Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis modern, manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) menjadi faktor kunci dalam menjaga efisiensi operasional dan daya saing perusahaan. Paper berjudul A Study of Supply Chain Management, yang ditulis oleh Chirag Kishor Kolambe, Prof. Sambhaji V. Sagare, dan Prof. Niraj Balkrishna Dole, membahas konsep dasar SCM, elemen utama, serta tantangan dan strategi implementasi SCM yang lebih efisien.
Artikel ini menguraikan komponen utama SCM, termasuk strategi pengelolaan inventaris, logistik, dan integrasi teknologi digital, serta memberikan wawasan mengenai tren SCM di berbagai industri.
Konsep Dasar Manajemen Rantai Pasok
SCM adalah sistem yang menghubungkan berbagai entitas dalam proses produksi dan distribusi, termasuk pemasok, produsen, distributor, dan pelanggan. Paper ini menjelaskan bahwa SCM melibatkan tiga aliran utama:
Selain itu, SCM mencakup berbagai aktivitas, seperti perencanaan, pengadaan, produksi, distribusi, dan layanan pelanggan.
Elemen Utama dalam SCM
Paper ini mengidentifikasi enam elemen utama yang mempengaruhi efisiensi rantai pasok:
1. Fasilitas
2. Inventaris
3. Transportasi
4. Informasi
5. Sourcing
6. Penetapan Harga (Pricing)
Strategi Optimalisasi SCM
Paper ini menyoroti beberapa strategi yang dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok, termasuk:
Studi Kasus: Implementasi SCM di Industri
Paper ini memberikan beberapa contoh penerapan SCM di berbagai industri, antara lain:
1. Industri Manufaktur
2. Industri Retail
3. Industri Logistik
Tantangan dalam Implementasi SCM
Meskipun SCM memberikan banyak manfaat, paper ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan utama:
Kesimpulan
Paper ini memberikan gambaran mendalam tentang konsep, elemen utama, dan strategi optimalisasi dalam SCM. Dengan menerapkan teknologi digital, strategi efisiensi produksi, dan pendekatan keberlanjutan, perusahaan dapat meningkatkan daya saing mereka secara signifikan.
Bagi bisnis yang ingin mengoptimalkan rantai pasok mereka, integrasi teknologi, efisiensi logistik, dan strategi sourcing yang lebih cerdas menjadi faktor kunci untuk mencapai keberhasilan di era digital.
Sumber :Kolambe, C. K., Sagare, S. V., & Dole, N. B. A Study of Supply Chain Management. International Journal of Advanced Research in Science, Communication and Technology (IJARSCT), Volume 6, Issue 1, June 2021.
Rantai Pasok Resilien dan Adaptif
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam lingkungan bisnis yang terus berubah, manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) menjadi elemen penting untuk meningkatkan daya saing perusahaan. Model Lean dan Agile kini banyak digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas dalam SCM. Paper ini mengkaji pengaruh penerapan model Lean dan Agile dalam rantai pasok serta bagaimana kombinasi keduanya dapat meningkatkan resiliensi, kecepatan, dan adaptabilitas operasional.
Konsep Lean dan Agile dalam Supply Chain
Metodologi Penelitian
Paper ini melakukan studi literatur terhadap berbagai penelitian mengenai implementasi Lean dan Agile dalam SCM. Penelitian ini mengidentifikasi studi kasus dari berbagai industri, mengukur keberhasilan implementasi, dan membahas tantangan serta peluang penerapannya.
Studi Kasus & Data Empiris
1. Industri Otomotif – Volkswagen Autoeuropa
2. Industri Makanan – Nestlé
3. Industri Farmasi – AstraZeneca
Tantangan & Solusi Implementasi
Kesimpulan & Rekomendasi
Paper ini menegaskan bahwa kombinasi Lean dan Agile dalam rantai pasok dapat meningkatkan efisiensi dan fleksibilitas secara signifikan. Untuk keberhasilan implementasi, perusahaan perlu:
✅ Mengoptimalkan proses Lean di bagian produksi dan pengadaan.
✅ Mengadopsi Agile dalam distribusi dan layanan pelanggan.
✅ Menggunakan teknologi digital untuk meningkatkan visibilitas dan respons rantai pasok.
Sumber Artikel: Hassani, Youssef; Ceaușu, Ioana; Iordache, Adrian (2020). Lean and Agile Model Implementation for Managing the Supply Chain. Proceedings of the 14th International Conference on Business Excellence, Bucharest University of Economic Studies, pp. 847-858.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce, last-mile delivery (LMD) menjadi tantangan utama dalam rantai pasok modern. Pengiriman tahap akhir ini sering kali menyumbang 40%-50% dari total biaya logistik dan berdampak besar terhadap kepuasan pelanggan serta keberlanjutan lingkungan.
Artikel ini mengulas inovasi dalam last-mile delivery, seperti drone, robot pengiriman, smart parcel lockers, dan crowdsourcing, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi teknologi ini.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery
1. Peningkatan Volume Pengiriman
2. Dampak Lingkungan dan Keberlanjutan
3. Biaya Operasional Tinggi
4. Tekanan Waktu Pengiriman
Solusi Inovatif dalam Last-Mile Delivery
1. Drone Pengiriman
2. Robot Pengiriman
3. Parcel Lockers dan Micro-Hubs
4. Crowdsourced Delivery
Studi Kasus: Implementasi Inovasi Last-Mile Delivery
1. Amazon Prime Air (Amerika Serikat)
2. Starship Technologies (Eropa)
3. JD Logistics (China)
Rekomendasi untuk Masa Depan
Kesimpulan
Industri last-mile delivery menghadapi tantangan besar, namun inovasi seperti drone, robot, dan parcel lockers dapat meningkatkan efisiensi operasional dan keberlanjutan lingkungan.
Dengan dukungan regulasi dan investasi teknologi, masa depan last-mile delivery akan lebih efisien, ramah lingkungan, dan dapat diandalkan.
Sumber Artikel : Wassen AM Mohammad, Yousef Nazih Diab, Adel Elomri & Chefi Triki (2023). Innovative solutions in last mile delivery: concepts, practices, challenges, and future directions. Supply Chain Forum: An International Journal, 24:2, 151-169.
Logistik Cerdas dan Pengiriman Last Mile
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Perkembangan e-commerce telah mendorong peningkatan permintaan terhadap layanan pengiriman cepat dan fleksibel. Namun, tantangan utama dalam last-mile delivery adalah tingginya biaya operasional, inefisiensi logistik, dan dampak lingkungan akibat peningkatan jumlah kendaraan pengiriman.
Penelitian ini mengeksplorasi solusi inovatif untuk meningkatkan efisiensi last-mile delivery dalam model business-to-consumer (B2C). Dengan fokus pada crowdsourcing logistics dan penerapan algoritma optimasi, studi ini menawarkan strategi baru untuk memenuhi permintaan pelanggan sambil mengurangi beban operasional dan lingkungan.
Tantangan dalam Last-Mile Delivery B2C
1. Efisiensi Operasional dan Biaya Pengiriman
2. Dampak Lingkungan dan Kemacetan
3. Pengiriman Gagal dan Pengembalian Barang
Solusi Inovatif dalam Last-Mile Delivery
Penelitian ini membahas dua model utama dalam optimalisasi last-mile delivery berbasis teknologi dan crowdsourcing:
1. Crowdsourcing Logistics: Menggunakan Kapasitas Berlebih
2. Algoritma Optimasi Rute Pengiriman
Studi Kasus: Implementasi Crowdsourcing Logistics dalam Last-Mile Delivery
1. Penggunaan Crowdsourcing oleh Walmart
2. Amazon Flex: Memanfaatkan Pengemudi Independen
3. Penggunaan Trunk Delivery sebagai Solusi Alternatif
Tantangan dan Rekomendasi dalam Implementasi Solusi Inovatif
1. Keamanan dan Kepercayaan dalam Crowdsourcing Logistics
Solusi:
2. Ketergantungan pada Ketersediaan Pengemudi
Solusi:
3. Regulasi dan Kebijakan Transportasi Perkotaan
Solusi:
Kesimpulan
Solusi inovatif dalam last-mile delivery berbasis crowdsourcing dan algoritma optimasi memungkinkan efisiensi yang lebih tinggi dalam distribusi e-commerce.
✅ Crowdsourcing logistics dapat mengurangi biaya pengiriman hingga 30%.
✅ Algoritma AI dan Machine Learning meningkatkan efisiensi rute dan mengurangi waktu pengiriman hingga 50%.
✅ Model trunk delivery dan pickup points mengurangi pengiriman gagal dan meningkatkan fleksibilitas pelanggan.
Dengan adopsi strategi ini, perusahaan logistik dan e-commerce dapat meningkatkan layanan pelanggan sambil mengurangi dampak lingkungan dan biaya operasional.
Sumber Artikel: Sampaio Oliveira, A. H. (2021). Innovative business-to-business last-mile solutions: models and algorithms. Technische Universiteit Eindhoven.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Dalam dunia bisnis yang kompetitif, manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan. Paper berjudul The Study of Supply Chain Management Strategy and Practices on Supply Chain Performance oleh Inda Sukati, Abu Bakar Hamid, Rohaizat Baharun, dan Rosman Md Yusoff membahas hubungan antara strategi SCM dan praktik SCM terhadap kinerja rantai pasok, dengan fokus pada industri manufaktur di Malaysia.
Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun strategi SCM penting, faktor utama yang benar-benar mempengaruhi kinerja rantai pasok adalah praktik SCM yang diterapkan oleh perusahaan. Studi ini menggunakan data dari 200 manajer rantai pasok di berbagai bidang, termasuk eksekutif perusahaan, pembelian, produksi, distribusi, dan logistik. Hasilnya menunjukkan bahwa kemitraan strategis dengan pemasok, hubungan pelanggan, dan berbagi informasi memiliki dampak yang signifikan terhadap integrasi rantai pasok, fleksibilitas, dan responsivitas terhadap pelanggan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei kuesioner yang dikirimkan kepada 200 manajer di industri manufaktur Malaysia. Sebanyak 62% kuesioner dikembalikan, dan 51% di antaranya dapat digunakan untuk analisis. Data dianalisis menggunakan metode statistik seperti uji validitas dan reliabilitas, korelasi, serta regresi berganda untuk memahami hubungan antara variabel independen dan dependen.
Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan dua faktor utama:
Hubungan Strategi dan Praktik SCM dengan Kinerja Rantai Pasok
Penelitian ini menemukan bahwa strategi SCM memiliki hubungan yang lemah dengan kinerja rantai pasok, sedangkan praktik SCM memiliki hubungan yang lebih kuat dan signifikan terhadap kinerja rantai pasok.
Studi Kasus: Implementasi Strategi SCM dalam Industri Manufaktur
Penelitian ini memberikan beberapa contoh dari industri manufaktur mengenai implementasi strategi dan praktik SCM:
Tantangan dalam Implementasi SCM
Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam implementasi SCM:
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa praktik SCM lebih berpengaruh terhadap kinerja rantai pasok dibandingkan dengan strategi SCM itu sendiri. Kemitraan strategis dengan pemasok, hubungan pelanggan, dan berbagi informasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Meskipun strategi seperti lean, agile, dan hybrid supply chain memberikan manfaat dalam kondisi tertentu, dampaknya terhadap kinerja rantai pasok masih lemah dibandingkan dengan praktik SCM yang lebih konkret. Dengan mengadopsi teknologi digital, meningkatkan kerja sama dengan pemasok, dan memperkuat hubungan dengan pelanggan, perusahaan dapat meningkatkan fleksibilitas, efisiensi, dan daya saing dalam rantai pasok global.
Sumber Referensi:
Sukati, I., Hamid, A. B., Baharun, R., & Yusoff, R. M. The Study of Supply Chain Management Strategy and Practices on Supply Chain Performance. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 40, 225–233, 2012.
Pengukuran Kinerja dan Optimasi dalam Rantai Pasok
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 07 Maret 2025
Pendahuluan
Manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) telah menjadi strategi utama dalam meningkatkan efisiensi bisnis, baik di sektor publik maupun swasta. Paper berjudul Review of Performance Measurement on Supply Chain Management oleh Pooja Dixit dan Tarun Kumar Yadav membahas bagaimana sistem pengukuran kinerja rantai pasok dapat memberikan wawasan tentang efisiensi operasional dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan.
Paper ini menyoroti bahwa meskipun ada banyak penelitian tentang pengukuran kinerja rantai pasok, sebagian besar masih bersifat dangkal dan tidak mempertimbangkan kompleksitas dalam desain sistem pengukuran. Penelitian ini juga membahas perbedaan dalam penerapan sistem pengukuran antara perusahaan besar dan usaha kecil-menengah (UKM), serta bagaimana tren globalisasi dan digitalisasi mempengaruhi manajemen rantai pasok di berbagai industri.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur untuk memahami berbagai model pengukuran kinerja rantai pasok. Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan metodologi struktural untuk mendesain sistem pengukuran kinerja yang lebih akurat.
Proses penelitian melibatkan tiga tahap utama:
Lima Komponen Utama dalam Manajemen Rantai Pasok
Penelitian ini menyoroti lima elemen utama yang membentuk rantai pasok dan bagaimana masing-masing elemen dapat diukur secara efektif:
Temuan Utama dalam Penelitian
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam penerapan sistem pengukuran kinerja rantai pasok:
Studi Kasus: Implementasi Pengukuran Kinerja di Industri Manufaktur
Penelitian ini memberikan contoh penerapan sistem pengukuran kinerja rantai pasok dalam industri manufaktur, dengan fokus pada perusahaan yang bergerak di sektor otomotif dan elektronik.
Rekomendasi untuk Optimalisasi Sistem Pengukuran Kinerja
Berdasarkan temuan penelitian, ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan sistem pengukuran kinerja rantai pasok:
Kesimpulan
Penelitian ini menyoroti pentingnya sistem pengukuran kinerja dalam manajemen rantai pasok, baik untuk perusahaan besar maupun UKM. Meskipun ada tantangan dalam implementasi, penggunaan teknologi digital dan standarisasi global dapat membantu meningkatkan efektivitas sistem pengukuran. Dengan mengadopsi pendekatan berbasis data dan inovasi, perusahaan dapat mencapai rantai pasok yang lebih efisien, responsif, dan kompetitif di era globalisasi.
Sumber Referensi : Dixit, P., & Yadav, T. K. Review of Performance Measurement on Supply Chain Management. International Journal of Engineering Applied Sciences and Technology, Vol. 7, Issue 9, 2022, pp. 118-126.