Data dan analisis kesehatan
Dipublikasikan oleh pada 23 Mei 2025
Memetakan Jejak Nyamuk Aedes Aegypti: Analisis Spasial Faktor Risiko Demam Berdarah Dengue di Jawa Timur
Demam Berdarah Dengue (DBD), atau yang lebih dikenal dengan Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), tetap menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini dikenal dengan manifestasi klinis yang luas, dari demam ringan hingga bentuk parah yang dapat menyebabkan syok dan bahkan kematian. Terlepas dari upaya mitigasi dan pencegahan yang terus-menerus digalakkan, insidensi DHF masih menunjukkan fluktuasi dan bahkan kecenderungan peningkatan di beberapa wilayah, terutama saat musim hujan.
Dalam konteks ini, tesis berjudul "Model Spasial Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue di Provinsi Jawa Timur Tahun 2014" oleh Hasirun menawarkan perspektif yang krusial. Studi ini tidak hanya mengidentifikasi faktor-faktor risiko DHF secara umum, tetapi juga memanfaatkan kekuatan analisis spasial dan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memahami bagaimana faktor-faktor ini terdistribusi secara geografis di Jawa Timur. Pendekatan ini esensial untuk merancang strategi pencegahan dan pengendalian yang lebih tepat sasaran, efisien, dan berbasis bukti di wilayah dengan karakteristik geografis dan demografis yang kompleks.
Demam Berdarah Dengue: Ancaman yang Tak Pernah Padam
DHF telah menjadi masalah kesehatan global, terutama di negara-negara tropis dan subtropis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa 2,5 miliar orang di seluruh dunia berisiko terinfeksi Dengue, dengan 50 juta kasus baru setiap tahunnya. Tingkat kematian (CFR) global mencapai 2,5%, dan di Indonesia, meskipun telah ada penurunan CFR, jumlah kasus tetap tinggi.
Di Indonesia, DHF telah menjadi penyakit endemis yang menyerang hampir seluruh wilayah provinsi. Sejak pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968, DHF telah menyebar luas. Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi terpadat dan dinamis di Indonesia, menjadi salah satu wilayah dengan beban DHF yang signifikan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, terjadi lonjakan kasus DHF pada tahun 2010 dan 2013, dengan lebih dari 20.000 kasus di masing-masing tahun tersebut. Meskipun ada penurunan kasus pada tahun 2014 (menjadi 6.309 kasus), angka ini tetap memerlukan perhatian serius, apalagi dengan 71 kematian yang tercatat.
Penyebaran DHF sangat bergantung pada tiga faktor utama: keberadaan virus Dengue, populasi nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor, dan populasi manusia sebagai host. Interaksi kompleks antara ketiga komponen ini, ditambah dengan faktor lingkungan dan perilaku, menciptakan kondisi yang ideal bagi penularan penyakit. Oleh karena itu, memahami faktor risiko tidak cukup hanya dengan menganalisis statistik agregat; diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana faktor-faktor ini bermanifestasi secara spasial.
Landasan Teoritis dan Faktor Risiko Kritis
Penelitian ini mendasarkan diri pada konsep ekologi penyakit, di mana interaksi antara agen (virus), host (manusia), vektor (nyamuk), dan lingkungan menentukan pola penyebaran penyakit. Secara khusus, studi ini mengidentifikasi beberapa faktor risiko kunci yang memengaruhi kejadian DHF:
Faktor Lingkungan Fisik:
Faktor Lingkungan Biologis:
Faktor Sosial Ekonomi:
Metodologi: Pendekatan Spasial yang Inovatif
Penelitian ini mengadopsi desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, menggunakan data tahun 2014. Populasi penelitian adalah seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, dengan 38 unit analisis (38 kabupaten/kota). Data sekunder dikumpulkan dari berbagai sumber kredibel, termasuk:
Salah satu kekuatan utama penelitian ini adalah penggunaan analisis spasial dengan Model Spasial Regresi (Spatial Regression Model). Metode ini dipilih karena mengakomodasi karakteristik data spasial, di mana nilai suatu lokasi dapat dipengaruhi oleh nilai lokasi di sekitarnya (autokorelasi spasial). Autokorelasi spasial adalah fenomena umum dalam data geografis, dan mengabaikannya dalam analisis regresi dapat menyebabkan hasil yang bias dan tidak efisien. Model ini memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi dan mengukur seberapa besar pengaruh variabel-variabel independen terhadap kejadian DHF, sambil mempertimbangkan interaksi spasial antar wilayah.
Tahapan analisis data meliputi:
Hasil Kritis: Menguak Peta Risiko DHF Jawa Timur
Temuan dari penelitian ini sangat informatif dan memiliki implikasi praktis yang kuat:
Autokorelasi Spasial DHF di Jawa Timur:
Model Regresi Spasial Terbaik: Spatial Lag Model (SLM)
Faktor Risiko Utama DHF:
Implikasi Kebijakan: Mencegah DHF dengan Pendekatan Spasial
Hasil penelitian ini memiliki implikasi kebijakan yang sangat penting untuk upaya pencegahan dan pengendalian DHF di Jawa Timur:
Nilai Tambah dan Refleksi Kritis
Tesis Hasirun ini memberikan kontribusi penting bagi epidemiologi dan kesehatan masyarakat. Keunggulan utamanya terletak pada penggunaan analisis spasial yang canggih, yang seringkali terabaikan dalam studi epidemiologi konvensional. Dengan mengaplikasikan Model Spasial Regresi, penelitian ini mampu menangkap dinamika penularan DHF yang bersifat geografis, yang lebih realistis dan informatif daripada asumsi independensi observasi pada model regresi non-spasial.
Kelebihan Studi:
Kritik dan Saran untuk Penelitian Mendatang:
Secara keseluruhan, tesis Hasirun ini adalah kontribusi yang solid dan relevan terhadap pemahaman kita tentang DHF di Jawa Timur. Dengan memadukan epidemiologi dengan analisis spasial yang canggih, studi ini membuka jalan bagi strategi pengendalian DHF yang lebih cerdas, proaktif, dan berorientasi pada lokasi. Ini adalah bukti nyata bahwa data geografis, jika dianalisis dengan benar, dapat menjadi senjata ampuh dalam perang melawan penyakit menular.
Sumber Artikel:
Hasirun. (2016). MODEL SPASIAL FAKTOR RISIKO KEJADIAN DEMAM BERDARAH DENGUE DI PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN 2014. Tesis. Universitas Airlangga, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Program Magister, Program Studi Epidemiologi, Surabaya. Tersedia melalui ADLN - Perpustakaan Universitas Airlangga.
Analisis Kebijakan
Dipublikasikan oleh pada 23 Mei 2025
Mengurai Benang Kusut Pengangguran di Jawa Timur: Analisis Komprehensif Faktor Ekonomi Makro
Pengangguran merupakan salah satu isu ekonomi makro yang tak henti menjadi sorotan. Lebih dari sekadar angka statistik, pengangguran adalah cerminan dari kesejahteraan masyarakat, stabilitas sosial, dan potensi pertumbuhan ekonomi yang terhambat. Ketika jutaan individu produktif tidak mendapatkan kesempatan untuk berkarya, dampaknya merambat ke berbagai sektor, mulai dari penurunan daya beli, peningkatan kemiskinan, hingga gejolak sosial. Di tengah dinamika ekonomi global yang terus bergejolak, memahami akar permasalahan pengangguran menjadi semakin krusial, terutama di wilayah-wilayah dengan kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi yang tinggi seperti Jawa Timur.
Skripsi berjudul "Pengaruh Inflasi, Upah Minimum, Belanja Daerah dan Pinjaman Perbankan Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Jawa Timur Tahun 2013-2018" oleh Selly Nursafitri menawarkan analisis yang relevan dan mendalam terhadap faktor-faktor ekonomi makro yang disinyalir memengaruhi tingkat pengangguran terbuka (TPT) di provinsi ini. Dengan fokus pada periode 2013 hingga 2018, penelitian ini mencoba membedah kompleksitas hubungan antara indikator-indikator ekonomi vital dan fenomena pengangguran, memberikan wawasan berharga bagi para pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan masyarakat luas.
Pengangguran: Sebuah Paradoks di Tengah Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum, pertumbuhan ekonomi yang stabil dan positif diharapkan dapat berkorelasi dengan penurunan tingkat pengangguran. Ketika ekonomi tumbuh, permintaan akan barang dan jasa meningkat, mendorong ekspansi produksi, yang pada gilirannya menciptakan lapangan kerja baru. Namun, realitas di lapangan seringkali menunjukkan fenomena yang lebih kompleks. Bahkan di tengah pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, masalah pengangguran, khususnya pengangguran terbuka, masih menjadi bayang-bayang yang membayangi.
Indonesia, sebagai negara berkembang dengan jumlah penduduk yang besar, terus berjuang mengatasi isu pengangguran. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2018 mencapai 5,13%. Angka ini, meskipun menurun dari tahun sebelumnya, masih menyiratkan bahwa lebih dari 6,87 juta orang berada dalam kondisi tidak bekerja dan aktif mencari pekerjaan.
Jawa Timur, sebagai provinsi dengan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) nasional, tidak luput dari tantangan ini. Data BPS Jawa Timur menunjukkan fluktuasi TPT yang menarik perhatian. Pada Februari 2013, TPT berada di angka 4,46%, kemudian sempat naik menjadi 4,50% pada Februari 2016, sebelum akhirnya menurun menjadi 4,00% pada Februari 2018. Meskipun trennya cenderung menurun, angka ini tetap menunjukkan bahwa ada tantangan serius dalam menyerap angkatan kerja yang terus bertambah.
Fenomena ini memicu pertanyaan fundamental: faktor-faktor apa saja yang sebenarnya memengaruhi dinamika pengangguran di Jawa Timur? Apakah inflasi, upah minimum yang seringkali menjadi polemik, volume belanja daerah, atau kemudahan akses terhadap pinjaman perbankan memainkan peran signifikan dalam menentukan nasib para pencari kerja? Inilah inti permasalahan yang diangkat oleh penelitian Selly Nursafitri.
Kerangka Teoritis dan Variabel Kritis
Untuk memahami pengaruh kompleks ini, penelitian ini berakar pada beberapa teori ekonomi makro kunci, antara lain:
Berdasarkan kerangka teoritis tersebut, penelitian ini mengidentifikasi lima variabel kunci:
Metodologi: Menggali Data dengan Pendekatan Kuantitatif
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan data sekunder yang bersifat time series, mencakup periode enam tahun (2013-2018) di Jawa Timur. Data diperoleh dari berbagai sumber kredibel seperti Badan Pusat Statistik (BPS), Bank Indonesia (BI), Kementerian Keuangan (Kemenkeu), dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Timur.
Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi data panel, sebuah teknik yang sangat tepat untuk menganalisis data yang menggabungkan dimensi waktu (time series) dan dimensi individu/wilayah (cross-section). Dalam konteks ini, data panel memungkinkan peneliti untuk melacak perubahan TPT di Jawa Timur sepanjang waktu sambil memperhitungkan pengaruh dari variabel-variabel independen yang berbeda.
Tiga model regresi data panel yang umum digunakan adalah Pooled Least Square (PLS), Fixed Effect Model (FEM), dan Random Effect Model (REM). Pemilihan model terbaik dilakukan melalui uji Chow, uji Hausman, dan uji Lagrange Multiplier (LM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa Fixed Effect Model (FEM) adalah model yang paling tepat untuk menganalisis data dalam penelitian ini. FEM memiliki keunggulan dalam mengendalikan karakteristik unik setiap individu (dalam hal ini, setiap titik waktu) yang mungkin tidak terobservasi, sehingga dapat menghasilkan estimasi yang lebih akurat.
Hasil dan Interpretasi: Mengungkap Pengaruh Variabel Ekonomi
Temuan dari penelitian ini memberikan wawasan menarik tentang bagaimana variabel-variabel ekonomi yang diteliti memengaruhi tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur:
Inflasi: Dampak Negatif yang Signifikan Penelitian ini menemukan bahwa inflasi memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Ini berarti, semakin tinggi tingkat inflasi, semakin rendah tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur. Interpretasi temuan ini sejalan dengan konsep Kurva Phillips jangka pendek. Ketika inflasi meningkat, seringkali hal ini disebabkan oleh peningkatan permintaan agregat dalam perekonomian. Peningkatan permintaan ini mendorong perusahaan untuk meningkatkan produksi dan, sebagai hasilnya, merekrut lebih banyak tenaga kerja untuk memenuhi permintaan tersebut, sehingga menurunkan pengangguran. Namun, penting untuk diingat bahwa hubungan ini tidak selalu berkelanjutan dalam jangka panjang dan inflasi yang terlalu tinggi dapat merusak perekonomian. Inflasi yang tidak terkendali dapat menyebabkan ketidakpastian, mengurangi investasi, dan pada akhirnya justru memicu pengangguran. Dalam konteks Jawa Timur, temuan ini mungkin mencerminkan bahwa inflasi yang terjadi dalam periode 2013-2018 berada pada tingkat yang mampu menstimulasi perekonomian tanpa menimbulkan distorsi yang signifikan terhadap pasar tenaga kerja.
Upah Minimum: Efek Tak Terduga Secara mengejutkan, penelitian ini menemukan bahwa upah minimum (UMP) memiliki pengaruh positif namun tidak signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Artinya, kenaikan upah minimum cenderung meningkatkan pengangguran, tetapi dampaknya tidak secara statistik signifikan. Temuan ini cukup menarik dan dapat memicu perdebatan. Secara teori, kenaikan upah minimum dapat meningkatkan biaya produksi bagi perusahaan, terutama industri padat karya. Jika biaya ini tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas atau harga jual, perusahaan mungkin terpaksa mengurangi jumlah tenaga kerja atau menunda ekspansi, yang berujuh pada peningkatan pengangguran. Namun, ketidaksignifikanan hasil menunjukkan bahwa, setidaknya dalam periode studi, dampak kenaikan UMP terhadap pengangguran di Jawa Timur tidak sekuat yang diperkirakan. Ini bisa jadi karena perusahaan memiliki fleksibilitas untuk menyerap kenaikan biaya (misalnya, melalui efisiensi operasional atau penyesuaian harga), atau karena kenaikan UMP seringkali diikuti oleh peningkatan daya beli masyarakat yang justru menstimulasi permintaan dan aktivitas ekonomi. Perlu analisis lebih lanjut tentang seberapa besar elastisitas permintaan tenaga kerja terhadap upah minimum di sektor-sektor kunci di Jawa Timur.
Belanja Daerah: Stimulus yang Positif Belanja daerah ditemukan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Ini menunjukkan bahwa semakin tinggi belanja daerah, semakin rendah tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur. Hasil ini mengkonfirmasi peran penting pemerintah daerah dalam menekan angka pengangguran. Belanja daerah, terutama yang dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur, program padat karya, pendidikan, dan kesehatan, dapat menciptakan lapangan kerja secara langsung maupun tidak langsung. Pembangunan jalan, jembatan, sekolah, dan fasilitas publik lainnya membutuhkan tenaga kerja, sementara peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, membuatnya lebih siap untuk pasar kerja. Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan fiskal ekspansif yang tepat sasaran oleh pemerintah daerah memiliki potensi besar untuk menjadi mesin penciptaan lapangan kerja di Jawa Timur.
Pinjaman Perbankan: Efek Positif yang Menjanjikan Variabel pinjaman perbankan ditemukan memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka. Ini berarti, semakin tinggi volume pinjaman perbankan, semakin rendah tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur. Hasil ini sangat logis dan sejalan dengan peran perbankan sebagai intermediator keuangan. Ketersediaan pinjaman perbankan yang mudah diakses dan dengan suku bunga yang kompetitif memungkinkan dunia usaha, baik UMKM maupun korporasi besar, untuk mendapatkan modal guna membiayai investasi, ekspansi usaha, dan inovasi. Ketika perusahaan berekspansi, mereka membutuhkan lebih banyak tenaga kerja, sehingga berkontribusi pada penurunan pengangguran. Temuan ini menyoroti pentingnya sektor keuangan yang sehat dan stabil dalam mendukung penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan
Berdasarkan analisis tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa inflasi, belanja daerah, dan pinjaman perbankan secara signifikan memengaruhi tingkat pengangguran terbuka di Jawa Timur, sedangkan upah minimum meskipun memiliki pengaruh positif, tidak signifikan.
Implikasi kebijakan dari temuan ini sangat jelas:
Nilai Tambah, Kritik, dan Arah Penelitian Selanjutnya
Penelitian oleh Selly Nursafitri ini memberikan kontribusi berharga dalam literatur ekonomi regional, khususnya mengenai dinamika pasar kerja di Jawa Timur. Penggunaan data panel dan pemilihan model FEM yang tepat menunjukkan kekuatan metodologis yang cukup. Namun, seperti halnya setiap penelitian, ada ruang untuk penyempurnaan dan pengembangan lebih lanjut.
Nilai Tambah:
Kritik dan Saran untuk Penelitian Mendatang:
Secara keseluruhan, skripsi Selly Nursafitri ini adalah fondasi yang kokoh untuk memahami kompleksitas pengangguran di Jawa Timur. Temuan-temuannya memberikan landasan empiris yang kuat bagi perumusan kebijakan ekonomi yang lebih cerdas dan adaptif, demi mewujudkan Jawa Timur yang sejahtera dengan tingkat pengangguran yang minimal.
Sumber Artikel:
Selly Nursafitri. (2020). PENGARUH INFLASI, UPAH MINIMUM, BELANJA DAERAH DAN PINJAMAN PERBANKAN TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI JAWA TIMUR TAHUN 2013-2018. Skripsi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Program Studi Ilmu Ekonomi, Surabaya. Dapat diakses melalui repositori digital universitas: https://digilib.uinsby.ac.id/ (harap verifikasi tautan langsung ke skripsi jika tersedia di repositori publik).
Bencana & Mitigasi
Dipublikasikan oleh pada 23 Mei 2025
Membongkar Kerentanan Banjir Jawa Timur: Analisis Spasial dan Urgensi Mitigasi Bencana
Banjir, sebagai ancaman alam yang kian tak terduga, telah menjadi mimpi buruk berulang bagi banyak wilayah, termasuk di Indonesia. Dampaknya yang multi-sektoral—mulai dari hilangnya nyawa, kerusakan infrastruktur, hingga gonjang-ganjing ekonomi—menuntut upaya mitigasi yang tidak hanya reaktif, tetapi juga prediktif dan komprehensif. Dalam konteks ini, artikel ilmiah berjudul "Peta Spasial Indeks Rawan Bencana Banjir Jawa Timur Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG)" oleh Ristika Pramadita Rosa, Irma Prasetyowati, dan Ni'mal Baroya, menawarkan perspektif krusial tentang pemetaan risiko banjir di salah satu provinsi terpadat di Pulau Jawa.
Penelitian ini tidak sekadar menyajikan data mentah, melainkan sebuah analisis mendalam yang menggabungkan informasi kejadian bencana dari tahun 1908 hingga 2012 dengan kemampuan visualisasi Sistem Informasi Geografis (SIG). Ini adalah langkah maju dalam memahami dinamika kerawanan banjir, yang pada gilirannya dapat menjadi landasan bagi kebijakan penanggulangan bencana yang lebih efektif dan efisien di Jawa Timur.
Banjir: Ancaman Universal yang Terus Meningkat
Fenomena bencana di seluruh dunia menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan. Perubahan iklim global, dengan segala manifestasinya seperti peningkatan suhu bumi, melelehnya es kutub, kenaikan permukaan air laut, dan pola iklim yang tidak menentu, menjadi indikator utama potensi bencana yang akan datang. Banjir, khususnya, telah menjadi momok global, melanda berbagai negara dan menyebabkan kerugian besar. Kita bisa melihat bagaimana banjir merenggut ribuan nyawa dan menghancurkan puluhan ribu rumah di Pyongyang, Korea Selatan, atau menewaskan setidaknya 50 penduduk di Filipina. Pakistan pun tak luput dari amukan banjir pada 2011, yang menewaskan 266 orang, termasuk anak-anak dan wanita.
Di Indonesia sendiri, hampir seluruh wilayah memiliki potensi banjir, dengan Pulau Jawa menjadi salah satu pulau yang paling sering dilanda. Kepadatan penduduk seringkali menjadi pemicu utama intensitas dan dampak bencana ini. Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi padat di Jawa, kerap menjadi langganan banjir, terutama di daerah yang dilalui Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo di wilayah utara. Kabupaten Bojonegoro dan Pasuruan menjadi contoh nyata daerah yang paling sering mengalami bencana ini, dengan Bojonegoro mencatat 37 kejadian banjir antara tahun 2002-2010, dan Pasuruan dengan 30 kejadian dalam periode yang sama.
Dampak Multifaset Banjir: Lebih dari Sekadar Kerusakan Fisik
Dampak banjir melampaui kerusakan fisik semata. Artikel ini secara lugas memaparkan bagaimana banjir merugikan berbagai aspek kehidupan, termasuk:
Aspek Ekonomi: Hilangnya mata pencarian, lumpuhnya pasar tradisional, kerusakan harta benda dan ternak, serta terganggunya perekonomian masyarakat. Bayangkan saja, jika sebagian besar penduduk Jawa bergantung pada sektor pertanian, kegagalan panen akibat banjir dapat menggoyahkan ketahanan pangan nasional dan menyebabkan hilangnya sumber pendapatan.
Aspek Sarana dan Prasarana: Kerusakan rumah penduduk, jembatan, jalan, bangunan perkantoran, fasilitas sosial dan umum, instalasi listrik, air minum, hingga jaringan komunikasi.
Aspek Lingkungan: Kerusakan ekosistem, objek wisata, persawahan/lahan pertanian, sumber air bersih, dan kerusakan tanggul/jaringan irigasi.
Melihat skala kerugian ini, urgensi untuk memiliki peta indeks rawan bencana menjadi sangat jelas. Peta semacam ini tidak hanya berfungsi sebagai alat perencanaan, tetapi juga sebagai sistem kewaspadaan dini (Early Warning System) yang vital.
SIG: Kunci Pemetaan Risiko Bencana yang Efisien
Penelitian ini secara cerdas memanfaatkan Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk memetakan tingkat kerawanan bencana banjir di setiap kabupaten/kota di Jawa Timur. SIG memungkinkan analisis data spasial dan non-spasial secara terpadu, memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang risiko bencana. Proses pemetaan didasarkan pada parameter bencana seperti jumlah kejadian dan besaran dampak yang ditimbulkan selama periode waktu yang panjang (104 tahun, dari 1908-2012).
Metodologi penelitian ini bersifat deskriptif, dengan populasi mencakup seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur. Data sekunder yang digunakan berasal dari Data dan Informasi Bencana Indonesia (DIBI) yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), meliputi data kejadian banjir, korban meninggal, korban luka-luka, kerusakan rumah, kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur, serta data kepadatan penduduk dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Analisis data dilakukan melalui penghitungan Indeks Rawan Bencana Indonesia 2011, yang melibatkan klasifikasi data, pembobotan, dan skoring. Tahapan selanjutnya adalah mengklasifikasikan wilayah ke dalam tingkatan kerawanan tinggi, sedang, dan rendah. Penting untuk dicatat bahwa keterbatasan penelitian ini terletak pada fokus dampak yang terbatas pada korban meninggal, luka-luka, kerusakan rumah, serta fasilitas umum dan infrastruktur, sehingga mungkin belum mencakup keseluruhan kerugian. Selain itu, penggunaan data sekunder dari DIBI juga membatasi kesesuaian data dengan kondisi aslinya di lapangan.
Mengungkap Tren dan Sebaran Kerawanan Banjir di Jawa Timur
Hasil penelitian ini menyajikan gambaran yang menarik tentang tren dan sebaran kejadian banjir di Jawa Timur:
Peta Spasial Indeks Rawan Bencana: Visualisasi Risiko yang Jelas
Salah satu luaran terpenting dari penelitian ini adalah peta spasial indeks rawan bencana banjir di Jawa Timur. Peta ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Timur (33 kabupaten/kota) berada pada tingkat kerawanan sedang, dengan persentase sebesar 48,48% (ditunjukkan dengan warna kuning). Sementara itu, tingkat kerawanan tinggi sebesar 6,06% (warna merah) dan tingkat kerawanan rendah sebesar 45,45% (warna hijau).
Secara spesifik, Kabupaten Situbondo dan Pasuruan diidentifikasi sebagai wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi. Meskipun Bojonegoro memiliki frekuensi kejadian banjir tertinggi, ia masuk dalam kategori kerawanan sedang karena jumlah kerugian yang diakibatkan (korban meninggal, luka-luka, kerusakan rumah, fasilitas umum) tidak menunjukkan angka yang terlalu besar, sehingga skor penghitungannya lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa frekuensi kejadian tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerugian yang ditimbulkan, dan kedua faktor ini perlu dipertimbangkan secara komprehensif dalam penilaian risiko.
Peta ini dibuat dengan menggunakan perangkat lunak Quantum GIS 1.7.0, melalui tahapan pembobotan dan skoring data bencana. Data spasial diperoleh dari hasil scan peta administratif Jawa Timur, kemudian didigitalisasi menggunakan tiga jenis layer: poligon (batas wilayah dan penggunaan lahan), titik (label nama kawasan), dan garis. Setiap objek pada peta ditambahkan atribut seperti nama kabupaten/kota, jumlah kejadian, jumlah korban meninggal, jumlah korban luka-luka, jumlah kerusakan rumah, jumlah kerusakan fasilitas umum dan infrastruktur, kepadatan penduduk, dan skor kerawanan. Sistem pewarnaan juga diterapkan: merah untuk skor 58-65 (kerawanan tinggi), kuning untuk skor 46-57 (kerawanan sedang), dan hijau untuk skor 34-45 (kerawanan rendah). Wilayah tanpa data banjir dikategorikan sebagai missing data.
Analisis Spasial: Mengapa Ini Penting?
Penggunaan analisis spasial dalam penelitian ini tidak sekadar untuk memvisualisasikan data, tetapi juga untuk memahami letak dan sebaran permasalahan kesehatan terkait bencana. Dalam konteks kesehatan masyarakat, analisis spasial adalah sinergi antara ilmu geografi dan ilmu kesehatan, yang memungkinkan identifikasi determinan kesehatan yang spesifik, input untuk pengambilan keputusan dalam surveilans, intervensi, dan strategi pencegahan penyakit, serta analisis epidemiologi. Kemajuan teknologi, terutama dengan adanya SIG, telah merevolusi kemampuan kita dalam menganalisis data spasial.
Penelitian ini menegaskan bahwa kondisi geografis, frekuensi kejadian, besaran dampak, dan kepadatan penduduk adalah faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tingkat kerawanan bencana banjir di Jawa Timur. Oleh karena itu, analisis eksploratif wilayah-wilayah persebaran indeks rawan banjir sangat penting untuk memperkirakan potensi bencana di masa depan, sehingga penanggulangan banjir dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
Implementasi dan Rekomendasi: Menuju Masyarakat Tangguh Bencana
Peta rawan bencana merupakan komponen krusial dalam siklus manajemen bencana, khususnya pada tahap pra-bencana, yang meliputi kegiatan pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan. Peta kerawanan banjir berfungsi sebagai bagian dari sistem peringatan dini (Early Warning System) untuk memperkirakan dan meminimalkan dampak bencana. Tujuan utama pemetaan indeks rawan banjir adalah untuk mengidentifikasi daerah-daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, sedang, dan rendah.
Indeks Rawan Bencana Indonesia (IRBI) memberikan informasi karakteristik wilayah dan dampak kerugian (nyawa, perumahan, luka-luka, fasilitas umum dan infrastruktur) yang dapat digunakan oleh berbagai pihak untuk pencegahan dan penanggulangan bencana. Artikel ini juga menyoroti empat strategi dasar pengelolaan daerah banjir:
Studi kasus Kabupaten Pasuruan, yang masih tergolong kerawanan tinggi, menunjukkan bahwa meskipun upaya preventif seperti sosialisasi peringatan dini, normalisasi sungai, pemantauan curah hujan, dan penempatan perahu telah dilakukan oleh BPBD, besarnya kerugian akibat banjir menuntut upaya yang lebih keras dari pemerintah daerah dengan melibatkan masyarakat.
BPBD Provinsi Jawa Timur sendiri telah melakukan berbagai upaya antisipasi, seperti pengerukan seluruh daerah aliran Bengawan Solo, perbaikan pintu air, pembangunan tanggul di Lamongan dan Gresik, serta pemasangan pompa di Bojonegoro untuk menghindari luapan sungai. Pembentukan "daerah tangguh rawan bencana" juga menjadi strategi penting untuk membantu masyarakat yang rentan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi kejadian banjir di Jawa Timur berfluktuasi, dengan puncaknya pada tahun 2010 dan jumlah kejadian terbanyak di Kabupaten Bojonegoro. Dampak banjir selama periode 1908-2012 di Jawa Timur sangat signifikan: 764 meninggal, 53.024 luka-luka, 32.948 rumah rusak, dan 180 fasilitas umum/infrastruktur rusak. Peta spasial menunjukkan bahwa sebagian besar Jawa Timur (48,48%) berada pada tingkat kerawanan sedang, dengan Kabupaten Pasuruan dan Situbondo menjadi wilayah dengan kerawanan tinggi (6,06%).
Berdasarkan temuan ini, rekomendasi yang diberikan sangat praktis dan berorientasi pada tindakan:
Penelitian ini juga menyarankan perlunya penelitian lebih lanjut mengenai analisis risiko daerah rawan banjir berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhinya menggunakan SIG, demi data yang lebih akurat. Ini adalah poin krusial, karena pemahaman yang lebih mendalam tentang variabel-variabel pemicu banjir akan menghasilkan model prediksi yang lebih presisi dan strategi mitigasi yang lebih terarah.
Nilai Tambah dan Refleksi Kritis
Artikel ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam upaya penanggulangan bencana banjir di Jawa Timur. Penggunaan SIG sebagai alat analisis bukan hanya sekadar tren, tetapi sebuah kebutuhan fundamental di era digital ini. Dengan visualisasi data yang jelas, para pembuat kebijakan dan masyarakat dapat memahami risiko secara lebih intuitif dan mengambil keputusan yang lebih tepat.
Namun, beberapa poin dapat menjadi bahan diskusi lebih lanjut:
Secara keseluruhan, artikel ini adalah sebuah karya yang relevan dan penting. Dengan bahasa yang lugas dan didukung data yang solid, penelitian ini tidak hanya menjelaskan "apa" yang terjadi, tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana" kita dapat bergerak maju menuju Jawa Timur yang lebih tangguh menghadapi ancaman banjir. Ini adalah panggilan untuk aksi kolektif, di mana ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebijakan bertemu untuk melindungi kehidupan dan mata pencarian masyarakat.
Sumber Artikel:
Ristika Pramadita Rosa, Irma Prasetyowati, Ni'mal Baroya. (2013). Peta Spasial Indeks Rawan Bencana Banjir Jawa Timur Menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Mahasiswa 2013. Jln. Kalimantan 1/93, Jember 68121. E-mail: irma_prasetyowati@yahoo.com
Konstruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 23 Mei 2025
Mengapa PT. X Selalu Gagal Tender? Menelusuri Akar Masalah yang Kompleks
Dalam dunia konstruksi, proses tender adalah gerbang pertama menuju keberhasilan proyek. Namun, bagi PT. X—sebuah BUMN yang bergerak di bidang fabrikasi dan galangan—tender sering kali menjadi batu sandungan. Pada tahun 2015, dari 9 kali keikutsertaan tender di sektor minyak dan gas, divisi General Engineering PT. X gagal memenangkan satu pun, dengan 77,8% kekalahan dan 22,2% tender ditunda. Pertanyaannya: mengapa tingkat kegagalan begitu tinggi?
Penelitian yang dilakukan oleh Dewi Masitah dalam tugas akhirnya di Institut Teknologi Sepuluh Nopember menganalisis fenomena ini dengan pendekatan kuantitatif dan metode ganda: Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) serta Fault Tree Analysis (FTA). Melalui dua metode ini, peneliti tidak hanya mengidentifikasi faktor kegagalan, tapi juga memetakan sumber penyebab kegagalan paling kritis dalam sistem tender PT. X.
Metode Analisis: FMEA dan FTA Sebagai Alat Diagnostik
Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) FMEA digunakan untuk menentukan prioritas risiko berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN), yang diperoleh dari perkalian Severity, Occurrence, dan Detection.
Fault Tree Analysis (FTA) FTA melengkapi FMEA dengan menganalisis akar penyebab kegagalan melalui pemetaan hubungan logika antar kejadian (basic event). Hasilnya:
Dua Faktor Kritis: Dokumen Lemah dan Estimasi Tidak Realistis
Kualitas Dokumen Tender yang Buruk Dari hasil observasi dan kuesioner, ditemukan bahwa dokumen tender PT. X sering:
Contoh kasus nyata di lapangan menunjukkan bahwa dokumen tender yang tidak lengkap dapat langsung menggugurkan partisipasi dari seleksi awal.
Estimasi Biaya yang Tidak Kompetitif Kesalahan estimasi meliputi:
Salah satu kasus menunjukkan bahwa PT. X memberikan penawaran 15% lebih tinggi dibanding kompetitor karena mengandalkan data lama tanpa penyesuaian terhadap kondisi pasar terkini.
Sumber Penyebab: Analisis Mendalam dari FTA
Melalui analisis pohon kesalahan, ditemukan bahwa:
Semua faktor ini terjalin erat dan membentuk mata rantai penyebab yang menjatuhkan peluang PT. X.
Studi Banding dan Implikasi Praktis
Bandingkan dengan PT. Y Dalam studi pembanding tak langsung, PT. Y yang memenangkan lebih dari 60% tender tahun yang sama, menerapkan strategi:
Hal ini menunjukkan bahwa kesuksesan tender tidak hanya soal harga, tetapi juga strategi, komunikasi, dan ketepatan informasi.
Rekomendasi Praktis untuk PT. X
1. Tingkatkan kompetensi SDM: Pelatihan intensif tentang penyusunan dokumen dan estimasi biaya.
2. Gunakan basis data aktual: Jangan mengandalkan referensi proyek lama.
3. Buat tim lintas fungsi: Gabungkan engineer, estimator, legal, dan marketing dalam satu meja.
4. Gunakan checklist standar FMEA untuk tender: Untuk setiap proyek, nilai risiko harus dinilai dan disepakati.
5. Lakukan evaluasi pasca-tender: Apa yang salah? Apa yang bisa diperbaiki?
Kritik terhadap Penelitian
Penelitian ini sangat bermanfaat, tetapi tidak tanpa keterbatasan:
Namun, metode yang digunakan sudah sangat representatif untuk studi kegagalan tender.
Penutup: Saatnya Tender Menjadi Keunggulan Strategis
Kegagalan tender tidak selamanya buruk, asalkan perusahaan mampu belajar dan beradaptasi. PT. X memiliki peluang besar untuk berbenah dengan menyusun strategi manajemen tender yang lebih solid. Paper ini menyajikan kerangka dan data yang dapat dijadikan acuan untuk memperbaiki sistem internal perusahaan—mulai dari kualitas dokumen, kemampuan estimasi, hingga pendekatan komunikasi terhadap klien.
Ke depan, perusahaan jasa konstruksi harus mulai memandang tender bukan sebagai proses administratif, melainkan sebagai instrumen kompetitif dan refleksi profesionalisme perusahaan.
Sumber:
Masitah, Dewi. (2016). Analisa Kegagalan Pada Proses Tender Pekerjaan Konstruksi Di PT. X. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Diakses dari https://repository.its.ac.id/4163
Pemborosan Kontruksi
Dipublikasikan oleh Wafa Nailul Izza pada 23 Mei 2025
Pendahuluan: Mengapa Pemborosan Masih Jadi Isu Kritis di Industri Konstruksi Indonesia?
Industri konstruksi di Indonesia merupakan sektor krusial dalam pembangunan nasional. Dengan menyerap sekitar 4,2 juta tenaga kerja atau 4,83% dari total angkatan kerja pada 1997, sektor ini menempati posisi ketiga setelah industri makanan dan tekstil. Namun, pertumbuhan kuantitas tidak diimbangi oleh kualitas, terbukti dengan 88% tenaga kerja tergolong tidak terampil. Salah satu permasalahan utama yang masih membayangi industri ini adalah pemborosan (waste) dalam pelaksanaan proyek.
Paper "Waste in the Indonesian Construction Projects" karya Sugiharto Alwi, Keith Hampson, dan Sherif Mohamed (2002) menyajikan studi mendalam terkait insiden pemborosan dalam proyek konstruksi non-residensial dan infrastruktur di Indonesia. Fokus utama penelitian ini adalah pada aktivitas non-nilai tambah yang merugikan produktivitas dan performa kontraktor. Artikel ini meresensi dan menganalisis lebih jauh temuan dalam paper tersebut, memperkaya dengan interpretasi, data, studi kasus, dan sudut pandang industri terkini.
Metodologi Kuantitatif dalam Menelusuri Sumber Pemborosan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui penyebaran 300 kuesioner kepada 125 perusahaan kontraktor, dengan tingkat respons sekitar 40% (99 responden dari 46 kontraktor). Para responden terdiri dari Project Manager, Site Manager, hingga Supervisor, dengan rata-rata pengalaman kerja 13 tahun.
Sebanyak 53 variabel yang berkontribusi terhadap pemborosan diidentifikasi dan dikelompokkan menjadi dua kategori utama:
Analisis dilakukan menggunakan paired-samples t-test dan model skor tertimbang untuk menentukan signifikansi tiap variabel.
Variabel Pemborosan Utama: Kombinasi Buruk antara Waktu, Sumber Daya, dan Koordinasi
Lima Variabel Pemborosan Teratas
Hasil pengolahan data menunjukkan enam variabel paling signifikan dalam memicu pemborosan:
1. Perbaikan pekerjaan finishing
2. Menunggu material
3. Keterlambatan jadwal
4. Pekerja lamban atau tidak efektif
5. Pemborosan bahan baku di lokasi
6. Kurangnya pengawasan
Sebagai contoh, pada proyek gedung perkantoran di Jakarta Selatan tahun 2021, keterlambatan pasokan keramik menyebabkan pengerjaan ulang lantai yang berdampak pada pergeseran jadwal 3 minggu dan biaya tambahan Rp150 juta.
Pengawasan yang lemah juga menjadi sorotan. Menurut Alwi dkk., pengawas sering kali tidak terlibat aktif dalam proses harian sehingga koreksi atas pekerjaan salah dilakukan terlambat. Akibatnya, terjadi rework yang tidak hanya memboroskan waktu, tetapi juga material.
Akar Masalah: Penyebab Utama Pemborosan Konstruksi
Tujuh Penyebab Dominan Pemborosan
Tujuh penyebab utama yang diidentifikasi dari hasil uji t adalah:
Contoh aktualnya terjadi pada pembangunan jembatan di Kalimantan Timur, di mana perubahan desain struktur akibat permintaan tambahan estetika dari pemilik proyek menyebabkan pekerjaan pondasi harus diulang. Biaya proyek membengkak 12% dan mundur dari jadwal semula.
Ketidakmampuan pekerja dalam membaca gambar teknis juga diangkat sebagai masalah klasik. Banyak pekerja lapangan merepresentasikan keterampilan berdasarkan pengalaman kerja informal dan tidak melalui pelatihan struktural.
Strategi Identifikasi dan Dokumentasi Pemborosan
Alwi dkk. menyarankan pendekatan dokumentasi yang ketat sebagai langkah awal mitigasi pemborosan.
Langkah-langkah Identifikasi:
Implementasi sistem ini memungkinkan deteksi dini masalah, seperti tumpang tindih pekerjaan atau pengulangan pekerjaan karena salah spesifikasi.
Alat bantu yang disarankan:
Solusi Alternatif: Meretas Jalan Menuju Konstruksi Efisien
Penelitian ini tidak berhenti pada identifikasi masalah, tetapi juga menawarkan solusi konkret:
Studi oleh Koskela (1992) memperkuat pandangan ini, bahwa pengurangan pemborosan harus berbasis pada pemahaman proses produksi secara menyeluruh dan kolaboratif.
Kritik dan Komparasi: Di Mana Letak Kelemahan Studi Ini?
Walau penelitian ini memberikan fondasi kuat untuk memahami pemborosan dalam proyek konstruksi di Indonesia, beberapa catatan perlu dikemukakan:
Namun, kekuatan utama riset ini adalah pada pendekatan sistematis dan keterlibatan praktisi langsung dari lapangan.
Kesimpulan: Membumikan Konsep "Lean" di Proyek Konstruksi Indonesia
Pemborosan dalam proyek konstruksi Indonesia bukan sekadar kehilangan material, tapi juga mencakup waktu yang terbuang, tenaga kerja tidak efektif, dan lemahnya koordinasi. Paper Alwi dkk. memberikan kontribusi nyata dalam membuka pemahaman mendalam atas isu ini.
Melalui identifikasi variabel dan penyebab pemborosan, disertai strategi dokumentasi dan alternatif solusi, penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan performa proyek tidak hanya soal teknologi, tetapi juga pengelolaan sumber daya manusia, koordinasi, dan budaya kerja.
Industri konstruksi Indonesia membutuhkan sistem yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis data untuk membangun proyek yang lebih efisien, hemat biaya, dan tepat waktu.
Sumber:
Alwi, S., Hampson, K., & Mohamed, S. (2002). Waste in the Indonesian Construction Projects. Proceedings of the 1st International Conference of CIB W107 – Creating a Sustainable Construction Industry in Developing Countries, pp. 305–315. CSIR, South Africa. Diakses dari: https://eprints.qut.edu.au/4163/