Pertanian
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Wonogiri menjadi salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia yang jika ditelusur sejarahnya sudah berlangsung selama ratusan tahun.
Seperti diketahui, Indonesia memiliki banyak wilayah yang kaya dengan tanaman kopi dan produk kopi yang memiliki cita rasa khas, mulai dari kopi Aceh Gayo, kopi Toraja milik Sulawesi, kopi Kintamani dari daerah Bali, dan lain-lainnya.
Di Pulau Jawa, tanaman kopi tidak semelejit tanaman kopi daerah lain, namun bukan berarti Pulau Jawa tidak memiliki kopi khas. Salah satu kopi di Pulau Jawa yang mulai banyak didengar orang yaitu kopi Wonogiri.
Dilansir Indonesia.go.id, Wonogiri sebagai daerah penghasil kopi di masa lalu ditandai dengan penemuan ratusan pohon kopi jenis Libercia berusia tua di area hutan pinus Dusun Ngroto, Desa Sukoharjo, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri.
Ratusan pohon kopi ini ditemukan pada pertengahan Februari 2019. Keberadaan ratusan tanaman kopi di area hutan ini ternyata adalah peninggalan dari Kadipaten Mangkunegaran. Tetapi ternyata bukan di Tirtomoyo kebun kopi pertama di Wonogiri bermula, melainkan di Bulukerto.
Pada era 1800-an, wilayah Wonogiri khususnya daerah Kecamatan Bulukerto dipilih oleh Kadipaten Mangkunegaran untuk dijadikan sebagai pusat lokasi pembibitan dan pembudidayaan perkebunan kopi.
Laman resmi Pemerintah Kecamatan Girimarto, Wonogiri, kec.girimarto.wonogiri.go.id, menyebutkan wilayah Gondosini di Kecamatan Bulukerto, Wonogiri, menjadi tempat pembibitan kopi pada era kejayaan Kadipaten Mangkunegaran.
Melanjutkan Tradisi Menanam Kopi
Laman resmi Puro Mangkunegaran juga menyebutkan penanaman kopi dimulai pada 1814 dengan bibit kopi yang diperoleh dari kebun kopi di Gondosini. Saat itu, Pangeran Arya Gandakusuma masih menjabat sebagai patih di Kadipaten Mangkunegaran.
Setelah sang pangeran menduduki takhta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunagoro IV, perkebunan kopi itu diperluas. Perluasan dilakukan ke wilayah Honggobayan, Keduwang, dan Karangpandan, di luar Kota Solo.
Dipilihnya daerah Wonogiri sebagai pusat pembibitan menandakan Wonogiri memiliki kapasitas mumpuni untuk menjadi penghasil kopi lokal yang berkualitas. Pengetahuan itu tak disia-siakan oleh warga Wonogiri yang kemudian melanjutkan tradisi menanam kopi.
Saat ini, komunitas setempat telah berupaya mengajak para petani kopi untuk mulai mencari pengetahuan tentang tanaman kopi. Hal itu supaya kualitas hasil panen kopi para petani dapat meningkat dan mendapat harga jual yang layak di pasaran.
Desa Conto, Kecamatan Bulukerto, misalnya menjadi daerah yang memiliki ribuan tanaman kopi subur. Hal ini dilatarbelakangi kontur tanah Bulukerto yang terdiri dari perbukitan dengan ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut.
Kopi Robusta
Di samping itu tanah Desa Conto menyimpan banyak pasokan air yang menjadikannya daerah ideal untuk tanaman kopi varietas Arabica. Dilansir jatengprov.go.id, kopi daerah Wonogiri telah menduduki posisi tiga besar di Provinsi Jawa Tengah dalam Penilaian Inovasi Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tahun 2023.
Kabupaten Wonogiri sebagai daerah penghasil kopi memiliki berbagai varietas, salah satunya kopi robusta. Laman dgip.go.id menyebut robusta Wonogiri ditanam di beberapa kecamatan.
Jenis ini dapat tumbuh pada ketinggian antara 400-900 meter di atas permukaan laut. Tanaman kopi ini berada di kebun atau lahan perkarangan milik warga dan hutan milik Perhutani.
Daerah persebaran kopi robusta Wonogiri ini antara lain di Girimarto, Jatipurno, Slogohimo, Bulukerto, Puhpelem, Krismantoro, Jatiroto, Karangtengah, dan Tirtomoyo. Beberapa tahun belakangan, berkat usaha keras para petani dan komunitas pencinta kopi, kopi Wonogiri terus berkembang.
Kopi tidak hanya dijual mentah ke pabrik, tapi juga diolah sendiri oleh para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) dengan kemasan yang menarik. Saat Lebaran 2023 lalu, kopi menjadi salah satu oleh-oleh yang banyak diburu pemudik atau pengunjung di Wonogiri. Coffee shop atau kafe di kawasan Wonogiri pun banyak yang menggunakan kopi lokal untuk menu sajian mereka.
Sumber: https://soloraya.solopos.com/
Pertanian
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Kalian tahu tidak kalau di SMK ternyata ada Jurusan Agribisnis Tanaman Perkebunan (ATP). Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia merupakan salah satu negara agraris di mana sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian dan perkebunan.
Beragam upaya perlu dilakukan untuk mengembangkan keilmuan di bidang pertanian dan perkebunan salah satunya dengan menghadirkan Jurusan ATP pada jenjang SMK.
Apa itu Jurusan ATP? Secara garis besar jurusan ini ialah jurusan yang fokus pada pengembangan teknologi dalam bidang pertanian, perkebunan, dan pembibitan. Apakah hanya sebatas ini saja? Tentu tidak banyak hal-hal yang wajib dipelajari oleh siswa Jurusan ATP. Kira-kira apa saja yah materi yang wajib dimiliki dan dikuasai oleh siswa Jurusan ATP. Kali ini Guru Jurusan ATP SMKN 1 Matan Hilir, Radiansyah, akan memberitahu kita tentang materi wajib yang akan diterima oleh siswa Jurusan ATP.
Radiansyah menyampaikan bahwa ada dua jenis tanaman yang dipelajari dalam jurusan ini. Siswa kelas X Jurusan ATP akan belajar terkait tanaman holtikultura, seperti cabai, terong, dan tomat, sedangkan siswa kelas XI akan belajar terkait tanaman perkebunan seperti sawit, karet, dan kelapa.
“Hal pertama yang wajib didapatkan adalah dasar-dasar agribisnis tanaman. Siswa akan belajar tentang kesatuan kegiatan usaha yang meliputi salah satu atau keseluruhan mata rantai produksi, pengelolaan, dan pemasaran hasil produksi,” ucap Radiansyah.
Materi kedua yang akan dipelajari oleh siswa Jurusan ATP adalah pertanian berkelanjutan. Di sini siswa akan belajar tentang bagaimana cara mengelola sumber daya untuk kepentingan pertanian dengan tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas lingkungan serta konservasi sumber daya alam.
“Setelah itu siswa juga akan mempelajari tentang hama dan penyakit pada tanaman. Mungkin kita sering lihat tanaman yang tiba-tiba mati atau pun pertumbuhannya kurang maksimal nah itu bisa jadi karena tanaman tersebut terserang hama atau penyakit. Gangguan semacam ini bisa disebabkan karena kelainan genetis dan kondisi lingkungan. Nah, siswa belajar bagaimana menanggulanginya, bagaimana menggunakan pestisida, pengelolaan tanah agar tanaman bisa selamat dari serangan ini,” tutur Radiansyah.
Pada Jurusan ATP, siswa juga diajarkan tentang agripreneur dan peluang usaha dan kerja di lingkup pertanian.
“Agripreneur ini merupakan seseorang yang menjalankan suatu usaha di lingkup pertanian dan di ATP itu sendiri siswa akan diajarkan cara memanajemen suatu usaha itu, mulai dari kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi, kegiatan produksi primer atau budidaya, pengolahan hingga proses pemasaran. Harapannya dengan ilmu ini dapat memberikan gambaran kepada siswa ketika mereka memutuskan untuk berwirausaha di bidang pertanian sehingga nanti usahanya bisa dikelola dengan baik dan bisa lancar,” kata Radiansyah.
Itu dia materi yang dipelajari oleh siswa Jurusan ATP, kedengarannya sangat menyenangkan. Lebih seru lagi kalau kalian bisa berkecimpung langsung di jurusan ini. Selain kalian bisa terjun belajar ke perkebunan kalian juga bisa menjadi salah satu agen perubahan untuk pertanian dan perkebunan di Indonesia.
Sumber: https://www.vokasi.kemdikbud.go.id/
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan beberapa modul Internet of Things (IoT) umtuk diterapkan dalam teknologi bilmedis, seperti modul WiFi server ESP32 atau ESP 8266 yang digunakan untuk komunikasi server. Dengan modul ini diharapkan mendapatkan performa terbaik dari penelitian sebelumnya yang menggunakan radar Frequency Modulated Continuous Wave (FMCW).
Peneliti BRIN, Puput Dani Prasetyo Adi menjelaskan bahwa radar FMCW merupakan jenis sensor radar aktif yang memancarkan daya transmisi secara kontinyu seperti gelombang kontinyu (CW Radar). Radar FMCW diukur berdasarkan perbedaan fasa atau frekuensi antara sinyal yang dipancarkan dan sinyal yang diterima. Radar tersebut dapat memantau sistem pernafasan manusia secara real time.
“Radar ini bahkan dapat menghitung jangkauan, kecepatan, atau fase secara bersamaan untuk beberapa target menggunakan proses yang dikenal sebagai demodulasi IQ dan beberapa kicauan,” jelas Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Telekomunikasi BRIN itu saat diwawancari, Kamis (21/3)
Dijelaskan Puput, saat ini pihaknya fokus melakukan penelitian bersama tim, adalah pada kondisi pernafasan pasien yang dipantau dari Radar FMCW menjadi fokus dalam penelitian ini. Kemampuan unik radar FMCW untuk membedakan antara rentang dilakukan dengan memodulasi frekuensi transmisi yang sedang berlangsung.
Radar FMCW untuk pernafasan manusia atau pasien yang kemudian akan menentukan jenis penyakit atau kelainan pada pasien hanya dengan melihat jenis pernafasannya. Data dari Radar FMCW kemudian dikonversikan menjadi data yang dapat dibaca secara waktu nyata atau langsung oleh masyarakat, dokter, atau tim medis melalui web server iotmedis.brin.go.id.
Berbagai jenis data pernapasan diambil dari berbagai titik sehingga akan menimbulkan analisis baru yaitu proses pengiriman data pada trafik server atau proses uplink dan downlink. Kebaruan data dan penelitian secara spesifik adalah bagaimana data pernapasan multi pasien dari OmnipreSense atau FMCW Radar dapat diproses oleh mikroprosesor menggunakan MQTT (Message Queuing Telemetry Transport), dan data multi pasien tersebut dapat ditampilkan di server secara waktu nyata.
Tidak hanya dari segi FMCW Radar untuk medis tetapi juga dari segi fleksibilitas dalam menampilkan data yang dapat diintegrasikan dengan gawai yang digunakan saat ini. “Salah satu server yang digunakan adalah MQTT, yang telah telah dipasang dan berhasil menampilkan data pernapasan pasien secara waktu nyata.
Kedepannya, pada penelitian ini akan dilakukan pemasangan menggunakan casing permanen yang lebih tetap dan stabil dalam proses konektivitas antar perangkat, yang melibatkan Raspberry Pi 4 B dan OmniPreSense Radar. Data tersebut diintegrasikan ke dalam MQTT server dengan data pernapasan pasien dan menghasilkan data realtime dalam bentuk grafik data pernapasan,” ungkap Puput Dani.
Diharapkan FMCW Radar ini mampu membaca atau mendeteksi sistem pernafasan manusia dan menentukan ketidaknormalan pasien, membangun sistem realtime yang mampu membaca pernafasan manusia atau pasien berbasis Internet of Things dan pemanfaatan gelombang micro menggunakan radar FMCW 77 GHz untuk diaplikasikan untuk pendeteksian penyakit pasien terutama pada sisi pernafasan.
“Diakhir tahun 2023 ini kami berhasil menghasilkan prototype yang mampu membaca sistem pernafasan manusia dengan cara pembacaan menggunakan gelombang mikro dengan FMCW Radar tipe OmniPresense 77 GHz serta Jurnal Internasional dan prosiding sebagai output dari proses desiminasi riset dan tentunya paten berupa arsitektur yang kami rancang guna mampu melayani banyak pasien dengan realtime dan cepat,” papar Puput Dani.
Puput Dani berharap agar proses penyelesaian prototype atau casing untuk dibuat sedinamis mungkin sehingga dapat lebih mudah dibawa dan flexible serta dapat dikembangkan menjadi suatu produk yang dapat diterapkan di rumah sakit, tim medis maupun tim medis lapangan atau tim SAR (Search And Resque) yang bekerja di daerah bencana atau di dunia kesehatan secara umum.
Sumber: https://brin.go.id/
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) telah mengembangkan simulator pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tipe small modular reactor presurized water reactor (SMR PWR).
Simulator ini memanfaatkan teknologi reaktor berpendingin air. Tetapi, bentuknya terintegrasi antara teras dan pembangkit uapnya dalam satu containment, berukuran kecil, dan memiliki daya 50-70 megawatt.
“Pengembangan simulator small modular ini sudah dilakukan periset BRIN sejak 2019 bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM), untuk skala pendidikan dan masyarakat umum,” ujar Plt. Kepala PRTBNLR BRIN Syaiful Bakhri, dalam penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Fakultas Teknik UGM, di Yogyakarta, Jumat (22/3).
Menurutnya, teknologi nuklir, khususnya reaktor nuklir, perlu penguasaan di semua aspek terkait pembuatan model, memberikan pemahaman pada masyarakat, akademisi, tenaga kerja ketenaganukliran cara-cara mengoperasikan reaktor dengan selamat yang kuncinya terletak pada simulator.
“Simulator ini mejadi representasi yang mirip dengan reaktor yang sebenarnya. Bisa dioperasikan, termasuk untuk antisipasi kecelakaan, memberi pemahaman pada akademisi cara mengoperasikan reaktor sekaligus mengembangkannya. Sedangkan bagi tenaga ketenaganukliran semisal operator reaktor ke depannya, simulator ini bisa menjadi panduan bagi mereka,” papar Syaiful.
Dia menyebut, di negara-negara pengembang teknologi nuklir, sebelum reaktor dibangun, operator harus dididik di simulator. Setelah memiliki izin, baru operator tersebut boleh mengoperasikan reaktor yang sebenarnya.
Beberapa keunggulan simulator PLTN tipe SMR PWR adalah berukuran kecil, menggunakan pendingin air, dan sirkulasi alamiah. Sehingga, tingkat keselamatannya dinilai lebih tinggi dibandingkan reaktor berukuran besar yang masih menggunakan passive system dan pendinginan paksa.
“Pendinginnya natural, misalnya saat kehilangan catu daya, maka air pendingin dalam sistem primer reaktor ini tetap dapat bersirkulasi dengan sendirinya untuk mendinginkan, mengambil panas dari teras reaktor,” jelasnya.
Dari sisi aspek pendidikan, simulator ini memberikan peluang pengembangan pemodelan dan komputasi. “Mahasiswa dapat melakukan praktik pemodelan cara mendesain sebuah reaktor untuk tujuan simulator, sekaligus belajar mengoperasikan reaktor menggunakan komputer dengan aman dan selamat,” tambah Syaiful.
Target kerja sama ini bukan hanya berhenti pada pengembangan simulator saja. “Ke depan, simulator ini dapat dikembangkan oleh para ahli teknik nuklir. Sehingga, bisa untuk mensimulasi skenario kecelakaan yang dapat terjadi di reaktor dan mitigasinya,” ujarnya.
Pihaknya akan mengajak UGM untuk melakukan riset dekomisioning, dekontaminasi, limbah, penyiapan bahan nuklir, pengembangan bahan bakar, dekotaminasi tanah tercemar sesium, dan riset yang lebih maju lain ke depannya.
“Simulatornya bisa untuk pembelajaran, menghasilkan riset baru, menambah kompetensi mahasiswa, dan menguatkan riset BRIN,” pungkasnya.
Sumber: https://brin.go.id/
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Pernahkah Anda melakukan salat dan puasa di kedalaman 7.000 meter di laut dalam Samudra Hindia? Andina Ramadhani Putri Pane, seorang peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mampu melakukannya di kapal selam Fendouzhe milik Institute of Deep-Sea Science and Engineering (IDSSE) – Chinese Academy of Science (CAS).
Ya, Dina-panggilan akrabnya- tergabung dalam "Expedition Java Trench 2024". Dalam ekspedisi ini peneliti BRIN dan IDSSE-CAS bersama-sama melakukan penelitian di Selatan Laut Jawa pada 23 Februari hingga 22 Maret 2024 menggunakan kapal penelitian Tan-Suo-Yi-Hao. Dina merupakan satu-satunya muslimah dalam tim ekspedisi. Dia melaksanakan salat di kapal selam dan juga melakukan ibadah puasa selama melakukan ekspedisi.
Selain Dina, peneliti BRIN lainnya adalah Yustian Rovi Alfiansah peneliti bidang mikroorganisme dan akuakultur juga terlibat dalam ekspedisi ini yang bertindak sebagai ketua tim peneliti Indonesia. Selain peneliti ID-SSE Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dan kru kapal, ekspedisi ini juga diikuti Mayor Kridha dari TNI Angkatan Laut, Harisma (peneliti dari Universitas Halu Oleo), dan Engki (peneliti Universitas Hang Tuah) yang mewakili Indonesia.
Kapal selam Fendouzhe melakukan 22 kali penyelaman, di mana 14 kali penyelaman melebihi 6000 meter dan 6 kali penyelaman bersama ilmuwan Indonesia. Di sana para ilmuwan meneliti spesimen fauna bentik/ bentos (dasar laut), menggunakan alat pengambil sedimen inti dan sedimen dalam, batuan dasar & karbonat. Selain itu juga menggunakan membran untuk menyaring air laut sehingga ditemukan mikrobiologinya. Kapal selam laut dalam ini dibawa menggunakan kapal penelitian Tan-Suo-Yi-Hao yang bersandar di dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Jakarta.
Ekspedisi ini khususnya menyorot mengenai kelimpahan dan keanekaragaman fauna bentik yang tinggi, spesies inovatif di parit, dan ekosistem benda yang tidak biasa. Selain itu, para peneliti juga memantau sedimentasi oksida besi dalam skala besar di dekat sumbu parit, biota batuan baru – dunia foraminifera (grup besar protista amoeboid dengan pseudopodia), dan bidang hidrotermal suhu rendah di cekungan busur depan.
Pengalaman berharga didapatkan para peneliti Indonesia. Ekspedisi tidak berhenti pada kali ini saja, IDSSE-CAS juga mengajak peneliti Indonesia untuk mengikuti Global Trench Exploration and Dive Program. Program itu merupakan ekspedisi gabungan kedua di perairan Indonesia, khususnya berfokus pada gempa bumi dan sumber daya kelautan. IDSSE-CAS juga mengajak untuk mendirikan laboratorium bersama. Diharapkan dengan ekspedisi yang sudah terlaksana, dapat meningkatkan kerja sama di bidang rekayasa dan teknologi laut dalam.
Sumber: https://brin.go.id/
Riset dan Inovasi
Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati pada 25 Februari 2025
Dua Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yustian Rovi Alfiansah dan Andina Ramadhani Putri Pane meraih rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Penyerahan piagam rekor MURI berlangsung di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Jakarta, Jum’at (22/3). Resepsi penyambutan ekspedisi bersama Indonesia – Tiongkok "Expedition Java Trench 2024" ini dihadiri Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut B. Pandjaitan, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Kru Kapal Tan-Suo-Yi-Hao, dan para undangan.
Dalam sambutannya, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengatakan bahwa ekspedisi ini bisa memperkuat kerja sama internasional di bidang penelitian dan inovasi maritim. Kolaborasi penelitian laut dalam dengan Institute of Deep-Sea Science and Engineering (IDSSE) – Chinese Academy of Science (CAS), Republik Rakyat Tiongkok (RRT) diharapkan akan terulang lagi. “Ekspedisi ini diharapkan memajukan kolaborasi berikutnya,” ucapnya.
Kolaborasi melalui program ekspedisi bersama tersebut dilakukan peneliti dari BRIN dan IDSSE-CAS. Mereka bersama-sama melakukan penelitian pada salah satu titik terdalam di Selatan Laut Jawa pada 23 Februari - 22 Maret 2024 menggunakan kapal penelitian Tan-Suo-Yi-Hao. Kapal ini berlayar dari Jakarta ke arah timur menuju Sumba, Mentawai, Sukabumi, hingga kembali ke Jakarta.
Handoko lalu menjelaskan, BRIN juga memiliki armada kapal riset. Armada tersebut digunakan untuk melakukan penelitian di laut Indonesia yang sangat luas. “Selain dengan negara Tiongkok, Indonesia juga melakukan ekspedisi pelayaran bersama dengan Jepang, Perancis, dll. BRIN mengundang akademisi maupun swasta untuk berkolaborasi melakukan penelitian. Seluruh data hasil penelitian disimpan di Indonesia,” tegasnya.
Sebagai bagian dari ekspedisi ini, kapal selam IDSSE-CAS Fendouzhe yang memiliki kemampuan mencapai kedalaman hingga 11.000 meter juga dikerahkan dan berhasil membawa peneliti Indonesia mencapai kedalaman 7.192 meter pada penelitian ini. Hal ini membawa BRIN meraih piagam penghargaan rekor MURI.
Sumber: https://brin.go.id/