Pendahuluan
Persaingan di industri retail semakin ketat, terutama dengan pertumbuhan minimarket yang menekan profitabilitas supermarket besar. Perusahaan seperti XYZ Company harus mencari strategi optimalisasi rantai pasok untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Salah satu pendekatan yang digunakan adalah model Supply Chain Operations Reference (SCOR). Paper berjudul Supply Chain Performance Measurement at XYZ Company Distribution Center Using SCOR 12 oleh David Prasetya, Anggoro Prasetyo Utomo, dan Marla Setiawati menganalisis kinerja rantai pasok XYZ Company menggunakan model SCOR 12.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja rantai pasok XYZ Company dengan pendekatan berbasis data. Model SCOR digunakan untuk mengukur lima dimensi utama rantai pasok, yaitu reliability, responsiveness, agility, cost, dan asset management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun kinerja rantai pasok perusahaan berada dalam kategori baik hingga rata-rata, terdapat beberapa titik kritis yang perlu diperbaiki, terutama dalam manajemen pengadaan dan distribusi.
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggabungkan tiga metode utama dalam evaluasi kinerja rantai pasok:
- Model SCOR 12
- SCOR digunakan untuk mengidentifikasi indikator utama kinerja rantai pasok yang relevan bagi XYZ Company.
- Lima aspek utama yang diukur mencakup keandalan pengiriman, ketepatan waktu, fleksibilitas, biaya operasional, dan efisiensi aset.
- Metode Analytical Hierarchy Process (AHP)
- AHP digunakan untuk menentukan bobot kepentingan dari masing-masing indikator kinerja.
- Dengan melibatkan manajemen XYZ Company, bobot prioritas ditetapkan untuk mengarahkan perbaikan strategi rantai pasok.
- Metode Normalisasi Snorm De Boer
- Data kinerja rantai pasok dari tahun 2022 dan 2023 dianalisis dan dinormalisasi untuk menghasilkan skor kinerja terstandarisasi.
- Hasilnya digunakan dalam sistem Traffic Light System (TLS) yang mengelompokkan kinerja ke dalam kategori merah (perlu perbaikan segera), kuning (perlu peningkatan), dan hijau (baik).
Hasil Evaluasi Kinerja Rantai Pasok XYZ Company
Penelitian ini menemukan bahwa kinerja rantai pasok XYZ Company pada tahun 2022 mencapai skor 69,54, sementara tahun 2023 meningkat menjadi 70,08. Meskipun ada peningkatan, masih terdapat beberapa masalah yang perlu ditangani.
- Reliability (Keandalan)
- Tingkat pemenuhan pesanan pelanggan (order fulfillment) mencapai 96,7% di 2022 dan meningkat menjadi 97,65% di 2023.
- Namun, ketepatan waktu pengiriman masih perlu diperbaiki, karena terdapat penurunan ketepatan waktu dari 74% menjadi 64%.
- Responsiveness (Ketepatan Waktu)
- Siklus waktu penerimaan produk mengalami peningkatan efisiensi dengan rata-rata waktu penerimaan berkurang 5% dari tahun sebelumnya.
- Namun, proses konsolidasi pesanan mengalami perlambatan, menyebabkan waktu pemenuhan pesanan meningkat sebesar 3%.
- Agility (Fleksibilitas dan Adaptasi)
- Fleksibilitas rantai pasok menurun akibat masalah pada keandalan pemasok, dengan jadwal pengiriman yang tidak konsisten menyebabkan ketidakseimbangan stok.
- Kenaikan harga bahan baku dan gangguan pasokan menjadi tantangan utama yang menghambat fleksibilitas perusahaan.
- Cost (Efisiensi Biaya)
- Biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 25% pada tahun 2023, terutama karena lonjakan harga bahan bakar dan biaya distribusi.
- Perusahaan perlu menerapkan strategi efisiensi transportasi untuk menekan biaya yang terus meningkat.
- Asset Management (Manajemen Aset dan Inventaris)
- Tingkat persediaan barang cacat turun 18% dari tahun sebelumnya, menunjukkan perbaikan dalam pengelolaan kualitas produk.
- Namun, jumlah persediaan berlebih meningkat 22%, menandakan bahwa perusahaan perlu mengoptimalkan strategi perencanaan stok.
Studi Kasus: Permasalahan dan Solusi dalam Rantai Pasok XYZ Company
Penelitian ini mengidentifikasi beberapa masalah utama yang dihadapi XYZ Company dan memberikan solusi berbasis praktik terbaik dari SCOR.
- Masalah dalam Pengadaan Bahan Baku
- Persentase keterlambatan penerimaan bahan baku meningkat dari 33% menjadi 46% akibat kurangnya koordinasi dengan pemasok.
- Solusi: Menerapkan sistem manajemen pemasok berbasis digital untuk meningkatkan transparansi dan komunikasi.
- Ketidakakuratan Dokumentasi dalam Distribusi
- Tingkat kesalahan dokumentasi pengiriman naik sebesar 7%, menyebabkan ketidaksesuaian antara pesanan pelanggan dan produk yang dikirim.
- Solusi: Meningkatkan sistem verifikasi berbasis teknologi dan penerapan automated invoice matching.
- Kenaikan Biaya Transportasi
- Biaya logistik meningkat karena penggunaan rute distribusi yang tidak optimal.
- Solusi: Menggunakan Transportation Management System (TMS) untuk mengoptimalkan rute pengiriman dan mengurangi waktu tempuh.
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan model SCOR dalam evaluasi rantai pasok XYZ Company memberikan wawasan berharga tentang titik-titik lemah yang perlu diperbaiki. Meskipun ada peningkatan skor dari tahun 2022 ke 2023, masih terdapat tantangan utama yang harus diatasi, seperti ketidakstabilan pasokan, ketidakefisienan distribusi, dan kenaikan biaya operasional.
Dengan menerapkan strategi berbasis data dan teknologi, XYZ Company dapat mengurangi inefisiensi, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan memperkuat daya saingnya dalam industri retail. Studi ini membuktikan bahwa evaluasi berbasis SCOR dapat menjadi alat yang efektif dalam pengelolaan rantai pasok yang lebih strategis dan adaptif terhadap perubahan pasar.
Sumber Referensi : Prasetya, D., Utomo, A. P., & Setiawati, M. Supply Chain Performance Measurement at XYZ Company Distribution Center Using SCOR 12. Petra International Journal of Business Studies, Vol. 7, No. 1, June 2024, pp. 66-79.