Mewujudkan Keberlanjutan dalam Last-Mile Logistics: Tantangan, Skenario Masa Depan, dan Solusi untuk 2035

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

27 Februari 2025, 10.28

pixabay.com

Pendahuluan

Dalam beberapa dekade terakhir, pertumbuhan e-commerce dan urbanisasi telah meningkatkan kebutuhan akan last-mile logistics, yaitu tahap akhir dalam rantai pasok di mana barang dikirim dari pusat distribusi ke pelanggan akhir. Namun, sektor ini juga menyumbang 25% dari total emisi CO₂ transportasi di perkotaan dan menyebabkan peningkatan polusi udara serta kemacetan lalu lintas. Oleh karena itu, berbagai pemangku kepentingan mulai mencari solusi untuk menjadikan last-mile logistics lebih berkelanjutan.

Studi ini mengkaji skenario potensial untuk tahun 2035 dengan fokus pada tiga faktor utama: kerja sama antar pemangku kepentingan, regulasi pemerintah, dan inovasi teknologi. Dengan menggunakan pendekatan Disaggregative Policy Delphi, penelitian ini mengumpulkan perspektif dari 26 pemangku kepentingan logistik yang berperan dalam perencanaan dan implementasi sistem distribusi di tiga kota Eropa.

Tantangan dalam Last-Mile Logistics

1. Dampak Lingkungan

  • Transportasi menyumbang hampir 25% dari total emisi CO₂ global, dengan 29,4% berasal dari logistik jalan raya.
  • Kendaraan pengiriman menyumbang emisi NOx dan partikel debu yang memperburuk kualitas udara perkotaan.

2. Fragmentasi dan Ketidakefisienan Operasional

  • Hanya 10–15% dari total lalu lintas perkotaan berasal dari kendaraan logistik, tetapi mereka menyebabkan kemacetan yang signifikan.
  • Banyak kendaraan beroperasi dengan kapasitas tidak penuh, meningkatkan konsumsi bahan bakar dan biaya operasional.

3. Regulasi dan Kebijakan Perkotaan

  • Beberapa kota mulai menerapkan zona rendah emisi (LEZ) dan pembatasan kendaraan besar, tetapi implementasi masih beragam.
  • Pemerintah daerah memiliki peran krusial dalam membentuk kebijakan logistik perkotaan agar lebih berkelanjutan.

Skenario Masa Depan Last-Mile Logistics di 2035

Penelitian ini mengembangkan enam skenario potensial berdasarkan faktor regulasi, inovasi, dan kerja sama.

1. The Old Wild WestMinim Regulasi dan Inovasi

  • Kondisi: Pemerintah minim intervensi, perusahaan beroperasi secara individual, dan inovasi berlangsung lambat.
  • Dampak: Emisi tetap tinggi, efisiensi rendah, dan persaingan bisnis kurang sehat karena tidak ada insentif untuk inovasi.

2. The New Wild WestInovasi Didorong oleh Pasar

  • Kondisi: Persaingan tinggi di antara perusahaan mendorong inovasi tanpa campur tangan pemerintah.
  • Dampak: Teknologi baru seperti kendaraan listrik dan drone mulai digunakan, tetapi kurangnya regulasi menyebabkan fragmentasi industri dan kurangnya koordinasi.

3. New Cool CollectiveKolaborasi Optimal antara Pemerintah dan Swasta

  • Kondisi: Pemerintah dan swasta bekerja sama dalam regulasi dan adopsi teknologi berkelanjutan.
  • Dampak: Emisi CO₂ berkurang hingga 50%, efisiensi logistik meningkat melalui pusat konsolidasi perkotaan (UCCs) dan penggunaan sepeda kargo listrik.

4. Revolution by DesignRegulasi Ketat Mendorong Transformasi

  • Kondisi: Pemerintah menerapkan regulasi ketat seperti pembatasan kendaraan berbahan bakar fosil dan pengenaan pajak karbon tinggi.
  • Dampak: Perusahaan dipaksa mengadopsi teknologi hijau, meningkatkan penggunaan kendaraan listrik hingga 72,2%, tetapi biaya operasional meningkat.

5. Thriving, IndividuallyInovasi Tinggi, tetapi Minim Kerja Sama

  • Kondisi: Perusahaan mengadopsi teknologi canggih tetapi tetap beroperasi sendiri tanpa koordinasi dengan pemangku kepentingan lain.
  • Dampak: Efisiensi meningkat, tetapi kemacetan dan emisi tetap tinggi karena kurangnya sistem logistik terpadu.

6. Good Intentions AboundRegulasi Berlebihan Tanpa Implementasi Efektif

  • Kondisi: Pemerintah mencoba mengendalikan logistik dengan regulasi ketat, tetapi implementasinya buruk.
  • Dampak: Banyak perusahaan logistik kecil terpaksa keluar dari pasar, sementara pemain besar mempertahankan dominasi mereka.

Solusi Keberlanjutan dalam Last-Mile Logistics

1. Optimalisasi Rute dan Konsolidasi Pengiriman

  • Menggunakan AI dan big data untuk merancang rute pengiriman yang lebih efisien dan mengurangi emisi.
  • Menerapkan pusat konsolidasi perkotaan (UCCs) untuk mengurangi jumlah kendaraan yang memasuki kota.

2. Penggunaan Moda Transportasi Ramah Lingkungan

  • Mengadopsi kendaraan listrik dan sepeda kargo untuk mengurangi emisi.
  • Menguji drone dan robot pengiriman untuk area dengan akses terbatas.

3. Pemanfaatan Parcel Lockers dan Pickup Points

  • Mengurangi pengiriman gagal hingga 30% dengan menyediakan titik pengambilan paket otomatis.
  • Menggunakan pickup points untuk meningkatkan efisiensi distribusi dan mengurangi kebutuhan perjalanan kendaraan.

Studi Kasus Implementasi Keberlanjutan dalam Last-Mile Logistics

1. DHL: Micro-Hubs dan Sepeda Kargo Listrik

  • Implementasi micro-hubs di pusat kota untuk konsolidasi paket sebelum pengiriman.
  • Penggunaan sepeda kargo listrik mengurangi emisi karbon hingga 60% dibandingkan van diesel.

2. UPS: Optimasi Rute Berbasis AI

  • Implementasi teknologi AI dalam optimasi rute meningkatkan efisiensi pengiriman sebesar 20%.
  • Program pengiriman malam hari mengurangi kemacetan dan meningkatkan kecepatan pengiriman.

3. Bpost: Penggunaan Parcel Lockers

  • Implementasi pickup points dan parcel lockers telah mengurangi kebutuhan pengiriman langsung ke rumah sebesar 30%.

Tantangan dan Rekomendasi Implementasi Solusi Berkelanjutan

1. Biaya Implementasi yang Tinggi

Solusi: Insentif pajak dan subsidi bagi perusahaan yang beralih ke kendaraan listrik dan pusat distribusi ramah lingkungan.

2. Kurangnya Kesadaran Konsumen

Solusi: Kampanye edukasi pelanggan tentang dampak lingkungan dari pilihan pengiriman mereka.

3. Regulasi yang Tidak Konsisten

Solusi: Standarisasi kebijakan keberlanjutan antar kota untuk menciptakan ekosistem logistik yang lebih efisien.

Kesimpulan

Keberlanjutan dalam last-mile logistics memerlukan kombinasi inovasi teknologi, regulasi yang efektif, dan kerja sama antara pemangku kepentingan.

Optimalisasi rute dan pusat konsolidasi dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi emisi.
Kendaraan listrik dan moda transportasi alternatif menjadi solusi utama untuk kota besar.
Pickup points dan parcel lockers dapat mengurangi perjalanan kendaraan dan meningkatkan fleksibilitas pelanggan.

Dengan strategi ini, masa depan last-mile logistics yang lebih berkelanjutan dan efisien dapat terwujud pada tahun 2035.

Sumber Artikel: Plazier, P., Rauws, W., Neef, R., & Buijs, P. (2024). Towards sustainable last-mile logistics? Investigating the role of cooperation, regulation, and innovation in scenarios for 2035. University of Groningen.