Meningkatkan Kualitas Produksi Anyaman Sintetis di Era Industri 4.0 dengan Metode SPC: Studi Kasus PT.I

Dipublikasikan oleh Viskha Dwi Marcella Nanda

20 Maret 2025, 08.23

pexels.com

Pendahuluan: Tantangan Kualitas Produk di Industri Anyaman Sintetis

Dalam dunia industri manufaktur furnitur, khususnya yang berbahan dasar rotan sintetis, kualitas produk menjadi elemen kunci dalam memenangkan pasar ekspor. Indonesia, sebagai salah satu produsen rotan sintetis terbesar di Asia Tenggara, dituntut untuk menghadirkan produk yang tidak hanya estetis, tetapi juga bebas cacat. Kegagalan mempertahankan standar kualitas dapat berdampak langsung pada kredibilitas perusahaan di pasar internasional.

PT.I, sebuah perusahaan penghasil furnitur rotan sintetis skala ekspor, menghadapi masalah yang cukup signifikan di lini produksi anyaman. Tingginya tingkat cacat pada produk menjadi perhatian utama perusahaan karena melebihi batas toleransi maksimal yang telah ditetapkan, yakni sebesar 5% dari total produksi. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk melakukan analisis mendalam terhadap proses produksinya menggunakan pendekatan Statistical Process Control (SPC).

Paper ini, yang dipublikasikan dalam International Journal of Computer and Information System (IJCIS) Vol. 02, Edisi 03, Agustus 2021, mengulas bagaimana PT.I memanfaatkan SPC untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan mengurangi produk cacat di bagian weaving atau anyaman.

Apa Itu SPC dan Kenapa Penting untuk Industri Furnitur?

Statistical Process Control (SPC) adalah metode pengendalian kualitas berbasis statistik yang berfungsi untuk memonitor dan mengontrol proses produksi secara sistematis. Tujuan utama dari SPC adalah mencegah cacat produk sejak proses produksi berlangsung, bukan sekadar mendeteksi cacat setelah produk selesai dibuat.

Dalam industri furnitur berbahan rotan sintetis seperti PT.I, proses weaving merupakan tahapan krusial yang sangat mempengaruhi kualitas akhir produk. Kesalahan sekecil apapun, seperti anyaman kendor, paku yang terlihat, atau perbedaan warna, akan dengan mudah terdeteksi oleh konsumen, khususnya di pasar ekspor yang mengutamakan presisi dan estetika produk.

Studi Kasus PT.I: Mengurai Masalah Kualitas di Lini Anyaman

Profil PT.I dan Permasalahan Produksi

PT.I adalah produsen furnitur berbahan rotan sintetis yang berorientasi ekspor. Perusahaan menawarkan berbagai model anyaman klasik dan modern yang menjadi daya tarik utama bagi pasar luar negeri. Namun, data menunjukkan bahwa tingkat cacat produk anyaman di PT.I melebihi ambang batas 5%. Pada Oktober 2020, tingkat cacat mencapai 12,8%, sementara pada November 2020 turun tipis menjadi 11,8%. Meski ada penurunan, kedua angka ini tetap melampaui batas toleransi perusahaan.

Jenis Cacat yang Sering Terjadi

Berdasarkan hasil inspeksi, terdapat lima jenis cacat utama yang ditemukan di bagian weaving PT.I:

  1. Model anyaman tidak sesuai desain (misdruk).
  2. Anyaman kendor.
  3. Anyaman kotor.
  4. Anyaman terlihat paku atau solder.
  5. Warna bahan tidak seragam.

 

Metodologi Analisis SPC di PT.I

Penelitian di PT.I menggunakan tujuh alat dasar dalam SPC untuk mengontrol kualitas produk:

  1. Check Sheet: Mengumpulkan data mengenai jenis dan frekuensi cacat.
  2. Histogram: Menyajikan data dalam bentuk grafik batang untuk memperjelas distribusi cacat.
  3. Stratifikasi: Mengelompokkan data cacat berdasarkan jenis untuk mengidentifikasi prioritas masalah.
  4. Scatter Diagram: Menganalisis korelasi antara jumlah produksi dan tingkat cacat.
  5. P Control Chart: Memantau proporsi cacat harian dan menentukan apakah proses produksi stabil.
  6. Pareto Chart: Menentukan prioritas penanganan berdasarkan prinsip 80/20.
  7. Fishbone Diagram: Mengidentifikasi akar penyebab cacat produksi.

 

Hasil Analisis SPC di PT.I: Temuan Kunci dan Interpretasi

Data Oktober 2020

  • Total produksi: 2.552 unit.
  • Produk cacat: 318 unit (12,8%).
  • Jenis cacat dominan: Model anyaman (102 unit), anyaman kendor (82 unit), anyaman terlihat paku (62 unit).

Data November 2020

  • Total produksi: 2.713 unit.
  • Produk cacat: 310 unit (11,8%).
  • Jenis cacat dominan tetap sama dengan Oktober, meski jumlahnya sedikit menurun.

Korelasi Produksi dan Tingkat Cacat

Hasil scatter diagram menunjukkan adanya korelasi positif antara jumlah produksi dan tingkat cacat. Artinya, semakin tinggi produksi, semakin tinggi pula kemungkinan produk cacat. Hal ini menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kapasitas produksi dan kemampuan kontrol kualitas di lapangan.

Temuan P Control Chart

Peta kendali menunjukkan bahwa sebagian besar titik data berada di luar batas kendali. Ini mengindikasikan bahwa proses produksi PT.I tidak stabil secara statistik dan masih sering mengalami variasi penyebab khusus yang perlu segera diidentifikasi dan diatasi.

 

Akar Masalah Utama: Analisis Fishbone Diagram

Analisis sebab-akibat atau fishbone diagram mengidentifikasi empat faktor utama penyebab cacat produksi di PT.I:

  1. Manusia (Tenaga Kerja): Kurangnya keterampilan karyawan baru dan kurangnya pelatihan.
  2. Metode: Tidak adanya standar prosedur operasi (SOP) yang baku dan pengawasan yang lemah.
  3. Material: Kualitas bahan baku rotan sintetis yang tidak konsisten.
  4. Lingkungan Kerja: Penerangan yang buruk dan area kerja yang kurang ergonomis.

Rekomendasi Perbaikan dan Dampak yang Diharapkan

Tindakan Korektif

  1. Standarisasi Desain Anyaman
    Membuat SOP yang baku untuk model anyaman dan memastikan semua QC team memiliki pemahaman yang sama.
  2. Pelatihan Tenaga Kerja
    Memberikan pelatihan rutin untuk karyawan baru dan melakukan simulasi uji kualitas berkala.
  3. Perbaikan Fasilitas Kerja
    Menyediakan alat-alat penunjang produksi yang memadai seperti palu, solder, dan alat pengikat cadangan. Meningkatkan pencahayaan dan ventilasi ruang kerja.
  4. Quality Control di Setiap Tahapan Produksi
    Tidak hanya di akhir proses, tetapi sejak awal material diterima dan sepanjang proses produksi berlangsung.

 

Perbandingan dengan Studi Serupa di Industri Lain

Beberapa industri lain di Indonesia telah berhasil menerapkan SPC untuk mengatasi masalah serupa:

  • Industri Tekstil: CV Fitria sukses menekan cacat produksi pakaian hingga 30% dengan P Control Chart dan Pareto Diagram.
  • Industri Makanan dan Minuman: CV Pusaka Bali Persada mampu mengurangi kemasan cacat kopi bubuk sebesar 25% setelah penerapan Fishbone Diagram dan kontrol kualitas ketat di lini produksi.

 

Kritik dan Catatan Tambahan: Apa yang Bisa Ditingkatkan?

Kelebihan Penelitian

  • Penggunaan tujuh alat SPC secara sistematis.
  • Data lapangan yang lengkap dan valid.

Kekurangan Penelitian

  • Tidak disebutkan penggunaan teknologi digital seperti IoT atau sistem berbasis software dalam kontrol kualitas.
  • Fokus hanya pada dua bulan, sehingga kurang merepresentasikan tren tahunan.

 

Rekomendasi Tambahan

Mengintegrasikan teknologi Industri 4.0 seperti sensor IoT dan sistem monitoring berbasis cloud dapat meningkatkan efektivitas SPC. Sistem ini memungkinkan deteksi cacat secara real-time dan mengurangi keterlambatan pengambilan keputusan.

 

Kesimpulan: SPC Sebagai Pilar Pengendalian Kualitas Industri Furnitur Indonesia

Penelitian ini membuktikan bahwa penerapan Statistical Process Control (SPC) di PT.I berhasil mengidentifikasi titik-titik lemah dalam proses produksi anyaman. Meski tingkat cacat masih melebihi ambang batas perusahaan, langkah-langkah perbaikan yang direkomendasikan dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menstabilkan kualitas produksi.

Dengan komitmen dari semua pihak, dari operator hingga manajemen puncak, serta adopsi teknologi baru, PT.I dapat meningkatkan daya saingnya di pasar ekspor furnitur rotan sintetis.

 

Referensi Utama

Attaqwa, Y., Hamidiyah, A., & Ekoanindyo, F. (2021). Product Quality Control Analysis with Statistical Process Control (SPC) Method in Weaving Section (Case Study PT.I). International Journal of Computer and Information System (IJCIS), Vol. 02, Issue 03, Agustus 2021.
🔗 IJCIS