Pendahuluan
Dalam dunia bisnis yang semakin kompetitif, pengukuran kinerja rantai pasok (Supply Chain Performance Measurement – SCPM) menjadi faktor utama untuk memastikan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan. Paper berjudul Performance Measurement for Supply Chain Management: A Systematic Literature Review oleh Amanda O. Voltolini, Edson Pinheiro de Lima, dan Sérgio E. Gouvea da Costa, membahas berbagai model evaluasi kinerja rantai pasok serta tren penelitian terbaru dalam bidang ini.
Artikel ini mengulas pendekatan sistematis dalam pengukuran kinerja rantai pasok dengan fokus pada model SCOR (Supply Chain Operations Reference Model), Balanced Scorecard (BSC), serta indikator kuantitatif dan kualitatif lainnya.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode tinjauan literatur sistematis (SLR) dengan menganalisis 1.252 artikel dari berbagai database akademik, termasuk Web of Science, Scopus, Science Direct, Emerald, Taylor & Francis, dan Wiley.
Setelah proses seleksi, sebanyak 816 artikel relevan dianalisis lebih lanjut melalui pendekatan bibliometrik untuk memetakan tren penelitian dalam bidang SCPM.
Model Pengukuran Kinerja Rantai Pasok
Paper ini mengidentifikasi beberapa model utama yang digunakan untuk menilai kinerja rantai pasok, yaitu:
1. SCOR (Supply Chain Operations Reference Model)
SCOR adalah model yang mengkategorikan rantai pasok dalam lima proses utama:
- Plan – Perencanaan operasional berdasarkan permintaan pelanggan.
- Source – Pengadaan bahan baku dan komponen dari pemasok.
- Make – Proses produksi dan manufaktur.
- Deliver – Distribusi produk ke pelanggan akhir.
- Return – Proses pengembalian barang cacat atau yang tidak terjual.
SCOR digunakan oleh banyak perusahaan untuk menganalisis kinerja berdasarkan keandalan, fleksibilitas, dan efisiensi biaya.
2. Balanced Scorecard (BSC)
BSC digunakan untuk mengukur kinerja rantai pasok dengan empat perspektif utama:
- Keuangan – Seberapa efisien rantai pasok dalam mengelola biaya operasional.
- Pelanggan – Tingkat kepuasan pelanggan terhadap layanan dan produk.
- Proses Internal – Efisiensi dalam produksi dan distribusi.
- Pembelajaran & Pertumbuhan – Kemampuan organisasi dalam beradaptasi dengan perubahan pasar.
Beberapa penelitian menemukan bahwa penerapan BSC dalam rantai pasok meningkatkan transparansi dalam pengambilan keputusan serta membantu perusahaan dalam menyesuaikan strategi bisnis mereka.
3. Model Lain dalam SCPM
Selain SCOR dan BSC, paper ini juga mengidentifikasi model lain yang sering digunakan:
- Analytical Hierarchy Process (AHP) – Digunakan untuk menetapkan prioritas dalam pengambilan keputusan rantai pasok.
- Fuzzy Logic-Based Models – Menganalisis ketidakpastian dalam data kinerja rantai pasok.
- Green Supply Chain Performance Measurement – Mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam evaluasi kinerja rantai pasok.
Temuan Utama dalam Pengukuran Kinerja Rantai Pasok
Dari analisis literatur yang dilakukan, terdapat beberapa tren utama dalam penelitian SCPM:
- Peningkatan Digitalisasi dan AI dalam Pengukuran Kinerja
- Teknologi seperti IoT dan Big Data Analytics kini semakin banyak digunakan dalam pemantauan kinerja rantai pasok.
- Perusahaan yang mengadopsi sistem AI-driven forecasting dapat meningkatkan akurasi prediksi permintaan hingga 25%.
- Perpindahan dari Model Kuantitatif ke Pendekatan Holistik
- Model tradisional yang hanya berfokus pada metrik keuangan kini mulai bergeser ke pendekatan yang lebih holistik, dengan mempertimbangkan dampak lingkungan, keberlanjutan, dan kepuasan pelanggan.
- Peningkatan Penggunaan SCOR dalam Berbagai Industri
- SCOR telah diadopsi oleh lebih dari 70% perusahaan manufaktur global sebagai standar dalam pengukuran kinerja rantai pasok.
Studi Kasus: Penerapan Model SCPM dalam Industri
Beberapa contoh penerapan model SCPM dalam industri mencakup:
1. Manufaktur Otomotif
- Sebuah perusahaan otomotif di Jerman menggunakan SCOR dan BSC secara bersamaan untuk mengurangi biaya logistik hingga 18% dalam satu tahun.
2. Industri Retail
- Perusahaan retail besar yang menerapkan AI dalam forecasting rantai pasok berhasil mengurangi jumlah barang kedaluwarsa hingga 30%, meningkatkan efisiensi distribusi mereka.
3. Industri Teknologi
- Sebuah perusahaan teknologi global menerapkan Fuzzy Logic-Based Models untuk mengurangi ketidakpastian dalam inventaris, yang menghasilkan penghematan biaya sebesar 10 juta dolar per tahun.
Tantangan dalam Implementasi SCPM
Meskipun pengukuran kinerja rantai pasok membawa banyak manfaat, ada beberapa tantangan utama:
- Kurangnya Standarisasi dalam Pengukuran Kinerja
- Tidak semua perusahaan menggunakan metrik yang sama, menyebabkan kesulitan dalam benchmarking antarindustri.
- Keterbatasan Data & Integrasi Teknologi
- Banyak perusahaan masih menggunakan sistem manual dalam pengelolaan data rantai pasok, yang dapat menghambat analisis yang akurat.
- Tantangan dalam Mengadopsi SCPM di Perusahaan Kecil dan Menengah (UKM)
- UKM sering kali kesulitan dalam mengadopsi model pengukuran kinerja karena keterbatasan anggaran dan sumber daya.
Kesimpulan
Paper ini menyoroti perkembangan model pengukuran kinerja rantai pasok, dengan menekankan pada SCOR, Balanced Scorecard, dan model berbasis AI. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan data dan teknologi yang lebih canggih dapat meningkatkan efektivitas SCPM dan membantu perusahaan dalam meningkatkan daya saing mereka.
Bagi perusahaan yang ingin mengoptimalkan rantai pasoknya, mengadopsi pendekatan berbasis teknologi dan keberlanjutan akan menjadi langkah strategis untuk masa depan.
Sumber : Voltolini, A. O., de Lima, E. P., & Gouvea da Costa, S. E. Performance Measurement for Supply Chain Management: A Systematic Literature Review. Pontifical Catholic University of Parana, Federal University of Technology - Parana, Brazil, 2016.