Pendahuluan: Kepemimpinan sebagai Konsep yang Terus Berevolusi
Dalam orasi ilmiah yang disampaikan pada Sidang Orasi Ilmiah Guru Besar Institut Teknologi Bandung, Prof. Dr. Ir. Donald Kristopel Lantu, ST., MBA., PhD mengangkat tema pengembangan kepemimpinan bisnis dengan fokus pada pergeseran paradigma dari individu menuju ekosistem. Orasi ini menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan konsep yang terus berkembang dan tidak pernah memiliki satu definisi tunggal yang disepakati.
Prof. Donald membuka paparannya dengan refleksi bahwa jika seratus orang ditanya mengenai definisi kepemimpinan, maka akan muncul lebih dari seratus jawaban. Keragaman definisi ini mencerminkan kompleksitas kepemimpinan sebagai fenomena sosial yang dipengaruhi oleh konteks zaman, budaya, serta dinamika organisasi.
Evolusi Teori Kepemimpinan: Dari Great Man hingga Kontinjensi
Perkembangan teori kepemimpinan diawali oleh pendekatan klasik pada awal abad ke-20 yang dikenal dengan teori great man. Pendekatan ini memandang pemimpin sebagai individu istimewa yang terlahir dengan bakat alami dan tidak dapat dibentuk. Pemimpin dipersepsikan sebagai figur heroik dengan kualitas luar biasa yang membedakannya dari manusia pada umumnya.
Namun, pendekatan tersebut tidak menghasilkan temuan yang konklusif. Kritik terhadap teori bawaan melahirkan pendekatan behavioristik yang menekankan bahwa kepemimpinan dapat dipelajari dan dikembangkan melalui pelatihan. Semua individu pada prinsipnya memiliki peluang untuk menjadi pemimpin. Akan tetapi, pendekatan ini pun menghadapi keterbatasan karena belum sepenuhnya mampu menjelaskan perbedaan efektivitas kepemimpinan dalam situasi yang berbeda.
Keterbatasan tersebut kemudian melahirkan pendekatan kontinjensi yang memasukkan variabel situasional sebagai faktor penting. Efektivitas kepemimpinan dipengaruhi oleh karakteristik pengikut, struktur tugas, dan distribusi kekuasaan dalam organisasi. Dalam kerangka ini, gaya kepemimpinan dipandang perlu menyesuaikan dengan kondisi bawahan dan konteks organisasi.
Transformasional dan Transaksional: Memasukkan Pengikut dalam Ekuasi
Perkembangan berikutnya ditandai oleh munculnya teori kepemimpinan transformasional dan transaksional. Kepemimpinan transformasional menempatkan pengikut sebagai bagian integral dari proses kepemimpinan. Pemimpin tidak hanya mengandalkan otoritas formal, tetapi berupaya menginspirasi, mengenali kebutuhan individu bawahan, serta memberdayakan mereka untuk mencapai tujuan bersama.
Sebaliknya, kepemimpinan transaksional menekankan mekanisme pertukaran melalui sistem penghargaan dan hukuman. Pendekatan ini dinilai efektif dalam mendorong pencapaian kinerja jangka pendek, meskipun memiliki keterbatasan dalam membangun komitmen jangka panjang dan kreativitas organisasi.
Diskursus kepemimpinan dari pendekatan klasik hingga modern menunjukkan kecenderungan memposisikan pemimpin sebagai figur heroik. Ketika organisasi berhasil, pemimpin dipuja; ketika gagal, pemimpin dikritik secara keras. Pola ini menciptakan tekanan besar bagi individu pemimpin dan melanggengkan ilusi bahwa keberhasilan organisasi sepenuhnya ditentukan oleh satu sosok.
Paradigma Baru: Kepemimpinan sebagai Proses Sosial dan Etis
Dalam konteks kontemporer, Prof. Donald menekankan perlunya pergeseran paradigma menuju kepemimpinan sebagai proses sosial. Keberhasilan organisasi dipahami sebagai hasil interaksi antara pemimpin, pengikut, dan konteks, bukan semata-mata kemampuan individu pemimpin. Pendekatan ini menggeser fokus dari glorifikasi individu menuju penguatan sistem dan relasi sosial.
Aspek etika juga menjadi perhatian utama dalam kepemimpinan modern. Berbagai kasus pelanggaran etika oleh pemimpin menunjukkan bahwa efektivitas kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari integritas moral. Dalam konteks Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa toleransi terhadap pelanggaran etika memiliki batas tertentu, terutama ketika menyangkut aspek moral personal yang dianggap fundamental oleh masyarakat.
Perspektif Global dan Lokal dalam Kepemimpinan
Sebagian besar teori kepemimpinan berkembang di konteks Barat, sehingga sering kali kurang sensitif terhadap nilai-nilai lokal. Prof. Donald menekankan pentingnya memasukkan perspektif budaya dalam memahami kepemimpinan. Di Indonesia, nilai-nilai kepemimpinan lokal seperti yang diajarkan Ki Hajar Dewantara memberikan landasan etis dan sosial yang kuat, mulai dari keteladanan di depan hingga pemberdayaan dari belakang.
Penelitian lintas budaya juga menunjukkan bahwa preferensi gaya kepemimpinan sangat dipengaruhi oleh nilai masyarakat. Budaya kolektivis cenderung menerima kepemimpinan paternalistik, sementara budaya individualis lebih menghargai partisipasi dan egalitarianisme. Oleh karena itu, pendekatan kepemimpinan tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial dan budaya tempat organisasi beroperasi.
Perubahan Lanskap Global: Dari VUCA ke BANI
Perubahan lanskap global turut mengubah tuntutan terhadap kepemimpinan. Dunia yang sebelumnya relatif stabil berubah menjadi lingkungan yang volatil, tidak pasti, kompleks, dan ambigu. Setelah pandemi COVID-19, kondisi ini berkembang menjadi situasi yang rapuh, penuh kecemasan, nonlinier, dan sulit dipahami.
Dalam kondisi ini, pemimpin dituntut memiliki kemampuan adaptif dalam mengelola ketidakpastian dan kerentanan sistemik. Salah satu pembelajaran penting adalah perlunya kolaborasi dan pengelolaan aset secara fleksibel untuk menurunkan risiko biaya tetap yang tinggi. Kepemimpinan tidak lagi berfokus pada penguasaan aset, melainkan pada kemampuan membangun jejaring dan ekosistem yang tangguh.
Ambidextrous Leadership dan Pengembangan Ekosistem
Menjawab tantangan tersebut, Prof. Donald mengemukakan konsep ambidextrous leadership, yaitu kemampuan organisasi dan pemimpin untuk menjalankan dua fokus sekaligus. Di satu sisi, organisasi perlu mengeksploitasi bisnis yang ada untuk menghasilkan arus kas melalui efisiensi dan transformasi digital. Di sisi lain, organisasi harus mengeksplorasi inovasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
Pendekatan ini menuntut perbedaan struktur, budaya, dan mekanisme pengendalian. Eksploitasi cenderung bersifat mekanistis dan terpusat, sementara eksplorasi menekankan desentralisasi, kolaborasi, dan inovasi radikal. Kepemimpinan berperan sebagai penghubung yang menyeimbangkan kedua orientasi tersebut dalam satu ekosistem organisasi.
Pengembangan Kepemimpinan Berkelanjutan
Pengembangan kepemimpinan dipandang sebagai investasi strategis yang harus dilakukan di seluruh level organisasi. Prof. Donald menegaskan bahwa membangun pemimpin dari dalam organisasi jauh lebih efektif dibandingkan merekrut dari luar. Perkembangan praktik pengembangan kepemimpinan menunjukkan pergeseran dari pelatihan satu kali menuju pendekatan berjenjang, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Dalam konteks Indonesia, praktik pengembangan kepemimpinan melalui corporate university dan platform pembelajaran daring menunjukkan kemajuan signifikan. Integrasi teknologi memungkinkan pengembangan kepemimpinan yang adaptif dan relevan dengan tantangan abad ke-21, dengan fokus pada kapabilitas kolektif dan dinamika ekosistem.
Kesimpulan
Orasi ilmiah Prof. Donald Kristopel Lantu menegaskan bahwa kepemimpinan bisnis modern tidak lagi dapat dipahami sebagai kapasitas individual semata. Kepemimpinan merupakan proses sosial yang hidup dalam ekosistem organisasi dan lingkungan yang lebih luas. Pergeseran paradigma ini menuntut pemimpin yang adaptif, etis, kolaboratif, dan mampu membangun sistem kepemimpinan yang berkelanjutan.
Investasi dalam pengembangan kepemimpinan berbasis ekosistem menjadi fondasi penting bagi daya saing, ketahanan, dan keberlanjutan organisasi di tengah ketidakpastian global. Kepemimpinan pada akhirnya dimaknai sebagai panggilan untuk melayani kemajuan bersama demi kepentingan yang lebih besar.
Sumber
Lantu, Donald Kristopel.
Pengembangan Kepemimpinan Bisnis: Pergeseran Paradigma dari Individu ke Ekosistem.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut Teknologi Bandung.