Pendahuluan
Efisiensi rantai pasok menjadi faktor penting dalam daya saing perusahaan modern. Semakin kompleksnya sistem rantai pasok akibat globalisasi dan digitalisasi menuntut perusahaan untuk memiliki model evaluasi kinerja yang akurat. Paper Measurements of Efficiency in a Supply Chain oleh Annelie Pettersson berfokus pada metode pengukuran efisiensi rantai pasok dengan pendekatan kuantitatif yang menggabungkan biaya dan kinerja operasional.
Penelitian ini mengulas berbagai model evaluasi yang telah digunakan dalam industri dan mengembangkan indeks efisiensi rantai pasok, yang kemudian diuji pada perusahaan global, Ericsson AB. Dengan mengombinasikan pendekatan cost-driven dan performance-driven, paper ini memberikan wawasan penting bagi akademisi dan praktisi Supply Chain Management (SCM).
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan utama:
1. Tinjauan Literatur
Literatur yang dikaji mencakup berbagai konsep terkait:
- Supply Chain Management (SCM) dan efisiensi rantai pasok
- Model pengukuran kinerja rantai pasok, termasuk:
- Cost-to-Serve Analysis (menganalisis total biaya per pelanggan)
- Total Cost of Ownership (TCO) (menghitung biaya sepanjang siklus hidup produk)
- Activity-Based Costing (ABC) (mengalokasikan biaya berdasarkan aktivitas dalam rantai pasok)
2. Studi Empiris
Penulis melakukan studi empiris dengan 30 perusahaan dari 10 sektor industri di Swedia, termasuk:
- Industri manufaktur
- Industri farmasi dan teknologi medis
- Industri telekomunikasi
- Industri otomotif
- Industri konstruksi
Setiap perusahaan diwawancarai untuk memahami bagaimana mereka mengukur efisiensi rantai pasok dan kendala yang mereka hadapi. Selain itu, penulis mengembangkan indeks efisiensi rantai pasok, yang diuji pada Ericsson AB, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di dunia.
Model Evaluasi Efisiensi dalam Rantai Pasok
Paper ini mengklasifikasikan metode evaluasi menjadi tiga kategori utama:
1. Metode Biaya dalam Rantai Pasok
- Logistics Cost vs. Supply Chain Cost
- Biaya logistik hanya sebagian dari total biaya rantai pasok.
- Supply Chain Cost mencakup seluruh biaya mulai dari produksi, distribusi, hingga layanan pelanggan.
- Activity-Based Costing (ABC)
- Mengalokasikan biaya berdasarkan aktivitas spesifik dalam rantai pasok.
- Mampu mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah dan mengurangi biaya produksi hingga 15%.
- Total Cost of Ownership (TCO)
- Menghitung biaya total sepanjang siklus hidup produk, termasuk biaya pemeliharaan dan disposal.
2. Metode Pengukuran Kinerja Operasional
- Balanced Scorecard (BSC)
- Mengukur kinerja berdasarkan perspektif:
- Keuangan
- Pelanggan
- Proses internal
- Pembelajaran dan pertumbuhan
- Mengukur kinerja berdasarkan perspektif:
- SCOR (Supply Chain Operations Reference Model)
- Model yang digunakan secara luas dalam industri untuk mengukur keandalan, fleksibilitas, dan efisiensi biaya.
- Perusahaan yang menerapkan SCOR mampu meningkatkan kecepatan pemrosesan pesanan hingga 22%.
- Benchmarking
- Perbandingan kinerja rantai pasok dengan perusahaan lain atau standar industri.
3. Pengembangan Indeks Efisiensi Rantai Pasok
- Paper ini memperkenalkan indeks efisiensi rantai pasok yang menggabungkan biaya dan kinerja operasional.
- Indeks ini diuji pada Ericsson AB, yang menunjukkan peningkatan efisiensi operasional hingga 18% setelah penerapan model ini.
Studi Kasus dan Data Empiris
Penelitian ini menyajikan beberapa studi kasus berdasarkan wawancara dengan 30 perusahaan:
1. Ericsson AB (Industri Telekomunikasi)
- Dengan menerapkan SCOR model, perusahaan mampu meningkatkan kecepatan pemrosesan pesanan hingga 22%.
- Penggunaan TCO memungkinkan identifikasi titik pemborosan, mengurangi biaya operasional sebesar 12%.
2. Industri Manufaktur
- Perusahaan yang menggunakan pendekatan ABC berhasil menurunkan biaya produksi sebesar 15% dengan mengoptimalkan alokasi sumber daya.
- Penggunaan Just-in-Time (JIT) menurunkan tingkat persediaan hingga 30%, meningkatkan efisiensi arus barang.
3. Industri Otomotif
- Penerapan sistem Lean Manufacturing menghasilkan pengurangan waktu siklus produksi sebesar 20%.
- Efisiensi rantai pasok meningkat dengan strategi vendor-managed inventory (VMI).
Tantangan dalam Pengukuran Efisiensi Rantai Pasok
Meskipun ada berbagai model evaluasi, penelitian ini mengidentifikasi beberapa tantangan utama:
- Kurangnya integrasi antara data keuangan dan operasional, menyebabkan evaluasi yang kurang komprehensif.
- Kurangnya standar universal untuk mengukur efisiensi rantai pasok, membuat perbandingan antar perusahaan sulit dilakukan.
- Belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital dan AI dalam sistem evaluasi, padahal teknologi ini bisa meningkatkan akurasi analisis.
Rekomendasi dan Implikasi untuk Industri
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa strategi disarankan untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok:
- Digitalisasi dan Automasi
- Pengukuran Berbasis Big Data
- Mengadopsi analitik data real-time untuk mengoptimalkan proses rantai pasok.
- Integrasi Keberlanjutan dalam Evaluasi Kinerja
- Menggabungkan metrik lingkungan dan sosial dalam sistem evaluasi rantai pasok.
Kesimpulan
Paper ini memberikan wawasan mendalam tentang pengukuran efisiensi rantai pasok, dengan membahas model, studi kasus, serta tantangan dalam implementasinya. Studi ini menjadi referensi penting bagi akademisi dan praktisi manajemen rantai pasok dalam mengembangkan strategi evaluasi yang lebih akurat dan berbasis data.
Sumber: Annelie Pettersson. Measurements of Efficiency in a Supply Chain. Luleå University of Technology, 2008.