Konstruksi

Revolusi Digital di Industri Konstruksi: Evaluasi Penerapan Digital Tools di Malaysia dan China

Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 15 Mei 2025


Pendahuluan: Digitalisasi sebagai Pendorong Produktivitas Konstruksi

 

Industri konstruksi global tengah menghadapi tekanan untuk bertransformasi. Produktivitas yang stagnan, efisiensi rendah, serta tingginya angka kecelakaan dan pemborosan menjadi pemicu utama munculnya solusi berbasis teknologi. Di tengah revolusi industri 4.0, adopsi digital tools (DTs) menjadi peluang strategis bagi sektor konstruksi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Paper berjudul "Digital Tools Adoption Towards Construction Industry Revolution" oleh Changsaar Chai dkk. (2022) membahas secara komprehensif tingkat adopsi, tantangan, dan masa depan digitalisasi di industri konstruksi Malaysia dan China.

 

Fokus Penelitian: Studi Empiris di Dua Negara Berkembang

 

Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif dengan responden profesional konstruksi di Malaysia dan China. Dengan 61 respons valid (30,5% dari total), data dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor manfaat, tantangan, dan tren masa depan DTs. Hasilnya dibandingkan antar negara untuk menggambarkan kondisi aktual transformasi digital konstruksi di kedua negara.

 

Temuan Utama: Adopsi Digital Tools Masih Rendah

 

1. Tingkat Pengetahuan dan Preferensi Teknologi

  • Di Malaysia, BIM dikenal oleh 64% responden, sedangkan di China mencapai 78,8%.
  • Autodesk Revit, CAD, dan Cubicost cukup populer. Namun, teknologi seperti AR, VR, 3D printing, cloud, dan autonomous construction kurang dikenal (di bawah 20%).
  • CAD masih menjadi alat dominan, menandakan ketergantungan terhadap sistem 2D konvensional.

 

Analisis Tambahan: Ini menunjukkan bahwa meskipun BIM dan Revit sudah masuk dalam arus utama, teknologi lanjutan seperti AI, big data, dan IoT belum diadopsi secara luas karena minimnya pelatihan dan keterbatasan infrastruktur.

 

2. Manfaat Utama Digital Tools

  • Di Malaysia, manfaat utama adalah mengurangi biaya cetak (0.797), meningkatkan kualitas, dan komunikasi.
  • Di China, yang paling menonjol adalah peningkatan keselamatan kerja (0.930), penurunan biaya proyek, dan pengurangan variasi order.

 

Konteks Nyata: Tingginya angka kecelakaan di sektor konstruksi China (1,99 kematian/hari) menjadikan teknologi sebagai alat mitigasi risiko yang penting.

 

3. Tantangan Penerapan DTs

  • Di Malaysia, tantangan utama adalah kurangnya eksistensi teknologi dalam praktik (0.793), disusul resistensi perubahan.
  • Di China, tantangan terbesar adalah mahalnya upgrade sistem IT (0.911), dan ketidakmampuan perangkat keras lama menjalankan software baru.

 

Catatan Industri: Hambatan ini menunjukkan pentingnya penyusunan roadmap investasi digital dan pelatihan lintas generasi agar tidak terjadi "digital divide" antar pekerja.

 

4. Tren Masa Depan DTs

  • Malaysia fokus pada peningkatan keselamatan (0.800) dan presentasi klien.
  • China lebih menekankan pada pengambilan keputusan (0.944), peluang pasar global, dan kualitas proyek.

 

Diskusi Kritis: Apa yang Bisa Dipelajari?

 

Pelajaran dari Malaysia:

  • Dominasi tenaga kerja asing (46,63% sektor konstruksi) memengaruhi struktur adopsi teknologi.
  • Keselamatan menjadi perhatian utama, tetapi adopsi teknologi masih terganjal karena pengambil keputusan (pemilik proyek) tidak memberi prioritas pada DTs.

 

Pelajaran dari China:

  • Adopsi BIM dan Cubicost lebih tinggi karena didorong regulasi dan skala proyek besar.
  • Fokus pada penghematan biaya dan keselamatan mencerminkan respon terhadap realita proyek berskala nasional.

 

Perbandingan dengan Negara Maju:

 

Negara seperti Singapura dan Inggris sudah lebih maju dalam integrasi teknologi, karena regulasi yang mewajibkan BIM dan insentif fiskal untuk adopsi digital.

 

Implikasi Praktis: Apa yang Harus Dilakukan?

 

  • Pemerintah: Perlu mendorong adopsi teknologi lewat insentif fiskal, pelatihan bersertifikasi, dan kebijakan yang mewajibkan BIM pada proyek tertentu.
  • Perusahaan Konstruksi: Harus menyusun strategi digitalisasi berbasis kebutuhan proyek dan kapasitas SDM.
  • Akademisi dan Lembaga Riset: Perlu mendesain kurikulum teknik sipil dan arsitektur yang mengintegrasikan penggunaan DTs sejak dini.
  • Manajer Proyek: Harus mampu mengkomunikasikan nilai bisnis dari teknologi kepada pemilik proyek.

 

Kritik terhadap Studi

 

  • Ukuran Sampel Terbatas: Hanya 61 responden, mayoritas dengan pengalaman <5 tahun, membuat generalisasi terbatas.
  • Kurangnya Studi Longitudinal: Dampak jangka panjang adopsi DTs belum tergambar.
  • Variabel Budaya Organisasi belum dianalisis secara menyeluruh, padahal ini faktor kunci dalam perubahan teknologi.

 

Kesimpulan: Menuju Konstruksi Digital yang Inklusif dan Terstruktur

 

Studi ini menegaskan bahwa manfaat adopsi digital tools sangat besar, terutama dalam aspek biaya, keselamatan, dan kualitas proyek. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingkat adopsi masih tertinggal akibat tantangan teknis, budaya, dan struktural.

 

Malaysia dan China punya fondasi digital yang kuat, namun perlu langkah strategis agar bisa mengejar negara-negara "Stand Out" dalam indeks evolusi digital. Dengan mendorong adopsi teknologi berbasis kebutuhan nyata dan dukungan sistemik dari semua pemangku kepentingan, transformasi digital di sektor konstruksi bukan hanya mungkin, tapi juga mendesak.

 

 

Referensi

 

Chai, C. S., Chan, S., Xiong, L. Y., Lim, B. C., & Shan, J. (2022). Digital Tools Adoption Towards Construction Industry Revolution. Journal of Engineering Science and Technology, Special Issue on STAAUH, November (2022), 231–243. 

Selengkapnya
Revolusi Digital di Industri Konstruksi: Evaluasi Penerapan Digital Tools di Malaysia dan China

Pengelolaan Air

Resensi Kritis Integrasi Pengelolaan Sumber Daya Air dalam RTRW: Studi Jawa Tengah

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025


Pengantar: Air dan Tata Ruang dalam Ketegangan Regulasi

Dalam era pembangunan pesat dan krisis ekologi, air tak lagi sekadar sumber daya—melainkan komoditas strategis. Namun, pengelolaannya seringkali terpisah dari rencana tata ruang, yang seharusnya menjadi fondasi dalam mendesain masa depan wilayah. Studi oleh Silviani Junita dan Imam Buchori (2016) membedah efektivitas lembaga pemerintah dalam mengintegrasikan pola pengelolaan air ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dengan fokus di Provinsi Jawa Tengah.

Hasilnya? Integrasi yang diharapkan belum optimal. Artikel ini akan mengupas sebab-akibatnya, mengaitkan dengan tren kebijakan air nasional dan memberikan pandangan strategis ke depan.

Metodologi dan Fokus Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan basis deduktif. Data dikumpulkan dari:

  • Wawancara dan kuesioner: 30 responden dari Kementerian PU, Bappeda, Dinas PSDA, Dinas Cipta Karya
  • Kajian dokumen hukum dan RTRW
  • Analisis kebijakan dan daya dukung kelembagaan

Fokus utama adalah efektivitas koordinasi kelembagaan antar sektor—baik pusat maupun daerah—dalam menyatukan pola pengelolaan air dan perencanaan ruang.

Hasil Penelitian: Banyak Aturan, Minim Integrasi

Masalah Substansi Regulasi:

  • UU No. 7/2004 tentang SDA vs UU No. 26/2007 tentang Penataan Ruang → berbeda istilah dan pendekatan
  • SDA gunakan istilah pengelolaan, RTRW gunakan penataan
  • Perbedaan penggunaan istilah DAS dan Wilayah Sungai
  • Konsep "pola pengelolaan DAS" tidak sinkron dengan "pola pengelolaan wilayah sungai"

Struktur Lembaga:

  • Kelembagaan SDA: melibatkan Dirjen SDA, Dinas PSDA, Balai Wilayah Sungai
  • Kelembagaan RTRW: Bappeda, BKPRD, Dinas Cipta Karya & Tata Ruang
  • Ada forum seperti TKPSDA dan Dewan SDA, namun belum efektif menjembatani sektor

Studi Kasus Jawa Tengah: Koordinasi Belum Tuntas

Fakta Lapangan:

  • 5 Wilayah Sungai jadi kewenangan pusat, 2 dikelola daerah
  • Banyak program konservasi dan pembangunan air jalan sendiri-sendiri
  • Pemanfaatan lahan sering bertabrakan dengan zona konservasi air
  • Dewan SDA dan BKPRD belum sinkron dalam penetapan prioritas ruang air

Dampaknya:

  • RTRW tidak mencerminkan prioritas pelestarian sumber air
  • Rencana teknis pengelolaan air tidak termuat dalam perencanaan ruang
  • Ketidakpastian regulasi dalam investasi infrastruktur air

Analisis & Opini: Ego Sektoral dan Masalah Klasik Tata Kelola

Kritik Penulis:

  • Kelembagaan hanya formal di atas kertas
  • Koordinasi sektoral minim, padahal saling ketergantungan tinggi
  • Lemahnya political will untuk harmonisasi kebijakan lintas sektor

Perbandingan Global:

  • Negara seperti Belanda dan Portugal telah menyatukan pengelolaan air dan ruang dalam satu badan regulasi
  • Di Indonesia, desentralisasi justru menciptakan fragmentasi tata kelola (Faguet, 2004)

Saran Tambahan:

  • Gunakan data spasial digital dan dashboard terintegrasi untuk menyatukan informasi SDA & RTRW
  • Adopsi pendekatan landscape planning yang menyatukan fungsi ekologi dan perencanaan sosial
  • Rekomendasi Strategis
  1. Revisi Undang-Undang agar sinkronisasi istilah dan tujuan SDA-RTRW tercapai
  2. Bentuk forum regulasi tetap antara Dewan SDA dan BKPRD
  3. Bangun kapasitas kelembagaan daerah, agar koordinasi lintas sektor lebih adaptif
  4. Kembangkan pedoman teknis terpadu tentang muatan SDA dalam RTRW
  5. Dorong kepemimpinan Gubernur sebagai penghubung dua sektor

Penutup: Tata Ruang Tanpa Air adalah Rencana Tanpa Nyawa

Penelitian ini menyuarakan realita bahwa tata ruang tidak bisa berdiri sendiri tanpa integrasi yang kokoh dengan pola pengelolaan air. Dengan ancaman krisis air, fragmentasi kelembagaan dan regulasi yang bertabrakan adalah risiko besar bagi keberlanjutan pembangunan.

Kuncinya bukan menambah regulasi baru, tetapi menyatukan visi antara pengelolaan air dan tata ruang, dengan kelembagaan yang berfungsi aktif, bukan pasif.

Sumber:
Junita, S., & Buchori, I. (2016). Efektivitas kelembagaan pemerintah dalam integrasi pola pengelolaan sumber daya air dalam RTRW (Studi Kasus: Provinsi Jawa Tengah). Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 4(1), 1–12.

 

Selengkapnya
Resensi Kritis Integrasi Pengelolaan Sumber Daya Air dalam RTRW: Studi Jawa Tengah

Krisis Air

Tata Kelola Daerah Aliran Sungai untuk Krisis Air dan Bencana di Papua Barat Daya

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025


Pengantar: Ironi Air di Tengah Kelimpahan

Kota Sorong, yang kini menjadi ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, menyimpan ironi besar. Di musim hujan, air berlimpah menyebabkan banjir, namun di musim kemarau justru masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Riset oleh Pristianto dan Butudoka (2023) berupaya menjawab pertanyaan besar: bagaimana menata pengelolaan 11 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang membentang di wilayah pusat pemerintahan agar mampu mengantisipasi krisis air dan bencana secara terpadu?

Latar Belakang: DAS Kecil, Masalah Besar

Sebelas DAS yang dikaji—termasuk Sungai Remu, Klagison, Klawoguk, dan Klasaman—memiliki luas total 341,35 km² dan dikategorikan sebagai DAS kecil. Namun, kontribusinya besar dalam membentuk dinamika hidrologi, sedimentasi, banjir, serta keterbatasan pasokan air baku. Ironisnya, hanya sekitar 30% penduduk Sorong yang mendapat layanan PDAM. Selebihnya bergantung pada air hujan dan sumur bor, yang kualitasnya pun bervariasi.

Metode Penelitian: Kombinasi Lapangan dan Laboratorium

Penelitian ini menggunakan pendekatan komprehensif:

  • Pengumpulan data infiltrasi dan permeabilitas tanah (SNI dan ASTM)
  • Analisis tutupan lahan dan kualitas air
  • Kajian literatur 10 tahun terakhir dan data sekunder
  • Visualisasi dampak lingkungan melalui dokumentasi video

Temuan Kunci: Kombinasi Ancaman dan Ketidaksiapan

1. Variasi Infiltrasi dan Permeabilitas

  • Infiltrasi berkisar antara 0.01 hingga 34.78 cm/jam
  • Permeabilitas tertinggi ditemukan di DAS Pasar Baru (2.56 cm/jam), terendah di Wermon (0.17 cm/jam)
  • Tekstur tanah dominan: clay loam dan loam

2. Kualitas dan Kuantitas Air

  • Hulu sungai memiliki kualitas air relatif baik
  • Bagian tengah dan hilir tercemar, bahkan diklasifikasikan sebagai kelas III-IV (tidak layak konsumsi langsung)
  • Potensi air besar, namun minim infrastruktur pemantauan (hanya dua sungai dengan alat ukur debit)

3. Tutupan Lahan dan Degradasi Hulu

  • Dominasi lahan terbuka dan rumput tinggi
  • Aktivitas penambangan pasir di hulu (misalnya DAS Klagison) memperparah kerusakan
  • Hilangnya vegetasi mempercepat limpasan permukaan dan memperbesar risiko banjir

Studi Kasus Banjir: Bukti Krisis Multidimensi

Sungai Pasar Baru, Remu, Klagison, dan Klawoguk menjadi pusat kejadian banjir besar di Sorong (2022), menelan kerugian hingga Rp 77,14 miliar. Faktor manusia (perilaku eksploitatif), kelembagaan (penegakan aturan lemah), dan ketidakhadiran sistem mitigasi menjadi penyebab utama.

Contoh visual kondisi lapangan menunjukkan sempadan sungai berubah menjadi pemukiman padat, bahkan hingga mendekati landasan pacu bandara. Hal ini bertentangan dengan Permen PUPR No. 28/2015 yang melarang aktivitas budidaya di sempadan sungai.

Opini & Kritik: Tata Kota Tanpa Sungai Adalah Bunuh Diri Ekologis

Penelitian ini menyoroti absennya konsep pembangunan kota berbasis DAS. Padahal, kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, hingga Palembang mulai mengintegrasikan pengelolaan sungai ke dalam masterplan kotanya. Sorong perlu mencontoh konsep ini agar bisa menjelma sebagai kota pesisir yang tangguh dan berwawasan ekologi.

Poin Kritis:

  • Perekaman data hidrologi sangat minim
  • Penegakan aturan sempadan sungai lemah
  • Potensi sumber air besar, tapi kualitas dan kuantitasnya belum terkelola

Solusi Strategis: Dari Hulu ke Hilir, dari Pesisir ke Perkotaan

1. Tata Kelola Terintegrasi

  • Terapkan model "One River, One Plan, One Management"
  • Satukan kebijakan DAS dan pesisir dalam satu badan koordinatif

2. Infrastruktur Pemantauan

  • Tambah stasiun pengukur curah hujan dan debit sungai
  • Bangun bank data DAS berbasis GIS

3. Penataan Sempadan Sungai

  • Relokasi kawasan padat di sempadan sungai
  • Reboisasi dan konservasi wilayah hulu

4. Pendidikan Lingkungan dan Adat

  • Edukasi masyarakat tentang peran DAS
  • Libatkan tokoh adat dalam tata kelola

5. Pembangunan Kota Berbasis DAS

  • Rancang Kota Sorong dengan pendekatan zonasi ekohidrologi
  • Terapkan sistem Zero Runoff dalam pengelolaan air hujan

Penutup: Dari Krisis Menuju Peluang Transformasi

Riset ini menjadi pionir dalam menyatukan analisis fisik, sosial, dan kelembagaan untuk mengelola 11 DAS di Sorong. Kunci keberhasilan bukan hanya teknologi, tapi juga political will, literasi masyarakat, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.

Papua Barat Daya bisa menjadi model kota masa depan yang tahan bencana dan berkelanjutan, asal sungainya tidak hanya dilihat sebagai saluran air, tetapi sebagai jantung kehidupan masyarakat.

Sumber:
Pristianto, H., & Butudoka, M. A. (2023). Konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Mengantisipasi Bencana dan Krisis Air di Ibu Kota Propinsi Papua Barat Daya. Jurnal Ilmiah Ecosystem, 23(2), 290–307.

Selengkapnya
Tata Kelola Daerah Aliran Sungai untuk Krisis Air dan Bencana di Papua Barat Daya

Analysis

Memetakan Kegagalan dalam Sistem Kompleks: Integrasi Fault Tree Analysis dan Dynamic Bayesian Networks

Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 15 Mei 2025


Pendahuluan: Meningkatnya Kompleksitas dan Tantangan Manajemen Inoperabilitas

Di era modern, sistem yang dihadapi oleh para insinyur dan ilmuwan menjadi semakin kompleks. Kompleksitas ini muncul dari berbagai faktor, terutama kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas melalui jaringan sistem, yang menghasilkan interaksi yang dapat memicu perilaku tak terduga. Manajemen risiko disfungsi dalam sistem kompleks ini memerlukan pendekatan baru yang dapat menangani interaksi kompleks antar komponen.  

Artikel ilmiah ini, "Modeling Interactions for Inoperability Management: from Fault Tree Analysis (FTA) to Dynamic Bayesian Network (DBN)", membahas tantangan pemodelan dan analisis propagasi inoperabilitas dalam jaringan sistem kompleks. Artikel ini menawarkan solusi inovatif dengan menjembatani Fault Tree Analysis (FTA) dan Dynamic Bayesian Networks (DBN) untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana kegagalan menyebar dalam sistem yang saling berhubungan.  

Inti Pembahasan Artikel: Mengatasi Keterbatasan FTA dengan DBN

Artikel ini berfokus pada keterbatasan Fault Tree Analysis (FTA) dalam memodelkan sistem kompleks dan bagaimana Dynamic Bayesian Networks (DBN) dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan ini.

FTA adalah teknik deduktif yang telah lama digunakan untuk menganalisis kegagalan sistem. Namun, FTA memiliki beberapa kelemahan utama:  

  • FTA mengasumsikan independensi antar komponen, mengabaikan interaksi fisik.  
  • FTA biasanya menggunakan status komponen biner (berfungsi atau gagal), menyederhanakan kondisi sebenarnya.  
  • FTA kesulitan dalam memasukkan pengaruh eksternal pada sistem.  

Untuk mengatasi keterbatasan ini, penulis mengusulkan pendekatan dua langkah:

  1. Pemodelan Hierarki dengan FTA: Menggunakan FTA untuk memodelkan struktur hierarki sistem, di mana komponen-komponen saling mempengaruhi dalam suatu susunan hierarkis.  
  2. Transformasi ke DBN: Mengubah model FTA menjadi DBN untuk memasukkan dependensi temporal, pengaruh eksternal, dan interdependensi antar komponen.  

Dynamic Bayesian Networks: Kekuatan Pemodelan Interaksi Dinamis

Dynamic Bayesian Networks (DBN) adalah model grafis probabilistik yang ampuh untuk menganalisis evolusi variabel dari waktu ke waktu. DBN memungkinkan pemodelan dependensi kompleks, termasuk:  

  • Pengaruh Tertunda: Memungkinkan pemodelan efek yang tidak terjadi secara instan, yang sangat penting untuk sistem fisik.  
  • Interdependensi: Memungkinkan pemodelan hubungan timbal balik antar komponen, di mana kegagalan satu komponen dapat memicu kegagalan komponen lain.  
  • Pengaruh Eksternal: Memungkinkan dimasukkannya faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perilaku sistem.  

Langkah-langkah Transformasi: Dari FTA ke DBN

Artikel ini menguraikan proses terstruktur untuk mengubah fault tree menjadi dynamic Bayesian network:

  1. Pemodelan FTA: Membangun fault tree untuk memetakan struktur hierarki sistem dan mengidentifikasi minimal cut sets (kombinasi kegagalan komponen yang menyebabkan kegagalan sistem).  
  2. Konstruksi BN Statis: Mengubah fault tree menjadi Bayesian network statis, di mana struktur jaringan Bayesian isomorfik dengan struktur FTA.  
  3. Konstruksi DBN Dinamis: Memperluas Bayesian network statis menjadi DBN dinamis dengan memasukkan efek tertunda, interdependensi, dan pengaruh eksternal.  

Studi Kasus Ilustratif: Sistem Pasokan Daya

Untuk mengilustrasikan pendekatan yang diusulkan, artikel ini menyajikan studi kasus sederhana dari sistem pasokan daya. Studi kasus ini menunjukkan bagaimana DBN dapat digunakan untuk memodelkan pengaruh sinyal gangguan eksternal pada tingkat kegagalan komponen dan inoperabilitas sistem secara keseluruhan.  

Analisis Mendalam: Kekuatan, Keterbatasan, dan Implikasi

Artikel ini secara efektif menunjukkan bagaimana DBN dapat memperluas kemampuan FTA untuk menganalisis sistem kompleks. Dengan memasukkan dependensi dinamis dan pengaruh eksternal, model DBN memberikan representasi yang lebih realistis tentang perilaku sistem dan propagasi inoperabilitas.

Namun, penting untuk mempertimbangkan beberapa hal:

  • Kompleksitas Pemodelan: Konstruksi DBN, terutama untuk sistem besar, bisa menjadi kompleks dan menantang.  
  • Akuisisi Data: Akurasi model DBN sangat bergantung pada ketersediaan data yang andal untuk menentukan parameter jaringan.  
  • Validasi Model: Validasi model DBN dengan data dunia nyata sangat penting untuk memastikan keakuratannya dan kegunaannya.

Terlepas dari tantangan ini, pendekatan yang diusulkan memiliki implikasi yang signifikan untuk berbagai aplikasi:

  • Manajemen Risiko: Model DBN dapat digunakan untuk mengidentifikasi potensi kerentanan dalam sistem kompleks dan untuk mengevaluasi efektivitas strategi mitigasi risiko.  
  • Pemeliharaan Prediktif: Model DBN dapat mendukung strategi pemeliharaan prediktif dengan memprediksi kegagalan komponen dan mengoptimalkan jadwal pemeliharaan.  
  • Desain Sistem: Wawasan dari model DBN dapat menginformasikan desain sistem yang lebih tangguh dan andal.  

Kesimpulan: Menuju Pemodelan Inoperabilitas yang Lebih Realistis

Artikel ini menyajikan kontribusi yang berharga untuk bidang manajemen risiko dan keandalan sistem. Dengan menjembatani FTA dan DBN, artikel ini menawarkan metodologi yang lebih kuat untuk memodelkan dan menganalisis propagasi inoperabilitas dalam sistem kompleks. Studi kasus ini menyoroti potensi pendekatan ini untuk meningkatkan pemahaman kita tentang perilaku sistem dan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.  

Penelitian di masa depan dapat berfokus pada pengembangan metode yang lebih efisien untuk membangun dan memvalidasi model DBN skala besar, serta pada penerapan pendekatan ini untuk berbagai aplikasi dunia nyata.

Sumber Artikel:

Tchangani, A., & Pérès, F. (2020). Modeling Interactions for Inoperability Management: from Fault Tree Analysis (FTA) to Dynamic Bayesian Network (DBN). IFAC PapersOnLine, 53(3), 342-347.

Selengkapnya
Memetakan Kegagalan dalam Sistem Kompleks: Integrasi Fault Tree Analysis dan Dynamic Bayesian Networks

Teknologi Pendidikan

Serunya Belajar Sejarah Lewat Game: Inovasi Aplikasi Candi Jawa untuk Anak Sekolah Dasar

Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 15 Mei 2025


Pendahuluan

Di era digital yang serba cepat ini, pembelajaran sejarah sering kali terasa kaku dan kurang menarik bagi siswa. Materi sejarah, khususnya mengenai peninggalan budaya seperti candi-candi di Jawa, cenderung disampaikan dalam bentuk teks atau ceramah yang pasif. Masalah ini semakin nyata pada siswa sekolah dasar yang cenderung memiliki rentang perhatian pendek dan menyukai aktivitas interaktif.

Melihat realitas ini, Aldi Rifkyanda dan Febri Dwi Wibowo menggagas sebuah solusi kreatif: pengembangan aplikasi edukatif berbasis game petualangan (adventure game) yang mengajarkan sejarah candi kepada siswa kelas V SD SDF Al-Falah. Fokus utamanya adalah meningkatkan minat belajar sejarah dengan cara menyenangkan dan berbasis teknologi.

Tujuan dan Metodologi Penelitian

Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi game edukatif Android yang dapat:

  • Menyampaikan informasi sejarah candi di Jawa secara interaktif.

  • Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sejarah.

  • Menyediakan media pembelajaran alternatif yang menarik.

Metode yang Digunakan

Penelitian ini menerapkan metode multimedia development life cycle (MDLC) yang terdiri dari enam tahapan:

  1. Konsep – Menentukan tema dan tujuan aplikasi.

  2. Desain – Merancang struktur game, tampilan antarmuka, dan alur cerita.

  3. Pengumpulan Materi – Mengumpulkan konten sejarah candi dan elemen visual.

  4. Perakitan – Proses coding dan integrasi elemen multimedia ke dalam aplikasi.

  5. Pengujian – Melibatkan siswa SD untuk uji coba dan evaluasi kinerja.

  6. Distribusi – Pendistribusian aplikasi dalam bentuk file APK untuk diuji coba langsung di perangkat Android siswa.

Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan penyebaran kuesioner kepada siswa dan guru untuk mengetahui efektivitas aplikasi terhadap pemahaman dan minat belajar siswa .

Fitur dan Alur Game Edukasi

Aplikasi ini mengusung konsep adventure game dengan pendekatan berbasis misi. Siswa diajak menjelajah dalam dunia virtual yang merepresentasikan berbagai candi seperti:

  • Candi Borobudur

  • Candi Prambanan

  • Candi Sewu

  • Candi Plaosan

Setiap level dalam game menyajikan misi edukatif seperti menjawab kuis, mencari artefak, atau menyusun informasi yang hilang. Narasi dan dialog dalam game disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa SD, sehingga tetap menarik dan informatif.

Teknologi yang Digunakan

Aplikasi ini dikembangkan menggunakan:

  • Unity3D sebagai game engine.

  • Bahasa pemrograman C# untuk scripting.

  • Basis data SQLite untuk menyimpan progres permainan.

Hasil dan Temuan Penting

Hasil uji coba aplikasi menunjukkan bahwa:

  • 80% siswa merasa lebih tertarik belajar sejarah melalui game ini dibandingkan buku teks.

  • 75% siswa dapat mengingat kembali informasi sejarah yang disampaikan dalam game, terutama mengenai nama dan sejarah candi.

  • Guru juga menyatakan bahwa aplikasi ini membantu menyampaikan materi sejarah yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan .

Dari segi teknis, aplikasi ini berhasil dijalankan dengan baik di berbagai perangkat Android kelas menengah ke bawah, menunjukkan efisiensi dalam ukuran file dan kecepatan proses.

Studi Kasus: Implementasi di SD SDF Al-Falah

Dalam penerapannya di SD SDF Al-Falah, aplikasi ini menjadi bagian dari media pembelajaran tematik. Guru menjadikan game ini sebagai penyegaran materi setelah penjelasan teori, dan siswa diberi waktu khusus untuk menyelesaikan misi dalam game secara individu atau berkelompok.

Hasilnya, siswa tidak hanya mengalami peningkatan skor tes sejarah, tetapi juga menunjukkan antusiasme lebih besar dalam mendiskusikan peninggalan budaya.

Contoh nyata:

  • Seorang siswa yang sebelumnya tidak pernah mengunjungi candi, setelah memainkan game ini, meminta orang tuanya untuk mengajak ke Candi Borobudur saat liburan.

  • Dalam diskusi kelas, siswa mampu membedakan arsitektur candi Buddha dan Hindu secara mandiri.

Analisis dan Nilai Tambah

Kelebihan

  • Kreativitas dan inovasi tinggi dalam menggabungkan pendidikan sejarah dengan teknologi permainan.

  • Mudah diakses oleh siswa karena berbasis Android.

  • Visualisasi interaktif yang mendukung gaya belajar visual dan kinestetik.

Keterbatasan

  • Belum tersedia versi multiplatform seperti iOS atau web.

  • Beberapa konten masih terbatas pada empat candi utama.

  • Belum memuat aspek narasi sejarah yang lebih mendalam.

Perbandingan dengan Penelitian Lain

Jika dibandingkan dengan aplikasi edukatif sejenis seperti "Marbel Sejarah Indonesia" atau "Belajar Sejarah Nusantara", keunggulan aplikasi ini adalah adanya elemen interaktif dan gameplay misi yang membuat pengguna aktif belajar. Banyak aplikasi lain hanya menampilkan informasi pasif seperti e-book atau slideshow.

Relevansi dengan Tren Industri dan Pendidikan

Tren penggunaan game-based learning semakin meningkat, terutama di tengah era digital pasca pandemi. Edukasi berbasis aplikasi seperti ini sejalan dengan pendekatan blended learning dan kurikulum merdeka yang mengutamakan kemandirian belajar siswa.

Di ranah industri teknologi edukasi, riset ini berpotensi menjadi prototipe bagi pengembangan konten pembelajaran berbasis budaya lokal yang lebih luas, seperti sejarah kerajaan Nusantara, tokoh pahlawan, atau peninggalan kolonial.

Rekomendasi Pengembangan

Agar aplikasi ini semakin optimal, beberapa rekomendasi pengembangan meliputi:

  • Menambahkan fitur narasi suara untuk mendukung siswa dengan kesulitan membaca.

  • Memperluas cakupan candi di luar Jawa agar inklusif secara geografis.

  • Mengembangkan leaderboard atau reward system untuk meningkatkan motivasi siswa.

  • Menyediakan mode multiplayer untuk pembelajaran kolaboratif.

Kesimpulan

Penelitian ini membuktikan bahwa teknologi dan pendidikan budaya bisa berpadu harmonis. Game edukatif berbasis Android ini bukan hanya media belajar, tetapi juga sarana membentuk kesadaran budaya sejak dini. Inovasi semacam ini sangat diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara generasi muda dan warisan sejarah Indonesia.

Sumber:
Rifkyanda, A., & Wibowo, F. D. (2021). Aplikasi Pendukung Pengetahuan Peninggalan Sejarah Candi Jawa dengan Konsep Adventure Game pada Siswa SDF Al-Falah Kelas V Berbasis Android.

Selengkapnya
Serunya Belajar Sejarah Lewat Game: Inovasi Aplikasi Candi Jawa untuk Anak Sekolah Dasar

Georadar Bendung

Resensi Teknologi Georadar di Bendung Pasarbaru Tangerang

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025


Pengantar: Kenapa Perlu Memetakan Bawah Permukaan Bendung?

Bendung adalah bagian vital dari sistem irigasi. Di Indonesia, ratusan bendung menopang ketahanan pangan. Namun, usia yang menua, beban air tinggi, dan sedimentasi membuat banyak bendung rentan terhadap rembesan, retak, bahkan kegagalan struktur. Salah satu solusi yang kini makin diperhitungkan adalah teknologi Georadar (Ground Penetrating Radar/GPR), metode geofisika non-destruktif yang mampu mendeteksi struktur bawah permukaan secara cepat dan presisi.

Dalam studi oleh Adang S. Soewaeli dan Nurlia Sadikin (2014), teknologi ini diterapkan di Bendung Pasarbaru, Tangerang, yang dibangun pada 1923 oleh kolonial Belanda. Paper ini mengulas bagaimana GPR digunakan untuk memantau integritas struktural bendung yang dikenal sebagai "Pintu Air Sepuluh".

Lokasi dan Signifikansi Bendung Pasarbaru

Bendung Pasarbaru membentang sepanjang 110 meter di Kali Cisadane dan mengalirkan air ke sistem irigasi kota Tangerang. Bangunan ini memiliki sepuluh pintu dengan penggerak listrik buatan HEEMAF berkekuatan 6.000 Watt. Dalam catatan historis, pernah terjadi jebolnya bendung, menyebabkan penyusutan debit air hingga 1,3 meter. Ini menjadi latar penting mengapa inspeksi bawah permukaan diperlukan.

Metode: Bagaimana Georadar Bekerja?

Georadar bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik ke dalam tanah dan merekam pantulan sinyal dari objek atau lapisan berbeda. Karakteristik refleksi ini menunjukkan:

  • Perbedaan densitas
  • Adanya fluida (rembesan)
  • Perubahan material (beton, tanah, kerikil)

Perangkat dan Parameter

  • Alat: GSSI Inc. SIR System
  • Antena: 100 MHz (kedalaman hingga 25 m)
  • Software: RADAN 2D untuk pemrosesan data

Jalur Pengukuran

  • Lintasan A, B, D: Arah memanjang sepanjang bendung
  • Lintasan C: Arah melintang antar kolom pintu air
  • Titik pengukuran tiap 5 meter menggunakan GPS

Temuan Utama: Deteksi Anomali dan Indikasi Rembesan

Hasil pemindaian GPR berupa radargram menampilkan warna intensitas berbeda. Variasi warna menunjukkan adanya perbedaan amplitudo sinyal yang mengindikasikan heterogenitas material.

Lintasan A dan B (Memanjang)

  • Kedalaman: hingga 20 meter
  • Hasil: Tidak ada anomali signifikan
  • Beberapa gangguan sinyal akibat air, namun struktur tampak homogen

Lintasan C (Melintang)

  • Refleksi acak karena pengaruh air, namun tidak ditemukan anomali besar

Lintasan D (Memanjang – sisi hilir)

  • Ditemukan anomali di kedalaman 14–22 meter
  • Lokasi: Titik pertemuan antara struktur beton dan timbunan tanah
  • Dugaan: Rembesan air atau zona lemah yang berpotensi jadi titik kerusakan

Anomali di lintasan D perlu konfirmasi lebih lanjut melalui pengeboran atau metode geofisika lain seperti geolistrik.

Studi Banding dan Relevansi Praktis

Perbandingan Global

  • Studi di Bendungan Porjus, Swedia juga menggunakan GPR dan menemukan zona rembesan yang tidak terdeteksi sebelumnya.
  • Di Norwegia, GPR berhasil memetakan rongga di bawah struktur beton dan membedakan lapisan sedimen.

Relevansi Indonesia

  • Mayoritas bendung di Indonesia belum memiliki sistem pemantauan bawah permukaan.
  • GPR memberikan alternatif murah, cepat, dan non-invasif untuk inspeksi rutin.

 

Opini dan Analisis Tambahan

Keunggulan GPR:

  • Non-destruktif dan tidak merusak struktur
  • Cepat dan efisien untuk area luas
  • Memberikan gambaran visual langsung tentang struktur bawah permukaan

Kelemahan:

  • Rentan terhadap gangguan air dan konduktivitas tinggi
  • Hasil interpretasi perlu konfirmasi uji lanjutan seperti pengeboran

Tantangan Implementasi:

  • Kurangnya sumber daya manusia yang terlatih
  • Keterbatasan dana untuk pengadaan alat di BBWS/BWS
  • Belum masuk ke standar operasional pemeliharaan bendung

Rekomendasi Praktis

  1. Integrasi GPR ke dalam SOP BBWS untuk inspeksi bendung tua
  2. Pelatihan tenaga teknis untuk pengolahan dan interpretasi data GPR
  3. Kombinasi GPR dan metode lain (geolistrik, bor uji) untuk validasi
  4. Digitalisasi hasil radargram untuk membentuk bank data kondisi bendung nasional
  5. Kebijakan prioritas anggaran untuk perawatan preventif daripada reaktif

 

Kesimpulan: Menuju Pemeliharaan Infrastruktur Air yang Cerdas

Penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan teknologi GPR dalam monitoring bendung tua. Deteksi dini terhadap potensi kerusakan seperti rembesan memungkinkan pengelolaan air yang lebih aman dan efisien. Dengan sistem georadar, Indonesia bisa mengurangi risiko bencana air akibat kegagalan struktur serta meningkatkan efisiensi distribusi irigasi.

Teknologi ini bukan hanya alat bantu teknis, tetapi bisa menjadi bagian integral dari sistem manajemen infrastruktur air yang modern dan berbasis data.

Sumber:
Soewaeli, A. S., & Sadikin, N. (2014). Pemetaan Kondisi Bawah Permukaan dengan Metode Geofisika (Studi Kasus: Bendung Pasarbaru, Tangerang). Jurnal Teknik Hidraulik, 5(2), 99–110.

 

Selengkapnya
Resensi Teknologi Georadar di Bendung Pasarbaru Tangerang
« First Previous page 466 of 1.408 Next Last »