Evaluasi dan Peningkatan Kinerja Rantai Pasok: Studi Kasus Pengelolaan Limbah Kapal di Laut Baltik

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

06 Maret 2025, 09.27

Pixabay.com

Pendahuluan

Di era modern, kinerja rantai pasok (Supply Chain Performance - SCP) menjadi faktor utama dalam meningkatkan efisiensi logistik dan manajemen keberlanjutan. Studi yang dilakukan oleh Erika Vuorinen (2024) dalam tesisnya di Lappeenranta–Lahti University of Technology (LUT) mengkaji evaluasi dan peningkatan SCP dalam konteks pengelolaan limbah kapal di Laut Baltik.

Penelitian ini berfokus pada tiga dimensi utama dalam evaluasi kinerja rantai pasok:
Praktik operasional, termasuk alur pemesanan dan efisiensi proses.
Komunikasi antar pemangku kepentingan, yang menentukan efektivitas koordinasi.
Keberlanjutan lingkungan, terutama dalam pengelolaan limbah kapal.

Salah satu tujuan utama dari studi ini adalah meningkatkan jumlah limbah kapal yang dibuang di pelabuhan, dibandingkan langsung ke laut, guna mengurangi pencemaran lingkungan.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan metode berikut:
Wawancara semi-terstruktur dengan enam operatif rantai pasok terkait.
Analisis data berbasis content analysis, untuk mengidentifikasi pola utama dalam operasi rantai pasok.
Sumber data sekunder dari artikel akademik, laporan industri, dan statistik internet untuk mendukung analisis empiris.

Temuan Utama

1. Praktik Operasional dan Efisiensi dalam Rantai Pasok

📌 Sistem pemesanan yang sederhana dan mudah meningkatkan efisiensi rantai pasok.
📌 Rutinitas yang telah terstandarisasi dan hubungan kerja yang baik antara operatif rantai pasok berkontribusi pada peningkatan kinerja.
📌 Hambatan utama dalam implementasi perubahan adalah tingginya kebutuhan sumber daya dan biaya operasional.

2. Komunikasi dalam Rantai Pasok dan Dampaknya

📌 Pertukaran informasi dan komunikasi antar pemangku kepentingan memainkan peran besar dalam peningkatan kinerja rantai pasok.
📌 Koordinasi yang buruk dapat menyebabkan keterlambatan dan inefisiensi dalam proses pengelolaan limbah kapal.
📌 Kepercayaan dan hubungan kerja yang erat antara pemasok, pengelola pelabuhan, dan regulator mempercepat pengambilan keputusan dan implementasi kebijakan.

3. Keberlanjutan dalam Rantai Pasok: Tantangan dan Solusi

📌 Limbah kapal di Laut Baltik masih menjadi masalah besar, dengan sebagian besar limbah dibuang langsung ke laut.
📌 Pada tahun 2023, hanya 1,1% dari total limbah yang dihasilkan oleh kapal kargo yang berhasil dikumpulkan di pelabuhan studi kasus.
📌 Solusi potensial meliputi insentif finansial, regulasi lebih ketat, dan peningkatan infrastruktur pengolahan limbah di pelabuhan.

Studi Kasus: Program "Ship Waste Action"

📌 Ship Waste Action adalah sebuah inisiatif lingkungan yang mendorong kapal kargo untuk membuang limbah mereka di pelabuhan alih-alih di laut.
📌 Sebagian besar pelabuhan di Finlandia telah menawarkan layanan pembuangan limbah tanpa biaya tambahan, tetapi hanya kurang dari 4% kapal yang memanfaatkannya pada tahun 2023.
📌 Kesenjangan besar antara jumlah limbah yang dihasilkan dan yang dikelola dengan baik menjadi fokus utama dalam peningkatan rantai pasok.

Implikasi Praktis bagi Manajer Rantai Pasok

Optimalisasi sistem pemesanan dan manajemen limbah dapat meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi.
Membangun sistem komunikasi yang lebih transparan antara operator kapal, pelabuhan, dan pemerintah dapat meningkatkan efisiensi rantai pasok.
Menerapkan teknologi digital seperti IoT dan AI dalam pengawasan limbah kapal dapat membantu dalam pengelolaan data dan prediksi kebutuhan logistik.

Kesimpulan

Penelitian ini menyoroti pentingnya pendekatan holistik dalam evaluasi dan peningkatan kinerja rantai pasok. Dengan menerapkan praktik operasional yang lebih efisien, memperbaiki komunikasi, dan memperkuat strategi keberlanjutan, rantai pasok dalam industri pengelolaan limbah kapal dapat dioptimalkan.

Penguatan komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan sangat penting dalam rantai pasok yang kompleks.
Tantangan utama dalam implementasi kebijakan keberlanjutan adalah tingginya biaya dan kurangnya kesadaran industri.
Diperlukan langkah-langkah konkret seperti insentif keuangan dan regulasi yang lebih ketat untuk meningkatkan kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan.

Penerapan strategi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga berdampak positif pada lingkungan dan keberlanjutan jangka panjang.

Sumber Asli

Erika Vuorinen (2024). Evaluation and Improvement of Supply Chain Performance in Case Supply Chain. Lappeenranta–Lahti University of Technology LUT.