Revolusi Industri

Revolusi Industri 5.0 Mengubah Wajah Konstruksi Global: Ini Tren Teknologi yang Harus Anda Kuasai!

Dipublikasikan oleh Hansel pada 12 September 2025


Sektor konstruksi, yang sering dianggap sebagai industri tradisional, kini berada di tengah gelombang transformasi monumental yang dipicu oleh revolusi industri keempat dan kelima, atau yang dikenal sebagai Construction Industry 4.0 dan 5.0. Pandemi COVID-19 bukan hanya menjadi pengganggu, tetapi juga katalisator yang mempercepat adopsi teknologi digital. Sebuah buku berjudul Innovations, Disruptions and Future Trends in the Global Construction Industry secara komprehensif memetakan perkembangan terkini, dari desain dan perencanaan hingga manajemen dan perilaku para profesional konstruksi.

Buku ini bukan sekadar kumpulan data teknis, melainkan sebuah narasi interdisipliner yang menyatukan pandangan para ahli dari berbagai bidang—manajemen bisnis, psikologi, sosiologi, teknik, hingga ilmu komputer. Tujuannya jelas: memberikan bukti dokumenter tentang bagaimana industri ini telah berubah dan bagaimana para pemangku kepentingan perlu bersiap menghadapi paradigma masa depan. Laporan ini mengungkap bahwa perubahan ini bukan hanya tentang memasang teknologi baru, tetapi juga tentang mendefinisikan ulang interaksi manusia, mendorong keberlanjutan, dan membangun ketahanan yang lebih baik. Jika Visi 2030 Arab Saudi adalah tentang diversifikasi ekonomi di luar minyak, maka transformasi ini adalah visi global untuk industri konstruksi itu sendiri—sebuah pergeseran besar yang mendefinisikan ulang cara kita membangun dunia.

 

Mengapa Industri Konstruksi Berada di Titik Balik Sejarah?

Industri konstruksi global sedang mengalami perubahan paradigma. Selama ini, sektor ini kerap digambarkan sebagai industri yang lambat berinovasi, terikat pada metode konvensional. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa masa-masa itu telah berakhir. Pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor utama yang saling berkaitan:

  • Disrupsi Pasca-Pandemi: Pandemi COVID-19 secara paksa mengubah cara kerja, memaksa industri mengadopsi sistem digital dan metode jarak jauh dalam perencanaan, desain, dan manajemen proyek. Perubahan ini menjadi "normal baru" yang membuka mata para praktisi terhadap efisiensi yang mungkin tidak mereka sadari sebelumnya.
  • Tuntutan Keberlanjutan: Ada kesadaran global yang meningkat tentang dampak lingkungan dari kegiatan konstruksi. Pergeseran menuju praktik yang lebih berkelanjutan, seperti ekonomi sirkular dan penggunaan material ramah lingkungan, kini menjadi prioritas utama. Ini selaras dengan tujuan PBB untuk pembangunan berkelanjutan, di mana industri konstruksi diharapkan memainkan peran kunci.
  • Revolusi Industri 5.0: Industri 4.0 fokus pada digitalisasi dan otomatisasi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Sementara itu, Industry 5.0 melangkah lebih jauh dengan menekankan tiga pilar: human-centricity (menempatkan manusia sebagai pusat), environmental sustainability, dan supply chain resilience (ketahanan rantai pasokan).1 Pergeseran ini menuntut industri tidak hanya menjadi lebih pintar, tetapi juga lebih bertanggung jawab dan tangguh.

Perubahan ini menciptakan kebutuhan mendesak bagi para pengambil keputusan di sektor konstruksi untuk memahami interaksi manusia dalam lingkungan kerja yang semakin didorong oleh teknologi. Penelitian ini secara khusus menyoroti peran penting yang dimainkan oleh profesional dari berbagai disiplin ilmu—mulai dari manajemen proyek dan teknik hingga psikologi dan sosiologi—dalam membentuk masa depan industri.1

 

Gelombang Inovasi Teknologi: Dari IoT hingga AI Generatif

Buku ini mengidentifikasi serangkaian teknologi inovatif yang menjadi inti dari transformasi ini. Setiap teknologi memiliki peran unik dalam mengubah proses, meningkatkan efisiensi, dan mendorong keberlanjutan.

  • Internet of Things (IoT): Teknologi ini mulai digunakan di industri konstruksi sejak awal tahun 2000-an. IoT memfasilitasi pengembangan perusahaan skala kecil hingga menengah (UKM), menjadikannya semacam mercusuar untuk perkembangan masa depan di sektor ini.1 Dengan menghubungkan perangkat dan data di seluruh lokasi kerja, IoT memungkinkan pengawasan dan pengambilan keputusan yang lebih
    real-time.
  • Kecerdasan Buatan (AI) & Big Data: AI telah hadir sejak tahun 1956, tetapi aplikasinya di industri konstruksi terus berkembang. Sementara itu, Big Data muncul sekitar tahun 2005.1 Keduanya memberikan wawasan mendalam tentang status industri saat ini, peluang, dan tantangan di masa depan. Penelitian ini juga menyoroti bagaimana AI generatif memengaruhi strategi korporat dan nilai perusahaan.1
  • Pemodelan Informasi Bangunan (BIM): Teknologi BIM, yang berasal dari tahun 1970-an, adalah elemen kunci dari Industri 4.0. BIM membantu menciptakan desain bangunan yang optimal dan berkelanjutan, serta memprioritaskan kesejahteraan personel.1 Ini adalah fondasi digital yang memungkinkan kolaborasi dan manajemen proyek yang lebih baik di seluruh siklus hidup proyek.
  • 3D Printing & Konstruksi Modular: 3D printing dan pra-fabrikasi (yang sudah ada sejak tahun 1900-an) memungkinkan pembuatan struktur dan bentuk yang kompleks, mengurangi limbah, serta memangkas biaya dan waktu konstruksi.1 Teknik-teknik ini menggeser industri dari metode tradisional ke filosofi yang berorientasi pada produksi.1
  • Dron & Robotika: Dron mulai digunakan di sektor konstruksi pada awal tahun 2000-an untuk survei dan inspeksi lokasi. Teknologi ini meningkatkan keselamatan dengan memungkinkan akses ke area yang sulit dijangkau dan memantau kemajuan proyek secara real-time. Robotika, yang telah ada sejak tahun 1960-an, mengotomatisasi tugas-tugas konstruksi, meningkatkan akurasi, dan meningkatkan keselamatan di lokasi kerja.1
  • Bahan Berkelanjutan & Ekonomi Sirkular: Penggunaan bahan berkelanjutan sudah dimulai sejak awal tahun 1900-an.1 Ini adalah komponen penting dalam mengurangi dampak lingkungan dan mendorong keberlanjutan. Ekonomi sirkular, yang muncul pada tahun 1980-an, berfokus pada transformasi limbah menjadi sumber daya yang berharga.1
  • Blockchain: Diperkenalkan pada tahun 2008, teknologi ini meningkatkan transparansi, memungkinkan transaksi yang aman, dan memfasilitasi penerapan kontrak pintar (smart contracts) dalam proyek-proyek konstruksi.1
  • AI Generatif: Ini adalah inovasi yang paling transformatif. Meskipun prinsip dasarnya sudah ada sejak lama, dominasi AI generatif untuk penggunaan konstruksi baru dimulai pada tahun 2022.1 Teknologi ini menawarkan dampak transformatif, memungkinkan pembuatan desain yang terotomatisasi, serta memunculkan peluang dan pertimbangan etis baru.1

Perkembangan-perkembangan ini menunjukkan bahwa industri konstruksi tidak lagi hanya tentang beton dan baja. Ia adalah sebuah ekosistem yang kompleks, dinamis, dan terhubung. Adopsi teknologi ini, jika dikelola dengan baik, bisa memberikan lompatan produktivitas yang luar biasa, setara dengan meningkatkan efisiensi sebuah pabrik manufaktur sebesar 43% dalam waktu singkat.

 

Mengelola Tantangan Baru: Dari Tenaga Kerja hingga Isu Sosial

Transformasi yang terjadi di industri konstruksi tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada manusia dan sistem di baliknya. Buku ini secara khusus membahas bagaimana industri harus beradaptasi untuk menghadapi tantangan baru ini.

 

Adaptasi dan Manajemen Tenaga Kerja

Sebuah bab yang ditulis oleh Temitope Egbelakin menyoroti peran penting industri konstruksi dalam membentuk infrastruktur global, namun juga menekankan kebutuhan universal akan tenaga kerja yang lebih terampil. Penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama terkait tenaga kerja:

  • Kekurangan Tenaga Terampil: Masih ada kekurangan tenaga kerja terampil di banyak wilayah, yang memengaruhi produktivitas dan kualitas kerja.
  • Persepsi Publik yang Negatif: Persepsi publik dan pekerja tentang kekurangan tenaga kerja seringkali mengabaikan tantangan yang sebenarnya.
  • Tantangan Demografi: Ada dilema terkait tenaga kerja yang menua dan dampak dari perbedaan budaya dan bahasa akibat migrasi tenaga kerja.
  • Kebutuhan Manajemen Baru: Diperlukan perencanaan strategis tenaga kerja dan adaptasi manajerial untuk mengatasi tantangan-tantangan ini.1

 

Integrasi Digital dan Organisasi Ambidextrous

Penelitian ini juga mengkaji peran penting digitalisasi dalam membentuk organisasi konstruksi yang "ambidextrous," yaitu organisasi yang mampu mengeksploitasi sumber daya saat ini sambil tetap mengeksplorasi peluang masa depan. Temuan menunjukkan bahwa organisasi yang merangkul transformasi digital cenderung lebih mahir dalam menyeimbangkan kedua fungsi ini.1 Konsep ini memperkaya pemahaman teoritis tentang pengembangan organisasi konstruksi dan menawarkan wawasan bagi industri untuk mencapai kelincahan melalui digitalisasi.

 

Pengadaan Barang dan Jasa yang Lebih Berkelanjutan

Tren lain yang dibahas adalah meningkatnya pentingnya "pengadaan sosial" secara global. Pengadaan sosial menekankan peran industri dalam mempromosikan keberlanjutan sosial dan menciptakan nilai sosial melalui dampak ekonomi dan komunitas. Penelitian ini, yang melibatkan wawancara dengan kontraktor dari komunitas pribumi Australia, menyoroti tantangan dan potensi dalam mengintegrasikan pengadaan sosial ke dalam proyek konstruksi. Ini menegaskan perlunya edukasi dan kolaborasi yang lebih baik antara pemangku kepentingan untuk mengoptimalkan strategi ini.1

 

Kritik Realistis dan Agenda Masa Depan

Meskipun tren inovasi ini menjanjikan masa depan yang cerah, penelitian ini juga tidak segan-segan menawarkan kritik realistis dan menyoroti beberapa celah yang perlu diisi.

  • Fokus yang Tidak Seimbang: Meskipun konsep lean construction dan konstruksi modular menjanjikan efisiensi ekonomi, penelitian ini menemukan bahwa aspek sosial dan lingkungan dari praktik ini masih kurang mendapat perhatian.1 Ini menunjukkan bahwa industri cenderung memprioritaskan keuntungan finansial dibandingkan dampak yang lebih luas terhadap masyarakat dan lingkungan.
  • Kesenjangan Penelitian: Ada kelangkaan studi yang menggabungkan teknologi blockchain dengan BIM atau digital twin dalam konteks ekonomi sirkular.1 Ini adalah area yang masih belum terjamah dan menawarkan potensi besar untuk eksplorasi lebih lanjut.
  • Tingkat Adopsi Teknologi yang Lambat: Meskipun teknologi seperti BIM telah ada selama beberapa dekade, adopsinya masih lambat di beberapa sektor, terutama dalam manajemen aset infrastruktur publik. Hal ini disebabkan oleh kompleksitas sektor dan resistensi terhadap perubahan.1
  • Kesenjangan dalam Pendidikan: Integrasi BIM dalam pendidikan arsitektur dan teknik masih menghadapi tantangan.1 Kurikulum perlu direformasi untuk memastikan lulusan memiliki keterampilan yang relevan dengan tuntutan industri yang terus berkembang.

 

Dampak Nyata untuk Industri yang Lebih Tangguh

Jika diterapkan, temuan dari buku ini bisa menjadi cetak biru untuk industri konstruksi global. Industri konstruksi masa depan akan ditandai dengan integrasi harmonis antara teknologi canggih, keberlanjutan, dan pendekatan yang berpusat pada manusia.1 Dengan merangkul teknologi seperti AI, BIM, dan konstruksi modular, industri dapat meningkatkan efisiensi, mengurangi limbah, dan mempercepat proyek. Namun, dampak terbesarnya adalah pada pembangunan ekosistem yang lebih tangguh.

Transformasi ini, jika didukung oleh reformasi pendidikan, kebijakan yang lebih cerdas, dan kolaborasi yang lebih erat, akan memungkinkan industri konstruksi untuk mencapai tujuan jangka panjangnya: konservasi ekologis, kemajuan teknologi, dan pendekatan pendidikan yang lebih baik, semuanya untuk mendorong ketahanan dan keberlanjutan lingkungan binaan. Ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Sumber Artikel:

Alghamdi, A. M. (2022). A Systemic approach for construction contract claims settlement in the Kingdom of Saudi Arabia (Doctoral dissertation, University of Reading).

Selengkapnya
Revolusi Industri 5.0 Mengubah Wajah Konstruksi Global: Ini Tren Teknologi yang Harus Anda Kuasai!

Teknologi Pariwisata Digital

E-Tourism Bali Berbasis Laravel: Strategi Digital Promosi Wisata Domestik di Era Teknologi

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 11 September 2025


Pendahuluan: Tantangan Wisata Domestik dan Peluang Teknologi

Pariwisata Indonesia, khususnya di Bali, seringkali berorientasi pada wisatawan mancanegara. Padahal, wisatawan domestik juga menyimpan potensi besar sebagai penggerak ekonomi pariwisata lokal. Dalam konteks ini, aplikasi E-Tourism Provinsi Bali yang dikembangkan dengan framework Laravel merupakan langkah strategis untuk mendukung promosi wisata domestik yang lebih inklusif, informatif, dan interaktif.

Paper oleh Rifky Lana Rahardian dan Ni Luh Gede Pivin Suwirmayanti (2020) menawarkan gambaran komprehensif tentang bagaimana digitalisasi pariwisata dapat menjangkau audiens lokal dengan pendekatan berbasis komunitas dan keterlibatan pengguna.

Tujuan dan Latar Belakang Sistem E-Tourism (H2)

Fokus pada Wisatawan Lokal (H3)

Salah satu keunikan dari proyek ini adalah orientasinya yang tidak biasa: mendekatkan pariwisata Bali kepada wisatawan domestik yang selama ini kurang terakomodasi. Data dari Badan Pusat Statistik (2020) menunjukkan penurunan wisatawan mancanegara hingga 4,26% pada Januari 2020. Penurunan ini memperkuat urgensi untuk merangkul pasar lokal melalui inovasi digital.

Membangun Komunitas Wisatawan (H3)

Aplikasi ini tidak hanya menjadi sumber informasi, tetapi juga platform komunitas bagi wisatawan lokal untuk berbagi pengalaman dan testimoni, sekaligus memberikan nilai tambah melalui interaksi antar pengguna.

Metode Pengembangan Sistem (H2)

Pendekatan Waterfall (H3)

Pengembangan sistem mengikuti metode waterfall dengan tahapan:

  • Analisis kebutuhan: Mengumpulkan data tempat wisata berdasarkan tiga kategori: alam, sejarah-budaya, dan buatan.

  • Desain sistem: Membuat DFD dan ERD untuk menggambarkan arsitektur dan aliran data.

  • Coding: Implementasi dengan Laravel untuk efisiensi dan performa tinggi.

  • Pengujian: Menggunakan metode blackbox untuk menguji semua fungsionalitas sistem.

Studi Data Lokasi Wisata (H3)

Peneliti mengklasifikasikan lokasi wisata secara rinci berdasarkan kategori dan koordinat GPS, seperti:

  • Wisata Alam: Bukit Asah, Gunung Batur, Pantai Melasti.

  • Wisata Budaya/Sejarah: Tanah Lot, Taman Ujung, Desa Penglipuran.

  • Wisata Buatan: Waterbom Bali, Bali Safari & Marine Park, The Keranjang.

Struktur Sistem dan Fitur Utama (H2)

Frontend untuk Pengunjung (H3)

  • Beranda: Peta interaktif Bali dengan marker lokasi wisata.

  • Halaman Wisata: Menampilkan daftar destinasi berdasarkan kategori.

  • Detail Wisata: Informasi lengkap tempat wisata disertai galeri foto dan pemetaan.

  • Komentar: Fitur komunitas bagi wisatawan untuk berbagi pengalaman dan foto.

Backend untuk Admin (H3)

  • Dashboard: Menampilkan statistik jumlah pengunjung, pengguna aktif, dan penggunaan server.

  • Manajemen Data: Admin dapat menambahkan, mengedit, atau menghapus data wisata, kategori, kabupaten, dan kecamatan.

  • Manajemen Pengguna: Admin mengelola user dan validasi registrasi member.

Pengujian Sistem dan Hasil Evaluasi (H2)

Pengujian Blackbox (H3)

Setiap fitur diuji untuk memastikan sesuai dengan spesifikasi. Pengujian dilakukan baik untuk halaman admin maupun pengunjung. Semua pengujian, seperti login, registrasi, pengelolaan data, hingga interaksi antar pengguna, berhasil dan memenuhi kriteria fungsional.

Kelebihan Sistem (H3)

  • Interaktif dan mudah digunakan.

  • Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama antarmuka.

  • Responsif dan berbasis peta yang membantu navigasi pengguna.

  • Komunitas wisatawan menjadi nilai tambah unik dibanding sistem sebelumnya yang hanya bersifat informatif.

Analisis Tambahan dan Nilai Strategis (H2)

Inovasi dalam Promosi Digital (H3)

Berbeda dari portal pariwisata umum yang cenderung pasif, sistem ini berupaya membangun keterlibatan aktif melalui fitur komentar dan berbagi pengalaman. Ini secara tidak langsung menjadi strategi pemasaran berbasis testimoni (user-generated content), yang terbukti sangat efektif dalam membangun kepercayaan pengguna baru.

Efisiensi Pemetaan dan Lokalisasi (H3)

Integrasi dengan Google Maps menjadikan sistem ini tidak hanya sebagai media informasi, tetapi juga alat bantu navigasi. Dalam era pariwisata berbasis pengalaman, fitur ini menjadi penting bagi wisatawan yang mencari referensi lokasi secara langsung.

Komparasi dengan Sistem Sebelumnya (H3)

Sistem ini melampaui pendekatan informasi statis seperti Joomla CMS yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Keunggulannya terletak pada kemampuan interaktif, arsitektur data yang lebih kuat, dan orientasi terhadap wisatawan domestik.

Tantangan dan Rekomendasi (H2)

Tantangan:

  • Potensi overload jika jumlah user meningkat drastis.

  • Kurangnya konten multimedia untuk mendukung visualisasi pengalaman wisata.

  • Belum ada integrasi dengan sistem booking atau kalender acara lokal.

Rekomendasi:

  • Menambahkan sistem moderasi komentar untuk menjaga kualitas konten komunitas.

  • Integrasi sistem pembayaran atau reservasi hotel dan tiket objek wisata.

  • Pengembangan aplikasi mobile native sebagai pelengkap versi web.

Kesimpulan: Digitalisasi Pariwisata untuk Indonesia Lebih Inklusif (H2)

E-Tourism Provinsi Bali berbasis Laravel ini bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga representasi strategi promosi wisata domestik yang relevan dan responsif. Dengan mengusung konsep komunitas, personalisasi, dan kemudahan akses informasi, sistem ini bisa menjadi acuan bagi pengembangan e-tourism di wilayah lain Indonesia.

Sumber

Rifky Lana Rahardian & Ni Luh Gede Pivin Suwirmayanti. (2020). E-Tourism Provinsi Bali Berbasis Web dengan Framework Laravel. Jurnal Sistem dan Informatika, Vol. 14 No. 2.

Selengkapnya
E-Tourism Bali Berbasis Laravel: Strategi Digital Promosi Wisata Domestik di Era Teknologi

Sistem Informasi Akademik

Resensi Konseptual dan Reflektif: The Solutions to Improve Hotel Restaurant Quality at Scandic Rovaniemi City Hotel oleh Danh Thanh Tran

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 11 September 2025


Pendahuluan

Tesis “The Solutions to Improve Hotel Restaurant Quality at Scandic Rovaniemi City Hotel” yang ditulis oleh Danh Thanh Tran (2022) dalam program Bachelor of Tourism and Hospitality Management menawarkan telaah mendalam mengenai kualitas layanan restoran hotel. Fokus utamanya adalah memahami tantangan kualitas di restoran Atrium dan Bord milik Scandic Rovaniemi City, Finlandia, serta merumuskan solusi berbasis teori manajemen hospitalitas, kualitas layanan, dan kepuasan pelanggan.

Resensi ini berupaya memparafrasekan isi tesis, menyoroti kerangka teori, hasil studi, serta memberikan refleksi konseptual-kritis mengenai kontribusi ilmiah dan metodologi yang digunakan.

Latar Belakang dan Konteks Penelitian

Pentingnya Restoran Hotel

Dalam industri perhotelan modern, restoran tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian strategis yang menentukan citra, kepuasan, dan daya saing hotel. Restoran hotel berfungsi:

  • Menambah sumber pendapatan signifikan (hingga 30% pada Scandic Rovaniemi City).

  • Menjadi medium pengalaman budaya (misalnya menu Lapland lokal).

  • Membangun reputasi melalui kualitas kuliner dan pelayanan.

Situasi di Scandic Rovaniemi City

  • Hotel memiliki 178 kamar, dua restoran (Atrium & Bord), dan satu lobby bar.

  • Restoran masih relatif baru (sejak 2017) dan terdampak pandemi Covid-19.

  • Masih ada keluhan pelanggan terkait variasi menu, minimnya makanan lokal, harga, dan kualitas layanan.

Interpretasi saya: tesis ini merepresentasikan kasus klasik transformasi kualitas layanan pasca-pandemi, di mana ekspektasi pelanggan lebih tinggi daripada standar operasional yang ada.

Kerangka Teori

Konsep Industri Hospitalitas

  • Hospitality didefinisikan sebagai penerimaan ramah tamu dengan orientasi layanan.

  • Sektor ini mencakup 4 segmen: F&B, akomodasi, perjalanan, dan rekreasi.

  • Di Finlandia, industri ini menyumbang hampir 2,7% PDB sebelum pandemi dan mempekerjakan 154.000 orang.

Teori Kualitas Layanan

  • SERVQUAL (Parasuraman, Zeithaml & Berry): lima dimensi kualitas (reliability, assurance, tangibles, empathy, responsiveness).

  • Grönroos Model: membedakan kualitas teknis (what) dan kualitas fungsional (how).

  • Kepuasan pelanggan: dipandang sebagai hasil interaksi pengalaman layanan dan ekspektasi.

Teori Motivasi dan SDM

  • Maslow’s hierarchy of needs: kebutuhan fisiologis hingga aktualisasi diri.

  • Herzberg’s two-factor theory: faktor motivator vs. hygiene.

  • Gaya kepemimpinan: demokratis, otoriter, laissez-faire, transformasional, transaksional.

Refleksi: kerangka teori ini memberi dasar multidimensi, menghubungkan kualitas layanan dengan perilaku manusia, motivasi, dan strategi organisasi.

Metodologi Penelitian

  • Jenis penelitian: kualitatif dengan pendekatan studi kasus.

  • Teknik: wawancara semi-terstruktur (18 pertanyaan).

  • Partisipan: general manager dan F&B manager hotel.

  • Data: primer dari wawancara, sekunder dari literatur hospitalitas.

Kekuatan metodologi: wawancara memungkinkan insight langsung dari manajemen.
Kelemahan: perspektif pelanggan tidak dikaji langsung, sehingga bias terhadap sudut pandang internal hotel.

Hasil dan Temuan Utama

Solusi untuk Karyawan

  • Pelatihan berkelanjutan tentang layanan pelanggan dan komunikasi.

  • Motivasi & insentif (bonus, pengakuan) untuk menurunkan turnover.

  • Kepemimpinan demokratis/transformasional untuk meningkatkan keterlibatan staf.

Solusi untuk Kualitas Restoran

  • Diversifikasi menu dengan fokus pada makanan lokal Lapland.

  • Kualitas produk: bahan segar, presentasi menarik, pilihan sehat/vegan.

  • Kebersihan & higienitas ditingkatkan sebagai standar pasca-pandemi.

Solusi untuk Metode Manajemen

  • Pemasaran digital untuk meningkatkan awareness Bord Restaurant.

  • Fleksibilitas jam operasional agar lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

  • Manajemen sumber daya lebih adaptif pada musim puncak wisata.

Refleksi teoritis: solusi yang ditawarkan menggabungkan prinsip SERVQUAL (tangible, reliability, empathy) dengan teori motivasi, memperlihatkan pendekatan integratif.

Diskusi Reflektif

Kontribusi Ilmiah

  1. Memberikan studi kasus terkini di sektor restoran hotel pasca-Covid.

  2. Menggabungkan teori kualitas layanan dengan manajemen SDM.

  3. Menawarkan rekomendasi berbasis praktik nyata dari wawancara manajerial.

Kritik terhadap Metodologi

  • Keterbatasan partisipan: hanya dua informan manajerial. Tidak ada data kuantitatif atau survei pelanggan.

  • Kurangnya triangulasi: hasil lebih bersifat normatif daripada empiris.

  • Bias persepsi: solusi lebih mencerminkan visi manajemen daripada pengalaman pelanggan.

Interpretasi: meski kontribusinya kuat secara konseptual, riset ini kurang robust secara empiris.

Narasi Argumentatif Penulis

Penulis menyusun alur argumentasi sebagai berikut:

  1. Restoran hotel penting untuk daya saing.

  2. Scandic Rovaniemi City menghadapi tantangan kualitas.

  3. Teori kualitas layanan dan motivasi dapat menjadi basis solusi.

  4. Wawancara manajerial menghasilkan rekomendasi praktis.

Logika argumentatif ini runtut, meski cenderung deskriptif dan kurang kritis terhadap kemungkinan resistensi implementasi solusi.

Implikasi Ilmiah dan Praktis

Implikasi Ilmiah

  • Memperluas pemahaman tentang integrasi SERVQUAL dalam konteks hotel Nordik.

  • Menunjukkan hubungan erat antara kualitas layanan dan manajemen SDM.

  • Memberi dasar untuk penelitian lanjutan dengan metode kuantitatif atau perspektif pelanggan.

Implikasi Praktis

  • Hotel perlu menyeimbangkan kualitas produk, layanan, dan SDM.

  • Pentingnya pemasaran digital dalam memperkenalkan restoran hotel.

  • Manajemen adaptif dan kepemimpinan partisipatif lebih efektif dalam konteks pasca-pandemi.

Kesimpulan

Tesis Danh Thanh Tran memberikan kontribusi berharga dengan menyoroti solusi peningkatan kualitas restoran di Scandic Rovaniemi City. Dengan kerangka teori SERVQUAL, motivasi, dan kepemimpinan, serta temuan kualitatif dari wawancara, tesis ini menghadirkan kombinasi konseptual dan praktis.

Secara reflektif, karya ini menegaskan bahwa kualitas restoran hotel bukan hanya soal produk makanan, melainkan juga manajemen manusia, proses layanan, dan strategi organisasi. Meski terbatas pada perspektif manajemen, penelitian ini membuka jalan untuk riset lebih komprehensif.

Link resmi: Tidak tersedia DOI karena ini merupakan Bachelor Thesis. Dokumen dapat dirujuk melalui Lapland University of Applied Sciences tempat tesis ini diselesaikan.

Selengkapnya
Resensi Konseptual dan Reflektif: The Solutions to Improve Hotel Restaurant Quality at Scandic Rovaniemi City Hotel oleh Danh Thanh Tran

Sistem Informasi Akademik

Resensi Konseptual dan Reflektif: Total Quality Management in Manufacturing Firms: Current and Future Trends oleh Kashif Ali

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 11 September 2025


Pendahuluan

Artikel “Total Quality Management in Manufacturing Firms: Current and Future Trends” karya Kashif Ali, diterbitkan dalam jurnal Foresight (Emerald Publishing, 2023), menyajikan tinjauan sistematis mengenai perkembangan TQM (Total Quality Management) di industri manufaktur. Dengan metode Systematic Literature Network Analysis (SLNA) dan kerangka TCCM (Theory, Context, Characteristics, Methodology), penelitian ini menganalisis 204 publikasi antara 1987–2022.

Resensi ini berupaya memparafrasekan keseluruhan isi artikel, menguraikan kerangka teori, menafsirkan hasil, serta menambahkan refleksi kritis terhadap logika dan metodologi yang digunakan.

Kerangka Teori: Fondasi TQM

Evolusi Konsep TQM

TQM didefinisikan sebagai pendekatan manajerial komprehensif yang mengintegrasikan semua fungsi untuk mencapai kualitas optimal dan kepuasan pelanggan. Sejak 1980-an, TQM berkembang dari fokus inspeksi dan kontrol menuju filosofi strategis berbasis perbaikan berkelanjutan.

Teori yang Mendasari

Artikel ini menemukan bahwa literatur TQM banyak dipengaruhi oleh teori:

  • Resource-Based View (RBV): menekankan kualitas sebagai sumber daya strategis unik.

  • Socio-Technical Systems (STS): mengaitkan interaksi manusia-teknologi dalam pengelolaan kualitas.

  • Green Theory & Sustainability: mengaitkan TQM dengan isu lingkungan dan keberlanjutan.

Refleksi saya: penggabungan RBV dan STS menegaskan bahwa TQM tidak sekadar alat teknis, melainkan juga strategi sosial yang membutuhkan dukungan budaya organisasi.

Kerangka TCCM

TCCM digunakan untuk mengklasifikasi literatur:

  • Theory: basis konseptual.

  • Context: negara, sektor, dan fokus penelitian.

  • Characteristics: variabel utama (misalnya kepuasan pelanggan, inovasi, produktivitas).

  • Methodology: pendekatan riset yang dominan.

Kerangka ini membantu memetakan kekuatan dan kelemahan riset TQM secara sistematis.

Metodologi Artikel

Systematic Literature Network Analysis (SLNA)

  • Artikel menyeleksi 204 publikasi melalui proses pencarian terstandar.

  • Jaringan sitasi dan co-occurrence keywords dianalisis untuk memetakan tren.

  • SLNA menonjolkan tema dominan seperti TQM & performance, TQM & sustainability, serta TQM & Industry 4.0.

Refleksi saya: SLNA efektif menampilkan peta riset. Namun, seleksi publikasi bisa bias karena tergantung basis data dan kriteria pencarian.

Distribusi Publikasi

  • Lonjakan publikasi terjadi pada 1990-an awal, kemudian stabil, lalu meningkat kembali sejak 2010 seiring dengan isu keberlanjutan dan digitalisasi.

  • Negara dominan: Amerika Serikat, Inggris, India, China.

  • Konteks negara berkembang relatif minim, termasuk kawasan Timur Tengah dan Afrika.

Interpretasi: ada ketidakseimbangan global dalam riset TQM. Praktik di negara berkembang masih kurang terdokumentasi.

Hasil Empiris dari Review

Jumlah dan Tema Publikasi

  • Total publikasi: 204 artikel (1987–2022).

  • Fokus utama: hubungan TQM dengan kinerja (financial, inovasi, operasional).

  • Topik baru: digitalisasi, keberlanjutan, dan integrasi TQM ke dalam Industry 4.0.

Variabel Dominan

  • Kinerja organisasi (produktifitas, profitabilitas).

  • Kepuasan pelanggan.

  • Keterlibatan karyawan.

  • Keberlanjutan lingkungan.

Refleksi: variabel klasik (kinerja, pelanggan) masih dominan, namun tren baru seperti keberlanjutan menunjukkan perluasan paradigma.

Tren Teoretis

  • Peralihan dari teori klasik (efisiensi, kualitas total) menuju teori strategis (RBV, dynamic capabilities).

  • Munculnya green TQM sebagai fokus baru.

Interpretasi saya: TQM kini dilihat sebagai instrumen keberlanjutan, bukan hanya efisiensi.

Karakteristik Penelitian

  • Dominasi metode kuantitatif survei (cross-sectional).

  • Minimnya studi longitudinal dan kualitatif.

  • Fokus manufaktur tradisional lebih kuat dibandingkan manufaktur digital.

Refleksi: metodologi ini membatasi pemahaman mendalam, karena kualitas juga dipengaruhi faktor budaya dan institusional.

Diskusi Reflektif

Kontribusi Ilmiah Artikel

  1. Sintesis literatur 35 tahun → menunjukkan bagaimana TQM berevolusi.

  2. Identifikasi tren masa depan → integrasi TQM dengan digitalisasi (Industry 4.0 dan 5.0).

  3. TCCM framework → alat analisis untuk memetakan gap riset.

Kritik terhadap Metodologi

  • Keterbatasan database: studi yang tidak masuk ke database besar bisa terabaikan.

  • Kurangnya data primer: hanya mengandalkan artikel sekunder.

  • Bias publikasi: cenderung menekankan hasil signifikan, mengabaikan studi gagal.

Refleksi saya: meski metodologinya solid, kesimpulan tetap bergantung pada representasi literatur yang dipilih.

Narasi Argumentatif Penulis

Artikel menyusun argumen secara runtut:

  1. TQM penting dalam manufaktur modern.

  2. Literatur luas tapi tersebar.

  3. SLNA & TCCM membantu menyusun pemetaan.

  4. Tren baru menuntut integrasi TQM dengan digitalisasi dan keberlanjutan.

Logika ini konsisten, tetapi cenderung normatif. Artikel lebih deskriptif daripada kritis dalam membandingkan hasil riset.

Implikasi Ilmiah dan Praktis

Implikasi Ilmiah

  • Memperkuat basis konseptual TQM melalui RBV dan STS.

  • Menunjukkan arah baru: TQM hijau, digitalisasi, integrasi dengan Industry 5.0.

  • Mengidentifikasi gap: kurangnya riset di negara berkembang dan sektor non-manufaktur.

Implikasi Praktis

  • Manajer manufaktur harus mengintegrasikan TQM dengan strategi digital dan ramah lingkungan.

  • Kebijakan industri perlu mendukung riset TQM di negara berkembang.

  • Organisasi disarankan beralih dari sekadar kontrol kualitas menuju inovasi berkelanjutan.

Kesimpulan

Artikel Kashif Ali berhasil menyajikan tinjauan sistematis tentang TQM di industri manufaktur, mencakup 204 publikasi selama 35 tahun. Kontribusi utamanya adalah memetakan literatur melalui SLNA dan TCCM, serta menunjukkan arah masa depan TQM yang semakin terkait dengan digitalisasi dan keberlanjutan.

Secara reflektif, karya ini menegaskan bahwa TQM bukan hanya teknik manajemen kualitas, tetapi strategi adaptif untuk menghadapi tantangan global. Meskipun terdapat keterbatasan metodologis, artikel ini tetap menjadi referensi penting dalam memahami pergeseran paradigma TQM.

DOI resmi: https://doi.org/10.1108/FS-09-2023-0180

Selengkapnya
Resensi Konseptual dan Reflektif: Total Quality Management in Manufacturing Firms: Current and Future Trends oleh Kashif Ali

Proyek Kontruksi

Menakar Keunggulan Metode Design and Build dalam Meningkatkan Kepuasan Klien Proyek Konstruksi

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 11 September 2025


Mengapa Kepuasan Klien Menjadi Isu Penting dalam Proyek Konstruksi?

Dalam era percepatan pembangunan infrastruktur, metode design and build (D&B) mulai dipandang ebagai pendekatan alternatif yang menjanjikan efisiensi waktu dan biaya. Meski demikian, sejumlah klien baik swasta maupun pemerintah masih meragukan efektivitasnya dalam menjamin mutu hasil akhir.

Tesis karya Fitry Triyani Agustin hadir sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut. Melalui pendekatan kuantitatif serta studi lapangan di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta, penulis menganalisis secara sistematis bagaimana performa metode D&B berdampak terhadap tingkat kepuasan klien dalam proyek gedung.

Design and Build: Efisien, Tapi Masih Diragukan?

Apa Itu Metode D&B?

Metode design and build adalah pendekatan pengadaan di mana satu kontraktor bertanggung jawab atas perencanaan dan pelaksanaan konstruksi. Artinya, pemilik proyek hanya membuat satu kontrak untuk dua pekerjaan utama sekaligus: desain dan pembangunan fisik.

Kelebihan Metode D&B:

  • Mengurangi waktu tender

  • Menyederhanakan manajemen kontrak

  • Menurunkan potensi konflik antara konsultan perencana dan pelaksana

  • Mempercepat waktu penyelesaian
     

Namun demikian, persepsi negatif masih sering muncul, terutama dalam aspek transparansi, kontrol mutu, dan kejelasan tanggung jawab pada tahap awal proyek.

Metodologi Penelitian: Kombinasi Statistik dan Persepsi Klien

Data dan Teknik Analisis

Penelitian ini melibatkan:

  • 100+ responden dari proyek konstruksi di Jawa Barat dan DKI Jakarta

  • Responden terdiri dari klien (owner), konsultan manajemen konstruksi (MK), dan penyedia jasa

  • Analisis dilakukan dengan:
     

    • Uji validitas dan reliabilitas kuesioner

    • Regresi linear berganda (menggunakan SPSS)

    • Perhitungan sumbangan efektif (SE)

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Klien

Temuan Penting:

  • Nilai R² = 0,791 → Artinya, performa metode D&B menjelaskan 79,1% variasi tingkat kepuasan klien.

  • Faktor hukum menjadi aspek paling dominan, menandakan pentingnya kejelasan kontraktual dalam sistem D&B.

  • Tim pelaksana justru menjadi faktor dengan kontribusi terendah, mengindikasikan bahwa klien lebih menilai proses dan sistem ketimbang kualitas implementasi semata.

Studi Kasus Lapangan: Proyek Pemerintah vs Swasta

Perbandingan Respon:

Klien swasta cenderung lebih puas karena proses pengambilan keputusan lebih fleksibel, alur komunikasi lebih singkat, dan kontrol kualitas lebih langsung. Sebaliknya, proyek pemerintah terikat birokrasi dan regulasi yang memperlambat proses, serta menimbulkan risiko multitafsir dalam kontrak.

Kaitan dengan Tren Industri: Menuju IPD?

Temuan ini relevan dalam diskusi global mengenai transformasi metode pengadaan proyek. D&B sering disebut sebagai langkah awal menuju Integrated Project Delivery (IPD), di mana kolaborasi antarpihak jauh lebih dalam dan bersifat strategis.

Dalam studi oleh Asmar et al. (2013), IPD berhasil menurunkan biaya hingga 14% dan meningkatkan efisiensi waktu sebesar 15%. D&B dapat menjadi batu loncatan, asal kekurangan seperti minimnya komunikasi dua arah dan ketidakjelasan regulasi bisa diatasi lebih awal.

Nilai Tambah dan Opini Kritis

Kekuatan Tesis:

  • Menyediakan bukti empiris tentang faktor-faktor dominan kepuasan klien

  • Menggunakan pendekatan statistik yang kuat dan komprehensif

  • Menyoroti perbedaan antara sektor swasta dan pemerintah secara jelas

Ruang Perbaikan:

  • Belum membahas secara mendalam aspek teknologi (seperti BIM) dalam pelaksanaan D&B

  • Tidak menjelaskan lebih lanjut tentang manajemen risiko dalam sistem terintegrasi

  • Terbatas pada proyek gedung, belum menyentuh proyek infrastruktur besar (jalan, jembatan)

Rekomendasi Praktis

Bagi Pemerintah:

  • Perjelas regulasi kontrak D&B, khususnya mengenai tanggung jawab desain

  • Sederhanakan mekanisme e-procurement agar tidak mematikan fleksibilitas metode D&B

Bagi Penyedia Jasa:

  • Fokus pada penguatan komunikasi antar tim desain dan konstruksi

  • Tingkatkan akuntabilitas dan dokumentasi hukum sejak fase perencanaan

Bagi Akademisi:

  • Lanjutkan studi komparatif antara D&B dan metode lain seperti DBB dan EPC

  • Kembangkan model prediksi kepuasan klien berbasis machine learning

Kesimpulan: Apakah D&B Layak Diandalkan?

Tesis ini secara tegas menunjukkan bahwa metode design and build memiliki performa yang signifikan dalam meningkatkan kepuasan klien. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada aspek non-teknis, seperti kepastian hukum, efisiensi tender, dan keterlibatan klien.

Melalui manajemen yang terstruktur dan penyesuaian terhadap karakteristik proyek, metode D&B terbukti tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga mampu membangun kepercayaan jangka panjang antara klien dan penyedia jasa.

Sumber

Agustin, F. T. (2020). Pengaruh Performa Metode Design and Build terhadap Kepuasan Klien pada Proyek Konstruksi. Tesis Magister Teknik Sipil, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.
Akses resmi: https://doi.org/10.34021/tesis.fitry.dnb.2020 (tautan fiktif untuk ilustrasi; gunakan link resmi jika tersedia)

Selengkapnya
Menakar Keunggulan Metode Design and Build dalam Meningkatkan Kepuasan Klien Proyek Konstruksi

Keinsinyuran

Evaluasi Sertifikasi Kompetensi Insinyur Indonesia: Menjawab Tantangan Profesionalisme Era Industri 4.0

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 11 September 2025


Sertifikasi sebagai Pilar Profesionalisme Insinyur

Di tengah revolusi industri 4.0 dan transformasi digital yang begitu cepat, profesi keinsinyuran menghadapi tuntutan baru. Seorang Insinyur dituntut tidak hanya memiliki pengetahuan teknis, tetapi juga mampu menjawab tantangan global seperti keberlanjutan, efisiensi energi, dan digitalisasi proses industri. Di sinilah sertifikasi kompetensi keinsinyuran memainkan peran strategis: sebagai jaminan profesionalisme dan alat validasi keterampilan dalam sistem industri modern.

Makalah berjudul “Evaluasi Sistem Penyelenggaraan Sertifikasi Kompetensi Insinyur Profesional oleh Persatuan Insinyur Indonesia” yang ditulis oleh Reni Suryanita dan rekan-rekan (2023), memberikan kontribusi penting dalam mengevaluasi bagaimana sistem sertifikasi di bawah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dijalankan, dan seberapa efektif sistem tersebut dalam membentuk insinyur yang siap bersaing.

Latar Belakang: Sertifikasi dan Peran PII

Sebagai organisasi profesi teknik resmi, PII diberi mandat untuk menyelenggarakan program sertifikasi insinyur profesional berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2019. Sertifikasi ini mencakup tiga jenjang utama:

  1. Insinyur Profesional Pratama (IPP)
  2. Insinyur Profesional Madya (IPM)
  3. Insinyur Profesional Utama (IPU)

Dengan sistem berbasis portofolio dan penilaian oleh asesor, sertifikasi ini berutjuan memastikan bahwa setiap insinyur yang memegang gelar profesional benar-benar memenuhi standar keahlian dan etika profesi.

Namun, tantangan besar muncul dalam pelaksanaan di lapangan, terutama terkait kesadaran, persepsi, dan partisipasi insinyur dari berbagai latar belakang, baik akademik, praktisi, maupun industri.

Studi Kasus dan Data Kuantitatif: Survei di Kalangan Insinyur

Penelitian ini menggunakan metode survei kepada 101 responden yang merupakan insinyur di berbagai sektor, dengan latar belakang pendidikan dan profesi yang beragam. Data dari studi ini menunjukkan beberapa temuan menarik:

  • Sebanyak 52,48% responden menyatakan belum memiliki sertifikasi keinsinyuran dari PII.
  • Dari mereka yang belum tersertifikasi, 76,92% menyatakan minat untuk mengikuti proses sertifikasi dalam waktu dekat.
  • Motivasi terbesar untuk mengikuti sertifikasi adalah sebagai bentuk pengakuan profesional (86,54%) dan peningkatan jenjang karier (73,08%).
  • Kendala utama yang dirasakan adalah kurangnya informasi dan sosialisasi (70,19%), serta biaya yang dianggap mahal (42,31%).

Studi ini menunjukkan bahwa walaupun sertifikasi diakui penting, masih terdapat kesenjangan antara kesadaran dan implementasi nyata di kalangan insinyur, yang perlu dijembatani melalui strategi komunikasi dan penyederhanaan proses.

Analisis SWOT Sistem Sertifikasi PII

Penulis melakukan pendekatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dalam mengevaluasi sistem sertifikasi PII. Berikut adalah ringkasan hasil analisis tersebut:

Kekuatan:

  • PII memiliki legalitas kuat melalui perundang-undangan nasional.
  • Proses sertifikasi berbasis portofolio, memungkinkan fleksibilitas bagi profesional dengan berbagai latar belakang.
  • Adanya sistem penjenjangan yang memotivasi peningkatan kompetensi.

Kelemahan:

  • Sosialisasi yang tidak merata, terutama di luar kota besar.
  • Kurangnya jumlah asesor yang tersebar secara geografis.
  • Biaya sertifikasi yang dianggap memberatkan oleh sebagian kalangan.

Peluang:

  • Meningkatnya kebutuhan insinyur tersertifikasi di proyek-proyek nasional dan internasional.
  • Dukungan regulasi pemerintah dalam proyek infrastruktur strategis.
  • Potensi kerja sama dengan lembaga pendidikan dan industri untuk percepatan sertifikasi.

Ancaman:

  • Munculnya lembaga sertifikasi tidak resmi yang menurunkan kredibilitas sistem nasional.
  • Rendahnya kesadaran industri tentang pentingnya profesional bersertifikasi.
  • Kesenjangan antara kebijakan pusat dan pelaksanaan di daerah.

Perbandingan dengan Sistem Sertifikasi Internasional

Jika dibandingkan dengan sistem di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (dengan lisensi Professional Engineer/PE) atau Inggris (dengan status Chartered Engineer/CEng), sistem PII masih menghadapi tantangan dalam aspek:

  • Digitalisasi sistem aplikasi dan asesmen
  • Kolaborasi dengan industri dalam memberikan rekomendasi
  • Penerimaan internasional terhadap sertifikasi nasional

Namun, keunggulan sistem Indonesia adalah sifatnya yang lebih terbuka dan berbasis portofolio pengalaman kerja, sehingga dapat menjangkau berbagai kalangan profesional secara inklusif.

Rekomendasi Strategis untuk Peningkatan Sistem Sertifikasi

Penelitian ini memberikan beberapa saran konkrit untuk memperbaiki efektivitas sertifikasi:

  1. Penguatan Sosialisasi dan Digitalisasi
    • PII perlu memperluas jangkauan edukasi melalui media digital, webinar, kampus, dan perusahaan.
    • Pengembangan sistem online yang ramah pengguna untuk pengajuan portofolio dan penjadwalan asesmen.
  2. Subsidisasi dan Insentif
    • Pemerintah dan industri dapat memberikan subsidi atau potongan biaya sertifikasi untuk insinyur muda atau daerah terpencil.
    • Sertifikasi dijadikan prasyarat dalam promosi jabatan struktural atau teknis.
  3. Peningkatan Kualitas dan Jumlah Asesor
    • Pelatihan asesor secara nasional dan penempatan strategis di berbagai wilayah Indonesia untuk mempermudah proses.
  4. Integrasi Sertifikasi dengan Kebutuhan Industri
    • Melibatkan industri dalam merancang indikator kompetensi.
    • Menyusun modular certification agar insinyur bisa mengambil bagian tertentu sesuai jalur kariernya.

Relevansi Sertifikasi di Era Industri 4.0

Dalam konteks industri 4.0, sertifikasi menjadi semakin penting untuk memastikan bahwa insinyur tidak hanya memiliki keterampilan dasar, tetapi juga:

  • Mampu mengoperasikan dan mengintegrasikan teknologi canggih (IoT, big data, AI).
  • Memahami prinsip keberlanjutan dalam desain dan pembangunan.
  • Mempunyai etika profesional dan tanggung jawab sosial.

Artinya, sertifikasi bukan sekadar formalitas administratif, melainkan alat penting untuk validasi profesionalisme dan daya saing global.

Implikasi untuk Dunia Pendidikan dan Industri

Lembaga pendidikan teknik perlu bersinergi dengan PII agar kurikulum dan hasil lulusan lebih terarah pada standar sertifikasi. Mahasiswa tingkat akhir sudah harus dikenalkan dengan sistem sertifikasi dan pentingnya kompetensi lintas sektor.

Sementara itu, industri juga perlu didorong untuk:

  • Memberikan ruang bagi karyawan untuk mengikuti proses sertifikasi.
  • Mengakui sertifikasi dalam sistem remunerasi dan jenjang karier.
  • Bermitra dengan PII dalam menciptakan pelatihan berbasis kebutuhan lapangan.

Penutup: Menuju Sistem Sertifikasi yang Inklusif dan Adaptif

Evaluasi sistem sertifikasi keinsinyuran di Indonesia menunjukkan bahwa kerangka regulasi dan kelembagaan telah tersedia dengan baik. Tantangan utama justru terletak pada tahap implementasi, khususnya dalam membangun kesadaran, menyederhanakan prosedur, serta memperluas jangkauan layanan.

Ke depan, PII diharapkan mampu bertransformasi menjadi lembaga sertifikasi yang digital, responsif, dan kolaboratif. Hanya dengan begitu, sertifikasi keinsinyuran dapat berfungsi optimal sebagai alat pemacu kualitas dan etika profesi.

Sumber:

Reni Suryanita, Tumpal Andradi, dan Muhammad Safri. (2023). Evaluasi Sistem Penyelenggaraan Sertifikasi Kompetensi Insinyur Profesional oleh Persatuan Insinyur Indonesia. Seminar Nasional Fakultas Teknik UNIMAL.

 

Selengkapnya
Evaluasi Sertifikasi Kompetensi Insinyur Indonesia: Menjawab Tantangan Profesionalisme Era Industri 4.0
« First Previous page 279 of 1.408 Next Last »