Desain Sistem Monitoring Kinerja Rantai Pasok: Framework, Tantangan, dan Implementasi Efektif

Dipublikasikan oleh Dewi Sulistiowati

06 Maret 2025, 09.08

Pixabay.com

Pendahuluan

Pandemi COVID-19 menyebabkan disrupsi besar dalam rantai pasok global, menimbulkan tantangan bagi perusahaan dalam mengelola arus material dan informasi. Untuk tetap kompetitif, perusahaan harus memiliki sistem monitoring kinerja rantai pasok yang efektif.

Penelitian ini, yang dilakukan oleh Peter Majercak dari University of Zilina, Slovakia, bertujuan untuk mengembangkan framework Supply Chain Performance Monitoring (SCPM) yang dapat meningkatkan daya saing perusahaan manufaktur.

Metodologi Penelitian

Penelitian ini menggabungkan berbagai metode analisis untuk mengidentifikasi kelemahan dalam pengukuran kinerja rantai pasok:

  • SCOR Model → Mengukur reliabilitas, fleksibilitas, dan biaya rantai pasok.
  • Balanced Scorecard (BSC) → Mengevaluasi kinerja dari perspektif keuangan, pelanggan, proses internal, dan inovasi.
  • Root Cause Analysis (RCA) → Mengidentifikasi akar masalah dalam rantai pasok.

Framework ini membantu perusahaan dalam menyesuaikan strategi rantai pasok dengan tujuan bisnis serta mengurangi dampak gangguan eksternal.

Temuan Utama

1. Mengapa Monitoring Kinerja Rantai Pasok Sangat Penting?

  • Mengoptimalkan proses produksi dan distribusi untuk mengurangi keterlambatan pengiriman.
  • Mendeteksi masalah operasional lebih awal sebelum memengaruhi efisiensi bisnis.
  • Meningkatkan daya saing global dengan menerapkan teknologi digital dalam pengukuran kinerja.

2. Framework Monitoring Kinerja Supply Chain

Framework yang diusulkan dalam penelitian ini mencakup:
📌 SCOR Model

  • Reliability: Evaluasi ketepatan waktu pengiriman dan kualitas produk.
  • Responsiveness: Kecepatan dalam menanggapi perubahan permintaan pelanggan.
  • Flexibility: Kemampuan adaptasi terhadap gangguan rantai pasok.
  • Cost & Asset Management: Optimasi biaya produksi dan distribusi.

📌 Balanced Scorecard

  • Keuangan → ROI, cost efficiency, dan revenue growth.
  • Pelanggan → Kepuasan pelanggan dan ketepatan waktu pengiriman.
  • Proses Internal → Efisiensi produksi dan pengelolaan persediaan.
  • Inovasi → Adopsi teknologi digital dalam rantai pasok.

3. Studi Kasus: Implementasi Monitoring Kinerja di Perusahaan Manufaktur

Penelitian ini mengkaji sistem monitoring rantai pasok di perusahaan manufaktur yang terdampak pandemi COVID-19.

📌 Industri Otomotif

  • Lead-time produksi meningkat hingga 45% selama pandemi akibat keterlambatan bahan baku.
  • Penerapan SCOR Model berhasil mengurangi lead-time hingga 20% melalui optimasi rantai pasok.

📌 Industri Farmasi

  • Gangguan distribusi obat mencapai 35% akibat lockdown dan pembatasan ekspor.
  • Balanced Scorecard meningkatkan efisiensi pengiriman hingga 25% dengan optimasi logistik digital.

📌 Industri Elektronik

  • Permintaan melonjak 60%, tetapi keterbatasan chip semikonduktor menyebabkan stagnasi produksi.
  • Just-in-Time (JIT) dikombinasikan dengan SCOR berhasil mengurangi pemborosan inventaris hingga 30%.

Tantangan dalam Implementasi Sistem Monitoring Supply Chain

Kurangnya data real-time untuk pengambilan keputusan
➡ Solusi: Menggunakan IoT dan AI untuk pemantauan otomatis.

Kesulitan dalam integrasi sistem monitoring
➡ Solusi: Menggunakan platform berbasis cloud untuk transparansi rantai pasok.

Biaya investasi tinggi dalam teknologi digital
➡ Solusi: Menggunakan strategi hybrid dengan investasi bertahap dalam digitalisasi.

Strategi Optimal untuk Meningkatkan Sistem Monitoring Supply Chain

Mengadopsi Digital Supply Chain

  • Menggunakan Big Data dan AI untuk prediksi permintaan pasar.
  • Menerapkan Blockchain untuk meningkatkan transparansi dan keamanan data.

Meningkatkan Kolaborasi dengan Pemasok dan Mitra Logistik

  • Mengembangkan kontrak berbasis performa untuk meningkatkan keandalan pemasok.
  • Menggunakan real-time tracking system untuk memantau arus logistik.

Mengoptimalkan Model SCPM dengan Hybrid Approach

  • Kombinasi SCOR Model, Balanced Scorecard, dan Just-in-Time untuk hasil optimal.
  • Menyesuaikan framework dengan kebutuhan spesifik industri manufaktur.

Kesimpulan

Penelitian ini menegaskan bahwa Supply Chain Performance Monitoring System (SCPM) menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya tahan rantai pasok selama pandemi COVID-19.

Dengan mengadopsi teknologi digital, strategi berbasis SCOR Model, dan Balanced Scorecard, perusahaan dapat:
Meningkatkan ketahanan rantai pasok terhadap disrupsi eksternal.
Mengoptimalkan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi logistik.
Meningkatkan kepuasan pelanggan melalui distribusi yang lebih andal.

Di era pasca-pandemi, transformasi digital dalam monitoring rantai pasok bukan lagi opsi, tetapi menjadi kebutuhan utama bagi perusahaan yang ingin tetap kompetitif.

Sumber : Peter Majercak (2021). Design of a Supply Chain Performance Monitoring System for a Company in the Context of the COVID-19 Pandemic. University of Zilina, Slovakia.