Membangun Budaya Keselamatan Industri di Sektor Manufaktur

Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah

25 Februari 2025, 13.42

freepik.com

Budaya keselamatan industri merupakan faktor kunci dalam mengurangi kecelakaan kerja dan meningkatkan kesejahteraan karyawan di sektor manufaktur. Tingkat kecelakaan industri di tempat kerja terus meningkat setiap tahun, terutama di sektor manufaktur yang memiliki risiko tinggi. Berdasarkan statistik Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Malaysia (DOSH), angka kecelakaan kerja di sektor manufaktur meningkat dari 1.722 kasus pada tahun 2012 menjadi 2.333 kasus pada tahun 2016. Angka ini menunjukkan perlunya strategi yang lebih efektif dalam meningkatkan budaya keselamatan di industri ini.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi dan tingkat kesadaran pekerja terhadap budaya keselamatan di tempat kerja mereka. Dengan menganalisis faktor-faktor utama yang berkontribusi terhadap keberhasilan budaya keselamatan, penelitian ini memberikan wawasan bagi industri manufaktur dalam meningkatkan kebijakan keselamatan mereka.

Penelitian ini dilakukan melalui survei terhadap 140 karyawan di industri manufaktur di Pulau Pinang, Malaysia. Dari jumlah tersebut, sebanyak 101 responden dipilih sebagai sampel. Kuesioner yang digunakan terdiri dari tujuh bagian utama:

  1. Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSH Policy)
  2. Tanggung Jawab Manajemen Puncak (Top Management Responsibilities)
  3. Pelatihan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (OSH Training)
  4. Keterlibatan Karyawan (Employee Involvement and Engagement)
  5. Komunikasi Keselamatan (Safety Communication)
  6. Prosedur Kerja (Work Procedures)
  7. Pencegahan Risiko dan Bahaya (Hazard and Risk Prevention)

Hasil dan Temuan Utama

1. Tingkat Kesadaran Karyawan terhadap Budaya Keselamatan

Dari hasil survei, ditemukan bahwa:

  • 65% karyawan menyadari pentingnya kebijakan keselamatan, tetapi hanya 45% yang merasa kebijakan tersebut diterapkan secara konsisten.
  • 50% karyawan merasa bahwa manajemen puncak belum sepenuhnya berkomitmen dalam meningkatkan budaya keselamatan.
  • Hanya 38% karyawan yang pernah mengikuti pelatihan keselamatan secara rutin.
  • 70% karyawan menyatakan bahwa komunikasi keselamatan di tempat kerja masih perlu ditingkatkan.

2. Faktor yang Mempengaruhi Budaya Keselamatan

Penelitian ini mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi terhadap keberhasilan budaya keselamatan di industri manufaktur:

  • Komitmen Manajemen: Manajemen yang menunjukkan komitmen terhadap keselamatan cenderung memiliki tingkat kecelakaan kerja yang lebih rendah.
  • Pelatihan Keselamatan: Pelatihan yang berkelanjutan membantu meningkatkan kesadaran karyawan terhadap bahaya di tempat kerja.
  • Pelibatan Karyawan: Karyawan yang lebih terlibat dalam kebijakan keselamatan lebih cenderung mematuhi prosedur keselamatan.

3. Dampak dari Budaya Keselamatan yang Lemah

Kurangnya penerapan budaya keselamatan yang efektif dapat mengakibatkan:

  • Peningkatan jumlah kecelakaan kerja: Data dari DOSH menunjukkan bahwa kecelakaan kerja di sektor manufaktur meningkat dari 2.780 kasus pada tahun 2012 menjadi 3.702 kasus pada tahun 2016.
  • Produktivitas yang lebih rendah: Karyawan yang merasa tidak aman di tempat kerja cenderung mengalami stres, yang berujung pada penurunan produktivitas.
  • Biaya operasional yang lebih tinggi: Perusahaan yang tidak menerapkan sistem keselamatan dengan baik harus menghadapi biaya kompensasi yang lebih besar akibat kecelakaan kerja.

Rekomendasi untuk Meningkatkan Budaya Keselamatan

Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan budaya keselamatan di sektor manufaktur:

  1. Peningkatan Komitmen Manajemen
    • Manajemen harus lebih aktif dalam mengawasi penerapan kebijakan keselamatan.
    • Menetapkan target keselamatan yang jelas dan mengintegrasikan keselamatan sebagai bagian dari budaya perusahaan.
  2. Pelatihan Keselamatan yang Berkelanjutan
    • Mengadakan sesi pelatihan keselamatan secara berkala untuk meningkatkan kesadaran karyawan.
    • Menggunakan simulasi dan skenario nyata dalam pelatihan untuk memberikan pengalaman langsung kepada pekerja.
  3. Komunikasi yang Efektif Mengenai Keselamatan
    • Meningkatkan komunikasi internal terkait kebijakan keselamatan.
    • Menggunakan papan pengumuman atau aplikasi digital untuk menyebarluaskan informasi keselamatan secara real-time.
  4. Inspeksi dan Audit Keselamatan Secara Rutin
    • Melakukan audit keselamatan secara berkala untuk memastikan bahwa prosedur keselamatan dijalankan dengan baik.
    • Memberikan umpan balik kepada karyawan mengenai hasil audit dan langkah perbaikan yang diperlukan.
  5. Meningkatkan Keterlibatan Karyawan
    • Mendorong karyawan untuk melaporkan potensi bahaya tanpa takut akan sanksi.
    • Memberikan insentif bagi karyawan yang secara aktif berkontribusi dalam meningkatkan keselamatan di tempat kerja.

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa budaya keselamatan yang kuat di industri manufaktur dapat mengurangi kecelakaan kerja, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi biaya operasional. Dengan menerapkan kebijakan keselamatan yang efektif, meningkatkan pelatihan keselamatan, serta memperkuat komunikasi dan keterlibatan karyawan, perusahaan dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman dan produktif.

Implementasi budaya keselamatan yang kuat bukan hanya menjadi kewajiban hukum tetapi juga investasi jangka panjang yang dapat memberikan manfaat besar bagi perusahaan dan karyawan.

Sumber Asli

Aziz, Lia Dayana Binti Abdul. Total Industrial Safety Culture in Manufacturing Sector. Universiti Sains Malaysia, 2019.