penelitian

Menakar Produktivitas Proyek Konstruksi: Model Penilaian Efektif untuk Industri Indonesia

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 21 Mei 2025


Pendahuluan: Urgensi Produktivitas dalam Dunia Konstruksi

Di tengah pesatnya pertumbuhan infrastruktur Indonesia, produktivitas di sektor konstruksi menjadi titik tumpu keberhasilan. Dalam proyek berskala besar maupun menengah, kinerja produktivitas menentukan apakah sebuah pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu, sesuai anggaran, dan dengan mutu optimal. Namun, bagaimana cara mengukur produktivitas tersebut secara adil dan objektif? Tesis Rintih Prastianing Atas Kasih dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember menjawab pertanyaan ini dengan menyusun sebuah model penilaian produktivitas proyek konstruksi (PPK) yang terstruktur, terukur, dan relevan dengan kondisi lapangan Indonesia.

Latar Belakang Penelitian

Produktivitas konstruksi di Indonesia menghadapi tantangan khas: padat karya, banyak ketergantungan pada tenaga manusia, serta dinamika proyek yang cepat berubah. Berdasarkan data dari Kementerian PUPR, nilai proyek konstruksi Indonesia mencapai Rp 1.000 triliun per tahun (Rahayu, 2015), namun sering terkendala manajemen buruk, mutu tak konsisten, dan pemborosan waktu.

Salah satu akar masalahnya adalah tidak adanya alat ukur produktivitas yang komprehensif dan spesifik bagi proyek konstruksi Indonesia. Sebagian besar penelitian hanya memetakan faktor-faktor penyebab produktivitas tanpa mengusulkan alat ukur yang dapat digunakan sebagai standar benchmarking di lapangan.

Tujuan dan Ruang Lingkup

Penelitian ini bertujuan untuk:

  • Mengembangkan model penilaian produktivitas konstruksi berdasarkan variabel internal dan eksternal.

  • Mengimplementasikan model tersebut ke dalam tujuh proyek nyata dari kontraktor besar dan menengah, baik BUMN maupun swasta.

Penilaian dilakukan dari sudut pandang pemilik proyek (owner), menjadikannya lebih relevan untuk evaluasi kinerja kontraktor.

Metodologi: Pendekatan Ilmiah yang Berbasis Praktik Lapangan

Penelitian ini menggunakan kombinasi:

  • Studi literatur mendalam untuk identifikasi variabel.

  • Kuesioner dan wawancara ahli untuk penilaian bobot menggunakan metode pairwise comparison.

  • Pengolahan data dilakukan dengan model Spider Web, yang menggambarkan performa secara visual dan komprehensif.

Model PPK dibagi ke dalam dua kategori besar:

  1. Internal (73,8%), terdiri dari:

    • Manajemen (39,38%)

    • Sumber daya manusia (34,42%)

  2. Eksternal (26,2%), termasuk lingkungan, kebijakan, dan faktor luar proyek.
     

Temuan Kunci: Faktor Human Menjadi Penentu Produktivitas Tertinggi

A. Internal – Human dan Manajemen

  • Faktor Human (SDM) mencakup usia, pengalaman kerja, tingkat pendidikan, sistem upah, lembur, dan waktu istirahat.

  • Faktor Manajemen mencakup keterampilan manajer proyek, sistem operasional, dan penerapan Project Management Maturity Model (OPM3).
     

Tingkat produktivitas tertinggi justru berasal dari kategori human, menegaskan bahwa kualitas dan kondisi tenaga kerja masih menjadi tulang punggung dalam proyek konstruksi di Indonesia.

B. Eksternal – Masih Kurang Signifikan

  • Termasuk regulasi pemerintah, cuaca, kondisi sosial, dan pasokan material.

  • Memiliki skor terendah dari total penilaian, menunjukkan bahwa kontrol eksternal yang lemah mengurangi pengaruhnya terhadap produktivitas langsung.

 

Studi Kasus: Implementasi Model pada Proyek Nyata

Model diuji pada 7 proyek konstruksi bangunan, baik BUMN maupun swasta. Hasilnya:

  • Skor produktivitas tertinggi dicapai oleh kategori Human (rata-rata 3,4 dari 5).

  • Skor produktivitas proyek secara keseluruhan berada pada level 3 (cukup produktif).

  • Proyek-proyek swasta cenderung memiliki skor yang lebih tinggi pada aspek manajemen dibandingkan proyek BUMN.
     

Visualisasi spider web menampilkan kelemahan dan kekuatan masing-masing proyek secara intuitif, memudahkan proses evaluasi dan perencanaan perbaikan.

 

Analisis Tambahan: Kenapa Human Jadi Kunci?

Banyak literatur menyebut bahwa efisiensi dalam konstruksi tidak hanya dipengaruhi teknologi atau manajemen, tetapi terutama oleh tenaga kerjanya. Dalam konteks Indonesia:

  • Ketergantungan pada pekerja manual sangat tinggi.

  • Produktivitas sangat dipengaruhi oleh sistem upah, motivasi, dan sistem kerja.
     

Sebagai pembanding, laporan McKinsey (2020) menyebut bahwa negara-negara dengan sistem insentif pekerja yang baik memiliki produktivitas 30% lebih tinggi dari rata-rata global.

 

Opini Kritis: Kekuatan dan Kelemahan Model PPK

Kekuatan:

  • Mengintegrasikan faktor manajemen dan SDM, bukan hanya fokus pada teknis.

  • Visualisasi spider web sangat membantu proses evaluasi cepat.

  • Pendekatan empiris dengan validasi proyek nyata, bukan sekadar simulasi.
     

Kelemahan:

  • Belum mempertimbangkan variabel teknologi secara eksplisit.

  • Representasi faktor eksternal masih terlalu luas dan kurang spesifik.

  • Tidak mengukur dampak perubahan kebijakan publik atau kondisi makroekonomi secara dinamis.
     

Perbandingan dengan Studi Lain

Penelitian ini lebih komprehensif dibandingkan model pengukuran sebelumnya:

  • Mateen (2015): Fokus pada project management maturity, belum menyentuh sisi produktivitas total.

  • El-Gohary & Aziz (2014): Mengidentifikasi faktor pengaruh produktivitas, tapi tanpa model pengukuran kuantitatif.
     

Dengan menggabungkan pendekatan OPM3, penelitian ini berada satu tingkat lebih maju, terutama dalam menjembatani gap antara penelitian teoritis dan aplikasi langsung di proyek.

Implikasi Praktis

Bagi Kontraktor:

  • Model ini bisa dijadikan alat evaluasi tahunan untuk mengukur performa proyek.

  • Menjadi dasar untuk menyusun strategi pelatihan dan manajemen tenaga kerja.
     

Bagi Pemerintah:

  • Dapat digunakan sebagai dasar pembuatan standar penilaian produktivitas nasional.

  • Menyediakan indikator baru untuk mengukur kualitas kontraktor dalam proses tender.
     

Bagi Akademisi:

  • Memberi arah baru untuk riset lanjutan dalam pengembangan model berbasis teknologi atau hybrid productivity.
     

Rekomendasi Penelitian Lanjutan

  1. Integrasi teknologi: Masukkan elemen digitalisasi dan BIM sebagai faktor penilaian.

  2. Pemodelan dinamis: Tambahkan sistem pemantauan real-time produktivitas proyek.

  3. Ekspansi sektor: Terapkan model pada proyek infrastruktur jalan, jembatan, atau bendungan yang memiliki karakteristik berbeda dari bangunan gedung.
     

Kesimpulan

Tesis ini berhasil menyusun dan mengimplementasikan sebuah model penilaian produktivitas proyek konstruksi yang tidak hanya kuat secara metodologis, tetapi juga aplikatif di lapangan. Dengan mengutamakan faktor internal seperti manajemen dan SDM, serta memperkuat visualisasi penilaian melalui spider web, model ini bisa menjadi standar baru evaluasi kinerja proyek di Indonesia.

Namun demikian, penyempurnaan lebih lanjut masih diperlukan, terutama dalam hal integrasi teknologi dan perincian aspek eksternal. Dengan demikian, penelitian ini membuka pintu bagi pengukuran produktivitas konstruksi yang lebih akurat, adil, dan adaptif terhadap perubahan zaman
 

 

Sumber Artikel

Kasih, R. P. A. (2018). Model Penilaian Produktivitas pada Proyek Konstruksi di Indonesia. Tesis Magister, Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
Tersedia di: https://repository.its.ac.id

Selengkapnya
Menakar Produktivitas Proyek Konstruksi: Model Penilaian Efektif untuk Industri Indonesia

Kontruksi Modern

Strategi Peningkatan Produktivitas Konstruksi: Menimbang Efektivitas Metode dan Teknologi

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 21 Mei 2025


Pendahuluan: Produktivitas, Masalah Lama di Dunia Konstruksi

Industri konstruksi dikenal sebagai salah satu sektor penting dalam pembangunan nasional, tetapi ironi besar muncul ketika berbicara soal produktivitas. Dibandingkan sektor manufaktur, tingkat inovasi dan efisiensi konstruksi masih tertinggal jauh. Berdasarkan data dari Lean Construction Institute, sebanyak 57% aktivitas kontruksi tergolong “waste”, sementara hanya 10% yang benar-benar memberikan nilai tambah.

Dalam konteks inilah, artikel karya Paulus Setyo Nugroho menjadi sangat relevan. Penelitian ini tidak hanya memaparkan masalah klasik seperti keterlambatan proyek dan pembengkakan biaya, tetapi juga menawarkan solusi praktis melalui pemilihan metode konstruksi yang tepat, khususnya melalui penerapan teknologi pracetak dan inovasi sistem panel dinding serta metode Rheda untuk pembangunan rel kereta cepat.

 

Metodologi: Pendekatan Perbandingan Multi-Metode Konstruksi

Penelitian ini bersifat deskriptif-komparatif dengan pendekatan studi kasus di beberapa proyek nyata, termasuk:

  • Proyek Rusunawa Cilacap (penggunaan metode pracetak vs konvensional)

  • Proyek jalur rel kecepatan tinggi antara Belgia–Belanda (penggunaan metode Rheda 2000 NL)

  • Evaluasi sistem konstruksi gedung perumahan berbasis panel dinding prefab.

Fokus utamanya adalah mengukur efisiensi waktu, biaya, dan produktivitas kerja, yang kemudian dibandingkan antar metode.

Hasil Utama: Metode Konstruksi sebagai Game Changer

A. Pracetak vs Konvensional: Studi Kasus Rusunawa Cilacap

Metode beton pracetak (precast concrete) terbukti mampu memangkas waktu dan biaya proyek:

  • Durasi pelaksanaan struktur:

    • Pracetak: 168 hari

    • Konvensional: 196 hari

    • Efisiensi waktu: 14% lebih cepat

  • Penghematan biaya total struktur: Rp 227,5 juta (sekitar 6%)

  • Pengurangan biaya pelat: 10%

  • Penghematan kolom dan balok: 2%
     

B. Rheda 2000 NL: Solusi Efisiensi untuk Infrastruktur Rel

Untuk proyek skala besar seperti rel kereta cepat di perbatasan Belanda–Belgia, metode Rheda 2000 NL terbukti meningkatkan produktivitas hingga:

  • Pengurangan biaya lembur: 24,6%

  • Peningkatan kecepatan pembetonan (hingga 499 m/hari)

  • Kualitas pengerjaan meningkat berkat sistem kerja paralel dan peralatan modern
     

C. Teknologi Panel Dinding: Membangun Rumah dalam Hitungan Hari

Inovasi dalam sistem panel dinding modular (contoh: RISHA dan Smart Modula) dinilai mampu mempercepat proses pembangunan hunian:

  • Dimensi ringan (90x70 cm) → bisa diangkat oleh 1–2 orang

  • Tidak perlu alat berat

  • Sistem sambungan kering → mempercepat pemasangan

  • Estetika sederhana namun efisien
     

Analisis Tambahan: Kenapa Metode Berperan Vital?

1. Kunci Efisiensi: Meminimalisasi Pemborosan

Dalam konstruksi, pemborosan waktu dan sumber daya sering kali tidak disadari, seperti:

  • Proses bekisting yang memakan waktu

  • Perubahan desain mendadak

  • Penundaan material

Dengan metode seperti pracetak, aktivitas ini diminimalisasi karena:

  • Produksi dilakukan di pabrik

  • Komponen siap pasang

  • Pekerjaan lapangan dipersingkat
     

2. Mengurangi Ketergantungan pada Tenaga Ahli

Metode modular memungkinkan pekerja low-skilled bisa melakukan instalasi dengan pelatihan singkat, mengurangi beban biaya SDM. Di tengah kondisi kelangkaan tenaga kerja terampil, solusi ini sangat menjanjikan.

3. Adaptasi Terhadap Tantangan Urbanisasi

Kebutuhan akan pembangunan cepat dan masif (terutama di perkotaan) menuntut inovasi. Di sinilah metode konstruksi industrialisasi menjadi jawaban.

Kritik dan Refleksi: Tidak Semua Proyek Cocok dengan Pracetak

Meskipun metode pracetak terbukti unggul, ada beberapa catatan penting:

  • Tidak fleksibel terhadap perubahan desain

  • Biaya awal relatif mahal (biaya pabrikasi & crane)

  • Membutuhkan perencanaan matang sejak awal

Sebagai contoh, proyek kecil dengan banyak modifikasi di lapangan mungkin lebih cocok dengan metode konvensional atau campuran.

 

Perbandingan dengan Studi Lain

Artikel ini sejalan dengan temuan Low dan Chan (2001) serta Tam et al. (2007) yang menekankan bahwa pracetak:

  • Meningkatkan mutu

  • Mengurangi tenaga kerja

  • Mempermudah pengawasan

Namun, artikel ini unggul karena menyajikan data kuantitatif dan studi kasus nyata di Indonesia. Pendekatan lokal inilah yang membuatnya lebih aplikatif bagi industri konstruksi nasional.

Implikasi Praktis dan Strategi Implementasi

Bagi Pemerintah:

  • Dorong penggunaan pracetak melalui regulasi atau insentif

  • Tambahkan kurikulum modular building di pelatihan kerja

Bagi Kontraktor:

  • Lakukan studi kelayakan metode sebelum proyek dimulai

  • Investasi pada teknologi crane dan logistik modular

Bagi Akademisi:

  • Teliti lebih lanjut integrasi metode hybrid (kombinasi konvensional dan modular)

  • Kaji dampak metode terhadap emisi karbon proyek

 

Kesimpulan: Produktivitas adalah Pilihan Strategis

Produktivitas dalam konstruksi bukan sesuatu yang abstrak. Ia bisa dihitung, dibandingkan, dan ditingkatkan. Kuncinya? Pemilihan metode konstruksi yang tepat. Artikel ini secara meyakinkan membuktikan bahwa metode seperti pracetak, Rheda 2000 NL, dan teknologi panel dinding dapat memberikan lompatan besar dalam produktivitas.

Namun, seperti semua strategi, kuncinya ada di implementasi yang cermat dan kontekstual. Pemilihan metode konstruksi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal kesesuaian terhadap kondisi proyek, lokasi, dan tujuan pembangunan.

 

Sumber

Nugroho, P. S. (2012). Peningkatan Produktivitas Konstruksi Melalui Pemilihan Metode Konstruksi. Dinamika Rekayasa, 8(1), 25–30.
Tersedia di: CORE.ac.uk

Selengkapnya
Strategi Peningkatan Produktivitas Konstruksi: Menimbang Efektivitas Metode dan Teknologi

Konstruksi

Faktor Penentu Produktivitas Pekerja Konstruksi: Studi Kasus Brastagi Supermarket

Dipublikasikan oleh Sirattul Istid'raj pada 21 Mei 2025


Pendahuluan: Produktivitas Sebagai Kunci Sukses Proyek Konstruksi

Dalam dunia konstruksi, produktivitas bukan sekadar angka statistik—ia adalah cerminan efisiensi, ketepatan waktu, dan kualitas hasil. Proyek besar seperti pembangunan Brastagi Supermarket di Medan, yang menjadi objek dalam penelitian ini, membutuhkan lebih dari sekadar material berkualitas dan desain arsitektur; kunci keberhasilannya terletak pada sumber daya manusianya, yakni para pekerja konstruksi.

Penelitian ini berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan: mengidentifikasi faktor-faktor yang benar-benar mempengaruhi produktivitas pekerja. Sebab, meskipun proyek disokong dana besar dan perencanaan matang, ketidakefisienan tenaga kerja dapat menimbulkan keterlambatan dan kerugian.

Tujuan dan Lingkup Penelitian

Tujuan utama skripsi ini adalah untuk mengetahui:

  • Apa saja faktor yang mempengaruhi produktivitas pekerja di proyek pembangunan Brastagi Supermarket?

  • Faktor mana yang memiliki pengaruh paling dominan?

 

Lingkup penelitian difokuskan pada tahap pekerjaan basement dan lantai 1, melibatkan tukang, asisten mandor, dan mandor sebagai responden.

 

Metodologi Penelitian: Kuantitatif dengan Analisis SPSS

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berbasis survei. Instrumen utama adalah kuesioner dengan skala Likert, yang kemudian dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, dan penghitungan rata-rata (mean) menggunakan SPSS versi 26.

Enam variabel diuji, yaitu:

  1. Usia

  2. Pengalaman kerja

  3. Upah

  4. Jumlah tanggungan keluarga

  5. Kesehatan

  6. Kondisi lapangan
     

Nilai produktivitas dihitung berdasarkan skor agregat tiap faktor, menghasilkan total skor 3.124 poin.

 

Hasil Temuan: Upah sebagai Faktor Terkuat

Dari seluruh variabel yang diteliti, faktor upah menempati posisi tertinggi dalam mempengaruhi produktivitas pekerja, dengan koefisien sebesar 32,400. Disusul oleh pengalaman kerja dan kesehatan sebagai variabel signifikan lainnya.

Statistik Penting:

  • Total skor produktivitas: 3.124 poin

  • Koefisien tertinggi (faktor upah): 32,400

  • Usia dan jumlah tanggungan memiliki pengaruh sedang

  • Faktor lingkungan (kondisi lapangan) juga turut berkontribusi, meski tidak sebesar faktor ekonomi

 

Analisis Tambahan: Kenapa Upah Jadi Penentu?

Secara sosiologis dan psikologis, upah bukan hanya soal kompensasi, tetapi juga cermin penghargaan dan motivasi. Ketika pekerja merasa dihargai secara finansial, hal itu meningkatkan rasa tanggung jawab dan loyalitas mereka terhadap proyek.

Dalam konteks Medan dan sektor konstruksi Sumatera Utara, standar upah sering kali menjadi isu. Berdasarkan data dari BPS 2023, rata-rata upah harian tukang bangunan di Indonesia berkisar antara Rp 120.000–150.000. Bila proyek seperti Brastagi Supermarket menerapkan skema upah di bawah atau tidak sesuai dengan kompleksitas kerja, maka potensi penurunan produktivitas meningkat signifikan.

 

Perbandingan dengan Studi Terdahulu

Penelitian ini mengonfirmasi hasil penelitian sebelumnya:

  • Faradina (2021): Faktor kesehatan paling dominan dalam proyek MTsN 3 Pekanbaru.

  • Iqbal (2018): Faktor upah berpengaruh signifikan dalam proyek PT. Mega Prima Development.

  • Widayat (2017): Faktor usia dan pengalaman memiliki korelasi tinggi terhadap produktivitas.

Namun, dalam studi Alexius ini, faktor upah justru menempati posisi puncak. Hal ini memperlihatkan bahwa dinamika produktivitas bisa sangat tergantung pada konteks lokal proyek.

 

Studi Kasus Nyata: Proyek MRT Jakarta

Sebagai pembanding, proyek MRT Jakarta fase 1 juga mengalami dinamika serupa. Pada awal 2020, produktivitas pekerja sempat menurun karena isu pembayaran yang tertunda. Setelah manajemen memperbaiki sistem insentif dan pemberian bonus berbasis kinerja, produktivitas meningkat hingga 20% dalam tiga bulan (sumber: Laporan PT MRT Jakarta, 2021).

Hal ini membuktikan bahwa insentif finansial yang adil dan terukur dapat menjadi pemicu percepatan proyek secara keseluruhan.

 

Implikasi Praktis Penelitian

Bagi Kontraktor dan Manajemen Proyek:

  • Penyesuaian upah berdasarkan UMR dan kondisi proyek sangat penting.

  • Program pelatihan kesehatan kerja dan manajemen stres bisa meningkatkan produktivitas jangka panjang.

Bagi Pemerintah Daerah:

  • Perlu diterapkan regulasi minimum wage khusus untuk sektor konstruksi.

  • Mendorong pengawasan yang lebih ketat terhadap standar kerja di proyek-proyek publik dan swasta.

Kelebihan dan Keterbatasan Penelitian

Kelebihan:

  • Analisis statistik berbasis SPSS memberikan hasil kuantitatif yang dapat dipertanggungjawabkan.

  • Studi lapangan secara langsung di proyek yang sedang berjalan.

Keterbatasan:

  • Penelitian hanya mencakup area basement dan lantai 1 proyek, yang mungkin belum mencerminkan keseluruhan kondisi proyek.

  • Fokus hanya pada faktor internal pekerja, belum mempertimbangkan faktor manajerial atau kebijakan proyek.

 

Opini dan Rekomendasi Penulis

Penelitian ini sangat relevan dengan tantangan produktivitas yang dihadapi sektor konstruksi Indonesia. Penulis menyarankan agar penelitian serupa dilakukan secara longitudinal, tidak hanya pada satu fase proyek, untuk melihat perubahan dinamika produktivitas dari awal hingga akhir proyek.

Lebih lanjut, akan sangat menarik bila dikembangkan studi komparatif antar provinsi atau wilayah—untuk memahami pengaruh budaya kerja dan kebijakan lokal terhadap produktivitas.

 

Kesimpulan

Produktivitas pekerja adalah elemen kritis dalam keberhasilan proyek konstruksi. Melalui penelitian Alexius Awalludin Hulu ini, kita belajar bahwa faktor upah, pengalaman kerja, dan kesehatan memiliki pengaruh signifikan terhadap produktivitas pekerja.

Untuk menjawab tantangan produktivitas, diperlukan pendekatan manajerial yang holistik: mulai dari kebijakan pengupahan yang adil hingga peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan berkelanjutan. Dengan begitu, proyek konstruksi di Indonesia dapat diselesaikan lebih cepat, efisien, dan dengan kualitas yang lebih baik.

 

Sumber Artikel

Hulu, A. A. (2023). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Pekerja pada Proyek Pembangunan Brastagi Supermarket. Skripsi, Universitas Medan Area.
Tersedia di: repository.uma.ac.id

Selengkapnya
Faktor Penentu Produktivitas Pekerja Konstruksi: Studi Kasus Brastagi Supermarket

Manajemen Proyek

Strategi Mitigasi Keterlambatan Proyek Rumah Sakit dengan Metode House of Risk (HOR)

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 21 Mei 2025


Pembangunan proyek infrastruktur, khususnya rumah sakit, adalah tugas kompleks yang penuh risiko. Artikel berjudul “Langkah Mitigasi Risiko Keterlambatan Pekerjaan dengan Pendekatan Metode House of Risk (HOR) pada Proyek Pembangunan Rumah Sakit” oleh Kyrra Sandra Sarkisian dkk., menawarkan pendekatan sistematis dalam mengidentifikasi dan mengelola risiko keterlambatan proyek konstruksi menggunakan metode House of Risk (HOR). Resensi ini akan membahas secara menyeluruh isi paper tersebut dengan penekanan pada studi kasus, angka-angka yang signifikan, dan relevansi praktisnya di industri konstruksi Indonesia.

Tantangan dalam Proyek Rumah Sakit: Kompleksitas dan Kebutuhan Khusus

Penelitian ini mengambil studi kasus pembangunan rumah sakit tujuh lantai di Sidoarjo yang menjadi bagian dari fasilitas penunjang tambahan sebuah rumah sakit eksisting. Rumah sakit, berbeda dengan bangunan komersial lain seperti ruko atau apartemen, memiliki regulasi dan standar infrastruktur khusus, seperti sistem sanitasi, sterilisasi, dan sirkulasi udara yang kompleks. Ini menjadikan proyek rumah sakit jauh lebih menantang.

Dalam proyek ini, keterlambatan mulai terlihat dari minggu ke-7 sampai minggu ke-10. Rinciannya:

  • Minggu ke-7: deviasi keterlambatan 0,369%

  • Minggu ke-8: 1,876%

  • Minggu ke-9: 2,940%

  • Minggu ke-10: 1,440%

Keterlambatan ini terjadi pada fase pekerjaan pondasi tiang pancang, yang diperparah oleh akses lokasi yang terbatas dan kondisi site yang tidak mendukung.

Pendekatan HOR: Sistematik dan Berbasis Data

House of Risk (HOR) adalah metode yang dikembangkan oleh Pujawan dan Geraldin (2009), dengan dua fase utama:

  1. Fase 1: Identifikasi risiko dan prioritas pemicu keterlambatan

  2. Fase 2: Formulasi langkah mitigasi terhadap pemicu yang diprioritaskan

HOR menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menggunakan data observasi, kuesioner, wawancara dengan staf ahli di lapangan, dan teknik evaluasi seperti Pareto Analysis dan perhitungan Aggregate Risk Potential (ARP).

Hasil Identifikasi Risiko (Fase 1)

Penelitian menemukan 7 risk agent (pemicu risiko) utama:

  1. Lamanya proses fabrikasi material

  2. Terlambatnya pengiriman material akibat perubahan spesifikasi tiang pancang

  3. Perubahan desain pondasi dan titik pondasi

  4. Perubahan kedalaman tiang pancang

  5. Perubahan lokasi water tank

  6. Lokasi proyek yang sulit diakses

  7. Kerusakan alat berat

Melalui analisis Pareto, tiga faktor teratas dengan kontribusi signifikan terhadap keterlambatan diprioritaskan:

  • Kerusakan alat berat

  • Lokasi site yang sulit

  • Perubahan kedalaman tiang pancang

Misalnya, faktor "kerusakan alat berat" menyumbang 47,09% potensi keterlambatan (ADPj = 172 dari total 81). Ini menunjukkan betapa krusialnya manajemen peralatan berat di lapangan.

Strategi Mitigasi Efektif (Fase 2)

Setelah mengidentifikasi prioritas risiko, peneliti menyusun lima langkah mitigasi yang kemudian dievaluasi berdasarkan efektivitas dan tingkat kesulitannya:

  1. PA4: Melakukan penjadwalan ulang (reschedule)
    Strategi ini menjadi yang paling efektif karena mampu menyesuaikan dengan perubahan kondisi lapangan dan fleksibel terhadap dinamika proyek. Memiliki nilai efektivitas tertinggi (TEk = 375) dan rasio efektivitas terhadap kesulitan (ETDk) sebesar 375.

  2. PA3: Pembagian zona kerja (scope)
    Membagi pekerjaan menjadi beberapa zona mengurangi ketergantungan antar aktivitas dan mempercepat eksekusi bagian yang tidak terdampak. Nilai efektivitasnya cukup tinggi (TEk = 375) dengan ETDk = 168.75.

  3. PA2: Penyesuaian jadwal mobilisasi dan fabrikasi material
    Langkah ini mengatur ulang proses logistik proyek untuk menghindari bottleneck akibat keterlambatan material. TEk = 225 dengan ETDk = 112.5.

  4. PA1: Pemeriksaan berkala alat berat
    Pemeliharaan rutin menjadi langkah pencegahan sederhana namun penting untuk menghindari kerusakan alat berat. ETDk = 125 meskipun skor efektivitasnya (TEk = 375) sama dengan PA4 dan PA3, tetapi karena tingkat kesulitannya lebih tinggi, rankingnya lebih rendah.

  5. PA5: Survei awal desain tanah
    Langkah ini berguna untuk meminimalkan perubahan mendadak terkait desain pondasi. Namun ETDk-nya hanya 66, menjadi opsi mitigasi dengan ranking terendah karena tantangan pelaksanaan awal yang tinggi.

Relevansi Strategi HOR dalam Industri Konstruksi

Metode HOR memberikan cara yang terstruktur dan berbasis data untuk mengelola risiko konstruksi. Hal ini menjadi sangat relevan di Indonesia yang memiliki dinamika proyek kompleks dan kerap menghadapi kendala administratif, geografis, serta logistik. Dalam studi kasus ini, penggabungan data primer (wawancara) dan sekunder (kurva S, laporan deviasi) memperkaya analisis dan menjadikan rekomendasi lebih praktis dan implementatif.

Strategi seperti rescheduling dan scope splitting bukan hanya relevan dalam pembangunan rumah sakit, tetapi juga di proyek-proyek besar lainnya seperti pembangunan gedung pemerintah, pusat perbelanjaan, bahkan proyek infrastruktur seperti jalan tol dan jembatan.

Meski paper ini sangat aplikatif, terdapat beberapa kekurangan:

  • Jumlah responden terbatas (hanya dua staf proyek), padahal validitas data bisa lebih kuat dengan melibatkan lebih banyak pihak seperti vendor material, konsultan perencana, atau manajemen rumah sakit.

  • Evaluasi efektivitas mitigasi lebih banyak mengandalkan persepsi responden daripada data historis proyek sejenis, yang bisa menjadi peluang pengembangan penelitian lebih lanjut.

Penelitian lanjutan dapat memperluas metode HOR dengan tambahan teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) untuk memperkirakan keterlambatan secara lebih presisi.

Penelitian oleh Sarkisian dkk. menjadi kontribusi nyata dalam mengatasi permasalahan klasik dunia konstruksi: keterlambatan proyek. Metode House of Risk terbukti mampu mengidentifikasi dan mengatasi penyebab keterlambatan secara sistematis, dengan hasil konkret yang bisa dijadikan pedoman teknis oleh manajer proyek dan pelaksana lapangan.

Langkah mitigasi seperti penjadwalan ulang, pemecahan zona kerja, hingga pengawasan alat berat bukan hanya mengurangi risiko tetapi juga meningkatkan efisiensi proyek. Dengan mengadopsi pendekatan seperti ini secara luas, proyek konstruksi di Indonesia dapat menjadi lebih tepat waktu, efisien, dan sesuai mutu yang direncanakan.

Sumber asli artikel (dalam bahasa Indonesia):
Sarkisian, Kyrra Sandra; Gede Sarya; Masca Indra Triana. "Langkah Mitigasi Risiko Keterlambatan Pekerjaan dengan Pendekatan Metode House of Risk (HOR) pada Proyek Pembangunan Rumah Sakit." PORTAL: Jurnal Teknik Sipil, Volume 16, Edisi Khusus, Januari 2023.

Selengkapnya
Strategi Mitigasi Keterlambatan Proyek Rumah Sakit dengan Metode House of Risk (HOR)

Manajemen Udara

Mengintegrasikan GIS untuk IWRM yang Efektif di Afrika Barat: Studi Kasus Sungai Agneby

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 21 Mei 2025


Mengapa IWRM Membutuhkan Terobesan Teknologi?

Air Pengelolaan sumber daya air semakin kompleks. Di tengah perubahan tekanan iklim, urbanisasi, dan pertumbuhan penduduk, pendekatan konvensional terbukti tidak lagi cukup. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (IWRM) hadir sebagai solusi holhadir sebagai solusi holistik, namun pelaksanaannya sering terganjal pada dua aspek krusial: minimnya data dandan kurangnya alat bantu teknis . Di akhir tesis Christ Herbert Koffi menawarkan solusi visioner: membangun alat pendukung keputusan berbasis GIS di wilayah Sungai Agneby, Pantai Gading.

Peta Masalah: Krisis Air di Sungai Agneby

Sungai Agneby membentang sepanjang 277 km dengan luas DAS 8.525 km². Meskipun wilayah ini menyimpan potensi udara yang besar, permasalahannya tidak sepele:

  • Distribusi udara yang tidak merata
  • Ketiadaan sistem informasi spasial untuk manajemen
  • Tumpang kewenangan antar kementerian dan lembaga
  • Fragmentasi data di berbagai institusi

Misalnya, data kualitas dan kuantitas udara yang tersebar di berbagai institusi, namun tidak terintegrasi , membuat pengambilan keputusan hampir mustahil dilakukan secara tepat waktu dan akurat.

Solusi Cerdas: Sistem Pendukung Keputusan Berbasis GIS

Dalam tesisnya, Koffi membangun sebuah sistem Web-GIS berbasis open-source, yang mengintegrasikan berbagai komponen:

  • Basis data spasial menggunakan PostgreSQL + PostGIS
  • Peta tematik : administrasi, infrastruktur, pemanfaatan lahan, hingga fasilitas kesehatan
  • Antarmuka Web Interaktif : berbasis Leaflet dan GeoServer

Alat ini dirancang bukan hanya sebagai alat visualisasi, tetapi juga sebagai platform koordinasi lembaga lintas yang memungkinkan penyusunan kebijakan berbasis data nyata di lapangan.

Apa Saja Temuan Utama?

1. Pemetaan Terintegrasi

Sistem berhasil menyatukan data spasial seperti:

  • 277 km aliran sungai utama
  • 8525 km² daerah tangkapan
  • Data curah hujan tahunan >2000 mm
  • Suhu rata-rata 24–33°C
  • Relief dan morfometri DAS

2. Prototipe Web-GIS yang Fungsional

Dengan tampilan yang user-friendly, sistem mampu menyajikan:

  • Data udara permukaan dan infrastruktur
  • Titik-titik pemanfaatan udara (irigasi, konsumsi, sanitasi)
  • Lapisan penggunaan lahan yang berubah dengan cepat akibat urbanisasi dan intensifikasi pertanian

3. Potensi Kolaborasi Lintas Sektor

Sistem ini dirancang untuk digunakan oleh:

  • Kementerian (Udara, Lingkungan, Pertanian, Energi)
  • LSM dan sektor swasta
  • Akademisi dan pelajar
  • Komunitas lokal dan manajer DAS

Kritik dan Analisis Tambahan

Kelebihan Utama:

  • Open-source : Tidak tergantung vendor
  • Interoperabel : mengikuti standar OGC (Open Geospatial Consortium)
  • Fleksibel : Dapat diakses melalui web di berbagai perangkat

Tantangan Implementasi:

  • Belum adanya peraturan nasional tentang sistem informasi udara terpadu
  • Ketergantungan pada koneksi internet untuk Web-GIS
  • Perlu pelatihan SDM agar sistem tidak hanya dimiliki, tetapi juga digunakan

Perbandingan dengan Studi Serupa

Penelitian seperti Pearson dkk. (2009) dan Zhang dkk. (2009) telah mengembangkan DSS serupa di California dan Tiongkok. Namun, pendekatan Koffi lebih membumi dan sesuai konteks Afrika Barat yang memiliki keterbatasan sumber daya dan infrastruktur.

Studi Kasus & Relevansi Global

Dalam Skala global, studi ini menjadi model penting bagi negara-negara berkembang yang menghadapi:

  • Keterbatasan akses air
  • Data yang tersebar dan tidak sinkron
  • Fragmentasi kelembagaan

UN SDG 6 menjadi acuan kuat di sini: memastikan ketersediaan udara dan pengelolaan berkelanjutan untuk semua. Sistem ini adalah wujud nyata dari tata kelola berbasis data untuk mendukung target tersebut.

Dampak Praktis di Lapangan

Dengan alat ini, para pemangku kepentingan dapat:

  • Menyusun kebijakan berbasis fakta spasial
  • Mengidentifikasi wilayah rawan banjir atau kekeringan
  • Menentukan lokasi strategi pembangunan infrastruktur udara
  • Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam konservasi sumber daya udara

Kesimpulan: Dari Prototipe ke Penerapan Nasional

Karya Koffi menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air berbasis data bukan hanya impian teknokratik , tetapi kebutuhan yang mendesak. Di era gangguan iklim dan tekanan urbanisasi, alat seperti ini bisa jadi tulang punggung sistem peringatan dini, pengawasan kualitas udara, hingga perencanaan tata ruang berkelanjutan.

Dengan penguatan regulasi dan dukungan kelembagaan, prototipe ini dapat berkembang menjadi sistem informasi nasional , menjawab kebutuhan riil masyarakat dan lingkungan sekaligus.

Referensi

Koffi, CH (2021). Pengembangan Alat Pendukung Berbasis GIS untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu: Studi Kasus di Cekungan Sungai Agneby, Selatan Pantai Gading . Institut Ilmu Air dan Energi Universitas Pan-Afrika

Selengkapnya
Mengintegrasikan GIS untuk IWRM yang Efektif di Afrika Barat: Studi Kasus Sungai Agneby

Cekungan Bandung

Daya Dukung Air di Cekungan Bandung: Krisis Tersembunyi di Balik Pertumbuhan Kota

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 21 Mei 2025


Pendahuluan: Bandung, Kota yang Dihimpit Kemajuan dan Krisis Air

Bandung bukan sekadar kota kreatif atau surga wisata, melainkan juga medan pertarungan antara pertumbuhan dan keinginan. Dalam makalah “Daya Dukung Sumber Daya Air di Cekungan Bandung” , peneliti dari LIPI, D. Marganingrum, memaparkan dinamika yang mencemaskan: daya dukung udara di wilayah ini kian berkurang seiring meningkatnya tekanan urbanisasi dan kerusakan lingkungan.

Makalah ini menjadi penting karena mengusulkan pendekatan sistem dinamis untuk memahami krisis udara yang kompleks di kawasan Bandung Raya—sebuah pendekatan yang selama ini belum dominan digunakan dalam tata perencanaan

Dampak Nyata di Lapangan: Dari Rumah Tangga Hingga Hulu Sungai

Krisis air bukan hanya wacana teknis di ruang seminar. Di Bandung, dampaknya nyata dan terasa:

1. Air Bersih Tidak Lagi Merata

Wilayah Bandung Timur dan Selatan sering mengalami kekurangan pasokan air bersih, khususnya saat musim kemarau. Warga di perbukitan bahkan bergantung pada tangki air swasta yang mahal dan tidak selalu higienis.

2. Sungai sebagai “Tempat Sampah Cair”

Sungai-sungai utama seperti Cikapundung dan Citarum bagian hulu mengalami penurunan kualitas drastis karena limbah domestik, industri, dan pertanian. Udara permukaan yang seharusnya bisa menopang kebutuhan, kini justru menjadi sumber penyakit.

3. Ketegangan Sosial dan Ketimpangan Ekonomi

Akses terhadap air berkualitas semakin menjadi indikator kelas sosial. Perumahan elite memiliki sumur artesis dan sistem pengolahan, sementara warga pinggiran harus antre jeriken di musim kering. Hal ini menciptakan kesenjangan yang makin leyang makin lebar.

Integrasi ke Kebijakan Nyata: Dari Dokumen ke Aksi

Salah satu tantangan besar yang disampaikan dalam makalah ini adalah kesenjangan antara kajian ilmiah dan kebijakan implementasi . Konsep daya dukung sering diabaikan dalam penyusunan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), apalagi pada skala lokal (RT/RW).

Langkah Nyata yang Bisa Diambil:

  • Menjadikan analisis daya dukung udara sebagai syarat utama untuk menerbitkan izin pembangunan (apartemen, kawasan industri, dsb).
  • Mengintegrasikan model keluaran sistem dinamis ke dalam dashboard kebijakan Dinas Sumber Daya Udara dan Lingkungan Hidup.
  • Mendorong data terbuka agar masyarakat bisa ikut menyatukan kapasitas udara wilayahnya.

Keterkaitan dengan Agenda Global: SDGs dan Keberlanjutan Perkotaan

Kajian ini sangat relevan dengan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 6) yaitu “air bersih dan sanitasi layak untuk semua.” Bandung bisa menjadi model percontohan nasional jika:

  • Daya dukung dijadikan indikator tetap pembangunan.
  • Model sistem dinamis dijalankan secara real-time melalui teknologi pemantauan berbasis satelit dan sensor lapangan (IoT).
  • Pembangunan kota diarahkan ke smart city yang sadar lingkungan.yang sadar lingkungan.

Keberlanjutan Selain itu, makalah ini juga mendukung visi Urban Sustainability ala UN- Hala UN-Habitat yang mensyaratkan keseimbangan antara ekologi, ekonomi, dan sosial.

Pendekatan Partisipatif: Peran Komunitas dan Akademisi

Penulis juga secara implisit membuka peluang kolaborasi lintas pihak. Tanpa partisipasi masyarakat, semua konsep teknokratis akan gagal di lapangan. Beberapa inisiatif komunitas yang dapat mendukung implementasi daya dukung air:

  • Program Biopori dan Sumur Resapan Warga di RW- RWdi RW-RW perkotaan.
  • Kampanye “Satu Rumah Satu Tandon” untuk konservasi hujan.
  • Kolaborasi kampus-sekolah-masyarakat dalam pemantauan kualitas udara lokalsains berbasis ilmu pengetahuan warga.

Tantangan Masa Depan: Iklim, Migrasi, dan Perubahan Gaya Hidup

Daya dukung udara di Bandung bukan hanya ditekan oleh urbanisasi, namun juga oleh perubahan iklim dan migrasi internal .

Tren yang Perlu Diantisipasi:

  • Kenaikan suhu global dapat mengubah pola hujandapat mengubah pola hujan Bandung yang selama ini mendukung pertanian sayuran dataran tinggi.
  • Perluasan wilayah perkotaanperkotaan akan mendorong permakan mendorong organisasi pembohong di bantaran sungai dan kaki gunung, membantu risiko banjir dan polusi.
  • Gaya hidup konsumtif (lebih banyak kolam renang pribadi, penggunaan udara berlebih di sektor perhotelan) menambah beban sistem udara kota.

Tanpa intervensi yang terukur dan sistematis, skenario krisis tidak lagi fiksi, namun kepastian waktu.

Penutup: Saatnya Bandung Menjadi Model Tata Kelola Air Cerdas

Makalah karya D. Marganingrum ini bukan hanya menawarkan wacana, tapi peta jalan ilmiah menuju sistem pengmenuju sistem pengelolaan air yang lebih adil dan berkelanjutan di Cekungan Bandung.

Beberapa simpulan praktis yang perlu diambil:

  • Mulai dari pengukuran yang benar , melalui model sistem dinamis yang dapat memproyeksikan tekanan udara dari berbagai skenario pembangunan.
  • Membantu masyarakat dan dunia akademik dalam penyusunan kebijakan berbasis data.
  • Jadikan daya dukung air sebagai kompas pembangunan , bukan sekadar syarat administratif.

Jika Bandung ingin tetap menjadi kota yang layak huni dalam 20–30 tahun ke depan, maka udara harus dijaga dengan kecermatan ilmiah dan komitmen sosial-politik yang kuat .

Sumber Referensi

2018 Daya Marganingrum, D. (2018). Daya Dukung Sumber Daya Air di Cekungan BandungKonferensi : Ilmu 118( 1), 012026. DOISeri Konferensi IOP: Ilmu Bumi dan Lingkungan, 118(1), 012026.

Selengkapnya
Daya Dukung Air di Cekungan Bandung: Krisis Tersembunyi di Balik Pertumbuhan Kota
« First Previous page 441 of 1.408 Next Last »