1. Pendahuluan
Perubahan lanskap industri global menempatkan keberlanjutan sebagai prasyarat utama bagi daya saing jangka panjang. Industri tidak lagi dinilai semata-mata dari kemampuan menghasilkan keuntungan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial. Dalam konteks ini, konsep industri hijau menjadi agenda strategis yang menuntut penyesuaian cara berpikir, berproduksi, dan berinovasi.
Di Indonesia, tantangan penerapan industri hijau terasa lebih kompleks pada sektor industri kecil dan menengah. IKM memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi nasional dan penyerap tenaga kerja, tetapi pada saat yang sama menghadapi keterbatasan sumber daya, teknologi, dan akses terhadap pengetahuan mutakhir. Keterbatasan ini sering kali membuat IKM sulit beradaptasi dengan tuntutan keberlanjutan yang semakin ketat.
Artikel ini menganalisis pemanfaatan open innovation sebagai pendekatan strategis dalam perumusan strategi teknologi IKM menuju industri hijau. Open innovation diposisikan sebagai mekanisme untuk menjembatani keterbatasan internal IKM dengan peluang eksternal yang tersedia melalui kolaborasi, jejaring, dan pertukaran pengetahuan. Dengan pendekatan naratif-analitis, pembahasan diarahkan untuk menunjukkan bahwa strategi teknologi berbasis open innovation bukan sekadar pilihan teknis, tetapi kebutuhan struktural bagi keberlanjutan IKM.
2. Industri Hijau dan Tantangan Struktural Industri Kecil Menengah
Industri hijau secara konseptual merujuk pada praktik industri yang mengutamakan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya, meminimalkan dampak lingkungan, serta tetap memberikan manfaat ekonomi dan sosial. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip keberlanjutan yang menekankan keseimbangan antara dimensi ekonomi, lingkungan, dan sosial. Bagi industri besar, implementasi industri hijau relatif lebih memungkinkan karena dukungan modal, teknologi, dan sumber daya manusia yang memadai.
Sebaliknya, IKM menghadapi tantangan struktural yang lebih berat. Skala usaha yang kecil membatasi kemampuan investasi dalam teknologi ramah lingkungan. Selain itu, keterbatasan akses terhadap informasi dan pengetahuan membuat IKM sering kali tertinggal dalam adopsi praktik produksi bersih. Dalam banyak kasus, fokus utama IKM masih bertumpu pada keberlangsungan usaha jangka pendek, sehingga isu lingkungan dipandang sebagai beban tambahan, bukan sebagai peluang strategis.
Tantangan lain terletak pada karakteristik kepemilikan dan manajemen IKM. Keputusan teknologi sering kali sangat bergantung pada pemilik usaha, yang latar belakang pendidikan dan pengalamannya beragam. Kondisi ini memengaruhi cara pandang terhadap inovasi dan risiko. Tanpa dukungan eksternal yang memadai, IKM cenderung memilih teknologi yang sudah dikenal meskipun kurang efisien atau tidak ramah lingkungan.
Dalam konteks tersebut, penerapan industri hijau pada IKM tidak dapat mengandalkan pendekatan top-down semata. Diperlukan strategi yang adaptif dan kolaboratif untuk mengatasi keterbatasan internal. Open innovation menawarkan kerangka yang memungkinkan IKM mengakses sumber daya eksternal, mempercepat adopsi teknologi, dan merumuskan strategi teknologi yang lebih realistis serta berkelanjutan.
3. Open Innovation sebagai Mekanisme Akses Teknologi bagi IKM
Open innovation menawarkan perubahan mendasar dalam cara IKM mengakses dan mengembangkan teknologi. Alih-alih bergantung sepenuhnya pada kemampuan internal yang terbatas, IKM dapat memanfaatkan sumber daya eksternal melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga riset, pemasok teknologi, pemerintah, hingga komunitas pengguna. Pendekatan ini membuka peluang bagi IKM untuk memperoleh pengetahuan dan solusi teknologi yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dalam praktiknya, open innovation memungkinkan aliran pengetahuan dua arah. IKM tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi juga berperan sebagai mitra yang menyumbangkan pengetahuan kontekstual mengenai kebutuhan pasar, kondisi lokal, dan kendala operasional. Pengetahuan kontekstual ini sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan adaptasi teknologi hijau, karena solusi yang efektif di satu konteks belum tentu sesuai di konteks lain.
Mekanisme open innovation juga mengurangi risiko inovasi yang selama ini menjadi hambatan utama bagi IKM. Dengan berbagi risiko melalui kemitraan, biaya pengembangan dan ketidakpastian hasil dapat ditekan. Kolaborasi semacam ini memungkinkan uji coba teknologi dilakukan secara bertahap, sehingga IKM dapat belajar dan beradaptasi tanpa harus menanggung beban investasi besar di awal.
Lebih jauh, open innovation mendorong terbangunnya jejaring inovasi yang berkelanjutan. Ketika hubungan kolaboratif terpelihara, IKM memiliki akses jangka panjang terhadap pembaruan teknologi dan pengetahuan. Dalam konteks industri hijau, jejaring ini menjadi aset strategis karena tuntutan keberlanjutan bersifat dinamis dan terus berkembang seiring perubahan regulasi, pasar, dan teknologi.
4. Strategi Teknologi Berbasis Kapabilitas Internal dan Eksternal
Strategi teknologi IKM yang efektif tidak dapat dilepaskan dari pemahaman terhadap kapabilitas internal dan peluang eksternal. Kapabilitas internal mencakup sumber daya manusia, pengalaman produksi, serta kemampuan organisasi dalam menyerap dan mengadaptasi teknologi baru. Tanpa kapabilitas internal yang memadai, akses terhadap teknologi eksternal tidak akan menghasilkan dampak yang signifikan.
Open innovation berperan sebagai jembatan antara kapabilitas internal dan sumber daya eksternal. Melalui proses kolaboratif, IKM dapat meningkatkan kemampuan absorptifnya, yakni kemampuan mengenali nilai pengetahuan baru, mengasimilasinya, dan menerapkannya dalam konteks operasional. Proses ini menuntut keterlibatan aktif IKM dalam setiap tahap inovasi, bukan sekadar adopsi pasif.
Strategi teknologi berbasis open innovation juga menuntut selektivitas. Tidak semua teknologi hijau relevan atau sesuai bagi setiap IKM. Oleh karena itu, strategi perlu dirancang dengan mempertimbangkan kesesuaian teknologi dengan skala usaha, karakteristik produk, dan kondisi pasar. Pendekatan bertahap memungkinkan IKM memprioritaskan inovasi yang memberikan dampak lingkungan dan ekonomi paling signifikan dalam jangka pendek maupun menengah.
Selain itu, integrasi kapabilitas internal dan eksternal memerlukan dukungan tata kelola yang jelas. Peran pemerintah dan lembaga pendukung menjadi penting dalam memfasilitasi kolaborasi, menyediakan insentif, serta mengurangi hambatan birokrasi. Dengan tata kelola yang kondusif, open innovation dapat berkembang dari sekadar proyek kolaboratif menjadi strategi teknologi yang terinstitusionalisasi dalam praktik IKM.
5. Implikasi Open Innovation bagi Daya Saing dan Keberlanjutan IKM
Penerapan open innovation membawa implikasi strategis bagi daya saing dan keberlanjutan industri kecil dan menengah. Dengan membuka diri terhadap kolaborasi, IKM dapat mempercepat adopsi teknologi hijau yang meningkatkan efisiensi sumber daya dan menurunkan biaya operasional. Efisiensi ini secara langsung berdampak pada peningkatan daya saing, terutama dalam pasar yang semakin sensitif terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan.
Open innovation juga memungkinkan diferensiasi produk dan proses. Melalui akses terhadap pengetahuan dan teknologi eksternal, IKM dapat mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar niche, termasuk produk ramah lingkungan dengan nilai tambah lebih tinggi. Diferensiasi semacam ini penting bagi IKM untuk keluar dari persaingan berbasis harga dan membangun posisi pasar yang lebih kuat.
Dari perspektif keberlanjutan, open innovation mendukung transisi IKM menuju praktik produksi yang lebih bertanggung jawab. Kolaborasi dengan aktor eksternal memungkinkan transfer pengetahuan mengenai standar lingkungan, praktik produksi bersih, dan manajemen limbah. Dengan demikian, keberlanjutan tidak diposisikan sebagai kewajiban regulatif semata, tetapi sebagai bagian integral dari strategi bisnis.
Namun, implikasi positif ini tidak bersifat otomatis. Keberhasilan open innovation sangat bergantung pada komitmen IKM untuk berpartisipasi aktif dan berinvestasi dalam pengembangan kapabilitas internal. Tanpa komitmen tersebut, kolaborasi berisiko menjadi hubungan transaksional jangka pendek yang tidak menghasilkan pembelajaran berkelanjutan.
6. Refleksi Kritis dan Arah Kebijakan Industri Hijau Berbasis Kolaborasi
Refleksi atas penerapan open innovation dalam konteks IKM menunjukkan bahwa kolaborasi merupakan kebutuhan struktural, bukan sekadar pilihan strategis. Kompleksitas tantangan keberlanjutan dan keterbatasan internal IKM menuntut pendekatan kolektif yang melibatkan berbagai aktor dalam ekosistem inovasi. Dalam kerangka ini, open innovation menjadi mekanisme untuk menyatukan kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Arah kebijakan industri hijau ke depan perlu dirancang untuk memperkuat ekosistem kolaborasi. Pemerintah berperan penting dalam menciptakan insentif, platform, dan regulasi yang mendorong keterbukaan dan pertukaran pengetahuan. Kebijakan yang terlalu menekankan kepatuhan tanpa dukungan kolaboratif berisiko membebani IKM dan menghambat adopsi praktik hijau.
Selain itu, peran institusi pendidikan dan lembaga riset perlu diperkuat sebagai mitra strategis IKM. Keterlibatan akademisi dalam pengembangan teknologi dan pendampingan inovasi memungkinkan terjadinya alih pengetahuan yang lebih efektif dan kontekstual. Dengan demikian, open innovation tidak hanya mempercepat adopsi teknologi, tetapi juga membangun kapasitas inovasi nasional secara berkelanjutan.
Sebagai penutup, open innovation menawarkan kerangka strategis yang relevan bagi transformasi teknologi IKM menuju industri hijau. Melalui kolaborasi yang terstruktur dan berkelanjutan, IKM dapat mengatasi keterbatasan internal, meningkatkan daya saing, dan berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan. Tantangan ke depan terletak pada bagaimana kebijakan dan praktik kolaboratif dapat diintegrasikan secara konsisten dalam strategi industri nasional.
Daftar Pustaka
Wiratmadja, I. I. (2022). Open innovation sebagai strategi teknologi industri kecil dan menengah menuju industri hijau dan berdaya saing. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.
Chesbrough, H. (2003). Open innovation: The new imperative for creating and profiting from technology. Harvard Business School Press.
Chesbrough, H., Vanhaverbeke, W., & West, J. (2014). New frontiers in open innovation. Oxford University Press.
OECD. (2011). Towards green growth. OECD Publishing.
UNIDO. (2011). Green industry: Policies for supporting green industry. United Nations Industrial Development Organization.
Porter, M. E., & van der Linde, C. (1995). Toward a new conception of the environment–competitiveness relationship. Journal of Economic Perspectives, 9(4), 97–118.
Cohen, W. M., & Levinthal, D. A. (1990). Absorptive capacity: A new perspective on learning and innovation. Administrative Science Quarterly, 35(1), 128–152.