Manajemen Konstruksi
Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 11 Agustus 2025
Pendahuluan
Disertasi karya Nimesha Vilasini ini mengangkat persoalan klasik namun krusial di industri konstruksi: bagaimana mengintegrasikan sistem operasional yang efisien ke dalam proyek yang menggunakan metode alliance contracting. Meskipun alliancing menjanjikan kolaborasi dan kinerja unggul, bukti empiris menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas yang “game breaking” belum sepenuhnya terwujud.
Penulis berargumen bahwa kelemahan ini disebabkan oleh fokus yang terlalu besar pada ranah kontraktual dan organisasi, sementara domain operasional diabaikan. Sebagai solusi, penelitian ini mengusulkan penerapan prinsip Lean—suatu filosofi manajemen yang menitikberatkan pada pengurangan limbah (waste) dan penciptaan nilai—ke dalam lingkungan proyek alliancing.
Kerangka Teori dan Landasan Konseptual
1. Filosofi Alliancing
Dalam kerangka teorinya, Vilasini menjelaskan bahwa alliancing merupakan bentuk kontrak relasional yang memfokuskan diri pada:
Kerja sama berbasis kepercayaan
Alokasi risiko dan keuntungan secara adil
Transparansi biaya melalui prinsip open-book
Konsep ini dianggap mampu meminimalkan “interferensi” (hambatan kinerja) sebagaimana dirumuskan dalam Gallwey’s Formula:
Kinerja aktual = Potensi sejati – Interferensi
Namun, temuan di berbagai studi menunjukkan bahwa masih ada interferensi yang bersumber dari proses operasional yang kurang efisien.
2. Filosofi Lean
Lean didefinisikan sebagai upaya berkelanjutan untuk menghilangkan pemborosan, memaksimalkan nilai, dan mengoptimalkan aliran kerja. Penulis mengadopsi delapan kategori pemborosan:
Overproduksi
Menunggu
Transportasi berlebih
Pemrosesan tambahan
Inventori berlebih
Gerakan tidak perlu
Pekerjaan ulang (rework)
Tidak dimanfaatkannya kreativitas pekerja (unused creativity) – fokus utama studi ini
Kombinasi alliancing dan Lean dipandang selaras: alliancing menyediakan lingkungan kolaboratif, sementara Lean memberi kerangka operasional yang sistematis.
Kontribusi Ilmiah
Penelitian ini menyumbang tiga hal penting:
Integrasi Teori dan Praktik
Menggabungkan kerangka relational contracting (khususnya alliancing) dengan teori Lean, yang sebelumnya jarang dikaji secara mendalam di konteks konstruksi Selandia Baru.
Pengukuran Waste di Proyek Alliancing
Melalui studi kasus jembatan Newmarket Viaduct, penulis memetakan berbagai jenis process waste dan behavioural waste, lalu mengaitkannya dengan peluang perbaikan berbasis Lean.
Metodologi Peningkatan Proses di Lapangan
Menghasilkan metode observasi, pemetaan aliran nilai (Value Stream Mapping), dan analisis partisipatif yang dapat diadopsi oleh proyek sejenis.
Metodologi dan Strategi Penelitian
Pendekatan Filosofis
Paradigma interpretivis dipilih untuk memahami fenomena secara kontekstual, bukan sekadar mengukur variabel.
Peneliti berperan aktif dalam proses observasi, sejalan dengan action research approach.
Strategi
Studi kasus longitudinal tunggal: proyek penggantian Viaduct di Auckland.
Metode pengumpulan data:
Observasi partisipatif pada lima proses konstruksi berulang
Pertemuan tindak lanjut dengan manajemen proyek
Wawancara semi-terstruktur dengan manajemen puncak
Kuesioner ke manajemen menengah
Analisis dokumen proyek
Analisis Data
Value Stream Mapping (VSM) untuk mengidentifikasi VA, NVAN, dan NVAU.
Diagram sebab-akibat, spaghetti diagram, dan Pareto chart untuk memetakan penyebab pemborosan.
Pendekatan campuran (kualitatif + kuantitatif) untuk menggabungkan hasil observasi dan persepsi partisipan.
Hasil dan Angka Penting
Proporsi Waste
Studi menemukan bahwa tingkat process waste di proyek alliancing hampir setara dengan model pengadaan lain (55% pada salah satu proses). Artinya, model kontrak saja tidak otomatis mengurangi pemborosan.
Behavioural Waste
Pekerja lapangan: minimnya partisipasi dalam perbaikan proses mengakibatkan ide-ide inovatif tidak termanfaatkan.
Subkontraktor: kurangnya integrasi menyebabkan koordinasi lemah, menambah waktu tunggu dan pekerjaan ulang.
Efektivitas Lean Tools
Implementasi alat Lean menghasilkan penghematan signifikan pada proses berulang, seperti pengurangan waktu tunggu dan peningkatan efisiensi penggunaan peralatan.
Refleksi Teoretis atas Temuan
Temuan ini memperkuat argumen bahwa kinerja proyek tidak hanya ditentukan oleh “apa” kontraknya, tetapi juga “bagaimana” kontrak itu dioperasikan. Alliancing menciptakan ekosistem kolaboratif, tetapi tanpa sistem operasional seperti Lean, potensi maksimumnya terhambat.
Dari perspektif TFV (Transformation–Flow–Value), integrasi Lean membantu mengurangi gangguan pada flow dan memastikan value yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan pengguna akhir.
Analisis Argumentatif Penulis
Vilasini membangun narasi dengan alur logis:
Menunjukkan masalah produktivitas di industri konstruksi (latar belakang).
Mengidentifikasi bahwa alliancing telah memberi perbaikan di ranah strategis, tapi belum di ranah operasional.
Menawarkan Lean sebagai solusi, dengan argumentasi kompatibilitas kedua konsep.
Menguji solusi ini melalui studi kasus terperinci.
Menyimpulkan bahwa tanpa integrasi sistem operasional, alliancing tidak akan mencapai breakthrough performance.
Pendekatan ini memadukan analisis empiris (data kuantitatif) dengan pembacaan konseptual (teori Lean dan relational contracting).
Kritik terhadap Metodologi
Kekuatan
Kedalaman konteks: studi longitudinal tunggal memungkinkan pemahaman mendalam atas dinamika proyek.
Kombinasi metode: triangulasi data meningkatkan validitas internal.
Keterlibatan langsung: posisi peneliti sebagai partisipan memberi akses ke detail proses yang biasanya tertutup.
Keterbatasan
Generalisasi terbatas: satu studi kasus di Selandia Baru mungkin tidak mewakili semua proyek alliancing global.
Potensi bias: peneliti tunggal mengumpulkan dan menganalisis data, meskipun mitigasi dilakukan lewat member checking.
Durasi pemantauan terbatas: sulit menilai keberlanjutan perbaikan Lean setelah proyek selesai.
Dari sudut pandang epistemologis, pendekatan interpretivis sangat tepat untuk tujuan eksplorasi, namun akan lebih kuat bila dilengkapi studi komparatif lintas proyek.
Implikasi Ilmiah dan Praktis
Potensi Ilmiah
Membuka ruang studi interdisipliner antara manajemen kontrak, manajemen operasi, dan perilaku organisasi.
Menawarkan kerangka konseptual integrasi Lean–Alliancing yang dapat diadaptasi di penelitian selanjutnya.
Implikasi Praktis
Pemilik proyek dan kontraktor dapat menggunakan Lean untuk memaksimalkan pembagian keuntungan dalam gain–pain share.
Proses perbaikan berkelanjutan memerlukan integrasi pekerja lapangan dan subkontraktor sejak tahap awal.
Kesimpulan Reflektif
Disertasi ini menegaskan bahwa inovasi dalam metode pengadaan harus berjalan seiring dengan inovasi dalam manajemen proses. Alliancing menciptakan landasan kolaborasi, sementara Lean menjadi penggerak efisiensi di lapangan. Integrasi keduanya berpotensi menghasilkan kinerja proyek yang unggul, bukan hanya dalam hitungan biaya dan waktu, tetapi juga dalam kualitas dan keterlibatan manusia di dalamnya.
Secara konseptual, penelitian ini adalah kontribusi berharga bagi pengembangan teori manajemen konstruksi, dan secara reflektif, ia mengingatkan bahwa teknologi atau kontrak secanggih apa pun tidak akan berdampak maksimal tanpa perbaikan proses di tingkat operasional.
Teknologi Industri 4.0
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 11 Agustus 2025
Penelitian ini membahas bagaimana pengetahuan manusia—yang tersimpan dalam catatan kerja pemeliharaan atau Maintenance Work Orders (MWOs)—bisa dimanfaatkan secara maksimal dalam ekosistem Digital Twin untuk membantu pengambilan keputusan perawatan (maintenance decision support).
MWOs adalah catatan yang diisi teknisi atau operator saat melakukan inspeksi, perbaikan, atau penggantian komponen pada suatu peralatan. Catatan ini biasanya berbentuk teks bebas, mengandung istilah teknis, singkatan, dan gaya penulisan yang sangat bervariasi antar orang.
Masalahnya, meskipun MWOs kaya akan wawasan praktis, mereka jarang dimanfaatkan secara penuh karena sifatnya yang tidak terstruktur (unstructured data). Mayoritas perusahaan lebih fokus ke data sensor dan parameter terukur, padahal catatan teknisi sering berisi konteks yang tidak terekam oleh sensor.
Paper ini memperkenalkan pendekatan berbasis Natural Language Processing (NLP) modern, khususnya Technical Language Processing (TLP), untuk mengolah teks MWOs dan mengintegrasikannya dalam Digital Twin Service System—sebuah sistem layanan berbasis kembar digital yang menghubungkan ruang fisik (Physical Space, PS) dan ruang virtual (Virtual Space, VS).
Latar Belakang: Industri 4.0 dan Tantangan Pemeliharaan
Industri 4.0 menghadirkan smart factory—pabrik pintar yang memanfaatkan Internet of Things (IoT), sensor canggih, komputasi awan (cloud computing), dan kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) untuk mengoptimalkan produksi.
Namun, peningkatan otomatisasi ini membawa dua masalah besar:
Relevansi untuk industri:
Konsep Digital Twin dalam Siklus Manufaktur
Digital Twin (DT) adalah model virtual yang merepresentasikan objek fisik secara real-time. DT memadukan data dari Physical Space (PS), Virtual Space (VS), dan Digital Twin Data (DTD) untuk menciptakan simulasi yang akurat.
Dalam konteks siklus manufaktur, DT berperan di berbagai tahap:
Nilai tambah bagi industri:
Integrasi MWOs ke dalam DT memungkinkan solusi yang diusulkan terlebih dahulu diuji di dunia virtual sebelum diaplikasikan ke fisik, sehingga mengurangi risiko downtime.
Maintenance Work Orders (MWOs): Tantangan dan Potensi
MWOs adalah catatan formal dari aktivitas pemeliharaan, termasuk:
Tantangan pengolahan MWOs:
Potensi:
Arsitektur Sistem yang Diusulkan
Penulis mengusulkan Maintenance Decision Support Composite Service yang mengintegrasikan MWOs ke dalam ekosistem DT. Pendekatan ini menggunakan Case-Based Reasoning (CBR)—metode yang mencari solusi untuk masalah baru berdasarkan kemiripan dengan kasus lama.
CBR memiliki empat tahap utama:
Teknologi kunci:
Proses Pengolahan Data MWOs
Langkah-langkah utama yang diusulkan:
Studi Kasus: Pemeliharaan Mining Excavators
Dataset:
Karakteristik dataset:
Hasil pengujian:
Interpretasi praktis:
Teknisi bisa langsung melihat catatan kasus serupa berikut solusi yang pernah berhasil, sehingga mempercepat proses diagnosa dan mengurangi kesalahan.
Dampak ke Dunia Nyata
1. Efisiensi Waktu dan Biaya
Dengan sistem ini:
2. Transfer Pengetahuan
3. Pemanfaatan Dark Data
Opini dan Kritik
Kelebihan:
Kekurangan:
Saran pengembangan:
Kesimpulan
Pendekatan ini membuktikan bahwa pengetahuan manusia dalam MWOs adalah aset strategis yang bisa diolah dengan NLP modern dan diintegrasikan ke DT untuk mendukung pengambilan keputusan pemeliharaan.
Bagi industri yang ingin meningkatkan efisiensi, mengurangi downtime, dan menjaga transfer pengetahuan teknis, solusi ini bukan hanya relevan—tetapi esensial.
Sumber asli:
Naqvi, S. M. R., Ghufran, M., Meraghni, S., Varnier, C., Nicod, J.-M., & Zerhouni, N. (2022). Human Knowledge Centered Maintenance Decision Support in Digital Twin Environment. Journal of Manufacturing Systems. DOI: 10.1016/j.jmsy.2022.08.006
Teknologi Industri 4.0
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 11 Agustus 2025
Kenapa Predictive Maintenance Jadi Kunci di Era Industry 4.0
Industry 4.0 (I4.0) adalah era revolusi industri terbaru yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Big Data Analytics, dan sistem Cyber-Physical Systems (CPS) untuk menciptakan pabrik yang cerdas (smart manufacturing). Di dalam ekosistem ini, salah satu strategi yang makin penting adalah Predictive Maintenance atau PdM, yaitu metode perawatan mesin dan peralatan berdasarkan prediksi kapan kerusakan akan terjadi.
Tidak seperti Reactive Maintenance (perbaikan setelah rusak) atau Preventive Maintenance (perawatan berkala tanpa melihat kondisi sebenarnya), PdM menggunakan data real-time dan model prediksi untuk memperkirakan kapan peralatan perlu diservis, sehingga perusahaan bisa mengurangi downtime, meminimalkan biaya, dan memperpanjang umur mesin.
Paper "Predictive Maintenance Approaches in Industry 4.0: A Systematic Literature Review" yang ditulis oleh Fidma Mohamed Abdelillah, Hamour Nora, Ouchani Samir, dan Sidi Mohamed Benslimane ini membedah berbagai pendekatan PdM secara sistematis. Tujuannya bukan hanya mengelompokkan metode, tapi juga memberikan analisis perbandingan yang bisa dipakai langsung oleh industri untuk menentukan strategi terbaik.
Klasifikasi Utama Pendekatan PdM di Industry 4.0
Dalam kajian ini, penulis mengelompokkan pendekatan PdM ke dalam empat kategori besar:
Masing-masing punya kelebihan dan keterbatasan, sehingga pemilihannya tergantung pada jenis mesin, data yang tersedia, dan kebutuhan bisnis.
1. Data-Driven Approaches – Ketika Data Jadi Bahan Bakar Prediksi
Data-driven approaches memanfaatkan data besar (Big Data) yang dihasilkan oleh sensor, IoT, dan CPS. Teknologi Wireless Sensor Networks (IWSNs) mengumpulkan data kondisi mesin seperti getaran, suhu, tekanan, atau arus listrik, lalu dianalisis untuk mendeteksi pola kegagalan.
1.1 Machine Learning (ML) Methods
Machine Learning adalah cabang AI yang memungkinkan komputer belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit. Dalam PdM, ML digunakan untuk:
Kelebihan praktis: Bisa dipakai di banyak industri tanpa harus paham mendalam tentang mesin.
Kekurangan: Butuh data berkualitas tinggi, rentan overfitting (terlalu cocok dengan data latih sehingga buruk di data baru).
1.2 Deep Learning (DL) Methods
Deep Learning adalah bagian dari ML yang memakai Artificial Neural Networks (ANNs) dengan banyak lapisan. Cocok untuk data kompleks dan non-linear.
Contoh nyata:
Kelebihan praktis: Sangat akurat untuk pola rumit seperti getaran multi-sensor.
Kekurangan: Membutuhkan GPU dan komputasi besar, sulit dijelaskan (black box).
1.3 Statistical Learning-Based Models
Pendekatan ini memakai metode statistik klasik untuk memodelkan degradasi komponen.
Kelebihan praktis: Lebih transparan, cocok untuk data sekuensial.
Kekurangan: Kurang fleksibel untuk sistem yang sangat kompleks.
2. Physical Model-Based Approaches – Ilmu Fisika di Balik Prediksi
Pendekatan ini menggunakan model fisik yang didasarkan pada hukum sains seperti mekanika material, termal, atau dinamika fluida untuk menggambarkan proses degradasi.
Contoh aplikasi:
Kelebihan praktis: Akurasi tinggi untuk prediksi presisi, cocok untuk sistem kritis seperti pesawat dan pembangkit listrik.
Kekurangan: Membutuhkan ahli domain, lama dikembangkan, sulit untuk mesin dengan banyak variabel tak pasti.
3. Knowledge-Based Approaches – Menangkap Kepintaran Manusia ke Dalam Sistem
Pendekatan ini menggunakan basis pengetahuan (knowledge base) yang berisi fakta dan aturan yang sudah diketahui oleh ahli, lalu sistem membuat keputusan otomatis.
3.1 Rule-Based Systems
Memakai aturan IF-THEN.
Contoh: Kilang minyak menggunakan association rule mining untuk memprediksi kerusakan komponen dan memprioritaskan perbaikan.
3.2 Knowledge Graph & Ontology
Ontology adalah spesifikasi eksplisit dari konsep dan hubungan di suatu domain. Digunakan untuk memodelkan pengetahuan industri agar bisa dipakai ulang di berbagai sistem.
Contoh: Ontologi penilaian keberlanjutan industri yang memudahkan interoperabilitas data.
3.3 Fuzzy Systems
Fuzzy Logic memungkinkan penilaian di antara "benar" dan "salah" (nilai kebenaran parsial). Cocok untuk data yang dipengaruhi banyak variabel tak pasti.
Contoh: Pemeliharaan kereta listrik yang memperhitungkan kondisi cuaca, kecepatan, dan suhu lingkungan.
Kelebihan praktis: Bagus untuk sistem dengan banyak ketidakpastian.
Kekurangan: Butuh basis pengetahuan yang lengkap, mahal dan lama dibuat.
4. Hybrid Model-Based Approaches – Gabungan Strategi untuk Hasil Maksimal
Hybrid models menggabungkan kekuatan beberapa pendekatan untuk mengatasi kelemahan masing-masing.
4.1 Series Hybrid Models
Pendekatan dijalankan secara berurutan.
Contoh: Fuzzy Clustering + Ontology untuk memprediksi kegagalan dan menentukan prioritas perbaikan.
4.2 Parallel Hybrid Models
Pendekatan dijalankan secara bersamaan.
Contoh:
Kelebihan praktis: Akurasi tinggi, adaptif, mampu menghadapi sistem kompleks.
Kekurangan: Kompleksitas tinggi, butuh sumber daya besar.
Diskusi – Analisis Praktis dan Dampak Industri
Berdasarkan kajian ini:
Opini kritis saya: Paper ini sangat baik dalam pemetaan metode, tetapi kurang memberikan panduan langkah demi langkah implementasi di pabrik. Integrasi antar sistem dan standarisasi data PdM masih menjadi tantangan utama. Peluang besar ada pada penggabungan PdM dengan Augmented Reality (AR) dan Autonomous Maintenance.
Kesimpulan – Masa Depan PdM di Era I4.0
Tidak ada satu metode PdM yang cocok untuk semua industri. Hybrid approaches berpotensi menjadi jawaban karena menggabungkan presisi model fisik dengan fleksibilitas data-driven.
Masa depan PdM kemungkinan akan mencakup:
Referensi resmi paper:
https://doi.org/10.1109/WETICE57085.2023.10477802
Predictive Maintenance
Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda pada 11 Agustus 2025
Predictive Maintenance (PdM) — atau pemeliharaan prediktif — adalah strategi perawatan berbasis data yang bertujuan memprediksi kapan suatu aset akan mengalami kerusakan sehingga perbaikan bisa dilakukan sebelum kegagalan terjadi. Strategi ini memanfaatkan sensor (perangkat pengumpul data kondisi fisik aset), dashboard (antarmuka visual data), dan algoritma analitik (pemroses data prediksi) untuk meningkatkan keandalan dan mengurangi biaya perawatan.
Namun, implementasi PdM bukanlah sekadar memasang sensor atau software. Proses ini membutuhkan perubahan budaya organisasi, penyesuaian struktur kerja, dan integrasi lintas departemen. Di lingkungan organisasi publik seperti Rijkswaterstaat — lembaga pemerintah Belanda yang mengelola ribuan aset infrastruktur vital seperti jembatan, terowongan, kanal, dan jalan raya — tantangan ini jadi berlipat ganda.
Rijkswaterstaat sedang menjalankan program Data Gedreven Asset Management (DGAM) atau manajemen aset berbasis data. DGAM adalah pendekatan strategis untuk beralih dari preventive maintenance (pemeliharaan terjadwal) menuju PdM. Penelitian ini fokus membuat Predictive Maintenance Implementation Process (PIP) — panduan terstruktur yang dirancang untuk memandu implementation manager (manajer implementasi) menghadapi hambatan teknis, organisasi, dan sosial saat membawa PdM ke lingkungan yang kompleks.
Latar Belakang dan Tantangan Implementasi
Mengapa implementasi PdM di organisasi publik sulit? Penulis menemukan beberapa faktor utama yang membedakannya dari perusahaan swasta:
Kategori Tantangan
Dari wawancara dengan staf DGAM dan pegawai regional, penulis mengelompokkan tantangan ke dalam tiga kategori besar:
Kerangka Teoritis: Kombinasi Teori Inovasi dan PdM
Implementasi PdM dalam penelitian ini dilihat sebagai innovation implementation (implementasi inovasi). Penulis mengadopsi model Determinants and Consequences of Implementation Effectiveness dari Klein & Sorra (1996).
Model ini menekankan dua pilar utama:
Tanpa kombinasi keduanya, inovasi cenderung gagal meski teknologinya bagus. Misalnya, jika sistem baru tidak sesuai dengan pola kerja yang menjadi kekuatan organisasi, adopsinya akan rendah.
Selain itu, penelitian menambahkan faktor khusus untuk PdM:
Metodologi: Design Science Research
Penulis menggunakan Design Science Research Methodology (DSRM) untuk mengembangkan PIP. Langkah-langkahnya meliputi:
Terdapat dua iterasi desain:
Predictive Maintenance Implementation Process (PIP)
PIP terdiri dari dua bagian utama:
Bagian "What" – Framework Factors
Daftar faktor yang harus dipenuhi agar implementasi PdM sukses:
Bagian "How" – Langkah Implementasi
Roadmap Visual
Roadmap adalah representasi visual dari PIP yang:
Hasil Demonstrasi PIP
Lock Eefde
Implementasi awal DGAM di sini menunjukkan pentingnya melibatkan tim regional sejak awal. Pendekatan sukarela (voluntary) lebih efektif daripada pendekatan wajib (mandatory).
Salland Twente Tunnel
Tantangan utama adalah standarisasi data dari kontraktor yang berbeda. Meski teknologi tersedia, variasi format data menghambat analisis.
Relevansi di Dunia Nyata
Temuan ini berlaku untuk berbagai industri:
Pelajaran Penting:
Opini dan Kritik
Kekuatan PIP:
Kelemahan:
Implikasi
Untuk Industri:
Untuk Pemerintah:
Kesimpulan
Implementasi PdM adalah transformasi budaya dan proses, bukan sekadar proyek teknologi. PIP dari penelitian ini:
Dengan pendekatan ini, organisasi publik maupun swasta dapat meminimalkan risiko kegagalan dan memaksimalkan manfaat PdM untuk jangka panjang.
Sumber Paper:
M.M. van de Maat, Guiding the Implementation of Predictive Maintenance Projects by Developing a Predictive Maintenance Implementation Process, University of Twente, 2023.
Link Resmi PDF
kesehatan
Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 08 Agustus 2025
Pendahuluan: Mendorong Mutu dalam Dinamika Layanan Kesehatan
Dalam iklim global yang semakin kompetitif, sektor kesehatan menghadapi tekanan tinggi dari tuntutan pasien, perubahan teknologi, serta biaya yang terus meningkat. Di tengah tantangan ini, pendekatan Total Quality Management (TQM) muncul sebagai kerangka manajemen strategis yang menjanjikan perbaikan mutu layanan sekaligus kepuasan klien. Paper ini menyajikan sebuah review sistematik kualitatif (Qualitative Systematic Review/QSR) terhadap berbagai studi yang mengeksplorasi hubungan antara penerapan alat dan teknik TQM dengan peningkatan kualitas layanan dan kepuasan pasien di lingkungan kesehatan.
Kontribusi Ilmiah: Penegasan Posisi TQM dalam Layanan Kesehatan Global
Fokus Studi dan Tujuan Penelitian
Studi ini bertujuan untuk:
Menganalisis alat dan teknik TQM yang digunakan di fasilitas kesehatan.
Mengidentifikasi hubungan antara penerapan TQM dan kualitas layanan.
Menelusuri pengaruh TQM terhadap kepuasan pasien.
Secara konseptual, paper ini memberikan kontribusi ilmiah penting dengan menggabungkan berbagai studi lintas negara dan menyusun kerangka sintesis teoretis terhadap efektivitas TQM. Ia menyoroti kesenjangan geografis dalam penelitian (lebih banyak di Asia dan Timur Tengah dibandingkan negara maju), serta menawarkan landasan untuk penelitian lanjutan.
Kerangka Teoretis: TQM Sebagai Pilar Mutu Organisasi
TQM, dalam konteks studi ini, dipahami sebagai serangkaian prinsip manajerial yang mencakup perbaikan berkelanjutan, keterlibatan seluruh organisasi, dan fokus pada kebutuhan pelanggan. Konsep ini diterapkan pada unit-unit layanan kesehatan melalui indikator seperti:
Keterlibatan manajemen puncak
Pelatihan pegawai dan pasien
Pengambilan keputusan berbasis data
Pengembangan budaya mutu organisasi
Penulis menggarisbawahi bahwa penerapan TQM harus komprehensif dan terintegrasi. Artinya, jika prinsip-prinsip TQM hanya diterapkan secara parsial atau terdistorsi, maka manfaatnya tidak akan tercapai.
Metodologi: Kajian Sistematis Kualitatif Berbasis QSR
Rangkaian Prosedur QSR
Penelitian ini menggunakan QSR (Qualitative Systematic Review) untuk menyaring dan menilai kualitas 11.517 artikel dari lima basis data besar (WOS, Scopus, PubMed, Medline, dan EBSCO). Setelah melalui proses eksklusi yang ketat, hanya 12 artikel yang dianggap memenuhi kriteria seleksi akhir:
Relevansi dengan TQM, kualitas layanan, dan kepuasan pasien
Konteks studi di lingkungan layanan kesehatan
Pendekatan kualitatif atau gabungan
Refleksi: Pilihan untuk menggunakan QSR memperkuat validitas sintesis yang dihasilkan, sekaligus menunjukkan komitmen penulis terhadap rigornya proses seleksi data. Namun, keterbatasan seperti pembatasan database karena alasan finansial menjadi titik lemah yang perlu dicermati.
Hasil Studi: Refleksi Teoretis atas Data dan Angka
Jumlah Awal dan Seleksi Ketat
Total awal: 11.517 artikel
Setelah eliminasi: 573 artikel
Setelah QSR final: 12 artikel layak dijadikan basis temuan
Temuan Empiris dan Refleksi Teoretis
Beberapa temuan penting dari literatur yang disintesis:
Studi di Jordan menunjukkan bahwa TQM adalah faktor kunci dalam mendorong perbaikan berkelanjutan dan efisiensi rumah sakit.
Analisis di Pakistan menggarisbawahi peran HR TQM dan infrastruktur mutu sebagai penggerak efisiensi layanan.
Penelitian di Iran menyatakan bahwa pelibatan manajemen, pelatihan pelanggan dan staf, serta perbaikan berkelanjutan menghasilkan dampak positif terhadap efisiensi dan kepuasan pasien.
Studi kuantitatif lainnya menemukan bahwa implementasi TQM berdampak langsung pada:
Kualitas pelayanan yang dirasakan
Kepatuhan prosedural
Produktivitas organisasi
Refleksi: Temuan ini secara konsisten menunjukkan bahwa TQM bukan sekadar metode administratif, melainkan kerangka transformasional yang mengubah budaya organisasi, kualitas pelayanan, dan persepsi pasien.
Argumen Utama dan Validitas Logis
Poin-Poin Argumentatif Penulis:
TQM tidak bisa diterapkan secara parsial. Jika tidak menyeluruh, efeknya minimal atau nihil.
Efektivitas TQM bervariasi tergantung pada konteks budaya, ekonomi, dan organisasi.
Kepuasan pasien bukan hanya hasil dari kualitas layanan, tetapi dimediasi oleh efektivitas implementasi TQM.
Negara-negara berkembang cenderung lebih aktif meneliti dan mengimplementasikan TQM dalam sistem kesehatannya dibanding negara maju.
Struktur Argumentatif:
Penulis menyusun logikanya secara bertahap:
Identifikasi kebutuhan peningkatan mutu.
Telaah literatur sebagai sumber bukti.
Sintesis konsep TQM dan penerapannya.
Penekanan pada pentingnya pendekatan sistemik dan pelibatan seluruh aktor organisasi.
Kritik Reflektif: Meskipun kerangka berpikir ini kuat, narasi argumentatif masih bersifat umum dan kurang menggali secara kritis variasi konteks institusional antar studi. Aspek perbedaan budaya organisasi, tingkat otonomi klinis, atau regulasi negara tidak dibahas secara eksplisit.
Kekuatan dan Kelemahan Metodologi
Kekuatan:
QSR memastikan validitas dan transparansi proses seleksi.
Pemilihan artikel dari lima database internasional mengurangi bias sumber.
Kelemahan:
Tidak semua wilayah geografis terwakili secara adil (minim data dari Eropa dan Amerika).
Terlalu fokus pada konteks rumah sakit, padahal sektor kesehatan lebih luas (misalnya klinik, puskesmas, atau industri farmasi).
Tidak adanya analisis kuantitatif untuk mengukur seberapa besar dampak TQM terhadap kualitas layanan.
Implikasi Ilmiah dan Praktis
Implikasi Teoretis:
Studi ini memperkuat posisi TQM sebagai kerangka multidimensi yang menjembatani kebutuhan manajemen dan ekspektasi pasien.
Menyediakan dasar kuat untuk pengembangan model evaluasi mutu berbasis indikator TQM.
Mengungkap bahwa mutu layanan adalah fungsi dari struktur manajemen, bukan hanya kualitas teknis layanan.
Implikasi Praktis:
Manajer rumah sakit disarankan untuk:
Menyediakan pelatihan sistemik pada staf tentang prinsip-prinsip TQM.
Mengintegrasikan pengambilan keputusan berbasis data dalam operasional harian.
Menumbuhkan budaya mutu secara lintas departemen.
Penerapan TQM terbukti membantu dalam mengurangi biaya layanan, meningkatkan kepuasan pasien, dan memperbaiki efisiensi organisasi secara keseluruhan.
Keterbatasan dan Rekomendasi Masa Depan
Keterbatasan yang Diakui:
Keterbatasan data karena hanya mengakses database tertentu.
Fokus terlalu besar pada rumah sakit dan mengabaikan organisasi kesehatan lainnya.
Mayoritas studi berasal dari negara-negara berkembang.
Rekomendasi:
Melibatkan lebih banyak data dari negara maju untuk analisis komparatif.
Memperluas konteks studi pada sektor kesehatan non-rumah sakit (misalnya layanan kesehatan digital).
Menggabungkan QSR dengan pendekatan meta-analisis kuantitatif untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif.
Kesimpulan: TQM sebagai Pilar Reformasi Layanan Kesehatan Modern
Studi ini menegaskan bahwa Total Quality Management bukan hanya slogan manajerial, tetapi pendekatan holistik yang dapat mengubah kualitas layanan dan persepsi pasien dalam jangka panjang. Di tengah tekanan sistem kesehatan global pasca-pandemi, TQM menawarkan jalan keluar strategis bagi institusi kesehatan untuk menjadi lebih tanggap, efisien, dan berorientasi pada pasien.
Dengan implementasi yang tepat, TQM dapat membentuk lingkungan kerja yang kolaboratif, budaya mutu yang kuat, dan peningkatan berkelanjutan dalam kualitas layanan. Studi ini memberikan wawasan praktis sekaligus membuka ruang penelitian baru yang kaya akan kemungkinan.
DOI Resmi Paper: https://doi.org/10.1051/shsconf/202213102009
Farmasi
Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 08 Agustus 2025
Pendahuluan: Dari Quality by Test Menuju Quality by Design
Dalam dunia farmasi yang terus berkembang, jaminan mutu tidak lagi cukup mengandalkan pengujian akhir produk (Quality by Test/QbT). Artikel ini memperkenalkan pendekatan Quality by Design (QbD) sebagai paradigma baru yang diadopsi oleh industri farmasi, khususnya sejak FDA menyadari keterbatasan QbT dan mendorong pendekatan berbasis risiko dan sains.
Konsep QbD dilandaskan pada prinsip bahwa kualitas harus dirancang sejak awal, bukan diuji belakangan. Pendekatan ini menekankan pemahaman menyeluruh terhadap produk, bahan baku, serta parameter proses yang berpengaruh terhadap keberhasilan produksi dan mutu akhir.
H2: Konsep dan Fondasi Teoretis Quality by Design
H3: Definisi QbD
Penulis mendefinisikan QbD sebagai pendekatan sistematis yang dimulai dengan tujuan produk yang telah ditetapkan (predefined objectives), dilengkapi pemahaman proses serta kontrol berbasis sains dan manajemen risiko kualitas.
Secara konseptual, QbD membawa perubahan paradigma dari pendekatan reaktif menjadi proaktif. Ia menempatkan pengetahuan ilmiah sebagai basis untuk merancang formulasi dan proses produksi, meminimalkan variasi, dan menjamin konsistensi kualitas.
H3: Asal-usul Filosofis
Konsep ini pertama kali dikembangkan oleh Dr. Joseph M. Juran yang menekankan bahwa sebagian besar masalah mutu bersumber dari desain yang buruk, bukan dari proses produksi. Filosofi ini dihidupkan kembali oleh FDA melalui ICH Q8 (R2), yang menyatakan bahwa kualitas harus dibangun, bukan diuji.
H2: Pilar Utama dalam Implementasi QbD
H3: Target Product Profile dan Target Product Quality Profile
Salah satu tonggak penting adalah penetapan Quality Target Product Profile (QTPP). Ini mencakup atribut seperti bentuk sediaan, rute pemberian, dosis, profil farmakokinetik (misal: laju disolusi), serta persyaratan kualitas seperti kemurnian dan sterilitas.
QTPP menjadi fondasi dalam membangun atribut mutu yang harus dimiliki produk agar dapat memberikan manfaat terapeutik sebagaimana dijanjikan di label. Penetapan ini membentuk kerangka arah pengembangan sejak awal.
H3: Critical Quality Attributes (CQA)
Setelah QTPP ditetapkan, langkah berikutnya adalah identifikasi Critical Quality Attributes (CQA) — yaitu sifat fisik, kimia, biologis, atau mikrobiologis yang harus berada dalam rentang tertentu untuk menjamin kualitas. Contoh pada zat aktif meliputi ukuran partikel, kandungan air, dan kemurnian; sedangkan pada tablet, termasuk kekerasan, keseragaman dosis, dan laju disolusi.
Penting dicatat bahwa CQA adalah turunan dari QTPP dan dapat berubah tergantung formulasi dan parameter proses. Penulis menegaskan pentingnya analisis risiko dalam menentukan CQA, menggunakan metode seperti FMEA dan Fault Tree Analysis.
H2: Arsitektur Risiko dan Proses dalam QbD
H3: Quality Risk Management (QRM)
QRM adalah jantung dari pendekatan QbD. Evaluasi risiko berdasarkan pengetahuan ilmiah dan manfaat terapeutik menjadi dasar untuk menentukan prioritas pengujian, validasi, serta kontrol parameter proses.
Penulis menyoroti penggunaan alat QRM seperti:
FMEA (Failure Mode Effects Analysis)
FMECA (Failure Mode Effects and Criticality Analysis)
FTA (Fault Tree Analysis)
HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points)
H3: Critical Process Parameters (CPP)
Parameter proses seperti kecepatan impeller, suhu pengeringan, ukuran saringan, hingga kekuatan kompresi pada proses granulasi dan tableting dikategorikan sebagai CPP. Variasi dalam parameter ini dapat menyebabkan perubahan pada CQA, sehingga harus dikendalikan ketat.
Tabel-tabel dalam artikel menyajikan data parameter kritis yang sangat praktikal. Misalnya, untuk proses pengeringan, inlet air flow dan exhaust temperature menjadi parameter yang memengaruhi kadar air dan kestabilan granul.
H2: Dimensi Baru dalam Perancangan: Design Space dan Control Strategy
H3: Design Space
Design Space didefinisikan sebagai kombinasi multidimensi dari variabel input dan parameter proses yang telah terbukti menghasilkan mutu produk yang diinginkan. Penulis menekankan pentingnya eksperimen terstruktur (DoE) dan pemodelan statistik untuk memetakan batas-batas aman proses.
Interpretasi konseptualnya: design space memberikan fleksibilitas manufaktur tanpa memerlukan persetujuan ulang regulator, selama masih berada dalam ruang yang telah divalidasi.
H3: Control Strategy
Kontrol strategis meliputi pengendalian terhadap material awal, kondisi proses, in-line monitoring, serta spesifikasi produk akhir. Penulis menjelaskan strategi kontrol untuk proses blending sebagai studi kasus, menunjukkan bagaimana integrasi kontrol pada setiap tahapan menciptakan jaminan mutu berkelanjutan.
H2: Kontribusi Ilmiah Artikel dan Narasi Argumentatif
H3: Penguatan Posisi QbD Sebagai Standar Industri
Artikel ini memberikan tinjauan komprehensif terhadap komponen kunci QbD — dari teori, regulasi, hingga praktik. Penulis menyusun narasi dengan struktur sistematis, dari definisi ke implementasi, hingga refleksi potensi masa depan. Ini memperlihatkan kedalaman pemahaman serta kepekaan terhadap dinamika industri farmasi modern.
H3: Visualisasi dan Data Empiris
Meskipun bersifat ulasan, artikel menyajikan data tabel dan gambar proses yang memperkuat klaim ilmiah. Misalnya, Table-3 menunjukkan CPP dalam proses tableting, dan Figure-1 menggambarkan alur kerja QbD secara visual. Penyajian ini membantu pembaca memahami kompleksitas konsep dalam bentuk aplikatif.
H2: Refleksi Kritis terhadap Pendekatan Penulis
H3: Kelebihan
Artikel menyajikan QbD tidak hanya sebagai teori, tetapi sebagai kerangka operasional yang relevan dengan praktik industri.
Struktur tulisan sistematis, didukung tabel dan ilustrasi yang aplikatif.
Menjelaskan hubungan antara QTPP, CQA, CPP, dan control strategy secara logis.
H3: Catatan Kritis
Artikel terlalu banyak mengutip regulasi dan panduan tanpa menyertakan studi kasus konkret dari industri. Hal ini membuat beberapa bagian terasa normatif.
Tidak ada pembahasan mendalam tentang tantangan implementasi QbD di industri skala kecil atau negara berkembang.
Keterlibatan pasien sebagai penerima manfaat akhir belum cukup dieksplorasi dalam konteks “desain berbasis kebutuhan klinis”.
H2: Implikasi Ilmiah dan Masa Depan QbD
Quality by Design memiliki potensi besar sebagai fondasi pengembangan farmasi berbasis sains dan risiko. Dengan pendekatan ini, industri dapat:
Mengurangi variabilitas proses
Mempercepat time-to-market
Meningkatkan efisiensi produksi
Memenuhi tuntutan regulasi secara lebih fleksibel
QbD memungkinkan pergeseran dari pendekatan “corrective” menuju “preventive”, membuka jalan bagi regulatory science dan penggunaan teknologi analitik real-time di masa depan.
Kesimpulan
Artikel ini berhasil mengangkat pentingnya QbD sebagai kerangka ilmiah dan strategis dalam industri farmasi modern. Dengan menyatukan sains, risiko, dan desain sistematis, QbD memberikan alat yang kuat untuk merancang produk yang aman, efektif, dan berkualitas tinggi sejak tahap awal. Meskipun tantangan implementasi masih ada, pendekatan ini menawarkan arah yang menjanjikan bagi industri farmasi global.
Link Resmi Artikel:
https://doi.org/10.36348/sjmps.2019.v05i12.019