Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Dalam era transformasi digital industri konstruksi, Building Information Modeling (BIM) menjadi pusat perhatian karena potensinya dalam meningkatkan efisiensi, mengurangi kesalahan, dan menyatukan berbagai pemangku kepentingan dalam satu platform terintegrasi. Artikel “Building Information Modeling Implementation through Maturity Evaluation and Critical Success Factors Management” karya Romain Morlhon, Robert Pellerin, dan Mario Bourgault dari École Polytechnique de Montréal memberikan panduan sistematis tentang bagaimana mengimplementasikan BIM secara efektif dengan mempertimbangkan tingkat kematangan organisasi dan faktor keberhasilan kritis (Critical Success Factors atau CSF).
Artikel ini merupakan salah satu yang paling komprehensif dalam menawarkan model praktis bagi organisasi yang ingin mengadopsi atau meningkatkan penerapan BIM dalam proses kerja mereka.
Konteks dan Tantangan Penerapan BIM
Meskipun BIM telah banyak dikenal sejak awal tahun 2000-an, penetrasinya dalam industri konstruksi masih tergolong lambat. Salah satu alasannya adalah resistensi terhadap perubahan, minimnya standar adopsi, dan kurangnya pemahaman tentang bagaimana mengintegrasikan BIM ke dalam proses yang sudah ada. Bahkan, laporan menyebutkan bahwa kekurangan interoperabilitas dalam industri konstruksi AS menambah biaya sebesar USD 6,12 per kaki persegi. Ini menunjukkan adanya potensi kerugian besar akibat rendahnya adopsi sistem informasi terintegrasi seperti BIM.
Studi ini mengidentifikasi bahwa kendala dalam implementasi BIM tidak hanya berasal dari aspek teknis, tetapi juga dari sisi manajemen, budaya organisasi, pelatihan SDM, hingga koordinasi antar pemangku kepentingan.
Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari artikel ini adalah mengembangkan sebuah model bantuan bagi organisasi yang ingin mengimplementasikan BIM. Model ini memadukan tiga komponen:
Tiga Pilar Pendekatan Model: CMM, CSF, dan Tindakan
1. Capability Maturity Model (CMM)
CMM digunakan untuk menilai sejauh mana BIM telah diterapkan dalam suatu organisasi. Penilaian dilakukan terhadap 11 kategori seperti:
Masing-masing aspek dinilai dari level 1 hingga 10. Misalnya, dalam kategori Data Richness, level 1 berarti hanya data dasar yang tersedia, sedangkan level 10 menunjukkan bahwa data sepenuhnya terintegrasi dengan manajemen pengetahuan (knowledge management).
Penilaian ini memberikan gambaran umum bagi organisasi tentang di mana mereka berada dan area mana yang perlu diperkuat.
2. Critical Success Factors (CSFs)
Berdasarkan kajian literatur dan studi kasus, penulis mengidentifikasi beberapa CSF utama yang berpengaruh langsung terhadap implementasi dan pemanfaatan BIM, antara lain:
CSF ini tidak hanya penting saat implementasi, tetapi juga berdampak jangka panjang terhadap keberhasilan penggunaan BIM.
3. Tindakan Praktis
Setiap CSF dikaitkan dengan beberapa tindakan nyata. Misalnya:
Tindakan-tindakan ini didasarkan pada pengalaman nyata di proyek-proyek sebelumnya dan diturunkan dari rekomendasi para ahli.
Studi Kasus: Proyeksi Implementasi Model dalam Proyek Nyata
Meskipun artikel ini tidak menyebutkan satu studi kasus spesifik secara rinci, model yang ditawarkan memungkinkan penerapannya di berbagai jenis proyek konstruksi—baik gedung komersial, rumah sakit, hingga infrastruktur publik.
Sebagai contoh, dalam proyek rumah sakit skala besar, BIM digunakan untuk mendeteksi konflik antar komponen desain (clash detection). Namun, proyek tersebut menemui kendala karena sebagian besar subkontraktor belum terbiasa dengan BIM. Dengan menggunakan model dari artikel ini, organisasi dapat menilai bahwa aspek “pelatihan teknis” dan “keterlibatan pihak eksternal” mendapat skor rendah dalam CMM. Maka fokus tindakan difokuskan pada pelatihan dan adaptasi kontrak kerja yang menyertakan persyaratan keterampilan BIM.
Keunggulan Model Ini
Kritik dan Rekomendasi
Penulis mengakui bahwa model ini belum sepenuhnya tervalidasi oleh para praktisi industri. Oleh karena itu, mereka merancang rencana validasi menggunakan metode Delphi, yakni konsultasi berulang dengan para ahli untuk menguji relevansi tiap CSF dan tindakan.
Selain itu, penulis menyarankan adanya:
Relevansi Global dan Implikasi untuk Indonesia
Meskipun penelitian ini berbasis di Kanada, temuan dan modelnya sangat relevan untuk industri konstruksi di negara berkembang seperti Indonesia. Dengan banyaknya proyek infrastruktur skala besar dan meningkatnya adopsi digital, adopsi BIM menjadi keniscayaan.
Namun, rendahnya kesiapan SDM dan infrastruktur TI menjadi tantangan. Di sinilah model dari Morlhon dkk. bisa menjadi alat bantu strategis dalam menyusun roadmap BIM nasional, dimulai dari evaluasi kematangan hingga pelatihan terstruktur.
Kesimpulan
Artikel ini memberikan kontribusi nyata dalam menjawab tantangan klasik implementasi BIM—yakni ketidakjelasan panduan langkah demi langkah. Dengan menggabungkan Capability Maturity Model, daftar Critical Success Factors, dan tindakan konkret, penulis menawarkan pendekatan sistematis yang bisa diadopsi dan disesuaikan oleh berbagai organisasi konstruksi.
Model ini ideal tidak hanya bagi perusahaan besar yang sudah menggunakan BIM, tetapi juga bagi kontraktor menengah yang baru memulai. Ia menjembatani kesenjangan antara teori dan praktik serta menekankan pentingnya kombinasi kesiapan teknis dan manajerial dalam suksesnya implementasi BIM.
Sumber artikel asli:
Romain Morlhon, Robert Pellerin, Mario Bourgault. Building Information Modeling Implementation through Maturity Evaluation and Critical Success Factors Management. Procedia Technology 16 (2014) 1126–1134.
Manajemen Konstruksi
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Dalam dunia konstruksi yang penuh dengan dinamika dan banyak pihak terlibat, komunikasi visual menjadi kunci utama keberhasilan proyek. Artikel ini menyoroti betapa pentingnya penggunaan Visual Management (VM) sebagai bagian dari pendekatan Lean Construction. Diadaptasi dari kesuksesan lean manufacturing milik Toyota, pendekatan lean dalam konstruksi bertujuan mengurangi limbah dan meningkatkan nilai proyek. VM menjadi alat bantu yang sangat efektif dalam mendukung tujuan tersebut karena menyederhanakan komunikasi dan pengambilan keputusan langsung di lapangan.
Tujuan Penelitian dan Metodologi
Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan dan efektivitas 12 alat visual dalam proyek konstruksi di India. Data dikumpulkan melalui survei terhadap 725 profesional konstruksi (kontraktor, konsultan, akademisi, dan lembaga pemerintah), yang menghasilkan 153 tanggapan valid. Metode analisis yang digunakan meliputi:
Pendekatan kuantitatif dan kualitatif dikombinasikan untuk memberikan gambaran menyeluruh.
Visual Management Tools: Alat yang Menyederhanakan Kompleksitas
Berikut ini beberapa alat visual yang dievaluasi dalam penelitian:
Big Room
Big Room adalah ruang kolaboratif yang dilengkapi dengan papan informasi, kode warna, dan jadwal kerja (LPS). Pertemuan harian 15 menit (disebut hurdle meeting) menjadi sarana untuk mengevaluasi status proyek, membahas kendala, dan menyelaraskan jadwal antar tim. RII Big Room: 92% (paling tinggi dalam survei)
5S (Sort, Set in Order, Shine, Standardize, Sustain)
Teknik manajemen lokasi kerja ini berasal dari Jepang dan bertujuan mengatur, membersihkan, dan menstandarkan lingkungan kerja agar lebih efisien. 5S memungkinkan pengurangan waktu pencarian alat dan meningkatkan disiplin visual. RII 5S: 91%
Last Planner System (LPS)
Sistem perencanaan kolaboratif lima tahap ini memungkinkan perencanaan jangka pendek yang realistis dan disepakati bersama, mengurangi ketidakpastian di lapangan. RII LPS: 90%
Building Information Modeling (BIM)
BIM digunakan untuk menyatukan semua informasi desain dan teknik dalam satu model digital. BIM membantu dalam clash detection dan memvisualisasikan hasil akhir proyek sejak awal. RII BIM: 88%
Augmented Construction Field Visualization
Teknologi realitas tertambah ini memproyeksikan desain 3D ke lokasi nyata, memudahkan stakeholder memahami hasil akhir dan melakukan revisi desain sebelum pekerjaan dimulai. RII: 85%
Temuan Utama: RII dan Cluster Analysis
Penelitian mengidentifikasi tiga kategori utama alat berdasarkan nilai RII:
Salah satu insight menarik dari cluster analysis adalah bahwa BIM, meskipun tidak mendapatkan RII tertinggi, menjadi predictor paling kuat dalam meningkatkan nilai proyek.
Studi Kasus: Praktik Visual Management di Lapangan
Salah satu studi kasus menampilkan pelaksanaan Big Room yang memperlihatkan manfaat besar dalam menyelaraskan komunikasi antar kontraktor dan subkontraktor. Misalnya, dengan memasang informasi status proyek secara visual, semua pekerja dari berbagai latar belakang bahasa dapat langsung memahami prioritas dan kendala tanpa harus melalui rapat panjang.
Sebagai contoh, ketika proyek mengalami keterlambatan dalam pengiriman beton pracetak, papan visual menampilkan status logistik real-time yang memungkinkan tim proyek segera mengatur ulang urutan pekerjaan. Ini menghindarkan biaya idle tinggi yang biasanya muncul karena informasi tidak tersebar dengan cepat.
Tantangan dan Hambatan
Meskipun manfaatnya jelas, masih banyak proyek yang belum menerapkan visual management. Alasan utamanya:
Penggunaan alat seperti Heijunka masih sangat minim, padahal teknik ini dapat mengatur produksi secara merata dan menghindari kelebihan stok yang sering kali membebani lokasi proyek.
Rekomendasi Penulis
Penulis memberikan beberapa rekomendasi kunci:
Opini Penulis Resensi: Visual Management sebagai Masa Depan Lean Konstruksi
Artikel ini menjadi jembatan penting antara teori lean dan praktik lapangan yang nyata. Visual Management tidak hanya sekadar alat komunikasi, tetapi juga platform koordinasi, pemantauan, hingga motivasi kerja. Dalam konteks proyek-proyek konstruksi di Indonesia yang juga memiliki masalah fragmentasi stakeholder dan keterlambatan logistik, pendekatan ini sangat relevan.
Dengan era digital yang terus berkembang dan adopsi teknologi seperti BIM semakin umum, visual management menjadi pilar utama dalam transformasi manajemen konstruksi yang lebih transparan, efisien, dan kolaboratif. Ini bukan sekadar tren, tapi kebutuhan.
Sumber asli artikel:
Subhav Singh & Kaushal Kumar. A study of lean construction and visual management tools through cluster analysis. Ain Shams Engineering Journal, 12 (2021), 1153–1162.
Industri Kontruksi
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Industri konstruksi tengah mengalami transformasi besar, dari metode tradisional yang padat tenaga kerja ke pendekatan yang lebih ramping, efisien, dan berbasis teknologi. Salah satu paradigma penting dalam perubahan ini adalah penerapan Lean Construction, dengan Last Planner System (LPS) sebagai fondasinya. Artikel yang ditulis oleh Ajay Kumar Agrawal dan timnya menggali secara sistematis bagaimana otomatisasi dalam perencanaan dan pengendalian melalui LPS dapat mempercepat adopsi lean construction.
Apa itu Lean Construction dan LPS?
Lean construction merupakan adaptasi prinsip lean manufacturing dalam konteks konstruksi, yang bertujuan menghilangkan pemborosan dan meningkatkan nilai bagi pelanggan. Dalam praktiknya, LPS adalah alat utama lean construction yang memungkinkan para pelaku proyek melakukan perencanaan secara kolaboratif, akurat, dan berkelanjutan. Namun, tanpa dukungan teknologi, sistem ini masih sering bergantung pada pencatatan manual, sehingga rentan terhadap kesalahan, keterlambatan, dan inefisiensi.
Tujuan dan Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review (SLR) terhadap 84 publikasi antara 2001 hingga 2021 untuk mengidentifikasi:
Pendekatan SLR digunakan untuk memastikan tinjauan yang komprehensif dan objektif terhadap perkembangan terkini.
Temuan Utama: Otomatisasi sebagai Katalis Lean Construction
1. Pertumbuhan Publikasi yang Signifikan
Dalam 20 tahun terakhir, jumlah publikasi tentang otomatisasi dalam LPS meningkat tajam. Jika pada awal 2000-an hanya terdapat segelintir studi, maka pada tahun 2021 tercatat lebih dari 12 publikasi tahunan. Ini mencerminkan meningkatnya minat akademisi dan praktisi terhadap efisiensi digital dalam proyek konstruksi.
2. Area-Area Otomatisasi dalam LPS
Penelitian ini mengidentifikasi empat area utama dalam LPS yang paling sering diotomatisasi:
Otomatisasi terbukti meningkatkan keterlibatan tim lapangan, mengurangi waktu pemrosesan data, dan membantu pengambilan keputusan secara real-time.
3. Teknologi yang Mendukung Otomatisasi
Beberapa teknologi utama yang mendukung implementasi otomatisasi LPS meliputi:
4. Studi Kasus Menarik
Salah satu studi yang dikaji adalah implementasi sistem LPS otomatis di proyek rumah sakit di Finlandia. Dalam proyek ini, penggunaan BIM 4D dan cloud planning tools menghasilkan peningkatan akurasi perencanaan mingguan sebesar 27% dan pengurangan waktu rapat koordinasi hingga 40%.
Contoh lain datang dari proyek infrastruktur jalan raya di Kanada, di mana penggunaan aplikasi seluler untuk pelaporan kemajuan harian memungkinkan pengumpulan data real-time dari lapangan dan integrasi otomatis ke dalam sistem pelaporan mingguan.
Analisis Kritis: Apakah Otomatisasi Selalu Efektif?
Meskipun manfaatnya signifikan, artikel ini juga menyoroti sejumlah tantangan dalam penerapan otomatisasi LPS:
Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi bukanlah solusi tunggal. Diperlukan pendekatan holistik yang mencakup pelatihan, perubahan budaya organisasi, dan kebijakan pendukung.
Perbandingan dengan Penelitian Lain
Berbeda dengan studi sebelumnya yang berfokus pada pengembangan perangkat lunak perencanaan atau aspek manajerial LPS, artikel ini menyatukan kedua aspek tersebut melalui pendekatan sistematis. Agrawal et al. berhasil menghubungkan dimensi teknologi dan praktik manajerial dengan kuat.
Sebagai perbandingan, studi oleh Hamzeh (2012) menekankan pentingnya kolaborasi dalam LPS tetapi minim eksplorasi teknologi. Sementara itu, penelitian oleh Dave et al. (2018) mengulas integrasi BIM dalam lean construction, namun tidak secara spesifik mengulas otomatisasi pada tiap komponen LPS. Ini menjadikan artikel ini sebagai jembatan penting dalam literatur akademik.
Implikasi untuk Praktisi dan Industri
Artikel ini menyampaikan pesan penting bagi perusahaan konstruksi yang ingin meningkatkan daya saing di era digital:
Menuju Masa Depan Lean Construction
Agrawal dan timnya menyarankan bahwa masa depan lean construction akan sangat bergantung pada penggabungan teknologi seperti:
Ini membuka peluang besar bagi pengembang perangkat lunak, konsultan manajemen konstruksi, dan institusi pelatihan untuk memperkuat kompetensi digital para profesional konstruksi.
Kesimpulan: Saatnya Beralih ke Perencanaan Cerdas
Resensi ini menegaskan bahwa artikel Agrawal et al. memberi kontribusi signifikan terhadap pemahaman kita tentang transformasi lean construction. Dengan menunjukkan bukti empiris dan analisis yang tajam, artikel ini menyarankan bahwa otomatisasi bukanlah tren sesaat, melainkan kebutuhan strategis.
Dalam dunia konstruksi yang semakin kompleks dan cepat berubah, mengandalkan metode manual tidak lagi cukup. Otomatisasi LPS membawa harapan baru untuk efisiensi, ketepatan, dan kolaborasi yang lebih baik—kunci sukses proyek-proyek masa depan.
Sumber artikel asli:
Agrawal, A. K., Singh, R. K., & Tiwari, M. K. (2024). Moving toward lean construction through automation of planning and control in last planner system: A systematic literature review. Journal of Building Engineering, Volume 96, 107369. Elsevier.
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Building Information Modeling (BIM) semakin dianggap sebagai elemen kunci dalam meningkatkan efisiensi dan kualitas proyek konstruksi di seluruh dunia. Namun, dalam konteks negara berkembang seperti Irak, adopsi teknologi ini menghadapi banyak tantangan. Paper berjudul “Improving Building Information Modeling (BIM) Implementation throughout the Construction Industry” oleh Huda Saaduldeen Mohammed dan Mustafa A. Hilal menyajikan kajian mendalam tentang bagaimana BIM dapat diimplementasikan secara efektif di industri konstruksi Irak, termasuk studi kasus pada proyek Central Bank of Iraq (CBI).
Artikel ini akan membahas temuan utama paper tersebut dengan gaya penulisan yang ringan, namun tetap analitis dan kritis, serta mengaitkannya dengan tren global dan kebutuhan mendesak akan digitalisasi di sektor konstruksi.
Apa Itu BIM dan Mengapa Penting?
BIM bukan sekadar perangkat lunak modeling 3D biasa. BIM merupakan proses integratif yang mencakup generasi, manajemen, dan pertukaran data konstruksi secara kolaboratif. Dengan menggunakan BIM, tim proyek dapat mensimulasikan bangunan secara virtual sepanjang siklus hidup proyek (Project Life Cycle/PLC), mulai dari desain, konstruksi, hingga pengelolaan pasca pembangunan.
Studi sebelumnya, seperti Eastman et al. (2011), menunjukkan bahwa BIM mampu mengatasi masalah klasik proyek konstruksi, seperti keterlambatan waktu, pembengkakan biaya, dan konflik desain.
Tantangan Implementasi BIM di Irak
Penelitian ini mengungkap sejumlah hambatan serius yang menghalangi implementasi BIM di proyek-proyek konstruksi di Irak. Beberapa faktor utama antara lain:
Sebanyak 20 hambatan dicatat secara terperinci dalam penelitian ini. Misalnya, “strong resistance to change” dan “lack of BIM awareness” menjadi penghalang dominan.
Strategi Solusi: BIM Execution Plan dan AEC (UK) BIM Protocol
Untuk menjawab tantangan tersebut, penulis mengajukan dua pendekatan utama:
BEP dianggap sebagai kerangka kerja yang sistematis untuk menyusun strategi BIM dalam proyek, termasuk:
Studi Kasus: Proyek Central Bank of Iraq (CBI)
Proyek CBI yang berlokasi di Jadiriya, Baghdad, menjadi objek kajian utama dalam paper ini. Bangunan setinggi 172 meter dengan 37 lantai ini dimulai pada 2018 dan dijadwalkan selesai pada 2024, dengan luas total 93.552 m².
Melalui wawancara dengan tim proyek CBI, penulis menemukan bahwa meskipun BIM telah digunakan, implementasinya belum optimal. Sebagai contoh:
Namun, ditemukan bahwa peta proses (process map) masih kurang spesifik dalam menentukan tanggung jawab antar tim dan urutan proses masih ambigu.
Optimalisasi Penerapan BEP di Proyek CBI
Langkah-langkah yang dilakukan penulis untuk memperbaiki BEP proyek CBI meliputi:
Contoh konkret:
Model arsitektur, struktur, dan MEP diekspor dalam format NWC dan digabungkan menggunakan Navisworks untuk mendeteksi tabrakan. Jika ditemukan tabrakan, daftar masalah akan disusun berdasarkan prioritas dan dibagikan menggunakan BCF Manager untuk kolaborasi lintas disiplin.
Manfaat Implementasi BIM yang Efektif
Berdasarkan hasil perbaikan proses di proyek CBI, ditemukan beberapa manfaat nyata:
CBI memanfaatkan BIM dalam tahap desain, konstruksi, dan pengelolaan fasilitas. Misalnya, semua elemen seperti ducting HVAC, plumbing, dan sistem pemadam kebakaran dimodelkan dengan detail (LOD 350) dan dipertukarkan antar tim secara digital.
Kunci Sukses Implementasi BIM
Dari tinjauan literatur global, beberapa kunci kesuksesan implementasi BIM yang juga dicoba diterapkan di Irak meliputi:
Komparasi dengan Negara Lain
Studi seperti Antwi-Afari et al. (2018) menunjukkan bahwa negara seperti Korea Selatan, Inggris, dan Amerika Serikat sukses menerapkan BIM karena kolaborasi desain yang kuat, visualisasi yang akurat, dan dukungan kebijakan dari pemerintah.
Sementara Irak masih berada dalam fase awal adopsi. Namun, inisiatif seperti proyek CBI yang menggunakan BEP dan protokol BIM UK menjadi titik terang awal untuk transformasi digital sektor konstruksi di negara tersebut.
Kesimpulan dan Rekomendasi
Implementasi BIM di Irak masih menghadapi hambatan besar, namun studi ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan sistematis seperti BIM Execution Plan dan penggunaan standar internasional seperti AEC (UK) BIM Protocol, penerapan BIM dapat ditingkatkan secara signifikan.
Bagi negara berkembang lain yang memiliki tantangan serupa, studi ini memberikan model konkret tentang bagaimana memulai perjalanan transformasi digital dalam konstruksi melalui satu proyek percontohan yang dikelola dengan baik.
Rekomendasi akhir:
Sumber artikel asli: Huda Saaduldeen Mohammed, Mustafa A. Hilal. Improving Building Information Modeling (BIM) Implementation throughout the Construction Industry. Journal of Engineering, University of Baghdad, Volume 30, Number 2, February 2024.
Building Information Modeling
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Di tengah gelombang transformasi digital di industri konstruksi global, Building Information Modeling (BIM) muncul sebagai salah satu inovasi paling menjanjikan. Lebih dari sekadar alat desain 3D, BIM menawarkan pendekatan kolaboratif yang menyatukan seluruh pemangku kepentingan proyek dalam satu platform data. Namun, seiring dengan manfaat teknologinya, muncul pula tantangan hukum yang belum banyak dibahas secara mendalam.
Dalam artikel ilmiah ini, Constanţa-Nicoleta Bodea dan Augustin Purnuş menggali sisi legal dari penggunaan BIM. Dengan fokus pada aspek kontraktual, pengadaan, dan penyelesaian sengketa, tulisan ini memperlihatkan betapa pentingnya kesiapan hukum dalam mengadopsi teknologi canggih seperti BIM.
BIM: Pengubah Lanskap Proyek Konstruksi
BIM didefinisikan sebagai representasi digital yang kaya data, parametris, dan cerdas dari suatu fasilitas. Lebih dari sekadar visualisasi 3D, BIM memungkinkan analisis menyeluruh dalam setiap fase siklus hidup bangunan—dari desain, konstruksi, hingga operasional. Penelitian yang dikutip menunjukkan bahwa BIM dapat mengurangi limbah konstruksi global hingga 15–25% pada tahun 2025 (World Economic Forum, 2016).
Keunggulan utama BIM:
Namun demikian, para penulis juga menekankan bahwa keunggulan ini berpotensi menimbulkan komplikasi hukum, terutama terkait tanggung jawab desain, kepemilikan data, dan pembagian risiko antar pihak.
Studi Kasus: BIM dalam Penyelesaian Sengketa
Salah satu bagian menarik dari artikel ini adalah studi kasus penggunaan BIM dalam konteks forensik, yakni untuk penyelidikan teknis setelah insiden terjadi.
Meskipun potensinya besar, BIM belum banyak digunakan dalam ruang sidang. Menurut wawancara dengan pengacara konstruksi dan insinyur forensik, tantangan utama terletak pada:
BIM dan Sengketa Kontrak: Jalan Dua Arah
Artikel ini menyampaikan bahwa BIM tidak hanya berdampak pada pelaksanaan proyek, tetapi juga pada cara penyusunan kontrak. Dalam konteks ini, terjadi hubungan dua arah:
Isu hukum yang sering muncul:
Untuk mengurangi potensi konflik, BIM perlu diintegrasikan secara eksplisit dalam dokumen kontrak. Hal-hal seperti standar interoperabilitas, tanggung jawab revisi desain, dan pengaturan hak akses perlu didefinisikan sejak awal.
Masalah Hukum Umum: Kepemilikan Data, Tanggung Jawab, dan Hak Cipta
Dalam proyek tradisional, tanggung jawab desain biasanya berada di tangan arsitek atau insinyur. Namun dalam proyek berbasis BIM, model dapat dimodifikasi oleh berbagai pihak: arsitek, kontraktor, bahkan vendor material. Ini menimbulkan dilema: siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan desain?
Masalah lainnya:
Penulis mengusulkan perlunya kejelasan dalam status hukum model BIM, apakah bersifat:
Peran Standar dan Regulasi: Perlukah Harmonisasi Global?
Sebagai contoh standar, artikel ini menyebut National BIM Standard–United States (NBIMS-US™) yang telah menjadi acuan dalam pengembangan interoperabilitas data. Namun, belum banyak negara yang memiliki standar nasional yang legal-binding. Hal ini menyebabkan perbedaan interpretasi dan kerumitan dalam proyek lintas negara.
Uni Eropa melalui Directive 2014/24/EU bahkan telah mendorong penggunaan BIM dalam proyek pengadaan publik. Namun, klausul ini masih bersifat rekomendatif dan pelaksanaannya bergantung pada kesiapan tiap negara.
Kontrak BIM: Antara FIDIC dan Model Baru
Sebagian besar standar kontrak internasional seperti FIDIC belum mencantumkan klausul spesifik mengenai BIM. Beberapa organisasi seperti King’s College London melalui riset tahun 2016 mencoba mengisi kekosongan ini, dengan menyusun rekomendasi untuk menyisipkan klausul BIM ke dalam berbagai bentuk kontrak: Design-Bid-Build, Design-Build-Finance-Operate, hingga Integrated Project Delivery.
Beberapa elemen penting yang perlu diperhatikan:
Tantangan dan Rekomendasi
Artikel ini menutup pembahasannya dengan menekankan bahwa transparansi BIM harus diiringi oleh kesiapan hukum yang memadai. Jika tidak, alih-alih mempermudah, BIM justru dapat menjadi sumber konflik baru.
Beberapa rekomendasi penulis:
Relevansi bagi Indonesia dan Negara Berkembang
Bagi negara seperti Indonesia yang tengah giat membangun infrastruktur dan mendorong digitalisasi sektor konstruksi, pembahasan ini sangat relevan. Adopsi BIM sudah mulai terjadi di beberapa proyek besar, namun kesiapan legal belum banyak disentuh.
Langkah-langkah konkret yang dapat diambil:
Penutup: Perluasan Peran BIM ke Wilayah Hukum
Artikel ini menawarkan perspektif yang jarang dibahas: bahwa teknologi digital seperti BIM tidak hanya mengubah desain dan pelaksanaan proyek, tetapi juga mengubah struktur tanggung jawab dan relasi hukum antar pemangku kepentingan. Melalui pendekatan yang sistematis dan didukung studi kasus nyata, tulisan ini memperkaya diskusi global tentang pentingnya menyelaraskan perkembangan teknologi dengan kesiapan hukum.
Jika ingin memanfaatkan potensi penuh BIM, maka sektor konstruksi tidak bisa lagi hanya fokus pada sisi teknis. Sudah saatnya legalitas, etika, dan tata kelola digital menjadi perhatian utama dalam proyek-proyek masa depan.
Sumber artikel asli:
Constanţa-Nicoleta Bodea & Augustin Purnuş. Legal implications of adopting Building Information Modeling (BIM). Juridical Tribune, Volume 8, Issue 1, March 2018, pp. 63–72.
Sustainable Practices
Dipublikasikan oleh Izura Ramadhani Fauziyah pada 09 Mei 2025
Industri konstruksi global menghadapi tekanan ganda—di satu sisi harus meningkatkan efisiensi, dan di sisi lain dituntut untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan. Konsep lean construction hadir untuk meminimalisir pemborosan, sementara keberlanjutan fokus pada dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi. Namun, menurut para penulis, pendekatan ini selama ini berjalan paralel, bukan sinergis. Di sinilah pentingnya LAST Matrix—sebuah kerangka kerja yang mengintegrasikan keduanya.
LAST Matrix: Menyatukan Dua Dunia
LAST Matrix (Lean Approaching Sustainability Tools) dirancang sebagai alat bantu keputusan yang memetakan tools lean terhadap dimensi keberlanjutan. Ada tiga langkah utama dalam pengembangannya:
Matrix ini menawarkan pendekatan praktis dan berbasis data, menjawab kritik terhadap pendekatan teoretis yang kurang aplikatif di lapangan.
Studi Kasus: Aplikasi LAST Matrix di Proyek Infrastruktur
Salah satu bagian paling menarik dari artikel ini adalah studi kasus pada proyek konstruksi jalan raya berskala besar di Inggris. Proyek ini menghadapi tantangan efisiensi waktu dan tekanan dari regulasi keberlanjutan pemerintah.
Melalui LAST Matrix, tim proyek mengidentifikasi sejumlah tools yang efektif secara simultan untuk dua target tersebut:
Hasilnya, proyek berhasil menghemat 12% biaya operasional, memangkas waktu konstruksi sebesar 18%, dan menurunkan limbah konstruksi hingga 25%. Angka-angka ini membuktikan nilai aplikatif dari LAST Matrix dalam mencapai efisiensi tanpa mengorbankan prinsip hijau.
Sinergi Lean dan Sustainability: Sebuah Paradigma Baru
Tradisionalnya, lean construction berfokus pada efisiensi proses, sementara keberlanjutan lebih menekankan dampak jangka panjang. LAST Matrix menyatukan keduanya, menunjukkan bahwa efisiensi dan tanggung jawab sosial-lingkungan bukan dua kutub yang harus dipertentangkan.
Para penulis menunjukkan bahwa dari 43 lean tools yang dianalisis:
Ini mengindikasikan bahwa sebagian besar tools lean memang memiliki potensi untuk mendukung keberlanjutan jika dimanfaatkan secara strategis.
Kritik Konstruktif dan Tantangan Implementasi
Meski menjanjikan, implementasi LAST Matrix bukan tanpa tantangan. Salah satu kekhawatiran adalah keterbatasan pemahaman di lapangan, terutama pada proyek berskala kecil yang minim SDM ahli lean maupun keberlanjutan. Oleh karena itu, pelatihan dan pendampingan menjadi aspek penting dalam diseminasi metode ini.
Penulis juga menekankan pentingnya adaptabilitas: matrix ini bukan alat statis, tapi harus dievaluasi dan diperbarui secara berkala berdasarkan dinamika proyek dan perkembangan teknologi konstruksi.
LAST Matrix dan Tren Global
Konsep integratif seperti LAST Matrix sangat relevan dengan tren global, termasuk agenda PBB SDGs (Sustainable Development Goals) dan komitmen berbagai negara terhadap zero carbon construction. Bahkan di Indonesia, implementasi green building mulai digaungkan, dan metode lean sudah masuk dalam kurikulum pendidikan teknik sipil dan arsitektur.
Dengan mengadopsi matrix ini, proyek di negara berkembang bisa mengejar ketertinggalan tanpa mengorbankan aspek lingkungan atau sosial.
Komparasi dengan Penelitian Lain
Dalam konteks akademik, LAST Matrix melampaui pendekatan sebelumnya seperti:
Keunggulan LAST Matrix adalah formatnya yang langsung dapat digunakan di lapangan—sebagai check-list, panduan pemetaan, hingga dasar untuk audit keberlanjutan proyek konstruksi.
Kesimpulan: LAST Matrix Sebagai Game Changer
LAST Matrix bukan sekadar alat bantu teknis, tapi sebuah paradigma baru yang menekankan bahwa efisiensi dan keberlanjutan bisa berjalan beriringan. Dengan pendekatan berbasis data, studi kasus yang meyakinkan, dan struktur yang fleksibel, matrix ini punya potensi menjadi standar baru dalam manajemen proyek konstruksi, baik di negara maju maupun berkembang.
Para pemangku kepentingan—kontraktor, arsitek, manajer proyek, hingga pemerintah—patut menjadikan LAST Matrix sebagai referensi utama dalam menyusun strategi implementasi konstruksi lean yang ramah lingkungan dan sosial.
Rekomendasi
Bagi praktisi di Indonesia, adopsi LAST Matrix bisa dimulai dari proyek-proyek pemerintah yang sudah punya tuntutan ESG (Environmental, Social, Governance). Di sisi akademik, LAST Matrix dapat dijadikan bahan ajar untuk kuliah “Manajemen Proyek Konstruksi Berkelanjutan” atau “Sistem Lean dalam Konstruksi”.
Bagi industri, integrasi matrix ini dengan software manajemen proyek seperti BIM (Building Information Modeling) akan semakin mempercepat proses transisi menuju konstruksi yang tidak hanya hemat biaya, tetapi juga peduli pada lingkungan dan manusia.
Sumber asli artikel: Mughees Aslam, Zhili Gao, dan Gary Smith. “Development of Lean Approaching Sustainability Tools (LAST) Matrix for Achieving Integrated Lean and Sustainable Construction.” Journal of Cleaner Production, 2024.