Konstruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 15 Mei 2025
Pendahuluan: Digitalisasi sebagai Pendorong Produktivitas Konstruksi
Industri konstruksi global tengah menghadapi tekanan untuk bertransformasi. Produktivitas yang stagnan, efisiensi rendah, serta tingginya angka kecelakaan dan pemborosan menjadi pemicu utama munculnya solusi berbasis teknologi. Di tengah revolusi industri 4.0, adopsi digital tools (DTs) menjadi peluang strategis bagi sektor konstruksi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Paper berjudul "Digital Tools Adoption Towards Construction Industry Revolution" oleh Changsaar Chai dkk. (2022) membahas secara komprehensif tingkat adopsi, tantangan, dan masa depan digitalisasi di industri konstruksi Malaysia dan China.
Fokus Penelitian: Studi Empiris di Dua Negara Berkembang
Penelitian ini menggunakan pendekatan survei kuantitatif dengan responden profesional konstruksi di Malaysia dan China. Dengan 61 respons valid (30,5% dari total), data dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk mengidentifikasi faktor manfaat, tantangan, dan tren masa depan DTs. Hasilnya dibandingkan antar negara untuk menggambarkan kondisi aktual transformasi digital konstruksi di kedua negara.
Temuan Utama: Adopsi Digital Tools Masih Rendah
1. Tingkat Pengetahuan dan Preferensi Teknologi
Analisis Tambahan: Ini menunjukkan bahwa meskipun BIM dan Revit sudah masuk dalam arus utama, teknologi lanjutan seperti AI, big data, dan IoT belum diadopsi secara luas karena minimnya pelatihan dan keterbatasan infrastruktur.
2. Manfaat Utama Digital Tools
Konteks Nyata: Tingginya angka kecelakaan di sektor konstruksi China (1,99 kematian/hari) menjadikan teknologi sebagai alat mitigasi risiko yang penting.
3. Tantangan Penerapan DTs
Catatan Industri: Hambatan ini menunjukkan pentingnya penyusunan roadmap investasi digital dan pelatihan lintas generasi agar tidak terjadi "digital divide" antar pekerja.
4. Tren Masa Depan DTs
Diskusi Kritis: Apa yang Bisa Dipelajari?
Pelajaran dari Malaysia:
Pelajaran dari China:
Perbandingan dengan Negara Maju:
Negara seperti Singapura dan Inggris sudah lebih maju dalam integrasi teknologi, karena regulasi yang mewajibkan BIM dan insentif fiskal untuk adopsi digital.
Implikasi Praktis: Apa yang Harus Dilakukan?
Kritik terhadap Studi
Kesimpulan: Menuju Konstruksi Digital yang Inklusif dan Terstruktur
Studi ini menegaskan bahwa manfaat adopsi digital tools sangat besar, terutama dalam aspek biaya, keselamatan, dan kualitas proyek. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tingkat adopsi masih tertinggal akibat tantangan teknis, budaya, dan struktural.
Malaysia dan China punya fondasi digital yang kuat, namun perlu langkah strategis agar bisa mengejar negara-negara "Stand Out" dalam indeks evolusi digital. Dengan mendorong adopsi teknologi berbasis kebutuhan nyata dan dukungan sistemik dari semua pemangku kepentingan, transformasi digital di sektor konstruksi bukan hanya mungkin, tapi juga mendesak.
Referensi
Chai, C. S., Chan, S., Xiong, L. Y., Lim, B. C., & Shan, J. (2022). Digital Tools Adoption Towards Construction Industry Revolution. Journal of Engineering Science and Technology, Special Issue on STAAUH, November (2022), 231–243.
Pengelolaan Air
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025
Pengantar: Air dan Tata Ruang dalam Ketegangan Regulasi
Dalam era pembangunan pesat dan krisis ekologi, air tak lagi sekadar sumber daya—melainkan komoditas strategis. Namun, pengelolaannya seringkali terpisah dari rencana tata ruang, yang seharusnya menjadi fondasi dalam mendesain masa depan wilayah. Studi oleh Silviani Junita dan Imam Buchori (2016) membedah efektivitas lembaga pemerintah dalam mengintegrasikan pola pengelolaan air ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), dengan fokus di Provinsi Jawa Tengah.
Hasilnya? Integrasi yang diharapkan belum optimal. Artikel ini akan mengupas sebab-akibatnya, mengaitkan dengan tren kebijakan air nasional dan memberikan pandangan strategis ke depan.
Metodologi dan Fokus Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan basis deduktif. Data dikumpulkan dari:
Fokus utama adalah efektivitas koordinasi kelembagaan antar sektor—baik pusat maupun daerah—dalam menyatukan pola pengelolaan air dan perencanaan ruang.
Hasil Penelitian: Banyak Aturan, Minim Integrasi
Masalah Substansi Regulasi:
Struktur Lembaga:
Studi Kasus Jawa Tengah: Koordinasi Belum Tuntas
Fakta Lapangan:
Dampaknya:
Analisis & Opini: Ego Sektoral dan Masalah Klasik Tata Kelola
Kritik Penulis:
Perbandingan Global:
Saran Tambahan:
Penutup: Tata Ruang Tanpa Air adalah Rencana Tanpa Nyawa
Penelitian ini menyuarakan realita bahwa tata ruang tidak bisa berdiri sendiri tanpa integrasi yang kokoh dengan pola pengelolaan air. Dengan ancaman krisis air, fragmentasi kelembagaan dan regulasi yang bertabrakan adalah risiko besar bagi keberlanjutan pembangunan.
Kuncinya bukan menambah regulasi baru, tetapi menyatukan visi antara pengelolaan air dan tata ruang, dengan kelembagaan yang berfungsi aktif, bukan pasif.
Sumber:
Junita, S., & Buchori, I. (2016). Efektivitas kelembagaan pemerintah dalam integrasi pola pengelolaan sumber daya air dalam RTRW (Studi Kasus: Provinsi Jawa Tengah). Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 4(1), 1–12.
Krisis Air
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025
Pengantar: Ironi Air di Tengah Kelimpahan
Kota Sorong, yang kini menjadi ibu kota Provinsi Papua Barat Daya, menyimpan ironi besar. Di musim hujan, air berlimpah menyebabkan banjir, namun di musim kemarau justru masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih. Riset oleh Pristianto dan Butudoka (2023) berupaya menjawab pertanyaan besar: bagaimana menata pengelolaan 11 Daerah Aliran Sungai (DAS) yang membentang di wilayah pusat pemerintahan agar mampu mengantisipasi krisis air dan bencana secara terpadu?
Latar Belakang: DAS Kecil, Masalah Besar
Sebelas DAS yang dikaji—termasuk Sungai Remu, Klagison, Klawoguk, dan Klasaman—memiliki luas total 341,35 km² dan dikategorikan sebagai DAS kecil. Namun, kontribusinya besar dalam membentuk dinamika hidrologi, sedimentasi, banjir, serta keterbatasan pasokan air baku. Ironisnya, hanya sekitar 30% penduduk Sorong yang mendapat layanan PDAM. Selebihnya bergantung pada air hujan dan sumur bor, yang kualitasnya pun bervariasi.
Metode Penelitian: Kombinasi Lapangan dan Laboratorium
Penelitian ini menggunakan pendekatan komprehensif:
Temuan Kunci: Kombinasi Ancaman dan Ketidaksiapan
1. Variasi Infiltrasi dan Permeabilitas
2. Kualitas dan Kuantitas Air
3. Tutupan Lahan dan Degradasi Hulu
Studi Kasus Banjir: Bukti Krisis Multidimensi
Sungai Pasar Baru, Remu, Klagison, dan Klawoguk menjadi pusat kejadian banjir besar di Sorong (2022), menelan kerugian hingga Rp 77,14 miliar. Faktor manusia (perilaku eksploitatif), kelembagaan (penegakan aturan lemah), dan ketidakhadiran sistem mitigasi menjadi penyebab utama.
Contoh visual kondisi lapangan menunjukkan sempadan sungai berubah menjadi pemukiman padat, bahkan hingga mendekati landasan pacu bandara. Hal ini bertentangan dengan Permen PUPR No. 28/2015 yang melarang aktivitas budidaya di sempadan sungai.
Opini & Kritik: Tata Kota Tanpa Sungai Adalah Bunuh Diri Ekologis
Penelitian ini menyoroti absennya konsep pembangunan kota berbasis DAS. Padahal, kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, hingga Palembang mulai mengintegrasikan pengelolaan sungai ke dalam masterplan kotanya. Sorong perlu mencontoh konsep ini agar bisa menjelma sebagai kota pesisir yang tangguh dan berwawasan ekologi.
Poin Kritis:
Solusi Strategis: Dari Hulu ke Hilir, dari Pesisir ke Perkotaan
1. Tata Kelola Terintegrasi
2. Infrastruktur Pemantauan
3. Penataan Sempadan Sungai
4. Pendidikan Lingkungan dan Adat
5. Pembangunan Kota Berbasis DAS
Penutup: Dari Krisis Menuju Peluang Transformasi
Riset ini menjadi pionir dalam menyatukan analisis fisik, sosial, dan kelembagaan untuk mengelola 11 DAS di Sorong. Kunci keberhasilan bukan hanya teknologi, tapi juga political will, literasi masyarakat, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Papua Barat Daya bisa menjadi model kota masa depan yang tahan bencana dan berkelanjutan, asal sungainya tidak hanya dilihat sebagai saluran air, tetapi sebagai jantung kehidupan masyarakat.
Sumber:
Pristianto, H., & Butudoka, M. A. (2023). Konsep Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dalam Mengantisipasi Bencana dan Krisis Air di Ibu Kota Propinsi Papua Barat Daya. Jurnal Ilmiah Ecosystem, 23(2), 290–307.
Analysis
Dipublikasikan oleh Ririn Khoiriyah Ardianti pada 15 Mei 2025
Pendahuluan: Meningkatnya Kompleksitas dan Tantangan Manajemen Inoperabilitas
Di era modern, sistem yang dihadapi oleh para insinyur dan ilmuwan menjadi semakin kompleks. Kompleksitas ini muncul dari berbagai faktor, terutama kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas melalui jaringan sistem, yang menghasilkan interaksi yang dapat memicu perilaku tak terduga. Manajemen risiko disfungsi dalam sistem kompleks ini memerlukan pendekatan baru yang dapat menangani interaksi kompleks antar komponen.
Artikel ilmiah ini, "Modeling Interactions for Inoperability Management: from Fault Tree Analysis (FTA) to Dynamic Bayesian Network (DBN)", membahas tantangan pemodelan dan analisis propagasi inoperabilitas dalam jaringan sistem kompleks. Artikel ini menawarkan solusi inovatif dengan menjembatani Fault Tree Analysis (FTA) dan Dynamic Bayesian Networks (DBN) untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana kegagalan menyebar dalam sistem yang saling berhubungan.
Inti Pembahasan Artikel: Mengatasi Keterbatasan FTA dengan DBN
Artikel ini berfokus pada keterbatasan Fault Tree Analysis (FTA) dalam memodelkan sistem kompleks dan bagaimana Dynamic Bayesian Networks (DBN) dapat digunakan untuk mengatasi keterbatasan ini.
FTA adalah teknik deduktif yang telah lama digunakan untuk menganalisis kegagalan sistem. Namun, FTA memiliki beberapa kelemahan utama:
Untuk mengatasi keterbatasan ini, penulis mengusulkan pendekatan dua langkah:
Dynamic Bayesian Networks: Kekuatan Pemodelan Interaksi Dinamis
Dynamic Bayesian Networks (DBN) adalah model grafis probabilistik yang ampuh untuk menganalisis evolusi variabel dari waktu ke waktu. DBN memungkinkan pemodelan dependensi kompleks, termasuk:
Langkah-langkah Transformasi: Dari FTA ke DBN
Artikel ini menguraikan proses terstruktur untuk mengubah fault tree menjadi dynamic Bayesian network:
Studi Kasus Ilustratif: Sistem Pasokan Daya
Untuk mengilustrasikan pendekatan yang diusulkan, artikel ini menyajikan studi kasus sederhana dari sistem pasokan daya. Studi kasus ini menunjukkan bagaimana DBN dapat digunakan untuk memodelkan pengaruh sinyal gangguan eksternal pada tingkat kegagalan komponen dan inoperabilitas sistem secara keseluruhan.
Analisis Mendalam: Kekuatan, Keterbatasan, dan Implikasi
Artikel ini secara efektif menunjukkan bagaimana DBN dapat memperluas kemampuan FTA untuk menganalisis sistem kompleks. Dengan memasukkan dependensi dinamis dan pengaruh eksternal, model DBN memberikan representasi yang lebih realistis tentang perilaku sistem dan propagasi inoperabilitas.
Namun, penting untuk mempertimbangkan beberapa hal:
Terlepas dari tantangan ini, pendekatan yang diusulkan memiliki implikasi yang signifikan untuk berbagai aplikasi:
Kesimpulan: Menuju Pemodelan Inoperabilitas yang Lebih Realistis
Artikel ini menyajikan kontribusi yang berharga untuk bidang manajemen risiko dan keandalan sistem. Dengan menjembatani FTA dan DBN, artikel ini menawarkan metodologi yang lebih kuat untuk memodelkan dan menganalisis propagasi inoperabilitas dalam sistem kompleks. Studi kasus ini menyoroti potensi pendekatan ini untuk meningkatkan pemahaman kita tentang perilaku sistem dan untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik.
Penelitian di masa depan dapat berfokus pada pengembangan metode yang lebih efisien untuk membangun dan memvalidasi model DBN skala besar, serta pada penerapan pendekatan ini untuk berbagai aplikasi dunia nyata.
Sumber Artikel:
Tchangani, A., & Pérès, F. (2020). Modeling Interactions for Inoperability Management: from Fault Tree Analysis (FTA) to Dynamic Bayesian Network (DBN). IFAC PapersOnLine, 53(3), 342-347.
Teknologi Pendidikan
Dipublikasikan oleh Afridha Nu’ma Khoiriyah pada 15 Mei 2025
Pendahuluan
Di era digital yang serba cepat ini, pembelajaran sejarah sering kali terasa kaku dan kurang menarik bagi siswa. Materi sejarah, khususnya mengenai peninggalan budaya seperti candi-candi di Jawa, cenderung disampaikan dalam bentuk teks atau ceramah yang pasif. Masalah ini semakin nyata pada siswa sekolah dasar yang cenderung memiliki rentang perhatian pendek dan menyukai aktivitas interaktif.
Melihat realitas ini, Aldi Rifkyanda dan Febri Dwi Wibowo menggagas sebuah solusi kreatif: pengembangan aplikasi edukatif berbasis game petualangan (adventure game) yang mengajarkan sejarah candi kepada siswa kelas V SD SDF Al-Falah. Fokus utamanya adalah meningkatkan minat belajar sejarah dengan cara menyenangkan dan berbasis teknologi.
Tujuan dan Metodologi Penelitian
Penelitian ini bertujuan mengembangkan aplikasi game edukatif Android yang dapat:
Menyampaikan informasi sejarah candi di Jawa secara interaktif.
Meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sejarah.
Menyediakan media pembelajaran alternatif yang menarik.
Metode yang Digunakan
Penelitian ini menerapkan metode multimedia development life cycle (MDLC) yang terdiri dari enam tahapan:
Konsep – Menentukan tema dan tujuan aplikasi.
Desain – Merancang struktur game, tampilan antarmuka, dan alur cerita.
Pengumpulan Materi – Mengumpulkan konten sejarah candi dan elemen visual.
Perakitan – Proses coding dan integrasi elemen multimedia ke dalam aplikasi.
Pengujian – Melibatkan siswa SD untuk uji coba dan evaluasi kinerja.
Distribusi – Pendistribusian aplikasi dalam bentuk file APK untuk diuji coba langsung di perangkat Android siswa.
Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung dan penyebaran kuesioner kepada siswa dan guru untuk mengetahui efektivitas aplikasi terhadap pemahaman dan minat belajar siswa .
Fitur dan Alur Game Edukasi
Aplikasi ini mengusung konsep adventure game dengan pendekatan berbasis misi. Siswa diajak menjelajah dalam dunia virtual yang merepresentasikan berbagai candi seperti:
Candi Borobudur
Candi Prambanan
Candi Sewu
Candi Plaosan
Setiap level dalam game menyajikan misi edukatif seperti menjawab kuis, mencari artefak, atau menyusun informasi yang hilang. Narasi dan dialog dalam game disesuaikan dengan tingkat pemahaman siswa SD, sehingga tetap menarik dan informatif.
Teknologi yang Digunakan
Aplikasi ini dikembangkan menggunakan:
Unity3D sebagai game engine.
Bahasa pemrograman C# untuk scripting.
Basis data SQLite untuk menyimpan progres permainan.
Hasil dan Temuan Penting
Hasil uji coba aplikasi menunjukkan bahwa:
80% siswa merasa lebih tertarik belajar sejarah melalui game ini dibandingkan buku teks.
75% siswa dapat mengingat kembali informasi sejarah yang disampaikan dalam game, terutama mengenai nama dan sejarah candi.
Guru juga menyatakan bahwa aplikasi ini membantu menyampaikan materi sejarah yang kompleks dengan cara yang lebih sederhana dan menyenangkan .
Dari segi teknis, aplikasi ini berhasil dijalankan dengan baik di berbagai perangkat Android kelas menengah ke bawah, menunjukkan efisiensi dalam ukuran file dan kecepatan proses.
Studi Kasus: Implementasi di SD SDF Al-Falah
Dalam penerapannya di SD SDF Al-Falah, aplikasi ini menjadi bagian dari media pembelajaran tematik. Guru menjadikan game ini sebagai penyegaran materi setelah penjelasan teori, dan siswa diberi waktu khusus untuk menyelesaikan misi dalam game secara individu atau berkelompok.
Hasilnya, siswa tidak hanya mengalami peningkatan skor tes sejarah, tetapi juga menunjukkan antusiasme lebih besar dalam mendiskusikan peninggalan budaya.
Contoh nyata:
Seorang siswa yang sebelumnya tidak pernah mengunjungi candi, setelah memainkan game ini, meminta orang tuanya untuk mengajak ke Candi Borobudur saat liburan.
Dalam diskusi kelas, siswa mampu membedakan arsitektur candi Buddha dan Hindu secara mandiri.
Analisis dan Nilai Tambah
Kelebihan
Kreativitas dan inovasi tinggi dalam menggabungkan pendidikan sejarah dengan teknologi permainan.
Mudah diakses oleh siswa karena berbasis Android.
Visualisasi interaktif yang mendukung gaya belajar visual dan kinestetik.
Keterbatasan
Belum tersedia versi multiplatform seperti iOS atau web.
Beberapa konten masih terbatas pada empat candi utama.
Belum memuat aspek narasi sejarah yang lebih mendalam.
Perbandingan dengan Penelitian Lain
Jika dibandingkan dengan aplikasi edukatif sejenis seperti "Marbel Sejarah Indonesia" atau "Belajar Sejarah Nusantara", keunggulan aplikasi ini adalah adanya elemen interaktif dan gameplay misi yang membuat pengguna aktif belajar. Banyak aplikasi lain hanya menampilkan informasi pasif seperti e-book atau slideshow.
Relevansi dengan Tren Industri dan Pendidikan
Tren penggunaan game-based learning semakin meningkat, terutama di tengah era digital pasca pandemi. Edukasi berbasis aplikasi seperti ini sejalan dengan pendekatan blended learning dan kurikulum merdeka yang mengutamakan kemandirian belajar siswa.
Di ranah industri teknologi edukasi, riset ini berpotensi menjadi prototipe bagi pengembangan konten pembelajaran berbasis budaya lokal yang lebih luas, seperti sejarah kerajaan Nusantara, tokoh pahlawan, atau peninggalan kolonial.
Rekomendasi Pengembangan
Agar aplikasi ini semakin optimal, beberapa rekomendasi pengembangan meliputi:
Menambahkan fitur narasi suara untuk mendukung siswa dengan kesulitan membaca.
Memperluas cakupan candi di luar Jawa agar inklusif secara geografis.
Mengembangkan leaderboard atau reward system untuk meningkatkan motivasi siswa.
Menyediakan mode multiplayer untuk pembelajaran kolaboratif.
Kesimpulan
Penelitian ini membuktikan bahwa teknologi dan pendidikan budaya bisa berpadu harmonis. Game edukatif berbasis Android ini bukan hanya media belajar, tetapi juga sarana membentuk kesadaran budaya sejak dini. Inovasi semacam ini sangat diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara generasi muda dan warisan sejarah Indonesia.
Sumber:
Rifkyanda, A., & Wibowo, F. D. (2021). Aplikasi Pendukung Pengetahuan Peninggalan Sejarah Candi Jawa dengan Konsep Adventure Game pada Siswa SDF Al-Falah Kelas V Berbasis Android.
Georadar Bendung
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 15 Mei 2025
Pengantar: Kenapa Perlu Memetakan Bawah Permukaan Bendung?
Bendung adalah bagian vital dari sistem irigasi. Di Indonesia, ratusan bendung menopang ketahanan pangan. Namun, usia yang menua, beban air tinggi, dan sedimentasi membuat banyak bendung rentan terhadap rembesan, retak, bahkan kegagalan struktur. Salah satu solusi yang kini makin diperhitungkan adalah teknologi Georadar (Ground Penetrating Radar/GPR), metode geofisika non-destruktif yang mampu mendeteksi struktur bawah permukaan secara cepat dan presisi.
Dalam studi oleh Adang S. Soewaeli dan Nurlia Sadikin (2014), teknologi ini diterapkan di Bendung Pasarbaru, Tangerang, yang dibangun pada 1923 oleh kolonial Belanda. Paper ini mengulas bagaimana GPR digunakan untuk memantau integritas struktural bendung yang dikenal sebagai "Pintu Air Sepuluh".
Lokasi dan Signifikansi Bendung Pasarbaru
Bendung Pasarbaru membentang sepanjang 110 meter di Kali Cisadane dan mengalirkan air ke sistem irigasi kota Tangerang. Bangunan ini memiliki sepuluh pintu dengan penggerak listrik buatan HEEMAF berkekuatan 6.000 Watt. Dalam catatan historis, pernah terjadi jebolnya bendung, menyebabkan penyusutan debit air hingga 1,3 meter. Ini menjadi latar penting mengapa inspeksi bawah permukaan diperlukan.
Metode: Bagaimana Georadar Bekerja?
Georadar bekerja dengan memancarkan gelombang elektromagnetik ke dalam tanah dan merekam pantulan sinyal dari objek atau lapisan berbeda. Karakteristik refleksi ini menunjukkan:
Perangkat dan Parameter
Jalur Pengukuran
Temuan Utama: Deteksi Anomali dan Indikasi Rembesan
Hasil pemindaian GPR berupa radargram menampilkan warna intensitas berbeda. Variasi warna menunjukkan adanya perbedaan amplitudo sinyal yang mengindikasikan heterogenitas material.
Lintasan A dan B (Memanjang)
Lintasan C (Melintang)
Lintasan D (Memanjang – sisi hilir)
Anomali di lintasan D perlu konfirmasi lebih lanjut melalui pengeboran atau metode geofisika lain seperti geolistrik.
Studi Banding dan Relevansi Praktis
Perbandingan Global
Relevansi Indonesia
Opini dan Analisis Tambahan
Keunggulan GPR:
Kelemahan:
Tantangan Implementasi:
Rekomendasi Praktis
Kesimpulan: Menuju Pemeliharaan Infrastruktur Air yang Cerdas
Penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan teknologi GPR dalam monitoring bendung tua. Deteksi dini terhadap potensi kerusakan seperti rembesan memungkinkan pengelolaan air yang lebih aman dan efisien. Dengan sistem georadar, Indonesia bisa mengurangi risiko bencana air akibat kegagalan struktur serta meningkatkan efisiensi distribusi irigasi.
Teknologi ini bukan hanya alat bantu teknis, tetapi bisa menjadi bagian integral dari sistem manajemen infrastruktur air yang modern dan berbasis data.
Sumber:
Soewaeli, A. S., & Sadikin, N. (2014). Pemetaan Kondisi Bawah Permukaan dengan Metode Geofisika (Studi Kasus: Bendung Pasarbaru, Tangerang). Jurnal Teknik Hidraulik, 5(2), 99–110.