1. Pendahuluan: Ketika Efisiensi Tak Lagi Mengejar Konsumsi
Dalam dua dekade terakhir, circular economy dipromosikan sebagai jawaban rasional atas krisis sumber daya global. Ia hadir sebagai konsep yang menjanjikan pengurangan limbah, efisiensi material, dan pemisahan antara pertumbuhan ekonomi dan tekanan lingkungan. Dalam narasi kebijakan internasional, circular economy sering diposisikan seolah-olah menjadi missing link yang akan memungkinkan dunia mempertahankan pertumbuhan ekonomi tanpa melampaui batas planet.
Namun, bab yang ditulis oleh Ole van Allen, Harald U. Sverdrup, dan Anna Hulda Olafsdottir justru membuka pendahuluan dengan nada yang berlawanan. Alih-alih bertanya bagaimana circular economy dapat diimplementasikan, mereka mengajukan pertanyaan yang jauh lebih tidak nyaman: apakah masih ada ruang bagi circular economy di tengah laju konsumsi global yang terus meningkat?
Pertanyaan ini berangkat dari fakta empiris yang sulit diabaikan. Konsumsi material global meningkat dari sekitar 43 miliar ton pada 1990 menjadi 92 miliar ton pada 2017, atau naik lebih dari 113 persen dalam kurang dari tiga dekade. Proyeksi menunjukkan bahwa tanpa perubahan kebijakan yang bersifat sistemik, konsumsi material dapat mencapai 190 miliar ton pada 2060. Angka-angka ini menggeser perdebatan circular economy dari ranah desain dan inovasi menuju ranah ketidakcukupan struktural.
Di titik ini, circular economy tidak lagi dipertanyakan sebagai konsep yang salah, melainkan sebagai konsep yang terlalu kecil untuk menghadapi skala masalah. Penulis menunjukkan bahwa sebagian besar pendekatan keberlanjutan—termasuk circular economy, decoupling, strategi 4R, dan efisiensi teknis—masih beroperasi dalam kerangka business-as-usual. Konsumsi tetap tumbuh, populasi terus meningkat, dan pertumbuhan ekonomi tetap menjadi tujuan politik utama. Dalam konfigurasi ini, setiap peningkatan efisiensi cenderung dikompensasi oleh peningkatan volume aktivitas ekonomi.
Pendahuluan bab ini secara implisit membongkar asumsi dasar yang jarang dipersoalkan: bahwa efisiensi dapat mengalahkan skala. Circular economy diasumsikan mampu “mengejar” pertumbuhan konsumsi melalui daur ulang yang lebih baik, penggunaan ulang yang lebih lama, dan inovasi teknologi. Namun, data historis menunjukkan bahwa efisiensi material dan energi tidak pernah cukup cepat untuk mengimbangi ekspansi ekonomi global. Alih-alih menurunkan tekanan ekologis, efisiensi sering kali justru mempercepat konsumsi melalui efek rebound.
Yang menarik, penulis tidak berhenti pada kritik normatif. Mereka memosisikan circular economy dalam kerangka analisis sistem. Dari perspektif sistem global, perputaran internal material dalam ekonomi sirkular tidak dapat dipisahkan dari aliran masuk sumber daya primer yang terus meningkat. Dengan kata lain, circularity di dalam sistem tidak otomatis berarti keberlanjutan di tingkat planet. Sistem bisa tampak lebih “sirkular” secara internal, tetapi tetap tidak berkelanjutan secara keseluruhan.
Pendahuluan ini dengan demikian menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada kurangnya adopsi circular economy, melainkan pada ketidaksesuaian antara tujuan keberlanjutan dan logika pertumbuhan tanpa batas. Selama pertumbuhan konsumsi dan populasi tidak menjadi bagian dari perhitungan, circular economy berisiko berfungsi sebagai penunda krisis, bukan sebagai solusi.
Dengan mengajukan pertanyaan “any room for the circular economy?”, penulis tidak menolak circular economy secara total. Sebaliknya, mereka memaksa pembaca untuk menempatkan circular economy pada skala yang tepat: sebagai alat pendukung, bukan penopang utama keberlanjutan global. Pendahuluan ini membuka jalan bagi analisis yang lebih keras pada bagian selanjutnya, di mana model sistem dan simulasi akan menunjukkan batas-batas konkret dari pendekatan sirkular dalam dunia yang terus tumbuh
2. Mengapa Decoupling dan Circular Economy Gagal pada Skala Global
Setelah mempertanyakan apakah masih ada ruang bagi circular economy dalam konteks lonjakan konsumsi material global, van Allen dan kolega membawa diskusi ke wilayah yang lebih keras: apa yang sebenarnya ditunjukkan oleh data dan model sistem tentang kemungkinan decoupling dan circularity? Pada titik ini, optimisme normatif yang sering melekat pada circular economy berhadapan langsung dengan batas empiris.
Salah satu asumsi kunci dalam diskursus circular economy adalah decoupling—gagasan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dipisahkan dari penggunaan sumber daya dan dampak lingkungan. Dalam praktik kebijakan, decoupling sering diartikan sebagai peningkatan efisiensi material dan energi yang cukup cepat untuk menurunkan tekanan ekologis meskipun PDB terus tumbuh. Namun, analisis historis yang disajikan dalam bab ini menunjukkan bahwa absolute decoupling hampir tidak pernah terjadi pada skala global.
Data penggunaan sumber daya memperlihatkan pola yang konsisten: setiap penurunan intensitas material per unit PDB hampir selalu diimbangi oleh pertumbuhan volume ekonomi secara keseluruhan. Dengan kata lain, efisiensi relatif tercapai, tetapi konsumsi absolut tetap meningkat. Bahkan di wilayah dengan kemajuan teknologi tinggi dan kebijakan lingkungan yang ketat, penurunan penggunaan material domestik sering kali diimbangi oleh eksternalisasi konsumsi melalui impor. Ketika konsumsi dihitung secara consumption-based alih-alih production-based, klaim decoupling menjadi jauh lebih rapuh.
Bab ini kemudian memperkuat argumen tersebut melalui pendekatan model sistem dinamis. Dengan memandang ekonomi global sebagai sistem yang saling terhubung—antara populasi, produksi, konsumsi, dan ketersediaan sumber daya—penulis menunjukkan bahwa circular economy beroperasi sebagai mekanisme penundaan, bukan pemutus hubungan. Daur ulang, penggunaan ulang, dan perpanjangan umur produk memang memperlambat laju ekstraksi sumber daya primer, tetapi tidak menghentikannya. Selama permintaan total terus tumbuh, aliran masuk material baru tetap diperlukan.
Model yang disajikan memperlihatkan bahwa bahkan dengan tingkat daur ulang yang sangat tinggi, kebutuhan terhadap sumber daya primer tidak pernah turun ke nol. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor struktural: degradasi material dalam proses daur ulang, kehilangan energi, pertumbuhan stok material dalam infrastruktur, serta ekspansi populasi dan konsumsi per kapita. Circular economy, dalam kerangka ini, lebih tepat dipahami sebagai strategi efisiensi temporal—ia membeli waktu, tetapi tidak mengubah arah dasar sistem.
Aspek lain yang dikritisi adalah ketergantungan circular economy pada teknologi masa depan. Banyak skenario keberlanjutan mengasumsikan peningkatan dramatis dalam efisiensi, substitusi material, dan teknologi daur ulang canggih. Namun, penulis menegaskan bahwa asumsi tersebut sering kali mengabaikan batas termodinamika dan ketersediaan material kritis. Teknologi itu sendiri membutuhkan sumber daya, energi, dan infrastruktur tambahan, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan pada sistem.
Dalam konteks ini, circular economy berisiko menjadi bagian dari narasi technological optimism—keyakinan bahwa inovasi akan selalu datang tepat waktu untuk menyelesaikan masalah yang dihasilkan oleh pertumbuhan. Bab ini bersikap jauh lebih skeptis. Dengan merujuk pada tren jangka panjang dan batas fisik, penulis menunjukkan bahwa tidak ada bukti empiris kuat bahwa circular economy mampu menetralkan dampak pertumbuhan ekonomi global dalam skala dan kecepatan yang dibutuhkan.
Section ini memperjelas bahwa kegagalan circular economy bukan terutama kegagalan desain kebijakan atau implementasi, melainkan kegagalan skala dan asumsi. Circular economy bekerja paling baik dalam konteks terbatas—produk tertentu, sektor tertentu, atau wilayah tertentu. Ketika dinaikkan ke tingkat global tanpa membatasi pertumbuhan konsumsi, ia kehilangan daya transformasinya.
Dengan demikian, kritik yang dibangun dalam bab ini tidak menolak circular economy sebagai praktik, tetapi menolak klaim implisit bahwa circular economy dapat berdiri sendiri sebagai strategi keberlanjutan global. Tanpa pengendalian konsumsi, pertumbuhan populasi, dan ekspansi ekonomi, circular economy tetap terperangkap dalam logika yang sama dengan ekonomi linear—hanya dengan aliran yang sedikit lebih efisien
3. Batas Fisik dan Termodinamika: Mengapa 100% Circularity adalah Ilusi
Salah satu kontribusi terkuat dari bab van Allen dan kolega terletak pada penegasan bahwa kegagalan circular economy bukan semata persoalan ekonomi atau kebijakan, melainkan konsekuensi langsung dari hukum fisika. Di titik ini, diskursus circular economy dipaksa keluar dari wilayah metafora dan slogan menuju ranah yang jauh lebih tidak kompromistis: termodinamika dan keterbatasan material.
Circular economy sering digambarkan melalui citra lingkaran tertutup, seolah-olah material dapat berputar tanpa kehilangan. Namun, dalam sistem fisik nyata, tidak ada proses yang sepenuhnya reversibel. Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa setiap transformasi energi dan material menghasilkan entropi—kehilangan kualitas yang tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Dalam konteks daur ulang, ini berarti bahwa setiap siklus selalu melibatkan degradasi material, kontaminasi, dan kehilangan energi.
Penulis menegaskan bahwa bahkan pada sistem daur ulang yang sangat efisien, 100% circularity secara fisik mustahil. Material mengalami keausan, pencampuran, dan perubahan struktur yang membuatnya tidak lagi setara dengan bahan awal. Akibatnya, sistem sirkular selalu membutuhkan input sumber daya primer untuk menjaga fungsi dan kualitas. Dengan kata lain, circular economy tidak pernah benar-benar tertutup; ia selalu bergantung pada ekonomi ekstraktif di latar belakang.
Masalah ini semakin serius ketika circular economy diterapkan pada stok material jangka panjang, seperti bangunan, infrastruktur, dan mesin industri. Material dalam stok ini tidak langsung kembali ke siklus produksi, tetapi “terkunci” selama puluhan tahun. Selama periode tersebut, kebutuhan material baru terus muncul untuk memenuhi ekspansi ekonomi dan pertumbuhan populasi. Model sistem yang dibahas dalam bab ini menunjukkan bahwa pertumbuhan stok material global menjadi salah satu faktor utama yang membuat circularity penuh tidak dapat dicapai.
Selain degradasi dan stok, faktor energi memainkan peran sentral. Setiap proses daur ulang membutuhkan energi tambahan, sering kali dalam jumlah yang signifikan. Jika energi tersebut masih berasal dari sumber fosil atau sumber terbarukan yang terbatas kapasitasnya, maka circular economy justru dapat memindahkan tekanan dari satu domain lingkungan ke domain lain. Dalam konteks ini, circular economy tidak otomatis lebih berkelanjutan kecuali didukung oleh sistem energi yang juga beroperasi dalam batas ekologis yang ketat.
Bab ini juga mengkritisi kecenderungan untuk mengabaikan material kritis dan langka. Banyak teknologi yang dipromosikan sebagai pendukung circular economy—mulai dari sistem digital, baterai, hingga infrastruktur energi terbarukan—bergantung pada material yang secara geologis terbatas dan sulit didaur ulang secara sempurna. Kehilangan kecil dalam setiap siklus daur ulang material kritis dapat terakumulasi menjadi kelangkaan sistemik dalam jangka panjang.
Dengan menempatkan circular economy dalam kerangka batas fisik, penulis membongkar ilusi bahwa keberlanjutan dapat dicapai melalui optimasi proses semata. Circular economy, dalam pembacaan ini, tidak gagal karena kurang ambisius, tetapi karena ambisinya tidak selaras dengan realitas fisik planet. Upaya untuk menutup lingkaran sepenuhnya justru berisiko menunda diskusi yang lebih mendesak tentang pengurangan skala aktivitas ekonomi.
Section ini memperkuat argumen bahwa circular economy hanya masuk akal sebagai strategi pelengkap, bukan sebagai kerangka utama keberlanjutan. Selama kebijakan dan strategi industri terus mengejar pertumbuhan material dan energi, hukum termodinamika akan selalu “menang” atas desain ekonomi. Dengan demikian, pertanyaan yang lebih relevan bukan lagi bagaimana mencapai circularity sempurna, melainkan berapa tingkat circularity yang realistis dalam batas fisik yang ada
4. Populasi, Pertumbuhan Ekonomi, dan Masalah Skala yang Tak Pernah Dibahas
Salah satu kekuatan analisis van Allen dan kolega adalah keberaniannya menempatkan circular economy dalam konteks dinamika makro yang jarang disentuh secara eksplisit: pertumbuhan populasi dan ekspansi ekonomi global. Dalam banyak narasi keberlanjutan, kedua faktor ini diperlakukan sebagai parameter eksternal yang tidak dapat diganggu gugat. Circular economy kemudian diposisikan sebagai solusi teknis yang harus bekerja terlepas dari kenyataan bahwa semakin banyak manusia mengonsumsi semakin banyak sumber daya.
Bab ini secara sistematis menunjukkan bahwa pendekatan semacam itu bersifat problematik. Pertumbuhan populasi global, meskipun melambat, tetap menghasilkan tekanan material yang signifikan. Setiap tambahan populasi berarti kebutuhan baru akan pangan, energi, perumahan, infrastruktur, dan layanan publik—semuanya berbasis material dan energi. Circular economy dapat memperlambat laju ekstraksi per kapita, tetapi tidak pernah mampu menetralkan peningkatan absolut yang dihasilkan oleh pertumbuhan populasi dan konsumsi.
Pertumbuhan ekonomi memperparah persoalan tersebut. Dalam model sistem yang digunakan, pertumbuhan PDB global berfungsi sebagai penguat (reinforcing loop) bagi konsumsi material. Setiap peningkatan efisiensi cenderung diikuti oleh penurunan harga relatif, peningkatan akses, dan ekspansi pasar—fenomena yang dikenal sebagai efek rebound. Akibatnya, keuntungan efisiensi yang diharapkan dari circular economy sering kali “dikonsumsi kembali” oleh pertumbuhan volume aktivitas ekonomi.
Penulis menekankan bahwa sebagian besar skenario keberlanjutan global secara implisit mengasumsikan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat terus berlangsung, sementara dampak ekologisnya dikendalikan melalui teknologi dan efisiensi. Namun, ketika skenario tersebut diuji melalui model sistem jangka panjang, hasilnya konsisten: tanpa pembatasan pertumbuhan, tekanan sumber daya terus meningkat, meskipun laju peningkatannya mungkin melambat.
Masalah skala ini semakin jelas ketika circular economy diterapkan pada sektor-sektor kunci seperti konstruksi, transportasi, dan energi. Sektor-sektor ini tidak hanya bersifat material-intensif, tetapi juga sangat terkait dengan pertumbuhan populasi dan urbanisasi. Daur ulang material konstruksi atau peningkatan efisiensi kendaraan tidak mampu mengimbangi lonjakan permintaan infrastruktur dan mobilitas. Circular economy di sektor-sektor ini berfungsi sebagai pengurang tekanan relatif, bukan sebagai solusi absolut.
Bab ini juga menyoroti ketegangan politik yang muncul ketika persoalan skala dibahas secara terbuka. Mengakui bahwa pertumbuhan konsumsi dan populasi memiliki batas berarti mempertanyakan paradigma pembangunan yang telah mendominasi kebijakan global selama beberapa dekade. Circular economy sering dipromosikan justru karena ia tidak menantang paradigma tersebut secara langsung. Dengan menawarkan perbaikan teknis, circular economy memungkinkan pembuat kebijakan menghindari diskusi tentang pembatasan konsumsi dan redistribusi kesejahteraan.
Section ini menegaskan bahwa kegagalan circular economy pada skala global bukan akibat kurangnya ambisi, tetapi akibat ketidaksesuaian antara tujuan keberlanjutan dan realitas pertumbuhan. Selama pertumbuhan populasi dan ekonomi diperlakukan sebagai konstanta, circular economy akan selalu bekerja di bawah bayang-bayang peningkatan skala yang tidak dapat dikalahkan oleh efisiensi semata.
Dengan demikian, analisis ini menggeser fokus diskusi dari pertanyaan “bagaimana meningkatkan circularity” menjadi “pada skala aktivitas ekonomi seperti apa circularity menjadi bermakna?”. Pertanyaan ini membuka ruang bagi perdebatan yang lebih jujur tentang masa depan keberlanjutan—perdebatan yang selama ini sering dihindari demi menjaga optimisme kebijakan
5. Circular Economy sebagai Alat Pendukung, Bukan Strategi Utama
Setelah menelusuri batas-batas empiris, fisik, dan sistemik circular economy, van Allen dan kolega sampai pada kesimpulan yang tegas namun tidak nihilistik: circular economy tetap memiliki peran, tetapi peran tersebut bersifat terbatas. Ia tidak dapat—dan tidak seharusnya—diposisikan sebagai strategi utama untuk mencapai keberlanjutan global. Sebaliknya, circular economy perlu dipahami sebagai alat pendukung dalam kerangka kebijakan yang lebih luas dan lebih jujur terhadap batas planet.
Dalam kerangka ini, circular economy berfungsi untuk memperlambat laju degradasi, bukan untuk menghentikannya sepenuhnya. Daur ulang, penggunaan ulang, dan efisiensi material dapat memperpanjang umur sumber daya, mengurangi tekanan ekstraksi jangka pendek, dan memberikan ruang waktu bagi transisi sistemik lainnya. Namun, manfaat tersebut hanya bermakna jika dikombinasikan dengan kebijakan yang secara eksplisit mengendalikan skala aktivitas ekonomi dan konsumsi.
Penulis menekankan bahwa kesalahan utama dalam diskursus circular economy bukan terletak pada praktiknya, melainkan pada ekspektasi yang dibebankan kepadanya. Circular economy sering diperlakukan sebagai solusi “tanpa rasa sakit”—sebuah pendekatan yang memungkinkan pertumbuhan berlanjut tanpa perlu menghadapi pilihan sulit. Dalam konfigurasi seperti ini, circular economy justru berisiko memperkuat status quo dengan memberikan legitimasi keberlanjutan semu.
Sebagai alat pendukung, circular economy perlu ditempatkan di bawah strategi yang lebih fundamental, seperti pengendalian konsumsi material absolut, pembatasan eksploitasi sumber daya primer, dan restrukturisasi sistem produksi dan distribusi. Tanpa kerangka ini, peningkatan circularity hanya akan menghasilkan perbaikan marginal yang mudah terserap oleh pertumbuhan.
Bab ini juga menekankan pentingnya prioritisasi sektor. Circular economy paling efektif ketika diterapkan pada sektor dengan potensi pengurangan dampak yang tinggi dan keterbatasan substitusi yang rendah. Sebaliknya, memaksakan circularity pada semua sektor secara seragam berisiko menciptakan kebijakan yang tidak efisien dan bahkan kontraproduktif. Pendekatan yang lebih selektif memungkinkan alokasi sumber daya kebijakan dan teknologi yang lebih rasional.
Reposisi circular economy ini juga memiliki implikasi normatif. Dengan mengakui keterbatasannya, circular economy berhenti menjadi janji universal dan mulai berfungsi sebagai instrumen teknis yang jujur. Kejujuran ini penting untuk membangun kebijakan keberlanjutan yang kredibel, karena menghindari kekecewaan publik yang muncul ketika target ambisius tidak tercapai.
Section ini menegaskan bahwa circular economy tidak gagal karena tidak cukup diterapkan, tetapi karena diposisikan secara keliru. Dengan menempatkannya sebagai alat pendukung dalam strategi yang secara eksplisit membahas pertumbuhan, konsumsi, dan batas fisik, circular economy tetap dapat memberikan kontribusi nyata—bukan sebagai penyelamat tunggal, tetapi sebagai bagian dari upaya kolektif yang lebih luas dan lebih realistis
6. Kesimpulan dan Implikasi Kebijakan: Circular Economy setelah Ilusi Skala
Artikel ini menempatkan circular economy pada posisi yang lebih jujur dan proporsional dalam diskursus keberlanjutan global. Berdasarkan analisis data historis, model sistem, batas termodinamika, serta dinamika populasi dan pertumbuhan ekonomi, menjadi jelas bahwa circular economy tidak mampu berdiri sendiri sebagai strategi utama keberlanjutan. Kegagalannya bukan terletak pada kurangnya inovasi atau implementasi, melainkan pada ketidaksesuaian antara klaimnya dan skala masalah yang dihadapi.
Circular economy terbukti efektif dalam konteks terbatas: sektor tertentu, wilayah tertentu, dan horizon waktu tertentu. Ia mampu memperlambat laju ekstraksi sumber daya, mengurangi limbah relatif, dan meningkatkan efisiensi penggunaan material. Namun, ketika dinaikkan ke tingkat global tanpa pembatasan konsumsi dan pertumbuhan, circular economy kehilangan daya transformasinya. Efisiensi tidak pernah cukup cepat untuk mengejar ekspansi sistem ekonomi dunia.
Temuan utama dari bab van Allen dan kolega menggeser fokus perdebatan dari “bagaimana meningkatkan circularity” menuju pertanyaan yang lebih mendasar: pada skala aktivitas ekonomi seperti apa circular economy masih bermakna? Pertanyaan ini memaksa pembuat kebijakan untuk keluar dari zona nyaman narasi teknokratis dan menghadapi realitas bahwa keberlanjutan tidak dapat dicapai tanpa keputusan politik yang sulit.
Implikasi kebijakan dari analisis ini cukup tegas. Pertama, circular economy perlu ditempatkan sebagai instrumen pendukung, bukan sebagai tujuan akhir. Target circularity harus disertai dengan target absolut pengurangan penggunaan sumber daya primer dan energi. Tanpa target absolut, peningkatan efisiensi hanya akan memperpanjang usia sistem yang tidak berkelanjutan.
Kedua, kebijakan keberlanjutan perlu secara eksplisit memasukkan pengendalian skala—baik melalui pembatasan konsumsi material, pengelolaan pertumbuhan sektor intensif sumber daya, maupun redefinisi kesejahteraan yang tidak bergantung pada ekspansi material. Circular economy dapat berperan dalam kerangka ini, tetapi tidak dapat menggantikannya.
Ketiga, diperlukan kejujuran naratif dalam komunikasi kebijakan. Circular economy tidak seharusnya dipresentasikan sebagai solusi yang memungkinkan dunia “terus tumbuh seperti biasa”. Sebaliknya, ia perlu dikomunikasikan sebagai alat untuk mengelola transisi, yang bekerja efektif hanya jika dikombinasikan dengan perubahan struktural yang lebih dalam.
Dengan reposisi ini, circular economy tidak kehilangan relevansinya—justru sebaliknya. Ia dibebaskan dari beban janji yang tidak realistis dan dapat berfungsi secara lebih efektif sebagai bagian dari strategi keberlanjutan yang berlapis. Keberlanjutan global, dalam kerangka ini, bukan hasil dari satu konsep unggulan, melainkan dari kombinasi kebijakan yang berani mengakui batas fisik planet.
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah masih ada ruang bagi circular economy?” tidak dijawab dengan ya atau tidak secara sederhana. Jawabannya bersyarat: ada ruang, tetapi ruang tersebut semakin sempit jika pertumbuhan konsumsi dan populasi terus dibiarkan tanpa kendali. Circular economy dapat membeli waktu, tetapi hanya perubahan skala yang dapat menentukan arah masa depan sistem global
Daftar Pustaka
van Allen, O., Sverdrup, H. U., & Olafsdottir, A. H. (2022). Global resource use and the future: Any room for the circular economy? Dalam The Impossibilities of the Circular Economy. London: Routledge.
Bringezu, S., Schütz, H., Steger, S., & Baudisch, J. (2004). International comparison of resource use and its relation to economic growth. Ecological Economics, 51(1–2), 97–124.
Haberl, H., Fischer-Kowalski, M., Krausmann, F., Martinez-Alier, J., & Winiwarter, V. (2011). A socio-metabolic transition towards sustainability? Population and Environment, 32(1), 1–20.
Jackson, T. (2017). Prosperity without growth: Foundations for the economy of tomorrow. London: Routledge.
Meadows, D. H., Meadows, D. L., Randers, J., & Behrens, W. W. (1972). The limits to growth. New York: Universe Books.
Schandl, H., Fischer-Kowalski, M., West, J., et al. (2016). Global material flows and resource productivity. Journal of Industrial Ecology, 20(4), 827–838.
Wiedmann, T. O., Schandl, H., Lenzen, M., et al. (2015). The material footprint of nations. Proceedings of the National Academy of Sciences, 112(20), 6271–6276.