Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta

Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko

23 Januari 2026, 11.21

Sumber: pexels.com

Pendahuluan: Revitalisasi Pesisir Jakarta sebagai Tantangan Strategis

Pesisir Jakarta merupakan wilayah dengan tingkat kompleksitas permasalahan yang tinggi. Sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional, Jakarta menghadapi tekanan besar berupa banjir, penurunan muka tanah, kepadatan permukiman, serta keterbatasan sumber daya air baku. Permasalahan ini tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkelindan dan diperparah oleh kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah pesisir utara Pulau Jawa.

Dalam orasi ilmiah yang disampaikan di Institut Teknologi Bandung, Prof. Ir. Andoyo Wurianto, M.Si., PhD mengangkat tema Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta. Orasi ini disampaikan pada saat isu pembangunan Giant Seawall tengah menjadi perbincangan hangat di masyarakat. Prof. Andoyo menegaskan sejak awal bahwa konsep yang dipaparkannya merupakan salah satu usulan, mengingat hingga saat ini belum terdapat satu desain definitif dari pemerintah.

Banjir, Penurunan Muka Tanah, dan Ketergantungan Air Baku

Salah satu permasalahan utama Jakarta adalah banjir yang datang dari berbagai arah. Ketika hujan terjadi di wilayah Bogor, Jakarta menerima banjir kiriman dari hulu. Ketika hujan turun di Jakarta sendiri, sistem drainase yang terbatas menyebabkan genangan meluas. Pada saat bersamaan, pasang laut yang tinggi juga memicu banjir rob di kawasan pesisir.

Kondisi ini diperparah oleh kenyataan bahwa wilayah pesisir Jakarta mengalami penurunan muka tanah yang signifikan. Penurunan ini ditengarai terutama disebabkan oleh pengambilan air tanah secara masif, baik oleh individu maupun industri. Ketergantungan masyarakat terhadap air tanah terjadi karena pasokan air baku dari sistem penyediaan air bersih belum mampu memenuhi kebutuhan secara penuh. Dalam orasinya, Prof. Andoyo mengutip berbagai referensi yang menunjukkan bahwa di beberapa lokasi, penurunan muka tanah Jakarta dapat mencapai sekitar sepuluh sentimeter per tahun.

Keterbatasan Tanggul Pantai Konvensional

Berbagai upaya perlindungan pantai sebenarnya telah dilakukan, salah satunya melalui pembangunan tanggul pantai. Namun, tanggul pantai konvensional yang dibangun tepat di garis pantai memiliki keterbatasan serius. Di kawasan dengan kepadatan permukiman tinggi seperti Muara Angke, pembangunan tanggul pantai kerap terhambat karena keterbatasan ruang dan potensi penggusuran.

Akibatnya, masyarakat di kawasan pesisir harus hidup berdampingan dengan banjir rob yang terjadi hampir setiap hari. Kondisi ini memunculkan narasi “hidup selaras dengan alam”, yang pada praktiknya sering dimaknai sebagai penerimaan terhadap risiko yang terus berulang tanpa solusi struktural yang memadai.

Konsep Tanggul Lepas Pantai dan Waduk Pantai

Sebagai alternatif, Prof. Andoyo mengusulkan konsep tanggul lepas pantai. Istilah ini sengaja digunakan untuk membedakannya dari tanggul pantai dan untuk menghindari resistensi sosial yang sering melekat pada istilah Giant Seawall. Tanggul lepas pantai dirancang dibangun di laut, sehingga tidak langsung bersinggungan dengan kawasan permukiman padat di daratan.

Konsep ini dipadukan dengan pembangunan waduk pantai yang berfungsi sebagai sumber air baku baru bagi Jakarta. Waduk pantai diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap pasokan air dari wilayah lain seperti Waduk Jatiluhur dan Waduk Karian, sekaligus menurunkan tekanan terhadap pengambilan air tanah.

Menjaga Fungsi Strategis Pelabuhan Tanjung Priok

Dalam pengembangan konsep tersebut, Prof. Andoyo menekankan pentingnya menjaga fungsi Pelabuhan Tanjung Priok sebagai mesin ekonomi nasional. Oleh karena itu, area Tanjung Priok tidak disentuh oleh bangunan tanggul lepas pantai maupun jembatan yang berpotensi menghambat pergerakan kapal.

Menurut Prof. Andoyo, ruang laut di sekitar pelabuhan memiliki kebutuhan yang bahkan lebih besar dibandingkan ruang darat. Dengan tidak mengganggu Tanjung Priok, konsep tanggul lepas pantai justru diarahkan untuk mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi pelabuhan tersebut.

Pendekatan Investasi dan Pembiayaan Berbasis Bisnis

Prof. Andoyo menegaskan bahwa proyek perlindungan pesisir berskala besar tidak seharusnya sepenuhnya membebani anggaran negara. Oleh karena itu, konsep tanggul lepas pantai dirancang sebagai investasi yang mampu membiayai dirinya sendiri.

Pada sisi barat pesisir Jakarta, diusulkan pembangunan pulau-pulau baru dengan skala yang sebanding dengan pengembangan kawasan Pantai Indah Kapuk. Pulau-pulau ini berpotensi dikembangkan sebagai kawasan properti yang mampu menghasilkan pendapatan. Selain itu, waduk pantai dapat dimanfaatkan untuk penjualan air baku, sementara jaringan jalan tol baru dirancang dengan skema pembiayaan bersama antara infrastruktur dan pengembangan kawasan.

Energi Terbarukan dan Optimalisasi Ruang Laut

Selain fungsi perlindungan pantai dan penyediaan air, tanggul lepas pantai juga membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan. Permukaan waduk pantai dan struktur tanggul dapat dimanfaatkan untuk pemasangan panel surya, sementara contoh dari negara lain seperti Belanda menunjukkan potensi integrasi dengan infrastruktur energi angin, meskipun karakteristik angin di Indonesia memiliki keterbatasan tersendiri.

Revitalisasi Kawasan Timur: Pertamina, Marunda, dan Nelayan

Di kawasan timur pesisir Jakarta, Prof. Andoyo mengusulkan pengembangan yang lebih kompleks. Salah satu elemen penting adalah pembangunan terminal terpadu Pertamina di pulau lepas pantai. Terminal ini dirancang untuk memisahkan fasilitas energi strategis dari kawasan permukiman padat, sekaligus meningkatkan efisiensi logistik energi nasional.

Selain itu, kawasan Marunda diusulkan untuk direvitalisasi melalui penyediaan lahan baru bagi relokasi dan pengembangan pelabuhan. Prof. Andoyo juga menekankan pentingnya kehadiran pelabuhan perikanan yang memadai bagi nelayan Jakarta. Dalam konsep yang diajukan, nelayan tidak dipinggirkan, melainkan ditempatkan berdekatan dengan fasilitas sandar dan kawasan aktivitasnya, sehingga kehidupan sosial dan ekonomi mereka dapat ditingkatkan secara bermartabat.

Kesimpulan

Orasi ilmiah Prof. Andoyo Wurianto menegaskan bahwa revitalisasi pesisir Jakarta membutuhkan pendekatan terpadu yang tidak hanya berorientasi pada perlindungan fisik dari banjir dan rob, tetapi juga pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Konsep tanggul lepas pantai dan waduk pantai yang diusulkan menawarkan solusi alternatif yang berupaya menjawab permasalahan banjir, penurunan muka tanah, serta keterbatasan air baku secara simultan.

Dengan menjaga fungsi strategis pelabuhan, membuka peluang investasi, dan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat pesisir, konsep ini menunjukkan bahwa perlindungan pantai dapat dirancang sebagai bagian dari pembangunan kota yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek infrastruktur semata.

Sumber

Andoyo Wurianto. Kontribusi Konsep Tanggul Lepas Pantai sebagai Revitalisasi Pesisir Jakarta.
Orasi Ilmiah Guru Besar, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung (ITB), 24 Mei 2025.
url: https://www.youtube.com/watch?v=IUPzM1jqq-E