Pendahuluan
Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dalam rantai pasoknya. Pengukuran kinerja rantai pasok menjadi langkah penting dalam mengevaluasi efisiensi operasional serta menemukan titik-titik perbaikan. Paper berjudul Supply Chain Performance Measurement with Supply Chain Operation References Approach (A Case Study in a Batik Company) oleh Novie Susanto, Ratna Purwaningsih, Rani Rumita, dan Emanuela Septia membahas bagaimana model SCOR (Supply Chain Operations Reference) digunakan untuk mengukur dan meningkatkan kinerja rantai pasok di industri batik.
Penelitian ini menyoroti permasalahan yang dihadapi oleh CV. PT, sebuah perusahaan batik di Solo, Jawa Tengah, dalam hal ketidaksesuaian bahan baku dan masalah dalam produksi yang menyebabkan penurunan produktivitas. Dengan menggunakan model SCOR, penelitian ini mengevaluasi lima proses utama dalam rantai pasok, yaitu plan, source, make, deliver, dan return, untuk mengidentifikasi titik-titik lemah serta menyusun strategi peningkatan kinerja.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan model SCOR untuk mengukur kinerja rantai pasok dengan indikator Key Performance Indicators (KPI). Model SCOR yang digunakan adalah versi 12.0, yang merupakan pengembangan dari versi sebelumnya dengan tambahan sub-atribut untuk evaluasi yang lebih mendalam.
Tiga tahap utama dalam penelitian ini meliputi:
- Validasi KPI, dilakukan melalui kuesioner kepada enam responden dari berbagai divisi perusahaan, termasuk direktur utama, kepala produksi, kepala pengadaan, serta staf pengadaan dan pengiriman. Dari 38 KPI yang diajukan, hanya 25 KPI yang tervalidasi sebagai relevan dengan kondisi perusahaan.
- Penilaian kinerja menggunakan metode Snorm De Boer, yang mengubah data tahunan perusahaan menjadi skor terstandarisasi dalam rentang 0-100, dengan nilai tertinggi sebagai pencapaian terbaik dan nilai terendah sebagai pencapaian terburuk.
- Penentuan bobot KPI dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP), di mana manajemen perusahaan melakukan perbandingan berpasangan untuk menentukan bobot kepentingan setiap KPI.
Evaluasi Kinerja Rantai Pasok dengan Model SCOR
Hasil pengukuran menunjukkan bahwa total kinerja rantai pasok CV. PT adalah 69,983, yang masuk dalam kategori rata-rata. Ini berarti perusahaan memiliki banyak ruang untuk perbaikan guna meningkatkan efisiensi operasionalnya.
Penelitian ini menemukan beberapa permasalahan utama yang menyebabkan kinerja rantai pasok CV. PT belum optimal:
- Ketidaksesuaian spesifikasi bahan baku, terutama pada kualitas kain dan pewarna, yang menyebabkan warna batik menjadi pudar dan hasil produksi tidak memenuhi standar.
- Proses produksi yang terganggu oleh cacat kain, seperti kain yang sobek atau berlubang, yang meningkatkan waktu pemrosesan dan menurunkan produktivitas.
- Keterlambatan dalam pengiriman bahan baku, yang berdampak pada keterlambatan produksi dan pengiriman produk akhir ke pelanggan.
- Dokumentasi pengiriman yang tidak akurat, yang menyebabkan ketidaksesuaian antara pesanan pelanggan dan barang yang dikirim.
Studi Kasus: Implementasi Model SCOR pada CV. PT
Penelitian ini mengevaluasi lima proses utama dalam rantai pasok CV. PT:
- Plan
Proses perencanaan dimulai dari divisi produksi yang menyusun rencana kebutuhan bahan baku berdasarkan target produksi. Data ini kemudian disampaikan ke divisi pengadaan dan keuangan untuk menyesuaikan anggaran. Kurangnya perencanaan yang matang menyebabkan ketidakseimbangan antara kebutuhan bahan baku dan ketersediaan di gudang. - Source
Proses pengadaan bahan baku mencakup pemesanan dan penerimaan kain serta zat pewarna dari beberapa pemasok. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa akurasi dokumentasi pengiriman bahan baku hanya mencapai 50%, yang berarti sering terjadi kesalahan dalam jumlah dan spesifikasi bahan yang diterima. - Make
Proses produksi terdiri dari empat tahap utama: pola batik, pencantingan, pewarnaan, dan proses "ngelorod". Salah satu masalah utama yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah waktu produksi yang lebih lama dari yang direncanakan, dengan produktivitas hanya 65% dari kapasitas maksimal. - Deliver
Proses pengiriman mencakup pengemasan dan distribusi ke pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketepatan waktu pengiriman produk hanya mencapai 60%, yang berarti banyak pesanan yang dikirim terlambat. Selain itu, akurasi dokumentasi pengiriman hanya 50%, sehingga sering terjadi kesalahan dalam pemenuhan pesanan pelanggan. - Return
Proses pengembalian barang melibatkan barang cacat atau rusak yang dikembalikan oleh pelanggan. Data menunjukkan bahwa waktu siklus pengadaan ulang mencapai 56,25% dari target optimal, yang berarti perusahaan masih mengalami kesulitan dalam menangani pengembalian dan pengadaan ulang bahan baku.
Strategi Perbaikan Kinerja Rantai Pasok
Berdasarkan hasil evaluasi, penelitian ini merekomendasikan beberapa strategi untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok CV. PT:
- Peningkatan Akurasi Dokumentasi dan Pengiriman
Perusahaan perlu meningkatkan sistem pencatatan dan validasi pesanan untuk mengurangi kesalahan dokumentasi pengiriman bahan baku dan produk akhir. - Optimasi Jaringan Pemasok
CV. PT perlu melakukan audit terhadap pemasok untuk memastikan mereka dapat memenuhi spesifikasi bahan baku yang diinginkan dan mengurangi keterlambatan pengiriman. - Perbaikan Proses Produksi
Implementasi Manufacturing Planning and Scheduling yang lebih ketat dapat membantu mengurangi waktu produksi dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. - Penerapan Safety Stock
Untuk mengatasi keterlambatan bahan baku, perusahaan disarankan untuk menyiapkan stok cadangan agar produksi tetap berjalan tanpa gangguan. - Distribusi Berbasis Permintaan
Perusahaan perlu menyelaraskan jadwal produksi dan distribusi dengan pola permintaan pelanggan agar pengiriman lebih tepat waktu.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa model SCOR dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam rantai pasok dan memberikan strategi perbaikan yang tepat. Evaluasi kinerja CV. PT menunjukkan bahwa perusahaan masih berada dalam kategori rata-rata dengan beberapa area yang perlu ditingkatkan, terutama dalam hal akurasi dokumentasi, efisiensi produksi, dan ketepatan waktu pengiriman.
Dengan menerapkan strategi yang direkomendasikan, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi rantai pasoknya, mengurangi pemborosan, serta meningkatkan kepuasan pelanggan. Industri batik sebagai bagian dari ekonomi kreatif Indonesia dapat memperoleh manfaat besar dari optimasi rantai pasok berbasis model SCOR, sehingga lebih kompetitif di pasar global.
Sumber : Susanto, N., Purwaningsih, R., Rumita, R., & Septia, E. Supply Chain Performance Measurement with Supply Chain Operation References Approach (A Case Study in a Batik Company). Proceedings of the International Conference on Industrial Engineering and Operations Management, Sao Paulo, Brazil, 2021.