Biologi

Teknologi Pascapanen Buah Pisang Berbasis Biologi Molekuler: Menjembatani Sains, Pangan, dan Kesejahteraan Petani

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 14 Januari 2026


1. Pendahuluan

Buah pisang memiliki posisi strategis dalam sistem pangan global dan nasional. Sebagai salah satu komoditas buah paling banyak diproduksi dan dikonsumsi di dunia, pisang berperan penting tidak hanya sebagai sumber energi dan nutrisi, tetapi juga sebagai komoditas ekonomi bagi jutaan petani. Di Indonesia, pisang menempati ruang yang unik karena keberagamannya yang tinggi serta keterkaitannya dengan budaya, pangan lokal, dan ritual sosial.

Di balik peran strategis tersebut, persoalan pascapanen masih menjadi tantangan utama. Kehilangan hasil akibat pematangan yang terlalu cepat, penurunan mutu visual, dan ketidakterkendalian distribusi menyebabkan nilai ekonomi pisang tidak termanfaatkan secara optimal. Tantangan ini paling dirasakan oleh petani kecil dan pedagang tradisional yang memiliki keterbatasan akses terhadap teknologi penanganan pascapanen.

Artikel ini menganalisis pengembangan teknologi pascapanen buah pisang dari sudut pandang biologi molekuler. Pembahasan diarahkan untuk menunjukkan bahwa pemahaman mekanisme molekuler pematangan buah membuka peluang intervensi yang lebih presisi dan kontekstual. Biologi molekuler diposisikan sebagai fondasi ilmiah untuk merancang teknologi pascapanen yang sesuai dengan kondisi agroekologi dan sosial-ekonomi Indonesia.

 

2. Pisang sebagai Model Strategis Studi Pascapanen

Pisang merupakan model yang sangat relevan dalam studi pascapanen karena karakter biologis dan ekonominya. Sebagai buah klimaterik, pisang mengalami lonjakan respirasi dan produksi etilen pada fase pematangan. Proses ini berlangsung cepat dan sulit dikendalikan, menjadikan pisang rentan terhadap kerusakan mutu dalam rantai distribusi yang panjang.

Dari sisi biologi, proses pematangan pisang mencerminkan interaksi kompleks antara regulasi genetik, metabolisme, dan faktor lingkungan. Aktivasi gen-gen tertentu memicu perubahan tekstur, warna, aroma, dan rasa buah. Perubahan ini bersifat terkoordinasi dan sangat sensitif terhadap keberadaan hormon etilen. Karakter inilah yang menjadikan pisang sebagai sistem model ideal untuk mempelajari regulasi molekuler pematangan buah.

Indonesia memiliki keunggulan tambahan karena merupakan salah satu pusat keragaman genetik pisang dunia. Berbagai genotipe pisang lokal menunjukkan karakter pematangan yang berbeda, baik dari sisi kecepatan, respons terhadap etilen, maupun kualitas akhir buah. Keragaman ini memberikan peluang besar untuk mengaitkan perbedaan genetik dengan variasi fenotip pascapanen melalui pendekatan biologi molekuler dan omik.

Dengan demikian, studi pascapanen pisang tidak hanya relevan untuk meningkatkan mutu komoditas ini secara langsung, tetapi juga memberikan wawasan luas bagi pengembangan teknologi pascapanen buah klimaterik lainnya. Pisang berfungsi sebagai jembatan antara riset dasar biologi molekuler dan aplikasi nyata dalam sistem pangan dan pertanian.

 

3. Regulasi Molekuler Pematangan Buah dan Peran Etilen

Pematangan buah pisang dikendalikan oleh jaringan regulasi molekuler yang kompleks, dengan etilen berperan sebagai sinyal utama. Sebagai hormon gas, etilen memiliki kemampuan unik untuk memicu dan mengoordinasikan perubahan fisiologis secara cepat. Produksi etilen meningkat tajam pada fase klimaterik, memicu rangkaian peristiwa molekuler yang mengubah karakter fisik dan kimia buah.

Pada tingkat molekuler, etilen mengaktivasi ekspresi gen-gen kunci yang terlibat dalam pelunakan dinding sel, degradasi pati menjadi gula sederhana, dan sintesis pigmen kuning. Enzim-enzim seperti poligalakturonase, amilase, dan klorofilase bekerja secara terkoordinasi, menghasilkan perubahan tekstur, rasa, dan warna yang menjadi ciri buah matang. Proses ini menunjukkan bahwa pematangan bukan sekadar proses penuaan, melainkan program biologis yang terkontrol.

Regulasi pematangan juga melibatkan interaksi antara etilen dan faktor transkripsi spesifik. Faktor-faktor ini bertindak sebagai pengatur utama yang menghubungkan sinyal hormon dengan respons genetik. Variasi dalam regulasi faktor transkripsi antar genotipe pisang menjelaskan perbedaan kecepatan dan pola pematangan yang diamati di lapangan. Pemahaman terhadap variasi ini penting untuk merancang strategi pascapanen yang lebih spesifik varietas.

Dengan memahami regulasi molekuler pematangan, intervensi pascapanen dapat diarahkan secara lebih presisi. Pendekatan yang menargetkan jalur etilen, baik melalui penghambatan biosintesis maupun pengaturan sensitivitas jaringan terhadap etilen, memungkinkan pengendalian pematangan tanpa harus mengandalkan metode fisik yang mahal atau sulit diterapkan di tingkat petani.

 

4. Pendekatan Omik untuk Memahami Kompleksitas Pascapanen Pisang

Kompleksitas pematangan buah pisang menuntut pendekatan yang mampu menangkap dinamika sistem biologis secara menyeluruh. Pendekatan omik, seperti genomik, transkriptomik, proteomik, dan metabolomik, memberikan kerangka untuk memahami proses pascapanen secara integratif. Melalui pendekatan ini, perubahan pada tingkat gen, protein, dan metabolit dapat dipetakan secara simultan.

Transkriptomik memungkinkan identifikasi gen-gen yang diekspresikan selama berbagai tahap pematangan. Informasi ini membantu mengungkap urutan aktivasi genetik dan jalur regulasi yang terlibat. Sementara itu, proteomik dan metabolomik memberikan gambaran tentang bagaimana ekspresi gen diterjemahkan menjadi aktivitas enzim dan perubahan komposisi kimia buah. Kombinasi data ini memperkaya pemahaman tentang hubungan sebab-akibat dalam proses pematangan.

Pendekatan omik juga membuka peluang untuk mengidentifikasi penanda molekuler yang berkaitan dengan umur simpan dan mutu buah. Penanda ini dapat digunakan sebagai dasar seleksi genotipe unggul atau sebagai target intervensi pascapanen. Dalam jangka panjang, informasi omik berpotensi mendukung pengembangan varietas pisang dengan karakter pascapanen yang lebih baik tanpa mengorbankan produktivitas dan kualitas konsumsi.

Namun, pemanfaatan pendekatan omik menuntut integrasi data dan kapasitas analisis yang memadai. Tantangan utama bukan hanya pada pengumpulan data, tetapi pada interpretasi biologis yang relevan dengan kondisi lapangan. Oleh karena itu, riset pascapanen berbasis omik perlu dirancang dengan orientasi aplikatif agar hasilnya dapat diterjemahkan menjadi teknologi yang bermanfaat bagi petani dan pelaku rantai pasok.

 

5. Teknologi Pascapanen Berbasis Biologi Molekuler dan Implikasinya bagi Petani

Pemahaman mekanisme molekuler pematangan pisang membuka ruang bagi pengembangan teknologi pascapanen yang lebih presisi dan adaptif. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang sering bersifat umum dan reaktif, teknologi berbasis biologi molekuler memungkinkan intervensi yang diarahkan langsung pada titik kendali biologis utama, khususnya jalur etilen dan regulasi genetik pematangan.

Salah satu implikasi penting dari pendekatan ini adalah pengembangan teknologi pengendalian pematangan yang lebih efisien dan terjangkau. Dengan menargetkan sensitivitas jaringan terhadap etilen atau mengatur ekspresi gen tertentu, pematangan dapat diperlambat tanpa menghilangkan kualitas sensorik buah. Pendekatan ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada penyimpanan dingin yang mahal dan sulit diakses oleh petani kecil.

Bagi petani dan pelaku rantai pasok, teknologi pascapanen berbasis biologi molekuler memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Umur simpan yang lebih panjang memungkinkan fleksibilitas distribusi dan mengurangi tekanan untuk menjual hasil panen secara cepat dengan harga rendah. Selain itu, mutu buah yang lebih stabil meningkatkan daya tawar petani dan membuka peluang akses ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor.

Namun, keberhasilan penerapan teknologi ini sangat bergantung pada proses alih pengetahuan dan penyesuaian dengan kondisi lokal. Teknologi pascapanen harus dirancang agar sederhana, aman, dan sesuai dengan skala usaha petani. Oleh karena itu, riset biologi molekuler perlu diiringi dengan pendekatan sosial-ekonomi agar inovasi yang dihasilkan benar-benar berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.

 

6. Refleksi Kritis dan Arah Pengembangan Riset Pascapanen Pisang di Indonesia

Refleksi terhadap perkembangan riset pascapanen pisang menunjukkan bahwa tantangan terbesar bukan pada kekurangan pengetahuan ilmiah, tetapi pada integrasi antara sains dan praktik lapangan. Banyak temuan molekuler yang menjanjikan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi teknologi yang dapat diterapkan secara luas. Kesenjangan ini menuntut pendekatan riset yang lebih translasional dan kolaboratif.

Arah pengembangan riset ke depan perlu menekankan pemanfaatan keunggulan lokal Indonesia, khususnya keragaman genetik pisang. Keragaman ini merupakan sumber daya ilmiah yang sangat berharga untuk memahami variasi regulasi pematangan dan respons terhadap perlakuan pascapanen. Dengan mengaitkan data molekuler dan karakter agronomis lokal, riset dapat menghasilkan solusi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.

Selain itu, penguatan kapasitas riset dan infrastruktur menjadi faktor penting. Pendekatan omik dan analisis molekuler memerlukan fasilitas dan sumber daya manusia yang memadai. Investasi jangka panjang dalam riset pascapanen tidak hanya meningkatkan kualitas ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkuat kemandirian teknologi pangan nasional.

Sebagai penutup, teknologi pascapanen pisang berbasis biologi molekuler mencerminkan bagaimana ilmu dasar dapat memberikan dampak nyata bagi sistem pangan dan kesejahteraan masyarakat. Dengan integrasi yang tepat antara riset, kebijakan, dan praktik lapangan, pisang tidak hanya menjadi komoditas konsumsi, tetapi juga simbol keberhasilan pemanfaatan sains untuk menjawab tantangan pangan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

Dwivany, F. M. (2022). Biologi molekuler pascapanen pisang untuk peningkatan mutu dan daya saing komoditas hortikultura. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Giovannoni, J. J. (2004). Genetic regulation of fruit development and ripening. Plant Cell, 16(Suppl), S170–S180.

Barry, C. S., & Giovannoni, J. J. (2007). Ethylene and fruit ripening. Journal of Plant Growth Regulation, 26(2), 143–159.

Seymour, G. B., Chapman, N. H., Chew, B. L., & Rose, J. K. C. (2013). Regulation of ripening and opportunities for control in tomato and other fruits. Plant Biotechnology Journal, 11(3), 269–278.

Liu, M., Pirrello, J., Chervin, C., Roustan, J. P., & Bouzayen, M. (2015). Ethylene control of fruit ripening: Revisiting the complex network of transcriptional regulation. Plant Physiology, 169(4), 2380–2390.

Klee, H. J., & Giovannoni, J. J. (2011). Genetics and control of tomato fruit ripening and quality attributes. Annual Review of Genetics, 45, 41–59.

Paul, J. Y., Khanna, H., Kleidon, J., Hoang, P., Geijskes, J., Daniells, J., Zaplin, E., Rosenberg, Y., James, A., & Mlalazi, B. (2017). Golden bananas in the field: Elevated fruit pro-vitamin A from the expression of a single banana transgene. Plant Biotechnology Journal, 15(4), 520–532.

Selengkapnya
Teknologi Pascapanen Buah Pisang Berbasis Biologi Molekuler: Menjembatani Sains, Pangan, dan Kesejahteraan Petani

Biologi

Dari Sel Punca hingga Rekayasa Jaringan dan Eksosom: Kontribusi Biologi bagi Masa Depan Kesehatan

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat pada 14 Januari 2026


1. Pendahuluan

Perkembangan ilmu biologi dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan pergeseran signifikan dari peran tradisional sebagai ilmu dasar menuju disiplin strategis dalam bidang kesehatan. Biologi tidak lagi hanya berfungsi untuk memahami mekanisme kehidupan, tetapi juga menjadi fondasi bagi solusi medis yang bersifat regeneratif, presisi, dan personal. Pergeseran ini menandai era baru di mana pemahaman tentang sel dan jaringan menjadi kunci inovasi kesehatan.

Dalam konteks medis modern, banyak tantangan kesehatan berakar pada keterbatasan kemampuan tubuh untuk memperbaiki diri secara optimal. Kerusakan jaringan akibat penyakit degeneratif, trauma, atau penuaan sering kali bersifat permanen dan sulit ditangani dengan pendekatan terapi konvensional. Kondisi ini mendorong pencarian pendekatan baru yang tidak hanya mengobati gejala, tetapi memulihkan fungsi biologis secara mendasar.

Artikel ini menganalisis kontribusi biologi, khususnya melalui kajian sel punca, rekayasa jaringan, dan eksosom, dalam membentuk masa depan bidang kesehatan.Pembahasan diarahkan untuk menunjukkan bagaimana kemajuan biologi sel dan perkembangan membuka peluang baru bagi kedokteran regeneratif. Biologi diposisikan sebagai penghubung antara pemahaman fundamental tentang kehidupan dan aplikasi klinis yang berdampak langsung pada kualitas hidup manusia.

 

2. Biologi Sel dan Perkembangan sebagai Fondasi Kedokteran Regeneratif

Biologi sel dan perkembangan merupakan disiplin inti yang mempelajari bagaimana organisme terbentuk, tumbuh, dan mempertahankan fungsinya sepanjang siklus hidup. Dari satu sel awal, organisme multiseluler berkembang menjadi sistem kompleks dengan ratusan jenis sel yang memiliki fungsi terspesialisasi. Pemahaman tentang proses ini memberikan wawasan mendalam mengenai asal-usul diferensiasi sel dan pembentukan jaringan.

Dalam konteks kesehatan, pemahaman biologi sel menjadi sangat relevan karena sebagian besar terapi medis pada dasarnya menargetkan sel dan jaringan. Penyakit dapat dipahami sebagai gangguan pada fungsi sel, interaksi antar sel, atau lingkungan mikro tempat sel berada. Oleh karena itu, kemampuan untuk memahami dan memanipulasi respons sel terhadap lingkungan menjadi landasan bagi inovasi terapi.

Perkembangan ilmu biologi sel berjalan seiring dengan kemajuan teknologi pendukung, seperti mikroskopi dan teknik molekuler. Teknologi ini memungkinkan pengamatan dan analisis sel secara lebih rinci, membuka pemahaman baru tentang dinamika seluler yang sebelumnya tidak terjangkau. Dari pemahaman inilah lahir konsep-konsep baru dalam pengobatan, termasuk penggunaan sel punca sebagai sumber regenerasi jaringan.

Dengan demikian, biologi sel dan perkembangan tidak hanya berkontribusi pada pengetahuan dasar, tetapi juga membentuk kerangka ilmiah bagi kedokteran regeneratif. Disiplin ini menyediakan dasar konseptual untuk mengembangkan terapi yang berorientasi pada pemulihan fungsi biologis, bukan sekadar pengendalian gejala penyakit.

 

3. Sel Punca sebagai Sumber Regenerasi dan Tantangan Aplikatif

Sel punca menempati posisi sentral dalam wacana kedokteran regeneratif karena kemampuannya untuk memperbanyak diri dan berdiferensiasi menjadi berbagai jenis sel. Dua sifat ini menjadikan sel punca sebagai sumber potensial untuk menggantikan jaringan yang rusak atau hilang akibat penyakit dan cedera. Dalam kerangka biologi, sel punca merepresentasikan fleksibilitas perkembangan yang sangat tinggi, sekaligus peluang terapeutik yang besar.

Potensi tersebut mendorong eksplorasi luas terhadap berbagai jenis sel punca, baik yang berasal dari embrio maupun jaringan dewasa. Masing-masing sumber memiliki keunggulan dan keterbatasan, baik dari sisi kapasitas diferensiasi, ketersediaan, maupun isu etika. Dalam praktik ilmiah, pemilihan sumber sel punca menjadi keputusan strategis yang memengaruhi arah riset dan kemungkinan aplikasi klinis.

Namun, tantangan aplikatif sel punca tidak dapat diabaikan. Proses diferensiasi yang tidak terkendali berisiko menimbulkan pembentukan jaringan yang tidak diinginkan atau bahkan tumor. Selain itu, integrasi sel punca ke dalam jaringan inang memerlukan lingkungan mikro yang mendukung agar sel dapat bertahan dan berfungsi secara optimal. Tantangan ini menunjukkan bahwa keberhasilan terapi berbasis sel punca tidak hanya bergantung pada sel itu sendiri, tetapi juga pada konteks biologis tempat sel tersebut diaplikasikan.

Oleh karena itu, pengembangan terapi sel punca menuntut pendekatan yang hati-hati dan berbasis pemahaman mekanisme dasar. Riset tidak hanya berfokus pada produksi sel punca dalam jumlah besar, tetapi juga pada pengendalian diferensiasi, interaksi dengan jaringan inang, dan respons imun. Pendekatan komprehensif ini menegaskan bahwa sel punca adalah komponen penting, tetapi bukan satu-satunya, dalam sistem terapi regeneratif.

 

4. Rekayasa Jaringan sebagai Pendekatan Multidisiplin dalam Terapi Regeneratif

Rekayasa jaringan muncul sebagai respons terhadap keterbatasan penggunaan sel punca secara tunggal. Pendekatan ini menggabungkan sel, biomaterial, dan faktor bioaktif untuk menciptakan lingkungan yang menyerupai jaringan alami. Dengan menyediakan kerangka struktural dan sinyal biologis yang tepat, rekayasa jaringan bertujuan mendukung pertumbuhan dan diferensiasi sel secara terarah.

Sebagai pendekatan multidisiplin, rekayasa jaringan memadukan biologi, teknik, dan ilmu material. Biomaterial dirancang agar biokompatibel dan mampu mendukung adhesi serta proliferasi sel. Sementara itu, prinsip rekayasa digunakan untuk mengontrol sifat mekanik dan degradasi material agar sel dapat membentuk jaringan fungsional secara bertahap. Sinergi antar disiplin ini menjadi kunci keberhasilan rekayasa jaringan.

Dalam konteks klinis, rekayasa jaringan membuka peluang pengembangan pengganti jaringan yang lebih personal. Jaringan dapat dirancang sesuai kebutuhan spesifik pasien, baik dari sisi ukuran, bentuk, maupun fungsi. Pendekatan ini berpotensi mengurangi ketergantungan pada donor jaringan dan risiko penolakan imun, yang selama ini menjadi kendala utama dalam transplantasi konvensional.

Meskipun menjanjikan, rekayasa jaringan juga menghadapi tantangan translasi ke praktik klinis. Kompleksitas sistem biologis sulit direplikasi sepenuhnya di laboratorium, dan proses produksi harus memenuhi standar keamanan serta kualitas yang ketat. Tantangan ini menuntut riset berkelanjutan dan kolaborasi erat antara peneliti, klinisi, dan regulator agar inovasi rekayasa jaringan dapat diwujudkan secara aman dan efektif.

 

5. Eksosom dan Terapi Berbasis Komunikasi Antar Sel

Perkembangan riset biologi sel mengungkap bahwa komunikasi antar sel tidak hanya berlangsung melalui kontak langsung atau molekul terlarut, tetapi juga melalui vesikel kecil yang dilepaskan sel ke lingkungan sekitarnya. Eksosom merupakan salah satu bentuk vesikel ekstraseluler yang berperan sebagai pembawa informasi biologis, termasuk protein, lipid, dan materi genetik. Melalui mekanisme ini, sel dapat memengaruhi perilaku sel lain secara spesifik dan terarah.

Dalam konteks terapi regeneratif, eksosom menawarkan pendekatan yang berbeda dari terapi berbasis sel. Alih-alih mentransplantasikan sel hidup dengan segala kompleksitas dan risikonya, terapi berbasis eksosom memanfaatkan sinyal biologis yang dihasilkan sel untuk merangsang proses perbaikan jaringan. Pendekatan ini berpotensi mengurangi risiko reaksi imun dan komplikasi lain yang sering menyertai terapi sel.

Eksosom juga membuka peluang untuk terapi yang lebih presisi. Karena kandungan eksosom mencerminkan kondisi dan jenis sel asalnya, eksosom dapat dirancang atau dipilih untuk tujuan terapeutik tertentu. Dalam penelitian, eksosom dari sel punca menunjukkan kemampuan untuk mendukung regenerasi jaringan melalui modulasi inflamasi, angiogenesis, dan diferensiasi sel lokal.

Namun, pengembangan terapi berbasis eksosom masih menghadapi tantangan ilmiah dan teknis. Isolasi, karakterisasi, dan standarisasi eksosom memerlukan metodologi yang ketat agar kualitas dan konsistensi produk dapat dijaga. Tantangan ini menegaskan bahwa meskipun eksosom menjanjikan, pengembangan terapinya tetap memerlukan landasan ilmiah yang kuat dan pengujian yang komprehensif sebelum dapat diterapkan secara luas.

 

6. Refleksi Kritis dan Arah Masa Depan Biologi Regeneratif

Refleksi terhadap perkembangan biologi regeneratif menunjukkan bahwa kemajuan di bidang ini tidak ditentukan oleh satu teknologi tunggal. Sel punca, rekayasa jaringan, dan eksosom masing-masing menawarkan keunggulan dan keterbatasan. Masa depan kedokteran regeneratif kemungkinan besar akan ditentukan oleh integrasi cerdas dari berbagai pendekatan tersebut dalam kerangka terapi yang holistik.

Arah pengembangan ke depan menuntut keseimbangan antara inovasi ilmiah dan kehati-hatian etis. Intervensi pada tingkat sel dan jaringan menyentuh aspek fundamental kehidupan, sehingga memerlukan tata kelola yang transparan dan bertanggung jawab. Regulasi, standar etika, dan keterlibatan publik menjadi elemen penting agar inovasi biologi dapat diterima dan dimanfaatkan secara luas.

Di sisi lain, tantangan translasi dari laboratorium ke klinik tetap menjadi pekerjaan besar. Banyak inovasi biologis menunjukkan hasil menjanjikan pada tahap eksperimental, tetapi menghadapi hambatan ketika diterapkan pada skala klinis. Oleh karena itu, kolaborasi lintas disiplin antara peneliti, klinisi, insinyur, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk mempercepat adopsi inovasi secara aman dan efektif.

Sebagai penutup, biologi regeneratif merepresentasikan paradigma baru dalam pelayanan kesehatan, dari pendekatan kuratif menuju pemulihan fungsi biologis. Dengan pemanfaatan sel punca, rekayasa jaringan, dan eksosom secara terintegrasi, biologi menawarkan harapan baru bagi penanganan penyakit degeneratif dan kerusakan jaringan. Masa depan kesehatan akan sangat ditentukan oleh sejauh mana ilmu biologi dapat diterjemahkan menjadi solusi terapeutik yang aman, efektif, dan berkelanjutan.

 

Daftar Pustaka

Barlian, A. (2022). Peran biologi sel punca, rekayasa jaringan, dan eksosom dalam pengembangan kedokteran regeneratif. Orasi Ilmiah Guru Besar, Institut Teknologi Bandung.

Langer, R., & Vacanti, J. P. (1993). Tissue engineering. Science, 260(5110), 920–926.

Trounson, A., & McDonald, C. (2015). Stem cell therapies in clinical trials: Progress and challenges. Cell Stem Cell, 17(1), 11–22.

Yáñez-Mó, M., Siljander, P. R. M., Andreu, Z., Zavec, A. B., Borràs, F. E., Buzas, E. I., Buzas, K., Casal, E., Cappello, F., Carvalho, J., Colás, E., Cordeiro-da Silva, A., Fais, S., Falcon-Perez, J. M., Ghobrial, I. M., Giebel, B., Gimona, M., Graner, M., Gursel, I., … De Wever, O. (2015). Biological properties of extracellular vesicles and their physiological functions. Journal of Extracellular Vesicles, 4, 27066.

Raposo, G., & Stoorvogel, W. (2013). Extracellular vesicles: Exosomes, microvesicles, and friends. Journal of Cell Biology, 200(4), 373–383.

Discher, D. E., Mooney, D. J., & Zandstra, P. W. (2009). Growth factors, matrices, and forces combine and control stem cells. Science, 324(5935), 1673–1677.

Mason, C., & Dunnill, P. (2008). A brief definition of regenerative medicine. Regenerative Medicine, 3(1), 1–5.

Selengkapnya
Dari Sel Punca hingga Rekayasa Jaringan dan Eksosom: Kontribusi Biologi bagi Masa Depan Kesehatan

Biologi

Memantau Ketidakmurnian Produk Biologis: Evolusi dari Analisis Konvensional ke Quality by Design

Dipublikasikan oleh Muhammad Reynaldo Saputra pada 02 Agustus 2025


Pendahuluan: Tantangan Kompleksitas Produk Biologis

Dalam dunia bioteknologi farmasi, pengembangan dan pemantauan kualitas produk biologis seperti antibodi monoklonal (mAb), protein rekombinan, atau vaksin menuntut akurasi dan ketelitian ekstrem. Produk ini tidak hanya kompleks secara struktural, tetapi juga sangat sensitif terhadap perubahan proses produksi. Paper ini membahas pendekatan strategis dalam memantau impuritas dan produk degradasi pada bioterapi, khususnya bagaimana peralihan dari pendekatan konvensional menuju pendekatan Quality by Design (QbD) telah mentransformasi paradigma kontrol kualitas.

Penulis menekankan bahwa pendekatan berbasis risiko, sistemik, dan ilmiah sangat dibutuhkan untuk memahami serta mengelola impuritas yang dapat memengaruhi keamanan dan efektivitas terapeutik suatu produk biologis.

Kerangka Konseptual: Impuritas, Stabilitas, dan Kualitas Bawaan

H2: Memahami Jenis Impuritas

Produk biologis tidak terhindar dari keberadaan product-related impurities (PRI) seperti varian glikosilasi, fragmen protein, dan agregat. Disamping itu, product-related degradation products (PRDP) dapat muncul karena faktor fisik atau kimia selama penyimpanan atau pengolahan. Keduanya dapat memengaruhi:

  • Potensi biologis

  • Keamanan imunogenik

  • Stabilitas jangka panjang

H3: Kontrol Mutu Tradisional vs. QbD

Metode konvensional fokus pada pengujian akhir, tanpa mempertimbangkan kontrol proses. QbD menawarkan pemahaman proses menyeluruh, integrasi data sejak awal pengembangan, serta kontrol berbasis risiko yang proaktif.

Pendekatan Analitik: Perkembangan Metodologi

H2: Alat dan Teknik Pengujian PRI & PRDP

Penulis meninjau berbagai alat analitik seperti:

  • RP-HPLC dan SEC: Untuk mengukur fragmen dan agregat protein

  • CE-SDS dan iCIEF: Untuk varian isoform

  • LC-MS: Untuk pemetaan peptida dan deteksi perubahan struktur sekunder

Masing-masing metode digunakan untuk menggali karakteristik spesifik impuritas.

📌 Refleksi Teoritis: Pendekatan ini memperkuat gagasan bahwa produk biologis bukan hanya satu molekul homogen, tetapi kumpulan entitas dengan sifat biologis dan kimia yang tumpang tindih.

Transformasi Menuju QbD: Sistem yang Berbasis Ilmu dan Risiko

H2: Elemen Kunci QbD dalam Produk Biologis

Penulis menyusun QbD menjadi beberapa tahapan:

  1. Target Product Profile (TPP)

  2. Critical Quality Attributes (CQAs)

  3. Critical Process Parameters (CPPs)

  4. Design Space

  5. Control Strategy

Tahapan ini membentuk dasar untuk mengelola variabilitas dalam produk secara ilmiah.

H3: Studi Kasus Implementasi

Penulis menyoroti hasil dari pengembangan produk biologis berbasis QbD yang menunjukkan:

  • Penurunan jumlah impuritas hingga 40%

  • Penambahan robustnes proses produksi

  • Validasi metode dengan error margin < 5% dalam monitoring PRDP

Narasi Argumentatif: QbD sebagai Filosofi, Bukan Hanya Alat

Makalah ini menyajikan argumentasi bahwa pendekatan QbD bukan sekadar kumpulan alat statistik atau teknik validasi, tetapi mencerminkan perubahan cara berpikir dalam pengembangan produk farmasi. QbD mengubah kontrol kualitas dari kegiatan reaktif menjadi sistem proaktif yang mencakup seluruh siklus hidup produk.

📌 Catatan Kritis: Walaupun konsep disusun secara logis, paper ini belum menunjukkan bagaimana strategi QbD diterapkan pada produk non-standar seperti vaksin RNA atau sel terapi yang memerlukan pendekatan yang jauh lebih kompleks.

Sorotan Hasil dan Refleksi Teoritis

H2: Data dan Fakta Kunci

  • Studi agregasi protein menunjukkan penurunan kadar agregat dari 8% menjadi <2% setelah optimasi QbD

  • Ketahanan metode analitik meningkat 30% setelah eksplorasi design space

  • Tingkat kegagalan batch menurun hingga 20% dalam skala pilot

H3: Implikasi Teoritis

Hasil-hasil ini mendukung teori sistem mutu total (Total Quality Management) dan validasi berkelanjutan. Ini juga menunjukkan bahwa kualitas dalam produk biologis bukan hanya hasil formulasi, melainkan juga fungsi dari desain dan pemahaman proses.

Kritik Terhadap Pendekatan Metodologis Penulis

H2: Kekuatan Makalah

  • Disusun secara sistematis, mulai dari definisi hingga penerapan QbD

  • Menampilkan berbagai teknik analitik terkini

  • Fokus pada penerapan praktis, bukan sekadar wacana konseptual

H3: Keterbatasan

  • Tidak disediakan data mentah atau tabel eksperimen, hanya deskripsi naratif

  • Kurangnya visualisasi perbandingan sebelum dan sesudah QbD

  • Fokus masih terlalu pada protein terapeutik, belum menjangkau spektrum bioterapi baru seperti vaksin DNA/RNA

Kesimpulan: Implikasi Ilmiah dan Masa Depan Produk Biologis

H2: Rangkuman Reflektif

Makalah ini menyimpulkan bahwa dalam dunia produk biologis, pemantauan impuritas dan degradasi adalah pilar utama jaminan mutu. Pendekatan QbD memberikan kerangka kerja yang dinamis dan terstruktur untuk mengelola risiko, mengoptimalkan proses, dan memastikan keberlanjutan kualitas produk.

H3: Arah Masa Depan

Dari perspektif ilmiah, QbD akan menjadi pondasi utama dalam era personalized medicinebiosimilar, dan continuous manufacturing. Studi seperti ini membuka jalan bagi pengembangan produk biologis yang lebih aman, efektif, dan dapat direproduksi dengan mutu tinggi.

📎 Link Resmi Paper:

https://doi.org/10.3384/lic.diva-178241

Selengkapnya
Memantau Ketidakmurnian Produk Biologis: Evolusi dari Analisis Konvensional ke Quality by Design

Biologi

Peranan Fitohormon Pada Retensi Tanaman Terhadap Perubahan Iklim Global

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda pada 18 Februari 2025


Prof. Dr. Kumala Dewi M.Sc.St., dilantik sebagai Guru Besar pada Fakultas Biologi UGM dalam bidang ilmu Fisiologi Tumbuhan.

Dalam pelantikan yang berlangsung Kamis(28/7) ia menyampaikan pidato dengan judul Peran Fitohormon Dalam Pengaturan Pertumbuhan, Perkembangan Dan Adaptasi Tanaman Terhadap Perubahan Iklim Global.

Kumala mengungkapkan bahwa tiap tahapan dalam siklus hidup tanaman diatur oleh hormon. Tiap proses pertumbuhan dan perkembangan merefleksikan adanya interaksi beberapa hormon. Sebab tanaman bersifat sessile maka tanaman akan bertahan melalui penyesuaian aktivitas biologi saat terpapar cekaman biotik dan abiotik.

“Pada kondisi inipun hormon tumbuhan berperan pula dalam memodifikasi respons biologi untuk membentuk dan mempertahankan toleransi tanaman terhadap cekaman,”ungkapnya.

Fitohormon melanjutkan, memampukan tanaman untuk mempunyai fleksibilitas dan tetap tumbuh dengan baik pada beragam faktor lingkungan tumbuh yang berbeda seperti cahaya, temperatur, kelembaban, keberadaan patogen dan lain-lain. Oleh sebab itu pemahaman mengenai metabolisme hormon pada tanaman sangatlah penting bagi pengembangan pendekatan fisiologis, biokimia dan bioteknologi dalam rangka penanggulangan cekaman.

“Bahkan dengan adanya perubahan iklim global yang diprediksi akan menurunkan produktivitas tanaman. Aplikasi hormon atau modifikasi kandungan hormon menggunakan teknologi mutasi atau transgenik bisa diterapkan untuk mendapatkan tanaman yang mampu bertahan terhadap beragam kondisi lingkungan dengan hasil dan kualitas nutrisi yang baik,”ungkapnya.

Hal tersebut diungkapkan Kumala akan mendukung ketersediaan pangan untuk umat manusia. Pemahaman selanjutnya mengenai bagaimana informasi yang dibawa oleh hormon bisa diintegrasikan selama siklus hidup tanaman dan mekanisme molekuler yang mengatur sintesis hormon, pensinyalan serta aksi hormon masih perlu diteliti terutama terkait peran fitohormon dalam tanggapan tanaman yang mengalami perubahan iklim.

Kumala menjelaskan engineering fitohormon sangat menjanjikan bagi ahli biologi tumbuhan. Walaupun seperti itu, masih memerlukan jalan yang panjang untuk mendapatkan phytohormone-engineered crops, yang utama padi, gandum dan jagung yang stabil dan memberi hasil panen yang baik untuk pemenuhan kebutuhan pangan dunia. Untuk menciptakan tujuan itu perlu banyak dilaksanakan penelitian terutama yang berkaitan dengan tanggapan tanaman terhadap kombinasi cekaman di kondisi lapangan.


Disadur dari sumber ugm.ac.id

Selengkapnya
Peranan Fitohormon Pada Retensi Tanaman Terhadap Perubahan Iklim Global
page 1 of 1