Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Building Information Modeling (BIM) telah berkembang pesat dari sekadar alat desain digital menjadi pilar utama transformasi digital sektor konstruksi. Di tengah pertumbuhan populasi urban, kekurangan tenaga kerja konstruksi, dan kebutuhan akan efisiensi energi bangunan, BIM hadir sebagai solusi komprehensif.
Lebih dari sekadar alat visualisasi 3D, BIM kini terintegrasi dengan sistem smart city, kecerdasan buatan (AI), hingga metaverse. Di sinilah letak kekuatan artikel Ishizawa: ia tidak hanya menyoroti fungsi teknis BIM, tetapi juga potensi strategisnya dalam menciptakan lingkungan proyek yang kolaboratif dan berorientasi data.
Tren dan Statistik Adopsi BIM di Jepang
Salah satu kekuatan artikel ini adalah data kuantitatif tentang adopsi BIM di Jepang. Dalam survei Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata Jepang (MLIT, 2021), dari 813 organisasi:
Statistik ini menunjukkan bahwa, meskipun adopsi BIM cukup tinggi di perusahaan besar, perusahaan kecil dan menengah masih menghadapi hambatan dalam adopsi—baik dari segi biaya, SDM, maupun budaya kerja.
Studi Kasus 1: Kantor Pusat Perusahaan Logistik di Tokyo (2019)
Studi kasus pertama menggambarkan bagaimana BIM dimanfaatkan untuk mengoptimalkan performa lingkungan di sebuah gedung perkantoran berstandar tinggi di Tokyo.
Tantangan:
Solusi BIM:
Dampak:
Studi Kasus 2: CapitaGreen, Singapura (2014)
CapitaGreen, gedung perkantoran setinggi 245 meter di Central Business District Singapura, adalah proyek desain-bangun berbasis BIM penuh dan memenangkan BIM Awards 2015.
Implementasi BIM:
Kelemahan:
Pelajaran:
BIM dan Ruang Virtual: Menuju Proyek Berbasis Metaverse
Artikel ini menyoroti perkembangan menarik: penggunaan metaverse dan VR sebagai ruang kerja proyek.
Realita Saat Ini:
Visi Masa Depan:
Potensi:
BIM dan Smart Cities: Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Data?
BIM secara tradisional dikembangkan oleh arsitek, konsultan, dan kontraktor. Namun, yang paling berkepentingan dalam jangka panjang justru adalah pemilik bangunan, operator fasilitas, dan pengguna.
Masalah:
Tantangan Data:
Strategi Masa Depan: Fokus pada Talenta Interdisipliner dan Keanekaragaman Intra-Personal
Salah satu poin paling unik dalam artikel ini adalah penekanan pada pentingnya “talenta kolaborator”—yaitu orang-orang yang bukan modeler utama BIM, tapi menjadi penghubung komunikasi antardisiplin proyek.
Temuan:
Rekomendasi:
Rekomendasi Praktis: Membangun Ekosistem BIM yang Inklusif dan Berkelanjutan
Penulis menyimpulkan bahwa strategi implementasi BIM harus lebih dari sekadar teknologi:
Tiga Langkah Kunci:
Kesimpulan: BIM sebagai Infrastruktur Informasi Masa Depan Konstruksi
BIM bukan sekadar alat desain, melainkan infrastruktur untuk digitalisasi industri konstruksi. Lewat studi kasus nyata dan refleksi kritis, artikel ini mengajak kita untuk:
Referensi Asli :
Penulis: Tsukasa Ishizawa
Penerbit: Asian Development Bank Institute (ADBI)
Tahun Terbit: 2024, Policy Brief No. 2024-15, Agustus
DOI: 10.56506/LIQO8841
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Building Information Modeling (BIM) bukan sekadar perangkat lunak, melainkan perubahan paradigma dalam dunia arsitektur, teknik, dan konstruksi (AEC). Dengan model digital yang akurat dan dapat dimanipulasi, BIM memungkinkan visualisasi, simulasi, serta manajemen proyek yang lebih kolaboratif dan prediktif. Artikel ini membuktikan bahwa penerapan BIM tidak hanya mempercepat proses dan meningkatkan produktivitas, tapi juga membawa efisiensi biaya yang signifikan jika diimplementasikan secara tepat.
Aplikasi Utama BIM: Dari Visualisasi hingga Manajemen Fasilitas
Menurut Azhar, BIM digunakan di berbagai fase proyek:
Manfaat Nyata: Data dari 32 Proyek
Pusat Riset Stanford melaporkan bahwa penggunaan BIM dapat menghasilkan:
Angka-angka ini bukan hanya teori, tetapi dibuktikan oleh data dari proyek-proyek besar yang dianalisis dalam artikel.
Studi Kasus: Bukti Nyata dari Penerapan BIM
1. Aquarium Hilton Garden Inn, Atlanta
BIM digunakan sejak fase pengembangan desain hingga konstruksi. Dengan visualisasi dan koordinasi model arsitektur, struktur, serta MEP, proyek ini menghindari potensi modifikasi lapangan yang mahal dan memakan waktu.
2. Savannah State University
Tiga opsi desain divisualisasikan dalam BIM dan dipresentasikan kepada pemilik untuk pengambilan keputusan. Hasilnya, pemilik bisa memilih opsi terbaik dalam 2 minggu—menghemat waktu, biaya, dan potensi kesalahan desain.
3. The Mansion on Peachtree
BIM membantu menyiapkan gambar kerja, visualisasi finishing (brick vs precast), serta model 4D untuk menyusun urutan kerja. Walaupun nilai manfaatnya tidak sebesar studi kasus lain, proyek ini menunjukkan pentingnya BIM dalam proyek cepat (fast-track).
4. Gedung Psikologi Emory University
Studi ini menunjukkan bahwa BIM bukan hanya alat desain, tapi juga alat simulasi lingkungan yang mendukung sertifikasi LEED dan efisiensi energi sejak awal.
Analisis ROI: BIM Bukan Beban, Tapi Investasi
Dari 10 proyek yang diteliti:
Contoh ekstrem:
Meski terdapat variasi, keseluruhan data menunjukkan bahwa bahkan pada proyek dengan skala menengah, BIM mampu menghasilkan pengembalian investasi yang sangat signifikan.
Risiko dan Tantangan: BIM Bukan Solusi Instan
Azhar mengklasifikasikan risiko BIM dalam dua kategori:
1. Risiko Hukum dan Kepemilikan Data
Tanpa kontrak yang jelas, sengketa bisa muncul terkait hak cipta, lisensi desain vendor, hingga tanggung jawab kesalahan dalam model digital.
2. Risiko Teknis
Tantangan Masa Depan: Menjembatani Teknologi dan Manajemen
Meski teknologi BIM sudah tersedia dan terus berkembang, adopsinya belum secepat yang diharapkan. Dua hal menjadi penyebab utama:
Selain itu, resistensi budaya kerja dan perbedaan ekspektasi antar stakeholder masih menghambat integrasi BIM secara menyeluruh.
Kesimpulan: BIM adalah Masa Depan yang Sudah Tiba—Tapi Butuh Persiapan
Artikel ini dengan tegas menunjukkan bahwa BIM memiliki manfaat luar biasa dari segi efisiensi waktu, biaya, kolaborasi, dan keberlanjutan. Namun, implementasinya bukan tanpa risiko. Untuk mendapatkan manfaat maksimal, proyek perlu mengantisipasi:
Jika dikelola dengan benar, BIM dapat menjadi pengungkit utama menuju industri konstruksi yang lebih efisien, berkelanjutan, dan kolaboratif.
Referensi Asli : Salman Azhar, Leadership and Management in Engineering, ASCE, Volume 11, Nomor 3, Juli 2011, halaman 241–252
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Industri konstruksi Sri Lanka seperti banyak negara berkembang lainnya mengalami stagnasi produktivitas karena fragmentasi proyek, rendahnya efisiensi, dan tingginya sengketa antar pemangku kepentingan. Metode pengadaan konvensional seperti design-bid-build dan design and build masih dominan, tetapi sering menghasilkan:
Latar belakang inilah yang memicu pengembangan pendekatan baru berbasis Integrated Project Delivery (IPD)—yang kemudian ditingkatkan lagi dengan prinsip-prinsip Lean Construction, menghasilkan sistem yang disebut Lean Integrated Project Delivery (LIPD).
Apa Itu LIPD? Sintesis Lean + IPD
LIPD adalah kombinasi dari dua pendekatan:
LIPD menjanjikan hasil proyek yang:
Namun, meskipun secara teori sangat menjanjikan, penerapan LIPD di Sri Lanka masih dalam tahap embrionik.
Studi Kasus: Perspektif 15 Ahli Konstruksi Sri Lanka
Penelitian ini menggunakan wawancara semi-terstruktur dengan 15 profesional industri konstruksi Sri Lanka, termasuk dosen, kontraktor, konsultan, dan manajer proyek. Mayoritas responden memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dan memahami konsep lean dan IPD.
Hasil Temuan:
Manfaat LIPD: Temuan Data dan Studi Nyata
Penelitian ini menemukan sejumlah manfaat nyata LIPD, antara lain:
Hambatan Implementasi LIPD: Perspektif Teoritis dan Praktik
Hambatan Organisasi:
Hambatan Eksternal:
Strategi Implementasi LIPD: Solusi Nyata dari Praktisi
Penulis menawarkan serangkaian strategi praktis berdasarkan wawancara dan studi pustaka:
Strategi ini tidak hanya mengatasi hambatan internal, tapi juga mendorong transformasi industri ke arah yang lebih adaptif dan inovatif.
Framework LIPD: Panduan Terstruktur untuk Implementasi
Penelitian ini menghasilkan framework implementasi LIPD yang mencakup lima tahap utama:
Setiap tahap disesuaikan dengan strategi mitigasi hambatan yang spesifik dan relevan dengan kondisi lokal di Sri Lanka.
Kesimpulan: Relevansi Global dari Studi Kontekstual Sri Lanka
Artikel ini menyumbangkan kontribusi besar dalam kajian pengadaan proyek konstruksi dengan:
Dalam era pasca-pandemi dan disrupsi digital, penerapan LIPD bukan lagi sekadar pilihan inovatif, tapi sebuah kebutuhan mendesak untuk kelangsungan dan keberhasilan industri konstruksi.
Referensi Artikel Asli (tanpa hyperlink):
Judul: Lean Integrated Project Delivery for Construction Procurement: The Case of Sri Lanka
Penulis: Nadeesha Hettiaarachchige, Akila Rathnasinghe, KATO Ranadewa, Niraj Thurairajah
Jurnal: Buildings, Volume 12, 2022
DOI: 10.3390/buildings12050524
Lean Construction
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Dalam dua dekade terakhir, konsep lean telah menjadi standar dalam industri manufaktur, dengan fokus pada pengurangan limbah dan peningkatan nilai bagi pelanggan. Namun, sektor konstruksi masih tertinggal. Sektor ini diketahui menghasilkan limbah hingga 57%, jauh di atas industri manufaktur yang hanya 12%. Faktor seperti kompleksitas lapangan, ketergantungan terhadap tenaga kerja manual, serta ketidakkonsistenan proses membuat konstruksi rentan terhadap pemborosan, keterlambatan, dan pembengkakan biaya.
Lean construction menawarkan pendekatan sistematis untuk mengatasi tantangan ini dengan:
Namun, penerapan lean di lapangan masih minim karena risiko tinggi dan biaya uji coba fisik. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan simulasi discrete-event (DES) dengan software ARENA untuk mengevaluasi dampak lean secara virtual.
Studi Kasus: Proyek "ENNASSR 1", Casablanca, Maroko
Penelitian ini mengambil studi kasus pada proyek pembangunan 21 bangunan lima lantai seluas total 7.150 m². Fokusnya adalah proses pembesian fondasi, salah satu bagian paling kompleks dan berulang dalam proyek bangunan bertingkat.
Tim dan Proses:
Melalui observasi lapangan dan wawancara dengan manajer proyek, proses dipetakan, diklasifikasikan menjadi aktivitas bernilai tambah (VA), tidak bernilai tambah (NVA), dan tidak bernilai tapi diperlukan (NVAR).
Pengumpulan dan Analisis Data: Pendekatan Saintifik Berbasis Statistik
Untuk memastikan validitas simulasi:
Contohnya, proses perakitan besi memiliki waktu rata-rata 12,3 menit dengan distribusi Triangular (a=10,76; m=12,30; b=16,85).
Pengembangan Model Dunia Nyata dan Model Lean
Setelah memetakan proses nyata dan memverifikasi model di ARENA, peneliti membandingkan dua skenario:
Model Dunia Nyata:
Model Lean (setelah optimalisasi):
Prinsip Lean yang Diaplikasikan: Strategi Nyata Berbasis Data
1. Make Value Flow – Meningkatkan Kelancaran Aliran Kerja
2. Multi-Skilled Workers – Fleksibilitas SDM
3. Pull System – Mengurangi Akumulasi dan Waktu Tunggu
4. Pursue Perfection – Transparansi dan Persiapan
Implikasi Industri dan Rekomendasi
Penelitian ini membuktikan bahwa:
Rekomendasi:
Kesimpulan: Lean + Simulasi = Masa Depan Proyek Konstruksi
Dengan pendekatan berbasis data dan simulasi, artikel ini memberikan peta jalan konkret menuju proyek konstruksi yang lebih efisien dan hemat biaya. Pendekatan ini sangat cocok diterapkan di negara berkembang di mana margin proyek seringkali tipis dan kesalahan kecil berdampak besar.
Penulis berhasil menunjukkan bahwa peningkatan efisiensi tidak selalu membutuhkan investasi besar, melainkan transformasi cara berpikir dan cara kerja. Melalui penerapan simultan lima prinsip lean, artikel ini menjadi model nyata integrasi metodologi teknik dan manajemen proyek.
Referensi Asli (tanpa hyperlink):
Judul: Lean Construction and Simulation for Performance Improvement: A Case Study of Reinforcement Process
Penulis: Mohamed Saad Bajjou dan Anas Chafi
Jurnal: International Journal of Productivity and Performance Management, Emerald Publishing
Tahun Terbit: 2020
DOI: 10.1108/IJPPM-06-2019-0309
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Industri konstruksi di seluruh dunia tengah menghadapi tantangan untuk menjadi lebih efisien, transparan, dan berkelanjutan. Di tengah arus transformasi digital ini, Building Information Modelling (BIM) muncul sebagai teknologi revolusioner yang memungkinkan integrasi semua tahap pembangunan — mulai dari desain, pelaksanaan, hingga pengelolaan bangunan — dalam satu ekosistem digital yang kolaboratif. Namun, bagaimana kondisi penerapannya di negara berkembang seperti Nigeria? Studi dari Onungwa, Uduma-Olugu, dan Igwe menjadi titik masuk yang menarik untuk memahami realitas ini.
Apa Itu BIM dan Kenapa Ia Relevan?
BIM adalah pendekatan multidimensional yang melibatkan lebih dari sekadar visualisasi tiga dimensi. Ia mencakup dimensi waktu (4D), biaya (5D), efisiensi lingkungan (6D), hingga manajemen fasilitas (7D). BIM memungkinkan semua pemangku kepentingan — arsitek, insinyur, kontraktor, klien, dan vendor — untuk bekerja dalam satu platform digital yang sama. Ini membuka peluang besar untuk mengurangi kesalahan, mempercepat waktu proyek, serta menekan biaya dan konflik lapangan.
Di negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika Serikat, BIM telah menjadi standar dalam proyek-proyek besar. Pemerintah mereka bahkan mewajibkan penggunaannya untuk proyek publik. Sebaliknya, di Nigeria, BIM masih berada pada tahap adopsi awal dan belum digunakan secara maksimal sebagai alat manajemen proyek.
Realita BIM di Nigeria: Studi Lapangan
Penelitian ini dilakukan melalui survei terhadap sejumlah perusahaan AEC (Architecture, Engineering, and Construction) yang beroperasi di Lagos dan beberapa wilayah lain. Semua responden telah menggunakan perangkat lunak BIM, dengan mayoritas menggunakan Autodesk Revit dan sebagian kecil ArchiCAD. Mereka mewakili berbagai ukuran dan usia perusahaan, mulai dari bisnis baru hingga yang telah berdiri lebih dari dua dekade.
Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan BIM telah memberikan dampak positif terhadap beberapa aspek penting dalam manajemen proyek. Misalnya, responden merasakan peningkatan signifikan dalam hal pengawasan pekerjaan, perencanaan konstruksi, kualitas hasil bangunan, dan efisiensi energi. Namun, pengaruh BIM terhadap estimasi biaya dan keselamatan kerja masih tergolong rendah. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun potensinya besar, pemanfaatan BIM masih belum menyeluruh.
Tantangan Utama dalam Penerapan BIM di Nigeria
Berbagai kendala sistemik dan teknis menghambat adopsi BIM secara luas di Nigeria. Salah satu hambatan utama adalah kurangnya tenaga ahli yang benar-benar memahami dan mampu mengoperasikan BIM secara optimal. Sebagian besar profesional masih belajar secara otodidak, tanpa pelatihan formal atau dukungan institusional.
Kendala lain yang signifikan adalah keterbatasan infrastruktur digital, khususnya koneksi internet yang lambat dan tidak stabil, serta ketersediaan listrik yang tidak dapat diandalkan. Banyak kantor arsitektur dan kontraktor harus menggunakan generator sebagai sumber listrik utama, yang tentu menambah biaya operasional.
Kurangnya kesadaran teknologi, ketidaksiapan stakeholder, dan biaya lisensi perangkat lunak yang tinggi juga menjadi faktor penghambat. Di luar itu, struktur industri konstruksi di Nigeria masih sangat terfragmentasi, sehingga kolaborasi lintas disiplin — yang menjadi inti dari BIM — sulit diwujudkan.
Mencari Solusi: Jalan Menuju Adopsi BIM yang Lebih Luas
Sebagian kecil responden menyebutkan beberapa langkah konkret yang bisa mendorong adopsi BIM lebih luas di Nigeria. Ini meliputi:
Namun, mayoritas responden belum menerapkan langkah konkret apa pun, menandakan perlunya dorongan yang lebih kuat dari pemerintah, asosiasi profesional, dan sektor pendidikan.
Mengapa Pemerintah Harus Terlibat?
Belajar dari pengalaman negara maju, peran pemerintah sangat krusial dalam mendorong adopsi teknologi baru. Pemerintah Nigeria bisa:
Dengan pendekatan top-down yang terstruktur, penggunaan BIM bisa menjadi arus utama, bukan sekadar inisiatif sporadis.
BIM dalam Konteks Global: Menuju Kota Cerdas dan Bangunan Hijau
Penggunaan BIM juga sangat relevan dengan tren global seperti Smart Cities, Bangunan Hijau (Green Building), dan Net Zero Carbon. BIM memungkinkan perhitungan efisiensi energi, jejak karbon, dan biaya operasional sejak tahap desain. Dengan demikian, BIM bukan hanya alat untuk menyelesaikan proyek konstruksi, tapi juga alat strategis untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.
Nigeria, dengan urbanisasi yang pesat dan kebutuhan infrastruktur yang tinggi, bisa memanfaatkan BIM untuk memastikan bahwa pertumbuhan kota-kotanya tidak mengorbankan efisiensi atau keselamatan.
Kesimpulan: Dari Potensi Menuju Implementasi Nyata
Penelitian ini menunjukkan bahwa BIM memiliki potensi besar sebagai alat manajemen konstruksi di Nigeria. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa adopsinya masih terbatas karena sejumlah hambatan — baik teknis, struktural, maupun kultural.
Untuk memaksimalkan potensi ini, dibutuhkan perubahan menyeluruh dalam hal:
Kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, akademisi, dan industri — menjadi kunci untuk mewujudkan transformasi digital yang nyata di sektor konstruksi Nigeria.
Sumber asli artikel (tanpa tautan):
Onungwa, Ihuoma Onyinyechi; Uduma-Olugu, Nnezi; Igwe, Joseph M. “Building Information Modelling as a Construction Management Tool in Nigeria.” WIT Transactions on the Built Environment, Vol. 169, 2017. WIT Press.
Lean Construction
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 08 Mei 2025
Dalam dunia konstruksi modern, keberlanjutan bukan lagi sekadar opsi, tetapi keharusan. Peningkatan kesadaran global akan krisis lingkungan menuntut industri konstruksi untuk berinovasi dalam pendekatan mereka terhadap pembangunan. Di sisi lain, Lean Construction telah terbukti mampu mengurangi limbah dan meningkatkan efisiensi. Namun, upaya untuk mengintegrasikan kedua pendekatan ini secara sistematis masih minim. Paper karya Xavier Brioso dan Fiorela Cruzado-Ramos (2020) menyoroti upaya penting tersebut dengan memperkenalkan model evaluasi kinerja keberlanjutan berbasis Lean, menggunakan metode Delphi.
Mengapa Integrasi Lean dan Keberlanjutan Penting?
Lean dan keberlanjutan adalah dua filosofi yang lahir dari kebutuhan berbeda. Lean bertujuan mengeliminasi limbah dan meningkatkan nilai bagi pelanggan, sementara keberlanjutan menekankan pengurangan dampak lingkungan dan efisiensi penggunaan sumber daya. Studi menunjukkan bahwa ketika kedua pendekatan ini digabungkan, tercipta sinergi yang signifikan dalam pengelolaan proyek, khususnya dalam mengoptimalkan sumber daya, mengurangi emisi, dan meningkatkan efisiensi energi.
Metodologi: Perpaduan Literatur dan Delphi Method
Penelitian ini dimulai dengan tinjauan literatur yang luas dari lebih dari 50 publikasi ilmiah mengenai Lean Construction, manajemen berkelanjutan, dan indikator kinerja utama (Key Performance Indicators/KPIs). Sumber utama berasal dari publikasi International Group for Lean Construction (IGLC), serta jurnal-jurnal terkemuka di bidang manajemen konstruksi.
Setelah menyusun model awal berdasarkan kajian pustaka, peneliti menggunakan Metode Delphi untuk memvalidasi indikator kinerja dan prosedur evaluasi. Metode ini melibatkan panel ahli yang memberikan masukan melalui serangkaian kuesioner dalam beberapa putaran, hingga tercapai konsensus.
Fase-Fase Siklus Hidup Proyek dan Relevansinya terhadap Keberlanjutan
Penilaian kinerja keberlanjutan dilakukan pada setiap fase proyek:
Model Evaluasi: Tahapan dan Aplikasinya di Proyek Nyata
Model yang dikembangkan melibatkan enam tahap:
Dalam studi kasus di Peru, model ini diaplikasikan ke beberapa proyek bangunan untuk mengukur kinerja berdasarkan KPI seperti konsumsi energi, volume limbah, dan emisi CO2. Hasilnya menunjukkan bahwa proyek yang mengadopsi Lean dan mempertimbangkan keberlanjutan sejak awal menunjukkan hasil jauh lebih baik dibandingkan proyek konvensional.
Nilai Tambah dan Perbandingan dengan Studi Sebelumnya
Beberapa studi terdahulu (seperti oleh Rothenberg et al. 2001 dan Florida 1996) memberikan hasil yang bertentangan terkait integrasi Lean dan keberlanjutan. Namun, model Brioso dan Cruzado-Ramos mengatasi kelemahan ini dengan menyajikan kerangka kerja sistematis dan metrik kuantitatif yang dapat diukur dan dievaluasi.
Studi ini juga memperkuat temuan dari Dües et al. (2013) dan Martínez (2014) bahwa integrasi Lean dan keberlanjutan memberikan dampak positif terhadap efisiensi rantai pasok, partisipasi stakeholder, dan pengurangan limbah secara keseluruhan.
Kritik Konstruktif dan Ruang Pengembangan
Meski model ini terbukti berhasil, ada beberapa tantangan:
Relevansi dengan Tren Industri Global
Model ini sangat relevan dengan tren global seperti pembangunan kota cerdas (smart cities), net-zero emissions, dan circular economy. Di era digital, pendekatan seperti ini bisa menjadi standar baru dalam manajemen proyek konstruksi, terutama ketika dikombinasikan dengan teknologi digital dan sistem manajemen mutu modern.
Kesimpulan: Menuju Konstruksi Hijau yang Terukur dan Terpadu
Artikel ini menyumbang pendekatan sistematis terhadap integrasi Lean dan keberlanjutan dalam proyek konstruksi. Dengan menggunakan KPI dan metode Delphi, model ini menawarkan alat evaluasi yang konkret dan dapat direplikasi. Lebih dari itu, ia memberikan arah strategis bagi perusahaan konstruksi untuk berpindah dari praktik reaktif menuju proaktif dan berkelanjutan.
Sumber Asli Artikel (tanpa tautan): Brioso, X. dan Cruzado-Ramos, F. 2020. "Model of Evaluation of Sustainability Performance in Building Projects Integrating Lean, through the Delphi Method." Proc. 28th Annual Conference of the International Group for Lean Construction (IGLC28), Berkeley, California, USA.