Sistem dan Teknik Jalan Raya
Dipublikasikan oleh Timothy Rumoko pada 04 Januari 2026
Pendahuluan
Dalam konstruksi jalan, kualitas perkerasan tidak hanya ditentukan oleh lapisan aspal di permukaan, tetapi sangat bergantung pada kondisi tanah dasar (subgrade) sebagai fondasi utama. Banyak kegagalan jalan—seperti amblas, retak, gelombang, dan deformasi permanen—bermula dari tanah dasar yang tidak dipersiapkan dengan benar, atau tidak dipahami karakteristiknya sejak awal.
Materi yang menjadi dasar artikel ini menekankan pentingnya memahami fungsi tanah dasar, mengenali potensi permasalahan yang sering terjadi, serta menerapkan pengujian laboratorium dan lapangan sebagai standar pengendalian mutu. Fokus pembahasan dibatasi pada tanah dasar dan pengujiannya, sementara lapisan perkerasan lain (subbase, base, dan surface) dijelaskan pada sesi atau serial materi berikutnya.
Artikel ini menyajikan resensi analitis dari materi tersebut dengan struktur yang sistematis, memberikan interpretasi praktis, serta mengaitkannya dengan kebutuhan pekerjaan jalan tol maupun jalan tambang.
Tanah Dasar sebagai Fondasi Perkerasan
Definisi dan Fungsi Subgrade
Tanah dasar (subgrade) adalah lapisan tanah paling bawah dalam sistem perkerasan jalan yang berfungsi mendukung lapisan-lapisan di atasnya agar jalan mampu menahan beban lalu lintas dan volume kendaraan. Dalam konsep perkerasan, subgrade berada paling bawah, di atasnya terdapat lapisan pondasi dan lapisan permukaan.
Subgrade dapat berasal dari:
tanah galian,
tanah timbunan, atau
tanah asli.
Terlepas dari asalnya, tanah dasar harus dipersiapkan agar memiliki kekuatan sesuai fungsinya, karena kegagalan subgrade akan mengakibatkan kerusakan berantai hingga lapisan di atasnya.
Permasalahan Umum pada Tanah Dasar
1. Deformasi Permanen akibat Beban Lalu Lintas
Masalah paling sering ditemui adalah perubahan bentuk tetap karena beban lalu lintas. Deformasi yang besar dapat menyebabkan ketidakrataan permukaan dan mempercepat kerusakan jalan.
2. Sifat Mengembang dan Menyusut akibat Perubahan Kadar Air
Tanah tertentu memiliki sifat ekspansif: saat kadar air tinggi tanah menjadi sangat lunak, dan saat kering menjadi retak-retak. Tanah seperti ini umum ditemukan di area persawahan atau tanah lempung ekspansif, dan sangat berisiko bila digunakan tanpa pengendalian.
3. Daya Dukung Tidak Merata
Tanah pada satu ruas tidak selalu seragam. Ketidakseragaman daya dukung menyebabkan penurunan diferensial dan memicu retak atau gelombang pada perkerasan.
4. Lendutan dan Penurunan
Lendutan akibat beban berulang serta penurunan akibat tanah yang belum padat menjadi faktor utama kegagalan pada jalan, baik jalan tol maupun jalan non-tol.
Materi juga menampilkan contoh kegagalan di lapangan: meskipun ada perkuatan (misalnya geotekstil), tanpa pemahaman karakteristik tanah dan persiapan yang benar, kerusakan tetap dapat terjadi.
Prinsip Pengendalian Mutu Tanah Dasar
Berbasis Peraturan dan Standar Pengujian
Upaya mengatasi persoalan subgrade harus mengacu pada standar pelaksanaan pembangunan dan prosedur pengujian yang sah. Penentuan kualitas tanah dilakukan melalui:
identifikasi kondisi tanah,
klasifikasi tanah dan agregat,
pengujian sifat penting tanah (Atterberg limits),
pengujian pemadatan,
serta pengujian daya dukung (CBR).
Di Indonesia, standar rujukan umumnya adalah SNI yang banyak mengacu pada standar internasional seperti AASHTO/ASTM.
Pengujian Atterberg Limits sebagai Indikator Kualitas Tanah
Uji Batas Cair (Liquid Limit / LL)
Uji batas cair dilakukan menggunakan alat Casagrande, dengan tahapan utama:
material disaring (umumnya lolos saringan No. 40),
dicampur air dan ditempatkan dalam cawan,
dibuat alur, lalu diketuk hingga alur menutup pada lebar tertentu,
nilai kadar air pada kondisi 25 ketukan ditetapkan sebagai LL.
Uji ini menentukan batas kondisi tanah dari plastis menuju cair.
Uji Batas Plastis (Plastic Limit / PL)
Uji batas plastis dilakukan dengan menggulung tanah menjadi batang hingga diameter sekitar 3 mm, sampai muncul retakan halus. Kondisi ini menjadi nilai PL.
Indeks Plastisitas (Plasticity Index / PI)
PI dihitung dari selisih:
PI = LL – PL
PI dan LL menjadi indikator utama kualitas tanah. Semakin tinggi LL dan PI, tanah semakin buruk untuk material konstruksi jalan karena lebih rentan terhadap perubahan volume akibat air.
Materi mencontohkan tanah yang retak-retak saat kering sebagai indikasi tanah ekspansif yang mencapai kondisi batas susut, dan ini merupakan jenis tanah yang perlu diwaspadai.
Pengujian Pemadatan untuk Meningkatkan Daya Dukung
Mengapa Tanah Harus Dipadatkan
Pemadatan dilakukan karena:
meningkatkan daya dukung tanah,
mengurangi risiko perubahan volume,
meningkatkan kekuatan dan stabilitas,
mengurangi risiko penurunan diferensial.
Sebelum pemadatan lapangan, harus dilakukan uji pemadatan laboratorium untuk memperoleh standar acuan.
Jenis Pengujian Pemadatan
1. Proctor Standar (Pemadatan Ringan)
Ciri utama:
hammer ±2,5 kg,
tinggi jatuh ±12 inch,
jumlah lapisan 3,
jumlah tumbukan bergantung ukuran cetakan.
2. Proctor Modifikasi (Pemadatan Berat)
Ciri utama:
hammer lebih berat (±4,5–5 kg),
tinggi jatuh ±18 inch,
jumlah lapisan 5,
menghasilkan berat isi kering maksimum lebih tinggi,
tetapi kadar air optimum lebih rendah dibanding Proctor standar.
Hasil Uji Pemadatan
Kadar Air Optimum dan Berat Isi Kering Maksimum
Hasil uji pemadatan menghasilkan kurva (parabola) antara kadar air dan berat isi kering. Prinsip pentingnya:
tanah tidak boleh terlalu kering,
tidak boleh terlalu basah,
kondisi terbaik berada pada kadar air optimum (OMC) yang menghasilkan berat isi kering maksimum (MDD).
Nilai ini menjadi acuan pemadatan lapangan agar hasilnya mendekati kondisi optimum.
CBR sebagai Parameter Daya Dukung Tanah Dasar
CBR untuk Menentukan Ketebalan Perkerasan
CBR (California Bearing Ratio) digunakan untuk menilai daya dukung tanah asli maupun timbunan. Nilai CBR menjadi dasar penentuan ketebalan lapisan perkerasan.
CBR Laboratorium
Tahapan umum:
tanah dipadatkan dalam cetakan (mengacu pada hasil uji pemadatan),
dibuat beberapa variasi energi (jumlah tumbukan),
kemudian dilakukan perendaman (umumnya 4 hari) untuk mensimulasikan kondisi jenuh air,
diuji dengan piston pada penetrasi 0,1 inch dan 0,2 inch,
nilai CBR ditentukan dari perbandingan beban penetrasi terhadap beban standar (100%).
Nilai tertinggi dari hasil penetrasi yang memenuhi ketentuan digunakan sebagai CBR material.
CBR Lapangan
CBR lapangan dilakukan langsung pada lapisan tanah di lokasi dengan menggali area uji, lalu melakukan penetrasi dan pengukuran beban sesuai prosedur.
DCP sebagai Alternatif Estimasi CBR
Dynamic Cone Penetrometer (DCP) digunakan untuk tanah halus (misalnya lempung), bukan untuk material batuan kasar. Hasil tumbukan dikonversi menjadi nilai CBR melalui tabel atau grafik korelasi.
Kontrol Kepadatan Lapangan
Sand Cone sebagai Metode Pengujian Kepadatan
Setelah pemadatan lapangan (misalnya per 20 cm tiap lapis), perlu kontrol kepadatan. Salah satu metode yang umum adalah Sand Cone.
Prinsipnya:
membuat lubang uji dengan dimensi tertentu,
tanah hasil galian ditimbang dan diuji kadar airnya,
volume lubang ditentukan memakai pasir standar terkalibrasi,
dihitung berat isi kering lapangan,
dibandingkan dengan berat isi kering maksimum laboratorium.
Kriteria kelulusan umumnya:
≥ 95% dari MDD (bahkan pada kondisi tertentu bisa mensyaratkan mendekati 100%).
Jika tidak memenuhi, pemadatan harus diulang: lintasan alat ditambah atau metode diperbaiki.
Keterkaitan untuk Jalan Tambang
Tahapan Prinsip Tetap Berlaku, Spesifikasi Menyesuaikan
Materi juga menyinggung bahwa jalan tambang dapat memiliki spesifikasi berbeda dari jalan umum, tetapi prinsip pengendalian tanah dasar tetap sama:
uji LL-PL-PI untuk memastikan kualitas timbunan,
uji pemadatan untuk memperoleh OMC dan MDD,
uji CBR untuk menentukan ketebalan perkerasan,
kontrol kepadatan lapangan untuk menjamin mutu.
Perbedaannya terletak pada desain tebal lapisan yang disesuaikan dengan beban kendaraan tambang dan standar proyek setempat.
Kesimpulan
Tanah dasar merupakan fondasi utama dalam sistem perkerasan jalan. Banyak kegagalan jalan berasal dari tanah dasar yang tidak dipahami sifatnya dan tidak dikendalikan melalui prosedur standar.
Artikel ini menegaskan bahwa pengendalian mutu tanah dasar harus dilakukan berurutan:
uji Atterberg (LL, PL, PI),
uji pemadatan laboratorium (Proctor standar/modified),
uji CBR (laboratorium/lapangan/DCP),
kontrol kepadatan lapangan (misalnya sand cone).
Dengan tahapan tersebut, subgrade dapat dipersiapkan secara ilmiah dan sesuai standar, sehingga ketahanan jalan—baik jalan tol maupun jalan tambang—dapat dicapai secara optimal.
📚 Sumber Utama
Materi Webinar/Diklat Teknik Jalan – Penyiapan Tanah Dasar (Subgrade), Uji Pemadatan, dan CBR
📖 Referensi Pendukung
SNI 03-1967: Uji Batas Cair (Liquid Limit)
SNI terkait Atterberg Limits, Proctor, dan CBR
AASHTO / ASTM Standards for Soil Testing
Das, B. M. Principles of Geotechnical Engineering
Bowles, J. E. Engineering Properties of Soils and Their Measurement
Sistem dan Teknik Jalan Raya
Dipublikasikan oleh Hansel pada 13 Oktober 2025
Suara dentuman ban mobil yang menghantam lubang tak terlihat, guncangan yang terasa hingga ke tulang, dan kekhawatiran seketika akan kerusakan suspensi atau ban. Ini adalah pengalaman universal bagi jutaan pengendara, sebuah "pajak" tak resmi yang dibayar karena kondisi infrastruktur yang terasa semakin rapuh. Namun, di balik ketidaknyamanan sesaat ini, tersembunyi sebuah masalah sistemik yang jauh lebih dalam, lebih mahal, dan lebih berbahaya.
Sebuah penelitian dari para insinyur di Universiti Tun Hussein Onn Malaysia memutuskan untuk membongkar masalah ini hingga ke akarnya, dengan fokus pada salah satu urat nadi transportasi paling vital di Semenanjung Malaysia: Jalan Tol PLUS.1 Apa yang mereka temukan bukanlah sekadar aspal yang retak, melainkan sebuah sistem yang retak—sistem yang masih bergantung pada tumpukan kertas di era digital.
Gema Keluhan di Jalan Raya: Biaya Tak Terlihat dari Selembar Kertas
Jalan raya yang terawat dengan baik adalah fondasi kemajuan ekonomi dan sosial sebuah negara. Sebaliknya, penelitian ini menegaskan sebuah kebenaran yang suram: "jaringan jalan yang tidak terawat dengan baik akan merusak mobilitas, meningkatkan angka kecelakaan, mengintensifkan isolasi, kemiskinan, dan biaya operasional kendaraan".1 Di Malaysia, dampak ini sangat nyata dan seringkali tragis. Studi tersebut menyoroti bahwa "kerusakan perkerasan jalan diketahui menjadi salah satu kontributor utama kecelakaan kendaraan bermotor yang fatal".1 Setiap retakan dan lubang bukan lagi sekadar gangguan, melainkan potensi ancaman keselamatan yang serius.
Lalu, di mana letak masalahnya? Para peneliti menemukan bahwa musuh sebenarnya bukanlah kurangnya niat untuk memperbaiki jalan, melainkan metode yang digunakan. Investigasi mereka menyimpulkan bahwa "pekerjaan perawatan jalan tidak dirancang secara memadai dan efektif karena memerlukan lebih banyak waktu dan melibatkan banyak sekali dokumen".1 Ini adalah gambaran pertarungan antara masalah abad ke-21—kerusakan jalan yang dinamis dan tak terduga—dengan solusi dari abad ke-20: formulir kertas, laporan manual, dan alur birokrasi yang lambat.
Inefisiensi yang disebabkan oleh tumpukan kertas ini bukan hanya masalah administrasi, tetapi juga menjadi katalisator risiko finansial dan keselamatan. Keterlambatan yang disebabkan oleh alur kerja manual secara langsung menciptakan jendela waktu di mana kerusakan kecil dapat berkembang menjadi kegagalan struktural total. Paper tersebut menyatakan bahwa "menunda atau menangguhkan perawatan jalan menghasilkan biaya langsung dan tidak langsung yang tinggi".1 Hubungannya sangat jelas: proses berbasis kertas adalah penyebab utama penundaan tersebut. Setiap lembar formulir adalah titik potensial untuk keterlambatan, kehilangan data, atau kesalahan interpretasi. Akibatnya, kerusakan yang seharusnya bisa diperbaiki dengan biaya "sederhana" jika ditangani dengan cepat, dibiarkan memburuk karena alur kerja yang lamban, hingga akhirnya memerlukan "rekonstruksi penuh dengan biaya yang sangat tinggi".1 Ini adalah pemborosan anggaran negara dan peningkatan risiko bagi publik yang disebabkan langsung oleh metode kerja yang usang.
Dari Laboratorium ke Jalan Tol: Misi Mencari Solusi Cerdas
Di tengah frustrasi ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Nurul Husna Mohd Jamail tidak hanya duduk di menara gading akademis. Mereka turun ke lapangan sebagai pemecah masalah dengan misi yang jelas: "mengenali jenis-jenis kerusakan, masalah, dan kekurangan dalam praktik perawatan jalan saat ini dan mengembangkan program perawatan jalan tol terkomputerisasi".1
Para peneliti dengan cepat mengidentifikasi adanya kesenjangan digital yang signifikan. Meskipun aplikasi jalan tol seperti aplikasi resmi PLUS dan LLM Traffic sudah ada, fokusnya hampir secara eksklusif pada "informasi lalu lintas," hotline darurat, dan tarif tol.1 Tidak ada satu pun platform yang didedikasikan untuk tulang punggung operasional jalan tol itu sendiri: perawatannya. Kesenjangan kritis inilah yang coba diisi oleh sistem yang mereka usulkan, sebuah platform yang disebut Intelligent Road Maintenance System (IRMs).
Untuk memastikan solusi mereka tidak berakhir sebagai teori yang indah di atas kertas, para peneliti membingkai metodologi mereka sebagai sebuah dialog massal. Mereka tidak berasumsi, mereka "mendengarkan." Kuesioner terstruktur disebarkan kepada 400 responden yang paling memahami denyut nadi jalan tol: pihak otoritas (PLUS Berhad, Malaysian Highway Authority/MHA), kontraktor pelaksana (UEM EDGENTA PROPEL), para insinyur, dan yang terpenting, pengguna jalan itu sendiri.1
Langkah ini terbukti sangat strategis. Dengan melibatkan seluruh spektrum pemangku kepentingan—mulai dari pemilik aset, regulator, pelaksana di lapangan, hingga pelapor masalah—para peneliti secara proaktif memastikan solusi yang mereka rancang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga layak secara operasional dan relevan bagi semua pihak. Ini adalah cara untuk mencegah terciptanya "solusi di dalam vakum" dan memastikan bahwa aplikasi IRMs yang lahir dari data ini akan memiliki tingkat adopsi yang tinggi karena fitur-fiturnya telah divalidasi oleh seluruh rantai ekosistem perawatan jalan.
Suara dari Aspal: Kerusakan Apa yang Paling Menghantui Pengendara?
Hasil survei dari 400 responden memberikan gambaran yang jelas tentang ancaman nyata di jalan raya. Data ini, yang dianalisis secara statistik, melukiskan potret kolektif tentang apa yang paling dikhawatirkan oleh para ahli dan pengguna jalan.
Data ini lebih dari sekadar daftar keluhan; ia secara implisit menciptakan sebuah hierarki prioritas perbaikan yang didasarkan pada persepsi gabungan antara publik dan para ahli. Ini adalah peta jalan berbasis data yang dapat digunakan manajer perawatan untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih efektif. Alih-alih merespons laporan secara acak, mereka dapat memfokuskan tim inspeksi pada jenis kerusakan yang memiliki skor "bahaya" tertinggi menurut data kolektif, mengubah manajemen perawatan dari reaktif menjadi proaktif berbasis risiko.
IRMs: Membangun Jembatan Digital di Atas Jalan Tol
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti merancang arsitektur solusi IRMs. Konsepnya cerdas dan terintegrasi: dua aplikasi berbeda—satu untuk pengguna jalan dan satu untuk tim perawatan—yang saling terhubung dan "berbagi database yang sama".1 Analogi sederhananya, satu aplikasi berfungsi sebagai "mata dan telinga" publik, sementara yang lain adalah "otak dan tangan" tim perawatan.
Aplikasi Pengguna: Pemberdayaan di Ujung Jari
Aplikasi yang dirancang untuk publik ini bertujuan untuk memberdayakan setiap pengemudi menjadi sensor aktif di jaringan jalan tol.
Aplikasi Perawatan: Pusat Komando Digital
Aplikasi kedua dirancang khusus untuk tim internal dan secara langsung menyerang inefisiensi inti dari sistem berbasis kertas.
Desain IRMs yang berbasis "database bersama" ini menciptakan apa yang dikenal dalam dunia teknologi sebagai single source of truth—satu sumber kebenaran. Ini menyatukan persepsi publik dengan realitas operasional di lapangan. Saat ini, informasi seringkali terfragmentasi: keluhan publik ada di media sosial, laporan kerja ada di tumpukan kertas di kantor kontraktor, dan data anggaran ada di spreadsheet terpisah. Dengan menyatukan semua ini, IRMs menciptakan transparansi radikal yang memaksa akuntabilitas, karena data tidak bisa lagi disembunyikan atau dimanipulasi. Ini adalah fondasi untuk manajemen infrastruktur prediktif berbasis data di masa depan.
Mandat yang Tak Terbantahkan: Saat Publik dan Ahli Berkata "Ya" pada Teknologi
Di antara semua data yang dikumpulkan, ada satu angka yang menonjol sebagai momen "aha!" dari penelitian ini. Ketika responden ditanya tentang berbagai saran untuk perbaikan—termasuk hal-hal yang sudah jelas seperti "melakukan perbaikan jalan dengan cepat" (Mean: 4.22) dan "meningkatkan layanan terhadap keluhan" (Mean: 4.23)—satu saran melampaui semuanya. Saran untuk "menciptakan aplikasi seluler yang efektif dan komprehensif" menerima skor tertinggi mutlak: 4.33 dari 5.1
Angka ini harus diinterpretasikan bukan hanya sebagai "dukungan," tetapi sebagai sebuah mandat yang luar biasa dari seluruh pemangku kepentingan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak lagi menginginkan perbaikan inkremental; mereka mendambakan perubahan transformasional. Kepercayaan pada sistem lama yang berbasis kertas telah terkikis, dan mereka melihat teknologi sebagai satu-satunya jalan ke depan yang kredibel. Lompatan dari skor 4.28 (untuk jadwal kerja yang lebih terorganisir) ke 4.33 (untuk aplikasi) adalah sinyal kuat bahwa masalahnya bukan lagi hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana itu dilakukan.
Bagi para pengambil keputusan di otoritas jalan tol, skor 4.33 ini secara efektif menghilangkan risiko persepsi dalam mengadopsi teknologi baru. Ini bukan lagi tentang "mendorong" inovasi kepada pengguna yang mungkin enggan, tetapi tentang "memenuhi" permintaan yang sudah ada dan terukur dari pasar. Data dari 400 responden ini berfungsi sebagai studi kelayakan yang solid, memberikan bukti kuantitatif bahwa produk ini sangat diinginkan sebelum satu baris kode pun ditulis. Ini mengubah narasi dari "biaya inovasi" menjadi "investasi dalam efisiensi yang diminta oleh pelanggan"—sebuah pergeseran psikologis krusial yang dapat mempercepat persetujuan dan implementasi proyek.
Refleksi Kritis: Jalan Terjal Menuju Implementasi
Meskipun visi yang ditawarkan sangat menjanjikan, jalan menuju implementasi penuh tidaklah mulus. Studi ini, meskipun kuat, memiliki lingkup yang terbatas pada "studi kasus di jalan tol PLUS".1 Model ini mungkin memerlukan adaptasi yang signifikan untuk diterapkan di jalan-jalan non-tol, jalan pedesaan, atau di kota-kota dengan yurisdiksi yang tumpang tindih, di mana konektivitas internet dan sumber daya bisa menjadi kendala.
Tantangan terbesar mungkin bukan pada teknologi itu sendiri, melainkan pada manusia dan institusi. Adopsi sistem baru ini memerlukan perubahan budaya kerja. Apakah semua tim perawatan di lapangan akan dilengkapi dengan ponsel pintar dan dilatih secara memadai? Bagaimana mengatasi resistensi dari mereka yang telah terbiasa dengan alur kerja berbasis kertas selama puluhan tahun? Selain itu, keberhasilan aplikasi publik sangat bergantung pada pemasaran yang efektif untuk mencapai massa kritis pengguna. Tanpa laporan yang cukup dari publik, sistem ini tidak akan mencapai potensi maksimalnya.
Visi Lima Tahun ke Depan: Dampak Nyata IRMs bagi Dompet dan Keselamatan
Pada akhirnya, IRMs bukan hanya tentang memperbaiki lubang lebih cepat. Ini adalah tentang menciptakan sebuah ekosistem perawatan jalan yang cerdas, responsif, dan berbasis data. Ini adalah tentang mengubah hubungan antara warga negara dan pengelola infrastruktur dari yang semula reaktif menjadi kolaboratif.
Dampak nyatanya bisa sangat signifikan. Jika diterapkan secara penuh, temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa sistem IRMs dapat secara drastis mengurangi waktu respons terhadap laporan kerusakan. Hal ini berpotensi memangkas biaya perbaikan jangka panjang hingga puluhan persen dalam waktu lima tahun dengan mencegah kerusakan kecil berevolusi menjadi masalah struktural yang masif dan mahal.
Visi masa depan yang ditawarkan adalah jalan tol di mana setiap pengemudi menjadi sensor aktif dalam jaringan perawatan, di mana data mengalir bebas antara warga dan otoritas, dan di mana keputusan dibuat bukan berdasarkan firasat atau tumpukan kertas, tetapi berdasarkan bukti real-time. Ini adalah janji dari sebuah jalan yang lebih cerdas, dan yang terpenting, jalan yang lebih aman untuk semua.
Sumber Artikel:
Sistem dan Teknik Jalan Raya
Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 10 Februari 2025
Jalan tikus adalah istilah yang digunakan sebagai jalan tembus yang melewati jalan lingkungan yang kecil guna menghindari ruas jalan yang macet, ataupun menghindari persimpangan atau lampu lalu lintas yang macet. Mereka melewati jalan tikus ini kadang harus mengkompensasi polisi tidur atau hambatan lain yang ditempatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitar jalan tikus tersebut.
Jalan tikus biasanya dilewati oleh masyarakat yang sudah mengenal daerah tersebut dengan baik. Jalan tikus juga sering dimanfaatkan untuk menghindari dari polisi yang sedang melakukan pengawasan atau razia.

Sumber: id.wikipedia.org Jalan tikus untuk menghindari jalan utama yang macet
Jalan tikus di wilayah perbatasan digunakan sebagai jalur penyeludupan barang, manusia ataupun narkotika.
Untuk menghindari lalu lintas terusan melalui jalan lingkungan, maka dilakukan pelambatan lalu lintas dengan membuat jalan tertutup untuk lalu lintas terusan (ditutup salah satu ujung jalannya), membatasi kecepatan dengan polisi tidur untuk mengurangi minat melalui jalan lingkungan serta meningkatkan keselamatan, dan berbagai cara lainnya.
Sumber: id.wikipedia.org