Pendahuluan
Dalam era disrupsi digital, rantai pasok yang berkelanjutan dan kompetitif menjadi kebutuhan mutlak. Paper ini, ditulis oleh Mahak Sharma, Rose Antony, Ashu Sharma, dan Tugrul Daim, mengintegrasikan elemen-elemen Industry 4.0 (I4.0), green practices (GP), agility, dan resilience ke dalam kerangka konseptual baru yang disebut IGRASS. Tujuannya adalah membangun rantai pasok pintar yang mampu menghadapi tantangan modern melalui optimalisasi teknologi dan keberlanjutan lingkungan.
Tujuan Penelitian
- Mengevaluasi pengaruh I4.0 dan green practices terhadap transformasi rantai pasok pintar.
- Menentukan hubungan antara elemen rantai pasok pintar dengan agility, resilience, dan sustainable business performance (SBP).
Kerangka IGRASS: Integrasi Pendekatan Multidimensi
IGRASS adalah pendekatan terpadu yang mencakup:
- I4.0: Teknologi seperti IoT, AI, big data, dan blockchain yang mendukung digitalisasi rantai pasok.
- Green Practices: Fokus pada keberlanjutan lingkungan, termasuk pengelolaan limbah dan pengurangan emisi karbon.
- Agility: Kemampuan untuk merespons perubahan pasar dengan cepat dan efisien.
- Resilience: Kemampuan untuk pulih dari gangguan dan memastikan stabilitas operasional.
- Smart Supply Chains: Menggabungkan sistem instrumented, interconnected, dan intelligent untuk meningkatkan efisiensi.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan structural equation modelling (SEM) dan pendekatan Artificial Neural Networks (ANN) untuk mengevaluasi 234 responden dari sektor rantai pasok di Inggris. Data dikumpulkan dari Oktober 2022 hingga Januari 2023.
Hasil Penelitian
- Industry 4.0 secara signifikan meningkatkan keberlanjutan rantai pasok.
- Dengan I4.0, efisiensi operasional meningkat hingga 35%, dan biaya operasional turun sebesar 20%.
- Green Practices berperan sebagai mediator.
- Praktik hijau seperti desain ramah lingkungan dan pengelolaan limbah mendukung pencapaian SBP dengan dampak langsung pada pengurangan emisi karbon hingga 40%.
- Supply Chain Agility dan Resilience saling melengkapi.
- Respon cepat terhadap gangguan dan kemampuan pulih yang cepat meningkatkan produktivitas hingga 30% lebih baik dibandingkan pendekatan tradisional.
Studi Kasus: Industri Manufaktur di Inggris
Salah satu studi kasus dari penelitian ini menunjukkan bagaimana perusahaan manufaktur di Inggris berhasil:
- Mengintegrasikan teknologi IoT dan big data untuk mengurangi waktu siklus produksi hingga 25%.
- Menggunakan green logistics untuk mengurangi emisi transportasi hingga 15% per tahun.
Kesimpulan dan Implikasi
Pendekatan IGRASS memberikan peta jalan bagi perusahaan untuk menciptakan rantai pasok yang lebih pintar, hijau, dan tangguh. Paper ini menekankan bahwa integrasi teknologi digital dan praktik hijau adalah kunci keberhasilan di masa depan. Selain itu, hasil penelitian memberikan panduan praktis bagi pengelola rantai pasok untuk meningkatkan daya saing global dan keberlanjutan jangka panjang.
Sumber Artikel:
Sharma, M., Antony, R., Sharma, A., & Daim, T. Can smart supply chain bring agility and resilience for enhanced sustainable business performance?.