Supply Chain Performance Measurement dalam Industri Manufaktur: Framework, Tantangan, dan Metrik Evaluasi

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

06 Maret 2025, 09.00

Pixabay.com

Pendahuluan

Dalam industri manufaktur, Supply Chain Performance Measurement (SCPM) berperan penting dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas rantai pasok. Pengukuran kinerja ini membantu perusahaan dalam mengidentifikasi bottleneck, mengoptimalkan sumber daya, serta meningkatkan daya saing di pasar global.

Penelitian yang dilakukan oleh Ilkka Sillanpää dan Pekka Kess dari University of Vaasa dan University of Oulu ini mengkaji berbagai pendekatan dalam SCPM, termasuk metode strategis, operasional, dan taktis, serta menyoroti framework yang dapat digunakan oleh perusahaan manufaktur.

Metodologi Penelitian

Studi ini merupakan literature review yang mengumpulkan dan menganalisis penelitian sebelumnya terkait SCPM. Fokus utama penelitian ini adalah:

  • Pendekatan manajerial dalam SCPM.
  • Metode pengukuran berbasis waktu dan kinerja operasional.
  • Model evaluasi SCPM dalam konteks manufaktur.

Tujuannya adalah mengembangkan kerangka kerja pengukuran kinerja rantai pasok yang dapat diterapkan secara praktis dalam industri.

Temuan Utama

1. Pendekatan Manajerial dalam SCPM

Gunasekaran et al. (2001) mengelompokkan metrik SCPM menjadi tiga level:

  • Strategic Level → Metrik untuk keputusan top management seperti cash flow time, ROI, dan customer perceived value.
  • Tactical Level → Digunakan oleh middle management untuk mengoptimalkan sumber daya dan perencanaan produksi.
  • Operational Level → Metrik berbasis data real-time seperti lead-time, tingkat fleksibilitas, dan delivery performance.

2. Model Pengukuran Kinerja Supply Chain

Beberapa model SCPM utama yang dianalisis dalam penelitian ini:

Balanced Scorecard (BSC) → Mengukur aspek keuangan, pelanggan, proses internal, dan pembelajaran organisasi.
SCOR Model (Supply Chain Operations Reference) → Fokus pada reliability, responsiveness, flexibility, cost, dan asset management.
Economic Value Added (EVA) → Mengukur nilai tambah finansial yang dihasilkan oleh rantai pasok.
Activity-Based Costing (ABC) → Menghitung biaya berdasarkan aktivitas yang memberikan nilai tambah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara SCOR dan Balanced Scorecard memberikan hasil yang lebih optimal dalam pengukuran kinerja supply chain manufaktur.

3. Studi Kasus: Implementasi SCPM dalam Industri Manufaktur

Penelitian ini mengkaji implementasi SCPM di berbagai industri manufaktur. Beberapa contoh kasus:

📌 Industri Otomotif

  • Mengadopsi SCOR Model, yang meningkatkan akurasi prediksi permintaan hingga 25%.
  • Lead-time produksi berkurang 30%, meningkatkan efisiensi distribusi.

📌 Industri Elektronik

  • Implementasi Balanced Scorecard menghasilkan peningkatan efisiensi rantai pasok sebesar 18% dalam dua tahun.
  • SC visibility meningkat hingga 40% dengan penggunaan teknologi digital.

📌 Industri Farmasi

  • Penggunaan EVA dalam pengukuran kinerja supply chain meningkatkan keuntungan operasional sebesar 12%.
  • Optimasi inventory management mengurangi biaya stok hingga 20%.

Tantangan dalam Implementasi SCPM

Kurangnya Standarisasi dalam Pengukuran
➡ Banyak perusahaan memiliki framework SCPM yang berbeda, menyebabkan ketidaksesuaian dalam benchmarking.

Tingginya Biaya Implementasi Teknologi
Digitalisasi supply chain memerlukan investasi besar dalam sistem ERP, IoT, dan AI.

Kurangnya Keterampilan dalam Analisis Data
Sebagian besar perusahaan manufaktur masih bergantung pada metode manual, menyebabkan keterlambatan dalam pengambilan keputusan berbasis data.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan SCPM

Integrasi Digital dalam SCPM

  • Menggunakan Big Data dan AI untuk meningkatkan akurasi forecasting.
  • Implementasi Blockchain untuk meningkatkan transparansi rantai pasok.

Kolaborasi dengan Pemasok dan Mitra Logistik

  • Mengembangkan kontrak berbasis performa untuk meningkatkan keandalan rantai pasok.
  • Platform berbasis cloud untuk berbagi informasi secara real-time.

Menggunakan Framework Hybrid

  • Kombinasi SCOR dan Balanced Scorecard untuk hasil optimal.
  • Menyesuaikan metrik dengan kebutuhan spesifik industri manufaktur.

Kesimpulan

Studi ini menegaskan bahwa Supply Chain Performance Measurement (SCPM) merupakan elemen kunci dalam meningkatkan daya saing industri manufaktur. Dengan mengadopsi framework yang tepat, perusahaan dapat:
Meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Mengoptimalkan biaya operasional.
Mengurangi lead-time dan meningkatkan customer satisfaction.

Dalam era Industri 4.0, implementasi teknologi digital dalam SCPM menjadi faktor kritis yang harus diterapkan untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Sumber : Ilkka Sillanpää, Pekka Kess (2012). The Literature Review of Supply Chain Performance Measurement in the Manufacturing Industry. Management and Production Engineering Review, Vol. 3, No. 2, pp. 79–88.