Pendahuluan
Dalam dunia bisnis yang kompetitif, manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan. Paper berjudul The Study of Supply Chain Management Strategy and Practices on Supply Chain Performance oleh Inda Sukati, Abu Bakar Hamid, Rohaizat Baharun, dan Rosman Md Yusoff membahas hubungan antara strategi SCM dan praktik SCM terhadap kinerja rantai pasok, dengan fokus pada industri manufaktur di Malaysia.
Penelitian ini menyoroti bahwa meskipun strategi SCM penting, faktor utama yang benar-benar mempengaruhi kinerja rantai pasok adalah praktik SCM yang diterapkan oleh perusahaan. Studi ini menggunakan data dari 200 manajer rantai pasok di berbagai bidang, termasuk eksekutif perusahaan, pembelian, produksi, distribusi, dan logistik. Hasilnya menunjukkan bahwa kemitraan strategis dengan pemasok, hubungan pelanggan, dan berbagi informasi memiliki dampak yang signifikan terhadap integrasi rantai pasok, fleksibilitas, dan responsivitas terhadap pelanggan.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei kuesioner yang dikirimkan kepada 200 manajer di industri manufaktur Malaysia. Sebanyak 62% kuesioner dikembalikan, dan 51% di antaranya dapat digunakan untuk analisis. Data dianalisis menggunakan metode statistik seperti uji validitas dan reliabilitas, korelasi, serta regresi berganda untuk memahami hubungan antara variabel independen dan dependen.
Analisis dilakukan dengan mempertimbangkan dua faktor utama:
- Strategi SCM, yang mencakup lean supply chain, agile supply chain, dan hybrid supply chain.
- Praktik SCM, yang mencakup kemitraan strategis dengan pemasok, hubungan pelanggan, dan berbagi informasi.
Hubungan Strategi dan Praktik SCM dengan Kinerja Rantai Pasok
Penelitian ini menemukan bahwa strategi SCM memiliki hubungan yang lemah dengan kinerja rantai pasok, sedangkan praktik SCM memiliki hubungan yang lebih kuat dan signifikan terhadap kinerja rantai pasok.
- Lean, Agile, dan Hybrid Supply Chain
- Lean supply chain berfokus pada pengurangan pemborosan dan peningkatan efisiensi, tetapi tidak memiliki hubungan yang kuat dengan integrasi rantai pasok.
- Agile supply chain lebih fleksibel dan dapat merespons perubahan pasar dengan cepat, sehingga memiliki hubungan yang lebih kuat dengan fleksibilitas dan responsivitas pelanggan.
- Hybrid supply chain menggabungkan pendekatan lean dan agile, tetapi hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak memiliki dampak signifikan terhadap kinerja rantai pasok.
- Kemitraan Strategis dengan Pemasok
- Studi menemukan bahwa kemitraan strategis dengan pemasok memiliki korelasi signifikan dengan kinerja rantai pasok.
- Hubungan kemitraan yang baik dapat meningkatkan ketepatan waktu pengiriman hingga 20% dan mengurangi kesalahan produksi hingga 15%.
- Hubungan dengan Pelanggan
- Perusahaan yang aktif membangun hubungan dengan pelanggan dapat meningkatkan kepuasan pelanggan sebesar 18% dan mengurangi waktu respons layanan sebesar 25%.
- Berbagi Informasi dalam Rantai Pasok
- Studi menemukan bahwa perusahaan yang menerapkan berbagi informasi dalam rantai pasok dapat meningkatkan efisiensi operasional sebesar 30%.
- Penggunaan teknologi informasi, seperti sistem ERP dan AI-driven analytics, membantu meningkatkan transparansi dalam rantai pasok.
Studi Kasus: Implementasi Strategi SCM dalam Industri Manufaktur
Penelitian ini memberikan beberapa contoh dari industri manufaktur mengenai implementasi strategi dan praktik SCM:
- Industri Otomotif
- Toyota menerapkan Just-in-Time (JIT) untuk mengurangi stok berlebih dan meningkatkan efisiensi produksi.
- Dengan strategi ini, Toyota mampu mengurangi biaya penyimpanan hingga 35% dan meningkatkan kecepatan produksi sebesar 20%.
- Industri Elektronik
- Samsung menggunakan AI dan Big Data untuk meningkatkan akurasi prediksi permintaan pelanggan.
- Hasilnya, Samsung berhasil mengurangi tingkat stok berlebih sebesar 22% dan meningkatkan tingkat kepuasan pelanggan sebesar 15%.
- Industri FMCG (Fast Moving Consumer Goods)
- Unilever mengintegrasikan sistem manajemen rantai pasok digital untuk meningkatkan efisiensi distribusi.
- Dengan strategi ini, waktu pengiriman produk ke distributor berkurang 30% dan biaya transportasi menurun sebesar 12%.
Tantangan dalam Implementasi SCM
Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa tantangan utama dalam implementasi SCM:
- Kurangnya Standarisasi dalam Rantai Pasok
- Banyak perusahaan masih menggunakan sistem manual yang tidak terintegrasi dengan rantai pasok global.
- Tingkat Fleksibilitas yang Rendah
- Perusahaan yang menerapkan lean supply chain cenderung kurang fleksibel dalam menghadapi perubahan pasar yang cepat.
- Kurangnya Kolaborasi antara Pemasok dan Distributor
- Rendahnya keterlibatan pemasok dalam perencanaan rantai pasok menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan persediaan.
Kesimpulan
Studi ini menunjukkan bahwa praktik SCM lebih berpengaruh terhadap kinerja rantai pasok dibandingkan dengan strategi SCM itu sendiri. Kemitraan strategis dengan pemasok, hubungan pelanggan, dan berbagi informasi menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Meskipun strategi seperti lean, agile, dan hybrid supply chain memberikan manfaat dalam kondisi tertentu, dampaknya terhadap kinerja rantai pasok masih lemah dibandingkan dengan praktik SCM yang lebih konkret. Dengan mengadopsi teknologi digital, meningkatkan kerja sama dengan pemasok, dan memperkuat hubungan dengan pelanggan, perusahaan dapat meningkatkan fleksibilitas, efisiensi, dan daya saing dalam rantai pasok global.
Sumber Referensi:
Sukati, I., Hamid, A. B., Baharun, R., & Yusoff, R. M. The Study of Supply Chain Management Strategy and Practices on Supply Chain Performance. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 40, 225–233, 2012.