Production Activity Control (PAC): Jembatan Eksekusi antara Perencanaan Produksi dan Lantai Manufaktur

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

05 Januari 2026, 01.04

Sumber: pexels.com

Pendahuluan

Dalam sistem perencanaan dan pengendalian produksi modern, tantangan terbesar bukan hanya merancang rencana jangka panjang, melainkan memastikan bahwa rencana tersebut benar-benar dapat dieksekusi di lantai produksi. Banyak organisasi manufaktur memiliki perencanaan bisnis, Sales and Operations Planning (S&OP), hingga Master Production Schedule (MPS) yang baik, namun gagal pada tahap implementasi harian.

Materi yang menjadi dasar artikel ini membahas Production Activity Control (PAC)—atau yang juga dikenal sebagai Shop Floor Control (SFC)—sebagai fase eksekusi paling operasional dalam sistem Manufacturing Planning and Control (MPC). PAC berfungsi sebagai penghubung antara rencana tingkat atas (MRP/MPS) dengan realitas keterbatasan mesin, tenaga kerja, dan waktu di lantai produksi.

Artikel ini menyajikan resensi analitis dari materi tersebut dengan menyusun ulang konsep, menambahkan interpretasi praktis, serta menjelaskan peran strategis PAC dalam menjaga konsistensi antara rencana dan realisasi produksi.

Posisi PAC dalam Hirarki Perencanaan Produksi

PAC tidak berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari rangkaian perencanaan produksi yang berlapis, mulai dari:

  • Business Planning (jangka panjang, tahunan),

  • Sales and Operations Planning (S&OP),

  • Master Production Schedule (MPS),

  • Material Requirements Planning (MRP),

  • hingga Production Activity Control (PAC) sebagai tahap eksekusi.

Perbedaan utama PAC dengan level di atasnya terletak pada horizon waktu. Jika MPS dan MRP bekerja dalam skala mingguan atau bulanan, PAC beroperasi pada level harian, per jam, bahkan per menit, biasanya dalam satu shift kerja.

Production Activity Control: Definisi dan Konsep Dasar

PAC didefinisikan sebagai sistem pengendalian aktivitas produksi yang berfokus pada:

  • routing (alur pekerjaan),

  • dispatching (pelepasan dan pengurutan pekerjaan),

  • serta monitoring kinerja operasi produksi.

Dalam literatur dan praktik, PAC juga sering disebut sebagai Shop Floor Control (SFC). Meskipun istilahnya berbeda, keduanya merujuk pada fungsi yang sama: mengendalikan apa yang terjadi di lantai produksi secara real time.

PAC memastikan bahwa setiap job atau order produksi:

  • dikerjakan di sumber daya yang tepat,

  • pada waktu yang tepat,

  • dengan urutan yang optimal.

Fungsi Utama Production Activity Control

Materi menegaskan bahwa PAC memiliki tiga fungsi utama, yaitu:

1. Eksekusi Aktivitas Produksi

PAC menerjemahkan rencana MRP menjadi aktivitas nyata di lantai produksi. Job besar dipecah menjadi:

  • operasi-operasi kecil,

  • waktu pengerjaan yang lebih detail,

  • dan penugasan ke mesin atau work center tertentu.

2. Pelaporan dan Monitoring Operasi

PAC menyediakan data aktual mengenai:

  • waktu mulai dan selesai pekerjaan,

  • tingkat keterlambatan atau percepatan,

  • utilisasi sumber daya.

Pelaporan ini dilakukan pada level manajemen operasional, biasanya harian atau per shift.

3. Evaluasi dan Penyesuaian Rencana

Meskipun rencana produksi telah “dibekukan” di level atas, PAC tetap menyediakan ruang untuk:

  • penyesuaian lokal,

  • koreksi terbatas,

  • dan penanggulangan gangguan seperti mesin rusak atau keterlambatan material.

Prinsip pentingnya adalah perubahan tidak boleh merambat ke level atas, kecuali benar-benar diperlukan.

PAC dan Hubungannya dengan Supplier Control

Selain mengendalikan produksi internal, PAC juga memiliki fungsi penting dalam:

  • pengendalian part yang dibeli (purchased parts),

  • koordinasi dengan supplier,

  • serta sinkronisasi kedatangan material dengan jadwal produksi.

Dengan demikian, PAC tidak hanya berorientasi pada “make”, tetapi juga pada “buy”, sehingga aliran material tetap seimbang.

Input–Process–Output dalam Production Activity Control

Seperti sistem produksi lainnya, PAC memiliki struktur input–process–output yang jelas.

Input PAC

Terdapat tiga input utama:

  1. Released orders dari MRP,

  2. Routing data (urutan operasi),

  3. Open orders (pekerjaan tertunda dari periode sebelumnya).

Input ini menjadi dasar mutlak untuk melakukan penjadwalan operasional.

Proses PAC

Proses utama dalam PAC meliputi:

  • sequencing (pengurutan job),

  • dispatching (pelepasan job ke lantai produksi),

  • penjadwalan operasi per work center,

  • serta penyesuaian terhadap kapasitas aktual.

Output PAC

Output PAC berupa:

  • jadwal mulai dan selesai setiap operasi,

  • status keterlambatan atau ketepatan waktu,

  • dasar pengambilan keputusan operasional.

Penjadwalan Operasional Berbasis MRP

Penjadwalan operasional dalam PAC berfokus pada:

  • urutan pekerjaan (sequencing),

  • durasi operasi,

  • serta keterbatasan sumber daya.

Penjadwalan ini bersifat sangat detail dan harus mempertimbangkan:

  • waktu setup,

  • waktu proses per unit,

  • waktu tunggu,

  • serta kapasitas mesin.

Dalam praktik, periode MRP yang masih berbentuk mingguan dikonversi menjadi satuan waktu yang lebih kecil, seperti jam atau menit.

Pendekatan Penjadwalan dan Pengurutan Job

Materi menjelaskan bahwa penjadwalan PAC dilakukan dengan:

  • mengidentifikasi semua operasi dari open order,

  • menentukan due date setiap order,

  • menghitung waktu mulai dan selesai secara backward atau forward scheduling.

Pendekatan ini memungkinkan manajer produksi:

  • meminimalkan keterlambatan,

  • mengoptimalkan penggunaan mesin,

  • serta menjaga aliran produksi tetap stabil.

Penanganan Keterlambatan dan Penyesuaian Jadwal

Dalam praktik, keterlambatan hampir tidak terhindarkan. Oleh karena itu, PAC menyediakan mekanisme penanggulangan, antara lain:

  • splitting job (membagi order),

  • penambahan mesin atau shift,

  • penyesuaian urutan prioritas.

Tujuan utamanya adalah meminimalkan dampak keterlambatan, bukan sekadar menghilangkannya secara idealistis.

Peran Teknologi dan Software dalam PAC

Materi menegaskan bahwa pada level PAC, penggunaan software menjadi sangat krusial. Penjadwalan manual semakin sulit dilakukan karena:

  • frekuensi perubahan yang tinggi,

  • volume data yang besar,

  • dan kebutuhan respon cepat.

PAC modern sering diintegrasikan dengan sistem ERP dan MES (Manufacturing Execution System) untuk memastikan visibilitas dan kecepatan pengambilan keputusan.

Implikasi Praktis bagi Industri Manufaktur

Bagi industri manufaktur, PAC memberikan implikasi penting:

  • menjembatani gap antara rencana dan realisasi,

  • mengurangi chaos di lantai produksi,

  • meningkatkan ketepatan pengiriman,

  • serta mengendalikan biaya akibat keterlambatan.

PAC bukan sekadar alat teknis, melainkan instrumen manajerial yang menentukan efektivitas sistem produksi secara keseluruhan.

Kesimpulan

Production Activity Control (PAC) merupakan tahap krusial dalam sistem perencanaan dan pengendalian produksi. PAC memastikan bahwa rencana yang disusun dari level bisnis hingga MRP dapat diterjemahkan menjadi aktivitas nyata di lantai produksi.

Artikel ini menegaskan bahwa keberhasilan PAC ditentukan oleh:

  • kualitas data MRP,

  • ketepatan routing,

  • kedisiplinan eksekusi,

  • serta kemampuan mengelola perubahan secara terkendali.

PAC bukan sekadar penjadwalan, melainkan seni mengelola keterbatasan sumber daya dalam waktu yang sangat sempit.

📚 Sumber Utama

Webinar Production Planning & Control – Production Activity Control
Materi Diklat Kerja – Manufacturing Planning & Control

📖 Referensi Pendukung

  • Vollmann et al. Manufacturing Planning and Control Systems

  • Slack, N. Operations Management

  • APICS Dictionary – Production Activity Control

  • Heizer & Render. Operations Management