Ketenagakerjaan
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 03 Oktober 2025
Pendahuluan: Mengapa Keterampilan Tenaga Kerja Adalah Kunci Kinerja Proyek
Dalam industri konstruksi yang padat karya, keberhasilan proyek sangat ditentukan oleh kualitas tenaga kerja yang terlibat. Artikel ilmiah "Impact of Skilled and Unskilled Labor on Project Performance Using Structural Equation Modeling Approach" oleh Shahid Hussain et al. (2020), memberikan kontribusi penting terhadap pemahaman hubungan antara keterampilan tenaga kerja dan kinerja proyek, khususnya di negara berkembang seperti Pakistan.
Dengan menggunakan pendekatan Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM), studi ini menyelidiki dampak tenaga kerja terampil dan tidak terampil terhadap keberhasilan proyek konstruksi publik. Artikel ini bukan sekadar menyajikan data kuantitatif, tetapi juga membangun model konseptual yang dapat menjadi rujukan praktis bagi pengambil kebijakan dan pelaku industri.
Metodologi: Model Konseptual dan Pendekatan Kuantitatif
Penelitian ini mengadopsi pendekatan deduktif dengan rancangan survei kuantitatif. Kuesioner dibagikan kepada 750 profesional di industri konstruksi publik Pakistan, dan 400 responden terlibat aktif dalam pengisian. Responden berasal dari instansi besar seperti Public Works Development (PWD), Defense Housing Authority (DHA), dan National Logistic Cell (NLC).
Data dianalisis menggunakan SmartPLS v3.2.8 untuk membangun model hubungan antara dua variabel independen (tenaga kerja terampil dan tidak terampil) terhadap satu variabel dependen (kinerja proyek). Validitas model diperiksa melalui uji Cronbach’s Alpha, Composite Reliability (CR), Average Variance Extracted (AVE), serta analisis validitas diskriminan melalui HTMT dan cross-loading.
Hasil Temuan: Kekuatan dan Kelemahan Dua Kategori Tenaga Kerja
Tenaga Kerja Tidak Terampil: Ancaman terhadap Keberhasilan Proyek
Hasil analisis menunjukkan bahwa tenaga kerja tidak terampil memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap kinerja proyek (path coefficient β = -0.561; p = 0.000). Faktor-faktor seperti kurangnya pelatihan, pengetahuan, keterampilan kerja, serta pengalaman diidentifikasi sebagai penyebab utama penurunan produktivitas dan kualitas.
Temuan ini mendukung literatur sebelumnya seperti Hossein et al. (2018) dan Karimi et al. (2016) yang menyatakan bahwa kekurangan tenaga kerja berpengalaman berdampak langsung pada peningkatan biaya, keterlambatan, serta insiden keselamatan kerja. Bahkan, studi Glazner et al. (2005) menunjukkan bahwa 54,5% insiden di proyek konstruksi berasal dari kurangnya pemahaman prosedur keselamatan oleh tenaga kerja yang tidak berpengalaman.
Tenaga Kerja Terampil: Penggerak Utama Keberhasilan Proyek
Sebaliknya, tenaga kerja terampil terbukti memiliki pengaruh positif signifikan terhadap kinerja proyek (path coefficient β = 0.574; p = 0.000). Kriteria seperti pelatihan khusus, pengalaman luas, kualifikasi teknis, dan pengetahuan praktis berkontribusi dalam pencapaian tujuan proyek.
Penelitian ini sejalan dengan temuan Jarkas (2017) dan Abdul-Rahman et al. (2006) yang menegaskan pentingnya keterampilan tenaga kerja dalam menjamin ketepatan waktu, efisiensi biaya, dan mutu pekerjaan. Keterampilan teknis juga berkaitan dengan pengurangan pengerjaan ulang (rework) dan peningkatan keselamatan kerja, sebagaimana disorot oleh Choudhry & Fang (2008).
Nilai Tambah: Implikasi Praktis dan Kebijakan
Manfaat Bagi Praktisi Proyek
Model konseptual yang dikembangkan dalam studi ini menjadi alat penting bagi manajer proyek untuk merancang strategi perekrutan dan pelatihan tenaga kerja. Kebijakan pengadaan tenaga kerja seharusnya tidak semata-mata mempertimbangkan biaya upah, melainkan juga potensi dampaknya terhadap mutu dan ketepatan waktu penyelesaian proyek.
Rekomendasi untuk Pemerintah dan Lembaga Pendidikan
Pemerintah dan lembaga pendidikan vokasi perlu memperluas akses terhadap pelatihan teknis, sertifikasi profesi, dan pelatihan keselamatan. Studi ini menggarisbawahi perlunya intervensi sistemik untuk menciptakan angkatan kerja yang kompeten, guna mendukung keberhasilan proyek konstruksi nasional.
Studi Kasus: Tren Global dan Pembelajaran Lokal
Tren kekurangan tenaga kerja terampil bukan hanya terjadi di Pakistan. Studi Paul (2016) di Hong Kong juga menunjukkan fenomena serupa. Di Amerika Utara, Karimi et al. (2017) membuktikan bahwa ketersediaan tenaga kerja terampil secara signifikan meningkatkan produktivitas dan ketepatan jadwal proyek.
Indonesia pun menghadapi tantangan serupa, terutama dalam proyek infrastruktur berskala besar. Inisiatif seperti program sertifikasi dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) menjadi langkah positif dalam meningkatkan kualitas SDM konstruksi.
Kritik dan Keterbatasan: Membaca Di Antara Angka
Meski memiliki kontribusi kuat, studi ini terbatas pada konteks proyek konstruksi publik di Pakistan. Penggunaan metode snowball sampling dapat menimbulkan bias representasi. Studi lanjutan disarankan untuk mencakup proyek sektor swasta dan membandingkan lintas negara guna generalisasi lebih luas.
Selain itu, model PLS-SEM hanya menjelaskan 36% varians kinerja proyek, yang berarti terdapat faktor lain seperti perencanaan, manajemen risiko, dan teknologi yang juga mempengaruhi keberhasilan proyek.
Kesimpulan: Keterampilan sebagai Investasi, Bukan Biaya
Penelitian oleh Hussain et al. (2020) memberikan bukti empiris bahwa keterampilan tenaga kerja merupakan faktor krusial dalam menentukan kinerja proyek konstruksi. Penggunaan tenaga kerja terampil bukan sekadar keputusan teknis, melainkan strategi manajerial yang berdampak pada keseluruhan performa proyek.
Investasi dalam pelatihan, sertifikasi, dan pengembangan tenaga kerja harus dipandang sebagai kebutuhan mendesak, bukan beban anggaran. Dengan pendekatan berbasis data dan model konseptual yang valid, studi ini memberikan peta jalan bagi masa depan industri konstruksi yang lebih produktif, aman, dan berkelanjutan.
Sumber Artikel:
Hussain, S., Xuetong, W., & Hussain, T. (2020). Impact of Skilled and Unskilled Labor on Project Performance Using Structural Equation Modeling Approach. SAGE Open. https://doi.org/10.1177/2158244020914590
Teknologi Pertanian Cerdas
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 03 Oktober 2025
.
Pendahuluan: Ancaman Serius bagi Jeruk Bali Utara
Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD) atau yang kini lebih dikenal sebagai huanglongbing (HLB), merupakan penyakit mematikan bagi tanaman jeruk, khususnya di sentra pertanaman seperti Bali Utara. Sejak pertama kali diidentifikasi menyerang lebih dari 90% kebun jeruk di Buleleng pada 1984, CVPD telah menjadi momok yang menghancurkan produktivitas jeruk keprok Tejakula, komoditas unggulan Bali. Paper karya Dwiastuti et al. ini menelaah kembali penyebaran geografis CVPD pascarehabilitasi kedua melalui metode Polymerase Chain Reaction (PCR) sebuah teknologi molekuler yang menjanjikan deteksi lebih akurat dan cepat.
Latar Belakang Masalah: Kegagalan Strategi Lama
Upaya Rehabilitasi yang Belum Tuntas
Pasca-eradikasi besar-besaran tahun 1990, para petani kembali menanam jeruk dari mata tempel yang tidak terverifikasi sehat. Hasilnya, penyebaran ulang CVPD mencapai 40-60% pada tahun 1995. Studi Triwiratno et al. (1995) juga menemukan bahwa 33,3% bibit dari sumber liar terinfeksi CVPD.
Vektor dan Kompleksitas Deteksi
CVPD disebabkan oleh bakteri Candidatus Liberobacter asiaticum, ditularkan oleh kutu loncat Diaphorina citri. Salah satu tantangan utama adalah kesamaan gejala CVPD dengan defisiensi Zn atau gangguan fisiologis, sehingga deteksi visual saja kerap menyesatkan. Oleh karena itu, dibutuhkan teknologi PCR untuk mendeteksi keberadaan patogen melalui amplifikasi DNA.
Metode Penelitian: PCR sebagai Alat Diagnostik
Lokasi dan Sampel
Penelitian dilakukan di 18 desa sentra jeruk Bali Utara, mulai dari 10 hingga 1.250 m dpl. Sampel daun diambil dari pohon bergejala dan tidak bergejala.
Tahapan PCR
Ekstraksi DNA dengan buffer proteinase-K
Amplifikasi DNA dengan primer spesifik O11, O12, OA1
Elektroforesis gel agarose 0,7% untuk membaca pita DNA hasil amplifikasi
Hasil Penelitian: Penyebaran dan Pola Geografis CVPD
Penyebaran Vertikal: Terbatas di Dataran Rendah
CVPD hanya ditemukan pada ketinggian 10-700 m dpl
Tidak ada infeksi di atas 850 m dpl, seperti di Dusa dan Panelokan
Hasil Uji PCR dan Visual
Dari 63 sampel, 47 berasal dari keprok Tejakula; 43 di antaranya menunjukkan gejala jelas
Sampel dari Julah, Tejakula, Kalanganyar menunjukkan intensitas PCR 4+ hingga 5+
Tiga sampel daun tanpa gejala pun menunjukkan PCR positif (1+ hingga 3+) → indikasi infeksi awal
Statistik Keparahan (Tabel 2):
LokasiKetinggianKejadian CVPD (%)Keparahan (%)Julah10 m100%95%Kalanganyar10 m100%100%Kubutambahan50 m85,7%57,14%Baturiti-Mayungan>850 m0%0%
Interpretasi Hasil: Signifikansi dan Implikasi
PCR: Solusi Deteksi yang Andal
Teknologi PCR terbukti efektif mendeteksi bahkan pada sampel tanpa gejala visual. Ini menjadikan PCR alat strategis untuk mencegah penyebaran lebih luas sebelum gejala muncul.
Faktor Altitudinal dan Biologi Vektor
Diaphorina citri berkembang pesat di dataran rendah (10–550 m), dan sulit ditemukan di dataran tinggi. Hal ini mendukung hasil PCR yang menunjukkan CVPD hanya menyebar hingga 700 m dpl.
Kesalahan Umum dalam Rehabilitasi
Kegagalan rehabilitasi sebelumnya terkait dengan:
Bibit dari sumber tidak bersertifikasi
Kurangnya kemampuan petani mengenali gejala awal
Tidak menyeluruhnya sanitasi kebun
Kritik dan Rekomendasi
Kelebihan Penelitian:
Metode molekuler memberikan deteksi akurat
Sampel luas dan mewakili variasi ketinggian dan lokasi
Kombinasi observasi visual dan molekuler sangat kuat
Kekurangan:
Penelitian hanya mencakup wilayah Bali Utara, tidak seluruh Bali
Tidak membahas integrasi PCR dalam strategi pengendalian jangka panjang
Rekomendasi Praktis:
Wajibkan PCR untuk seleksi bibit sebelum tanam
Bentuk unit deteksi cepat berbasis PCR di sentra jeruk
Pendidikan visualisasi gejala bagi petugas lapang dan petani
Diversifikasi jenis jeruk tahan CVPD di dataran rendah
Relevansi Global dan Strategi Ke Depan
Ancaman Global: HLB adalah masalah dunia
Di Asia, Amerika, dan Afrika, HLB merusak industri jeruk
Indonesia perlu menerapkan standar pengendalian global berbasis PCR
Integrasi Teknologi dalam Pertanian
PCR bisa jadi bagian dari pertanian presisi (precision farming)
Peta sebaran CVPD bisa diintegrasikan ke GIS untuk pemantauan real-time
Kesimpulan: Deteksi Akurat sebagai Pilar Pengendalian
Penelitian ini menegaskan bahwa penyebaran geografis CVPD di Bali Utara terkonsentrasi di dataran rendah, dan bahwa teknologi PCR adalah alat deteksi yang sangat efektif. Hasil ini menjadi dasar penting untuk menyusun strategi pengendalian yang berbasis bukti dan teknologi mutakhir. Keberhasilan pengendalian HLB tak hanya bergantung pada bibit sehat, tetapi juga pada kemampuan mendeteksi dini dan cepat.
Sumber
Dwiastuti, M.E., Triwiratno, A., Supriyanto, A., Garnier, M., & Bove, J.M. (2003). Deteksi Penyebaran Geografis Penyakit CVPD di Bali Utara dengan Metode Polymerase Chain Reaction. Jurnal Hortikultura Vol. 13(2): 138–145.
Industri Kontruksi
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 03 Oktober 2025
Industri konstruksi adalah sektor yang dinamis dan kompleks, di mana setiap keputusan dapat memiliki dampak besar pada keberhasilan proyek. Salah satu keputusan paling krusial adalah pemilihan metode konstruksi. Artikel "Selection of Method in Construction Industry by using Analytical Hierarchy Process (AHP)" oleh P Z Razi dkk., yang dipublikasikan dalam IOP Conference Series: Materials Science and Engineering pada tahun 2020, menawarkan analisis mendalam tentang bagaimana metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih baik dalam pemilihan metode konstruksi di Malaysia. Selain menekankan pentingnya pemilihan metode, artikel ini menghadirkan kerangka evaluasi sistematis yang menjadikannya sumber rujukan penting bagi akademisi dan praktisi konstruksi.
Mengapa Pemilihan Metode Konstruksi Penting?
Pemilihan metode konstruksi yang tepat adalah fondasi keberhasilan proyek. Metode yang tidak tepat dapat menyebabkan penundaan, peningkatan biaya, penurunan kualitas, dan bahkan masalah keselamatan. Razi dkk. menyoroti tiga metode utama yang umum digunakan dalam industri konstruksi: metode tradisional, design and build (D&B), dan industrial building system (IBS).
Metode Tradisional (TM): Metode ini melibatkan pemisahan tanggung jawab yang jelas antara klien, arsitek, dan kontraktor. Arsitek bertanggung jawab atas desain, sementara kontraktor melaksanakan pekerjaan konstruksi. Metode tradisional dikenal dengan proses pemasangan bekisting kayu atau plywood serta baja tulangan di lokasi proyek, yang dilakukan secara konvensional. Keuntungan utama metode ini adalah klien memiliki kendali penuh terhadap desain, dan risiko desain sepenuhnya ditanggung oleh arsitek. Namun, ini bisa menyebabkan kurangnya integrasi antara tim desain dan konstruksi.
Design and Build (D&B): Dalam metode D&B, kontraktor bertanggung jawab atas sebagian atau seluruh pekerjaan desain dan konstruksi. Pendekatan ini sering kali mempromosikan entitas tunggal atau konsorsium yang mengambil tanggung jawab penuh atas proyek dengan penawaran harga tetap. D&B menjadi populer karena menjanjikan pengiriman proyek yang lebih terintegrasi dan tepat waktu. Namun, klien memiliki kendali yang lebih sedikit terhadap isu-isu desain, dan perubahan besar bisa menjadi resisten.
Industrial Building System (IBS): IBS adalah sistem konstruksi yang menggunakan komponen pra-fabrikasi. Komponen-komponen ini diproduksi di luar lokasi konstruksi, di pabrik atau fasilitas produksi, dan kemudian dikirim ke lokasi untuk dipasang. IBS dianggap sangat ekonomis, mengurangi waktu konstruksi, dan meminimalkan jumlah pekerja di lokasi. Meskipun demikian, implementasinya masih menghadapi tantangan, terutama bagi kontraktor kecil, karena masalah keuangan, kurangnya pengetahuan, dan keahlian dalam analisis struktur untuk desain pra-fabrikasi.
Peran Analytical Hierarchy Process (AHP) dalam Pengambilan Keputusan
Mengingat banyaknya pilihan metode yang tersedia, pemilihan yang tepat menjadi tantangan. Di sinilah metode AHP berperan. AHP adalah alat pengambilan keputusan multi-kriteria (MCDM) yang pertama kali diperkenalkan oleh Profesor Saaty pada tahun 1980-an. Metode ini membantu praktisi konstruksi membuat keputusan cepat dan sistematis dengan menyusun hierarki keputusan yang terdiri dari tujuan, faktor, dan alternatif.
Proses AHP melibatkan beberapa langkah kunci:
Struktur Hierarki: Membangun struktur hierarki yang mencakup tujuan utama (misalnya, pemilihan metode terbaik), faktor-faktor yang memengaruhi keputusan, dan alternatif yang tersedia (metode konstruksi).
Kuesioner Perbandingan Berpasangan: Menggunakan kuesioner perbandingan berpasangan dengan skala linguistik sembilan poin untuk mengumpulkan penilaian dari praktisi konstruksi. Ini melibatkan membandingkan setiap pasangan faktor atau alternatif untuk menentukan preferensi relatifnya.
Matriks Perbandingan Berpasangan: Merekam semua penilaian dalam matriks perbandingan berpasangan (A=(aij)n×n).
Perhitungan Bobot Parameter: Menggunakan metode eigenvector untuk mendapatkan bobot parameter dari matriks perbandingan berpasangan.
Perhitungan Rasio Konsistensi (CR): Menghitung rasio konsistensi (CR=RICI) untuk mengukur tingkat inkonsistensi antara perbandingan berpasangan. Tingkat inkonsistensi yang dapat diterima biasanya kurang dari atau sama dengan 0.10 (CR≤0.10).
Agregasi Penilaian Kelompok: Untuk pengambilan keputusan kelompok, metode rata-rata geometris digunakan untuk menggabungkan penilaian individu menjadi satu penilaian bersama.
Analisis dengan Perangkat Lunak: Perangkat lunak seperti 'Expert Choice' sering digunakan untuk memfasilitasi proses analisis data yang kompleks ini.
Temuan dan Diskusi
Penelitian Razi dkk. melibatkan 30 responden dari industri konstruksi di Malaysia. Sebagian besar responden adalah pria (70%), dengan profesi bervariasi seperti insinyur situs, desainer, dan insinyur. Pengalaman responden juga beragam, dengan sebagian besar (44%) memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun. Menariknya, mayoritas responden (73%) berasal dari kontraktor, menunjukkan fokus penelitian pada perspektif kontraktor.
Hasil analisis AHP menunjukkan bahwa metode tradisional adalah yang paling diprioritaskan oleh kontraktor di Malaysia, dengan bobot 0.695. Metode D&B menempati posisi kedua dengan bobot 0.258, dan IBS berada di posisi terakhir dengan bobot 0.047. Tingkat inkonsistensi yang dicapai dalam analisis adalah 0.06, yang berada di bawah ambang batas yang direkomendasikan sebesar 0.10, menunjukkan bahwa penilaian yang terkumpul cukup konsisten.
Mengapa kontraktor lebih memilih metode tradisional? Penulis berpendapat bahwa ini mungkin karena kontraktor tidak termotivasi oleh kendala keuangan untuk beralih ke IBS. Selain itu, selama beberapa dekade, sebagian besar kontraktor telah terbiasa dan teredukasi dalam sistem bangunan konvensional, ditambah lagi dengan ketersediaan pekerja asing yang murah di Malaysia. Kurangnya pengetahuan, paparan, dan keahlian dalam IBS juga menjadi hambatan signifikan. Kontraktor kecil khususnya, merasa enggan mengadopsi IBS dan memilih untuk tetap menggunakan metode konvensional karena mereka merasa teknologi yang ada sudah sesuai untuk proyek skala kecil. Tantangan finansial untuk membangun fasilitas manufaktur IBS dengan investasi modal yang tinggi juga menjadi penghalang besar.
Namun, analisis sensitivitas memberikan wawasan penting. Kontraktor Grade 7 (G7), yang diasumsikan memiliki kapasitas finansial yang lebih tinggi, cenderung mendominasi dalam mengadopsi teknologi IBS dan D&B daripada metode konvensional. Sebaliknya, kontraktor low-grade (G1) menunjukkan tingkat kesiapan yang rendah untuk mengadopsi teknologi terbaru, lebih memilih metode konvensional daripada D&B dan IBS. Hal ini mengindikasikan bahwa kapasitas finansial dan skala proyek sangat memengaruhi preferensi kontraktor terhadap metode konstruksi.
Nilai Tambah dan Implikasi Praktis
Artikel ini memberikan nilai tambah yang signifikan melalui penggunaan AHP sebagai alat pengambilan keputusan yang sistematis. Alih-alih hanya mengandalkan intuisi atau pengalaman semata, AHP memungkinkan evaluasi yang terstruktur berdasarkan berbagai kriteria dan pandangan dari para ahli. Ini adalah langkah maju dalam meningkatkan objektivitas dalam pemilihan metode konstruksi.
Temuan bahwa metode tradisional masih menjadi preferensi utama di Malaysia, terutama bagi kontraktor kecil, adalah cerminan realitas industri di banyak negara berkembang. Ketergantungan pada praktik yang sudah mapan, biaya awal yang tinggi untuk teknologi baru, dan kurangnya keterampilan adalah hambatan universal. Namun, analisis sensitivitas yang menunjukkan bahwa kontraktor dengan kapasitas finansial yang lebih besar lebih terbuka terhadap IBS dan D&B memberikan harapan. Ini menunjukkan bahwa adopsi teknologi maju cenderung berlangsung bertahap, diawali oleh perusahaan besar, lalu menyebar ke perusahaan lebih kecil seiring menurunnya biaya dan meningkatnya tingkat familiaritas.
Penting untuk dicatat bahwa meskipun biaya adalah faktor kunci dalam keputusan kontrak design and build, faktor lain seperti durasi, reputasi tim, dan kualitas juga harus dipertimbangkan. Pendekatan best value selection semakin populer karena tidak hanya menimbang faktor biaya, tetapi juga aspek subjektif seperti manajemen proyek, kontrol kualitas, dan reputasi tim, sehingga mampu mencakup seluruh faktor relevan dalam evaluasi proposal desain.
Kritik dan Perbandingan dengan Penelitian Lain
Meskipun penelitian ini memberikan kontribusi yang berarti, beberapa poin dapat menjadi fokus kritik atau diskusi lebih lanjut. Skala sampel 30 responden, meskipun memadai untuk studi AHP, mungkin tidak sepenuhnya merepresentasikan seluruh spektrum kontraktor di Malaysia. Penelitian di masa depan dapat mempertimbangkan ukuran sampel yang lebih besar atau studi kasus mendalam untuk setiap grade kontraktor.
Selain itu, penelitian ini menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mempromosikan IBS melalui forum, berbagi informasi, dan portal online. Ini sejalan dengan banyak penelitian lain yang menyoroti peran kebijakan pemerintah dalam mendorong inovasi di sektor konstruksi. Misalnya, studi oleh Alinaitwe et al. (2016) tentang industrialisasi konstruksi di Uganda juga menggarisbawahi perlunya dukungan institusional untuk adopsi metode baru.
Perbandingan dengan studi sebelumnya, seperti yang dilakukan oleh Ling (2014) yang menunjukkan penurunan proyek D&B di Malaysia dari Maret 2012 hingga Maret 2014, semakin menegaskan bahwa metode D&B dan IBS masih menghadapi tantangan dalam penerimaan dan implementasi. Hal ini menekankan perlunya pemahaman yang lebih dalam tentang hambatan spesifik yang dihadapi kontraktor dalam mengadopsi metode ini.
Kesimpulan
Kesimpulannya, artikel oleh P Z Razi dkk. ini memberikan kerangka kerja yang kuat menggunakan AHP untuk mengevaluasi dan memilih metode konstruksi yang paling sesuai. Meskipun metode tradisional masih menjadi pilihan utama bagi kontraktor di Malaysia, terutama karena faktor familiaritas dan kendala finansial, ada indikasi bahwa kontraktor dengan kapasitas lebih tinggi lebih cenderung mengadopsi metode yang lebih modern seperti IBS dan D&B.
Penelitian ini menekankan pentingnya pendekatan holistik dalam pemilihan metode, dengan mempertimbangkan tidak hanya biaya, tetapi juga aspek subjektif seperti manajemen proyek, kontrol kualitas, dan reputasi tim. Untuk mendorong adopsi IBS, kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan praktisi industri sangat penting untuk meningkatkan pengetahuan, keahlian, dan mengatasi kendala finansial. Dengan demikian, industri konstruksi dapat terus berinovasi dan meningkatkan produktivitas serta efisiensi secara keseluruhan.
Sumber Artikel: P Z Razi et al 2020 IOP Conf. Ser.: Mater. Sci. Eng. 712 012015. DOI: 10.1088/1757-899X/712/1/012015. Artikel ini dapat diakses secara daring melalui IOP Conference Series: Materials Science and Engineering.
Manajemen Risiko
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 02 Oktober 2025
Mengapa Multi-Hazard dan Multi-Risk Semakin Penting di Era Modern?
Di tengah perubahan iklim, urbanisasi masif, dan globalisasi ekonomi, risiko bencana tidak lagi bisa dipandang sebagai ancaman tunggal yang berdiri sendiri. Fenomena seperti banjir yang memicu longsor, gempa yang diikuti tsunami, atau kebakaran hutan yang memperburuk polusi udara menunjukkan bagaimana satu bencana dapat memicu dan memperkuat bencana lain. Inilah yang mendorong lahirnya paradigma multi-hazard dan multi-risk dalam manajemen risiko bencana.
Handbook “Multi-hazard, Multi-Risk Definitions and Concepts” dari proyek MYRIAD-EU (Gill et al., 2022) menjadi salah satu referensi paling komprehensif dalam membangun fondasi pemahaman, terminologi, dan indikator untuk pendekatan multi-hazard dan multi-risk. Artikel ini mengupas secara kritis isi, studi kasus, angka-angka kunci, serta relevansi dan tantangan implementasinya di ranah global dan Indonesia.
Evolusi Konsep: Dari Single Hazard Menuju Multi-Risk
Keterbatasan Pendekatan Tradisional
Paradigma Baru: Multi-Hazard dan Multi-Risk
Kerangka Dasar: Definisi dan Tipe Interaksi Multi-Hazard
Definisi Kunci
Tipe Interaksi Multi-Hazard
Studi Kasus: Kompleksitas Multi-Hazard di Dunia Nyata
1. Gempa dan Tsunami di Aceh 2004
2. Banjir dan Longsor di Eropa
3. Infrastruktur dan Multi-Risk di Australia
Angka-Angka Kunci: Skala dan Kompleksitas Risiko
Indikator Multi-Hazard dan Multi-Risk: Menuju Pengukuran yang Adaptif
Fungsi dan Manfaat Indikator
Contoh Indikator
Draft Indikator Multi-Risk MYRIAD-EU
Analisis Kritis: Keunggulan, Tantangan, dan Perbandingan
Keunggulan Handbook MYRIAD-EU
Tantangan Implementasi
Perbandingan dengan Studi Lain
Implikasi Praktis dan Relevansi untuk Indonesia
Tantangan di Indonesia
Rekomendasi Strategis
Tren Global: Digitalisasi, Kolaborasi, dan Adaptasi
Opini dan Kritik: Menjawab Tantangan Masa Depan
Handbook MYRIAD-EU berhasil menempatkan multi-hazard dan multi-risk sebagai fondasi baru mitigasi bencana. Namun, tantangan terbesar adalah implementasi di lapangan, terutama di negara berkembang yang masih terkendala data, kapasitas SDM, dan koordinasi lintas sektor. Di Indonesia, adopsi metodologi ini harus disesuaikan dengan karakteristik lokal, ketersediaan data, dan kesiapan institusi.
Kritik utama terhadap pendekatan multi-hazard adalah potensi “over-kompleksitas” yang bisa menghambat adopsi di level daerah. Untuk itu, diperlukan pelatihan, simplifikasi model untuk daerah dengan sumber daya terbatas, dan pengembangan perangkat lunak open source yang ramah pengguna. Selain itu, penguatan peran masyarakat dan pelibatan sektor swasta sangat penting untuk mempercepat transformasi menuju manajemen risiko yang lebih adaptif.
Kesimpulan: Multi-Hazard dan Multi-Risk, Pilar Ketangguhan Masa Depan
Paradigma multi-hazard dan multi-risk bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis di era bencana kompleks dan perubahan iklim. Handbook MYRIAD-EU menawarkan fondasi terminologi, indikator, dan kerangka kerja yang dapat diadaptasi lintas negara dan sektor. Indonesia dan negara berkembang lain dapat belajar bahwa membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana hanya mungkin dicapai melalui investasi berkelanjutan pada data, pemanfaatan teknologi, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Sumber
Gill, J.C., Duncan, M., Ciurean, R., Smale, L., Stuparu, D., Schlumberger, J., de Ruiter, M., Tiggeloven, T., Torresan, S., Gottardo, S., Mysiak, J., Harris, R., Petrescu, E. C., Girard, T., Khazai, B., Claassen, J., Dai, R., Champion, A., Daloz, A. S., … Ward, P. 2022. MYRIAD-EU D1.2 Handbook of Multi-hazard, Multi-Risk Definitions and Concepts. H2020 MYRIAD-EU Project, grant agreement number 101003276, pp 75.
Manajemen Sumber Daya Manusia dan Organisasi
Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 02 Oktober 2025
Mengapa Standarisasi Kompetensi Nasional (SKKNI) Menjadi Kunci Daya Saing SDM?
Di tengah persaingan global dan revolusi industri 4.0, kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi penentu utama daya saing bangsa. Indonesia, dengan bonus demografi dan ekonomi yang terus tumbuh, menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan lulusan pendidikan dan pelatihan benar-benar siap kerja? Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) hadir sebagai jawaban strategis untuk memastikan link and match antara kebutuhan industri dan output pendidikan, sekaligus mengakselerasi pengembangan SDM unggul.
Artikel ini membedah secara kritis temuan utama, studi kasus, dan angka-angka penting dari laporan World Bank (2020) “Competency Standards as a Tool for Human Capital Development: Assessment of their Development and Introduction into TVET and Certification in Indonesia”. Resensi ini juga mengaitkan implementasi SKKNI dengan tren industri, tantangan di lapangan, dan rekomendasi strategis untuk masa depan pendidikan vokasi serta pelatihan kerja di Indonesia.
Latar Belakang: SKKNI dalam Konteks Transformasi SDM Indonesia
Regulasi dan Kerangka Hukum
SKKNI dan KKNI: Apa Bedanya?
Proses Pengembangan SKKNI: Tantangan dan Realitas
Tahapan Kunci Pengembangan SKKNI
Temuan Utama
Studi Kasus: Implementasi SKKNI di Berbagai Sektor
1. Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)
2. Sektor Komunikasi dan Informatika
3. Sektor Pariwisata
4. Sektor Industri
5. Sektor Kesehatan
Studi Lapangan: Implementasi SKKNI di TVET (Pendidikan dan Pelatihan Vokasi)
Profil TVET Indonesia
Temuan Kunci
Tantangan Implementasi
Studi Kasus Praktik Baik: Kolaborasi TVET dan Industri
Analisis Kritis: Keberhasilan, Tantangan, dan Pembelajaran
Keberhasilan
Tantangan
Komparasi dengan Negara Lain
Rekomendasi Strategis untuk Transformasi SKKNI dan TVET Indonesia
1. Percepat Pengembangan dan Review SKKNI
2. Perkuat Peran Komite Standar Kompetensi
3. Harmonisasi Regulasi dan Sinergi Antar Kementerian
4. Penguatan Infrastruktur dan SDM TVET
5. Transformasi Sertifikasi: Dari Supply-Driven ke Demand-Driven
6. Digitalisasi dan Inovasi
Opini dan Kritik: SKKNI, Momentum Perubahan atau Sekadar Administrasi?
SKKNI adalah fondasi penting untuk membangun SDM Indonesia yang kompeten dan siap bersaing. Namun, tanpa komitmen kuat untuk mempercepat pengembangan, merevisi, dan mengadopsi SKKNI secara masif di pendidikan, pelatihan, dan industri, standar ini berisiko menjadi sekadar dokumen administratif. Transformasi nyata hanya akan terjadi jika ada sinergi lintas sektor, partisipasi aktif industri, dan investasi berkelanjutan pada infrastruktur serta SDM pengajar.
Kritik utama terhadap implementasi saat ini adalah lambatnya proses review dan minimnya keterlibatan industri. Selain itu, sertifikasi yang masih didominasi lembaga pendidikan membuat pengakuan industri terhadap sertifikat kompetensi rendah. Indonesia perlu belajar dari praktik baik Australia dan UK, di mana industri menjadi motor penggerak utama pengembangan standar kompetensi.
Tren Masa Depan: Kompetensi Adaptif untuk Dunia Kerja Dinamis
Kesimpulan: SKKNI sebagai Pilar Transformasi SDM Indonesia
SKKNI telah menempatkan Indonesia pada jalur yang benar untuk membangun SDM kompeten dan adaptif. Namun, tantangan implementasi, harmonisasi, dan relevansi harus segera diatasi. Dengan percepatan pengembangan, kolaborasi industri, dan inovasi digital, SKKNI dapat menjadi katalis utama menuju SDM unggul, berdaya saing global, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Sumber
World Bank. (2020). Competency Standards as a Tool for Human Capital Development: Assessment of their Development and Introduction into TVET and Certification in Indonesia.
Teknik Sipil
Dipublikasikan oleh Raihan pada 02 Oktober 2025
Penelitian ini memfokuskan pada evaluasi pelaksanaan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta identifikasi kendala spesifik yang ditemukan selama implementasinya pada proyek konstruksi Pembangunan Rumah Susun Lanjutan Provinsi Sumatera Utara I Medan. Metodologi yang digunakan adalah survei deskriptif melalui penyebaran kuisioner kepada pekerja dan pelaksana pembangunan, yang kemudian dianalisis menggunakan nilai Rata-rata (Mean) untuk meranking tingkat implementasi dan hambatan. Tujuan utama adalah menyediakan basis evaluatif yang dapat digunakan untuk meminimalisir potensi kecelakaan kerja.
Jalur temuan logis penelitian ini bergerak dari penilaian kepatuhan struktural (penyediaan fasilitas) menuju identifikasi hambatan non-teknis (perilaku dan manajemen). Hasil awal menunjukkan adanya komitmen perusahaan dalam penyediaan infrastruktur K3 dasar. Sebagai contoh, di bawah kategori evaluasi Peralatan dan Pakaian Kerja, respons terhadap item "Perusahaan menyediakan pakaian kerja, helm, sepatu boots, sarung tangan, masker, sabuk pengaman dan lainnya" mencapai Mean tertinggi sebesar 4.27 (SD 0.578), menduduki Peringkat 1 di subkategori tersebut. Dalam kategori Kesehatan Kerja, ketersediaan kotak P3K untuk pertolongan pertama juga dinilai sangat baik dengan Mean 4.12 (SD 0.754), Peringkat 1 dalam subkategori tersebut.
Namun, temuan ini mengungkap adanya perbedaan substansial antara ketersediaan sarana dan kepatuhan aktual. Data menunjukkan bahwa meskipun sarana telah disediakan secara memadai (Mean 4.27 ), item yang mengukur adopsi aktif oleh pekerja, yaitu "Para pekerja menggunakan peralatan dan pakaian kerja pada saat bekerja," berada pada Peringkat terendah dalam subkategori tersebut, dengan Mean 3.70 (SD 0.397). Disparitas sebesar 0.57 poin Mean ini secara deskriptif menunjukkan hubungan kuat antara inisiatif struktural perusahaan (penyediaan) dan tindakan kepatuhan individu (penggunaan) yang relatif rendah, menandakan adanya masalah adopsi yang mendasar.
Penggalian lebih dalam mengenai hambatan mengonfirmasi bahwa masalah K3 pada proyek ini sebagian besar berakar pada faktor perilaku dan sosio-ekonomi pekerja. Pada analisis hambatan dari sisi pekerja, item "Tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar atau pokok" menduduki Peringkat 1 dengan Mean 3.60 (SD 0.517). Hal ini diperkuat oleh temuan lain bahwa pekerja merasa tidak nyaman dengan peralatan perlindungan diri (APD) yang ada (Mean 3.50 , SD 0.566) dan terbiasa bekerja tanpa perlindungan diri (Mean 3.37 , SD 0.496). Kesimpulan riset memperjelas bahwa pekerja cenderung memprioritaskan pemenuhan kebutuhan dasar atau bonus yang akan dicapai dibandingkan keselamatan saat bekerja, karena ketidaknyamanan APD.
Dari perspektif manajemen dan kelembagaan, hambatan dominan perusahaan adalah terkait finansial dan regulasi. Dua item berbagi nilai Mean 3.53: "Pengawasan pemerintahan yang lemah dalam menerapkan K3 dalam proyek" (SD 0.523) dan "Perusahaan meminimkan modal untuk menjalankan program K3" (SD 0.589). Korelasi ini mengisyaratkan bahwa kelemahan pengawasan eksternal berfungsi sebagai insentif bagi perusahaan untuk menganggap K3 sebagai pusat biaya yang dapat diminimalkan, yang secara langsung berkontribusi pada penyediaan APD yang mungkin tidak ergonomis atau pelatihan yang tidak memadai, sehingga memperparah keengganan pekerja.
Kontribusi Utama terhadap Bidang
Kontribusi penelitian ini sangat penting karena mengalihkan lensa diagnostik K3 dari fokus tradisional pada ketersediaan fisik dan prosedur, menuju analisis kendala paradigma kognitif dan motivasi di kalangan pekerja.
Satu penemuan penting adalah adanya perlakuan terhadap K3 sebagai sebuah komoditas kepatuhan daripada nilai operasional inti. Perusahaan memenuhi persyaratan dasar penyediaan APD (Mean 4.27 ) dan fasilitas keamanan reaktif seperti P3K (Mean 4.12 ). Namun, fokus pada aspek reaktif ini menyebabkan pengabaian terhadap langkah-langkah kesehatan proaktif. Pemeriksaan kesehatan berkala untuk karyawan (sebelum dan selama proyek), yang merupakan indikator pencegahan yang kuat, mencatat Mean terendah 3.30 di kategori Kesehatan Kerja (SD 0.683). Ini menunjukkan bahwa sistem manajemen K3 yang diterapkan cenderung reaktif (mengatasi setelah kecelakaan terjadi) dan menganggap pemenuhan K3 sebagai kepatuhan regulasi minimal, bukan sebagai investasi pencegahan jangka panjang.
Kondisi ini diperparah oleh dinamika intervensi regulasi dan insentif finansial. Data yang menunjukkan kelemahan pengawasan pemerintah (Mean 3.53 ) memiliki hubungan yang kuat dengan kecenderungan perusahaan untuk meminimalkan modal K3 (Mean 3.53 ). Keadaan ini menciptakan lingkaran umpan balik negatif di mana kurangnya penegakan hukum memvalidasi keputusan manajemen untuk menekan biaya, yang pada gilirannya menghasilkan lingkungan kerja di mana pekerja harus memilih antara kebutuhan dasar/bonus dan penggunaan APD yang tidak nyaman atau kurang dipahami manfaatnya. Ini menyiratkan bahwa intervensi K3 yang berhasil harus secara bersamaan merekayasa insentif ekonomi bagi manajemen dan mengatasi disinsentif perilaku pekerja.
Keterbatasan dan Pertanyaan Terbuka
Meskipun penelitian ini berhasil mendiagnosis hambatan utama, terdapat tiga keterbatasan kunci yang harus menjadi fokus agenda riset lanjutan.
Pertama, penggunaan analisis Mean dan Ranking secara dominan memberikan peta deskriptif yang kuat tetapi membatasi kemampuan untuk menetapkan hubungan sebab-akibat yang definitif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tuntutan kebutuhan dasar (Mean 3.60 ) dan ketidaknyamanan APD (Mean 3.50 ) adalah hambatan utama di pihak pekerja. Namun, tanpa analisis statistik inferensial, komunitas akademik tidak dapat menentukan secara pasti sejauh mana prioritas sosio-ekonomi pekerja bertindak sebagai variabel independen yang memediasi keputusan untuk mengabaikan K3. Pertanyaan terbuka di sini adalah: Bagaimana kita dapat secara kuantitatif memodelkan tekanan sosio-ekonomi sebagai prediktor risiko perilaku K3?
Kedua, keterbatasan konteks studi kasus pada satu proyek spesifik di Medan membatasi validitas eksternal temuan. Meskipun data ini kritis untuk Sumatera Utara, generalisasi mengenai pola pikir pekerja dan efektivitas pengawasan pemerintah ke seluruh Indonesia, atau bahkan ke jenis proyek konstruksi yang berbeda (misalnya, proyek infrastruktur skala besar), masih belum teruji. Pertanyaan terbuka penting yang harus dijawab oleh riset lanjutan adalah apakah disonansi antara penyediaan dan utilisasi APD merupakan masalah budaya kerja yang spesifik regional atau berlaku universal pada sektor konstruksi domestik.
Ketiga, meskipun kuisioner mengumpulkan data demografi responden, penelitian tidak secara eksplisit mengintegrasikan analisis mendalam mengenai bagaimana faktor-faktor seperti pengalaman kerja atau tingkat pendidikan memengaruhi adopsi K3 dan persepsi hambatan. Adalah mungkin bahwa pekerja yang lebih berpengalaman memiliki status quo bias yang lebih kuat, merasa "terbiasa dengan apa adanya" tanpa perlindungan diri (Mean 3.37 ). Penelitian masa depan perlu melakukan segmentasi responden berdasarkan faktor demografi ini untuk mengungkap dinamika perilaku yang lebih halus.
5 Rekomendasi Riset Berkelanjutan (dengan Justifikasi Ilmiah)
Agenda riset ke depan wajib beralih dari fase deskriptif ke fase intervensi dan pemodelan, berfokus pada mekanisme yang dapat mengubah perilaku pekerja dan insentif manajemen.
1. Validasi Kausalitas Faktor Sosio-Ekonomi dalam Kepatuhan K3
Justifikasi Ilmiah: Temuan bahwa "tuntutan pekerja masih pada kebutuhan dasar atau pokok" (Mean 3.60 ) adalah hambatan utama secara empiris menunjukkan bahwa keselamatan bersaing dengan kebutuhan finansial dasar. Pola pikir ini menempatkan keselamatan pada posisi subordinat dalam hirarki kebutuhan pekerja.
Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Perlu dilakukan studi kuasi-eksperimental dalam konteks proyek konstruksi. Studi ini harus membandingkan efektivitas dua skema kompensasi yang berbeda: satu kelompok (Kontrol) menerima skema bonus tradisional berbasis kecepatan/output, sementara kelompok intervensi menerima skema insentif yang stabil dan terjamin, ditambah peningkatan substansial dalam jaminan sosial (misalnya, jaminan kesehatan dan asuransi yang premium).
Menunjukkan Perlunya Penelitian Lanjutan: Riset ini akan memvalidasi hipotesis bahwa intervensi sosio-ekonomi (penyediaan jaring pengaman) adalah prasyarat yang lebih efektif daripada sekadar pelatihan K3. Variabel terukur adalah tingkat kepatuhan APD (diukur melalui observasi lapangan) dan frekuensi pelanggaran minor.
2. Implementasi dan Pengujian Model Behavioral Nudge untuk K3
Justifikasi Ilmiah: Kegagalan pendidikan K3 konvensional dibuktikan oleh rendahnya pola pikir K3 (Mean 3.50 ) dan kebiasaan bekerja tanpa perlindungan diri (Mean 3.37 ). Untuk mengatasi status quo bias ini, diperlukan intervensi non-koersif yang memengaruhi keputusan otomatis pekerja.
Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Melaksanakan studi intervensi terkontrol dengan menerapkan mekanisme Nudge Theory. Contoh nudge termasuk penggunaan umpan balik visual real-time mengenai tingkat kepatuhan APD di pintu masuk lokasi, atau implementasi sistem insentif kelompok di mana keselamatan satu individu memengaruhi bonus kolektif.
Menunjukkan Perlunya Penelitian Lanjutan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode komunikasi dan intervensi K3 yang dapat mengatasi resistensi perilaku. Variabel utamanya adalah perubahan sikap (diukur melalui kuesioner psikometrik) dan tingkat penggunaan APD harian (actual utilization rate).
3. Kajian Ergonomi APD Konstruksi Tropis dan Penyesuaian Desain
Justifikasi Ilmiah: Keluhan eksplisit pekerja mengenai "tidak nyamannya dengan peralatan perlindungan diri yang ada" (Mean 3.50 ) merupakan penghambat adopsi teknis langsung. APD yang disediakan, meskipun memenuhi standar (Mean 4.27 ), mungkin tidak dirancang secara ergonomis untuk iklim tropis atau jenis pekerjaan spesifik, yang mengakibatkan pelepasannya secara sengaja oleh pekerja.
Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Diperlukan studi desain dan ergonomi yang melibatkan metode kualitatif (FGD dengan pekerja untuk mengumpulkan data antropometri dan persepsi kenyamanan) diikuti dengan fase desain prototipe APD. Prototipe ini harus diuji coba lapangan dalam konteks iklim panas. Variabel yang diukur adalah Perceived Comfort Score dan Sustained Adherence Rate (tingkat penggunaan yang berkelanjutan) terhadap APD yang didesain ulang.
Menunjukkan Perlunya Penelitian Lanjutan: Hasil riset akan memberikan rekomendasi teknis yang dapat diaplikasikan pada industri manufaktur APD, memastikan bahwa perlengkapan keselamatan tidak hanya tersedia tetapi juga adaptif terhadap pengguna, sehingga menghilangkan justifikasi utama penolakan APD.
4. Pemodelan Ekonomi K3: Menghitung Return on Safety Investment (ROSI)
Justifikasi Ilmiah: Sikap perusahaan yang "meminimkan modal untuk menjalankan program K3" (Mean 3.53 ) didorong oleh persepsi K3 sebagai
cost center. Untuk mengubah paradigma manajemen, diperlukan bukti kuantitatif yang solid mengenai nilai ekonomi pencegahan.
Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Pengembangan model ekonomi kuantitatif (ROSI) yang menganalisis data proyek di Indonesia. Model ini harus secara eksplisit memasukkan biaya langsung (premi asuransi, denda) dan biaya tidak langsung (kehilangan waktu kerja, turnover karyawan, kerusakan reputasi) yang diakibatkan oleh kecelakaan kerja vs. biaya investasi dalam manajemen K3 yang unggul (pelatihan berkala, APD premium, kesehatan proaktif).
Menunjukkan Perlunya Penelitian Lanjutan: Dengan menyediakan alat analisis yang berbasis data, riset ini dapat memengaruhi kebijakan manajemen proyek. Tujuannya adalah untuk membuktikan bahwa investasi K3 yang memadai bukan hanya kewajiban, tetapi komponen penting dalam mengoptimalkan profitabilitas dan keberlanjutan proyek jangka panjang.
5. Analisis Komparatif Efektivitas Kebijakan Pengawasan Regulasi
Justifikasi Ilmiah: Lemahnya pengawasan pemerintah daerah (Mean 3.53 ) adalah pendorong utama kelonggaran perusahaan dalam menerapkan K3. Kelemahan ini memungkinkan perusahaan menghindari sanksi tegas (Mean 3.33 ) dan meminimalkan investasi.
Metode, Variabel, atau Konteks Baru: Melakukan studi komparatif kebijakan K3 (Analisis Kebijakan) antara Provinsi Sumatera Utara dan setidaknya dua provinsi lain di Indonesia yang dikenal memiliki tingkat kepatuhan K3 konstruksi yang lebih tinggi. Metode Mixed-Methods harus digunakan, menggabungkan audit kuantitatif (frekuensi dan kedalaman inspeksi, indeks keparahan sanksi yang diterapkan) dengan wawancara mendalam dengan regulator, kontraktor, dan asosiasi industri.
Menunjukkan Perlunya Penelitian Lanjutan: Penelitian ini krusial untuk mengidentifikasi praktik terbaik dalam penegakan hukum K3 dan mekanisme sanksi yang efektif. Hasilnya akan menjadi panduan bagi pembuat kebijakan untuk memperkuat mekanisme pengawasan, sehingga menghilangkan insentif perusahaan untuk meminimalkan modal K3.
Kesimpulan dan Imperatif Kolaboratif
Penelitian ini menegaskan pergeseran urgensi dalam riset K3 konstruksi, dari masalah teknis menjadi masalah behavioral dan kelembagaan. Meskipun perusahaan di lokasi studi telah memenuhi aspek penyediaan sarana K3 secara struktural, kegagalan adopsi di tingkat pekerja, yang didorong oleh kebutuhan sosio-ekonomi dan ketidaknyamanan APD, merupakan penghalang utama yang harus diatasi. Secara paralel, lemahnya pengawasan regulasi memberikan ruang bagi perusahaan untuk meminimalkan biaya K3, melanggengkan kegagalan program.
Untuk memastikan keberlanjutan dan validitas hasil yang dapat direplikasi, penelitian lebih lanjut harus melibatkan institusi Fakultas Teknik/Teknik Sipil (khususnya untuk rekayasa ergonomi dan pemodelan ROSI), Fakultas Ekonomi/Ilmu Sosial (untuk studi perilaku dan eksperimen nudge), dan Lembaga Pemerintah/Regulator K3 daerah (untuk studi komparatif kebijakan dan pengujian efektivitas pengawasan). Kolaborasi multidisiplin ini adalah kunci untuk merumuskan intervensi holistik yang efektif, yang mampu menyentuh baik dimensi manusia, manajerial, maupun regulasi dalam K3 konstruksi.
Sumber data: Saragi, T. E., & Sinaga, R. E. (2021). Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proyek Pembangunan Rumah Susun Lanjutan Provinsi Sumatera Utara I Medan. Jurnal Construct, 1(1), 41-48.