Resensi Mendalam: Predictive Maintenance Approaches in Industry 4.0 – Analisis, Aplikasi, dan Relevansi Nyata

Dipublikasikan oleh Anjas Mifta Huda

11 Agustus 2025, 12.26

sumber: pexels.com

Kenapa Predictive Maintenance Jadi Kunci di Era Industry 4.0

Industry 4.0 (I4.0) adalah era revolusi industri terbaru yang menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), Big Data Analytics, dan sistem Cyber-Physical Systems (CPS) untuk menciptakan pabrik yang cerdas (smart manufacturing). Di dalam ekosistem ini, salah satu strategi yang makin penting adalah Predictive Maintenance atau PdM, yaitu metode perawatan mesin dan peralatan berdasarkan prediksi kapan kerusakan akan terjadi.

Tidak seperti Reactive Maintenance (perbaikan setelah rusak) atau Preventive Maintenance (perawatan berkala tanpa melihat kondisi sebenarnya), PdM menggunakan data real-time dan model prediksi untuk memperkirakan kapan peralatan perlu diservis, sehingga perusahaan bisa mengurangi downtime, meminimalkan biaya, dan memperpanjang umur mesin.

Paper "Predictive Maintenance Approaches in Industry 4.0: A Systematic Literature Review" yang ditulis oleh Fidma Mohamed Abdelillah, Hamour Nora, Ouchani Samir, dan Sidi Mohamed Benslimane ini membedah berbagai pendekatan PdM secara sistematis. Tujuannya bukan hanya mengelompokkan metode, tapi juga memberikan analisis perbandingan yang bisa dipakai langsung oleh industri untuk menentukan strategi terbaik.

Klasifikasi Utama Pendekatan PdM di Industry 4.0

Dalam kajian ini, penulis mengelompokkan pendekatan PdM ke dalam empat kategori besar:

  1. Data-Driven Approaches – Berbasis analisis data industri.
  2. Physical Model-Based Approaches – Berbasis hukum fisika dan model matematis.
  3. Knowledge-Based Approaches – Berbasis pengetahuan dan aturan logis.
  4. Hybrid Model-Based Approaches – Kombinasi beberapa pendekatan.

Masing-masing punya kelebihan dan keterbatasan, sehingga pemilihannya tergantung pada jenis mesin, data yang tersedia, dan kebutuhan bisnis.

1. Data-Driven Approaches – Ketika Data Jadi Bahan Bakar Prediksi

Data-driven approaches memanfaatkan data besar (Big Data) yang dihasilkan oleh sensor, IoT, dan CPS. Teknologi Wireless Sensor Networks (IWSNs) mengumpulkan data kondisi mesin seperti getaran, suhu, tekanan, atau arus listrik, lalu dianalisis untuk mendeteksi pola kegagalan.

1.1 Machine Learning (ML) Methods

Machine Learning adalah cabang AI yang memungkinkan komputer belajar dari data tanpa diprogram secara eksplisit. Dalam PdM, ML digunakan untuk:

  • Supervised Learning – Melatih model dengan data berlabel (misalnya data mesin saat normal dan saat rusak). Contoh: Sistem prediksi di mesin CNC yang memonitor suhu dan getaran, lalu memutuskan apakah produk akan ditolak atau tidak.
  • Unsupervised Learning – Mengelompokkan mesin berdasarkan kemiripan pola sensor. Cocok untuk mendeteksi anomali tanpa data kegagalan yang lengkap.
  • Semi-Supervised Learning – Menggabungkan data berlabel dan tidak berlabel. Misalnya, memakai data kegagalan untuk melatih model, lalu menggunakan clustering untuk mendeteksi pola pada data yang belum dikategorikan.

Kelebihan praktis: Bisa dipakai di banyak industri tanpa harus paham mendalam tentang mesin.
Kekurangan: Butuh data berkualitas tinggi, rentan overfitting (terlalu cocok dengan data latih sehingga buruk di data baru).

1.2 Deep Learning (DL) Methods

Deep Learning adalah bagian dari ML yang memakai Artificial Neural Networks (ANNs) dengan banyak lapisan. Cocok untuk data kompleks dan non-linear.

Contoh nyata:

  • Convolutional Neural Network (CNN) dipadukan dengan Monte Carlo Dropout untuk memperkirakan Remaining Useful Life (RUL) mesin pesawat. Hasilnya, biaya perawatan tak terjadwal turun signifikan.
  • Multi-Head Attention Mechanism untuk prediksi RUL dari data NASA, menghasilkan akurasi tinggi dengan ukuran model yang ringkas.

Kelebihan praktis: Sangat akurat untuk pola rumit seperti getaran multi-sensor.
Kekurangan: Membutuhkan GPU dan komputasi besar, sulit dijelaskan (black box).

1.3 Statistical Learning-Based Models

Pendekatan ini memakai metode statistik klasik untuk memodelkan degradasi komponen.

  • Particle Filters – Menggunakan sekumpulan "partikel" untuk memprediksi distribusi umur komponen. Contoh: Prediksi keausan katup nuklir dengan algoritma whale optimization.
  • Hidden Markov Models (HMM) – Memodelkan urutan kejadian seperti transisi dari kondisi sehat ke rusak.
  • Time Series Analysis – Memakai model ARIMA untuk memprediksi variabel, lalu memasukkannya ke Support Vector Machine (SVM) untuk menghitung RUL.

Kelebihan praktis: Lebih transparan, cocok untuk data sekuensial.
Kekurangan: Kurang fleksibel untuk sistem yang sangat kompleks.

2. Physical Model-Based Approaches – Ilmu Fisika di Balik Prediksi

Pendekatan ini menggunakan model fisik yang didasarkan pada hukum sains seperti mekanika material, termal, atau dinamika fluida untuk menggambarkan proses degradasi.

Contoh aplikasi:

  • Gaussian Process Regression (GPR) untuk memprediksi keausan bantalan mesin dengan mempertimbangkan ketidakpastian hasil.
  • Particle Filter + Model Degradasi Baterai Lithium-Ion untuk prediksi umur baterai kendaraan listrik.
  • Extended Kalman Filter untuk memprediksi kerusakan sistem pesawat berdasarkan berbagai skenario keausan.

Kelebihan praktis: Akurasi tinggi untuk prediksi presisi, cocok untuk sistem kritis seperti pesawat dan pembangkit listrik.
Kekurangan: Membutuhkan ahli domain, lama dikembangkan, sulit untuk mesin dengan banyak variabel tak pasti.

3. Knowledge-Based Approaches – Menangkap Kepintaran Manusia ke Dalam Sistem

Pendekatan ini menggunakan basis pengetahuan (knowledge base) yang berisi fakta dan aturan yang sudah diketahui oleh ahli, lalu sistem membuat keputusan otomatis.

3.1 Rule-Based Systems

Memakai aturan IF-THEN.
Contoh: Kilang minyak menggunakan association rule mining untuk memprediksi kerusakan komponen dan memprioritaskan perbaikan.

3.2 Knowledge Graph & Ontology

Ontology adalah spesifikasi eksplisit dari konsep dan hubungan di suatu domain. Digunakan untuk memodelkan pengetahuan industri agar bisa dipakai ulang di berbagai sistem.
Contoh: Ontologi penilaian keberlanjutan industri yang memudahkan interoperabilitas data.

3.3 Fuzzy Systems

Fuzzy Logic memungkinkan penilaian di antara "benar" dan "salah" (nilai kebenaran parsial). Cocok untuk data yang dipengaruhi banyak variabel tak pasti.
Contoh: Pemeliharaan kereta listrik yang memperhitungkan kondisi cuaca, kecepatan, dan suhu lingkungan.

Kelebihan praktis: Bagus untuk sistem dengan banyak ketidakpastian.
Kekurangan: Butuh basis pengetahuan yang lengkap, mahal dan lama dibuat.

4. Hybrid Model-Based Approaches – Gabungan Strategi untuk Hasil Maksimal

Hybrid models menggabungkan kekuatan beberapa pendekatan untuk mengatasi kelemahan masing-masing.

4.1 Series Hybrid Models

Pendekatan dijalankan secara berurutan.
Contoh: Fuzzy Clustering + Ontology untuk memprediksi kegagalan dan menentukan prioritas perbaikan.

4.2 Parallel Hybrid Models

Pendekatan dijalankan secara bersamaan.
Contoh:

  • Digital Twin (DT) + Data-Driven untuk memprediksi umur alat potong CNC.
  • ML Pipelines + Knowledge Engineering untuk memantau kualitas pengelasan.

Kelebihan praktis: Akurasi tinggi, adaptif, mampu menghadapi sistem kompleks.
Kekurangan: Kompleksitas tinggi, butuh sumber daya besar.

Diskusi – Analisis Praktis dan Dampak Industri

Berdasarkan kajian ini:

  • Manufaktur Otomotif bisa pakai ML supervised untuk prediksi kerusakan komponen secara cepat.
  • Industri Penerbangan harus pakai physical model atau hybrid untuk presisi tinggi demi keselamatan.
  • Sektor Energi cocok dengan fuzzy systems untuk menangani faktor lingkungan yang sulit diprediksi.

Opini kritis saya: Paper ini sangat baik dalam pemetaan metode, tetapi kurang memberikan panduan langkah demi langkah implementasi di pabrik. Integrasi antar sistem dan standarisasi data PdM masih menjadi tantangan utama. Peluang besar ada pada penggabungan PdM dengan Augmented Reality (AR) dan Autonomous Maintenance.

Kesimpulan – Masa Depan PdM di Era I4.0                               

Tidak ada satu metode PdM yang cocok untuk semua industri. Hybrid approaches berpotensi menjadi jawaban karena menggabungkan presisi model fisik dengan fleksibilitas data-driven.
Masa depan PdM kemungkinan akan mencakup:

  1. Integrasi Digital Twin + AR untuk visualisasi perawatan.
  2. Standarisasi protokol PdM lintas industri.
  3. Desain arsitektur Hybrid Neural Networks untuk sistem kompleks.

Referensi resmi paper:
https://doi.org/10.1109/WETICE57085.2023.10477802