Perindustrian
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 10 Februari 2025
Aktivitas sektor industri manufaktur di tanah air masih cukup menggeliat hingga tutup tahun 2021, sejalan dengan meningkatnya produksi dan permintaan pasar ekspor. Hal ini tercemin dari capaian Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada bulan Desember sebesar 53,5 atau masih di atas level ekspansif (50), berdasarkan hasil survei IHS Markit.
“Kami mengapresiasi kepercayaan para pelaku industri manufaktur yang masih tinggi. Bahkan, mereka tetap optimistis pada tahun ini seiring dengan tekad pemerintah dalam menjalankan berbagai kebijakan strategis untuk meciptakan iklim usaha yang kondusif,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta.
Menperin menyampaikan, pihaknya tetap fokus memacu hilirisasi industri untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri. Upaya ini dinilai telah memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional, di antaranya pembukaan lapangan kerja dan penerimaan devisa dari ekspor, yang berujung pada kesejahteraan masyarakat.
“Sesuai yang disampaikan Bapak Presiden Joko Widodo, ekonomi nasional mulai pulih dan kuat kembali. Hal ini ditandai dengan neraca dagang kita yang surplus USD34,4 miliar, dan kondisi surplus tersebut dapat dipertahankan selama 19 bulan. Ekspor kita juga naik secara y-on-y hingga 49,7 persen,” ungkapnya.
Menperin menyebutkan, selama ini sektor industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap capaian nilai ekspor nasional. Pada Januari-November 2021, nilai ekspor dari industri manufaktur mencapai USD160 miliar atau berkontribusi sebesar 76,51 persen dari total ekspor nasional. Angka ini telah melampaui capaian ekspor manufaktur sepanjang tahun 2020 sebesar Rp131 miliar, dan bahkan lebih tinggi dari capaian ekspor tahun 2019.
Jika dibandingkan dengan Januari-November 2020 (c-to-c), kinerja ekspor industri manufaktur pada Januari-November 2021 meningkat sebesar 35,36 persen. Kinerja ekspor sektor manufaktur ini sekaligus mempertahankan surplus neraca perdagangan yang dicetak sejak bulan Mei 2020.
“Kenapa ekspor kita bisa naik setinggi itu? Salah satunya karena kita berani untuk menghentikan ekspor raw material, seperti bahan mentah dari minerba, yaitu nikel. Dari awalnya, ekspor sekitar USD1-2 miliar, kini sudah hampir mencapai USD21 miliar. Oleh sebab itu, Bapak Presiden telah memberikan arahan untuk melanjutkan setop ekspor bauksit, tembaga, timah, dan lainnya, karena hilirisasi menjadi kunci dalam kenaikan ekspor kita,” paparnya.
Sementara itu, impor untuk bahan baku dan bahan penolong juga naik sebesar 52,6 persen. Bahan baku dan bahan penolong ini sebagai kebutuhan untuk diolah oleh industri di dalam negeri sehingga dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Indikator pulihnya perekonomian nasional, juga ditunjukkan dari peringkat daya saing Indonesia yang terus meningkat, baik itu dari aspek bisnis maupun digital. “Dalam posisi yang sangat berat pada tahun 2021 karena dampak pandemi, kita masih mampu naik ranking. Di aspek bisnis dan digital, naik tiga peringkat semuanya,” tutur Agus.
Seiring dengan membaiknya kondisi perekonomian nasional, Menperin menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5-5 persen pada tahun 2022. “Kami fokus untuk terus membangun sektor industri manufaktur yang berdaulat, mandiri, berdaya saing, dan inklusif,” tegasnya.
Menanggapi hasil PMI Manufaktur Indonesia terkini, Jingyi Pan selaku Economics Associate Director IHS Markit mengatakan, keseluruhan sentimen bertahan sangat positif, dengan tingkat kepercayaan diri bisnis di atas rata-rata jangka panjang menunjukkan bahwa manufaktur Indonesia masih optimistis terhadap pertumbuhan produksi berkelanjutan selama periode tahun 2022.
PMI Manufaktur Indonesia pada Desember 2021 melampaui PMI Manufaktur negara-negara ASEAN seperti Thailand (50,6), Filipina (51,8), Vietnam (52,2), dan Malaysia (52,8). Bahkan juga mampu unggul terhadap PMI Manufaktur Korea Selatan (51,9), Rusia (51,6), dan China (49,9).
Sumber Artikel: kemenperin.go.id
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025
Ekonomi Teknik dalam Teknik Sipil, yang juga dikenal secara umum sebagai ekonomi teknik, atau ekonomi teknik alternatif, adalah bagian dari ilmu ekonomi, lebih khusus lagi, ekonomi mikro. Ekonomi teknik didefinisikan sebagai “panduan pemilihan ekonomi di antara alternatif-alternatif yang layak secara teknis untuk tujuan alokasi sumber daya yang langka secara rasional.” Tujuannya adalah untuk memandu entitas, baik swasta maupun publik, yang dihadapkan pada masalah-masalah fundamental ekonomi.
Masalah-masalah fundamental ekonomi ini terdiri dari dua pertanyaan mendasar yang harus dijawab, yaitu, tujuan apa yang harus diselidiki atau dieksplorasi dan bagaimana cara mencapainya? Ekonomi sebagai ilmu sosial menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan didefinisikan sebagai pengetahuan yang digunakan untuk memilih di antara “... alternatif-alternatif yang layak secara teknis dengan tujuan mengalokasikan sumber-sumber daya yang langka secara rasional.” Sejalan dengan itu, semua masalah ekonomi didasarkan pada konsep “apa tujuan yang ingin diselidiki atau dieksplorasi”. “Sejalan dengan itu, semua masalah yang melibatkan ‘... memaksimalkan keuntungan atau meminimalkan biaya adalah masalah teknik dengan tujuan ekonomi dan secara tepat dijelaskan dengan label ’ekonomi teknik”.
Sebagai subdisiplin yang dipraktikkan oleh insinyur sipil, ekonomi teknik mempersempit definisi masalah ekonomi mendasar dan pertanyaan yang terkait dengan masalah yang terkait dengan investasi modal, publik atau swasta dalam berbagai proyek infrastruktur. Insinyur sipil menghadapi bentuk yang lebih khusus dari masalah mendasar dalam bentuk evaluasi ekonomi yang tidak memadai dari proyek-proyek teknik. Insinyur sipil yang berada di bawah tekanan konstan untuk menyediakan infrastruktur secara efektif dan efisien menghadapi masalah kompleks yang terkait dengan pengalokasian sumber daya yang langka untuk memastikan kualitas, mengurangi risiko, dan mengendalikan pelaksanaan proyek. Insinyur sipil harus dididik untuk mengenali peran ekonomi teknik sebagai bagian dari evaluasi yang terjadi pada setiap fase dalam siklus hidup proyek.
Dengan demikian, penerapan ekonomi teknik dalam praktik teknik sipil berfokus pada proses pengambilan keputusan, konteks, dan lingkungannya dalam pelaksanaan dan penyelesaian proyek. Pendekatan ini bersifat pragmatis, mengintegrasikan teori ekonomi mikro dengan praktik teknik sipil, namun juga merupakan aplikasi teori ekonomi yang disederhanakan karena menghindari sejumlah konsep ekonomi mikro seperti penetapan harga, persaingan, dan penawaran dan permintaan. Hal ini menimbulkan masalah ekonomi baru yang mendasari alokasi sumber daya bagi para insinyur sipil dalam melaksanakan proyek infrastruktur dan khususnya, sumber daya untuk manajemen proyek, fungsi perencanaan dan pengendalian.
Insinyur sipil mengatasi masalah ekonomi mendasar ini dengan menggunakan pengetahuan ekonomi teknik khusus sebagai kerangka kerja untuk terus “... menyelidiki kelayakan ekonomi ... menggunakan pendekatan tahap-bijaksana ...” di sepanjang siklus hidup proyek. Penerapan pengetahuan teknik sipil khusus ini dapat berupa analisis rekayasa biaya siklus hidup, akuntansi biaya, penetapan biaya modal, dan kelayakan ekonomi dari solusi rekayasa untuk desain, konstruksi, dan manajemen proyek. Insinyur sipil harus memiliki kemampuan untuk menggunakan metodologi ekonomi teknik untuk “perumusan tujuan, spesifikasi alternatif, prediksi hasil” dan estimasi penerimaan minimum untuk investasi dan optimasi. Mereka juga harus mampu mengintegrasikan pertimbangan ekonomi ini ke dalam solusi teknik yang tepat dan rencana manajemen yang dapat diprediksi dan diandalkan untuk memenuhi harapan para pemangku kepentingan proyek secara berkelanjutan.
Profesi insinyur sipil memiliki fungsi khusus dalam masyarakat dan ekonomi kita, di mana investasi dana dalam jumlah besar untuk infrastruktur publik membutuhkan “...jaminan bahwa infrastruktur tersebut akan menjalankan fungsinya sebagaimana mestinya.” Oleh karena itu, para insinyur sipil yang menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam mengambil keputusan mengenai isu-isu fundamental bergantung pada pengetahuan profesi ekonomi teknik untuk memberikan “jaminan praktis” yang membuat investasi masyarakat pada infrastruktur publik menjadi layak.
Secara historis, kursus dan kurikulum ekonomi teknik untuk insinyur sipil telah berfokus pada penganggaran modal: "... kapan harus mengganti peralatan modal, dan investasi alternatif mana yang harus dilakukan.
Jurnal
The Engineering Economist - diterbitkan bersama oleh Divisi Ekonomi Teknik dari American Society of Engineering Education (ASEE) dan Institute of Industrial and Systems Engineers (IISE). Ini menerbitkan "...penelitian asli, praktik saat ini, dan pengajaran yang melibatkan masalah investasi modal."
Disadur dari: en.wikipedia.org
Manajemen Keuangan
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 10 Februari 2025
Analisis fundamental (bahasa Inggris: Fundamental analysis) adalah metode analisis perusahaan yang didasarkan pada faktor-faktor fundamental ekonomi suatu perusahaan termasuk sisi kinerja keuangan dan bisnis perusahaan. Teknis ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang. Analisis fundamental dibagi dalam tiga tahapan analisis yaitu analisis ekonomi, analisis industri, dan analisis perusahaan.
Analisis fundamental perusahaan
Secara umum, analisis fundamental ini melibatkan banyak sekali data variabel yang harus dianalisis, di mana beberapa di antara variabel tersebut yang cukup penting untuk diperhatikan yaitu:
Menghitung rasio
Menghitung kondisi perusahaan biasanya dilakukan dengan menggunakan rasio-rasio keuangan. Rasio secara garis besar di bagi dalam 5 kategori utama antara lain, yaitu: keuntungan (profitability), harga (price ), likuiditas (liquidity), daya ungkit (leverage), dan efisiensi.
Rasio laba terhadap saham beredar (EPS)
EPS= Keuntungan bersih / jumlah saham beredar Rasio ini digunakan untuk mengukur suatu tingkat keuntungan dari perusahaan. Nilai ini akan dibandingkan dengan nilai pada kwartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
Rasio pertumbuhan EPS
Diperoleh dengan memperbandingkan nilai rasio laba terhadap saham beredar (EPS) pada tahun berjalan dengan nilai EPS pada kwartal yang sama pada tahun sebelumnya untuk menggambarkan pertumbuhan tingkat keuntungan perusahaan. Hasil perhitungan rasio ini dapat digunakan untuk memperkirakan kenaikan ataupun penurunan harga saham suatu perusahaan di bursa saham.
Rasio harga saham terhadap laba perlembar saham
P/E Ratio = Harga saham / EPS biasa juga disebut dengan P/E Ratio yang dihitung dengan cara membagi harga saham dengan keuntungan per lembar saham. Rasio ini digunakan untuk membandingkan suatu perusahaan dengan P/E Ratio rata-rata dari perusahaan dalam kelompok industri sejenis.
Rasio harga saham terhadap pertumbuhan laba perseroan (PEG ratio)
PEG Ratio = P/E ratio / pertumbuhan tahunan EPS semakin rendah PEG Ratio suatu perusahaan maka berarti harga sahamnya adalah dibawah harga semestinya ( undervalued) dan perusahaan memiliki rasio pertumbuhan EPS yang tinggi. Misalnya suatu perusahaan dengan pertumbuhan EPS sebesar 21.5% dengan P/E Ratio sebesar 37.3% maka PEG Ratio nya adalah 37.3/21.5=1.73.
Rasio harga saham terhadap penjualan (P/S ratio)
P/S Ratio = Harga saham / penjualan per lembar saham rasio ini biasanya digunakan untuk menilai suatu perusahaan yang masih baru atau belum mendapatkan keuntungan di mana rasio ini. Semakin rendah P/S ratio suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain dalam kelompok industri yang sejenis menunjukkan semakin bagus perusahaan tersebut.
Rasio harga saham terhadap nilai buku (PB/V Ratio)
PB/V Ratio = Harga saham / (total harta - total hutang) semakin rendah PB/V rasionya berarti harga saham tersebut murah atau berada dibawah harga sebenarnya, tetapi hal ini juga dapat berarti ada sesuatu yang merupakan kesalahan mendasar pada perusahaan tersebut. Misalnya perusahaan XXX memiliki harta sebesar Rp. 100 miliar dan hutangnya sebesar Rp. 70 miliar maka nilai buku perusahan tersebut adalah Rp. 30 miliar dan apabila saham yang beredar 500 juta maka berarti setiap saham mewakili Rp. 600 nilai buku, dengan harga perlembar saham sebesar Rp. 1.200 maka berarti PB/V rasio perusahaan tersebut adalah 1.200/600 = 2.
Rasio hutang perseroan
Debt Ratio = Total utang / total aset rasio ini mengukur seberapa banyak aset yang dibiayai oleh hutang. Misalnya, rasio hutang 30 % artinya bahwa 30% dari aset dibiayai oleh hutang. Rasio hutang bisa berarti buruk pada situasi ekonomi sulit dan suku bunga tinggi, di mana perusahaan yang memiliki debt ratio yang tinggi dapat mengalami masalah keuangan, tetapi selama ekonomi baik dan suku bunga rendah maka dapat meningkatkan keuntungan.
Marjin keuntungan bersih
Net profit margin = Keuntungan bersih / total penjualan marjin keuntungan bersih, atau marjin laba bersih (bahasa Inggris: Net profit margin), adalah rasio tingkat profitabilitas yang dihitung dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan. Rasio ini menunjukan keuntungan bersih dengan total penjualan yang di peroleh dari setiap penjualan.
Perputaran inventaris
Perputaran inventaris=Biaya barang yang terjual /inventaris perputaran inventaris (inventory turnover) adalah rasio efisiensi yang dihitung dengan membagi biaya barang yang terjual dengan inventaris, yang menunjukkan seberapa efisien perusahaan mengatur inventarisnya, yaitu berapa kali perputaran inventaris selama satu tahun. Jenis rasio ini sangat bergantung pada jenis industri di mana perusahaan berada. Sebagai contoh, toko kue akan mempunyai tingkat perputaran yang jauh lebih tinggi daripada pabrik pesawat. Sehingga yang perlu diperhatikan adalah membandingkan hasil yang diperoleh dengan rasio dari perusahaan-perusahaan yang lain dalam industri sejenis.
Analisis fundamental memberi pengaruh kepada trend perubahan harga (arah dari harga suatu mata uang secara keseluruhan) yang lebih banyak dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan yang dilakukan pemerintah (otoritas moneter) ataupun data-data yang dirilis oleh berbagai sumber maupun berita-berita tertentu yang belum pasti kebenarannya (market sentiment dan market rumors).
Faktor-faktor fundamental yang sifatnya luas dan kompleks tersebut dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori besar, yaitu:
Indikator-indikator inflasi yang biasanya digunakan oleh para investor:
Sumber artikel: Wikipedia
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025
Ujian Fundamentals of Engineering (FE), yang juga disebut sebagai ujian Engineer in Training (EIT), dan sebelumnya di beberapa negara bagian disebut sebagai ujian Engineering Intern (EI), adalah ujian pertama dari dua ujian yang harus dilalui oleh para insinyur untuk mendapatkan lisensi sebagai Insinyur Profesional (PE) di Amerika Serikat. Ujian kedua adalah ujian Prinsip dan Praktik Teknik. Ujian FE terbuka bagi siapa saja yang memiliki gelar di bidang teknik atau bidang terkait, atau saat ini terdaftar di tahun terakhir dari program gelar teknik terakreditasi Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET).
Beberapa dewan lisensi negara bagian mengizinkan siswa untuk mengambilnya sebelum tahun terakhir mereka, dan banyak negara bagian mengizinkan mereka yang belum pernah mengikuti program yang disetujui untuk mengikuti ujian jika mereka memiliki jumlah tahun pengalaman kerja di bidang teknik yang ditentukan oleh negara bagian. Beberapa negara bagian mengizinkan mereka yang memiliki gelar "Teknologi Rekayasa" atau "ETAC" yang terakreditasi ABET untuk mengikuti ujian. Ujian ini diselenggarakan oleh National Council of Examiners for Engineering and Surveying (NCEES).
Sejarah dan struktur
Pada tahun 1965, 30 negara bagian menyelenggarakan ujian FE yang pertama. FE menguji pengetahuan tentang apa yang seharusnya dikuasai oleh lulusan perguruan tinggi selama sekolah. Pada tahun 1966, ujian PE seragam nasional ditawarkan. Pada tahun 2014, ujian FE dan FS hanya ditawarkan melalui Computer Based Testing (CBT). Ujian terdiri dari 110 pertanyaan dan diberikan selama 6 jam, dimana 5 jam dan 20 menit digunakan untuk menjawab pertanyaan. Sisa waktu yang ada termasuk tutorial, yang diberikan di awal sesi, dan waktu istirahat selama 25 menit. Peserta ujian harus mendaftar untuk diuji di salah satu dari tujuh bidang: kimia, sipil, listrik dan komputer, lingkungan, industri dan sistem, mekanik, dan disiplin ilmu lainnya. Setiap peserta ujian diberikan salinan elektronik dari buku panduan referensi yang disusun oleh NCEES, satu-satunya referensi yang dapat digunakan selama ujian.
Sebelum tahun 2014, ujian dibagi menjadi dua sesi selama 4 jam dengan jeda waktu makan siang. Sesi pagi terdiri dari 120 pertanyaan dalam berbagai mata pelajaran sains/teknik dan harus diikuti oleh semua peserta ujian, sedangkan sesi siang terdiri dari 60 pertanyaan dan dapat diikuti oleh peserta ujian dalam bidang ilmu tertentu atau sebagai ujian teknik umum. Buku panduan referensi didistribusikan dalam bentuk cetak; peserta ujian tidak diperbolehkan membawa buku referensi mereka sendiri dan harus mengembalikan buku referensi yang telah disediakan di akhir setiap sesi.
Pada tahun 2015, perubahan konten dalam ujian dilembagakan untuk menjadikannya spesifik untuk setiap disiplin ilmu, dengan rencana untuk menyisipkan materi pelajaran teknik umum (misalnya dasar-dasar matematika dan sains) di sepanjang ujian. Kurang dari "keluasan penuh" dari sebagian besar kurikulum sarjana teknik tradisional akan ditangkap dengan pendekatan ini - seperti dasar matematika dan sains yang luas yang mencakup kimia, fisika, mekanika (yaitu statika dan dinamika), ilmu material, ilmu komputer, elektronika/sirkuit, desain teknik, dan berbagai standar matematika teknik (yaitu kalkulus, persamaan diferensial, statistik). Kekhawatirannya adalah, meskipun sebagian besar mahasiswa teknik sarjana sebenarnya terpapar pada sebagian besar mata pelajaran ini, mereka mungkin tidak perlu mengambil mata kuliah dalam topik khusus seperti termodinamika dan mekanika fluida.
Sejak Juli 2020, NCEES telah melakukan pembaruan di semua disiplin ilmu ujian FE. Sebagai contoh, topik "Alat Komputasi" telah dihapus untuk disiplin ilmu sipil dan mekanik. Dalam kasus lain, topik dan subtopik telah digabungkan atau digabungkan. NCEES juga menerbitkan versi terbaru dari edisi kesepuluh dari Buku Pegangan Referensi FE. Buku panduan ini direvisi dengan menggabungkan tata letak satu halaman yang koheren dan bukan tata letak dua kolom, penambahan dan penghapusan beberapa persamaan baru, dan Spesifikasi Ujian FE yang diperbarui.
Lisensi
Mereka yang lulus ujian terkadang ditunjuk sebagai Engineer In Training atau Engineer Intern tergantung pada pendekatan dewan lisensi negara bagian mereka untuk mengakui mereka yang sedang dalam proses lisensi. Banyak perusahaan teknik akan menilai pelamar pekerjaan teknik berdasarkan apakah mereka telah lulus ujian FE dan terdaftar sebagai EIT. Lulus Ujian FE menunjukkan bahwa pelamar tidak melupakan prinsip-prinsip dasar teknik dasar yang mereka pelajari sebagai mahasiswa. Setelah mendapatkan sejumlah pengalaman kerja (yang lamanya ditentukan oleh hukum negara bagian dan mungkin didasarkan pada jenis gelar yang diterima), seorang EIT/EI dapat memenuhi syarat untuk mengikuti ujian Insinyur Profesional (PE). Lisensi yang sebenarnya kemudian dapat diajukan dan diberikan setelah berhasil menyelesaikan ujian PE. Waktu standar pengalaman kerja (yang mungkin perlu berada di bawah Insinyur Profesional) adalah empat tahun di sebagian besar negara bagian AS, untuk lulusan program teknik yang terakreditasi ABET.
Tingkat kelulusan
NCEES memposting tingkat kelulusan setiap dua tahun sekali di situs web mereka dengan kriteria sebagai berikut:
Tingkat kelulusan berdasarkan kriteria tersebut berkisar antara 63 hingga 76 persen pada tahun 2021. Organisasi ini juga memposting tingkat kelulusan lengkap setiap tahun dalam laporan Squared mereka: Laporan A Year In Numbers, yang mencakup semua peserta ujian. Laporan ini telah tersedia sejak tahun 2014.
Nilai kelulusan
Hasil ujian didasarkan pada jumlah total jawaban yang benar tanpa pengurangan untuk jawaban yang salah. Skor berskala dikonversi dari jumlah asli jawaban benar. Peserta ujian mengikuti ujian unik yang dihasilkan dari bank soal NCEES yang bersumber dari para sukarelawan. Organisasi tidak mempublikasikan nilai kelulusan karena nilai kelulusan sedikit bervariasi berdasarkan tingkat kesulitan ujian. Jika peserta ujian tidak lulus ujian, organisasi menyediakan laporan diagnostik untuk membantu mereka mengidentifikasi area pengetahuan yang perlu mereka tingkatkan sebelum mengikuti ujian ulang.
Disadur dari: en.wikipedia.org
Manajemen Keuangan
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 10 Februari 2025
Aset keuangan (Inggris:financial assets) adalah aset tak wujud yang memiliki nilai karena adanya klaim kontrak, dalam bentuk deposito bank, obligasi, reksadana, sertifikat deposito dan saham. Aset keuangan biasanya lebih likuid daripada aset wujud, seperti tanah atau real-estat (lahan yasan), dan diperdagangkan di pasar keuangan.
Menurut International Financial Reporting Standards (IFRS), aset keuangan memiliki beberapa definisi:
Sumber artikel: Wikipedia
Teknik Industri
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025
Infrastruktur (juga dikenal sebagai "barang modal", atau "modal tetap") adalah platform untuk pemerintahan, perdagangan, dan pertumbuhan ekonomi dan merupakan "jalur kehidupan bagi masyarakat modern". Ini adalah ciri dari pembangunan ekonomi. Ini telah dicirikan sebagai mekanisme yang memberikan "..kebutuhan mendasar masyarakat: makanan, air, energi, tempat tinggal, pemerintahan ... tanpa infrastruktur, masyarakat hancur dan orang mati."Adam Smith berpendapat bahwa pengeluaran aset tetap adalah "alasan ketiga bagi negara, di balik penyediaan pertahanan dan keadilan. "Masyarakat menikmati penggunaan "...jalan raya, jalur air, udara, dan sistem kereta api yang memungkinkan mobilitas orang dan barang yang tak tertandingi. Penyakit yang ditularkan melalui air hampir tidak ada karena sistem pengolahan, distribusi, dan pengumpulan air dan air limbah. Selain itu, telekomunikasi dan sistem tenaga telah memungkinkan pertumbuhan ekonomi kita."
Perkembangan ini terjadi selama beberapa abad. Ini mewakili sejumlah keberhasilan dan kegagalan di masa lalu yang disebut pekerjaan umum dan bahkan sebelum itu perbaikan internal. Pada abad ke-21, jenis pembangunan ini disebut infrastruktur. Infrastruktur dapat digambarkan sebagai aset modal berwujud (income-earning assets), baik yang dimiliki oleh perusahaan swasta maupun pemerintah.
Kepemilikan dan pembiayaan infrastruktur
Infrastruktur dapat dimiliki dan dikelola oleh pemerintah atau perusahaan swasta, seperti utilitas publik tunggal atau perusahaan kereta api. Umumnya, sebagian besar jalan, pelabuhan utama dan bandara, sistem distribusi air dan jaringan pembuangan limbah dimiliki oleh publik, sedangkan sebagian besar jaringan energi dan telekomunikasi dimiliki oleh swasta. Infrastruktur milik publik dapat dibayar dari pajak, tol, atau retribusi meteran, sedangkan infrastruktur swasta umumnya dibayar dengan iuran pengguna meteran. Proyek investasi besar umumnya dibiayai oleh penerbitan obligasi jangka panjang. Oleh karena itu, infrastruktur yang dimiliki dan dioperasikan oleh pemerintah dapat dikembangkan dan dioperasikan di sektor swasta atau dalam kemitraan publik-swasta, selain di sektor publik. Di Amerika Serikat, pengeluaran publik untuk infrastruktur bervariasi antara 2,3% dan 3,6% dari PDB sejak 1950. Banyak lembaga keuangan berinvestasi dalam infrastruktur.
Hutang infrastruktur
Utang infrastruktur adalah kategori investasi kompleks yang diperuntukkan bagi investor institusi yang sangat canggih yang dapat mengukur parameter risiko khusus yurisdiksi, menilai kelayakan jangka panjang proyek, memahami risiko transaksi, melakukan uji tuntas, menegosiasikan perjanjian (multi) kreditur, membuat keputusan tepat waktu tentang persetujuan dan keringanan, dan menganalisis kinerja pinjaman dari waktu ke waktu.
Penelitian yang dilakukan oleh Dewan Pensiun Dunia (WPC) menunjukkan bahwa sebagian besar pensiun Inggris dan Eropa yang ingin mendapatkan tingkat eksposur utang infrastruktur telah melakukannya secara tidak langsung, melalui investasi yang dilakukan dalam dana infrastruktur yang dikelola oleh dana khusus Kanada, AS dan Australia. Pada tanggal 29 November 2011, pemerintah Inggris meluncurkan rencana yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendorong investasi pensiun skala besar di jalan baru, rumah sakit, bandara, dll. di seluruh Inggris. Rencana tersebut bertujuan untuk menarik 20 miliar pound ($30,97 miliar) investasi dalam proyek infrastruktur domestik.
Infrastruktur sebagai kelas aset baru untuk dana pensiun dan SWF
Dana pensiun dan kekayaan negara adalah investor langsung utama dalam infrastruktur. Sebagian besar dana pensiun memiliki kewajiban jangka panjang, dengan investasi jangka panjang yang sesuai. Investor institusional besar ini perlu melindungi nilai jangka panjang dari investasi mereka dari penurunan nilai mata uang dan fluktuasi pasar, dan menyediakan arus kas berulang untuk membayar manfaat pensiunan dalam jangka pendek-menengah: dari perspektif itu, think-tank seperti Dewan Pensiun Dunia (WPC) berpendapat bahwa infrastruktur adalah kelas aset ideal yang memberikan keuntungan nyata seperti durasi panjang (memfasilitasi pencocokan arus kas dengan kewajiban jangka panjang), perlindungan terhadap inflasi dan diversifikasi statistik (korelasi rendah dengan daftar 'tradisional' aset seperti ekuitas dan investasi pendapatan tetap), sehingga mengurangi volatilitas portofolio secara keseluruhan. Selanjutnya, untuk memfasilitasi investasi investor institusi di pasar infrastruktur negara berkembang, perlu dirancang mekanisme alokasi risiko dengan lebih hati-hati, mengingat risiko pasar negara berkembang yang lebih tinggi.
Investasi bersama supranasional dan publik dengan pemilik aset institusional
Gagasan tentang investasi bersama supranasional dan publik dalam proyek infrastruktur bersama dengan pemilik aset institusi swasta telah mendapatkan daya tarik di antara pembuat kebijakan IMF, Bank Dunia dan Komisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir, terutama pada bulan-bulan terakhir 2014/awal 2015: Pertemuan Tahunan Internasional Dana Moneter dan Grup Bank Dunia (Oktober 2014) dan adopsi €315 bn Rencana Investasi Komisi Eropa untuk Eropa (Desember 2014).
Kepemilikan asing atas 'aset publik'
Beberapa ahli telah memperingatkan terhadap risiko "nasionalisme infrastruktur", bersikeras bahwa aliran investasi yang stabil dari pensiun asing dan dana negara adalah kunci untuk keberhasilan jangka panjang dari aset terutama di yurisdiksi besar Eropa seperti Prancis dan Inggris.
Perbandingan investasi swasta versus publik
Perbandingan menarik antara privatisasi versus pekerjaan umum yang disponsori pemerintah melibatkan proyek kereta api berkecepatan tinggi (HSR) di Asia Timur. Pada tahun 1998, pemerintah Taiwan memberikan Taiwan High Speed Rail Corporation, sebuah organisasi swasta, untuk membangun jalur 345 km dari Taipei ke Kaohsiung dalam kontrak konsesi selama 35 tahun. Sebaliknya, pada tahun 2004 pemerintah Korea Selatan menugaskan Korean High Speed Rail Construction Authority, sebuah entitas publik, untuk membangun jalur kereta api berkecepatan tinggi, 412 km dari Seoul ke Busan, dalam dua tahap. Sementara strategi implementasi yang berbeda, Taiwan berhasil melaksanakan proyek HSR dalam hal manajemen proyek (waktu, biaya, dan kualitas), sedangkan Korea Selatan berhasil menyampaikan proyek HSR-nya dalam hal keberhasilan produk (memenuhi kebutuhan pemilik dan pengguna, terutama dalam hal penumpang). Selain itu, Korea Selatan berhasil menciptakan transfer teknologi teknologi kereta api berkecepatan tinggi dari para insinyur Prancis, yang pada dasarnya menciptakan industri manufaktur HSR yang mampu mengekspor pengetahuan, peralatan, dan suku cadang ke seluruh dunia.
Perencanaan dan pengelolaan infrastruktur
Manajemen aset infrastruktur
Metode pengelolaan aset infrastruktur didasarkan pada definisi Standard of Service (SoS) yang menjelaskan bagaimana kinerja aset secara objektif dan terukur. SoS mencakup definisi tingkat kondisi minimum, yang ditetapkan dengan mempertimbangkan konsekuensi dari kegagalan aset infrastruktur.
Komponen kunci dari manajemen aset infrastruktur adalah:
Setelah menyelesaikan manajemen aset, kesimpulan resmi dibuat. American Society of Civil Engineers memberi Amerika Serikat "D+" pada rapor infrastruktur tahun 2017.
Rekayasa
Bandara Berlin Brandenburg sedang dibangun.
Sebagian besar infrastruktur dirancang oleh insinyur sipil atau arsitek. Umumnya jaringan transportasi jalan dan kereta api, serta infrastruktur pengelolaan air dan limbah dirancang oleh insinyur sipil, jaringan tenaga listrik dan penerangan dirancang oleh insinyur listrik dan insinyur listrik, dan jaringan telekomunikasi, komputasi dan pemantauan dirancang oleh insinyur sistem.
Dalam hal infrastruktur perkotaan, tata letak umum jalan, trotoar dan tempat-tempat umum kadang-kadang dapat dikembangkan pada tingkat konseptual oleh perencana kota atau arsitek, meskipun desain rinci masih akan dilakukan oleh insinyur sipil. Tergantung pada ketinggian bangunan, itu dapat dirancang oleh seorang arsitek atau untuk gedung-gedung tinggi, seorang insinyur struktur, dan jika pabrik industri atau pengolahan diperlukan, pekerjaan struktur dan pondasi akan tetap dilakukan oleh insinyur sipil, tetapi prosesnya peralatan dan perpipaan dapat dirancang oleh insinyur industri atau insinyur proses.
Dalam hal tugas rekayasa, proses desain dan manajemen konstruksi biasanya mengikuti langkah-langkah berikut:
Perencanaan dan Studi Teknik Awal
Secara umum, infrastruktur direncanakan oleh perencana kota atau insinyur sipil pada tingkat tinggi untuk transportasi, air/air limbah, listrik, zona perkotaan, taman dan sistem publik dan swasta lainnya. Rencana ini biasanya menganalisis keputusan kebijakan dan dampak pertukaran untuk alternatif. Selain itu, perencana dapat memimpin atau membantu tinjauan lingkungan yang biasanya diperlukan untuk membangun infrastruktur. Bahasa sehari-hari proses ini disebut sebagai Perencanaan Infrastruktur. Kegiatan ini biasanya dilakukan dalam persiapan untuk rekayasa awal atau desain konseptual yang dipimpin oleh insinyur sipil atau arsitek.
Studi pendahuluan juga dapat dilakukan dan dapat mencakup langkah-langkah seperti:
Survei terperinci
Rekayasa Terperinci
Otorisasi
Tender
Pengawasan Konstruksi
File:BBI 2010-07-23 5.JPG|thumb|right|Bandara Berlin Brandenburg sedang dibangun.
Dampak ekonomi, sosial dan lingkungan dari infrastruktur
Investasi dalam infrastruktur merupakan bagian dari akumulasi modal yang diperlukan untuk pembangunan ekonomi dan dapat mempengaruhi ukuran sosial ekonomi kesejahteraan. Kausalitas infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi selalu menjadi perdebatan. Secara umum, infrastruktur memainkan peran penting dalam memperluas kapasitas produksi nasional, yang mengarah pada peningkatan kekayaan suatu negara. Di negara berkembang, perluasan jaringan listrik, jalan raya, dan kereta api menunjukkan pertumbuhan yang nyata dalam pembangunan ekonomi. Namun, hubungan tersebut tidak bertahan di negara-negara maju yang menyaksikan semakin rendahnya tingkat pengembalian investasi infrastruktur semacam itu.
Namun demikian, infrastruktur menghasilkan manfaat tidak langsung melalui rantai pasokan, nilai lahan, pertumbuhan usaha kecil, penjualan konsumen, dan manfaat sosial dari pengembangan masyarakat dan akses ke peluang. American Society of Civil Engineers mengutip banyak proyek transformatif yang telah membentuk pertumbuhan Amerika Serikat termasuk Transcontinental Railroad yang menghubungkan kota-kota besar dari pantai Atlantik ke Pasifik; Terusan Panama yang merevolusi pengiriman dalam menghubungkan dua samudera di belahan bumi Barat; Sistem Jalan Raya Antar Negara yang melahirkan mobilitas massa; dan masih banyak lagi yang mencakup Bendungan Hoover, pipa Trans-Alaska, dan banyak jembatan (Gerbang Emas, Brooklyn, dan Jembatan Teluk San Francisco–Oakland). Semua upaya ini adalah bukti korelasi pembangunan infrastruktur dan ekonomi.
Ekonom pembangunan Eropa dan Asia juga berpendapat bahwa keberadaan infrastruktur kereta api modern merupakan indikator signifikan kemajuan ekonomi suatu negara: perspektif ini diilustrasikan terutama melalui Indeks Infrastruktur Transportasi Kereta Api Dasar (dikenal sebagai Indeks BRTI).
Selama Depresi Hebat tahun 1930-an, banyak pemerintah melakukan proyek pekerjaan umum untuk menciptakan lapangan kerja dan merangsang ekonomi. Ekonom John Maynard Keynes memberikan pembenaran teoretis untuk kebijakan ini dalam The General Theory of Employment, Interest and Money, yang diterbitkan pada tahun 1936. Krisis keuangan 2008–2009, beberapa lagi mengusulkan investasi di bidang infrastruktur sebagai sarana untuk merangsang ekonomi (lihat Undang-Undang Pemulihan dan Reinvestasi Amerika tahun 2009).
Sementara pembangunan infrastruktur pada awalnya mungkin merusak lingkungan alam, membenarkan kebutuhan untuk menilai dampak lingkungan, hal itu dapat berkontribusi dalam mengurangi "badai sempurna" kelestarian lingkungan dan energi, terutama dalam peran transportasi dalam masyarakat modern. Tenaga angin lepas pantai di Inggris dan Denmark dapat menyebabkan masalah bagi ekosistem lokal tetapi merupakan inkubator untuk teknologi energi bersih untuk wilayah sekitarnya. Produksi etanol mungkin menggunakan terlalu banyak lahan pertanian yang tersedia di Brasil tetapi telah mendorong negara tersebut menuju kemandirian energi. Kereta api berkecepatan tinggi dapat menyebabkan kebisingan dan petak lebar hak jalan melalui pedesaan dan komunitas perkotaan tetapi telah membantu Cina, Spanyol, Prancis, Jerman, Jepang, dan negara-negara lain menangani masalah daya saing ekonomi, perubahan iklim, penggunaan energi secara bersamaan. , dan kelestarian lingkungan binaan.
Disadur dari: en.wikipedia.org