dan dip, dan representasi lainnya. Peta geologi sering kali dibuat oleh masing-masing negara bagian, bukan peta topografi, yang dibuat oleh USGS bekerja sama dengan negara bagian tersebut. Beberapa negara bagian hanya memiliki sedikit sumber daya peta geologi, sedangkan negara bagian lainnya, seperti Kentucky dan Georgia, memiliki sumber daya peta geologi yang besar.

Disadur dari:

https://en.wikipedia.org

Selengkapnya
Asal Mula Peta Geologi

Geologi

Tahun 2022, Badan Geologi Terbitkan 30 Peta Geologi Indonesia

Dipublikasikan oleh Admin pada 30 April 2023


Salah satu tugas utama Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) selain melakukan mitigasi bencana geologi, juga melakukan Pemetaan melalui Peta Kawasan Rawan Bencana Geologi serta Peta Bersistem dan Bertema untuk wilayah Indonesia. Hal tersebut diungkapkan oleh Plt Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid saat Konferensi Capaian Kinerja Badan Geologi di Bandung (1/2).

"Pemetaan yang merupakan kegiatan utama dari dulu Badan Geologi yaitu peta bersistem dan bertema. Ada 16 peta bersistem dan bertema, dan ada 14 peta Kawasan rawan bencana geologi," jelas Wafid.

Wafid menyampaikan ada beberapa peta geologi berlembar kemudian peta anomali magnet, peta geofisika anomali gaya berat, kemudian peta seismotektonik, peta mikrozonasi, geologi kuarter, geomorfologi, juga peta sebaran batuan ultrabasa.

"Peta geologi adalah peta yang menggambarkan informasi sebaran jenis batuan baik secara lateral maupun vertikal disertai dengan umur, jenis batuan dan komposisi fisik dan kimianya. Untuk peta anomali magnet adalah peta yang menyajikan informasi tentang kemagnetan batuan suatu daerah dalam bentuk kontur dan atau citra warna yang dilengkapi dengan simbol-simbol dan keterangan", jelas Wafid.

Lebih lanjut Wafid menjelaskan peta seismotektonik adalah peta yang menggambarkan sebaran sumber gempa bumi beserta zona sumber gempa buminya dan tingkat kegempaannya (seismisitasnya). Untuk peta geomorfologi adalah peta yang menggambarkan bentuk relief permukaan bumi, disertai dengan informasi mengenai genesa terbentuknya serta susunan batuannya.

"Sedangkan peta geologi kuarter adalah sebuah peta tematik yang khusus membuat informasi batuan/endapan batuan yang berumur kuarter (kurang lebih umurnya < 2 juta tahun), endapan kuarter bersifat lunak dan lepas dan belum mengeras seperti batuan yang terdapat di dalam peta geologi. Informasi sebaran endapan kuarter batuan dibuat dalam bentuk lateral dan vertical (dari hasil pengeboran) disertai lingkungan pada saat pengendapannya seperti endapan rawa, endapan pantai, endapan limpah banjir, endapan tanggul sungai", terang Wafid.

Secara rinci 16 peta bersistem dan bertema sebagai berikut :

  1. Peta Geologi Lembar Subah, Jateng
  2. Peta Geologi Lembar Semarang, Jateng
  3. Peta Geologi Lembar Pekalongan,
  4. Peta Geologi Lembar Demak Jateng
  5. Peta Anomali Magnet Lembar Semarang
  6. Peta Geofisika Anomali Gaya Berat Lembar Cilacap
  7. Peta Seismotektonik Lembar Cilacap
  8. Peta Mikroznasi Lembar Cilacap
  9. Peta Geologi Kuarter Lembar Cilacap
  10. Peta Geomorfologi Lembar Cilacap.
  11. Peta Sebaran Batuan Ultrabasa untuk Carbon Capture Storage (CCS) Daerah Soroako dsk, Kab. Luwu Timur, Sulsel
  12. Peta Sebaran Batuan Ultrabasa untuk Carbon Capture Storage (CCS) Daerah Malili dsk, Kab. Luwu Timur, Sulasewi Selatan
  13. Peta Anomali Bouguer Daerah Luwu Timur dsk Sulawesi Selatan.
  14. Peta Anomali Magnet Daerah Luwu Timur dsk Sulawesi Selatan
  15. Peta Geologi Daerah Surabaya, Jawa Timur
  16. Peta Geologi Daerah Sidoardjo, Jawa Timur

"Ultrabasa ini adalah untuk persiapan kita mendukung Carbon Capture and Storage (CCS) juga Carbon Capture and Utilisation and Storage (CCUS) yang merupakan pengurangan emisi karbon. Selain itu juga peta anomali bourger, peta anomali magnet, juga peta geologi daerah surabaya dan sidoarjo," papar Wafid.

Wafid lebih lanjut menjelaskan selain melakukan Pemetaan Bersistem dan Bertema , Badan Geologi juga melakukan pemetaan kawasan rawan bencana geologi yang terdiri dari 14 peta kawasan rawan bencana.

"Selain itu juga dilakukan pemetaan kawasan rawan bencana geologi baik pemetaan gunung api, rawan bencana gunung api, beberapa gunung api yang ada di maluku utara, lampung, sulteng, dan jabar kemudian kawasan rawan bencana gempa bumi, tsunami dan juga gerakan tanah", ungkap Wafid.

Pemetaan Kawasan Rawan Bencana (KRB) gunung api, merupakan parameter untuk menggambarkan ketersediaan informasi akurat dalam bentuk peta terkait zona rawan bencana yang timbul akibat dari kemungkinan terjadinya bencana gunung api.

Ke-14 Peta Kawasan Rawan Bencana Geologi secara rinci dijelaskan sbb :

  1. Pemetaan Geologi Gunungapi GA Rinjani, NTB
  2. Pemetaan Geologi Gunungapi GA Lokon, Sulut
  3. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi GA Gamalama, Malut
  4. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi GA Pematang Bata, Lampung
  5. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi GA G. Colo, Sulteng
  6. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Kawah Kamojang, Jabar
  7. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gempabumi Weda, Malut
  8. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Gempabumi Likupang, Minahasa Utara
  9. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Tsunami Likupang, Minahasa Utara
  10. Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Tsunami Ternate, Malut
  11. Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Tanggamus, Lampung
  12. Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kab Kerinci, Jambi
  13. Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Sinjai, Sulsel
  14. Pemetaan Zona Kerentanan Gerakan Tanah Kab. Buleleng, Bali-> MP Penguatan Sistem Peringatan Dini Bencana. (BAM)

 

Selengkapnya
Tahun 2022, Badan Geologi Terbitkan 30 Peta Geologi Indonesia
page 1 of 1