1. Pendahuluan — Circular Economy sebagai Pendekatan Transformasi Pengelolaan Sampah di Tingkat Desa
Perubahan pola konsumsi dan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan menyebabkan volume sampah anorganik terus bertambah, termasuk di wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak menghadapi tekanan limbah seintens kawasan perkotaan. Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengumpulan dan pembuangan, tetapi mampu menciptakan nilai ekonomi baru melalui pemanfaatan kembali material. Dalam konteks inilah circular economy business model mulai diterapkan pada skala desa, termasuk di Desa Tegal Tugu, Gianyar, Bali.
Circular economy dalam pengelolaan sampah anorganik menempatkan material bekas bukan sebagai residu yang harus dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat dipulihkan melalui proses pemilahan, pengolahan sederhana, dan integrasi ke dalam rantai nilai ekonomi lokal. Model ini tidak hanya berupaya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang peningkatan pendapatan komunitas serta penguatan kelembagaan desa dalam pengelolaan sumber daya material.
Studi mengenai implementasi circular economy business model di Desa Tegal Tugu memotret bagaimana pengelolaan sampah anorganik di tingkat lokal bertransformasi dari aktivitas pengumpulan sederhana menjadi sistem yang lebih terstruktur, melibatkan aktor komunitas, pemerintah desa, dan mitra pengolahan material. Analisis tidak hanya melihat aspek teknis pengumpulan dan pemilahan, tetapi juga bagaimana model bisnis circular dibangun melalui aliran nilai, mekanisme kemitraan, dan potensi pengembangan ekonomi berbasis sampah anorganik.
Dari sudut pandang analitis, penerapan circular economy pada tingkat desa memiliki makna strategis. Ia menunjukkan bahwa konsep ekonomi sirkular tidak hanya relevan bagi industri berskala besar, tetapi juga dapat diadaptasi dalam konteks lokal melalui penguatan komunitas, pengelolaan material terdesentralisasi, dan integrasi nilai ekonomi di tingkat grassroots. Dengan demikian, studi kasus Tegal Tugu memberi gambaran tentang bagaimana transformasi pengelolaan sampah dapat digerakkan dari bawah melalui pendekatan sosial-ekonomi yang lebih partisipatif.
2. Model Bisnis Circular Economy dalam Pengelolaan Sampah Anorganik: Struktur Aktor, Alur Material, dan Sumber Nilai
Implementasi circular economy business model di Desa Tegal Tugu dibangun melalui struktur aktor yang saling terhubung dalam rantai pengelolaan material anorganik. Masyarakat berada pada posisi sebagai sumber material sekaligus mitra dalam proses pemilahan di tingkat rumah tangga. Unit pengelola desa atau kelompok masyarakat berfungsi sebagai intermediary yang mengorganisir pengumpulan, penyortiran, dan penyaluran material ke pihak pengolah atau pembeli. Sementara itu, mitra industri daur ulang atau pengepul berperan sebagai pihak yang menyerap material hasil pengumpulan dan memprosesnya kembali ke dalam siklus ekonomi.
Dalam alur ini, nilai ekonomi tercipta melalui kombinasi antara efisiensi pemilahan, kualitas material yang dihasilkan, dan keberlanjutan hubungan pasar. Material seperti plastik keras, botol PET, logam ringan, dan kertas bernilai jual menjadi komponen utama sumber pendapatan. Di sisi lain, material dengan nilai rendah memerlukan strategi berbeda, seperti integrasi ke program edukasi pengurangan konsumsi atau kerja sama pengolahan alternatif.
Model bisnis circular yang diterapkan tidak hanya berbasis transaksi ekonomi, tetapi juga memperhitungkan nilai sosial berupa partisipasi warga, peningkatan kesadaran lingkungan, dan penguatan kapasitas organisasi lokal. Hal ini membuat pengelolaan sampah anorganik di Tegal Tugu berfungsi sebagai sistem sosial-ekonomi, bukan sekadar mekanisme pengumpulan material.
Namun, studi juga menunjukkan adanya dinamika yang memengaruhi stabilitas model bisnis, seperti fluktuasi harga pasar material daur ulang, ketergantungan pada jaringan pengepul, serta kebutuhan pembiayaan operasional untuk pengangkutan dan pemilahan. Faktor-faktor ini memperlihatkan bahwa circular economy business model di tingkat desa memerlukan keseimbangan antara orientasi ekonomi dan keberlanjutan sosial kelembagaan.
Secara analitis, struktur model bisnis circular di Desa Tegal Tugu menggambarkan proses pembentukan rantai nilai baru di sekitar sampah anorganik. Nilai tidak hanya dihasilkan dari penjualan material, tetapi juga dari kemampuan sistem untuk mengintegrasikan aktor komunitas, menciptakan aliran material yang konsisten, dan membangun mekanisme pengelolaan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.
3. Temuan Implementasi: Kinerja Operasional, Partisipasi Komunitas, dan Dampak Lingkungan
Temuan studi menunjukkan bahwa implementasi circular economy business model di Desa Tegal Tugu memberikan sejumlah dampak positif pada aspek operasional pengelolaan sampah, partisipasi masyarakat, dan pengurangan beban lingkungan. Dari sisi operasional, adanya sistem pengumpulan dan pemilahan terstruktur membuat aliran material anorganik lebih terkendali. Sampah tidak langsung berakhir di tempat pembuangan terbuka, melainkan terlebih dahulu melalui proses seleksi yang memisahkan material bernilai guna dari residu.
Di tingkat komunitas, partisipasi warga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sistem. Kesadaran untuk memilah sampah mulai tumbuh seiring kegiatan sosialisasi, edukasi lingkungan, dan interaksi langsung dengan pengelola. Partisipasi tidak selalu seragam di semua kelompok masyarakat, namun kecenderungan meningkatnya kesadaran menunjukkan bahwa circular economy pada tingkat desa juga berfungsi sebagai instrumen pembentukan perilaku lingkungan.
Dampak lingkungan muncul melalui berkurangnya sampah anorganik yang berpotensi mencemari lahan dan perairan. Selain itu, material yang berhasil didaur ulang berkontribusi pada pengurangan kebutuhan bahan baku primer. Walaupun skala kontribusinya masih lokal, praktik ini menunjukkan bagaimana upaya kecil di tingkat desa dapat menjadi bagian dari agenda pengelolaan sumber daya yang lebih luas.
Namun, studi juga mencatat sejumlah keterbatasan implementasi. Kapasitas fasilitas pemilahan, ruang penyimpanan material, serta ketersediaan peralatan pendukung masih terbatas. Volume material yang fluktuatif membuat proses operasional tidak selalu berjalan stabil. Selain itu, ketergantungan terhadap pasar pengepul menyebabkan pendapatan dari penjualan material tidak selalu konsisten, sehingga pengelola harus beradaptasi dengan kondisi ekonomi yang berubah.
Secara analitis, temuan ini memperlihatkan bahwa circular economy di tingkat desa bergerak melalui keseimbangan antara capaian nyata dan keterbatasan struktural. Keberhasilan tidak dapat diukur hanya dari jumlah material yang terkelola, tetapi juga dari proses pembelajaran sosial dan penguatan kapasitas komunitas yang terjadi di baliknya.
4. Tantangan dan Peluang: Fluktuasi Pasar, Kelembagaan Lokal, dan Potensi Pengembangan Nilai Ekonomi
Tantangan utama dalam implementasi model bisnis circular di Tegal Tugu berkaitan dengan ketergantungan pada harga pasar material daur ulang. Ketika harga turun, pendapatan pengelola ikut menurun sehingga kemampuan membiayai operasional sistem menjadi terbatas. Kondisi ini memperlihatkan bahwa circular economy di tingkat desa belum sepenuhnya terlindungi dari dinamika pasar eksternal.
Selain itu, aspek kelembagaan juga menjadi faktor krusial. Keberlanjutan sistem sangat dipengaruhi oleh kualitas pengelolaan organisasi lokal, transparansi keuangan, serta pembagian peran antara pengelola, pemerintah desa, dan warga. Tanpa tata kelola yang kuat, risiko stagnasi program dan menurunnya partisipasi masyarakat dapat meningkat.
Meskipun demikian, studi juga mengidentifikasi sejumlah peluang pengembangan nilai ekonomi. Potensi diversifikasi produk daur ulang, pengembangan kemitraan dengan sektor swasta, serta penguatan fungsi edukasi lingkungan membuka ruang perluasan manfaat circular economy. Pengelolaan sampah anorganik tidak hanya diposisikan sebagai aktivitas pengurangan limbah, tetapi juga sebagai peluang kewirausahaan sosial berbasis komunitas.
Dari perspektif strategis, peluang ini menunjukkan bahwa circular economy di tingkat desa dapat berkembang lebih jauh jika didukung oleh inovasi model bisnis, akses pasar yang lebih stabil, serta dukungan kebijakan yang menyediakan ruang penguatan kapasitas kelembagaan. Dengan demikian, tantangan yang ada tidak semata menjadi hambatan, tetapi juga titik awal pengembangan sistem yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
5. Implikasi Kebijakan dan Pembelajaran bagi Pengembangan Circular Economy di Tingkat Lokal
Temuan studi di Desa Tegal Tugu memberikan sejumlah implikasi penting bagi pengembangan circular economy di tingkat lokal. Pertama, pendekatan circular economy business model perlu diposisikan bukan hanya sebagai mekanisme teknis pengelolaan sampah, tetapi sebagai bagian dari strategi pembangunan desa. Integrasi ke dalam perencanaan desa, dukungan regulasi lokal, serta sinergi dengan program lingkungan dan pemberdayaan masyarakat akan memperkuat keberlanjutan sistem.
Kedua, pemerintah daerah dan desa perlu memperkuat dukungan kelembagaan melalui pembinaan organisasi pengelola, peningkatan kapasitas manajemen, serta penguatan transparansi dan akuntabilitas. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus memastikan bahwa aktivitas circular economy berjalan sebagai sistem yang profesional dan berkelanjutan.
Ketiga, stabilitas pasar material daur ulang perlu diperhatikan sebagai faktor penentu keberlanjutan ekonomi. Dukungan kemitraan dengan sektor swasta, koperasi, atau jejaring pengolahan material dapat membantu mengurangi risiko fluktuasi harga dan ketergantungan pada satu jalur pemasaran. Dengan pendekatan ini, circular economy di tingkat desa dapat bergerak dari aktivitas berbasis proyek menuju model usaha sosial yang lebih mapan.
Secara analitis, studi ini menunjukkan bahwa keberhasilan circular economy lokal bergantung pada kemampuan menghubungkan dimensi ekonomi, sosial, dan kelembagaan secara simultan. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten dan strategi penguatan kapasitas, model bisnis circular berisiko berhenti pada tahap inisiatif sementara.
6. Penutup — Circular Economy sebagai Ruang Transformasi Sosial-Ekonomi di Tingkat Desa
Sebagai penutup, penerapan circular economy business model di Desa Tegal Tugu memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah anorganik dapat berkembang menjadi ruang transformasi sosial-ekonomi di tingkat lokal. Sistem ini tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat, memperkuat kelembagaan desa, dan membuka peluang nilai ekonomi berbasis material sirkular.
Namun, keberhasilan model ini masih bergantung pada sejumlah faktor kunci, seperti kestabilan pasar, kapasitas organisasi lokal, dan dukungan kebijakan. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa circular economy di tingkat desa merupakan proses transisi yang memerlukan pembelajaran terus-menerus, adaptasi model bisnis, serta kolaborasi antara komunitas, pemerintah, dan mitra pasar.
Dengan penguatan kelembagaan, dukungan kebijakan yang tepat, dan inovasi dalam pengelolaan nilai material, circular economy berpotensi berkembang sebagai pendekatan pengelolaan sampah yang bukan hanya efektif secara lingkungan, tetapi juga relevan secara ekonomi dan sosial bagi masyarakat desa. Studi Tegal Tugu dengan demikian memberikan gambaran penting mengenai bagaimana transformasi circular economy dapat tumbuh dari skala lokal dan berkontribusi pada agenda keberlanjutan yang lebih luas.
Daftar Pustaka
-
Ni Wayan Nadeya Komala Maharani. Implementation of Circular Economy Business Model in Inorganic Waste Management Mechanism in Tegal Tugu Village, Gianyar, Bali.
-
Ellen MacArthur Foundation. Circular Economy and Local Value Creation: Business Models, Community Participation, and Resource Recovery Pathways.
-
UN Environment Programme. Community-Based Waste Management and Circular Economy Practices in Developing Regions: Opportunities and Policy Implications.
-
OECD. Local Circular Economy Systems: Market Dynamics, Social Enterprises, and Governance of Community Recycling Initiatives.