Menjaga Lingkungan, Melindungi Kesehatan: Peran Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dalam Pembangunan Berkelanjutan

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

23 Januari 2026, 11.58

Sumber: pexels.com

Pendahuluan: Pembangunan Berkelanjutan dan Tantangan Lingkungan Global

Pembangunan berkelanjutan menjadi salah satu isu paling krusial dalam pembangunan modern. Tujuannya adalah memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Prinsip ini telah ditegaskan secara global melalui Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) yang ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2015 untuk dicapai pada tahun 2030.

Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Ir. Indah Rahmatiah Siti Salami, M.Si., PhD, Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung, menyoroti bahwa pembangunan yang berorientasi pada peningkatan ekonomi dan teknologi sering kali membawa konsekuensi serius terhadap kualitas lingkungan. Dampak tersebut pada akhirnya berbalik mengancam kesehatan manusia, sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah pembangunan yang dilakukan benar-benar meningkatkan kesejahteraan?

Krisis Planet Global dan Dampak Aktivitas Manusia

Dunia saat ini menghadapi apa yang dikenal sebagai triple planetary crisis, yaitu krisis pencemaran lingkungan, kehilangan keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Ketiga krisis ini berakar pada aktivitas manusia yang memanfaatkan sumber daya alam secara masif untuk memenuhi kebutuhan produksi barang dan jasa.

Berbagai fenomena seperti pencemaran udara dan air, penumpukan sampah di laut, serta kerusakan ekosistem menjadi indikator bahwa lingkungan berada dalam kondisi tertekan. Dampak perubahan iklim yang semakin nyata, seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah Indonesia, menunjukkan bahwa degradasi lingkungan memiliki konsekuensi langsung maupun tidak langsung terhadap keselamatan dan kesejahteraan manusia.

Keterkaitan Lingkungan dan Kesehatan Manusia

Prof. Indah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekosistem, tetapi juga memiliki implikasi serius terhadap kesehatan manusia. Hubungan ini telah dibuktikan melalui berbagai kasus nyata yang terdokumentasi, termasuk yang diangkat dalam film-film berbasis fakta seperti A Civil Action, Erin Brockovich, dan Dark Waters.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bagaimana pencemaran bahan kimia industri dapat menyebabkan klaster penyakit serius seperti leukemia dan kanker akibat paparan jangka panjang. Fakta ini memperkuat bukti bahwa kualitas lingkungan merupakan determinan penting kesehatan masyarakat.

Pembangunan Berkelanjutan dan Tujuan Kesehatan Global

Dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan, tujuan ketiga yaitu kehidupan sehat dan sejahtera bagi semua usia menjadi fondasi utama. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 24% kematian global berkaitan dengan faktor lingkungan.

Temuan ini menegaskan bahwa upaya menjaga lingkungan bukan semata-mata isu ekologis, melainkan juga investasi langsung dalam perlindungan kesehatan manusia. Lingkungan yang tercemar akan meningkatkan beban penyakit dan menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Konsep Penyakit dan Interaksi Agen–Inang–Lingkungan

Dalam menjelaskan bagaimana penyakit dapat muncul akibat faktor lingkungan, Prof. Indah menguraikan konsep interaksi tiga komponen utama, yaitu agen penyebab penyakit, inang (manusia), dan lingkungan. Agen dapat berupa mikroorganisme, bahan kimia, atau faktor fisik seperti radiasi, sedangkan inang memiliki kerentanan berbeda akibat faktor genetik, perilaku, dan gaya hidup.

Lingkungan menjadi medium yang mempertemukan agen dan inang, termasuk kualitas air, udara, tanah, serta kondisi sanitasi dan sosial ekonomi. Penyakit muncul sebagai hasil interaksi kompleks ketiga komponen tersebut, yang dikenal sebagai web of causation.

Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan sebagai Alat Ilmiah

Untuk memahami dan memprediksi dampak pencemaran terhadap kesehatan, digunakan metode Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan (PRKL). Metode ini merupakan pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi bahaya, analisis pajanan, evaluasi dosis-respons, dan karakterisasi risiko.

Dalam PRKL, risiko dibedakan menjadi risiko karsinogenik dan non-karsinogenik. Hasil penilaian risiko menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu risiko dapat diterima atau memerlukan tindakan pengelolaan melalui manajemen risiko.

Aplikasi Penilaian Risiko pada Kasus Nyata di Indonesia

Prof. Indah memaparkan berbagai hasil penelitian yang dilakukan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Berbagai jenis pencemar ditemukan, mulai dari pestisida pertanian, limbah industri, hingga logam berat seperti arsenik.

Studi terhadap air tanah di Kabupaten Bandung menunjukkan bahwa arsenik merupakan kontaminan dominan yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan tinggi, baik non-karsinogenik maupun karsinogenik. Analisis spasial menunjukkan bahwa risiko kesehatan bervariasi antarwilayah dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan setempat.

Paparan Melalui Air, Udara, dan Rantai Makanan

Selain air minum, manusia juga terpapar pencemar melalui udara dan makanan. Penelitian menunjukkan bahwa daerah industri memiliki risiko kesehatan lebih tinggi akibat pencemaran udara, namun daerah permukiman juga dapat mengalami risiko signifikan akibat akumulasi logam berat dalam debu dan rantai makanan.

Bioakumulasi zat pencemar dalam ikan dan bahan pangan memperlihatkan bahwa risiko kesehatan sangat dipengaruhi oleh kebiasaan konsumsi masyarakat. Oleh karena itu, penilaian risiko harus mempertimbangkan karakteristik lokal dan perilaku penduduk.

Penilaian Risiko untuk Penentuan Prioritas Kebijakan

Salah satu kekuatan utama penilaian risiko kesehatan lingkungan adalah kemampuannya dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Dengan memetakan risiko secara spasial dan kuantitatif, pemerintah dapat menentukan wilayah prioritas yang memerlukan intervensi dan alokasi sumber daya.

Sejak tahun 2024, metode ini juga telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan sebagai bagian dari Kajian Dampak Kesehatan dalam proses AMDAL, menandai pengakuan formal atas pentingnya pendekatan ini dalam perencanaan pembangunan.

Tantangan dan Kebutuhan Pendekatan Multidisiplin

Meskipun memiliki manfaat besar, penilaian risiko kesehatan lingkungan masih menghadapi tantangan, terutama terkait keberagaman pencemar baru (emerging pollutants), paparan dosis rendah jangka panjang, serta keterbatasan data kesehatan dan lingkungan.

Untuk mengatasi ketidakpastian tersebut, diperlukan kerja sama multidisiplin yang melibatkan bidang teknik, kesehatan, statistik, instrumentasi, dan ilmu sosial. Pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi penilaian dan efektivitas kebijakan.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Indah Rahmatiah Siti Salami menegaskan bahwa perlindungan kesehatan manusia tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga kualitas lingkungan. Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan hadir sebagai alat ilmiah yang mampu menjembatani data pencemaran dengan dampak kesehatan secara kuantitatif dan sistematis.

Melalui pendekatan ini, pembangunan berkelanjutan tidak hanya menjadi slogan, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang berbasis bukti, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang. Di tengah kompleksitas tantangan lingkungan global, penilaian risiko menjadi fondasi penting dalam memastikan bahwa pembangunan benar-benar membawa manfaat bagi manusia dan generasi mendatang.

Sumber

Salami, I. R. S.
Peran Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dalam Mendukung Pembangunan Berkelanjutan.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB).