Inovasi dalam Last-Mile Logistics: Studi Sistematis tentang Faktor Adopsi Konsumen

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

25 Februari 2025, 09.01

unplash.com

Pendahuluan

Last-mile logistics (LML) merujuk pada tahap akhir distribusi, yaitu pengiriman dari pusat distribusi ke pelanggan. Tantangan utama dalam LML adalah efisiensi biaya, kecepatan pengiriman, dan kenyamanan pelanggan. Studi ini mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi adopsi konsumen terhadap inovasi dalam LML, seperti self-collection lockers, pick-up points, dan crowdshipping, serta bagaimana faktor-faktor tersebut membentuk keputusan pelanggan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini melakukan systematic literature review (SLR) terhadap 21 jurnal peer-reviewed yang membahas faktor adopsi inovasi LML oleh pelanggan. Data dikumpulkan dari ScienceDirect, Emerald Insight, Wiley Online Library, dan Taylor & Francis, dengan rentang waktu 2012-2023.

Temuan Utama

1. Biaya dan Efisiensi Last-Mile Logistics

  • Last-mile delivery menyumbang 30% hingga 70% dari total biaya logistik (NUS, 2017).
  • Biaya logistik di Brasil mencapai 12,2% dari PDB nasional, dengan 58% biaya dialokasikan untuk transportasi (ILOS, 2019).
  • Model inovatif seperti parcel lockers dan crowdshipping telah berhasil mengurangi biaya pengiriman hingga 40% (Deutsch & Golany, 2018).

2. Model Inovatif dalam Last-Mile Delivery

  • Self-Collection Parcel Lockers
    • Pelanggan mengambil sendiri paket mereka dari loker otomatis dengan kode akses satu kali.
    • Studi menunjukkan bahwa model ini dapat mengurangi keterlambatan pengiriman sebesar 35%.
  • Pick-Up Points (PUPs)
    • Pelanggan mengambil paket di toko ritel atau lokasi tertentu untuk meningkatkan efisiensi pengiriman.
    • 75% pelanggan di Eropa lebih memilih PUPs dibanding pengiriman langsung ke rumah (Mangiaracina et al., 2019).
  • Crowdsourced Delivery (Crowdshipping)
    • Pengiriman dilakukan oleh individu dengan skema mirip ride-sharing.
    • Model ini dapat menurunkan emisi karbon hingga 25% dibanding pengiriman konvensional (Guo et al., 2019).

3. Faktor yang Mempengaruhi Adopsi Konsumen terhadap Inovasi LML

  • Kecepatan dan Fleksibilitas
    • 86% konsumen e-commerce menginginkan fleksibilitas dalam waktu dan lokasi pengiriman (Vakulenko et al., 2018).
  • Keamanan dan Privasi
    • 59% pelanggan lebih memilih locker otomatis karena faktor keamanan dibanding pengiriman konvensional (Buldeo Rai et al., 2019).
  • Biaya Pengiriman
    • 45% pelanggan menyatakan bersedia menggunakan crowdshipping jika biaya lebih rendah dibanding pengiriman standar (Jara et al., 2018).
  • Preferensi Konsumen
    • Pengguna layanan self-collection lockers meningkat 20% setiap tahun sejak 2015 (Lachapelle et al., 2018).

Tantangan dalam Implementasi Inovasi LML

  1. Kurangnya Infrastruktur Pendukung – Masih sedikit kota yang memiliki jaringan locker otomatis dan pick-up points yang luas.
  2. Rendahnya Kesadaran KonsumenSebanyak 40% pelanggan masih ragu menggunakan metode self-collection karena kurangnya edukasi.
  3. Regulasi Pemerintah yang Belum Jelas – Peraturan mengenai crowdshipping dan model berbasis komunitas masih belum banyak diterapkan.

Kesimpulan & Rekomendasi

Paper ini menegaskan bahwa adopsi konsumen terhadap inovasi last-mile logistics sangat dipengaruhi oleh kenyamanan, keamanan, dan efisiensi biaya. Rekomendasi utama untuk meningkatkan adopsi LML:

  • Perluasan infrastruktur locker otomatis dan pick-up points untuk meningkatkan efisiensi pengiriman.
  • Kampanye edukasi bagi pelanggan mengenai manfaat model pengiriman inovatif seperti crowdshipping.
  • Dukungan kebijakan pemerintah dalam bentuk regulasi dan insentif bagi pelaku industri logistik berbasis digital.

Sumber Artikel: Firdausa, Muhammad Iqbal (2023). Consumer’s Adoption of Last Mile Logistics Innovation: A Systematic Literature Review. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik, Vol. 10, No. 01.