Pendahuluan
Manajemen rantai pasok (Supply Chain Management/SCM) merupakan aspek krusial dalam bisnis modern, melibatkan koordinasi pemasok, produsen, distributor, dan pelanggan untuk meningkatkan efisiensi serta menekan biaya.
Paper berjudul A Supply Chain Management Study: A Review of Theoretical Models from 2014 to 2019 oleh Shu-Hsien Liao dan Retno Widowati, yang diterbitkan dalam Operations and Supply Chain Management (Vol. 14, No. 2, 2021, pp. 173-188), membahas perkembangan teori dalam SCM. Penelitian ini meninjau 97 artikel dari 48 jurnal yang membahas berbagai model teoritis dalam SCM.
Artikel ini mengkaji model teoritis SCM, termasuk SCOR (Supply Chain Operations Reference), Balanced Scorecard (BSC), model berbasis teknologi, dan pendekatan keberlanjutan, serta implikasinya terhadap industri.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode literature review sistematis dengan menganalisis artikel dari 2014 hingga 2019 yang diperoleh dari database akademik, seperti ScienceDirect, Wiley, Sage, Taylor & Francis, Springer Link, dan Emerald Insight.
Analisis dilakukan terhadap variabel independen, variabel dependen, moderator, mediator, serta model yang mengombinasikan beberapa variabel ini untuk memahami tren dan pergeseran dalam penelitian SCM.
Model Teoritis dalam Manajemen Rantai Pasok
Paper ini mengelompokkan model teoritis SCM ke dalam beberapa pendekatan utama:
1. Model SCOR (Supply Chain Operations Reference Model)
SCOR adalah model referensi yang mengkategorikan rantai pasok dalam lima proses utama:
- Plan – Perencanaan berdasarkan permintaan dan kapasitas.
- Source – Pengadaan bahan baku dan manajemen pemasok.
- Make – Proses produksi dan perakitan produk.
- Deliver – Distribusi produk ke pelanggan akhir.
- Return – Penanganan pengembalian produk.
SCOR sering digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengevaluasi kinerja rantai pasok berdasarkan keandalan, fleksibilitas, dan biaya.
2. Balanced Scorecard (BSC) dalam SCM
Pendekatan BSC digunakan untuk mengukur kinerja rantai pasok dengan empat perspektif utama:
- Keuangan – Efisiensi biaya dalam rantai pasok.
- Pelanggan – Kepuasan pelanggan terhadap layanan.
- Proses Internal – Efektivitas produksi dan distribusi.
- Pembelajaran & Pertumbuhan – Kemampuan organisasi dalam beradaptasi dengan tren pasar.
Studi menemukan bahwa penerapan BSC dapat meningkatkan koordinasi antara pemasok dan perusahaan serta memperbaiki pengambilan keputusan strategis.
3. Model Berbasis Teknologi
SCM semakin berkembang dengan integrasi AI, Big Data, dan IoT.
- AI digunakan untuk forecasting permintaan, meningkatkan akurasi prediksi hingga 25%.
- Big Data Analytics membantu dalam analisis pola permintaan dan optimasi stok.
- IoT memungkinkan pemantauan inventaris secara real-time dan mempercepat proses pengiriman.
Perusahaan yang mengadopsi teknologi ini melaporkan peningkatan efisiensi operasional hingga 30%.
4. Model Berbasis Keberlanjutan (Green SCM)
Peningkatan kesadaran terhadap keberlanjutan mendorong banyak perusahaan untuk menerapkan Green Supply Chain Management (GSCM), yang berfokus pada:
- Reduksi limbah produksi dan penggunaan bahan ramah lingkungan.
- Optimalisasi transportasi untuk mengurangi emisi karbon.
- Penggunaan energi terbarukan dalam proses manufaktur.
Perusahaan yang menerapkan GSCM mampu menghemat biaya operasional hingga 15% serta meningkatkan citra merek mereka.
Temuan Utama dalam Penelitian SCM
Dari tinjauan literatur yang dilakukan, terdapat beberapa temuan utama:
- Peningkatan Peran Digitalisasi dalam SCM
- Perusahaan yang mengintegrasikan sistem ERP dengan AI dan IoT mengalami peningkatan efisiensi rantai pasok sebesar 20%-30%.
- Automasi gudang dan penggunaan drone dalam logistik menjadi tren baru dalam SCM.
- Pergeseran dari Model Statis ke Model Adaptif
- Model SCM kini lebih fokus pada fleksibilitas dan adaptasi terhadap permintaan pasar dibandingkan sekadar efisiensi biaya.
- SCM Semakin Berfokus pada Keberlanjutan
- Tren GSCM semakin berkembang dengan adanya regulasi dan tuntutan pasar yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Studi Kasus Implementasi Model SCM di Industri
Paper ini memberikan beberapa contoh implementasi model SCM di berbagai industri:
1. Industri Manufaktur
- Perusahaan otomotif di Jepang berhasil mengurangi biaya produksi hingga 18% dengan menerapkan Just-in-Time (JIT).
- Penggunaan AI dalam forecasting di industri elektronik meningkatkan akurasi prediksi permintaan sebesar 25%.
2. Industri Retail
- Perusahaan retail global yang menerapkan AI-driven inventory management mengalami pengurangan kehabisan stok hingga 40%.
- Adopsi sistem omnichannel memungkinkan perusahaan mengintegrasikan e-commerce dan toko fisik secara lebih efektif.
3. Industri Logistik
- Pemanfaatan IoT dalam pemantauan pengiriman membantu perusahaan logistik mengurangi waktu transit hingga 15%.
- Blockchain digunakan untuk meningkatkan transparansi dalam rantai pasok dan mengurangi risiko pemalsuan produk.
Tantangan dalam Implementasi SCM
Meskipun SCM membawa banyak manfaat, terdapat beberapa tantangan utama:
- Kurangnya Standarisasi dalam SCM
- Tidak semua perusahaan menggunakan metrik yang sama untuk mengukur kinerja rantai pasok.
- Kesulitan Integrasi Teknologi
- Banyak perusahaan masih menggunakan sistem lama yang sulit diintegrasikan dengan solusi digital modern.
- Ketidakpastian Permintaan Pasar
- Perubahan tren dan pola konsumsi yang cepat mempersulit perencanaan rantai pasok.
Kesimpulan
Paper ini menyoroti perkembangan model teoritis SCM dari 2014-2019, dengan fokus pada SCOR, BSC, model berbasis teknologi, dan keberlanjutan.
Dengan mengadopsi teknologi digital, strategi berbasis data, dan pendekatan ramah lingkungan, perusahaan dapat meningkatkan efisiensi dan daya saing dalam rantai pasok global.
Sumber Referensi : Liao, S.-H., & Widowati, R. A Supply Chain Management Study: A Review of Theoretical Models from 2014 to 2019. Operations and Supply Chain Management, Vol. 14, No. 2, 2021, pp. 173-188.