Teknik Mesin

Aerodinamika: Dari Konsep Kuno hingga Aplikasi Modern

Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025


Aerodinamika

Aerodinamika adalah salah satu cabang dinamika yang berkenaan dengan kajian pergerakan udara, khususnya ketika udara tersebut berinteraksi dengan benda padat. Aerodinamika adalah cabang dari dinamika fluida dan dinamika gas, dengan banyak teori yang saling berbagi pakai di antara mereka. Aerodinamika sering kali digunakan secara sinonim dengan dinamika gas alam, dengan perbedaan bahwa dinamika gas berlaku bagi semua gas.prinsipnya seperti gas yang dikeluarkan oleh bagian belakang manusia.

Deskripsi

Pada tahun 1810 Sir George Canley berpendapat bahwa udara dipaksa meniup berlawanan dengan arah gerak dari sayap dalam udara atau fluida tersebut. Kemudian pada tahun 1871 Pranoim Wenham merencanakan airfoil yang melengkung seperti bentuk dari sayap burung. Juga pada tahun ini Wenham yang pertama-tama membuat terowongan angin yang digerakkan dengan tenaga uap. Penyelidikan airfoil ini dilanjutkan oleh Wreight bersaudara dengan mengadakan percobaan-percobaan kurang lebih 150 buah air foil disamping melengkapi alat-alat kemudi untuk mengemudikan pesawat yang sedang terbang.dalam penyelidikan Iaanc Newton telah menemukan gaya-gaya udara yang melalui benda yang bergerak yaitu gaya angkat (lift dan hambatan/drag). Pada tahun 1902-1907 N Wilhelm Kutti (jerman), N.E. Janhowaki (rusia), Frederiek W. Launohoster (Inggris) menemukan teori bagaimana terjadinya gaya angkat (lift) pada airfoil.

Dengan penemuan-penemuan pada tahun-tahun di atas jelaslah bahwa aerodinamika merupakan ilmu yang masih baru, dan bukanlah suatu pengetahuan yang abstrak seperti ilmu pasti dan mekanik karena hingga kini penyelidikan-penyelidikan masih terus dilakukan.

Aerodinamika sebenarnya tidak lain daripada suatu yang mempelajari atau menyelidiki sifat-sifat udara,reaksi-reaksi dan akibat-akibat yang timbul dari gerakan udara terhadap benda yang dilalui oleh udara atau gerakan benda-benda di dalam udara tersebut. Jadi aerodinamika berarti pula pengetahuan atau penyelidikan mengenai gerakan-gerakan benda di dalam udara di mana pengertian ini sangat erat hubungannya denganilmu penerbangan.

Adapun factor-faktor yang mempengaruhi Aerodinamika:

  • Temperature (suhu udara)
  • Tekanan udara
  • Kecepatan udara
  • Kerapatan / kepadatan udara

Untuk mempelajari ilmu aerodinamika, ada beberapa hukum di antaramya

Hukum Newton

Hukum Newton I
Mengatakan bahwa benda yang diam akan tetap diam sedangkan benda yang bergerak akan tetap bergerak dalam garis lurus dan kecepatan yang tetapkecuali suatu sebab dari luar yaitu gaya yang memaksanya mengubah keadaan tersebut

Hukum Newton II
Mengatakan bahwa perubahan banyaknya gerakan berbanding langsung dengan gaya yang bekerja dan menurut garis kerja gaya tersebut. Selanjutnya Hukum Newton II mengatakan bahwa benda yang bergerak akan mendapat perlambatan.

Hukum Newton III
Mengatakan bahwa aksi sama besar dan berlawanan arah dengan reaksi. Artinya gaya yang dilaksanakan oleh dua benda terhadap sesamanya sama besar dan berlawanan arahnya.

Tinjauan

Pemahaman akan pergerakan udara (sering kali disebut "medan aliran") di sekitar suatu benda membolehkan perhitungan gaya-gaya dan momen-momen yang bertindak pada benda tersebut. Sifat-sifat sejenis yang dihitung untuk suatu medan aliran meliputi kecepatan, tekanan, kerapatan, dan temperatur sebagai fungsi posisi ruang dan waktu. Aerodinamika membolehkan definisi dan solusi persamaan untuk kekekalan massa, momentum, dan energi di dalam udara. Penggunaan aerodinamika melalui analisis matematika, hampiran empirik, percobaan lorong angin, dan simulasi komputer membentuk landasan ilmiah bagi pesawat terbang dan sejumlah teknologi lainnya.

Persoalan-persoalan aerodinamik dapat dikelompokkan menurut lingkungan alirannya. Aerodinamika eksternal adalah kajian aliran di sekitar benda-benda padat dengan bentuk yang berbeda-beda. Pengevaluasian gaya angkat dan gaya hambat pada sebuah pesawat terbang bersayap diam atau gelombang kejut yang terbentuk di depan moncong roket merupakan contoh-contoh aerodinamika eksternal. Aerodinamika internal adalah kajian aliran melalui bagian-memanjang di dalam benda padat. Misalnya, aerodinamika internal mencakup kajian aliran udara melalui enjin jet atau melalui pipa penyaman udara.

Pemahaman akan pergerakan udara (sering kali disebut "medan aliran") di sekitar suatu benda membolehkan perhitungan gaya-gaya dan momen-momen yang bertindak pada benda tersebut. Sifat-sifat sejenis yang dihitung untuk suatu medan aliran meliputi kecepatan, tekanan, kerapatan, dan temperatur sebagai fungsi posisi ruang dan waktu. Aerodinamika membolehkan definisi dan solusi persamaan untuk kekekalan massa, momentum, dan energi di dalam udara. Penggunaan aerodinamika melalui analisis matematika, hampiran empirik, percobaan lorong angin, dan simulasi komputer membentuk landasan ilmiah bagi pesawat terbang dan sejumlah teknologi lainnya.

Persoalan-persoalan aerodinamik dapat dikelompokkan menurut lingkungan alirannya. Aerodinamika eksternal adalah kajian aliran di sekitar benda-benda padat dengan bentuk yang berbeda-beda. Pengevaluasian gaya angkat dan gaya hambat pada sebuah pesawat terbang bersayap diam atau gelombang kejut yang terbentuk di depan moncong roket merupakan contoh-contoh aerodinamika eksternal. Aerodinamika internal adalah kajian aliran melalui bagian di dalam benda padat. Misalnya, aerodinamika internal mencakup kajian aliran udara melalui enjin jet atau melalui pipa penyaman udara.

Persoalan-persoalan aerodinamik dapat juga dikelompokkan menurut perbandingannya terhadap laju suara, yaitu laju aliran di bawah, di sekitar, atau di atas laju suara. Suatu persoalan disebut subsonik jika semua laju dalam persoalan tersebut lebih kecil daripada laju suara, transonik jika laju di atas dan di bawah laju suara kedua-duanya hadir (biasanya ketika laju karakteristik hampir menyamai laju suara), supersonik ketika laju aliran karakteristik lebih besar daripada laju suara, dan hipersonik ketika laju aliran sangat-lebih-besar daripada laju suara. Para aerodinamikawan tidak sepakat dalam hal ketepatan definisi aliran hipersonik; bilangan Mach minimum untuk aliran hipersonik berada pada kisaran 3 sampai 12.

Pengaruh viskositas dalam aliran memberikan klasifikasi ketiga. Beberapa persoalan mungkin hanya akan menghadapi efek viskos sangat kecil pada solusinya, di mana kasus viskositas dianggap dapat diabaikan. Hampiran terhadap persoalan-persoalan ini disebut aliran invisid. Aliran di mana viskositas tidak dapat diabaikan disebut aliran viskos.

Sejarah

Gagasan mula-mula – zaman kuno sampai abad ke-17

Lukisan sebuah desain mesin terbang, karya Leonardo da Vinci (kira-kira tahun 1488). Mesin ini merupakan sebuah ornitopter, dengan sayap yang mengepak serupa dengan sayap burung, kali pertama disajikan dalam karyanya Kodeks tentang Penerbangan Burung pada tahun 1505.

Manusia telah memanfaatkan gaya-gaya aerodinamik selama ribuan tahun berupa kapal layar dan kincir angin. Gambar-gambar dan kisah-kisah penerbangan telah muncul sepanjang sejarah ditulis, misalnya kisah legendaris Icarus dan Daedalus. Meskipun pengamatan beberapa efek aerodinamik seperti hambatan angin (misalnya gaya geser) telah ditulis oleh Aristoteles, Leonardo da Vinci, dan Galileo Galilei, sangat sedikit usaha telah dilakukan untuk mengembangkan teori kuantitatif yang menyeluruh mengenai aliran udara sebelum abad ke-17.

Pada tahun 1505, Leonardo da Vinci menulis Kodeks tentang Penerbangan Burung, salah satu risalah terawal mengenai aerodinamika. Dia menulis untuk kali pertama bahwa pusat massa seekor burung yang sedang terbang tidaklah koinsiden dengan pusat tekanannya, dan dia menjelaskan konstruksi ornitopter, dengan sayap yang mengepak, serupa sayap burung.

Sir Isaac Newton ialah orang pertama yang mengembangkan teori kelembaman udara, membuatnya menjadi salah satu aerodinamikawan perdana. Sebagai bagian dari teori itu, Newton memandang bahwa pergeseran disebabkan oleh dimensi benda, kerapatan fluida, dan kecepatan pangkat dua. Ini semua terbukti benar untuk laju aliran rendah. Newton juga mengembangkan sebuah hukum untuk gaya geser pada lempengan datar yang condong ke arah aliran fluida. Dengan menggunakan F untuk gaya geser, ρ untuk kerapatan, S untuk luas lempengan datar, V untuk kecepatan aliran, dan θ untuk sudut kecondongan, hukum ini disajikan sebagai

{\displaystyle F=\rho SV^{2}\sin ^{2}(\theta )}

Persamaan ini tidak benar untuk perhitungan pergeseran dalam sebagian besar kasus. Pergeseran pada lempengan datar mendekati linear dengan sudut kecondongan, berkebalikan kuadratik dengan tindakan pada sudut kecil. Rumus Newton dapat menggiring seseorang untuk percaya bahwa penerbangan lebih sukar daripada yang sebenarnya, karena salah memperkirakan pergeseran ini dan dengan demikian juga gaya dorong yang diperlukan, dan keadaan ini ikut serta menunda penerbangan manusia. Meski demikian, rumus ini lebih tepat digunakan untuk lempengan yang sangat ramping ketika sudut membesar dan pemisahan aliran terjadi, atau jika laju aliran tergolong supersonik.

Aerodinamika

Aerodinamika merupakan ilmu yang mempelajari, meneliti dan mengembangkan karakteristik gerakan aliran udara di sekitar permukaan benda dengan bentuk tertentu untuk mengetahui distribusi tekanan udara sekitar permukaan benda tersebut serta menetapkan gaya dan momen yang dibangkitkannya.

Pentingnya Aerodinamika: Contoh contoh Historis

Jika kita melihat sejarah, bisa dikatakan ada tiga periode sejarah berkenaan dengan perkembangan aerodinamika ini, periode pertama dimulai dari aerodinamika pada kapal tahun 1588, di mana ketika itu kapal dari spanyol memiliki ukuran yang besar dan memiliki massa yang besar, sebaliknya kapal kapal inggris memiliki ukuran yang kecil dan memiliki massa yang kecil juga. Pada periode kedua pada tahun 1901 Wilbur dan Orville wright mendisain glider yang desain aerofoil sayapnya berdasarkan data data aerodinamika yang diterbitkan pada tahun 1890 oleh Otto Lilienthal dan Samuel Pierpont Langley, sayangnya desain tersebut tidak membuahkan hasil alias gagal, pada tahun yang sama yaitu 1901 wright merancang sebuah wind tunnel yang memiliki panjang 6 feet dan luas penampang 16 inchi persegi kemudian lebih dari 200 bentuk aerofoil dan sayap yang berbeda diuji atau dites dalam wind tunnel tersebut akhirnya diperoleh data data aerodinamika. Berdasarkan data data tersebut wright mendesain kembali glidernya yang baru pada tahun 1902, aerofoilnya lebih efisien dan membuahkan hasil. Sejak saat itu terjadi perkembangan yang amat pesat di dunia penerbangan terutama dari segi aerodinamikanya.

Perioda selanjutnya yaitu perioda ketiga mengenai perkembangan roket dan penerbangan ruang angkasa, penerbangan high speed atau supersonik menjadi pembicaraan yang hangat dalam aerodinamika setelah perang dunia kedua, saat itu aerodinamika sudah tidak dipandang sebelah mata lagi dalam artian sudah dihargai dalam membuat berbagai bentuk benda agar benda tersebut memiliki drag yang kecil. Pada tahun 1953 bom hidrogen diledakkan oleh amerika lalu dikembangkanlah ICBMs (Intercontinental Balistic Missile), ICBMs tersebut didesain untuk bisa melewati luar atmosfer yang memiliki kecepatan 20.000 sampai dengan 22.000 ft/s, karena kecepatan tersebut maka timbullah masalah baru dalam aerodinamika yaitu temperatur. Agar panas yang ditimbulkan seminimal mungkin, kita harus membuat alirannya laminer karena aliran yang laminer akan sedikit menimbulkan panas jika dibandingkan dengan aliran yang turbulen. Permasalah heat aerodinamic ditanggulangi oleh H Julian Allen, dia memperkenalka n konsep blunt reentry body.

Pada saat memasuki atmosfer vehicles memiliki energi kinetik yang besar sebab kecepatannya sangat tinggi begitu pula dengan energi potensialnya karena ketinggiannya bertambah menjadi lebih tinggi dibandingkan ketika pada saat di permukaan bumi, pada saat sampai dipermukaan bumi vehicles memiliki energi kinetik yang cenderung kecil dan energi potensialnya nol, energinya hilang dan berubah menjadi panas pada badan/body dan panas udara disekitar body. Shock wave dan hidung pesawat membuat panas aliran udara di sekeliling pesawat pada saat yang sama badan pesawat mengalami gesekan yang hebat antara boundary layer dengan permukaan sehingga menimbulkan panas. Allen berpendapat jika energi masuk atmosfer yang besar itu bisa dibuang dalam aliran udara maka panas sisa yang tidak begitu besar ini bisa diserap oleh pesawat itu sendiri, sedangkan cara untuk membuat yang panas adalah udara di sekeliling pesawat yaitu dengan membuat shockwave yang kuat, misalnya dengan ujung yang tumpul, sehingga shock wave dapat membuat panas udara di sekeliling pesawat.

Aerodinamika: Klasifikasi dan Kenyataan Kenyataan Praktis

Perbedaan antara padat, cair dan gas jika ditinjau dari keadaan fisik. Zat padat jika dimasukkan kedalam ruangan tertutup maka bentuknya tetap tidak berubah, zat cair jika dimasukkan kedalam ruangan tertutup maka bentuknya akan berubah sesuai dengan bentuk tempatnya, sedangkan gas jika dimasukkan kedalam ruangan tertutup akan memenuhi ruangan. Perbedaan antara padat dan fluida (gas dan cair) jika ditinjau dari tegangan dan deformasi, zat padat jika diberi gaya tangensial pada permukaannya maka akan mengalami deformasi yang terbatas, jika fluida dikenakan gaya geser maka fluida itu akan berdeformasi terus menerus, dan tegangan gesernya atau shear stressnya sebanding dengan perubahan deformasi rata rata. Selanjutnya perbedaan padat, cair dan gas jika ditinjau dari atom atom dan molekul molekul yang menyusunnya, zat padat molekul molekulnya rapat dan bentuk struktur geometri dari elektron adalah struktur geometri padat, liquid atau cair ruang antar molekulnya besar dan walaupun gaya antar molekul masih kuat tetapi masih memungkinkan pergeseran molekul, sedangkan gas jarak antara molekul cenderung lebih jauh sehingga gaya antar molekulnya kecil menyebabkan pergerakan molekulnya bergerak dengan bebas.

Dinamika fluida merupakan ilmu yang mempelajari dinamika dari fluida dan gas. Dinamika fluida terbagi menjadi tiga bagian yaitu hidrodinamika, gasdinamika, dan aerodinamika. Hidrodinamika merupakan ilmu yang mempelajari dinamika aliran air atau zat cair, gasdinamika aliran gas sedangkan aerodinamika mempelajari dinamika aliran udara atau aliran udara sekitar benda. Aerodinamika merupakan ilmu terapan yang banyak digunakan dalam penerapan plastik. Pada buku fundamental of aerodynamics ini kita dapat menentukan pergerakan aliran yang melalui pipa, untuk nomor 1 merupakan aplikasi dari external aerodinamik sedangkan nomor dua merupakan aplikasi dari internal aerodinamika.

Sumber: id.wikipedia.org

Selengkapnya
Aerodinamika: Dari Konsep Kuno hingga Aplikasi Modern

Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat

Pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia

Dipublikasikan oleh Muhammad Armando Mahendra pada 10 Februari 2025


Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) mengakui tiga isu strategis pengelolaan air di Indonesia: ketersediaan air, bencana air, dan produktivitas air. Kelangkaan air diperkirakan akan semakin parah pada tahun 2045 akibat perubahan iklim, degradasi lahan, dan penggunaan air yang tidak berkelanjutan (Republik Indonesia, 2020).

Pada tahun 2016, sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi mengalami kekurangan air (BAPPENAS, presentasi 2022). Kelangkaan air dapat menghambat pembangunan ekonomi karena 67% kegiatan ekonomi diproyeksikan berada di wilayah yang mengalami kelangkaan air pada tahun 2045 (Bank Dunia, 2021).

Indonesia termasuk dalam sepuluh negara konsumen air tanah terbesar (berdasarkan volume pengambilan air tanah), yang mengambil air tanah terutama untuk keperluan rumah tangga (ADB, 2016). Indonesia merupakan salah satu negara paling rawan bencana di dunia (Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, 2021). Lebih dari 75% bencana di negara ini diklasifikasikan sebagai bencana meteorologi atau hidrologi.

Frekuensi kejadian banjir meningkat dalam 20 tahun terakhir (Bank Dunia, 2021). Terjadinya banjir tidak terbatas pada wilayah tertentu saja; ini adalah fenomena nasional. Peristiwa banjir dengan periode ulang 50 tahun diperkirakan akan menyebabkan penurunan PDB hingga 1,65 persen.

Produktivitas air termasuk yang terendah di Asia. Sekitar 80 persen air dikonsumsi oleh irigasi, sebagian besar oleh tanaman bernilai rendah. Selain itu, kehilangan air pada irigasi relatif tinggi, hampir separuh sistem irigasi tergolong “rusak” (Republik Indonesia, 2020). Selain ketiga isu strategis pengelolaan air tersebut, penurunan kualitas air seringkali dimunculkan sebagai ancaman terhadap sumber daya air.

Lebih dari separuh sungai di negara ini sangat tercemar, yang disebabkan oleh berbagai aktivitas seperti buang air besar sembarangan, infrastruktur pengolahan air limbah yang buruk, perluasan perkebunan kelapa sawit, penggundulan hutan, dan emisi polutan dari pertanian dan sanitasi (Bank Dunia, 2021) .

Intrusi air asin semakin mengancam kualitas air. Indonesia menghadapi risiko iklim yang tinggi, menempati peringkat ke-59 dari 191 negara pada Indeks Risiko INFORM 2019 (Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia, 2021). Menyajikan beberapa risiko terkait perubahan iklim di Indonesia. Proyeksi paparan risiko banjir sungai dan pesisir di negara ini adalah salah satu yang tertinggi di dunia (peringkat ke-17).

Perubahan iklim juga kemungkinan besar akan memicu kekurangan air dan kekeringan, meskipun kekeringan tidak merata dalam hal intensitas (episode kekeringan akibat El Niño, pergeseran musim hujan) dan geografi (beberapa wilayah lebih terkena dampak dibandingkan wilayah lainnya). Defisit air diperkirakan terjadi di wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan sebagian wilayah Sulawesi.

Pasokan air ke rumah tangga

Indonesia telah mencapai hasil yang mengesankan dalam meningkatkan akses terhadap ‘peningkatan pasokan air’ dalam beberapa dekade terakhir. Pada tahun 2018, 20,14 persen dari seluruh rumah tangga di Indonesia memiliki akses terhadap pasokan air pipa (Republik Indonesia, 2020). Tantangan-tantangan penting tetap ada untuk memberikan layanan berkualitas tinggi kepada semua pengguna.

Kurangnya layanan pasokan air yang dapat diandalkan mendorong pengguna untuk menggunakan sumber daya air tanah. Pengambilan air tanah untuk keperluan rumah tangga merupakan masalah besar yang mempunyai dampak lingkungan dan ekonomi.

Dampak dari pengambilan air tanah yang berlebihan diperkirakan akan menurunkan PDB hingga 1,42 persen pada tahun 2045.Saat ini, hanya 9 persen dari total kebutuhan air domestik disediakan oleh perusahaan air minum; sumur air tanah pribadi merupakan sumber air yang dominan. Bahkan dengan adanya akses terhadap air pipa, pelayanan seringkali terputus-putus.

Banyak perusahaan utilitas perkotaan (PDAM) tidak dapat menyediakan layanan 24/7 dan gangguan layanan dapat berlangsung selama beberapa hari (Bank Dunia, 2021). Kesenjangan antara pasokan dan permintaan air dalam jumlah besar menimbulkan tantangan bagi penyedia layanan air.

Secara nasional, 24 persen dari jumlah air baku yang tersedia untuk penyediaan air tidak digunakan, sementara – secara paradoks – hanya 30 persen dari total kebutuhan air baku nasional yang dapat dipenuhi dengan infrastruktur curah yang ada saat ini. Banyak perusahaan air minum menyediakan layanan yang terputus-putus karena kurangnya pasokan dalam jumlah besar. Pada saat ini, sistem pasokan air curah lainnya tidak digunakan karena tidak ada permintaan (Bank Dunia, 2021). Laporan ini akan mendalami masalah ini lebih dalam di Bab 3.

Tanah dan air

Keterhubungan antara tanah dan air membuat pengelolaan air semakin menantang. Hutan dan ekosistem lain yang memiliki fungsi hidrologis penting, seperti lahan basah, lahan gambut, dan bakau, mengalami penurunan. Total tutupan hutan Indonesia diperkirakan akan berkurang dari 50 persen total luas lahan pada tahun 2017 menjadi 38 persen pada tahun 2045 (Republik Indonesia, 2020).

Tren deforestasi yang terus berlanjut berdampak pada sumber daya air dan dapat memperburuk bahaya terkait air seperti tanah longsor dan kelangkaan air, serta berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang signifikan jika terjadi hilangnya lahan gambut. Namun demikian, setelah mencapai puncaknya pada tahun 2015, laju deforestasi telah menurun secara signifikan.

Reformasi kebijakan

Pemerintah telah menerapkan beberapa reformasi pengelolaan air. Reformasi tersebut mencakup revisi kerangka hukum dan peraturan setelah diundangkannya UU Air tahun 2019 dan Omnibus Law tahun 2020. Empat rancangan peraturan pemerintah tentang air minum, sumber air, pengelolaan sumber daya air dan irigasi direncanakan akan disahkan pada tahun 2021 namun proses reformasi masih berlangsung. Setelah keempat peraturan tersebut disahkan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat akan mengisi rinciannya melalui peraturan teknis (Kuesioner, 2022).

Disadur dari: www.oecd.ilibrary.org

Selengkapnya
Pengelolaan Sumber Daya Air di Indonesia

Badan Usaha Milik Negara

Pertanian Regeneratif dalam Sistem Produksi Kelapa Sawit Petani Kecil di Kalimantan Tengah, Indonesia

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 10 Februari 2025


Masalah Sistemik

Kelapa sawit sering kali dibudidayakan secara monokultur dengan menggunakan bahan kimia yang intensif untuk mendapatkan hasil panen yang tinggi, sehingga cenderung dikaitkan dengan degradasi lingkungan. Petani kelapa sawit, yang memperoleh sebagian besar teknik penanaman kelapa sawit mereka dari perkebunan di daerah sekitarnya, percaya bahwa sistem monokultur adalah cara yang paling efisien untuk menanam kelapa sawit karena menghasilkan keuntungan yang maksimal. Sebagai alternatif, pertanian regeneratif di perkebunan kelapa sawit menjanjikan produksi minyak kelapa sawit organik yang produktif dan berkelanjutan dengan berkontribusi pada penciptaan lingkungan yang sehat. Selain itu, memperkenalkan pola tumpang sari melalui wanatani kelapa sawit dengan tanaman pohon lainnya dapat membantu meningkatkan mata pencaharian dan pendapatan petani.

Pertanian regeneratif adalah praktik yang didasarkan pada pemeliharaan dan pemulihan kesehatan dan kesuburan tanah, melindungi dan meningkatkan retensi air, melindungi keanekaragaman hayati dalam praktik pertanian, memperbaiki kerentanan iklim untuk meningkatkan produktivitas dan keuntungan lahan pertanian, dan meningkatkan kesejahteraan rumah tangga melalui pertanian. Praktik pertanian ini terdiri dari serangkaian teknik seperti praktik pemupukan organik, pengendalian hama-penyakit secara organik, penanaman tanaman penutup tanah, dan praktik wanatani yang didukung oleh teknologi inovatif untuk mengatasi tantangan yang disebabkan oleh perubahan iklim melalui pemulihan kesehatan tanah dan perlindungan ekosistem tanah.

Intervensi

Kami melakukan uji coba pertanian regeneratif dengan petani swadaya kelapa sawit di Kalimantan Tengah dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas bisnis pertanian kelapa sawit mereka. Petani yang berpartisipasi dalam program ini terdiri dari petani kelapa sawit yang sedang dalam proses mendapatkan sertifikasi hingga mereka yang telah mendapatkan sertifikasi Roundtable for Sustainable Palm Oil (RSPO).

Kami bertujuan untuk memperkenalkan tiga kegiatan utama pertanian regeneratif kepada para petani. Pertama, para petani didorong untuk menggunakan pupuk organik dan daur ulang, mulsa, dan pengendalian hama/gulma secara organik. Kedua, karena wanatani kelapa sawit ditanam di lahan kosong dan tanpa tutupan hutan, memulihkan ekosistem merupakan tugas yang menantang; oleh karena itu, para petani didorong untuk menanam kelapa sawit dalam wanatani, menggabungkannya dengan spesies pohon lain dan menjauh dari pengaturan perkebunan monokultur. Ketiga, program ini mendukung petani kelapa sawit untuk melakukan diversifikasi mata pencaharian dengan mengintegrasikan kelapa sawit dengan sapi dan tanaman tumpang sari. Tumpang sari dilakukan dengan bantuan berbagai tanaman mulai dari tanaman buah hingga tanaman penutup tanah dan semak anti hama.

Lokasi

Pelaksanaan intervensi dilakukan di empat desa di Kalimantan Tengah, yaitu Desa Sulung, Bahaur, Bangkal, dan Selunuk. Desa Sulung terletak di Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat, sedangkan di Kabupaten Seruyan, Desa Bahaur terletak di Kecamatan Hanau dan Desa Bangkal dan Selunuk terletak di Kecamatan Seruyan Raya.

Pada tahun 2024, tiga desa tambahan - yaitu Sandul, Tanjung Rangas II, dan Sukorejo di Kabupaten Seruyan - juga mulai berpartisipasi dalam intervensi ini. Desa Sandul dan Sebabi terletak di Kecamatan Batu Ampar, sedangkan Desa Tanjung Rangas II dan Sukorejo terletak di Kecamatan Danau Seluluk dan Seruyan Tengah.

Metode dan Kemajuan

1. Penyusunan panduan teknis budidaya kelapa sawit organik

Tujuan dari penyusunan panduan teknis budidaya kelapa sawit organik ini adalah untuk memandu petani kelapa sawit dalam membuat dan mengaplikasikan pupuk organik untuk melindungi kelapa sawit dari serangan hama dan penyakit, menanamkan praktik wanatani kelapa sawit, serta mengajarkan cara mencatat pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan dalam sebuah buku catatan harian (logbook).

Panduan teknis aplikasi pupuk organik ini mengarahkan petani untuk memahami dan mempraktikkan prinsip-prinsip pembuatan pupuk organik, menentukan dosis pupuk, menyiapkan lahan untuk aplikasi pupuk, dan teknik-teknik pemupukan. Selain itu, panduan perlindungan tanaman juga memberikan pemahaman mengenai gejala dan penanganan mekanis hama dan penyakit serta gulma pada tanaman kelapa sawit, serta pembuatan dan penggunaan larutan tetes tebu (dekomposer) dan pestisida organik. Selain itu, dengan terlibat dalam praktik wanatani kelapa sawit, petani dapat memahami dan menerapkan prinsip-prinsip perencanaan dan strategi desain sistem wanatani kelapa sawit, pola tanam dan jarak tanam, persyaratan jumlah tanaman kelapa sawit dan jenis pohon/tanaman lainnya, serta kinerja ekonomi perkebunan kelapa sawit dalam praktik monokultur dan wanatani.

2. Penyebaran informasi mengenai pertanian regeneratif melalui proses FPIC

Sebelum memulai kegiatan pertanian regeneratif, pemerintah desa dan masyarakat di desa-desa tersebut mendapatkan informasi yang memadai mengenai praktik pertanian regeneratif berdasarkan prinsip persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (PADIATAPA) untuk memastikan bahwa mereka dapat mendukung dan berpartisipasi penuh dalam pelaksanaan praktik-praktik tersebut. Sesi sosialisasi yang dilakukan berfokus pada pengenalan konsep praktik pertanian regeneratif yang diterapkan di perkebunan kelapa sawit dengan meningkatkan pemahaman petani dalam mengembangkan budidaya kelapa sawit organik, dimana produksi pupuk organik didasarkan pada pemanfaatan bahan baku lokal yang potensial seperti limbah pertanian dan ikan, limbah rumah tangga, kotoran ternak, limbah gula yang diekstraksi, dan limbah tandan kosong yang diperoleh dari pabrik.

3. Pemilihan perkebunan kelapa sawit sebagai demplot pertanian regeneratif

Setelah melalui beberapa kali pertemuan, masyarakat desa diyakinkan untuk mengajukan beberapa kebun kelapa sawit mereka yang dikelola secara monokultur dan wanatani untuk dijadikan demplot sebagai sarana pembelajaran praktik pertanian regeneratif. Sebagai informasi tambahan, mereka memberikan informasi mengenai pengelolaan perkebunan sebelumnya seperti penggunaan pupuk, kepemilikan lahan, produktivitas perkebunan, dan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit tersebut.

Kami melakukan survei yang melibatkan semua petani yang berpartisipasi. Karakteristik petani yang berpartisipasi dalam program ini adalah sebagai berikut:

  • Petani yang berpartisipasi memiliki usia rata-rata 49 tahun, dan 40,7% dari mereka melaporkan bahwa pekerjaan utama mereka adalah petani kelapa sawit dengan pengalaman bertani kelapa sawit selama 11 tahun. Selain itu, sebanyak 57,6% dari mereka memiliki tingkat pendidikan yang rendah (yaitu sampai dengan sekolah dasar), sementara rata-rata jumlah anggota keluarga rumah tangga untuk setiap petani responden adalah sekitar tiga atau empat orang. Dari total 96 petani yang berpartisipasi dalam kegiatan pertanian regeneratif, 29,2% diikuti oleh petani perempuan yang juga tertarik untuk mengikuti praktik ini.
  • Produktivitas kebun kelapa sawit mencapai 1,2 ton/ha per panen setiap 16 hari sekali, sedangkan rata-rata panen kelapa sawit per tahun mencapai 27,3 ton/ha/tahun pada usia tanam 11 tahun. Lebih lanjut, pendapatan bulanan dari perkebunan kelapa sawit dan kegiatan pertanian lainnya mencapai USD 164, dengan nilai tukar Rp 15.000. Hampir semua petani (90,3%) memiliki akses yang mudah untuk memasarkan hasil panen mereka, terutama ke tengkulak lokal di sekitar desa.
  • Sebagian besar petani (94,9%) melaporkan memiliki pengetahuan yang minim tentang pemupukan tanaman kelapa sawit, dan hanya 5,1% yang menyatakan memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal tersebut.
  • Petani yang berpartisipasi dalam program ini hanya mampu mengalokasikan sejumlah kecil input untuk mengelola pertanian kelapa sawit berdasarkan praktik pertanian regeneratif karena mereka memiliki sumber daya dan akses yang terbatas terhadap informasi tentang pertanian regeneratif.
  • Sekitar 71,2% petani mulai mencoba menggunakan bahan organik di kebun kelapa sawit mereka, meskipun masih dikombinasikan dengan pupuk anorganik yang lebih dominan. Bahan organik ini diperoleh dari pelepah daun kelapa sawit yang digunakan untuk mengendalikan erosi dan didegradasi untuk mendukung ketersediaan bahan organik di sekitar pohon.

5. Pengumpulan dan analisis metrik pertanian regeneratif dari demplot kelapa sawit

Pada setiap demplot kelapa sawit di empat desa, analisis metrik lingkungan dilakukan, dan sampel tanah diambil pada kedalaman tertentu untuk menilai karakteristik fisik, kimia, dan biologi tanah, termasuk tekstur tanah, SOM (C-Org), C/N, efisiensi N, bulk density, populasi cacing tanah, dan pH tanah. Selain itu, kekeruhan dan kandungan nitrat di dalam air juga dinilai, bersama dengan keanekaragaman spesies vegetasi dan tutupan kanopi pohon. Selain itu, data emisi yang terkait dengan perubahan iklim dan kondisi kehidupan rumah tangga petani juga diamati.

Disadur dari: kaleka.id

Selengkapnya
Pertanian Regeneratif dalam Sistem Produksi Kelapa Sawit Petani Kecil di Kalimantan Tengah, Indonesia

Asosiasi Profesi

Ikatan Surveyor Indonesia

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025


Ikatan Surveyor Indonesia (ISI) (Indonesian Surveyors Association) adalah asosiasi profesi bidang survei dan pemetaan yang didirikan pada tahun 1972. ISI berperan aktif dalam pengembangan profesi surveyor di Indonesia dan mendukung peran profesi surveyor dalam pembangunan nasional. Sampai dengan hari ini, tercatat lebih dari 6500 surveyor menjadi anggota ISI, dengan sebaran komisariat wilayah di 11 provinsi di seluruh Indonesia.

ISI menjadi satu-satunya asosiasi profesi di bidang survei dan pemetaan di Indonesia yang merupakan anggota dari Federasi Surveyor Internasional dan The ASEAN Federation of Land Surveying and Geomatics (ASEAN FLAG) atau Federasi Asosiasi Profesi Surveyor tingkat Asia Tenggara.

Sejak tahun 2017 ISI membentuk Lembaga Sertifikasi Profesi ISI (LSP) yang terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (KAN), berlisensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) pranala nonaktif permanen, dan juga merupakan mitra dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK). LSP ini merupakan bagian dari upaya ISI untuk menciptakan sumber daya manusia di bidang survey dan pemetaan yang kompeten. ISI mengharapkan terciptanya One Certificate Policy, dimana satu sertifikat profesi surveyor dapat berlaku seluruh Kementerian/Lembaga.

Domisili

ISI berkantor di Ibu kota Negara Republik Indonesia, dengan alamat Wisma Angsana Unit U, Jl. Rawajati Timur No. 1 Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jakarta 12510, Indonesia

Ruang Lingkup Kegiatan

[ISI] Surveyor adalah orang perorangan yang mempunyai pendidikan Survey & Pemetaan yang melakukan kegiatan pengadaan Data Geospasial serta data lainnya dengan cara pengambilan langsung di lapangan guna memenuhi kebutuhan pembangunan Informasi Geospasial.

Ruang lingkup kegiatan Surveyor :

  1. Survey Terestris untuk pembuatan peta wilayah (Ilmu ukur wilayah )
  2. Survey Hidrogafi
  3. Survey Foto Udara
  4. Survey Citra Satelit
  5. Survey Kadasteral
  6. Sistem Informasi Geografis (GIS)

Pengurus ISI

Kepengurusan ISI terdiri dari :

  • Pengurus Pusat
  • Dewan Etik
  • Pengurus Komisariat Wilayah

Pengurus Pusat ISI saat ini dipimpin oleh Viviani Suhar sejak 27 Oktober 2021, dengan Wakil Ketua Umum I Sofan Prihadi, Wakil Ketua Umum II Taufik Kusetyohadi, Wakil Ketua Umum III Moh. Masykur, Sekretaris Jenderal Amri Chatib dan Bendahara Umum Gilang Wirata

Sejarah Kepemimpinan

  • 2021-sekarang Viviani Suhar
  • 2017-2020 Virgo Eresta Jaya
  • 2014-2017 Virgo Eresta Jaya
  • 2011-2014 Budi Andono Soehandi
  • 2008-2011 Wenny Rusmawar Idrus
  • 2005-2008 Benny
  • 2002-2005 Sobar Sutisna
  • 1999-2002 Kurdinanto Sarah
  • 1996-1999 Rizal Anshari
  • 1993-1996 R.W. Matindas
  • 1990-1993 Paul Suharto
  • 1987-1990 Paul Suharto
  • 1984-1987 Tranggono
  • 1981-1984 Pranoto Asmoro
  • 1978-1981 Pranoto Asmoro
  • 1975-1978 Soekotjo Tjokrosoewarno
  • 1972-1975 Soekotjo Tjokrosoewarno

Continuing Professional Development (CPD)

Continuing Professional Development atau Pengembangan Profesional Berkelanjutan adalah cara yang profesional  untuk mempertahankan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam pekerjaan. Pencapaian CPD harus melibatkan pendekatan terstruktur untuk belajar yang  meliputi pengetahuan, ketrampilan dan pengalaman praktis. CPD penting untuk :

  1. Meningkatkan kompetensi profesional Anggota baik keuntungan sendiri, klien, pengusaha dan masyarakat umum
  2. Mempertahankan kompetensi Anggota secara profesional
  3. Mematuhi peraturan yang berlaku di bidang profesi surveying
  4. Memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk bidang bisnis lainnya
  5. Memperoleh keterampilan yang dibutuhkan untuk promosi , seperti keahlian manajemen
  6. Meningkatkan perkembangan keahlian dan pengetahuan anggota serta kemajuan teknologi  dibidang surveying

Komisariat Wilayah

Sampai saat ini ISI telah mempunyai komisariat wilayah di 11 provinsi di seluruh Indonesia

1. Komisariat Wilayah Jawa Barat

2. Komisariat Wilayah Jawa Tengah

3. Komisariat Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

4. Komisariat Wilayah Jawa Timur

5. Komisariat Wilayah Sumatera Barat

6. Komisariat Wilayah Riau

7. Komisariat Wilayah Kepulauan Riau

8. Komisariat Wilayah Kalimantan Timur

9. Komisariat Wilayah Lampung

10. Komisariat Wilayah Sumatra Utara

11. Komisariat Wilayah Bali

Sumber artikel: id.wikipedia.org

Selengkapnya
Ikatan Surveyor Indonesia

Teknik Mesin

Melintasi Udara: Sejarah dan Peran Terowongan Angin dalam Pengembangan Teknologi Aerodinamika

Dipublikasikan oleh Raynata Sepia Listiawati pada 10 Februari 2025


Terowongan angin

Terowongan angin (bahasa Inggris: wind tunnel) adalah sebuah alat yang digunakan dalam penelitian aerodinamika penelitian untuk mempelajari efek dari udara yang bergerak melewati benda padat. Sebuah terowongan angin terdiri atas bagian tubular dengan objek yang diuji dipasang di tengah. Udara digerakkan melewati objek dengan sistem kipas atau sistem lain yang kuat. Objek uji, sering disebut model terowongan angin, diiinstrumentasikan dengan sensor-sensor yang cocok untuk mengukur gaya-gaya aerodinamika, distribusi tekanan, atau karakteristik-karakteristik lainnya yang berkaitan dengan aerodinamika.

Terowongan angin pertama diciptakan menjelang akhir abad ke-19, pada masa awal penelitian aeronautika, ketika banyak orang yang berusaha mengembangkan mesin terbang, yang beratnya lebih berat daripada udara. Terowongan angin dibayangkan sebagai sarana yang membalikkan paradigma biasa bahwa bukan udara yang diam dan objek bergerak dengan cepat melalui udara itu, tetapi efek yang sama akan diperoleh jika objek diam dan udara bergerak dengan cepat melalui objek itu. Dengan cara itu pengamat stasioner bisa mempelajari objek saat terbang dan bisa mengukur gaya-gaya aerodinamika yang berlaku padanya.

Pembangunan terowongan angin menyertai pengembangan pesawat. Terowongan angin yang besar dibangun pada masa Perang Dunia Kedua. Pengujian terowongan angin dianggap penting dan strategis selama pengembangan pesawat dan rudal supersonik dalam Perang Dingin.

Kemudian, studi terowongan angin berdiri sendiri. Efek angin pada struktur atau objek-objek buatan manusia perlu dipelajari ketika bangunan-bangunan menjadi cukup tinggi untuk memberikan permukaan yang besar bagi angin dan kekuatan yang dihasilkan angin harus mampu ditahan oleh struktur dalam bangunan. Pengetahuian akan kekuatan-kekuatan tersebut diperlukan sebelum aturan-aturan pembangunan dapat menentukan kekuatan yang dibutuhkan oleh bangunan dan pengujian tersebut kemudian digunakan untuk bangunan-bangunan yang besar atau tidak biasa.

Lebih jauh lain, pengujian terowongan angin kemudian diterapkan pada mobil, bukan untuk menentukan gaya aerodinamika per se tetapi lebih pada menemukan cara-cara untuk mengurangi daya yang diperlukan untuk menggerakkan kendaraan di jalan raya pada kecepatan tertentu. Dalam studi ini, interaksi antara jalan dan kendaraan memainkan peran penting dan interaksi ini harus dipertimbangkan ketika menginterpretasikan hasil tes. Dalam situasi yang sebenarnya jalan bergerak relatif terhadap kendaraan tetapi udara relatif diam terhadap jalan, berbeda dengan di dalam terowongan angin, udara bergerak relatif terhadap jalan, sementara jalan relatif diam terhadap kendaraan uji. Beberapa terowongan angin untuk uji otomotif telah menyertakan sabuk yang bergerak di bawah kendaraan uji dalam upaya untuk mendekati kondisi yang sebenarnya, dan perangkat yang sangat mirip digunakan dalam pengujian terowongan angin untuk konfigurasi pesawat yang sedang lepas landas dan mendarat.

Pengukuran gaya aerodinamik 

Kecepatan dan tekanan udara diukur dalam beberapa cara di terowongan angin.

Kecepatan udara yang melalui bagian tes ditentukan berdasarkan prinsip Bernoulli. Pengukuran tekanan dinamis, tekanan statis, dan (hanya untuk aliran termampatkan) kenaikan suhu dalam aliran udara. Arah aliran udara di sekitar model dapat ditentukan dari jumbai benang yang melekat pada permukaan aerodinamika. Arah aliran udara yang mendekati permukaan dapat divisualisasikan dengan pemasangan benang pada aliran udara di depan dan di belakang model uji. Asap atau gelembung cairan dapat dimasukkan ke dalam aliran udara di depan model uji dan jalur mereka di sekitar model dapat difoto.

Gaya-gaya aerodinamika pada model uji biasanya diukur dengan timbangan yang terhubung dengan model uji dengan balok, tali, atau kabel.

Penyebaran tekanan pada model uji secara historis diukur dari banyaknya lubang-lubang kecil yang terbentuk di sepanjang jalur aliran udara dan dengan menggunakan manometer banyak tabung untuk mengukur tekanan pada setiap lubang. Penyebaran tekanan dapat lebih mudah diukur dengan menggunakan cat yang sensitif terhadap tekanan, yang menunjukkan fluoresensi cat lebih rendah pada titik terjadinya tekanan yang lebih tinggi. Penyebaran tekanan juga dapat dengan mudah diukur dengan menggunakan sabuk yang sensitif terhadap tekanan, suatu perkembangan baru berupa suatu strip fleksibel yang mengintegrasikan beberapa modul sensor tekanan ultramini. Strip ini melekat pada permukaan aerodinamika dengan pita dan mengirimkan sinyal-sinyal yang menggambarkan penyebaran tekanan di sepanjang permukaannya.

Penyebaran tekanan pada model uji juga dapat ditentukan dengan melakukan survei olak, yang dalam tes ini satu tabung pitot digunakan untuk mendapatkan beberapa ukuran yang mengalir dari model uji, atau beberapa manometer tabung dipasang pada aliran dan semua ukuran diambil.

Sifat aerodinamika dari sebuah objek tidak tetap sama untuk model berskala. Tapi, dengan mengamati aturan-aturan kesamaan tertentu aturan, keterkaitan yang sangat memuaskan antara sifat aerodinamika dari model berskala dan objek berukuran penuh dapat dicapai. Pilihan parameter-parameter kesamaan tergantung pada tujuan tes, tetapi kondisi yang paling penting untuk memuaskan biasanya:

  • Kesamaan secara geometris: semua dimensi dari objek harus secara proporsional berskala;
  • Angka mach: rasio antara kecepatan udara dan kecepatan suara harus identik untuk model berskala dan objek aktual (memiliki angka mach identik di terowongan angin dan di sekitar objek yang sebenarnya tidak sama dengan memiliki kecepatan udara yang identik)
  • Bilangan Reynolds: rasio antara gaya inersia dan gaya viskos harus terjaga. Parameter ini sulit untuk memuaskan dengan model berskala dan telah mengarah pada pengembangan terowongan angin bertekanan dan kriogenik, yang di dalamnya viskositas fluida yang bekerja dapat sangat berubah untuk mengimbangi pengurangan skala model.

Dalam beberapa kasus tes tertentu, parameter kesamaan lain harus dipenuhi, misalnya bilangan Froude.

Sejarah

Asal mula

Insinyur dan matematikawan militer berkebangsaan Inggris Benjamin Robins (1707–1751) menemukan alat lengan pusaran untuk menentukan seretan dan melakukan beberapa percobaan awal dalam teori penerbangan. Sir George Cayley (1773-1857) juga menggunakan lengan pusaran untuk mengukur seretan dan pengangkatan dari berbagai lempeng sayap. Lengan pusaran Cayley memiliki panjang 5 kaki (1.5 m) dan mencapai kecepatan tertinggi antara 10 dan 20 kaki per detik (3 hingga 6 m/detik).

Namun, lengan pusaran tidak menghasilkan aliran udara yang andal yang berdampak pada bentuk tes pada peristiwa normal. Gaya sentrifugal dan fakta bahwa objek bergerak dalam pusarannya menjadikan pemeriksaan rinci dari aliran udara sebagai hal yang sulit. Francis Herbert Wenham (1824-1908), seorang Anggota Dewan Aeronautical Society of Great Britain, menunjukkan masalah ini dengan menciptakan, merancang, dan mengoperasikan terowongan angin tertutup pertama pada tahun 1871. Setelah terobosan ini dicapai, data teknis terinci dengan cepat ditarik dengan menggunakan alat ini. Wenham dan rekannya John Browning dihargai karena banyak penemuan fundamental karya mereka, termasuk pengukuran rasio l/d dan pengungkapan efek yang menguntungkan dari rasio aspek tinggi.

Konstantin Tsiolkovsky membangun terowongan angin bagian terbuka dengan pengembus sentrifugal tahun 1897 dan menentukan koefisien seret dari pelat datar, silinder, dan bola. Penemu Denmark Poul la Cour menerapkan terowongan angin dalam prosesnya mengembangkan dan menyempurnakan teknologi turbin angin pada awal 1890-an.Carl Rickard Nyberg menggunakan sebuah terowongan angin saat merancang Flugan-nya tahun 1897 dan seterusnya.

Dalam serangkaian percobaan klasik, seorang berkebangsaan Inggris Osborne Reynolds (1842-1912) dari Universitas Manchester menunjukkan bahwa pola aliran udara pada model berskala akan sama dengan kendaraan berskala penuh jika parameter aliran tertentu sama dalam kedua kasus. Faktor ini, yang sekarang dikenal sebagai bilangan Reynolds, merupakan parameter dasar dalam deskripsi dari semua aliran cairan, termasuk bentuk pola aliran, kemudahan perpindahan panas, dan terjadinya turbulensi. Hal ini mencakup pembenaran ilmiah untuk penggunaan model dalam terowongan angin untuk mensimulasikan fenomena kehidupan nyata. Tapi, ada keterbatasan-keterbatasan pada kondisi yang kesamaan dinamisnya hanya berdasarkan bilangan Reynolds.

Wright bersaudara menggunakan terowongan angin sederhana pada tahun 1901 untuk mempelajari efek dari aliran udara yang melalui berbagai bentuk saat mengembangkan Wright Flyer dalam beberapa cara revolusioner. Teknologi yang mereka gunakan adalah teknologi yang banyak diterapkan saat ini, tetapi pada saat itu belum umum di Amerika.

Di Prancis, Gustave Eiffel (1832-1923) membangun terowongan angin pertamanya pada tahun 1909, yang ditenagai oleh motor listrik 50 kW, di Champs-de-Mars, dekat kaki menara yang menyandang namanya. Antara tahun 1909 dan 1912 Eiffel menjalankan sekitar 4000 tes di terowongan anginnya dan eksperimen sistematisnya menetapkan standar baru bagi penelitian aeronautika. Pada tahun 1912 laboratorium Eiffel dipindahkan ke Auteuil, suatu daerah pinggiran kota Paris, tempat terowongan angin tersebut masih beroperasi saat ini. Eiffel secara signifikan meningkatkan efisiensi terowongan angin dengan menutup bagian uji dalam ruang, merancang jalur masuk melebar dengan sebuah penguat aliran berbentuk sarang lebah, dan menambahkan sebuah pemencar antara bagian tes dan kipas yang terletak di ujung pemencar. Pengaturan ini diikuti oleh sejumlah terowongan angin yang dibangun kemudian. Pada kenyataannya terowongan angin kecepatan rendah yang terbuka di jalur kembali sering disebut terowongan angin jenis Eiffel.

Pada tahun 1931 NACA membangun sebuah terowongan angin "skala penuh" 30 kaki kali 60 kaki di Pusat Penelitian Langley di Langley, Virginia. Terowongan itu ditenagai oleh sepasang kipas yang didorong oleh motor listrik 4000 hp. Terowongan ini bisa menampung banyak pesawat sungguhan berukuran penuh. Terowongan itu akhirnya ditutup dan, meskipun dinyatakan sebagai mercu tanda sejarah nasional pada tahun 1995, mulai dihancurkan pada tahun 2010.

Hingga Perang Dunia Kedua, terowongan angin terbesar di dunia dibangun tahun 1932-1934 yang berada di pinggiran kota Paris, Chalais-Meudon, Prancis. Terowongan ini dirancang untuk menguji pesawat berukuran penuh dan memiliki enam kipas besar yang didorong oleh motor listrik berdaya tinggi. Terowongan angin Chalais Meudon digunakan oleh ONERA dengan nama S1Ch hingga tahun 1976, antara lain dalam mengembangkan pesawat Caravelle dan Concorde. Kini terowongan angin ini berfungsi sebagai monumen nasional.

Perang Dunia Kedua

Tahun 1941 Amerika Serikat (A.S.) membangun salah satu terowongan angin terbesar pada masa itu di Wright Field di Dayton, Ohio. Terowongan angin ini memiliki ukuran diameter paling besar 45 kaki (14 m) dan paling kecil 20 kaki (6,1 m). Dua kipas berukuran 40-kaki (12 m) digerakkan oleh motor listrik 40.000 hp. Model pesawat berukuran besar dapat diuji pada kecepatan udara 400 mph (640 km/h).

Terowongan angin yang digunakan oleh para ilmuwan Jerman di Peenemünde sebelum dan selama PD II adalah sebuah contoh yang menarik dari kesulitan-kesulitan terkait perluasan jangkauan terowongan angin besar. Terowongan angin ini menggunakan beberapa gua alami besar yang ukurannya ditingkatkan dengan penggalian dan ditutup untuk menyimpan udara dalam volume besar yang dapat dialirkan melalui terowongan angin. Pendekatan inovatif ini memungkinkan penelitian laboratorium dalam rezim kecepatan tinggi dan dengan cepat meningkatkan kemajuan teknik aeronautika Jerman. Hingga akhir perang, Jerman telah memiliki sedikitnya tiga terowongan angin supersonik yang berbeda, dengan salah satunya memiliki kemampuan aliran udara (dipanaskan) Mach 4,4.

Sumber: id.wikipedia.org

Selengkapnya
Melintasi Udara: Sejarah dan Peran Terowongan Angin dalam Pengembangan Teknologi Aerodinamika

Badan Usaha Milik Negara

Petani Kopi Sumatra Meracik Pupuk Alami Saat Inflasi Menggigit

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 10 Februari 2025


  • Para petani di provinsi Lampung, Indonesia, membuat pupuk organik mereka sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasokan eksternal yang tidak stabil.
  • Mereka juga telah mendiversifikasi jumlah tanaman yang mereka tanam, dengan menanam alpukat dan kemiri di antara tanaman kopi dan vanili.
  • Para pendukung pertanian organik berpendapat bahwa teknik-teknik seperti yang dipamerkan di Lampung dapat meningkatkan hasil panen sekaligus mengurangi biaya dan dampak negatif dari produk kimia.

Hutan batutegi, Indonesia - Seperti jutaan petani kecil lainnya di seluruh Indonesia, keluarga Sri Atmiatun harus menanggung harga pupuk yang lebih tinggi, kenaikan biaya hidup, dan cuaca yang semakin ekstrem dalam beberapa tahun terakhir. Daerah aliran sungai di Hutan Batutegi, dekat pantai selatan provinsi Lampung, Sumatra, hampir kering setelah kekeringan selama berbulan-bulan di sebagian besar wilayah Indonesia, yang diperparah oleh El Nino dan pola iklim Dipole Samudra Hindia yang positif.

Harga pupuk kimia telah turun dari harga tertinggi sepanjang masa yang tercatat pada tahun 2022, tetapi harga kalium dan pupuk lainnya tetap mahal hingga tahun 2023 berdasarkan standar historis, sehingga menambah tekanan bagi petani di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Beberapa generasi petani di sekitar Batutegi telah menanam kopi. Namun, para petani Batutegi mengatakan bahwa mereka telah mencatat hasil panen yang menurun karena kualitas tanah di sini telah memburuk.

Menanggapi tekanan ini, Sri Atmiatun dan petani lainnya di Batutegi telah memanfaatkan kembali limbah pertanian untuk mengurangi ketergantungan mereka pada bahan kimia yang mahal dan, dengan harapan, dapat meningkatkan hasil panen. “Terakhir kali kami membuat pupuk organik, kami menghasilkan sekitar 2 ton,” kata Sri kepada Mongabay Indonesia, sambil memegang sekumpulan botol yang berisi pupuk organik hasil olahan masyarakat.

Daerah aliran sungai di Hutan Batutegi hampir kering setelah kekeringan selama berbulan-bulan, yang diperparah oleh El Nino danpola iklim Dipole Samudera Hindia yang positif. 


Para petani Batutegi mengatakan bahwa mereka telah mencatat penurunan hasil panen karena kualitas tanah di sini telah memburuk. 

Dari bawah ke atas

Setiap hari di Batutegi, puluhan buruh tani seperti Sri melakukan perjalanan dari rumah mereka ke ladang alpukat dan kemiri yang ditumpangsarikan dengan tanaman produktif lainnya, dalam sistem agroekologi yang dikenal sebagai wanatani, yang mengacu pada integrasi tanaman dengan hutan.

Bibit pohon tumbuh dalam wadah yang terbuat dari bambu di tempat pembibitan yang didirikan oleh para petani. Nantinya, pohon-pohon muda tersebut akan ditanam di lahan milik petani untuk mendiversifikasi produksi dan memperbaiki tanah.

Para pekerja lapangan di daerah pedesaan di Indonesia bekerja untuk meningkatkan kesuburan tanah untuk meningkatkan produktivitas di antara para petani kecil, yang biasanya mengolah lahan seluas 2 hektar atau lebih kecil, dan secara bersama-sama merupakan mayoritas petani di negara dengan populasi terpadat keempat di dunia ini.

Di Batutegi, para petani yang tinggal di lahan yang dikategorikan sebagai lahan produksi berbatasan dengan hutan lindung. Mereka mengatakan bahwa kesuburan tanah telah menurun drastis dibandingkan dengan tahun 1990-an. Afiliasi Indonesia dari lembaga amal yang berbasis di Inggris, International Animal Rescue, sebuah yayasan yang dikenal sebagai YIARI, bekerja untuk membantu petani Batutegi untuk mengembalikan nitrogen ke dalam tanah, sebagian untuk mencegah perlunya membuka lahan baru untuk meningkatkan produktivitas.

Provinsi Lampung kehilangan 281.000 hektar (694.000 acre), atau sekitar 16% dari tutupan pohonnya, dalam dua dekade hingga tahun 2022, menurut platform data online Global Forest Watch. Kurang dari seperlima wilayah Batutegi yang masih berupa hutan asli. Pada tahun 2006, YIARI mulai melakukan survei untuk melepasliarkan satwa seperti kukang sumatera(Nycticebus hilleri) dan monyet ekor babi(Macaca nemestrina) ke alam liar.

Hutan lindung Batutegi memiliki luas sekitar 58.000 hektar, dan YIARI memilih lokasi ini karena kondisi hutan dan ketersediaan pakan bagi satwa. Sejak tahun 2017, YIARI dan dinas kehutanan provinsi telah bekerja untuk melindungi sisa-sisa hutan yang masih utuh yang berdekatan dengan lahan pertanian masyarakat.  

Pupuk organik yang diproduksi oleh kelompok tani sumber makmur. 

Wanatani

Masyarakat telah mengadopsi teknik wanatani di lahan Batutegi, yang dikombinasikan dengan usaha peternakan. Dayat, Ketua Kelompok Tani Sumber Makmur, mengatakan bahwa para petani telah mulai mengumpulkan kotoran kambing untuk ditambahkan ke dalam pupuk kompos. “Kotoran kambing ini nantinya akan diolah menjadi kompos dan pupuk organik cair,” kata Dayat.

Campuran pupuk kandang dan kompos yang dibuat sendiri oleh petani Batutegi melindungi para petani dari harga pupuk kimia yang selangit, yang mencapai rekor tertinggi tidak lama setelah Rusia, produsen utama potash dan pupuk lainnya, menginvasi Ukraina pada tahun 2022.

Untuk lebih memaksimalkan potensi produksi, para petani Batutegi telah melakukan diversifikasi lahan dengan menanam pohon buah-buahan dan kacang-kacangan di antara tanaman kopi yang sudah ada, sebuah teknik wanatani yang dapat mencegah kebutuhan untuk membuka lahan baru untuk meningkatkan produksi.

“Kami memilih pinang, kemiri dan alpukat, karena keberlanjutan dan proses pengolahannya yang ringan - berbeda dengan kopi,” kata Dayat. Pembibitan di mana bibit-bibit ini tumbuh sekarang sudah memasuki tahun ketiga. Dayat mengatakan bahwa ia berharap masyarakat akan menghasilkan 3.500 bibit tahun ini, meningkat dari sekitar 1.000 bibit pada dua tahun sebelumnya. Bibit-bibit tersebut dibudidayakan dalam wadah bambu, yang berfungsi seperti polibag untuk memelihara struktur akar.

Bibit pohon tumbuh dalam wadah yang terbuat dari bambu di tempat pembibitan yang didirikan oleh para petani

'Kita harus mengubah pola pikir kita'

Sebuah penelitian yang dilakukan selama 10 tahun terhadap 20,9 juta petani di lebih dari 400 kabupaten di Cina menemukan bahwa petani yang menggunakan metode yang sama mengalami peningkatan hasil panen sebesar 10,8-11,5%, sementara penggunaan pupuk kimia menurun hingga 18,1%. Penelitian lain menunjukkan hasil panen yang lebih tinggi ketika pupuk organik melengkapi metode pertanian yang ada dengan menggunakan input kimia.

Namun, intervensi pemerintah untuk mengubah praktik pertanian dengan cepat dari pupuk kimia ke produk kompos dapat berakhir buruk jika tidak dikelola dengan baik. Pada tahun 2021, presiden Sri Lanka saat itu, Gotabaya Rajapaksa, mengumumkan bahwa pemerintah akan melarang impor pupuk dan pestisida serta mewajibkan 2 juta petani di negara tersebut untuk menggunakan metode organik dalam waktu 10 tahun. Program ini berakhir dengan kegagalan dan turut memicu penggulingan Rajapaksa.

Di Batutegi, metode pertanian organik yang diterapkan oleh asosiasi sumber makmur merupakan hasil dari program pelatihan yang dilakukan oleh Yiari. Eko Sukamto, seorang pekerja lapangan dari YIARI, mengatakan bahwa pelatihan ini memungkinkan para petani untuk membuat pupuk sendiri di rumah dan menggunakan spesies tanaman yang secara alami dapat membunuh hama, sehingga tidak memerlukan pestisida.

“Harapannya, ini bisa menjadi solusi bagi permasalahan mereka,” kata Eko kepada Mongabay Indonesia, “terutama harga pupuk yang tinggi.” Eko mengatakan bahwa prinsip pertama adalah menjaga kesehatan tanah dengan menggunakan produk limbah yang tersedia dari proses pertanian. “Kita harus mengubah pola pikir kita, karena masyarakat menginginkan kepraktisan,” katanya, seraya menambahkan bahwa para pekerja lapangan mencoba untuk menantang prasangka bahwa pupuk organik adalah padat karya dan tidak efektif.

Robithotul Huda, manajer senior program ketahanan habitat YIARI, mengatakan bahwa pada tahun-tahun awal YIARI lebih fokus pada penyelamatan satwa. Kegiatannya meliputi patroli kawasan dan pelepasliaran satwa yang telah diselamatkan dan direhabilitasi oleh yayasan. Namun, konversi hutan lindung menjadi lahan pertanian mendorong YIARI untuk turun tangan mengatasi akar masalah hilangnya satwa liar, yaitu hilangnya habitat. Tahun lalu, staf YIARI melepasliarkan enam kukang sumatera ke Hutan Batutegi.

Qodri, Kepala kesatuan pengelolaan hutan (KPH) Batutegi, mengatakan bahwa kawasan hutan seluas 58.000 hektar ini terlalu luas untuk diawasi oleh petugas. Menurut Qodri, salah satu hasil yang paling terlihat dari kerja sama pihaknya dengan YIARI adalah keanekaragaman tanaman: Petani yang awalnya hanya mengandalkan tanaman monokultur, seperti kopi, kini mulai menerapkan wanatani.

Upaya-upaya ini telah mendapat pengakuan nasional di Indonesia, kata Qodri. Staf Yiari mengatakan bahwa meskipun kopi masih menjadi komoditas yang dominan, para petani telah melakukan diversifikasi dengan menanam pisang, singkong, kakao, pepaya, lada, padi, dan vanili. “Pertama-tama kami mengidentifikasi situasi yang dihadapi oleh petani, menanyakan harapan mereka, lalu kami mulai,” kata Huda. “Dengan cara ini, kami berharap para petani bisa mandiri di masa depan.”

Petani Sumatera khawatir karena pemerintah menghentikan subsidi pupuk kelapa sawit

Disadur dari: news.mongabay.com

Selengkapnya
Petani Kopi Sumatra Meracik Pupuk Alami Saat Inflasi Menggigit
« First Previous page 638 of 865 Next Last »