Dampak Praktik Pengelolaan Sampah terhadap Keberlanjutan Lingkungan di Global South: Analisis Risiko, Tantangan, dan Arah Perbaikan

Dipublikasikan oleh Guard Ganesia Wahyuwidayat

05 Januari 2026, 16.38

1. Pendahuluan — Ketika Pengelolaan Sampah Menjadi Penentu Kualitas Lingkungan dan Kesehatan Publik

Di banyak negara Global South, persoalan sampah sering dipahami sebagai isu operasional—soal armada pengangkutan yang terbatas, TPA yang penuh, atau kurangnya fasilitas pengolahan. Namun studi ini menegaskan bahwa persoalan tersebut memiliki implikasi jauh lebih luas: praktik pengelolaan sampah secara langsung membentuk kualitas lingkungan, kesehatan publik, dan keberlanjutan kota .

Ketika sistem pengelolaan tidak memadai, konsekuensi yang terjadi bukan hanya bertambahnya timbulan sampah di ruang terbuka, tetapi juga:

  • pencemaran udara akibat pembakaran terbuka dan emisi gas berbahaya,

  • kontaminasi tanah dan air permukaan dari lindi yang tidak terkendali,

  • peningkatan risiko penyakit berbasis lingkungan bagi komunitas yang tinggal dekat lokasi pembuangan,

  • serta dampak sosial berupa marginalisasi kelompok ekonomi rentan yang hidup di sekitar area pembuangan.

Paper ini menunjukkan bahwa di Global South, masalah sampah tidak dapat dilepaskan dari ketimpangan layanan, kapasitas kelembagaan yang terbatas, dan tekanan urbanisasi cepat. Dengan kata lain, pengelolaan sampah menjadi cermin dari struktur pembangunan dan keadilan lingkungan: siapa yang memperoleh layanan layak, dan siapa yang menanggung dampak ekologisnya.

Pendekatan analitis paper ini menggeser pandangan tradisional dari pertanyaan “bagaimana sampah dikumpulkan dan dibuang?” menuju pertanyaan yang lebih mendasar:

“Bagaimana praktik pengelolaan sampah memengaruhi keberlanjutan lingkungan, kesehatan manusia, dan kualitas hidup masyarakat?”

Dengan kerangka tersebut, penelitian ini tidak hanya memetakan risiko, tetapi juga memberikan dasar argumentatif bagi perlunya reforma kebijakan dan perbaikan praktik SWM secara sistemik di negara-negara Global South.

 

2. Praktik Pengelolaan Sampah di Global South dan Dampaknya terhadap Keberlanjutan Lingkungan

Studi ini mengidentifikasi bahwa sebagian besar kota di Global South masih bergantung pada praktik pengelolaan sampah yang minim teknologi, fragmentaris, dan reaktif. Praktik tersebut — seperti open dumping, pembakaran terbuka, serta pengelolaan TPA tanpa kontrol lindi dan gas — menciptakan rangkaian dampak ekologis berlapis .

2.1 Open Dumping dan Pembakaran Terbuka: Sumber Pencemaran Multi-Dimensi

Di banyak wilayah, sampah rumah tangga dan komersial dibuang langsung ke:

  • lahan terbuka,

  • tepian sungai,

  • atau TPA non-sanitary.

Praktik ini memicu:

  • rembesan lindi yang mencemari tanah dan badan air,

  • proliferasi vektor penyakit (lalat, tikus, nyamuk),

  • serta pembakaran terbuka yang melepaskan particulate matter, dioxin, dan polutan toksik.

Dari sudut pandang keberlanjutan, kondisi tersebut tidak hanya merusak ekosistem lokal, tetapi juga meningkatkan beban risiko kesehatan pada komunitas miskin yang tinggal dekat lokasi pembuangan — menjadikannya isu keadilan lingkungan, bukan sekadar masalah teknis.

2.2 Emisi Gas Rumah Kaca dari TPA Tidak Terkendali

Paper ini menekankan bahwa fraksi organik yang tinggi dalam sampah kota di Global South — sering kali lebih dari separuh total timbulan — mempercepat pembentukan metana (CH₄) ketika dibiarkan membusuk di TPA terbuka. Tanpa sistem penangkapan gas, TPA menjadi:

  • kontributor signifikan emisi GHG,

  • sumber potensi ledakan dan risiko keselamatan,

  • sekaligus penyumbang bau dan gangguan kualitas udara lokal.

Dengan demikian, kegagalan pengelolaan sampah bukan hanya persoalan lingkungan lokal, tetapi juga berkaitan langsung dengan agenda iklim global.

2.3 Kontaminasi Air dan Degradasi Tanah sebagai Dampak Jangka Panjang

Selain udara, dampak serius juga terjadi pada media air dan tanah:

  • lindi membawa logam berat, mikroorganisme patogen, dan residu kimia,

  • infiltrasi ke air tanah meningkatkan risiko paparan bagi masyarakat,

  • degradasi tanah mengganggu produktivitas lahan di sekitar area pembuangan.

Paper ini menegaskan bahwa dampak tersebut bersifat akumulatif dan jangka panjang — sering kali tidak langsung terlihat, tetapi mempengaruhi kesehatan generasi berikutnya.

2.4 Dimensi Sosial–Lingkungan: Siapa yang Paling Terdampak?

Dalam banyak kasus, area pembuangan terbuka berada di:

  • pinggiran kota,

  • kawasan padat berpenghasilan rendah,

  • atau area dengan kapasitas regulasi lemah.

Artinya, dampak lingkungan pengelolaan sampah tidak terdistribusi secara merata. Kelompok miskin, pemulung, dan komunitas informal menjadi barisan depan penerima risiko, sementara kelompok lebih mampu relatif terlindungi.

Di titik inilah penelitian menegaskan bahwa pengelolaan sampah di Global South tidak dapat dipisahkan dari:

  • dimensi keadilan sosial,

  • akses layanan publik,

  • dan struktur ekonomi perkotaan.

 

3. Dampak Pengelolaan Sampah terhadap Kesehatan Publik dan Ekosistem: Rantai Risiko yang Saling Terhubung

Salah satu kontribusi penting paper ini adalah menunjukkan bahwa dampak pengelolaan sampah tidak berdiri sendiri pada satu sektor, melainkan membentuk rantai risiko yang menghubungkan lingkungan, kesehatan manusia, dan stabilitas ekosistem perkotaan .

3.1 Risiko Penyakit dan Paparan Polutan bagi Komunitas Sekitar TPA

Masyarakat yang tinggal atau bekerja dekat lokasi pembuangan terbuka menghadapi risiko paparan berlapis:

  • inhalasi asap pembakaran terbuka → gangguan pernapasan, asma, infeksi saluran napas,

  • kontak langsung dengan limbah tercemar → penyakit kulit, infeksi, dan penyakit zoonosis,

  • konsumsi air yang terkontaminasi → diare, penyakit gastrointestinal, dan keracunan kronis.

Kelompok pemulung, pekerja informal, dan anak-anak menjadi populasi paling rentan karena:

  • bekerja tanpa alat pelindung,

  • terpapar dalam durasi panjang,

  • dan sering bergantung pada lokasi TPA sebagai sumber penghidupan.

Dengan demikian, pengelolaan sampah yang buruk tidak hanya menjadi masalah lingkungan, tetapi menjelma sebagai masalah kesehatan publik dan perlindungan sosial.

3.2 Kerentanan Ekosistem Perkotaan: Banjir, Degradasi Habitat, dan Gangguan Layanan Ekologis

Dampak juga merembet pada ekosistem kota:

  • sampah yang menutup drainase meningkatkan risiko banjir perkotaan,

  • lindi yang masuk ke badan air mengurangi kualitas habitat akuatik,

  • penumpukan plastik berdampak pada fauna air dan rantai makanan.

Paper ini menekankan bahwa ekosistem perkotaan memiliki daya dukung terbatas. Ketika limbah tidak dikelola, kota kehilangan fungsi ekologi yang esensial — mulai dari kualitas air hingga kesehatan ruang publik.

3.3 Dimensi Iklim: TPA sebagai Sumber Emisi Metana

Dengan komposisi sampah organik yang tinggi di Global South, TPA terbuka menjadi penghasil metana dalam jumlah besar, memperkuat:

  • risiko pemanasan global,

  • potensi ledakan kantong gas,

  • dan ancaman keselamatan operasional.

Ini menunjukkan bahwa kegagalan SWM bukan hanya persoalan lokal, tetapi berkontribusi pada tantangan iklim global, menegaskan perlunya integrasi kebijakan sampah–iklim.

3.4 Perspektif Interkoneksi: Dari Masalah Teknis ke Masalah Sistemik

Analisis paper ini mengajak pembaca melihat bahwa setiap praktik SWM membawa konsekuensi lintas sektor. Ketika pengelolaan buruk, biaya yang lahir tidak hanya berupa perbaikan lingkungan, tetapi juga:

  • biaya kesehatan,

  • kerugian ekonomi rumah tangga,

  • serta turunnya kualitas hidup masyarakat.

Dengan demikian, reformasi pengelolaan sampah harus dipahami sebagai investasi sosial–lingkungan, bukan sekadar proyek infrastruktur teknis.

 

4. Perbandingan Praktik Berisiko vs Pendekatan Berkelanjutan: Pelajaran untuk Transisi Sistem di Global South

Studi ini tidak berhenti pada pemetaan risiko, tetapi membandingkan praktik pengelolaan berisiko dengan pendekatan yang dinilai lebih berkelanjutan, terutama dalam konteks kota Global South yang menghadapi keterbatasan sumber daya .

4.1 Praktik Berisiko: Murah di Awal, Mahal di Akhir

Praktik seperti:

  • open dumping,

  • pembakaran terbuka,

  • dan pengelolaan TPA tanpa kontrol,

sering dipilih karena biaya awal rendah dan implementasi cepat. Namun secara jangka panjang, praktik ini:

  • menciptakan beban kesehatan dan lingkungan yang mahal,

  • memicu degradasi lahan dan air,

  • dan memperbesar ketergantungan pada pola “buang sebanyak mungkin”.

Paper ini menegaskan bahwa biaya tersembunyi dari praktik tersebut jauh melampaui penghematan jangka pendek.

4.2 Pendekatan yang Lebih Berkelanjutan: Bertahap, Kontekstual, dan Terintegrasi

Alternatif yang dinilai lebih efektif tidak selalu berarti teknologi canggih, melainkan pendekatan yang:

  • memprioritaskan pemilahan sumber dan pengurangan sampah,

  • meningkatkan pengelolaan bio-waste melalui kompos atau biodigester skala terdesentralisasi,

  • memperbaiki TPA secara bertahap menuju controlled / sanitary landfill,

  • serta mengintegrasikan sektor informal secara bertahap ke dalam rantai daur ulang.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberlanjutan lahir dari penguatan sistem, bukan hanya dari investasi fasilitas.

4.3 Faktor Kunci Keberhasilan: Tata Kelola, Pembiayaan, dan Partisipasi

Paper menegaskan bahwa transisi ke sistem berkelanjutan bergantung pada tiga faktor:

  1. tata kelola yang jelas (mandat, regulasi, pengawasan),

  2. pembiayaan yang stabil dan bertahap,

  3. partisipasi masyarakat serta legitimasi sosial kebijakan.

Tanpa ketiga faktor ini, bahkan teknologi yang baik sekalipun berisiko tidak berfungsi secara konsisten.

4.4 Nilai Tambah Analitis: Menghindari “Copy–Paste Model”

Studi ini juga mengingatkan bahwa solusi tidak dapat diimpor begitu saja dari negara maju. Model yang berhasil harus:

  • disesuaikan dengan konteks sosial–ekonomi lokal,

  • mempertimbangkan peran sektor informal,

  • dan berorientasi pada capaian inklusif, bertahap, dan realistis.

Dengan pendekatan adaptif, transisi menuju sistem SWM yang lebih berkelanjutan menjadi lebih feasible secara sosial maupun operasional.

 

5. Sintesis Kritis: Makna Temuan bagi Keberlanjutan Lingkungan dan Arah Kebijakan SWM di Global South

Jika temuan studi ini dibaca secara menyeluruh, muncul satu pesan kunci: praktik pengelolaan sampah bukan sekadar urusan teknis kota, tetapi merupakan determinannya kualitas lingkungan, kesetaraan sosial, dan kesehatan publik. Dengan kata lain, cara suatu kota mengelola sampah mencerminkan bagaimana ia mengelola risiko, melindungi kelompok rentan, dan memprioritaskan keberlanjutan jangka panjang .

5.1 Dari Konsekuensi Teknis ke Konsekuensi Sistemik

Paper ini menunjukkan bahwa praktik berisiko seperti open dumping dan pembakaran terbuka memiliki konsekuensi sistemik:

  • memperbesar beban penyakit dan biaya kesehatan masyarakat,

  • mempercepat degradasi ekosistem dan polusi lintas media,

  • meningkatkan emisi metana yang berdampak pada perubahan iklim,

  • serta memperdalam ketimpangan sosial-lingkungan di kawasan miskin.

Dengan demikian, kegagalan SWM bukan hanya “kekurangan fasilitas”, melainkan kegagalan tata kelola risiko perkotaan.

5.2 Keberlanjutan sebagai Proses Bertahap, Bukan Lompatan Teknologi

Temuan studi ini menegaskan bahwa solusi berkelanjutan tidak identik dengan teknologi mahal. Justru, pendekatan yang dinilai efektif bersifat:

  • inkremental (perbaikan bertahap TPA, perluasan pemilahan sedikit demi sedikit),

  • kontekstual (selaras dengan struktur sosial–ekonomi lokal),

  • terintegrasi (menghubungkan bio-waste, daur ulang, dan inklusi sektor informal).

Ini memperkuat argumen bahwa keberlanjutan lahir dari konsistensi kebijakan dan stabilitas sistem, bukan dari intervensi sesaat.

5.3 Titik Kritis yang Menentukan Keberhasilan

Dari perspektif kebijakan, studi ini menyoroti tiga titik kritis:

  1. kapasitas kelembagaan & regulasi — tanpa mandat jelas, operasi mudah stagnan,

  2. pembiayaan jangka panjang — sistem gagal ketika hanya bergantung pada proyek,

  3. legitimasi sosial & partisipasi — keberlanjutan bergantung pada penerimaan masyarakat.

Ketiganya membentuk fondasi agar reformasi SWM dapat berjalan stabil, inklusif, dan berorientasi jangka panjang.

 

6. Penutup — Arah Reformasi dan Urgensi Transisi menuju Sistem SWM yang Adil, Sehat, dan Berkelanjutan

Secara reflektif, studi ini menyampaikan bahwa masa depan SWM di Global South bergantung pada keberanian pemerintah dan kota menggeser paradigma: dari pengelolaan sampah sebagai beban teknis menuju instrumen perlindungan lingkungan–kesehatan dan keadilan sosial .

6.1 Tiga Agenda Strategis Reformasi

Berdasarkan temuan paper, arah reformasi dapat dirumuskan dalam tiga agenda utama:

  • Memutus praktik berisiko secara bertahap
    — mengurangi open dumping dan pembakaran terbuka sambil memperbaiki TPA menuju sistem terkendali.

  • Memperkuat pengelolaan bio-waste dan pemilahan sumber
    — sebagai strategi pengurangan emisi, peningkatan kualitas lingkungan, dan penguatan ekonomi sirkular lokal.

  • Mengintegrasikan sektor informal secara adil dan bertahap
    — melalui pengakuan peran, peningkatan keselamatan kerja, dan kemitraan rantai daur ulang.

Agenda ini menempatkan reformasi SWM sebagai proyek sosial–institusional, bukan hanya proyek infrastruktur.

6.2 Menjadikan SWM sebagai Investasi Perlindungan Publik

Transisi berkelanjutan menuntut perubahan cara pandang pembuat kebijakan: pembiayaan SWM bukan “biaya rutin”, melainkan investasi pencegahan risiko — mencegah penyakit, polusi, kerugian ekonomi, dan degradasi lingkungan.

Dengan kerangka ini, pengelolaan sampah menjadi bagian integral dari:

  • kebijakan kesehatan masyarakat,

  • strategi iklim dan lingkungan,

  • serta agenda pembangunan kota yang inklusif.

6.3 Refleksi Akhir

Pada akhirnya, studi ini menegaskan bahwa cara suatu kota mengelola sampah adalah cerminan keadilan dan keberlanjutan sosialnya. Reformasi SWM di Global South tidak hanya akan mengurangi polusi, tetapi juga:

  • melindungi kelompok paling rentan,

  • memperkuat kualitas hidup perkotaan,

  • dan membuka jalan menuju masa depan lingkungan yang lebih sehat dan berkeadilan.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Azevedo, B., et al. Environmental Sustainability Impacts of Solid Waste Management Practices in the Global South. International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH), 2022.

  2. United Nations Environment Programme (UNEP). Global Waste Management Outlook — Analisis global dampak lingkungan dan tata kelola sektor persampahan.

  3. World Bank. What a Waste 2.0: A Global Snapshot of Solid Waste Management to 2050 — Tren layanan, emisi, dan tantangan kota di negara berkembang.

  4. Wilson, D. C., Velis, C., & Rodic, L. Integrated Sustainable Waste Management in Developing Countries — Kerangka keberlanjutan sosial–lingkungan dalam SWM.