Strategi Ampuh Tingkatkan Kualitas Jahitan dan Kurangi Cacat Produksi

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda

20 Maret 2025, 09.07

pexels.com

Mengapa SPC Jadi Kebutuhan Mendesak Industri Garmen Saat Ini?

Di era persaingan global yang makin sengit, industri garmen dihadapkan pada tantangan berat: bagaimana menjaga kualitas produk tetap konsisten, sekaligus menekan biaya produksi. Terutama di lini jahitan, di mana pekerjaan sebagian besar masih bersifat manual, risiko terjadinya cacat produksi sangat tinggi. Di sinilah Statistical Process Control (SPC) mengambil peran penting. Bukan sekadar alat statistik, SPC merupakan pendekatan sistematis untuk mengendalikan dan meningkatkan proses produksi secara berkelanjutan.

Penelitian yang dilakukan oleh Mulat Alubel Abtew dan timnya dalam artikel berjudul "Implementation of Statistical Process Control (SPC) in the Sewing Section of Garment Industry for Quality Improvement" membuktikan bahwa SPC mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas di industri garmen. Studi ini berfokus pada implementasi SPC di lini jahitan Silver Spark Apparel Limited (SSAL), sebuah perusahaan garmen besar yang menjadi bagian dari Raymond Group di India.

 

Mengenal Silver Spark Apparel Limited (SSAL): Lokasi Studi Implementasi SPC

SSAL bukan pemain baru dalam dunia fashion. Perusahaan ini sudah menjadi pemasok utama merek internasional seperti Calvin Klein, Levi’s, GAP, bahkan menyediakan seragam untuk maskapai seperti Qatar Airways dan Jet Airways. Dengan 85% produksi mereka diekspor, menjaga standar kualitas internasional adalah harga mati.

Namun, meski sudah menerapkan berbagai sistem kontrol kualitas, bagian jahitan mereka masih menghadapi tantangan. Tingkat cacat di lini produksi celana formal (trouser line) SSAL mencapai angka yang cukup tinggi, yakni 9,14% selama empat bulan sebelum penerapan SPC. Di tengah tuntutan efisiensi dan kualitas premium, angka tersebut jelas menjadi alarm.

Langkah-Langkah Implementasi SPC di SSAL: Dari Teori ke Praktik Nyata

Untuk menjawab tantangan tersebut, tim peneliti menerapkan SPC di lini produksi celana formal SSAL, khususnya di Line-2, yang memproduksi sekitar 950 celana setiap hari. Fokus utama mereka adalah menekan variasi dalam proses jahitan, baik yang bersifat umum maupun khusus.

1. Mengidentifikasi Titik-Titik Kritis

Langkah pertama adalah mengenali parameter-parameter kualitas yang paling sering menyebabkan kecacatan produk. Misalnya, pengukuran pinggang yang meleset, jahitan pada bagian lutut yang tidak rapi, hingga pemasangan saku belakang yang tidak presisi. Ini adalah langkah fundamental agar penerapan SPC tepat sasaran.

2. Penentuan Titik Pemeriksaan Strategis

Setelah mengetahui parameter kritis, tim kemudian menentukan tiga titik pemeriksaan utama dalam alur produksi. Titik-titik ini ditempatkan pada tahap awal (preparatory section), di tengah proses (inline section), dan di akhir proses (end line section). Titik-titik ini memungkinkan deteksi dini terhadap potensi cacat sebelum produk bergerak ke tahap berikutnya.

3. Pengumpulan Data dan Penggunaan Control Chart

Data dikumpulkan secara konsisten, dengan pengambilan sampel setiap satu jam. Pengukuran yang bersifat variabel, seperti ukuran pinggang dan panjang celana, dianalisis menggunakan X-bar dan R chart. Sementara itu, cacat yang bersifat atribut, seperti jahitan lepas atau label yang terpasang miring, dianalisis dengan C-chart.

4. Tindakan Korektif Berjenjang

Begitu data menunjukkan adanya penyimpangan dari batas kendali yang telah ditetapkan, tim quality control segera mengambil tindakan korektif. Jika masalahnya sederhana, misalnya kesalahan operator, maka perbaikan bisa langsung dilakukan di tempat. Namun, jika permasalahan lebih kompleks—seperti kerusakan mesin atau desain proses yang kurang optimal—maka laporan diteruskan ke manajemen untuk penanganan lanjutan.

 

Hasil yang Dicapai: SPC Bukan Sekadar Teori, Tapi Solusi Nyata

Implementasi SPC selama empat bulan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tingkat produk cacat di lini jahitan celana formal turun dari 9,14% menjadi 6,4%. Penurunan ini tidak hanya berdampak pada efisiensi produksi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan pelanggan. Klien-klien internasional SSAL, yang menuntut presisi tinggi, mendapat produk dengan kualitas yang lebih konsisten.

Selain itu, operator produksi mulai menunjukkan pemahaman yang lebih baik terhadap pentingnya menjaga kualitas sejak awal. Mereka tidak lagi menunggu inspeksi akhir untuk menemukan kesalahan, melainkan proaktif memantau dan memperbaiki proses di setiap langkah.

 

Analisis Lebih Dalam: Apa yang Bisa Kita Pelajari dari Studi Kasus Ini?

Keunggulan Pendekatan Manual di Awal Implementasi

SSAL memulai implementasi SPC dengan metode manual, yaitu mencatat data di kertas grafik. Pendekatan ini terbukti efektif untuk tahap awal, karena memungkinkan para operator memahami konsep dasar SPC secara praktis. Namun, di era digital, pendekatan ini sebaiknya menjadi batu loncatan menuju sistem otomatis berbasis software, yang lebih efisien dan minim human error.

Keterlibatan SDM Jadi Kunci Utama

Keberhasilan SPC di SSAL tidak terlepas dari keterlibatan aktif karyawan, mulai dari operator hingga manajemen. Tanpa komitmen dari semua pihak, SPC hanya akan menjadi formalitas tanpa hasil nyata. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan dan pelatihan intensif mengenai SPC adalah investasi utama.

SPC di Industri 4.0: Potensi yang Belum Dioptimalkan

Saat ini, banyak perusahaan manufaktur di sektor lain, seperti otomotif dan elektronik, sudah mengintegrasikan SPC dengan teknologi Industri 4.0. Misalnya, penggunaan sensor IoT untuk pengambilan data real-time, atau software berbasis AI untuk prediksi kegagalan produksi. Industri garmen, termasuk SSAL, masih punya peluang besar untuk mengejar ketertinggalan ini.

 

Kritik dan Tantangan yang Perlu Diatasi

Meskipun hasilnya positif, implementasi SPC di SSAL tidak tanpa tantangan. Salah satu kendala terbesar adalah resistensi terhadap perubahan, terutama di kalangan operator yang sudah terbiasa dengan metode konvensional. Selain itu, keterbatasan akurasi dalam pengukuran variabel (misalnya ukuran pinggang atau panjang inseam) juga kerap menjadi sumber masalah di awal penerapan.

Keterbatasan lain adalah kurangnya sistem umpan balik yang cepat dari data SPC manual. Ini membuat tindakan korektif kadang terlambat dilakukan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertimbangkan penggunaan software SPC di masa mendatang untuk mempercepat alur informasi.

 

Rekomendasi Praktis bagi Industri Garmen Lainnya

Dari studi kasus SSAL, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diadopsi oleh industri garmen lainnya, terutama di negara berkembang seperti Indonesia:

  1. Mulailah dari Hal Sederhana, lalu Bertahap ke Sistem Lanjutan
    Penerapan SPC manual bisa menjadi pintu masuk yang efektif sebelum melangkah ke sistem berbasis software.
  2. Libatkan Semua Level Organisasi
    Dari manajemen puncak hingga operator produksi, semua harus memahami peran mereka dalam sistem SPC.
  3. Investasikan pada Pelatihan Berkelanjutan
    Seperti kata Kaoru Ishikawa, kualitas dimulai dan diakhiri dengan pendidikan. Pelatihan intensif tentang konsep SPC harus menjadi agenda rutin.
  4. Gunakan Data untuk Mengambil Keputusan, Bukan Sekadar Dokumentasi
    SPC bukan hanya alat pencatat cacat, tetapi sistem deteksi dini yang harus diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan manajerial.

 

Kesimpulan: SPC adalah Pilar Utama Menuju Produksi Garmen Berkualitas Tinggi

Penelitian Mulat Alubel Abtew dan timnya di SSAL menunjukkan bahwa Statistical Process Control bukan sekadar teori, tetapi strategi praktis yang terbukti meningkatkan kualitas produk dan efisiensi proses produksi. Dengan penerapan yang konsisten dan dukungan SDM yang terlatih, SPC memungkinkan perusahaan garmen tidak hanya menurunkan tingkat cacat produksi, tetapi juga meningkatkan daya saing di pasar global.

Namun, keberhasilan ini tidak akan terjadi tanpa komitmen manajemen dan investasi pada pendidikan serta teknologi. Di tengah transformasi industri menuju digitalisasi dan otomatisasi, SPC akan menjadi pondasi penting untuk menciptakan ekosistem produksi garmen yang lebih adaptif, presisi, dan berkelanjutan.